Sabda Sang Bijaksana Dan Yang Kelak Terdesak Banyak Berkabar…

Sabda Sang Bijaksana

Motto
Dipasang di atas gerbang rumahku

Aku tinggal di rumah sendiri,
tak pernah meniru satu pribadi
dan: menertawakan tiap empu,
yang tak menertawakan diri sendiri.

Dialog

A

Sakitkah aku tadi? Sembuhkah kini?
Dan dokterku, siapakah tadi?
Bagaimana bisa kulupa semua!

B

Baru kupercaya kau sembuh kini:
yang sehat hanya dia yang lupa

Kearifan

Jangan berdiam di datar lembah!
Jangan mendaki kelewat tinggi!
Indah bumi tak terperi
Baru nampak dari tengah

Buat Para Penari

Lantai licin,
surga
bagi dia yang piawai menari.

Naik

Kiat terbaik mendaki gunung?
Naik saja! Jangan direnung!

Karat

Karat pun perlu! Tak cukup cuma tajam!
Jika tidak, kau ‘kan dianggap ingusan.

Lelaki Dan Perempuan

“Rampoklah perempuan yang kau idamkan!”
pikir lelaki; perempuan tak merampok, ia mencuri.

Sabda Sang Bijaksana

Asing bagi rakyat, tapi bermanfaat bagi rakyat,
begitu kuberjalan, kadang mentari kadang awan
dan selalu diatas rakyat!

Kerasnya Aku

Harus kulewati ratusan tangga
mesti mendaki dan kudengar seruan kalian:
“Kau keras! Adakah kami batu?”
Harus kulewati ratusan tangga,
dan jadi tangga tiada yang rela.

Untuk Pembacaku

Perut kokoh dan gigi tajam,
begitu bagimu kuharapkan!
Bila kitabku sanggup kau tahan,
pasti aku kau jadikan kawan.

Ecce Homo

Ya! Darimana asalku kutahu pasti!
Tak terkenyangkan bagai api
aku membara habisi diri.
Segala kupegang menjelma cahaya,
yang kulepas arang belaka:
pastilah aku api sejati.

Yang Kelak Terdesak Banyak Berkabar…

Perjanjian Baru

Inikah kitab-kitab doa,
kitab-kitab penyelamatan dan peringatan?
– Ternyata pada gerbangnya
menjulang perzinahan Tuhan.

Arthur Schopenhauer

Yang ia ajarkan sudah kadaluwarsa
Yang ia hidupi bakal kokoh berjaya
Simaklah ia!
Tak pada siapapun ia sudi menghamba.

Yang Kelak Terdesak Banyak Berkabar

Yang kelak terdesak banyak berkabar,
bisukan banyak hal ke dalam diri.
Yang kelak terdesak nyalakan halilintar,
mesti jadi awan berbilang hari.

Pegangan Hidup

Untuk hidupi hidup nan girang
santaikan jiwa janganlah resah!
Ajarlah diri tinggi menjulang!
Ajarlah diri menengok ke bawah!

Nafsu gairah paling mulia
muliakanlah dengan bestari:
pada tiap kilogram cinta
tambahkan segram penghinaan diri!

Sang Pertapa Bertutur

Miliki ide? Bagus! Ide mendambaku jadi tuannya.
Tapi, beride-ide, kebisaan itu ingin kubuang!
Yang beride-ide, jadi milik sang ide,
dan tak sudi kumenghamba: sekarang dan tak akan.

Raga Terindah

Raga terindah cadar belaka,
di dalamnya sang lebihindah membungkus diri.

Dari Surga

“Baik dan jahat cuma prasangka
Tuhan” — ucap si ular, lalu menghilang.

Dia Yang Kuat

Seperti tiap pemenang,
kau pun berkata:”Sang Kebetulan tak ada!”

Semua Mata Air Abadi…

Semua mata air abadi
Abadi berpancaran tak henti:
Tuhan sendiri – pernahkah ia mengawali?
Tuhan sendiri – selalukah ia memulai?

Kesendirian

Gagak-gagak berteriak resah,
menderu terbang ke kota:
salju bakal turun segera –
bahagia – dia yang masih berumah!

Kini kau terpaku bisu,
berpaling, ah! Sudah sedemikian lama!
Mengapai kau yang dungu
lantaran dingin, kabur ke dunia?

Dunia – sebuah gapura
ke seribu gurun bisu dan dingin!
Dia yang kehilangan yang darimu sirna,
tak dapat berlabuh di mana ingin.

Kini kau terpaku pasi,
terkutuk kembarai salju,
bagai asap yang tak henti
mencari langit kian beku.

Terbanglah, burung, raungkan
dendangmu separau burung-gurun! –
Benamkan, kau yang dungu,
kalbu barahmu dalam cemooh dan salju.

Gagak-gagak berteriak resah,
menderu terbang ke kota:
salju bakal turun segera –
bahagia – dia yang masih berumah!

Kepada Hafiz
(Pengantar minum; pertanyaan peminum air)

Kedai minum yang kau dirikan
lebih menjulang dari gedung manapun,
minuman yang kau suling di dalam
tak sanggup habis dunia minum.
Burung yang dulu phoenix agung
tinggal di rumahmu sebagai tamu,
tikus yang melahirkan gunung,
menjadi tikus itu, nyarislah kamu!

