Madah Terakhir

Belasan tahun lalu, sekumpulan manusia yang menyebut diri mereka seniman, berkumpul di satu koordinat di Pulau Jawa, dan membicarakan sebuah sajak empat baris dari seorang anak muda asal Sumatera. Sajak kesedihan dengan kata “kematian” tercantum di dalamnya. Sajak yang dikomentari oleh salah satu diantara mereka sebagai sajak “telengas”, karena langsung memulai sajak dengan menyebut obyek (hal yang belum biasa dikenal di lingkaran mereka saat itu, bahkan tidak pernah dibikin oleh seorang penyair besar bernama Amir Hamzah).

Sajak itu pun dikomentari oleh salah satu dari mereka dengan menyatakan “keparat sekali” kesedihan si pembuat sajak tersebut.

Sajak itu berbunyi:

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta

Ya. Itu adalah sajak berjudul “Nisan”, karya dari Chairil Anwar, sastrawan Indonesia yang sudah mati di tahun 1949. Sajak yang terbi di bulan Oktober 1942, saat usianya baru 20 tahun. Teknik persajakan belum dikuasainya benar, namun sudah cukup untuk membuat sebuah sajak yang oleh pengamat sastra (Indonesia) dianggap sebagai sajak tertuanya, meski (menurut H.B. Jasin) sebelum itu Chairil Anwar sudah membuat sajak-sajak lain bercorak angkatan Pujangga Baru, yang kemudian dibuangnya karena merasa tak puas.

*Adegan dan komentar saat sajak tersebut dibicarakan, direkamkan dalam buku skenario “Aku“-nya Sjumandjaja*

Sajak “Nisan” tersebut merupakan dedikasi dan hasil renungan Chairil paska meninggal dunia neneknya, seorang perempuan yang sangat dekat dengan dirinya, selain ibunya sendiri. Renungan tentang kematian yang di matanya terlihat misterius, tak terhindarkan, dan berbuah pertanyaan eksistensial: “Bila manusia mati, lantas apa guna segala usaha yang dilakukan dalam hidup ini?”

Dan gaung kebingungan serupa itu pula sempat mencuat dalam benakku pada saat dua orang yang kucintai meninggal dunia, dalam hidupku sendiri.

Kali pertama adalah saat nenek (ibu dari ayah) meninggal dunia di bangku SMA. Saat aku masih kelas 2 SMA. Masih menjadi siswa yang menganggap bangku belakang adalah garis demarkasi antara kepatuhan dan penolakan untuk taat penuh (sikap yang berbeda jauh saat masih jadi “siswa teladan” di SD dan SMP, yang makan ucapan orang bahwa bangku terdepan adalah bangku kehormatan bagi siswa rangking kelas dan siswa beradab, sementara bangku belakang adalah bangku para siswa bodoh dan biadab).

Jiwaku benar sedang terbakar di saat itu. Mulai membantah-bantah ucapan guru. Berdebat dengan guru seakan sudah khatam kubaca buku mereka, sudah faham aku letak pegunungan Andes itu bukan di Kalimantan dan Napoleon Bonaparte tidak dibuang ke Pulau Batam. Terbiasa mengantuk di bangku belakang dan dengan kesombongan menguap saat melihat guru pelajaran Ekonomi bicara teori Adam Smith atau guru Fisika bicara soal Nebula. Merasa diri serba tahu. Sudah tak makan kurikulum. Sudah boleh melawan. Bahkan diam-diam mengisi kebosanan dengan membaca komik di balik buku pengantar yang sebesar album foto atau membuat puisi dan gambar-gambar mudharat.

Di luar kelas pun sama saja. Hidup cuma tertarik pada sedikit hal saja: cinta, buku, sastra, musik, dan kehidupan pergaulan yang sedaya-upaya meniru-niru para triad dalam sekuel-sekual film Young and Dangerous yang populer saat itu. Kehidupan para berandal yang keliaran malam-malam, menggelek, berantam, dan sempat diam-diam terprovokasi untuk gagah-gagahan ikut latihan militer ala kadar beberapa kali dengan para pemberontak GAM di pinggiran bukit.

Tak ada air mata. Tak ada duka. Hidup, saat itu, seperti api menyala-nyala membakar kebosanan seorang remaja. Melihat rekan mati dalam balapan menuju kabupaten sebelah dengan gagah berani seperti merasa diri seorang jagoan dalam film eksyen romantis yang pernah diperankan Andy Lau.

