Catatan Pernikahan: Surat Untuk Seorang Kawan

Kemarin, sabtu 11 Juni 2011, sekitar pukul 10 pagi, sebuah ritual digelar di dalam mesjid di kotaku. Mesjid At-Taqwa. Sebuah mesjid yang cukup besar, dan terletak di jalan yang sama dengan jalan dimana toko, gudang dan ruko keluargaku berada, terpisah sekitar 100-an meter saja: Jalan At-Taqwa.

Ritual itu, Gen, seperti yang kau tahu, adalah ritual pernikahanku, dengan seorang perempuan muda yang kupilih dengan kesadaran sendiri, tanpa paksaan sama sekali dari manusia-manusia lainnya, kecuali mungkin dari takdir yang katanya sudah tertulis: Mizah.

Surat undangan

29 tahun kehidupan kujalani. Selusin lebih perempuan datang dan pergi dalam hidupku. Tiga diantara mereka pernah resmi menjadi pacar, menjadi kekasih di masa remaja. Aku bahkan masih ingat nama mereka, perawakan mereka, bahkan ekspresi wajah-wajah mereka ketika aku menggombali mereka betapa aku ingin menjadi pacarnya, menjadi seorang pria remaja yang bisa diandalkan sebagai jagoan dalam percintaan. Menjadi Romeo yang romantis tapi juga bisa menjadi Bruce Lee yang akan memainkan tangan dan kaki demi membela mereka jika diusik.

Pacar pertamaku adalah Desi Elma Kurniawati. Panggilannya Eci. Masih hidup dan sehat walafiat sampai hari ini. Kau bahkan bisa menjenguk profil miliknya dengan mencarinya dalam daftar pertemananku di Facebook. Dia adalah wanita pertama yang kutembak, kuminta menjadi pacarku, dengan cara kuno dan baheula: dengan sepucuk surat cinta harum, berisikan selembar kertas harapan dan permintaan. Surat yang kutitipkan pada gadis remaja adik kelasku. Di saat aku menginjak kelas 3 SMP dan dia baru kelas 1 SMP.

Kali pertama aku melihatnya adalah saat pesantren kilat, sebuah acara indoktrinasi agama secara gabungan antar sekolah-sekolah SMP/MTsN dalam daerah kami. Daerah dengan 6 kecamatan yang masuk dalam kawasan pembantu bupati wilayah III, di bawah kabupaten Aceh Selatan (sebelum dimekarkan di tahun 2002 menjadi kabupaten sendiri).

Saat itu masa liburan sekolah, menjelang kenaikan kelas. Aku masih ingat hari itu. Pagi itu. Ketika aku duduk di bawah pohon jambu depan SMPN 2 Blangpidie. Berkelakar dengan kawan-kawan. Dan beberapa gadis muda beranjak remaja melaju dengan sepeda melewati gerbang tak jauh dari kami. Memasuki sekolah kami. Gadis-gadis baru lulus SD dan hendak mendaftar ke SMP kami. Mereka parkir sepeda depan kantor sekolah. Dan mulailah mata-mata kami, dengan peci di kepala seperti pemuda jaman revolusi kemerdekaan, menjadi terang benderang. Tahu mana wajah cantik dan mana tidak.

Darimana kayu menjadi abu? Dari bara dibakar api. Darimana rindu muncul menggebu? Dari mata membakar hati.

Aku melihatnya seperti Sulaiman melihat Balqis. Ketika ia mendirikan sepedanya, dan roknya tersingkap. Betis bunting padi muda. Dan wajahnya menoleh malu ketika sadar ada remaja 15 tahun terpana pada aurat di kakinya. Dan wajah malu itu makin malu, karena wajah malunya membuat remaja 15 tahun itu makin liar mata kepadanya.

Hari-hari berlalu. Aku mencari tahu namanya. Tak repot di SMP itu bagiku untuk menyelidiki berapa nomor sepatu anak baru kelas sekian. Duduk di bangku urutan ke berapa dia. Atau merek apa sepeda dibawanya. Kawan-kawan dan adik-adik kelasku yang dekat, cukup ramai. Belum lagi dengan memiliki geng sendiri yang cukup ditakuti. Dari sebuah geng bernama Klends yang wallahu’alam maknanya, namun terdengar keren, sampai melebur dengan geng besar bernama Laskar. Kumpulan para bandit kecil yang hobi sekali menjadi ayam jago untuk bertarung di kebun orang.

Singkat cerita, dengan surat cinta terselipkan via temannya, harapan terhantar, penerimaan terhampar. Jadilah aku dengannya. Di satu siang, ketika dia dengan malu-malu menungguku di pinggir jalan sepulang dari sekolah. Menunggu dengan cara memperlambat sepedanya, ketika aku mengejarnya. Mengejar seperti hari-hari sebelumnya, cuma untuk bersepeda dengan rasa bahagia di sisinya. Tak banyak bicara. Namun kali itu, dengan menunduk dia berhenti. Mengulurkan sepucuk surat. Dan lalu mengayuh sepedanya pergi.

Ah, Gen… Aku masih ingat pipi putih bersemu di hari itu. Rasa-rasa baru kemarin. Juga rasa meledak senang hatiku. Ketika di rumah kubaca surat itu. Dengan perasaan konyol. Perasaan tolol. Karena dari raut wajahnya, orang bodoh pun bisa menebak bahwa dia menyukaiku. Tapi tetap saja jantungku berdegup ketika membuka sampul, dan membaca kata demi kata di suratnya. Ucapan-ucapan yang kini mungkin bisa membuat kita tertawa. Betapa dia sempat mengingatkanku untuk tidak merokok. Betapa dia menyukaiku karena acap dipanggil ke kantor guru demi ikut lomba-lomba sekolah semisal LCT-P4 atau Cerdas Cermat, atau dipanggil karena baru kemarin ketangkap ramai-ramai merokok atau berkelahi di kebun orang di belakang sekolah. Rayuan gombalku berbalas dengan rayuan gombal gadis baru mekar. Hari ini, bahasa kita di zaman itu, mungkin akan disebut orang-orang keren di internet dengan sebutan pelecehan: Alay. Lebay.

