Video Membunuh Bintang Radio Dan Internet Membunuh Masa Lalu

Lagu di atas itu adalah cover version dari lagu Video Killed the Radio Star-nya The Buggles. Pertama sekali dirilis sebagai debut single mereka tanggal 7 September 1979, dan didaur-ulang oleh The Presidents of USA di tahun 1998 sebagai salah satu soundtrack untuk film The Wedding Singer (film yang dibintangi Drew Barrymore dan Adam Sandler, dan 6 tahun kemudian sempat teringat lagi saat menonton 50 First Dates). Versi dari band rock altenatif asal Seattle itulah yang pertama kudengar di tahun 1998, bukannya versi original dari The Buggles.

Konon lirik lagu ini terinspirasi dari cerpen J.G. Ballard yang berjudul “The Sound-Sweep“, cerpen yang membuat Trevor Horn (si pencipta lirik) merasa bahwa “sebuah era akan berlalu”. Tema lagu ini memang bertutur tentang nostalgia. Merujuk pada periode terjadinya perubahan teknologi di tahun 1960-an, hasrat untuk mengingat masa lalu, dan kekecewaan bahwa generasi anak-masa-kini (masa lagu itu diciptakan) seperti tak menghargai masa lalu. Masa lalu seperti tahun 1950-an dan 1960-an, dimana radio menjadi media untuk banyak hal, dimana “para bintang” dilahirkan, diciptakan.

Nah… Semalam aku iseng menjelajah internet. Dan tersasar di Tumblr, lalu menemukan sebuah kutipan dari dialog Drew Barrymore dalam film “He’s Just Not That Into You” di tahun 2009 silam. Kutipan dari sosok Mary yang diperankan oleh Drew itu berbunyi,

I had this guy leave me a voice mail at work so I called him at home and then he e-mailed me to my Blackberry and so I texted to his cell and then he e-mailed me to my home account and the whole thing just got out of control. And I miss the days when you had one phone number and one answering machine and that one answering machine has one cassette tape and that one cassette tape either had a message from a guy or it didn’t. And now you just have to go around checking all these different portals just to get rejected by seven different technologies. It’s exhausting.

Ya. Si Mary ini sedang curhat tentang bagaimana dia merindukan masa-masa dimana cuma ada satu nomor telpon, satu mesin penjawab yang memiliki satu kaset, dan kaset itu terkadang memiliki pesan dari seseorang atau tidak ada pesan sama sekali. Dia merindukan itu di masa smartphone semacam BlackBerry merajalela, di kala orang-orang di sekitarnya sudah jadi terbiasa dengan email.

Dan kupikir, apa yang dirasakan The Buggles saat menciptakan lagu itu, dan apa yang dirasakan oleh sosok Mary dalam film itu adalah sama: rasa kehilangan pada masa dimana mereka terbiasa dengan sesuatu. Sesuatu yang umum dan mungkin begitu biasa di masa itu. Dan kukira, itu perasaan yang sama pada generasiku, juga pada generasi kini di suatu hari nanti.

Misalkan saja: aku masih ingat bagaimana dulu rajin menyetel radio, bahkan saat masih di kelas 1 SD sampai bertahun kemudian, untuk mendengarkan lagu-lagu berkumandang dengan suara kresek-kresek yang khas bersebab radio di masa 80-anku itu masih berjaya di frekuensi MW atau SW (radio FM belum tersohor).

Ketika menginjak remaja, radio pun masih jadi pilihan untuk didengarkan selain dari tape deck di rumah. Masih sering membeli kupon untuk mengisi nama pengirim, judul lagu, dan pesan untuk dibacakan sang penyiar nantinya. Kala cinta monyet bersemi sehingga hati berjingkrak macam monyet kena terasi, radio juga andalan untuk menghaturkan puji dan gombalan bagi generasi kami. Kata-kata puitis meski pun norak lancar bak sungai mengalir. Tak kurang norak dari generasi kini, generasi kami pun juga ber-nickname norak zaman itu (yang tentu saja bagi kami terdengar keren). Sehingga bukan hal aneh mendengar sang penyiar membacakan,