Hingga kemudian, di satu siang di tahun 1999, saat kabur dari sekolah dan pulang untuk merokok di kamar, orang tua lelaki pulang dan -dengan mata merah sedih- mengabarkan bahwa nenek, ibu beliau, sedang sekarat di sebuah kamar di rumah besar keluarga pihak ayah. Rumah yang berjarak tak jauh dari rumahku sendiri, cuma sekitar 500 meter saja. Tak butuh waktu lama bagiku untuk mencelat dari kamarku, lupa dengan ketidak-sopanan rokok menyala di bibir sendiri di depan orang tua, dan terbang ke rumah nenek.

Di depan mataku, di kamar yang pengap bau obat, tembakau dan sirih, benteng rapuh dalam kehidupanku saat itu sedang tertahan-tahan nafasnya. Sedang dimainkan ajal. Aku yang sudah sering melewatkan shalat, sudah jarang mengaji Qur’an, mengambil wudhu dengan sudut mata panas, lalu duduk dekat kepalanya, lalu berpindah ke sisi tangan kiri. Mencucurlah surah Yaasin dari bibirku. Setetes. Dua tetes. Air dari sudut mata mulai menggenang. Dan ketika suara tangis mulai terdengar, ketika mata terangkat dan kulihat wajah nenek tercinta sudah diam, terbungkamlah bibirku. Putus ayat di lidahku. Lama kurenung-renung wajah kurus dimakan usia dan derita hidup di masa muda, saat hidupnya masih fakir dan anak-anak belum menjadi. Namun air mata mencucur, memaksaku melarikan diri ke dapur.

Di sana, di pintu dapur dimana ada air sungai kecil mengalir jernih, menangislah aku. Habis-habisan. Sudah sejak tamat SD air mata tak tumpah, maka hari itu tumpahlah sudah. Jatuh ke sungai dan membaur dengan airnya, entah dibawa kemana. Sedih hati bukan kepalang, mengenang diri durhaka saat tumbuh jadi remaja. Sejak kecil disayang-sayang sebagai cucu lelaki tertua buah hati nenekanda, namun sejak kelas satu SMA sudah jarang bertandang. Betapa dirindunya aku datang, aku yang mesti sekolah pagi-sore karena jebakan mereka yang percaya tes IQ mesti memisahkan siswa-siswa seperti program eugenics para Nazi. Dalam sakit pun ada disebut-sebut namaku. Namun pergaulan dan perempuan membuatku terasing dari dekapan perempuan bau bakung dan harum sirih itu. Perempuan tua yang menjadi benteng rapuh, yang sedia dengan tubuh ringkih melindungi cucu lelakinya dari kemarahan ayahanda, para paman atau para uwak, karena sikap bengal macam anak tiada berotak. Perempuan tua yang dengan sugi di bibirnya gagah berkata, “Jika mau kau pukul dia, pukul aku dahulu!” sehingga gentarlah mereka yang marah, mundur seperti panglima kalah perang.

Sedihku saat itu sungguh bukan kepalang. Tak kutahan menangis. Bahkan meski beberapa guru lelaki yang datang di petang itu, mereka yang pernah kutentang-tentang, mengelus-elus kepala membujuk diam. Tenggelam rasa malu sebagai bocah yang cuek, yang mengklaim tak takut dikeluarkan dari kelas unggulan bahkan dari sekolah jika perlu, yang mengaku tak pernah menangisi apa-apa. Tenggelam dalam duka cuma karena meninggal seorang perempuan tua: seorang nenek.

Di masa itu, berhari-hari duka, pertanyaan Maurice Maeterlinck, “jika sebatang lilin dihembus kemanakah pergi nyalanya?” mengiang-ngiang dalam kepala. Entah dari buku atau majalah mana kukenal nama itu, tapi pertanyaan filosofis itu (dan sajak “Nisan”-nya Chairil Anwar) terkenang-kenangkan. Ketertarikan pada sastra dan filsafat, menjadi macam api disiram bensin, sejak saat itu hingga kini.

******************

Dan hari ini, genap seminggu sudah ibuku, perempuan yang melahirkan dan membesarkan aku, meninggal dunia. Tepat seminggu yang lalu, melewati pukul 11 siang di tanggal 27 Januari 2011, beliau pun menutup mata.