Tapi begitulah saat itu. Rasa senang setahun. Hingga kami putus menjelang EBTANAS. Putus karena pihak ketiga yang tak lain sepupu jauhku sendiri. Juga karena salah paham. Dia mengira aku akan melanjutkan sekolah ke luar Aceh. Dengan segala elu-eluan guru-guru yang membanggakanku di depan papan tulis kelasnya. Rasa bahagiaku menjadi rasa perih dan tekad untuk tidak ingin diputuskan oleh perempuan lagi dalam hidupku. Begitu tertohok, bahkan aku menolak menerimanya kembali, ketika dia meminta kembali.

Dan hidup berlanjut. Dengan rasa kecut pertama pada wanita. Jika mau bersombong-ria, tidaklah susah mendapatkan gadis lain bagiku, bahkan sejak aku kelas 1 SMP. Memiliki reputasi sebagai ranking 1 melulu dari kelas 1 SD, dengan wajah yang saat itu belum sebinasa hari ini: mulus tanpa jerawat, dengan kulit bersih dan mata belum keruh, dengan rambut mengikuti gaya belah pantat ala bintang-bintang film Hongkong seperti Andy Lau dan Aaron Kwok. Tapi cuma di kelas 3 SMP aku benar-benar memiliki pacar. Dan vakum setahun di kelas 1 SMA.

Pacar kedua kudapatkan di puncak kejenuhan pada kelas unggulan generasi pertama di SMAN 1 Blangpidie, yang sudah sukses memerangkapku selama setahun. Kelas dengan 30-an siswa diseleksi macam Nazi menentukan apakah seorang warga Jerman adalah ras Arya atau bukan. Dengan cara canggih bernama psikotest. Kelas di sekolah yang bisa ditempuh dengan jalan kaki 5 menit saja dari rumahku.

Seorang gadis remaja adik kelas unggulan angkatan kedua, datang di tahun 1998. Namanya Zakiah Anwir. Panggilannya, Kiki. Masih juga hidup sampai hari ini. Masih juga bisa kau cari di daftar pertemananku di (lagi-lagi) Facebook. Sudah bersuami dan beranak dua. Pacar tak lama. Cuma satu caturwulan saja. Kuputuskan karena sempat juga diselingkuhi, meski meminta maaf dan kembali, namun tak pernah aku kembali. Pun begitu, masih juga kuingat bagaimana dia saat kutembak, bagaimana pula dia saat menjadi pacarku. Bagaimana degup hati ketika di lorong sekolah menuju kantin, aku berdiri berhadapan dengannya, menyandarkannya pada dinding kelas di lorong sekolah itu. Dan mencium harum di pipi putihnya dan bibir merah basah. Juga bagaimana rasa hangat ketika memboncengnya pulang dengan motor yang diam-diam, dengan cabut sejenak dari sekolah, kucuri dari pekarangan rumahku. Motor yang biasa dibawa ibu untuk mengajar ke SD dimana beliau menjadi guru, dan motor itu sering menganggur ketika ibu sudah pulang, di saat aku masih terkurung dalam kelas unggulan yang memiliki jadwal dari pukul 8 pagi sampai pukul 6 sore. Dengan motor itulah, dalam hujan yang cukup deras, aku berbasah-basah dengannya. Demi mengantarnya pulang ke rumahnya di kecamatan sebelah. Rasa hangat menjalar dari sentuhan pundaknya, dengan posisi duduknya menyamping, di balik punggungku. Rasa hangat yang mesra.

Hingga aku bertemu dengan perempuan yang menjadi pacar terakhir di SMA yang sama. Dalam kisah yang mungkin akan membuatmu tertawa atau mengira aku mengada-ada.

Kau pernah menonton Ada Apa Dengan Cinta, Gen? Film yang dibintangi Dian Sastro dan Nicholas Saputra itu, persis sama seperti apa yang aku alami dengan perempuan yang menjadi pacar terakhirku di bangku SMA itu. Persis sama. Dari status si perempuan sebagai Ketua OSIS. Kesibukannya mengurus mading sekolah. Dengan karakter yang juga mirip. Periang. Memiliki konco-konco sendiri. Menyukai puisi. Dan pintar bicara. Cantik. Dengan bagian depan dadanya, kata anak-anak sekolah, membuat mata mereka melotot mesum jika bergerak saat dia membawa tubuhnya berlari.

Dan aku? Ya. Aku sadar diri sekali. Wajahku bukan wajah sekaliber pemeran Rangga. Tapi, kejadian dengan pacar pertama dan pacar kedua, benar-benar membuatku sempat begitu dingin pada perempuan. Pun aku juga suka dengan puisi. Duduk selalu di bangku paling belakang. Mencoret puisi sesuka hati. Ketika Pak Tarsidin, guru matematika, bicara soal teorema phytagoras. Atau Pak Ismail, guru fisika kami yang mirip Tommy Soeharto wajahnya, bercanda soal kecepatan mobil nasional merek Timor dengan Mitsubishi Lancer Evolution dalam contoh soal-soal fisikanya.