“berikuth inih… sebuahhh kuponh requesth… dhari Bujang Kelana di samudra bhiru… dithujukan unthuk Puthri Imphian di peradhuan…”

Nama-nama tersebut tentu bisa berganti, sesuai siapa pengirimnya. Terkadang hari ini Bujang Kelana, besok bisa jadi Satria Berharmonika. Atau yang putus cinta bisa berganti nama menjadi Bukan Pengemis Cinta, merujuk pada lagu fenomenal yang disuarakan Jhonny Iskandar di masa itu. Di masa remajaku pula radio FM sempat berjaya, lalu pelan-pelan meredup. Ada dua radio populer di kota kecilku: Swara Mahardhika Rasisonia sebagai radio amatir senior yang pernah menggeser popularitas RRI (sebab dulu RRI sering relay siarannya), dan satu lagi Radio Swara Fatali Nusa Jaya.

Lalu hadirlah MTV dan berbagai jenis siaran TV lainnya. Parabola menjamur. Tak cukup dengan itu, booming DVD terjadi. Radio meredup. Paling banyak didengar di bulan ramadhan, itu pun untuk menunggu tanda imsak atau berbuka puasa. Saat aku memasuki kampus untuk kuliah, kabar duka cita berhembus dari kota kecilku: telah meninggal dunia PT Swara Mardhika Rasisonia. Radio tertua di kota kecilku, tempat aku juga kadang-kadang iseng masuk ke studionya untuk cuap-cuap tak menentu, dengan senior-senior yang mayoritas senior di genk Laskar; akhirnya gulung tikar. Bertahun kemudian yang tertinggal di sebuah rumah bertingkat dua yang jadi kantor radio itu cumalah sebatang antena pemancar yang berkaratan jadi besi tua, dan selembar halaman iklan mereka di Halaman Kuning dalam buku telpon keluaran PT Telkom.

Dan hingga kini di kota kecilku cuma ada satu radio saja tersisa: Radio Swara Fatali Nusa Jaya itu, di gelombang 101,1 FM. Itu pun agak ngos-ngosan dan kewalahan. Kini, mendengar musik tak harus pakai radio lagi. Jangan kata MP3 player, baik yang murahan atau yang mahal bergengsi meski berfitur biasa seperti iPod, dengan ponsel lokal tapi imporan Cina pun, orang sudah bisa mendengar lagu-lagu kesukaan mereka. Mendapati anak-anak SD mendengar musik di ponsel sudah bukan hal aneh lagi beberapa tahun ini. Sehingga kadang-kadang antara mau ketawa dan meringis juga rasanya kalau mendengar ada kawan atau kenalan berkelakar saat mendengar penyiar radio sini bicara, “Kasihan… ngomong sendiri dia…”

Tentu itu tidak sepenuhnya benar. Kadang-kadang dalam keisengan berjalan ke pelosok, ke desa-desa di luar kota, satu-satunya radio yang tersisa di kota kecilku itu masih menjadi hiburan alternatif bagi mereka di desa, di kampung-kampung. Di ladang. Di sawah. Di kebun. Atau di kios-kios. Salah satu dari faktor-faktor yang membuat radio Last Man Standing itu masih ada, masih mampu membujuk orang untuk memasang iklan.

Itu soal radio. Ada soal lain pula: kantor pos.

Sejak penetrasi internet masuk ke Aceh, terutama sejak mengenal internet di akhir tahun 1990-an, dan intens dengan internet sejak masuk kampus di tahun 2000; aku mendapati kantor pos-kantor pos di kota-kota besar di Aceh makin sepi. Pasca tsunami, kantor pos sudah macam museum, menurutku. Aku mendapati kenyataan ini mulai dari kantor pos di Banda Aceh sampai dengan di kampung halamanku sendiri. Anehnya, meski akses internet sendiri cukup payah dibandingkan dengan daerah lain -apalagi di masa fiber optic belum masuk ke Aceh dan ISP masih bisa dihitung jari, penetrasi internet ini sendiri cukup membunuh kantor pos. Bahkan, demi menyesuaikan diri dengan zaman, kantor sendiri terpaksa membuka layanan internet mereka sendiri, bahkan membuka warnet dalam kompleks kantor pos mereka, di bawah naungan Wasantara Net.