Bagaimana pula hendak kugambarkan kedukaanku kali ini, atas rasa kehilangan seorang ibu? Tak terperi. Sukar nian kulukiskan.  Meski ada kuisi-isikan rasa hatiku sebelum dan sesudah meninggalnya ibu di akun twitter-ku sendiri, namun tak cukup juga aksara menerangkan makna. Sampai-sampai kubikinkan di salah satu akun jejaring sosialku: “…apalah mau kutuliskan lagi? rasa-rasa patah semangatku kini…”

Ibuku sudah menanggungkan sakit hampir dua tahun, Kawan. Dari tekanan darah tinggi, lalu asam urat dan kemudian menjadi gejala stroke. Meninggal karena komplikasi pula dengan ginjal. Paduan sempurna untuk mencabut nyawa. Mungkin jika sudah punah-tandas rasa imanku, seperti nyaris pernah habis saat petaka di tanah ini beberapa tahun silam, sudah kugugatkan Tuhan. Keluarga kami bahagia, hidup berkecukupan, malah di atas rata-rata masyarakat di lingkungan ini. Secara keluarga pun akur-akur saja. Baik internal, maupun dengan keluarga besar. Ibu pun sudah mengabdi 30 tahunan sebagai seorang guru di sini. Tak kumengerti apa dosa dan salah sampai menderita begitu rupa. Dalam dua tahun belakangan, aku pula lekas meletup. Jika ada yang hendak mencoba bermain kata hikmah di balik sakit ibunda, niscaya kutatap lekat matanya dan (jika masih bisa) kutahan ucapan, “Kau mau hikmah? Kuharap kau dapat sakit yang sama macam ibuku, mau kulihat bacotmu itu soal hikmah, apa akan kau buang atau kau mamah!”

Karena ibu adalah benteng pertama dan terakhir pula tersisa dalam hidupku sampai usia begini. Sepeninggal nenek satu dasawarsa yang lalu, beliaulah satu-satu yang tersisa yang paling mengerti apa rasa hatiku. Bahkan tak malulah kukatakan, jika liburan pulang kampung di masa kuliah, apalagi di bulan ramadhan dan lebaran, bermanja-manja masih aku dengan beliau. Kadang-kadang masih kutidur di paha beliau, merasa-rasai ‘gimana masa kecil dulu bermanja di pangkuannya, ‘gimana menangis-mengadu dan lelap tertidur dalam tersedu saat masih bocah dulu. Sebagai orang muda yang sinis dengan kehidupan percintaan layaknya banyak mahasiswa, di saat itu, karena luka dari masa SMA dan kemudian paska tsunami, karena kebimbangan dan keraguan pada doa dan harapan pada sosok bernama Tuhan, adalah ibu yang menjadi sosok hidup terdekat dalam hidupku, selain benda-benda mati bernama komputer dan buku. Bahkan dalam ibadah dan doa, dalam sisa-sisa pembangkangan pada Tuhan, acap aku “bernegosiasi” dengan-Nya: jika Kau benci aku, jika aku tak masuk dalam hitungan manusia-manusia favorit-Mu, jika neraka adalah tempatku, dan ibuku (dan ayahku) pun kelak Kau masukkan ke dalam neraka, tambahkan aku 2x lipat untuk penebusan, akan kutanggungkan mereka serta.

Atau saat beliau mulai limbung berjalan di tahun 2007, saat sudah mulai kena gejala asam urat, saat kakinya sudah mulai terasa tak enak, saat tertatih beliau kupapah ke tempat-tempat pengobatan atau kuantarkan ke sekolah untuk mengajar (ibuku keras kepala, Kawan, tak sudi menyerah kalah pada sakit sampai enggan beliau tak datang mengajar ke sekolah), pernah tawar-menawar aku dalam doa saat keimanan muncul kembali kepada-Nya: operkan kemari itu sakit itu ringkih, biar kutahankan segala jerit segala rintih.

Betapa hatiku tak risau? Hingga kemudian, ketika Kawan-kawan ramai bertahan di Banda Aceh paska kelulusan atau bahkan drop-out kuliah, atau pindah ke lain kota, aku memilih untuk pulang ke kota kecil ini. Pulang ke kampung halaman tercinta dimana ibuku menua dimakan usia. Ibu, alasan paling besar selain kecintaan pada kampung kelahiran dan kehidupan di sini, yang menahan langkah kaki untuk mencicipi kehidupan di lain kota. Untuk melanjutkan hobi bertualang, untuk jauh berjalan banyak dilihat-banyak manfaat-dan-banyak pula mudharat, ke sudut-sudut Aceh dan ragam tempat.

