Setahun Ibuku…

Hari ini, tanggal 27 Januari, setahun yang lalu, seorang perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkanku, meninggal dunia. Meninggalkanku dan meninggalkan kesedihan mendalam. Sesuatu yang kurasa-rasa tak tuntas juga terwakilkan, meski aku membuat sebuah postingan Madah Terakhir yang panjang dan penuh kesedihan dan kenangan saat itu.

Kini, setahun sudah berlalu. Banyak hal berubah. Banyak hal terjadi. Gadis manis yang sempat kubawakan ke depan beliau di bulan Januari itu, di hari-hari terakhir beliau terbaring sakit, kini sudah resmi menjadi istriku, sejak aku mengucapkan sumpah-janji untuk menjadi suaminya di tanggal 11 Juni 2011 yang lalu, dalam sebuah pernikahan yang menjadi sebuah catatan tersendiri. Bahkan lebih dari itu, kini perempuan yang sudi untuk menjadi istriku itu, sudah pula mengandung dan jika tak ada aral melintang, akan melahirkan putra pertama kami di bulan April nanti. Bulan yang sama dimana ibuku melahirkan di tahun 1982 silam.

Dari semalam kupikir-pikir, ada sesuatu yang harus kutuliskan untuk mengenang hari ini. Tapi tak ada juga tulisan jadi. Aku menulis-mencoret, menulis dan mencoret lagi. Mengetik-menghapus. Mengetik dan menghapus kembali. Malah, sisa waktu semalam, ketika semua tulisan menjadi draft belaka, aku menghabiskan sepertiga malam untuk ber-video call dengan istriku yang berada di pulau Jawa sana. Di sebuah kota bernama Bogor. Melepas kerinduan, dan juga kegundahan hati.

Bukan aku tak ingin menuliskan sesuatu, tapi aku tak mampu merangkum segalanya dalam sebuah tulisan. Sebuah postingan. Ada hal-hal di muka bumi ini yang cuma bisa kita rasakan, tapi tak bisa kita ungkapkan. Ada 26 karakter dalam alfabet latin, ada ribuan kata bisa dipilih, tapi belum tentu bisa digunakan. Kata-kata adalah hampa. Kita cuma memberinya makna. Persis kata filsuf bahasa bernama Wittgenstein.

Sejak 27 Januari tahun 2011 itu, kesedihanku juga belum benar-benar pulih. Tiap aku bangun dan keluar dari kamarku di pagi hari, lalu membuat segelas kopi atau membeli kue untuk sarapan pagi, sering juga terlintas-lintas betapa lengang rumah kini. Di dapur, dimana ada kursi tempat beliau biasa duduk menikmati pagi, menikmati segelas teh manis dan kue-kue yang aku atau adik-adikku belikan, kini tak ada siapa-siapa lagi. Kursi itu malah sudah pindah ke teras belakang rumah. Menghadap ke pekarangan belakang dimana pohon jambu, pohon belimbing, dan pohon nangka, masih berdiri dan daun-daunnya silih-berganti gugur dibunuh oleh rotasi waktu. Tak ada cerita di pagi hari. Tak ada wajah senyum beliau atau kadang-kadang kejengkelan beliau melihatku bangun kesiangan, rambut acak-acakan atau merokok di pagi-pagi.

Tak ada lagi. Setahun sudah sama begini: aku turun ke lantai bawah dari lantai dua dimana kamarku berada, dan menemukan dapur sunyi-lengang saja. Hampa. Sama juga di depan televisi. Tak ada beliau duduk atau berbaring di sana menikmati acara TV yang sering aku (dan para netter yang tercerahkan) hujat sebagai acara tak intelek, tak berharga, merusak moral bangsa dan agama. Tak ada juga kesibukan untuk membawa beliau check-up, mengeluarkan kijang merah kesayangan dari kandangnya, dan mengantarkan beliau ke RSUD atau ahli kesehatan langganan. Atau jika di masa sehatnya, mengantarkan beliau menunaikan tugasnya menjadi seorang guru SD di sebuah SD kampung di pinggiran kota kecil bernama Blangpidie ini. Tak ada lagi itu semua. Seperti ibu yang juga tak pernah sempat melihat aku menikah, tak juga sempat melihat cucu beliau akan terlahir di bulan empat ini. Tidak juga cucu beliau dari adik perempuanku, seorang bocah yang lahir di bulan ramadhan lalu.