Ya. Aku juga dicuri puisiku. Di-mading-kan tanpa sepengetahuanku. Dan di-Bukulah-kan juga tanpa sepengetahuanku. Bukulah, sebuah buletin bulanan sekolah. Keluaran OSIS. Dicetak dengan sederhana seperti buku-buku cetak bajakan usaha fotokopi. Dipimpin oleh ketua OSIS bernama Ida. Cut Wilda Farmi lengkapnya. Gadis remaja yang mencariku ke kantin untuk wawancara entah-apa-itu-soal-sastra, ketika aku sedang merokok dengan buku bacaan, sembunyi-sembunyi di pojok kantin. Dengan alasan ada puisiku masuk. Dan aku tak peduli. Tak ambil pusing. Mengusirnya dengan sebelah tangan. Menyuruhnya mencari orang yang memberinya itu puisi untuk diwawancarai. Aku, yang berada di antara 2 posisi; murid yang boleh disebut disukai para guru sejak SD sampai SMA, karena memiliki reputasi di bidang akademik, sekaligus tidak disukai karena bergaul dengan strata murid-murid bebal dan nakal, tidak pernah suka dengan murid-murid bereputasi bagus, baik karena pintar atau karena anak baik-baik, apalagi yang berada dalam geng bernama pengurus OSIS. Sejak SMP. Aku tak suka dengan OSIS. Organisasi Siswa-siswa Manis, kataku. Begitu juga pada sosok Ida, sang ketua OSIS kami saat itu. Sampai kemudian tahu bahwa kawanku memberikan puisiku pada pacarnya yang sekelas dengan perempuan tersebut, dan lalu termuat.

Entah puisi apa itu. Sudah kulupa. Mungkin masih ada tinggal di sekolah. Mungkin juga masih tersimpan dalam arsip milik almarhum Pak Erlis, guru bahasa Indonesia yang paling dekat denganku dulu. Guru yang sering diam-diam kuberikan puisi-puisiku. Entah masih ada, atau mungkin sudah dibakar atau hilang kini, setelah beliau meninggal setahun yang lalu.

Tapi, di situ, dengan kisah mirip-mirip film yang bikin Aku-nya Sjumandjaja laris manis dicetak ulang, bikin remaja mendadak menghargai puisi, bukan seperti zamanku dulu dimana dianggap sok-romantis atau sok-nyeni wal sok-nyentrik; kisahku dengan Ida berawal. Perlukah aku memberitahumu juga bahwa dia juga ada di daftar pertemananku di jejaring sosial mukabuku, dengan status kini  menjadi guru dan sudah berkeluarga bertahun lalu? Aneh memang rasanya memandang wajah-wajah yang pernah kita cintai di masa lalu, kini menjadi teman biasa. Seaneh tawa menertawakan diri dan sejarah hidup, saat menggendong anak mereka jika bertemu. Pernahkah teralami hal yang sama olehmu, dan iseng berpikir, jika dulu kemaluanmu beradu dengan kemaluan perempuan-perempuan begitu, mungkin anak yang kau gendong dan kau cubit pipinya adalah anakmu sendiri? Hidup begitu lucu, memang.

Di kelas 3, beberapa gadis datang dan pergi. Sebut nama Iin Verawati, Zulia Oktaviani, Faidzah Nur hingga Hafni. Dan masa SMA-ku kututup dengan kesendirian. Dengan harapan akan petualangan keluar dari kota kecilku. Dengan rasa hampa. Sedih. Tapi penuh vitalitas hidup. Membakar kesendirian dan rasa hilang kepercayaan pada segala romantisme drama anak manusia, dengan kobaran api unggun. Berbatang lintingan ganja. Perempuan-perempuan dekat dengan rasa suka semata. Tanpa kepastian pada kata cinta. Tanpa ada kepastian hubungan apa-apa.

Kesendirian, tepatnya keengganan untuk mengikat keseriusan, bertahan bertahun-tahun kemudian. Aku mengagumi perempuan. Suka dengan segala keindahan mereka. Tapi aku juga memandang mereka dengan rasa yang asing. Bahkan jika kawanku berkata bahwa peluangku besar untuk menjalin hubungan dengan salah satu yang dekat dari mereka. Di masa-masa kampus, hingga pulang ke kampung halaman di tahun 2008, datang dan pergi lagi perempuan-perempuan lain. Emma. Ayu. Mutia. Yeni. Fauziah. Rosa. Nina. Yati. Ira. Delfi. Icha. Anna. Putri. Noni. Semua tanpa kepastian. Semua tanpa peduli apa-apa nian. Hubungan antara lelaki dan perempuan yang tak pernah bisa disebut pacaran. Kekasih bukan, kawan pun lebih. Tapi ada rasa kasih-mengasihi. Hubungan tanpa status, kata istilah masa kini. Complicated, jika kata opsi soal status hubungan dalam berbagai jejaring sosial semisal Facebook, Friendster, dan kroni-kroni sejenisnya.

Aku juga  tak seberuntung yang mungkin kau kira, Gen, dengan perempuan. Aku pernah terjebak dalam halte di Jambo Tape, sebuah kawasan dekat Polresta Banda Aceh. Melewatkan malam selepas isya dengan hujan badai, sepinya angkutan lewat, rasa lapar, dua batang coklat dan seorang gadis yang tersesat. Tersesat untuk mau menerima sebatang coklat karena sama-sama lapar. Berbagi air mineral. Dan bicara tentang ketidakpastian akan sampai berapa jam terjebak di sana. Cuma duduk berdua, dengan jarak yang cukup aman untuk membuatku tidak dikategorikan buaya ketemu mangsa. Jarak yang kujaga sendiri karena melihat wajah manisnya ketakutan menyadari peluang bahwa aku bisa saja melecehkannya secara seksual. Hingga kemudian kami berpisah. Tanpa bertukar nama.

Aku juga pernah mencuri diam-diam wajah teman sekelasku, yang kemudian pindah ke kelas lain di bangku SMA, tanpa pernah mengatakan bahwa aku menginginkannya. Hingga kemudian rasa itu hilang. Hilang begitu saja. Dimakan waktu. Cuma ada remah-remah kenangan.