Di kota kecil ini aku kembali, sejak akhir 2008. Pulang kembali ke rumah, tanpa peduli dengan tuntutan menaikkan status ijazah hingga ke negeri orang. Kota kecil ini adalah saksi abadi rutinitas bersambungku sejak di bangku kuliah, untuk mengantar-jemput ibu (dan si bungsu) ke sekolah. Sebuah rutinitas harian di pagi dan dzuhur, yang hari ini, sumpah demi langit dan bumi, kukenang dengan penuh haru dan rasa syukur di dalam kalbu.

Karena, apalah bisaku untuk menyenangkan hati seorang perempuan yang sudah melahirkan selain menuruti kemauan beliau untuk mengajar. Bahkan selepas kubawa berobat beliau ke negeri jiran, untuk mengurangi beban asam urat dan gejala stroke itu sekali pun.

Kuingat-ingat rutinitas itu kini. Pagi biasa ibu sudah sedia di bawah menanti aku turun dari kamar di lantai dua. Jika hari tak hujan, beliau minta diantarkan dengan motor, jika hujan kuantarkan dengan mobil tuaku. Selepas si bungsu, giliran ibu biasanya. Dari ujung kota kecil ini ke perbatasan kota sana, ke sebuah SD bernama SDN 2 Kampung Rawa. SD yang pernah terbakar 3 tahun silam, pernah pula dicaplok oleh sebuah SMA unggulan proyek pemerintah kabupaten yang ambisius, sehingga kelas dimana ibuku mengajar terpaksa berbagi dengan anak-anak kelas lain, sementara kelas-kelas mereka “dijajah” oleh murid-murid SMA yang katanya “murid unggulan” saat itu.

Biasa kuantarkan ibu sampai ke depan pintu kelas. Biar tak hoyong jalan ibu, tak limbung beliau dan mudah berpegangan pada dinding demi membantu memapah tubuhnya sendiri. Lalu, jika suara ngaji dzuhur sudah tiba, alarm berbunyi di ponsel, kujemputkanlah beliau ke SD kampung itu. Terkadang lama kutunggu jika ada rapat para guru, atau terkadang aku pula keduluan datang.

Begitu selalu kuisi hari, sampai setahun yang lalu, ibu mengajukan cuti, karena memang asam urat di kaki sudah tak bisa diajak kompromi. Rutinitasku pun berganti. Tak lagi mengantar jemput beliau ke sekolah, tapi memberi waktu pula untuk keperluan-keperluan beliau di rumah. Terkadang hal-hal sepele, seperti mengidamkan roti bakar atau sekedar kue-kue di pagi hari, atau beliau minta dibelikan mie putih (semacam mie pangsit khas kota ini). Apapun.

Apakah aku anak baik-baik, senantiasa berbakti pada ibu?

Tidak. Ketika beliau sudah mulai rebah lebih dari seminggu yang lalu, sudah agak bengkak lambung beliau karena gangguan lever, tertampar juga aku rasanya. Terbayang-bayang saat menjagai beliau sakit, betapa dalam hidup beliau pernah kubantah-bantah. Dan seperti almarhumah nenek, pernah juga kutinggal-tinggalkan karena kelalaian dalam kerja atau bersuka dalam hidup yang cuma permainan sementara ini. Teringatlah aku saat meminta izinnya membawakan mobil tua untuk mengantar pengantin, seorang teman yang menikah, ke kabupaten yang jauh dari sini. Perjalanan berjarak-jauh itu, melintasi jalanan gunung yang terjal dan tinggi, kutahu beliau enggan setuju. Tapi jantung hati-sibiran tulang sudah meminta, mengangguklah beliau. Sedih bukan kepalang hatiku di malam-malam menjagai ibu di rumah sakit, betapa terlupa aku menyalami tangannya, mencium tangannya, seperti biasa kulakukan jika berpamitan pergi jauh. Meski pun saat bersedih itu ibu di depan mataku sendiri masih bernafas, masih tersenyum-senyum dalam sakitnya, masih dengan suara parau meminta kusulangkan air minum karena hausnya.