Internet ini memang bukan main. Bukan saja dengan PC atau laptop/notebook/netbook, namun dengan ponsel murah pun internet seperti sudah mulai menyatu dalam kehidupan. Sebagai perbandingan, pada 2009 jumlah pengakses mobile Internet cuma 22 persen dari total pengguna Internet di Indonesia, namun di tahun 2010 naik menjadi 48 persen, dan pada kuartal pertama 2011 melonjak hingga 58 persen. Hal ini dipicu pula dengan kehadiran ragam aplikasi dan layanan di internet, mulai dari kehadiran email, instant messenger, hingga zaman social media dengan dua unggulan –Facebook dan Twitter– merajai puncak klasemen; semua itu pada gilirannya memunculkan budaya baru, dan membunuh budaya lama.

Apa akibatnya? Aku sudah jarang mendapati kegemaran berkirim surat. Meski di generasiku sendiri sejak SMP hingga SMA kegemaran berkirim surat, kartu pos, atau koleksi perangko, juga bukan sebuah hobi umum, namun jika datang ke kantor pos, tidaklah selengang tahun-tahun belakangan. Terakhir kali aku mendatangi kantor pos di bulan November tahun lalu, aku melihat kantor pos di kota kecilku sudah macam kantor kecil yang berserakan dan lengang. Berserakan paket-paket titipan dan lengang dari orang-orang yang datang seperti dulu. Sebulan sebelum itu, aku sempat melihat kantor pos itu ramai, penuh orang juga. Berkirim surat? Bukan. Tapi datang untuk memakai satu lagi fitur baru kantor pos: tempat pembayaran rekening listrik.

Jadi, selain sudah macam kantor penitipan seperti Titipan Kilat, kantor pos juga sudah bersaing dalam bisnis lain: loket pembayaran rekening listrik yang tak berkorelasi ilmiah apapun dengan fungsi pos itu sendiri.

Lho? Itu sudah perkembangan zaman. Jadi mau bagaimana? Kembali ke zaman dulu?

Ya tentu tidaklah. Kalau pun mau demikian, akan sukar diwujudkan. Kukira, aku, The Buggles, tokoh Mary, juga siapapun yang memiliki perasaan yang sama denganku, cukup sadar bahwa perasaan akan masa lalu itu nostalgic belaka. Subjektif, tentu saja. Sungguh tidak adil memaksakan bahwa demi perasaan orang macam kami, semua orang mesti kembali ke masa lalu. Itu gagasan yang lucu jika bukan dungu.

Cuma terkadang, terhadap orang-orang di sekitar, ada  perasaan “kenapa sih tak sesekali memakai cara lama yang sudah biasa?”. Janganlah perkara surat-menyurat dahulu. Ambil saja seperti apa yang dikeluhkan tokoh Mary dalam film He’s Just Not Into You itu: telpon. Komunikasi di internet bisa menyebabkan intensitas komunikasi personal dengan orang-orang dekat, orang-orang yang kita pernah akrab, jadi merosot. Ini yang menyebabkan aku lebih suka ber-SMS dengan kawan-kawanku daripada chat di Yahoo! Messenger atau berkirim-kirim email, meski cara-cara yang terakhir itu sering lebih murah dan praktis. Sebut sajalah kawan-kawan blogger seperti Moerjanto di Bekasi, Almascatie di Ambon, Jensen di Papua. Tidak juga di era Facebook dan Twitter ini semua hal diumbar di internet, diobrolkan di internet, baik dengan status atau segala private message dan direct message. Aku sendiri terkadang menggunakan juga layanan begitu. Bahkan dengan istriku di Pulau Jawa sana, aku menggunakan layanan video call dari Skype untuk berkomunikasi sesekali belakangan ini.

