Catatan Akhir Desember 2011

Sudah setahun lewat, sejak terakhir kali aku menulis catatan khusus penutup tahun. Catatan yang mungkin begitu biasa hadir di bulan Desember di banyak blog, buku harian, atau bahkan sekedar status beruntun di jejaring sosial. Sesuatu yang cuma kulakukan di tahun 2009, namun tidak di tahun lalu. Tahun 2010, bulan Desember berlalu begitu saja. Bahkan di blog ini tak satu pun postinganku hadir. Sebuah hal yang dulu sempat rutin, meski tak pernah membuat resolusi-resolusi yang sering dikhianati pembuatnya sendiri, namun terpinggirkan oleh dua hal yang kontradiktif dan hadir di bulan yang bersamaan saat itu: antara ibuku yang mulai akut sakitnya (hingga kemudian meninggal di bulan Januari), dan kembalinya seorang perempuan dari kota kelahiranku yang di kemudian hari diresmikan oleh stempel KUA sebagai istriku.

Lalu apa yang mau kutulis di hari terakhir tahun 2011 ini?

Entah. Kupikir, biar saja jemari menari dan apa yang kupikirkan lepas seperti peluru tanpa kendali. Di benakku berkelebat banyak hal, banyak wajah, banyak kejadian. Setahun itu tak lama rasanya, ketika kita sudah sampai di hari terakhir dari suatu tahun. Saat aku mengetikkan ini, aku sudah ada sebulan di Bogor, dari rencana awal cuma 2 minggu saja untuk melepas rindu pada istri tercinta, namun itu pun terasa singkat saja. Rasa baru kemarin aku melintasi jalanan dari kota kecilku, Blangpidie, menuju ke Medan, lalu terbirit-birit ke Bandara Polonia, dengan satu tas jinjing dan satu ransel, agar tak terlambat check-in dan aku bisa kembali membeli kue-kue, minuman ringan dan biskuit di dalam pesawat tersebut dengan harga yang lebih lintah darat daripada harga di kios eceran pasar Sambu.

Rasa baru kemarin pula aku dan istriku berada di kampung halaman, menikmati bulan ramadhan dan lebaran puasa sebagai pasangan muda, lalu kuantarkan dia balik ke kota Bogor, untuk kemudian aku kembali ke Aceh dengan semangat menggebu untuk kembali ke kota dimana Kebun Raya berada pasca lebaran haji.

Dan rasa baru kemarin juga, aku dan dia dibawa ke kantor KUA, menikah, berpesta kenduri, dan mulai hidup sebagai suami-istri, di bulan Juni yang begitu kebetulan berhujan pula, meski aku menolak kehadiran sajak Sapardi. Bulan Juni, tahun 2011. Salah satu tonggak sejarah dalam hidupku sendiri, seperti pernah kuceritakan di catatan pernikahanku dulu.

Apalagi? Singkatkah semua? Adakah yang sedih-sedih atau senang-senang lalu berlalu begitu singkat pula?

Tidak juga. Seperti rasa bahagia masih bercokol di dada, satu sisi dalam diriku pun masih belum lekang juga dari duka. Apalagi jika bukan soal kehilangan ibuku di tahun 2011. Satu hal terakhir yang mampu membuatku menangis setelah bertahun-tahun begitu angkuh merasa air mataku sudah membesi. Hal yang bahkan membuatku rasa-rasa patah semangat untuk bicara atau menulis apa-apa lagi macam pernah kutuliskan pula di sini.

Rasa sedih itu tak lekang. Bahkan hingga di hari aku dimandikan secara adat Melayu-Aceh di pesisir Barat Selatan kelahiranku, menetes-netes juga air mataku. IBUKU TAK ADA LAGI. Tak ada tempat meminta ampun kali terakhir sebelum melangkah membangun kehidupan sendiri. Tak ada doa restu dan doa-doa mengucuri ubun-ubunku. Sedih bukan kepalang kurasa. Hingga-hingga, kala ziarah ke makam beliau sesudah pesta, istri dan adik perempuanku mesti menggamit pundakku mengajak untuk pulang ke rumah.

Hidup pun berlalu berbulan-bulan. Ada kesadaran lain pula, bahwa umpama ibuku pun masih hidup, beliau tentu akan tak senang melihatku macam tak bahagia pula, sehingga akan muram pula wajah istri tercinta. Lama kurenung-renung ketika berbulan madu ke Bogor. Menikmati kebahagiaan yang mungkin semu karena hidup yang semu ini. Berjalan di Kebun Raya. Menciumi anggrek dan membeli beberapa tunasnya untuk ditanam di pekarangan rumah mertua. Menikmati es krim di satu sudut kota ini. Hingga kemudian kembali ke kampung halaman membawa istri dan berbulan puasa di sana.

Hidup akan terus berlalu. Dan memang mesti berlalu. Selain dari bunuh diri, tak ada cara untuk berhenti dan meratapi kesedihan yang telah berlalu. Aku berpikir bahwa satu-satunya cara menebus dosa pada ibuku dan membalas -meski tak akan terbalas- segala jerih hidupnya hanyalah dengan menyayangi istriku, menghormati ayahku, dan mengasihi adik-adikku. Sesederhana dan senaif itu. Tapi cuma itu yang bisa kulakukan. Semampuku. Meski mungkin nanti kemampuan itu akan makin tinggi atau malah makin rendah.

Berbuat baik. Berbuat baik. Dan berbuat baik. Kukira, kalau nanti aku bisa tawar-menawar dengan Tuhan, aku sudi menampung apa-apa dosa orang tuaku, dan kebaikan yang kubikin, meski sekecil telor kutu pun, kuserahkan pada mereka. Terutama ibuku. Ibuku. Ibuku. Seperti ajaran Muhammad tentang keutamaan seorang ibu yang 3x lipat dibandingkan seorang ayah. Seperti kasih Isa Kristus pada ibunya Maryam.

Hidup cuma sekali di muka bumi. Dan selagi nyawa masih berhembus, seperti kunyanyikan lagu Harmoni-nya Padi pada istriku dengan bercanda seakan sedang merayunya macam remaja pacaran selama ini, kebaikan tak akan pernah terhapus oleh kepahitan. Esok hari boleh berganti. Tahun akan bertukar. Tapi matahari mungkin sekali masih akan kembali. Cerita mungkin akan kembali sama. Berputar antara suka mendenyar dan sedih memancar. Rotasi hidup seperti perulangan abadi. Tak ada siapa bisa menghentikannya. Satu-satunya pilihan adalah terus berjalan. Terus saja. Karena memang pertunjukan hidup masih harus dijalani. Seperti instrumentalia kesukaanku dari band Nirvana asal Inggris di bawah ini. Musik sentimentil tapi lompatan-lompatan iramanya berganti antara kesedihan, kebuntuan dan harapan. Suram tapi masih ada kebahagiaan meski kecil untuk digenggam.

Selamat tahun baru, Kawan.🙂

3 thoughts on “Catatan Akhir Desember 2011

  1. Aku udh baca dari tadi pagi tapi gak bisa komen dari hape karena postingan video-nya dianggap terlalu besar jd browser hp forced closed😀

    Aku terharu baca postingan ini bang, segitu sayangnya dirimu sama ibu, hormatku🙂

    Semoga tahun depan bisa lebih baik lagi. Dan semoga kita bisa jumpa yaaaa

  2. Itu kenapa komenku yang pertama gak ada link ke blogku
    Wordpress akhir2 ini aneh iiih

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s