Empat malam di rumah sakit, mengawankan ibu sakit, bukan main rasa duka dalam hati, Kawan. Apalagi jika kau sebaya denganku, jika kau sayang dengan ibumu, jika kau tahu diri pernah kau sia-siakan beliau atau pernah kau bantah-bantah dalam hidupmu. Empat malam kukawankan beliau, entah  firasat bahwa memang tak akan lama usia ibu, menjelma-jelma segala kenang dengan penuh rasa haru. Apalagi jika kau duduk di sisi ranjang dimana ibumu terbaring sakit. Kau pandangi ubannya memutih dan sorot matanya letih. Kau kipasi raganya yang makin ringkih demi mengusir gerah. Dan sesekali kau usapkan eau du cologne merek Vycaris yang di sini tersohor disebut “minyak boldot” dengan rasa sayang ke rambutnya, kau kompres-kompreskan ke keningnya yang panas, kau usap-usapkan ke lengannya hingga sejuk. Sumpah demi nyawaku sendiri, rasa-rasa kau macam Malin Kundang durhaka hendak menebus dosa karena pernah jauh dari ibunda.

Begitulah yang kurasakan di malam-malam terakhir bersama ibu. Bahkan meski perasaanku di malam menjelang ibu meninggal sempat sedikit enak, sehingga kutuliskan status di twitterku seperti ini:

Kondisi ibu sempat kritis. Kini ibu agak sedikit membaik, beristirahat dan tidur lelap.

Namun, tak terelak rasa sesal dan sayang menyesap-nyesap dalam diri, hingga kupotretkan beliau tidur, dengan perasaan aneh yang kemudian bolehlah kusebut intuisi seorang anak akan rasa hendak berpisah, dan kujadikan status begini:

Hati sedikit tenang, melihat ibu tidur lelap. Kelak, apapun terjadi, potret ibu lelap begini akan kukenangkan… http://twitpic.com/3tmz9h

Lepas itu, sembari menjagai ibu yang tertidur dalam sakitnya, mulai berkelebat bayang-bayang dan renungan dalam kepalaku. Menjelma menjadi status-status begini:

  1. Uban memutih. Sorot mata seorang ibu, seorang guru SD yg telah 30 thn lebih mengabdi: alasan terbesar enggan kutinggalkan kampung ini. #
  2. Dimana lagi, kawan, tempat terbaik menangis kala kecil, sampai lelap, jika bukan di pangkuan ibu? #
  3. Jadi, jika ibumu masih sehat, senang2kanlah hati beliau. Seorang jantan boleh garang, boleh melawan siapa saja, tapi tdk dgn ibu. #
  4. Saat lain tidur kecapean, tinggal sendiri menjagai ibu tidur, merapikan selimt & ubannya, melihat wajahnya, ter-kenang2 juga masa lalu… #
  5. Dulu saat libur kuliah, melompat turun dari minibus depan gerbang rumah di pagi hari, sering menemukan wajah ibu sumringah. #
  6. Ibu biasa sumringah melambaikan gunting bonsai & senyum2 bilang, “Aii.. panjang rambutmu sudah. Kemarilah, diguntingkan sekali…”  #
  7. Lalu saat mencium tangannya salaman, tangan ibu biasa mengacak rambut & berkata, “Tak cukupkah uangmu utk cukur rambut di Banda Aceh?” #
  8. Jika pulkam libur kuliah & molor kesiangan, ketemu ibu di teras atas rumah, mesti dilambaikannya pemukul tilam bertuah yg macam raket itu. #
  9. Pemukul tilam itu bermakna: “Matahari sudah tinggi, engkau baru bangun. Sebelum ragamu dijadikan tilam, mandilah sana!” #
  10. Bulan sabit di atas langit rumah sakit, selengkung senyum ibu melihat adik #3, tiba pagi ini dgn tangisan haru. #

Di status terakhir, bukanlah dusta kukatakan, ada terasa beda ketika aku keluar sebentar dari kamar, hendak membeli kopi dan rokok ke kantin rumah sakit, dan menengadah melihat langit. Hal yang sama kulakukan ketika balik ke kamar, dan kembali melihat dari balik jendela kamar. Rasa aneh yang susah kujelaskan padamu seperti apa. Ada bahagia, ketika menangkap lengkung senyum di bibir ibu dan melirik bulan sabit di langit. Ada keterharuan dan helaan napas panjang seperti kepasrahan pada keterasingan, pada bulan sabit di langit yang seumur hidup tak pernah didatangi ibu.