Namun, tak bisa tidak, aku akui pula bahwa memang ada keakraban tersendiri ketika menerima pesan, menerima kalimat, yang ditujukan secara personal dan langsung ke perangkat personal kita. Ke nomor telpon atau alamat rumah kita. Boleh jadi pikiranku ini tak sejalan dengan pikiran yang lain yang mungkin lebih memilih untuk pragmatis. Tapi begitulah rasanya. Sama seperti berbeda rasanya menerima ucapan selamat (apakah menikah, lulus, ulang tahun, lebaran, natal, waisak atau tahun baru) di ponsel dengan di jejaring sosial.

Ada kemesraan yang hilang. Ada suara yang kita rindukan. Ada huruf yang terasa ingin dibaca bukan melalui layar monitor komputer atau smartphone, bukan pula dari ketikan di keyboard atau keypad. Dan ini pula yang menjadi alasanku untuk memulai kembali kebiasaan lama dengan istriku, mumpung kami terasing di dua pulau berbeda di republik ini: berkirim surat.

Ah, sudah cukup sampai di sini sajalah. Sebentar lagi subuh, dan siang nanti aku mesti ke kantor pos  untuk mengirim surat kepada istri.

Iklan

8 thoughts on “Video Membunuh Bintang Radio Dan Internet Membunuh Masa Lalu

  1. jadi ingin berkirim surat pada sampeyan 😀

    iya kadang, hal2 indah seperti masa lalu itu, entah kemana sekarang, semacam kurang rasa seni masa sekarang kalau aku pikir2 lay

  2. Betul Mas, pokoknya beda walaupun sekarang sudah modern. lebih enak jaman doeloe. 😆

  3. @ Warm

    Wah, mendingan jangan (dulu) deh. Haha. Aku ini sering bohemian. Dari masa lajang sampai berbini kini, tidur dimana suka. Kecuali ada bini di samping, lain cerita. Kadang di ruko, kadang di rumah. Kadang juga tempat kawan atau kantor kerjaan sampingan. Belum lagi kalau keluar daerah, macam ke Bogor, bisa sebulan pula di sana 😆

    Ya, memang ada indah masa lalu itu. Misalkan saja, rasa privat pada nomor telpon pribadi. Bukan macam kini. 😀

    @ Irfan Handi

    Memang. Kepuasan untuk mendapatkan hiburan atau komunikasi itu juga terasa lebih dihargai 😆

  4. Apa boleh, zaman terus bergerak. 😀 Mungkin kita semua sedang menata diri dengan perkembangan ini.

    • Musik
    Berapa banyak waktu yang tersedia untuk menyerap semua lagu karena kerakusan unduh dan tukar MP3 begitu gampang? Di dalam angkot, di kantor, di atas motor, orang memasang musik pribadinya. Bagusnya, internet memperlebar ruang buat berbagi dan menikmati musik secara “bersama”, melebihi luas ruang keluarga yang hanya ada satu radio.

    Pertanyaan saya adalah dengan makin kayaknya perlipatan musisi dan lagu, oleh indie maupun major labels, berapa banyakkah musisi dan lagu yang akan masukke legends atau evergreen?

    Soal kedua, dengan pembelian lagu secara eceran ala iTunes dan Amazon, masih relevankah “album konsep”? Jawaban penangkis ada: dulu zaman “album konsep”, lagu yang popular biasanya dari versi single, dan konsumen tak peduli “konsep”. Jadi apa bedanya? 😀

    Soal ketiga: artwork rekaman. Ya cuma artefak seperti buku kertas. Ada unsur klangenan karena informasi tentang musisi dan lagu (berikut kirik) tersedia di internet.

