Toilet Anggota DPR: Antara Yang Beradab Dan Yang Biadab (Repost)

Syahdan, mencuatlah keinginan mereka yang disebut wakil rakyat kita di Senayan. Keinginan mulia untuk bisa buang hajat selayaknya manusia terhormat. Keinginan yang dimuat dalam berita, melalui curhat seorang wakil rakyat begini:

“Aslinya gue pernah sakit perut, lagi diare tapi tetep sidang Komisi IX kan, astaga… Buat flushing nggak bisa! Bayangin kan udah diare, bolak balik ke toilet dan toiletnya nggak bisa flushing! Tambah mules nggak sih. Keluar bilik juga malu ada yg udah antri. Semakin diflushing semakin meluap,” bebernya.

Demikian curhat tersebut dimuat dalam sebuah berita berjudul “Anggota DPR Inginkan Toilet Yang Beradab“. Dikeluh-kesahkan dengan bahasa Indonesia gawulgitudeh oleh seorang politisi muda dari Partai Demokrat, bernama Nova Rianti Yusuf, yang bercokol di Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat. Lebih jauh keluh-kesah itu berlanjut…

“Haduh udah kacau tuh dan basah kuyup, langsung cleaning service sampe gue panggilin dan gue interogasi, mereka tau nggak itu rusak semua sampe selangnya. Katanya tahu, sudah lapor tapi dicuekin. Aih gimanaaa…”

contoh wajah puas wakil rakyat jika sudah komplen dan mendapatkan toilet idaman

Inti dari keluh-kesah yang agaknya mewakili semua keprihatinan akan kondisi per-jamban-nan anggota dewan kita di Senayan tak lain tak bukan adalah toilet tidak dirawat dengan baik.

Namun rupa-rupanya, bagi para anggota dewan yang ingin tampak beradab ini, adab mereka mengajarkan bahwasanya segala persoalan kerusakan karena tidak terawat dengan baik, mesti diselesaikan dengan cara beradab: menganggarkan 2 miliar rupiah untuk perkara 220 unit sarana buang hajat mereka. Tidak mau kalah beradab, bahkan seorang Marzuki Alie bersedia pasang badan demi mewujudkan toilet yang beradab dan elegan bagi para anggota dewan kita di Senayan.

Begini khotbah Marzukie Alie:

“Saya dalam hal ini siap berbeda pendapat dengan siapa saja yang tidak boleh memperbaiki kerusakan toilet anggota DPR. Masalah anggaran, ada yang bertanggungjawab, kementerian PU ikut dalam masalah teknisnya dan sekjen yang bertanggung jawab,” tegas Marzuki.

Bukan main! Marzuki Alie begitu lantang berkata seakan selama ini pertanggung-jawaban anggaran di Republik ini begitu transparan dan jujur. Berkaca dari segala anggaran yang pernah dimuntahkan dewan perwakilan rakyat, tentulah Marzuki Alie begitu percaya diri untuk menganggap bahwa semua rakyat bisa dikadali untuk percaya adanya pertanggung-jawaban anggaran.

Tak kurang dari alasan demikian, Ketua DPR ini pun menolak pencitraan dari mereka yang dituduhnya seolah berpihak pada rakyat dengan menggunakan pencitraan versi dirinya pula: pencitraan pakai agama. Begini pula sabdanya:

“Sekarang semua sudah tidak rasional lagi karena hanya ingin pencitraan seolah berpihak kepada rakyat. Cobalah lihat bagaimana kondisi toilet di nusantara I yang ditempati seluruh anggota DPR. WC yang mampet, air tidak mengalir, untuk wudhu saja menjadi ragu-ragu kebahannya, padahal agama mengajarkan kebersihan. Kondisi toilet yang sudah 18 tahun dan banyak yang rusak, kalau tidak diperbaiki sangat jelas kita hanya berpikir tentang citra, sudah tidak rasional lagi,” ingat Marzuki.

Juki sedang merenungkan alasan agama untuk renovasi toilet

Perkara bahwa agama juga mengajarkan untuk berhemat memakai uang umat di saat garis kemiskinan itu setipis tali satu di senar gitar, tentu tak layak dimasukkan ke alasan ini, bagi Marzuki Alie. Perkara bahwa agama-agama di Indonesia juga setuju bahwa kemewahan dan hak untuk standar kesehatan yang layak itu bukan cuma milik pejabat dan anggota dewan yang terhormat, agaknya juga bukan sebuah pencitraan yang layak dibawa-bawa dalam mempertahankan keinginan mendapat fasilitas tempat berak dan kencing yang really something.

Apalagi kata Marzuki Alie?