Aku hidup dalam kebimbangan sebelum dan sesudah bencana alam di tahun 2004. Dan cuma mulai meriak tenang paska usia 27 tahun ditutup angka 28. Entah kenapa. Aku juga tak tahu pasti. Cuma merasa lebih santai menjalani hidup, dan kembali pada segala kegilaan Celoteh-celotah Si Nietzsche. Sabda-sabda Zarathustra. Sabda-sabda sinting tapi begitu bestari menertawakan keseriusan hidup sendiri. Menjalani hidup sedikit lebih santai, dengan merasa kembali pada identitas sebagai muslim. Sebagai Nietzschean. Sebagai seniman tanpa akreditasi. Sebagai apapun aku menjadi kini dan nanti.

Mungkin segala riak-riak hidup sudah begitu jenuh, atau sedang jenuh meriak. Namun tidak dengan hatiku. Aku bertemu dengan Mizah, dan aku menertawakan diriku sendiri yang pernah percaya untuk tidak lagi diriku pada cinta mau dikunyah-dimamah. Aku menemukan perempuan ekspresif, persis seperti diriku dalam masa keremajaanku sendiri. Aku melihat masa lalu pada keriangannya. Dan bisa mencoba memandangnya dengan sebijaksana yang aku bisa.

Kenapa mesti Mizah? Kenapa bukan perempuan lain? Kenapa bukan dari nama-nama yang kusebut pernah datang dalam hidupku sebelum Mizah saja?

Apakah untuk sebuah karma?

Pernahkah aku bercerita padamu, bahwa aku pernah merasa ini mungkin adalah karma?

Di tahun 1999,  aku dan kawan-kawan melaksanakan gagasan sebuah kegiatan yang lahir dari kepulan asap gelek: kegiatan Gema Ramadhan dan Peduli Anak Yatim Bak Uroe Raya, di mushala induk desa kami, desa Meudang Ara. Meski beberapa pencetusnya, para senior pemuda, sedang melinting ganja, namun ide baik itu adalah ide baik juga. Kami jalankan. Dengan proposal sumbangan. Rumah ke rumah. Toko ke toko.

Termasuk ke tokoku sendiri dan ke toko keluarganya Mizah.

Di tokoku, aku merongrong bapakku dengan sentilan kenapa untuk pajak taat tapi untuk kegiatan bermanfaat menyumbang ala kadar? Bapakku tersentil. Beliau bukan orang bakhil. Hanya saja kesibukan di toko, membuatnya tidak konsentrasi dengan kedatangan anaknya sendiri yang seakan-akan sudah peduli pada anak yatim bahkan sejak anak-anak yatim itu belum menjadi yatim sama sekali. Lepas dari tokoku, aku berangkat ke toko bapaknya Mizah. Dengan kawan kentalku: Amin.

Di sana, seperti lazim peminta sedekah di toko-toko, kami mesti sabar menanti sampai pelanggan selesai berurusan. Toko grosiran, seperti tokoku, kadang-kadang pelanggan belanja sampai jutaan. Datang dengan motor, membawa pulang belanjaan penuh satu sampai dua mobil pick-up untuk dijual kembali di warung, kios atau toko-toko mereka di kecamatan lain.

Dan adegan sama terulang kembali. Aku yang biasa blak-blakan, gerah menunggu. Merangsek masuk. Tanpa merasa bersalah. Ini kegiatan agama, kataku. Kutodongkan proposal pada bapaknya. Dan beliau, dengan campur kesal dan bercanda, mengusirku. Menyuruh kembali lagi nanti. Cengar-cengir kesal, aku pun mengeluarkan ucapan yang saat itu benar antara kesal dan kelakar. Bahwa selagi para pedagang seperti beliau, dan ayahku sendiri, masih hidup dan berada di sini, mesti peduli sedikit pada kegiatan sosial di kampung sendiri. Dan bahwa semestinya kalau disuruh kembali, malas kami. Selagi masih di sini, apa salahnya berbagi, sebelum nanti dihijrahkan Tuhan dari kota kecil ini, entah kemana.

Demikian omelan dan kelakarku. Amin kawanku, masih ingat itu. Dengan ngomel-ngomel, aku menolak kembali ke tokonya. Kekesalanku karena sempat setengah jam menunggu respon ayahku di tokoku sendiri, bertambah dengan hal yang sama di toko keluarga Mizah. Meletup ucapan: nanti kalau sudah meletus musibah dan mungkin pindah, toke-toke ini baru tahu rindu untuk beramal sedekah pada daerah.

Tahun 2000, konflik bertahun di Aceh menjadi bisul yang pecah. Ayahku dan ayahnya, juga pamanku dan saudagar-saudagar lainnya, kena imbas. Perdagangan sepi. Aparat BKO dan GAM sama-sama memiliki cecunguk-cecunguk yang hobi memeras. Yang satu dengan dalih uang operasi. Yang satu dengan nama Pajak Nanggroe. Permainan para petinggi kedua jenis kelompok bersenjata itu juga, hakikatnya. Sama perangai mereka. Baik yang membacot soal harga mati-nya NKRI, atau pun kemerdekaan. Permainan cari harta melalui kroco-kroco kelas teri, untuk mengancam sana dan sini. Dana operasi militer memperkaya para perwira tinggi. Dan prajurit kelas kroco, baik TNI ataupun POLRI, melampiaskan kesal karena jatah mereka disikat perwira berpangkat, dengan memeras masyarakat. Begitu pula dengan kombatan mantan preman yang tidak murni semangat perjuangan. Bukan dukungan kemerdekaan dicari, tapi caci-maki rakyat negeri dengan sikap memeras.