    • Pos
    Benda pos, terutama prangko, adalah artefak yang masih menyenangkan, bahkan bagi yang bukan filatelis sekalipun. Tapi dengan catatan: hanya untuk generasi yang mengalami kejayaan pos (bukan kurir). Saya sempat berasyik-asyik dengan Postcrossing karena sensasinya: kapan kartu pos saya tiba (dan apaah sudah diterima) saya tidak tahu. Sensasi arkais kayaknya. 😀 Maka kita layak salut sama narablog Amrik yang mendokumentasikan proses penutupan sejumlah kantor pos.

    • Buku telepon. Sekian lama saya menggunakannya, yang putih maupun kuning, terakgir kali mungkin 10 tahun yang lalu. 😀

    Saya punya dua anak dan mereka secara diam-diam saya jadikan (maksud saya: biarkan) sebagai laboratorium, supaya saya punya amatan bagaimana mereka menyerap informasi dan mengolahnya sebagai pengetahuan. 😀

    Maaf komen saya panjang. Tapi inilah asyiknya blog, bukan?

  5. @ Antyo

    Apa boleh, zaman terus bergerak. Mungkin kita semua sedang menata diri dengan perkembangan ini.

    Benar, Paman. Mau tak mau manusia mesti beradaptasi dengan zaman. Bukannya itu sebab maka manusia di puncak tangga evolusi dibanding primata sejenis lainnya? 😀

    • Musik
    Berapa banyak waktu yang tersedia untuk menyerap semua lagu karena kerakusan unduh dan tukar MP3 begitu gampang?

    Ha, njleeb ini. 😆
    Dulu aku pernah beli iPod. Touch generasi ke dua. 8Gb saja. Saat itu rasa kemaruk bukan kepalang, karena tak merasa cukup dengan iPod Shuffle 1,2Gb. Tapi… termangu juga sekali waktu, betapa itu gadget mahal dengan kapasitas besar, justru tak maksimal kupakai. MP3 semua isinya. Diantara ribuan lagu, ada yang bahkan sejak dimasukkan tak pernah tercolek sedikit pun. Benar memang, internet memperluas ruang berbagi dan menikmati musik secara bersama. Meski kadang-kadang saking berbaginya, kita mesti menemukan sebuah ruang dengan orang-orang yang merasa musik yang di-download/di-purchase-nya adalah tertiap hingga setiap insan berlomba memperbesar volume laptop, ponsel atau gadget lainnya. Tanpa earphone tentu. Hehe.

    Tapi kurasa-rasa, aku justru kehilangan momen dimana -macam dulu- begitu bahagia mendapatkan satu kaset (bahkan bajakan sekali pun, atau merekam dari kaset kawan) yang belum tentu semuanya enak didengar. Efek earworm memainkan perannya sehingga dari yang cuma suka satu lagu -entah dengar di radio atau televisi- bisa menikmati satu album semua. Era internet tidak lagi. Kita bisa mengunduh satu file saja untuk lagu yang kita suka.

    Pertanyaan saya adalah dengan makin kayaknya perlipatan musisi dan lagu, oleh indie maupun major labels, berapa banyakkah musisi dan lagu yang akan masukke legends atau evergreen?

    Sukar dijawab itu, Paman. Mungkin saja di era instant begini, ada lagu yang memang akan terlupakan, ada juga yang bisa jadi legenda, walaupun kiranya itu memang sulit. Setidaknya di Indonesia. Di USA, orang mungkin masih akan mengenang Lady Gaga bertahun kelak sebagai legenda (ini misal saja) seperti legendanya sosok Madonna, sementara di Indonesia belum tentu.

    Soal kedua, dengan pembelian lagu secara eceran ala iTunes dan Amazon, masih relevankah “album konsep”? Jawaban penangkis ada: dulu zaman “album konsep”, lagu yang popular biasanya dari versi single, dan konsumen tak peduli “konsep”. Jadi apa bedanya?