“Bagaimana mungkin, toilet buntu, rusak dibiarkan, dimana logika kita. Kita bekerja untuk rakyat, Rp 1400 triliun dana (APBN) yang dibahas di DPR, jangan apriori karena perbuatan beberapa orang yang tidak amanah sebagai anggota DPR. Masih banyak yang baik, yang amanah melaksanakan fungsi-fungsi DPR. Apalagi hanya mendengarkan LSM yang tidak ada baiknya, semua yang dikerjakan DPR adalah salah,” jelas Wakil Ketua Dewan Pembina PD ini.

Marzuki dengan pe-de mengklaim bahwa mereka bekerja untuk rakyat, dengan 1400 trilyun dana APBN yang siap dihabiskan dibahas di DPR. Dan bagi beliau, adanya perbuatan “beberapa” orang yang tidak amanah sebagai anggota DPR, tidak selayaknya membuat masyarakat, apalagi LSM yang “tidak ada baiknya”, apriori terhadap DPR. Meski “beberapa” itu mungkin tidak terdefinisi olehnya atau malah tidak terbatas, itu lain perkara. Sing penting ada alasan bahwa yang rusak jangan dibiarkan. Sebuah alasan yang tidak berlaku jika ada wakil rakyat yang rusak di DPR. Untuk yang belakangan, memang tak perlu logika.

Ah, ini kayaknya cuma nyerang orang Partai Demokrat saja. Apakah cuma yang dari Demokrat saja angkat suara dan pasang badan soal keperluan buang hajat anggota dewan?

Oh tidak. Begitu pentingnya urusan buang hajat yang beradab ini, sehingga seorang Anis Matta dari PKS pun angkat bicara membela perkara toilet beradab ini. Begini khotbah salah satu petinggi partai yang dulu mengklaim bersih dan religius itu:

“Saya kira masalah-masalah begitu masalah teknis ya. Artinya saya tidak melihat ada hal-hal yang perlu kita persoalkan. Itu menurut kami tak pantas dipersoalkan, sebenarnya sudah urgen, perlu juga. Anda harus lihat ini kan lembaga.”

Demikianlah. Anis menggunakan kata “menurut kami” di sana. Meski tak jelas siapa “kami” menurut dia, namun bisa kita asumsikan bahwa “kami” itu berkaitan erat dengan pantat-pantat yang punya kepentingan soal buang hajat di Dewan Perwakilan Rakyat.

Apalagi sabda Anis Matta?

Ia berharap masyarakat lebih bijaksana dan tidak menyudutkan DPR hanya karena renovasi toilet. “Ini tidak pantas kita angkat sebagai masalah publik. Sangat tidak pantas,” kata Anis.

Politisi PKS yang rumah mewahnya kemarin itu kena bongkar paksa karena menyalahi aturan, mungkin sedang lupa aturan lagi bahwa anggaran untuk urusan toilet anggota DPR bukan dari harta nenek moyang mereka, tapi uang publik, uang negara. Sehingga ucapan Anis di atas itu jelas menggelikan, jika menurutnya tak pantas publik mempermasalahkan uang milik publik.

Anis kecil, wakil rakyat di TK, sedang komplen soal kasus toilet yang menurutnya tak boleh jadi konsumsi publik, tapi boleh mengonsumsi anggaran publik

Tentu masih ada anggota DPR yang menolak rencana ini. Apakah menolak benar-benar menolak, atau menolak sekedar tolak-tolakan saja (tapi belakangan setor-setoran), seperti tudingan Marzuki Alie di atas sana, itu biarlah sesama mereka dan tuhannya saja yang tahu. Nah, beberapa contoh penolakan itu semisal anjuran “renovasi absensi lebih penting ketimbang renovasi toilet“, atau desakan agar cuma memperbaiki yang betul-betul rusak saja. Ada pula yang blak-blakan menilai bahwa kegiatan seperti itu sebenarnya tak lebih dari cari-cari proyek saja. “Bukan cerita baru, kegiatan Setjen DPR sangat sering sebagai proyek belaka. Ada proyek absensi dan sekarang soal renovasi toilet.” Begitu kata anggota DPR dari Gerindra Asrian Mirza di salah satu berita. Anggota DPR yang menolak toilet beradab dengan anggaran kelewat beradab ini pun bilang, “Jadi hentikan proyek itu, lebih baik untuk MCK agar rakyat hidup sehat.” Konon pula MPR sendiri mendesak agar proyek 2 M untuk urusan buang hajat itu dibatalkan.

Nah, jadi bagaimana?