Para saudagar tiarap. Mobil truk angkutan keluarga kami, baik keluargaku maupun Mizah, sering parkir setelah sering disandera untuk tebusan, atau diberondong para sosok yang kata media bernama OTK, meski semua bisa menduga siapa penarik picu. Paling parah dari semua jenis bajingan bersenjata itu adalah BKO-BKO, yang sekali waktu mengambil paksa orang-orang tua kami, para pedagang, ke pos-pos mereka. Menggertak. Dan mengancam. Meletakkan pistol dan peluru di meja. Memilih suruh pilih, uang atau nyawa. Alasan bermacam. Dituduh membantu GAM. Keturunan DI/TII. Apapun. Asal para bangsat BKO itu bisa mengirimkan uang dan rampasan untuk bapak-emak atau istri dan anak mereka di kampung halaman sana. Para orang tua, istri dan anak-anak mereka yang bangga bahwa anak/suami/bapak mereka sedang dikirim ke Aceh untuk membela negara dari para separatis yang minta merdeka. Keluarga-keluarga yang hampir tiap bulan ditransferi uang rampokan nun jauh di sana. Kiriman-kiriman yang membuat petugas Titipan Kilat, Kantor Pos dan para teller Bank Rakyat Indonesia dan Bank Pembangunan Daerah di kota kami, takjub. Emas belasan gram, dirampas entah dari leher perempuan mana yang mungkin anak atau suaminya dituduh GAM. Uang berjuta rupiah berikat-ikat, yang orang paling buta huruf pun tahu uang itu tak setara dengan prajurit kelas sepatu, kelas balok merah di tanda pangkat. Uang rampasan. Hasil pemerasan. Entah tabungan anak-anak untuk sekolah mana yang capek disimpan orang tua mereka demi masa depan. Dikirim pada orang-orang yang mereka sayangi. Orang-orang terkasih keluarga mereka. Di Bengkulu. Di Lampung Di Riau. Di Jawa.

Salah satu alasanku mendukung referendum Aceh, baik referendum pertama di tahun 2000, atau pun gerakan referendum kedua di tahun 2001, dengan opsi merdeka atau otonomi, adalah karena kejadian-kejadian ini. Dendamku tumbuh subur. Ketika orang-orang tua kami terpaksa kabur. Mengasingkan diri sejenak ke Medan atau Jakarta. Seperti keluarga Mizah. Ucapan kelakarku menjadi kenyataan: keluarganya hijrah di tahun 2001. Pindah ke Bogor. Dan tak pernah terdengar lagi di kota kami, sampai bertahun-tahun kemudian.

Aku menceritakan ini padanya, pada Mizah, ketika kemudian dia menjadi kekasihku di akhir tahun lalu. Dia tertawa. Heran. Enggan percaya. Tapi begitulah sejarah hidupku bersabda.

Jadi, kenapa Mizah? Adakah aku menebus karma? Apakah aku memang ditakdirkan Tuhan untuk membawa kembali keluarga mereka kelak ke tanah ini? Adakah sebuah kebetulan ataukah memang sudah suratan nasib, bahwa kelaku aku mesti bertemu dengan anak gadis dari Haji Taufik, jatuh cinta, dan menikahinya, lalu menebus semua masa lalu dengan membawanya kembali di satu hari nanti ke kampung kelahiranku ini? Ataukah semua itu tak ada sangkut-paut, cuma kebetulan belaka?

Aku tak tahu. Aku tak pernah tahu pada kepastian nasib. Aku juga tak mau tahu jika pun pertemuan kami, rasa kasih-sayang, rindu dan kadang-kadang sengketa antara kami, adalah satu dari sekian kebetulan  belaka di alam semesta ini.

Aku cuma tahu satu hal saja: Aku memilihnya dengan kesadaranku sendiri.

Dan aku yakin, kau juga begitu, Gen, dengan Ghe. Dengan perempuan yang di hari ini akan mendengar kau berkata, “Saya terima nikahnya…” sebagai qabul dari ijab yang diucapkan dari walinya. Sebagai sebuah akad. Sebuah janji dalam prosesi yang kita sama merasa, tak ada hubungan melulu dengan Tuhan saja. Tapi juga dengan kesadaran. Kesadaran akan betapa tidak sadarnya kita bahwa nasib sememangnya kesunyian masing-masing. Ketidakpastian masing-masing.

Tahukahkah kau betapa asing perasaanku ketika tiba di pekarangan mesjid At-Taqwa kemarin pagi? Padahal aku berangkat dengan iring-iringan mobil keluarga, tambah kawan-kawan dan anak-anak muda desaku di pinggir kota, dengan santai. Cuek merokok dalam mobil dengan baju pengantin warna coklat muda, bergaya ala Aceh-Melayu, berkain songket dan berpeci. Hingga turun di pekarangan mesjid, dan Amin, sobatku yang kudamprat semalam sebelumnya dengan ancaman akan kusumpahi jika tak datang, memayungiku dengan payung pengantin warna kuning tua. Dengan motif teratai dari benang emas.

Aku terasing. Dari masa lalu. Dari cepatnya waktu berlalu. Mesjid itu sudah kukenali sejak masih didominasi papan kayu. Dulu, di masa kecilku, persis di pinggir jalan. Kini menjorok ke dalam. Lokasi asli mesjid sudah ditutup dengan semen dan batu-batu rapi berbentuk pentagon. Kolam mesjid, tempat kami bersuka mencemplungkan badan. Bermain air. Berenang dengan rasa seakan menjadi Richard Sambera, kini sudah tak ada lagi.

Satu-satunya yang tersisa hanyalah kuburan-kuburan tua yang tiada bernama. Dalam area seluas kira-kira sedikit saja lebih panjang dari kamar tidurku. Selain dari itu? Hilang. Tak ada lagi. Perputaran waktu sudah menggilas semuanya menjadi abu. Seperti jasad dikremasi dalam upacara ngaben di Bali, dan kita cuma bisa memuliakannya dalam secawan ingatan, secawan kenangan, kira-kira seukuran sum-sum otak kita saja.

Berkelebat pula bayangan kesedihanku karena ibuku sudah tiada. Tak pernah sempat melihat aku berdandan serapi kemarin itu. Dengan rambut kusisir pakai minyak Santalia yang keras seperti balsem, lengket seperti lem, dan ditarik ke belakang dengan kesan aristokrat seperti rambut Draco Malfoy dalam film-film Harry Potter.

