Jika Kelak Umur Beranjak Dan Di Bumi Kita Masih Bersama Menjejak

Jika kelak umur beranjak dan di bumi kita masih bersama menjejak, aku harap Tuhan mengingatkan istriku, Mizah -perempuan yang telah kupilih dari yang banyak, dan telah memilihku pula dari yang banyak- untuk membacakannya ini sajak:

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

Dan jika kelak aku berjumpa dengan Si Burung Merak, aku akan mengucapkan terimakasih padanya, atas “Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya”, yang dihantarkannya padaku melalui Sajak-sajak Sepatu Tua terbitan 1972. Buku lama namun berisi sajak-sajak pewarna jiwa.Dan kau istriku, jika setia kita bertahan lama, jika dan jika tiada memisah kita sampai salah satu hilang nyawa di hari tua, jika dan jika kau baca ini: ingatkan aku kelak pada inginku di hari ini. Pada kenanganku akan ayahku yang mengoleskan balsem di kaki almarhumah ibuku dulu, ketika usia sudah membawa mereka dari cinta masa muda ke hari tua dimana anak-anak mereka menjadi dewasa dan kian terasing dari masa lalu; masa dimana mereka tak sabar pulang dari kerja untuk menemukan anak-anaknya berlari dari pintu depan rumah dengan bersorak gembira karena mereka sudah kembali. Kita mungkin sekali akan sama seperti itu. Menjalani hari-hari yang sepi, dengan keikhlasan melepas anak-anak pergi. Kita, yang telah memilih untuk berpasang-berdua di bumi ini, mesti memilih juga untuk mati atau hidup bersama dengan kesunyian kita sendiri di hari tua.