Dalam blog seseorang yang menyebut dirinya Gentole, perkara toilet ini pernah dibahas di postingan berjudul “Jamban dan Ideologi“. Rupa-rupanya, urusan toilet (atau disebut juga kakus, jamban, dan WC) ini memang bukan urusan sepele. Di sana, si blogger sampai mengaitkan soal ini dengan ideologi. Dengan peradaban. Begini kutipannya:

Sistim sanitasi boleh jadi mengindikasikan peradaban sebuah bangsa; kalo toilet bandar udara Sukarno-Hatta jorok alias menjijikkan, orang asing (apalagi yang dari negeri jiran) akan bilang: orang Indonesia jorok! Ah, iya, sebagian orang Indonesia (saya tidak tahu angka pastinya, maaf) mungkin tidak terlalu perduli, karena mereka buang hajatnya sambil jongkok; dan mereka berpikir itu jauh lebih bersih (baca: tidak jorok) ketimbang buang air sambil duduk seperti yang dilakukan oleh banyak orang asing, atau orang Indonesia yang ter-global-kan. Benarkah lebih bersih? Saya tidak tahu. Dan saya tidak hendak berargumentasi mana yang lebih higienis. Itu bukan soal, bung. Yang penting secara psikologis ada banyak orang yang merasa lebih nyaman berak jongkok.

Lupakan dulu soal filsafat segala macam itu. Atau soal mana nyaman berak sambil duduk atau sambil jongkok. Mari kita amini bahwa benar memang, sebuah toilet (sebagai bagian dari sistem sanitasi) bisa mengindikasikan peradaban sebuah bangsa. Kita tentu bisa membayangkan bagaimana menteri urusan mendatangkan turis akan malu jika toilet di hotel-hotel di Indonesia, atau di bandara seperti disebut dalam postingan itu, kotor bukan kepalang. Pendapatan negara dari sektor “kunjungi kami dengan dollarmu” bisa turun ke titik yang mengharukan. Tentu wajar sekali jika ada turis menyampaikan ke calon turis di negaranya, “Bung, jangan datang ke Indonesia. Mereka jorok. Di toilet bandara bahkan di hotel, toilet jongkok mereka itu tinja mengapung seperti balok-balok kayu illegal logging. Urungkan niatmu. Peri-peri denjeres bagi kesehatanmu!”

Namun tentu saja, akan sangat langka -jika malah belum pernah- kita mendengar ada wisatawan dari luar negeri komplen soal toilet di gedung parlemen di Senayan. Setidaknya, belum pernah mencuat sampai hari ini. Sehingga, skala prioritas dari toilet para anggota dewan itu sama tak masuk akalnya dengan mencanangkan tahun wisata “Visit Toilet Year 2012” di tahun ini. Jika ada pencanangan serupa itu, tentu kita akan tertawa.

Apakah toilet itu tidak penting?

Sejarah tentang toilet dan peranannya dalam peradaban manusia sendiri bukannya singkat. Setidaknya demikian dituturkan dalam sebuah situs Museum Toilet. Begitu panjang sejarahnya, sehingga kita bisa menemukan museumnya di zaman ini. Meski cuma sebuah museum online yang menampilkan kalimat bijak begini:

Kita tak menolak pentingnya toilet dalam kehidupan. Apakah itu bagi seorang anggota dewan, tukang jagal hewan, segenap manusia dan bahkan hewan sekalian. Alasan yang sama yang membuat rakyat negara ini yang terperangkap di bawah garis kemiskinan dengan sedaya-upaya menyulap karung bekas, kain bekas, sekedar kayu dan aliran sungai yang mengalir sampai jauh, untuk menjadi tempat buang hajat. Bahkan Indonesia bisa mendapatkan prestasi terhormat untuk bidang perjambanan sebagai tempat deretan jamban terpanjang di dunia ini. Sebuah prestasi tentang peradaban yang sungguh biadab terhormatnya.

Maaf, ini bukan anak-bini Marzuki Alie atau Anis Matta!

Sehat? Higienis? Oh, itu tidak berlaku untuk golongan rakyat pada umumnya. Ketika para anggota dewan mereka (ya, para wakil rakyat yang dulu datang menjanjikan akan jadi pahlawan aspirasi mereka) enak mengeluh dan merengek, sekalian menganggarkan perampokan terang-terangan uang negara untuk “Bukan cuma diperbaiki, tapi dibuat higienis ada sabunnya atau ada hand sanitizer atau apalah. Kita butuh toilet yang beradab dan higienis,” seperti kata wakil rakyat mereka, Nyonya Nova Rianti Yusuf, di parlemen sana; para rakyat jelata ini mesti puas bisa buang hajat di jamban-jamban kemiskinan. Bahkan di lokasi yang sama dimana mereka buang hajat, mereka mencuci, mandi, dan gosok gigi. Sebentuk kehidupan dimana kata “higienies” dengan biadabnya pula menjauh.