Namun, seperti tekadku dan tekadmu, seperti nekadku dan nekadmu, Gen. Aku tetap melangkah. Meniti tangga marmer mesjid itu. Dan masuk ke dalam. Menemukan pengurus mesjid, perwakilan KUA, para saksi dan keluarga calon istriku sudah berkumpul di dalam. Rombonganku menyebar. Membentuk lingkaran. Aku pun duduk dalam lingkaran. Di sisi kanan lingkaran.

Di depanku, dua bantal bersulam diletakkan untuk duduk menghadap ke kiblat. Lalu terlihat calon ayah mertuaku datang, dan melaksanakan shalat tahiyyatul mesjid dua rakaat. Terlihat pula masuk keluarga calon istriku lagi, mengiringi perempuan pilihanku untuk duduk di barisan yang menghadap ke arah kiblat.

Aku mencuri wajah yang sudah dipercantik itu. Wajah hitam manis yang menjadi lebih cerah, meski nantinya aku akan mengejeknya seperti ondel-ondel. Aku memandangnya lama, kembali menunduk, memandang lagi, dan menunduk lagi. Untuk meresapkan wajah dari nama yang akan kusebut nanti. Aku tak mau ambil peduli dengan nama-nama lain yang pernah hadir dalam hidupku. Aku sebut-sebut namanya dalam hati. Mizah. Mizah. Mizah.

Saat hatiku sudah tenang. Napas kutarik dalam. Aku kembali melihat wajahnya lagi. Menatap seakan acuh-tak-acuh tapi merekam bibir penuh yang merah basah. Lesung pipi. Mata yang tampak grogi dengan orang-orang yang ramai datang untuk melihat adegan dimana aku akan merebutnya dari ibu dan bapaknya nanti.

Hingga kemudian prosesi dimulai. Aku sudah mulai merasa hampa. Hampa bukan tanpa harapan sama sekali. Hampa bukan tanpa perasaan sama sekali. Hampa karena merasa diriku sudah cukup hampa untuk diisi dengan apapun nasib yang akan diberikan. Siapa tahu jika tiba-tiba nikah dibatalkan? Siapa bisa pasti bahwa ijab-qabulku akan sah?

Rasa hampa itu begitu penuh. Ketika kemudian aku duduk di tengah. Di salah satu bantal bersulam. Dan tangan bapaknya mulai menggenggam tanganku. Mengucapkan ijab. Dan kujawab. Tak sampai semenit semua itu. Tapi, aku merasa, begitu sepi dan lengang saat itu. Aku bahkan bisa mendengar suara burung bersiul iseng di atas loteng mesjid. Mungkin burung murtad, burung gereja yang nongkrong di mesjid. Semurtad kesadaranku untuk nekad menongkrongi bumi, dengan bercampur vitalitas hidup dalam ruang kepasrahan pada kemana nasib membawa nanti. Semurtad kenekatanku untuk menolak bisikan kecil dalam hatiku bahwa boleh jadi hidup akan memberat nanti, ketika aku menggenggam erat tangan ayah kandung calon istriku, dan nekat menerima anak gadis beliau. Untukku. Untuk kubawa selama kesetiaanku masih bercokol di dalam dada.

* * *

Gen…

Kemarin, sudahlah kujalani ritual akad nikah. Hari ini, kau pula hari ini menikah. Panjang lebar aku menulis, dengan ditambahi editan dari draft yang semestinya sudah kuselesaikan untuk menuliskan semua ini padamu. Sudah terlalu terlambat untuk menuliskan catatan yang kau sebut “semacam bachelor party” dalam status lajang kita berdua. Tapi belum terlambat untukku melunasi janji, bahwa aku akan menulis sesuatu. Peduli setan berapapun itu berguna atau tidak berguna bagimu.

Seperti segala omongkosongku yang kutuliskan hari ini. Aku tak tahu, apakah kehendakku, kesadaranku, ataukah kehendak dan kesadaran Tuhan menggiringku hingga sampai di satu titik keramat, setelah 29 tahun menjalani hidup. Nasib mungkin adalah bagaikan sibernetik dengan umpan balik pilihan probabilistik. Nasib, atau hidup kita, mungkin pula absurd, tanpa arah dan bentuk sama sekali, seperti para amuba bergerak zigzag.

Adakah suatu kebetulan ataukah sebuah kehendak belaka, ketika sekitar dua abad yang lalu, jembatan paling indah di Peru ambruk dan melempar lima orang ke jurang mahadalam, dalam kisah klasik The Bridge of San Luis Rey-nya Thornton Wilder; ketika Tuhan mungkin sama seperti dengan ingkarnya sempat kupikirkan saat ratusan ribu rakyat di tanah kelahiranku meregang nyawa beberapa tahun yang lalu: laksana kami di masa kanak-kanak membunuh cecak-cecak di suatu malam jumat yang panas?

Kau pernah membaca Sadjak Ladang Djagung-nya Taufik Ismail?

Mungkin tidak. Kita sama-sama bukan penggemar dari tukang puisi yang sering berpolemik soal Lekra dan Manikebu itu. Tapi ada yang menarik dari beberapa puisinya, yang mungkin persis seperti kesadaran kita memilih pengawan hidup kita kemarin dan hari ini.

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam, tetapi buah apukat…”

Demikian selarik sajaknya itu.

Bagaimana kalau dahulu aku tak pernah bertemu Mizah, dan kau tak pernah bertemu Ghe? Bagaimana kalau dahulu, di masa SMA, ketika aku menjadi pengurus kegiatan mushala induk desa besarku, tidak ngomel-ngomel saat keluar dari tokonya karena disuruh kembali ba’da dzuhur nanti?