    Tapi dulu, seperti komenku di atas itu, ada efek earworm loh, Paman. Satu lagu enak memicu untuk membeli satu album, dengan trial-and-error, untuk mencoba dengar apakah lagu lain enak? Karena tak ada alternatif, sudah kadung beli, biasanya jadi malah suka. Aku dulu beli Gold Album-nya Scorpions cuma karena mau mendengar single populer mereka, :Always Somewhere, tapi malah jadi suka dengan lagu lain di dalam albumnya. Relatif dan subjektih sih ini. Kali aja memang ada juga jenis penikmat musik yang konsisten: beli album #1-nya The Beatles cuma untuk dengar satu lagu saja.

    Soal ketiga: artwork rekaman. Ya cuma artefak seperti buku kertas. Ada unsur klangenan karena informasi tentang musisi dan lagu (berikut kirik) tersedia di internet.

    Benar. Artefak. :))
    Perbedaanya cuma pada -apa enaknya disebut?- rasa memiliki (?) sebuah artefak. Orang yang memiliki kaset VHS dari film Ateng dan Iskak jaman, lebih merasa “geek” dibanding para “newbie” yang cuma tahu dari Youtube. Hehe. Soal gengsi saja sih ini, sama macam memiliki gadget mahal meski tak maksimal fungsi.

    Soal benda pos, aku sepakat. Aku sendiri masih mendapatkan rasa haru saat menerima kartu pos yang cuma sekedar mengucapkan selamat atas pernikahan. Haha. Sepertinya itu memang sensasi arkais saja. Kukira sama dengan memiliki album kaset dari sebuah grup band lama di masa kejayaan audio cassette player 😀

    Maka kita layak salut sama narablog Amrik yang mendokumentasikan proses penutupan sejumlah kantor pos.

    Ada niat mendokumentasikan juga, Paman? :mrgreen:

    • Buku telepon. Sekian lama saya menggunakannya, yang putih maupun kuning, terakgir kali mungkin 10 tahun yang lalu.

    😆
    Idem. Hehe.
    Aku bahkan hampir tak pernah pakai itu buku telpon, selain mencari barang di halaman kuning. Tiap tahun diberi sama Telkom. Sehingga bila disusun sederet tebalnya dengan deretan tafsir Hamka.

    Saya punya dua anak dan mereka secara diam-diam saya jadikan (maksud saya: biarkan) sebagai laboratorium, supaya saya punya amatan bagaimana mereka menyerap informasi dan mengolahnya sebagai pengetahuan.

    Aku belum punya anak, Paman 😳
    Tapi dengan mengamati adik-adik sepupu, ponakan, dan generasi kini, maka aku melihat dan merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh The Buggles dulu.
    Satu sisi ini bagus sih. Kita hidup kan dibentuk oleh zaman kita sendiri-sendiri. Yang mesti dijaga itu jangan sampai jadi seperti, katakanlah, generasi tua di kalanganku sendiri. Generasi orang tua kami. Biasanya suka membandingkan sambil berkata bahwa zaman mereka lebih baik dan lebih hebat, lebih penuh perjuangan. Jadi umpama, menuduh anak zaman kami, dan lebih lagi zaman kini, begitu manja dan instant: sekolah saja mesti naik sepeda motor atau angkot, sementara mereka dulu sanggup berjalan kaki agak 1-2 kilo untuk ke sekolah. Ada juga seperti musisi di kampungku, musisi tua era God Bless, pemuja SAS dan AKA, yang menghina era Wali, Kangen Band dan ST 12 ini. Ini keliru. Selera zaman memang tak bisa dipatok dengan masa lalu melulu. Kalau bisa begitu, maka manusia tak akan berevolusi, baik sebagai individu maupun sebagai sekelompok virus yang berkebudayaan :mrgreen:

    Maaf komen saya panjang. Tapi inilah asyiknya blog, bukan?

    😆
    Tak apa-apa, Paman. Aku sendiri + beberapa kawan-kawan blogger,. suka berkomen panjang-panjang juga. Ini sebab kami sendiri kurang suka dengan batasan karakter macam twitter, meski dalam skala tertentu ada juga berguna :mrgreen:

  6. Ping-balik: Balada Kantor Pos | Anarki Di:RI

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s