Ini sangat ironis. Ketika orang-orang yang dipilih oleh rakyat dengan manjanya merengek agar diberi fasilitas sabun untuk cuci tangan sehabis cebok, demi toilet beradab dan higienis yang mereka idamkan, sementara di Jakarta saja, berdasar data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) di tahun 2006, 77% air sungai dan air tanah di Jakarta sudah tercemar bakteri e-coli, yaitu bakteri yang berasal dari pencemaran karena tinja manusia. Dan sementara itu, di kalangan rakyat sendiri, jangankan toilet keluarga, toilet umum pun masih ada yang dibangun dengan jarak kurang dari sepuluh meter dari septictank dan tempat pembuangan sampah. 65 tahun Indonesia merdeka, namun lebih dari 72,5 juta penduduk Indonesia masih boker di luar rumah, menurut laporan Pemerintah RI ke Millennium Development Goals/MDGs. Bahkan dalam versi Departemen Kesehatan dua tahun lalu angkanya mencapai 100 juta orang.

Dengan kondisi tak beradab sedemikian rupa urusan jamban rakyat di republik ini, kita bahkan masih mendengar kemanjaan anggota dewan yang terhormat untuk lebih memperhatikan diri mereka sendiri, untuk membuat diri mereka lebih beradab, dengan anggaran yang jelas bukan cuma setoran dari pajak keluarga mereka saja. Jika saja para wakil rakyat sepakat untuk mengucurkan 2 M saja bagi jamban di perkampungan Ciliwung, maka sangat mungkin akan ramai yang setuju. Sehingga kita tak perlu lagi melihat wanita cantik boker di jamban yang memprihatinkan seperti ini, ketika wanita lainnya di parlemen mengeluhkan tak ada sabun cuci tangan sesudah cebok.

Gadis cantik indonesia yang memprihatinkan di jamban keprihatinan

Atau mungkin jika anggota DPR ingin tampak beradab, elegan dan klasik sekalian mewah, mungkin kita tak akan menolak jika DPR menganggarkan dana 2 M untuk membeli toilet seperti gambar di bawah ini.

Toilet dari jaman Tiongkok kuno. Langka. Antik. Cocok untuk DPR.

Dengan sekian rekam-jejak yang buruk dari anggota DPR selama ini, dengan anggaran yang sering tak jelas kemana dibawa maka -dengan mengutip ucapan Marzuki Alie seperti ini, “Yang jelas saya ingin sampaikan, kalau rusak wajib hukumnya diperbaiki,”- kiranya adalah hak masyarakat juga untuk menuntut agar DPR yang selama ini sudah rusak, baik akhlak maupun kinerjanya, adalah wajib juga hukumnya diperbaiki. Dan itu jauh lebih penting daripada memperbaiki jamban di Senayan.

========

NB: postingan ini merupakan sebuah repost dari postingan di sini.

Iklan

10 thoughts on “Toilet Anggota DPR: Antara Yang Beradab Dan Yang Biadab (Repost)

  1. Siyal, saya komen di mulutpejabat, emalah postingannya nongol disini. Tau gitu komen disini saja kemaren. #maleskopaskomen 😆

  2. perpaduan postingan yang serius dengan picts yang kocak. dan emang benar, mas… sanitasi masyarakat di Indonesia sangat memprihatinkan. sementara dana yang sebetulnya untuk mereka malah dibuat toilet DPR -_-“

  3. @ Jensen

    😆
    Ini cuma repost saja kok 😀

    @ ghani a rasyid

    Justru karena itu makanya aku jadi jengkel. Tak ada skala prioritas dalam benak mereka itu. Maunya enak sendiri.

    @ Iwan

    Iya, Wan. Bagi rejeki sesama perampok dan penipu di dalam sana :mrgreen:

  4. Lho? Belum tentu tak penting. Haha. Ada salah kaprah juga bagi orang-orang di luar Jawa untuk mengambing-hitamkan Jawa atas perangai di DPR. Banyak juga orang tak tahu bahwa di DPR itu lintas suku-bangsa. Bahwa Ketua DPR sendiri bukan orang Jawa.

    Ya, bukan membela Jawa atau bawa-bawa SARA. Tapi aku tak suka saja suatu suku bangsa digeneralisir atas perilaku orang dari suatu daerah. 😀

  5. Menurut hematku,sebagian rakyat yang marah hingga merusak sana-sini,mencerminkan orang-orang yang marah karna gak dapat jatah.
    adakah yang benar-benar tulus menuntut keadilan,ataukah mereka sudah merasa putus asa ?

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s