Entah. Mungkin di sampingku kemarin bukan Mizah, tapi boleh jadi Emma, Putri, Noni, Anna,  atau siapa sajalah nama perempuan calon istriku. Tapi sudahlah begitu kehidupan meletakkan Mizah di sisiku. Dengan rasa cinta yang mungkin tak sebesar cinta menggebu di masa remaja, di masa puber dahulu. Mungkin juga tak sekecil debu. Tapi cuma tahu bahwa hatiku menginginkannya. Terlepas dari segala masa lalu. Semua mungkin cuma akan tinggal mungkin. Kita tak pernah tahu sampai menjalaninya. Atau nasib bisa memarahi kita seperti James Mason menjadi malaikat yang memarahi asistennya karena sok tahu dan lancang mengambil nyawa Warren Beatty dalam film Heaven Can Wait bertahun-tahun lalu.

Tantum possumus quantum scimus, kata Bacon. Kita melakukan sesuatu, menjalankan sesuatu, sebatas yang kita tahu. Termasuk melakukan akad nikah. Aku cuma tahu bahwa aku menikah dan memilih karena tahu bahwa aku tahu dia adalah orang yang aku mau tahu. Mungkin kau juga, Gen.

Gen…

Seperti Newton konon pernah berkata, “If I have seen further it is by standing on the shoulder of the giants”, seperti itu pula kita. Kita bisa melihat jauh ke masa lalu, merenungkan masa depan, memikirkan segala kemungkinan di hari ini, di hari pernikahanmu dan hari pertamaku sebagai suami seorang istri bernama Mizah, di hari yang juga kebetulan (?) adalah hari ulang tahun ayahku; adalah karena kita berdiri di bahu raksasa-raksasa masa lalu. Raksasa berwujud tahun-tahun yang pernah kita lalui. Raksasa-raksasa yang pernah menghidupi kita dan kita hidupi juga dengan pengetahuan dan perasaan, mungkin dengan kesadaran tak terucap bahwa kehidupan tanpa kesukaan dan kemesraan adalah kehidupan tanpa nilai.

Kita mungkin tak pernah benar-benar tahu pasti, akan seperti apa hari di senin esok pagi, ketika kita sudah sama-sama beristri. Kita juga mungkin sama enggan menjadi secongkak Rahul dalam Kuch Kuch Hota Hai, film Hindustan yang dulu pernah populer, saat berucap dengan mantap bahwa, “Hidup sekali, lahir sekali, mencintai sekali, menikah sekali, dan mati sekali”, atau entah apa kalimat sejenis itu, di depan putrinya, Anjali, ketika bicara tentang istrinya yang sudah almarhumah.

Kita cuma merasa. Merasa saja. Sebuah kesombongan sederhana, bahwa Ghe dan Mizah adalah orang yang kita rasa tepat. Soal betapa sakral sebuah pernikahan, betapa pun liberal kita; kurasa kita sama seperti Aldous Huxley dalam The Importance of Language-nya, kala memuji keluhuran manusia sambil melecehkan binatang dengan berkata, “Tak pernah ada binatang membikin perang, karena mereka tak memiliki sesuatu yang dianggapnya luhur. Apakah yang lebih luhur bagi seekor harimau selain daging segar dan betinanya?” Tidak. Kita merasa nilai sakral lebih dari itu. Lebih dari sekedar nafsu biologis antara dua kemaluan.

Gen…

Senin pagi esok, kita sama-sama menjadi dua pria dengan satu nyawa ditambahkan dalam hidup. Sebuah nyawa untuk ditimang. Untuk dibawa. Untuk berbagi nasib yang sebenarnya kita tahu, tak akan benar-benar berbagi sama sekali. Akan ada rasa sunyi sendiri-sendiri dalam hidup nanti. Antara aku dan Mizah. Antara kau dengan Ghe.

Kita jalani saja hidup ini. Senihil apapun rasa hampa di dalam dada. Seperti apapun keterpurukanku ketika ibundaku meninggal dunia beberapa bulan lalu. Toh, selalu ada sedikit ruang untuk gembira. Untuk hidup girang-gemirang. Untuk merasakan seperti apa nafsu untuk bercinta. Kau benar, aku sadar benar, betapa hidup tak segirang kata “hidup nan girang” dalam Pegangan Hidup si Nietzsche. Tapi, bukankah makna mendalam pada sajak yang kukutipkan dalam undangan merah pernikahanku dan Mizah, adalah kesadaran untuk menjulang harapan dalam segala apapun, namun tak lupa bahwa di bawah pijakan kaki kita, di bawah matahari kita, ada kesedihan-kesedihan, ada kehampaan, ada sesuatu terpijak, ada yang tidak selamanya indah. Kemarin bagiku, dan hari ini bagimu, kita memijak lantai mesjid mengkilap bersih. Esok, mungkin tahi lembu terpijak di kaki. Dalam tiap kepalan harapan, kita memang harus memberi agak seujung kuku kehampaan. Penolakan. Keterhinaan nasib. Dan kesedihan.

Mungkin nanti, setelah kita merasakan bulan penuh madu, pelukan mesra dan kecup cumbu, kita mungkin akan merasa jemu. Hidup akan sekali waktu terasa buntu mampus, sehingga lidah pun enggan menyanyikan lirik-lirik begini dalam nyanyian Koes Plus.

Ini keroncong pertemuan
pria dan gadis remaja
Yang telah lama merindukan
kasih sayang bersama

Indah dan syahdu kisahnya
Seakan jauh di surga
Betapa tulus impiannya
Ingin hidup bersama

Semua indah yang dilihatnya
Seakan di taman bunga
Burung dan kumbang senyum riang
Seakan mengetahui di dalam hatinya

Telah dibulatkan maksudnya
Berjanji dengan kasihnya
Melepas dunia remaja
Untuk hidup bersama.