Tak pernah kusangka, bulan sabit di pagi itu, di langit yang kupandangi dengan langkah pelan di koridor rumah sakit, dengan hembusan asap rokok meracuni angkasa, adalah bulan sabit penghabisan yang kulihat di saat ibu masih bernafas. Masih hidup dan bernyawa.

Sebab, selepas dzuhur di siang menjelang, status bahagia itu berganti berita:

Pukul 11 siang, hari ke 27 di bulan Januari, ibu kami, Hj. Afiat Mulyana, menutup mata dalam ambulance menuju Banda Aceh dlm usia 53 tahun.

Pukul sembilan pagi, keadaan ibu semakin kritis. Nafas beliau mulai satu-satu, sehingga dibutuhkan alat bantu penapasan. Kepalaku pusing karena tidur tak sampai satu jam, dibangunkan dan dikabarkan bahwa ibu mesti dibawa ke Banda Aceh untuk operasi dan pengobatan lebih lanjut di sana. Sempoyongan pulang ke rumah, ambil ransel dan baju ala kadar untuk tambahan. Itu pun sudah berlinang-linang air mataku di kamar. Sempat terduduk di sisi ranjangku sendiri. Bertekuk lutut, menyerah pada kehendak sekaligus masih mencoba mengharap pada mukjizat.

Tapi Ajal bicara lain.

Ibu meninggal dunia. Menarik napas penghabisan dalam ambulance menuju Banda Aceh. Nyaris-nyaris tak kudengar suara erang suara rintih. Tak juga gerak kesakitan seperti pernah kutengok dalam hidupku. Ketika ibu hendak dijemput maut, masih aku merebahkan kepalaku di sebelah atas kepala ibu, sembari mencium-cium rambut beruban ibu dengan air mata menetes-netes. Rasa kebas kaki terjepit dengan posisi duduk tak nyaman di dalam ambulance tak terhiraukan oleh raga sendiri. Kuhalang-halang, bersama dua adik perempuan dalam ambulance, panas matahari menerpa wajah beliau. Tak peduli penat lenganku membentangkan handuk agar tak disentuh panas celaka wajah ibunda. Bersumpah-janji pada diri sendiri, 1000 mil pun rela kubentangkan handuk menahan panas cahaya surya menerpa wajahnya, biar tanganku kebas mampus, biarpun macam kena kutukan Sisyphus, asalkan beliau sembuh.

Sungguh, Ajal berkata lain…

Ketika lelah dan rebah aku di sisi ibu, sudah nyaris tertidur, dengan hati sedih melihat nafas ibu satu-satu, dengan bisikan menggumamkan asma-Nya di telinga ibu yang pucat, dengan tangan bertenaga tersisa membelai-belai rambut ibu, Ajal menjemput tiba. Tersentak tiba-tiba, naluri mencium bahaya, dan benar: di depan mataku ibu menghembus napas penghabisan. Mata beliau yang sudah terpejam, terpejamlah sudah untuk selamanya. Kurapatkan. Masih kucium-cium keningnya, dengan air mata berhambur, berharap itu mimpi buruk belaka. Sementara tangan kiri menggedor kaca depan ambulance, dan ambulance berhenti, diikuti iringan mobil keluarga di belakang. Di lintasan hendak mendaki jalan pegunungan. Belum seberapa jauh dari perbatasan kabupaten. Di sana, di jalan yang biasa kulalui berkali-kali selama hidupku, aku menangis di pinggiran jalan.

Tumpah air mataku di atas aspal. Tertunduk, terduduk. Lemah.  Sungguh semangat hidupku terasa patah.

Bahkan sampai saat kuketikkan catatan ini, masih duka kurasa…

Duka karena kehilangan ibunda. Duka karena kutahu ramadhan nanti tak akan ada ibu lagi. Duka karena, aku mengetikkan ini sambil mendengar berulang-ulang lagu Madah Terakhir, lagu kesukaan ibuku yang pernah kusiulkan beberapa kali begini:

  • Kini, selesai shalat barusan, kudengar-dengarlah lagu lawas kesukaan almarhumah ibu: Madah Terakhir, buah karya Orkes El Suraya, Medan. #
  • Lagu kesukaan ibuku itu dapatlah kau jingau di http://www.youtube.com/watch?v=lpFziiriIzs atau unduhkan di http://tinyurl.com/madahterakhir #
  • Berair sudut mataku mendengar lirik lagu kesukaan ibu: “…semoga yang tinggal senyum selalu, yang pergi hilang lenyap berita…” #
  • Tambah lagu “Selimut Putih” Orkes El Suraya ini: http://tinyurl.com/selimutputih yang pernah didaur-ulang Orkes Nasida Ria bertahun silam… #
  • Kucari lagu2 lawas kesukaan ibu bbrp tahun lalu, sampai ke sudut2 Medan, cuma utk menjadikannya kado saat pulang kampung, di haribaannya… #
  • Kini kuingat-ingat rasa senang hatiku, rasa senang di wajah ibu, saat beliau ikut bersenandung kala kuputarkan lagu2 langka kesukaannya… #
  • Mulai dari keroncong seperti Sepasang Mata Bola dan Melati Di Tapal Batas, sampai lagu2 Melayu lawas seperti Tanjung Katung dan Seroja. #
  • Adalah ibu pula mengenalkan rasa suka pada musik, dgn memberi pianica di masa silam, dgn hafalan lagu-lagu & kesukaanya bersenandung. #
  • Tapi diatas semua lagu, cuma Madah Terakhir itulah lagu paling disukainya. Lagu langka yg kuhadiahkan kembali dgn bangga bertahun kemudian. #
  • Itu lagu pengisi sahur ramadhan di masa kecil & masa remaja. Biasa diputarkan di radio sini, sampai kurekamkan di tape-recorder utk beliau. #
  • Dan kini sendirianlah aku mendengarkan lirik Madah Terakhir, “…bila kelak daku terkenang, kutatap bintang di malam kelam…” *nangis* #
  • Maka, kini tidurlah aku dengan “Madah Terakhir” kesukaan ibu. Biar lelap mimpiku, selelap dulu tertidur di pangkuan ibu… #

Begitulah sedihku selama seminggu ini, Kawan. Sebegitulah sedih dan dukaku. Hingga hari ini: hari ke tujuh meninggal dunianya ibu.

Sungguh, tak akan habis-habis kukenangkan beliau dalam hidupku. Tapi setidaknya, lunaslah janjiku untuk menuliskan sesuatu, janji pada diri sendiri, demi mengingat ibuku. Maka, selepas subuh ini pula, selepas catatan ini pula, aku hendak berundur diri pula. Hendak beristirahat kembali agak satu-dua jam dalam kenyataan, dan mungkin berhari-hari dari dunia tulis-menulis begini rupa. Tentu sembari mendengar kali kesekian Madah Terakhir dialunkan. Untuk ibuku.

Karena catatan ini pun biarlah jadi Madah Terakhir menutup kesedihan seminggu ini.

Demikianlah.

27 thoughts on “Madah Terakhir

  1. Bang… Aku turut berduka cita..
    She must’ve been a great mom for she has raised u. May she rest in peace..
    Kan kuingat2 nasihat abang tentang ibu…
    Istirahatlah bang, take your time. Jaga kesehatan juga yah…

  2. *terharu biru, tak tahan air mata inipun jatuh berderai*
    Semoga Allah selalu menjaga ibumu bang.

    dan Alex segera kembali bersemangat, dengan semangat alm ibu untuk membahagiakan ibunya di sana….

    *love this post*

  3. setiap hari melihat twit, adakah yang baru tentang kenangan ibumu lex. dan jika tidak ada, kubaca kembali barisan kenangan itu sembari mencium ibuku. makasih lex, kau mengajarkan kami kebanggaan dan kebahagiaan memiliki ibu.

  4. Be strong, brother, be strong. I can feel what you feel, biarpun tak sama persis.

    Desember lalu bapak mertua-ku meninggal dunia ketika aku jauh di pulau seberang. Sampai sekarang aku juga masih menyesal, tak sempat salim pamit pada beliau ketika berangkat dua minggu sebelumnya…

    Kita yang muda ini, mungkin sering mengaku cinta pada mereka, orang tua, sekaligus sering pula menyia-nyiakan keberadaan mereka. Akan tetapi dari situ sudah terlihat jelas, kalau kemurnian cinta orang tua kepada anaknya jauh melebihi apapun.

    Rasa sakit itu akan tetap ada Lex, karena kita manusia. Sekali lagi, aku harap kau jadilah kuat, setidaknya demi saudara…

  5. jujur, tulisan-tulisan ab ne membuat air liurku tertahan di kerongkongan dengan mata berkaca-kaca….semoga almarhumah ibu bg alex mendapatkan tempat dan kebahagian yang tiada tara di sisi Allah di alam sana….terimakasih bg, tulisan ini cukup merajam jiwa ne yang sering berontak dan berbantah-bantah dengan orang tua yang sebenarnya harus ku hormati dan ku sayang….tersirat, keinginan yang teramat sangat untuk membahagiakan dan mencintai orang tua segenap jiwa tanpa berbantah-bantah lagi selama masih mereka masih ada bersama-sama d kehidupan alam dunia ini….