Kau segala dan bukan apa-apa, kau kedai dan anggur,
kau adalah phoenix, gunung, dan tikus,
kau abadi ke dalam diri meluncur,
kau abadi melesat ke luar diri –
kau adalah semedi segala ketinggian,
kau adalah kilau segala kedalaman,
kau adalah mabuk segala pemabuk,
anggur – buat apalagi bagimu?

====================================

Segala sajak terhampar di postingan ini adalah sebuah ketikan ulang dari kumpulan sajak-sajak Nietzsche yang dimuat dalam terjemahan Syahwat Keabadian. Penerjemah dari sajak-sajak yang aslinya berbahasa Jerman ini, dilakukan oleh Berthold Damshauser dan Agus R. Sarjono, melalui Goethe-Institut.

Paska ramadhan di tahun lalu, sajak-sajak terjemahan ini pernah kubaca. Sebuah pinjaman. Lalu buku menghilang entah kemana, namun tidak dengan sajak-sajaknya. Entah bagaimana menjelaskannya, namun melekat benar sajak-sajak Nietzsche versi terjemahan bahasa Indonesia tersebut. Serasa menemukan kembali kebanggaan seorang Chairi Anwar di masa lalu, bahwa bahasa Indonesia tak kalah garang, tak kalah lembut, tak pula mengalah-kalah menadah-patah, dibanding bahasa lain,  meski -tentu saja- ada kekurangan bahasa tersendiri.

Perkara yang memikat dari versi terjemahan ini adalah, gaya yang dikenakan, bagiku, sangat membawa kembali diksi-diksi khas eksistensialis-individualis dari penyair legenda: Chairil Anwar, beserta angkatan sebangsanya seperti Rivai Apin, Asrul Sani, dan L.K. Bohang. Angkatan di saat negara sedang berkobar revolusi kemerdekaan, dan satu rakyat baru jadi, baru bisa menepuk dada bilang “Aku!” dengan semangat hidup menyala-nyala untuk merdeka dari segala apa yang dianggap menindas dan menjajah. Bahasa -atau jika kusebut “karya sastra”- zaman itu, lebih ekspresif dalam penekanan diri sebagai manusia. Lebih sangar, lugas dan liar. Tidak seperti era postmodernisme ini, dimana bahasa cuma permainan diksi saja, seakan lebih dalam, tapi bikin tenggelam. Memabukkan dengan kata-kata aneh dan menakjubkan tapi -seperti pemabuk sadar- kehilangan rasa.

Aku tak tahu, apa aliran sastra dua mahkluk Tuhan yang menerjemahkan sajak-sajak Nietzsche ini. Namun, kubilangkan kepada anda-anda yang membacanya, sebagai orang yang dibesarkan dengan karya-karya sastra klasik Indonesia, yang terpukau pada Chairil Anwar sejak masih bercelana merah-berbaju putih, gaya persajakan dengan mengejek tapi menyemangati, menyepak juga membelai, cuma ada di sastra lama Indonesia. Sastra angkatan ’45, yang mungkin kini sudah basi, atau jika tersisa, sudah semanis kisah kasih Cinta dengan Chairil Anwar berwajah Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta.

Apapunlah alasanku, apapun pula alasan mereka, postingan ini hadir cuma untuk memamerkan satu hasrat kesukaan: pada sastra. Tidak pula ada keuntungan komersial apapun dengan meletakkan terjemahan ini di sini. Sebagai seseorang yang mengklaim dirinya Nitzschean, yang mencoba menertawakan apapun di dunia paska sejarah (seperti bacritan Fukuyama) ini, menebarkan karya sastra adalah seperti menebarkan tawa. Sebuah sedekah, sebuah zakat. Sebuah senyum rekah, sebuah caci mengumpat.

Juga sebagai sebuah rasa terimakasih pada pacar yang sudah sedia membawa pulang sebuah buku yang kuidamkan untuk kembali ke hariban: seorang perempuan bernama Mizah.

Begitulah.

————-

NB: Sajak-sajak ini diambil dari dua bab, dimana dalam postingan ini dipisahkan oleh dua gambar yang berbeda (atribusi gambar disediakan pada tautan digambar itu sendiri).

Bagian atas, Sabda Sang Bijaksana, diambil dari beberapa puisi pilihan dalam karya Nietzsche berjudul “Sains Girang”, terbitan 1882. Sementara bagian bawah, Yang Kelak Terdesak Banyak Berkabar…, diambil dari sejumlah catatan puisi-puisi Nietzshce antara tahun 1882-1888.

4 thoughts on “Sabda Sang Bijaksana Dan Yang Kelak Terdesak Banyak Berkabar…

  1. Speechless…
    lha gimana bang? kalo mampunya bikin puisi dengan permainan diksi?
    Sedikit diapresiasi gpp lho, mungkin bisa makin matang jd puisi yg bagus.

    Tapi memang puisi 45 ituh.. *mencelos*
    cari kalung yg diberikan patjar yg jauh dipulau😀

  2. *mau komen tapi keburu keselek sama gambar paling atas*😯

    wuiiiih tato-nya keyen ya😆

    pakcik, nulis lagi di politikana dong:mrgreen: *diusir*

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s