Ah. Kita memang tak remaja lagi. Cuma rasa cinta yang tak terdefinisi itu saja mungkin membuat kita merasa remaja. Kita menua, Gen. Dipertua waktu. Sisa usia menipis dipesiang hari. Kita cuma mencoba menikmati sedikit apapun rasa suka. Mungkin dengan galau. Mungkin dengan gundah. Mungkin dengan lepas. Bebas. Tanpa beban di hati. Seperti di malam ketika kita jumpa pertama kali di luar ranah internet ini. Saat ngobrol di warung jajanan malam di satu sudut emperan, di bawah langit kota Jakarta, beberapa bulan lalu. Tanpa merasa beban sarat di dalam dada.

Seperti itu pula aku bercerita padamu kali ini. Bukan sekedar melunasi janjiku untuk menuliskan sesuatu padamu. Tapi melunasi niatanku. Niatan untuk menulis sesuatu. Kita memang tak sama persis. Sehingga aku tertawa ketika ada orang-orang mengira kau adalah aku, dan aku adalah kau. Dua orang blogger yang pernah dikira sebagai orang yang sama di balik dua nama yang berbeda. Padahal kita memang berbeda. Meski lahir di tahun dan bulan yang sama. Meski pernikahan kita selisih satu hari saja. Meski kita sama-sama suka sastra. Sama-sama memiliki kegetiran di satu waktu, seperti engkau bertutur tentang kecemburuanmu pada kota Bandung, yang membuatku tertawa karena merasa hal yang sama ketika mendengar bacotan mereka yang merantau ke Bandung, ke Jogja, sementara aku diam-diam merutuki dosen di hari yang terik, saat melarikan diri ke pustaka Universitas Syiah Kuala dan membaca buku-buku sastra sementara di KRS-ku sebagai mahasiswa MIPA terang mencantumkan mata kuliah hari itu tak ada perihal sastra.

Hidup, Gen, mungkin tak akan jadi lebih baik. Tapi sebelum ajal tiba, kita nikmati saja hidup ini. Mungkin seperti Louis Armstrong bernyanyi What A Wonderful World, dengan perasaan takjub campur senyuman kecut akan kehidupan. Melihat dedaunan hijau. Melihat mawar merah merekah. Melihat mereka mekar, untukku dan juga untukmu. Melihat langit biru dan awan-awan putih. Di hari yang mungkin sama panas seperti kemarin, tapi mungkin sekali waktu dengan rasa kagum betapa terang sedang memberkahi siang. Dan mensyukuri kegelapan mensucikan malam. Dan warna-warni pelangi, boleh sekali tampak indah di langit.  Juga wajah-wajah cerah orang-orang yang datang dan pergi di depan mata kita. Melihat orang-orang asing, tak saling kenal bergenggam tangan dan bertanya, “Apa kabarmu?” seperti kita dahulu.

Kita, jika cukup panjang usia untuk hidup agak setahun-dua, masih akan melihat bayi-bayi lahir dan memecah tangis. Mungkin bayimu. Mungkin bayiku. Melihat mereka tumbuh. Mereka akan belajar, akan lebih tahu daripada apa yang pernah kita ketahui. Dan aku mengajakmu untuk sepakat mengagumi hidup ini, dengan senihil apapun gagasan-gagasan dalam kepala: Bukankah ini dunia yang menakjubkan, Gentole?

Akhir kata, untukmu dan juga untukku: selamat menempuh hidup baru!

17 thoughts on “Catatan Pernikahan: Surat Untuk Seorang Kawan

  1. Ahh… catatan pernikahan yang keren sekali, tersentuh saya, tertohok utk segara menyusul😀

    anyway selamat menempuh hidup baru bang, semoga menjadi kebahagiaan seumurhidup🙂

  2. …epic😐

    Ah, biar kata sudah aku ucapkan via SMS, selamat atas pernikahanmu Bang. Semoga kalian hidup dalam cinta, saling menyokong, selama-lamanya😀

  3. Fiuh… baca dari awal sampai akhir, rasanya jari ini gatal jika tak memberi sedikit tulisan tak penting di bilik komentar.
    Rasanya perjalanan romantika hidup manusia, dari cinta hingga keterikatan komitmen, terangkum apik dalam tulisan ini.
    Selamat mendayung bahtera kehidupan menuju pulau indah yang bernama keluarga sakinah. Semoga pernikahan bung Alex langgeng, bahagia dan sejahtera.

  4. Happy wedding Bg Alex. ^^ Seperti yang kutulis di blog sebelah, apapun yang terasa tentang cinta, semoga Bg Alex dan Mizah saling mencintai hingga akhir hayat,….

  5. Barakallah…

    Hmm.. gimana kalau Bang Alex dan Bung Gentole besanan? Seperti apa jadinya perpaduan dari kromosom-kromosom itu?😕

  6. Wow, titisan Che Guevara akhirnya menikah juga. Selamat menempuh hidup baru bro Alex Cobain! Semoga segera dikarunia momongan cowo yang tidak ‘anarkis’ seperti Bapaknya🙂

  7. Ping-balik: Bulan Madu dalam Kecepatan 300 Juta Meter Per Detik « Catatan Gentole

  8. seperti biasa, membaca tulisan yang amat panjang sehingga sangat ‘epic’. Saya telat tau klo gentole juga menikah bersamaan dengan anda:mrgreen:
    mizah itu memang jodohmu, dipikir sekeras apapun. jawaban sederhananya sih gitu:mrgreen:

    mudah -mudahan pernikahan kalian berkah yaaaah….doakan saya segera menyusul !!:mrgreen:

  9. Ping-balik: Catatan Akhir Desember 2011 « Anarki Di:RI

  10. Ping-balik: Setahun Ibuku… « Anarki Di:RI

  11. Ping-balik: Satu Tahun Pernikahan « Lapak Aksara

  12. Ping-balik: Buatmu, Kawan | Catatan Gentole

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s