Terkadang, masih sering aku bermenung-menung di teras belakang rumah. Memandang batang belimbing atau jambu yang dulu pernah bikin beliau teriak-teriak bersebab anaknya ini berlagak jadi ninja: memanjat pepohonan belakang rumah dan melompat ke tembok rumah untuk berlari di atas tembok yang cuma selebar telapak kaki laksana Ninja Hattori. Acap pula teringat hukuman untuk memunguti belimbing yang sudah masak atau jatuh, agar bisa beliau olah menjadi asam sunti, pelengkap bumbu dapur.

Hari-hari berlalu. Matahari karam dan pergi. Waktu berjalan di bawah panas dan tetesan hujan. Tapi ingatan tentang seorang ibu dalam benakku tak akan terhapuskan. Kukira hal yang sama bagi setiap anak. Aku ingat seorang kenalan di internet pernah berkata bahwa meski ibunya sudah meninggal bertahun lalu, tapi hingga kini masih terngiang suaranya. Dan hal yang sama kurasakan. Selalu. Sepanjang tahun ini. Sejak ibuku meninggalkan kehidupan ini. Mengertilah aku kenapa agama memuliakan seorang ibu melebihi seorang ayah. Dan aku berkehendak mendidik kecintaan yang sama, penghormatan yang sama, pada putraku kelak. Karena aku percaya: anak yang dibesarkan dalam kasih-sayang seorang ibunya, sekeras apapun dia hidup nanti, akan memiliki meski secuil rasa cinta-kasih di dalam hati.

Aku merindukan kehadiran beliau. Meski cuma di mimpi. Meski cuma dalam lelap bisa merasakan hangat seperti masa kanak-kanak kita dulu, terlelap sesudah lelah menangis tersedu di pangkuan seorang ibu…

Iklan

19 thoughts on “Setahun Ibuku…

  1. Cerita yang sedih, Gan. Saya ikut larut membaca postingan ini. Semoga saat ini beliau berada di tempat yang terindah……

  2. Semoga IBunya sehat-sehat ya,,, berdoalah minta kesehatan dan panjang umur kepada Sang Pencipta,karena dialah memiliki kehidupan kita ini.

  3. Ibu “Luar Biasa”..

    betewe, masih suka manjat pohon ndak om????
    ajak2 ogut ya om klo ada belimbing yang udah keliatan mateng…. skalian maen ninja2an,, bwahahahaha

    Semangat, πŸ˜€

  4. @ Abed

    Amen, Bro. Terimakasih ucapannya πŸ™‚

    @ Mas Bro

    Masih juga kadang-kadang πŸ˜†
    Di depan rumah mertua di Bogor ada pohon rambutan, kadang-kadang kalau lagi iseng, dengan anak-anak di kompleks manjat metik rambutan. Cuma untuk main ninja-ninjaan tak mampu lagi. Hehe. Bisa patah batang kayu nanti πŸ˜†

    @ Kiky

    Jangan murung πŸ™‚

  5. Masih lex, naik gunung udah kayak kebutuhan. Gak selalu harus mendaki/naik gunung sih, yang penting bertualang. Mumpung masih bisa menyempatkan diri.

    Sementara ini itulah”kesenanganku”, gak tau ntar kalo udah berpasangan -kayak kamu-

  6. @ Warm

    Tak apa-apa. Diam pun adalah komen juga hakikatnya πŸ˜€

    @ dodo

    Nah, bagus itu. Jelajahi banyak tempat. Aku sudah lama tak begitu lagi. Apalagi semenjak berpasangan, belum sempat dengan istri jalan-jalan ke banyak tempat lagi. Nikmati saja selagi bisa πŸ™‚

  7. selalu saja ada yang tertinggal saat ditinggalkan salah satu dari ayah atau ibu.
    ini hampir tahun kelima ayah meninggalkan kami, kenangan bersama orangtua akan selalu terkenang.
    sama seperti mas mengingat ibu, begitulah tiap anak mengenang orangtua dalam kepergiannya.
    suka dengan tulisan ini.
    semoga Allah menempatkan beliau ditempat terbaik. Amin

  8. @ Citra Taslim

    Turut berduka -walau terlambat- untuk meninggalnya ayahmu 😐

    Kamu benar. Kenangan bersama orang tua akan selalu terkenang, terutama jika kita memang hidup bersama mereka. Bahkan menurutku, seorang durhaka seperti Malin Kundang pun, diam-diam akan menyimpan kenangan masa kecil dengan orang tuanya. Apapun itu. πŸ™‚

    Terimakasih untuk doanya. Amin. πŸ™‚

  9. πŸ˜€
    Aku pun juga tak mandiri-mandiri benar. Susah lah itu soal ditinggal pergi. Terkadang bukan soal apakah kita sudah mandiri dalam artian mapan mengurus diri-sendiri atau bukan. Tapi soal kehilangan. πŸ˜€

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s