  6. kita sama tak tahu setinggi itu di atas debu, tetap saja duka maha tuan bertahta. tapi bukan kematian benar yang menusuk kalbu, kawan. bukan! tapi keridlaanmu menerima segala tiba…

  7. Dalam dua tahun belakangan, aku pula lekas meletup. Jika ada yang hendak mencoba bermain kata hikmah di balik sakit ibunda, niscaya kutatap lekat matanya dan (jika masih bisa) kutahan ucapan, “Kau mau hikmah? Kuharap kau dapat sakit yang sama macam ibuku, mau kulihat bacotmu itu soal hikmah, apa akan kau buang atau kau mamah!”

    Apa yang bisa ku ucap, Bang? Berlagak macam orang yang sabar, lalu bilang biarkan waktu yang akan menyembuhkan, sementara aku belum pernah merasakan apa ya kau rasa. Bohong besar kalau aku bilang, aku mengerti bagaimana perasaan kau sekarang ini, bohong besar. Tapi aku mau mengerti, Bang.

    Sebab perkara ajal itu pasti.

  8. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

    Ibuku hanya bisa menemaniku selama tujuh tahun, sebelum kanker memisahkan beliau dari kami. Ibu kami hanya diberi waktu setahun untuk mengasuh Dian, sebelum memejamkan mata selamanya. Kenangan macam apa yang bisa kami dapat pada usia semuda itu? Aku iri padamu, yang bisa mengumpulkan puluhan tahun pengalaman suka dan duka dengan Ibunda tercinta. Aku iri pada tulisanmu, yang dengan indahnya dapat kau persembahkan kepada Ibu dan Nenek. Dan tentu saja aku harus berterimakasih juga padamu yang telah mengingatkan diriku untuk mengirim doa buat Ibu dan Nenek, yang selama ini hampir lupa kulakukan ….

  9. Lex,
    Turut berduka atas musibah besar yang menimpa.
    Tak jauh berbeda dengan apa yang kurasa saat ibuku tiada
    dua tahun silam. Ditunggunya aku yang sedang merantau ini
    untuk menungguinya disaat2 terakhir kepergiannya. Setelah
    semalaman aku menemaninya di RS daerah itu, (yang diakhir
    tahun itu semua dokter pada berlibur ria ke Medan sana),
    dipagi hari seusai subuh, disaat kakak2ku yang lain pulang
    untuk sementara waktu, beliau berangkat dengan damai dalam
    rengkuh tangan sang putra terakhirnya, yang tak henti melantunkan
    talqin, agar lempang jalan menuju Ilahi.
    Tak ada bakti apapun yang bisa membalas jasanya,
    hanya doa yang bisa kita panjatkan untuk beliau,
    semoga arwahnya ditempatkan di SurgaNya.
    Qullu nafsin zaikatul maut, cuma persoalan waktu saja.
    Ayo bangkit kembali kawan, buat Ibunda disana bangga dengan
    putra yang dilahirkannya.

    Salam.

  10. Alex yang baik,
    Saya turut berduka mendengar kabar ini. Tanpa bermaksud buruk apapun, saya hanya bisa mengucapkan selamat jalan menuju kedamaian abadi pada Ibunda Alex dan agar semua kesabaran dan ketegaran di muka bumi dilimpahkan pada Alex dan orang-orang tercinta yang beliau tinggalkan.

    Earth to earth, ashes to ashes, dust to dust. Segala yang bernyawa akan merasakan maut.

  11. inna lillahi wa inna ilaihi raajiun
    alex, turut berduka cita. semoga almarhumah diterima di tempat terbaik di sisi-Nya

  12. T.T
    21 syawal 1431 H lalu..
    lebih dari enam purnama berlalu, sejak bunda saya kembali ke sisi Allah..
    kisah ini..menguatkan rindu fisik yang ada..

  13. Ping-balik: Catatan Pernikahan: Surat Untuk Seorang Kawan « Lapak Aksara

  14. Ping-balik: Setahun Ibuku… « Anarki Di:RI

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s