Tentang Fitur Reblogging

Pagi ini, iseng bertandang ke blog milik Memeth (alias Medina Wulandari), aku sempat iseng memencet tombol reblog sebuah fitur yang dihadirkan kembali oleh WordPress– di salah satu postingan beliau. Postingan yang berkenaan dengan perkara kesehatan. Aku merasa tertarik dengan postingan itu, dan merasa itu penting untuk dibagikan. Apalagi dengan gambar kocak dan nyentil begini:

kambing pun bisa diterima di rumah sakit... asal berduit...

Maka ku-reblog-kan lah postingan itu dengan memberi sedikit komentarku sendiri betapa brengsek dan memeras biaya rumah sakit memeras di republik ini.

Tapi… beberapa menit sesudah postingan itu muncul di blogku, lama kupandang-pandang, ada rasa tak enak pula di mataku. Bukan sebab postingan itu tiba-tiba nampak jelek. Tapi rasa tak nyaman saja. Apapun dalihku, si penulis postingan kukira bikin postingan juga tak segampang aku bikin kopi pagi ini. Ambil cangkir, ambil kopi, ambil gula, beri air panas, masukkan sendok, obok-obok, dan kopi pun tersaji. Oho, tidak. Beliau mesti membaca kian-kemari, memikirkannya, lalu menuliskannya. Dan aku, dengan pakai fitur reblog seenaknya memunculkan postingan beliau di sini. Fitur komen pun kubuka pula. Jadi, dengan kata lain, aku macam mencuri postingannya untuk menambah postingan di blog ini. Sungguh tak enak rasanya. Tak tunggu lama, kuhapuslah postingan reblog itu.

Kupikir: biar sajalah postingan asli ada di sana. Yang mau komen soal postingan itu, komenlah di sana. Walau pun yang muncul dari hasil reblog itu juga tak penuh nian di blogku sendiri, tetap saja tak enak rasanya. Blog itu menurutku seperti blog-blog lainnya yang ada di ranah WordPress atau Blogspot, adalah sebuah rumah masing-masing dengan postingan dan komentar tersendiri di rumah-rumah para blogger. Sehingga aku tak merasa adil mencomot, meski tak sampai setengah postingan, dan menampilkannya di sini. Dan lebih dari itu, aku tak ingin merasa sedang berada di sebuah layanan bernama Tumblr, dimana aku memiliki rumah lain pula.

* * *

Apa itu fitur reblogging?

Sederhananya adalah memindahkan sedikit atau banyak postingan di blog orang lain ke blog kita sendiri. Cara kerja begini lazim di layanan microblogging seperti Tumblr, namun sependek pengetahuanku, bukan hal lazim di blogsfer secara umum. Nah, WordPress.com beberapa waktu lalu memperkenal (kembali) fitur ini. Jika merujuk ke postingan Erica Johnson di blog wordpress.com soal fitur reblogging ini, dapatlah kita fahami cara kerjanya sebagaimana berikut:

Reblogging is a quick way to share posts published by other WordPress.com users on your own blog. People have been reblogging others’ posts since blogging started, but our new reblogging system enables authors to retain greater control over their content.

Demikian klaim dari Erica Johnson yang avatarnya tersenyum menawan itu. Aku pun sempat tertawan untuk iseng mencoba fitur tersebut di blog ini beberapa hari lalu, dengan menjadikan postingan Erica Johnson Senyum Menawan itu sebagai postingan-kelinci -percobaan. Hasilnya, lahirlah postingan pendek di sini, berhiaskan komentar dari Nova, Nando dan Mas Bro, serta diriku sendiri. Saat itu aku tak merasa bersalah, karena yang ku-reblog adalah sebuah postingan yang mendakwahkan keindahan reblogging, serta mengklaim bahwa perilaku demikian tidak apa-apa, tak akan membuat si pemilik postingan orisinal akan terluka apalagi bunuh diri. Di postingan itu, Erica Johnson Senyum Menawan bahkan menyajikan Q & A atas pertanyaan yang mungkin hadir berkaitan dengan fitur yang dimuncratkan oleh WordPress.com, semisal:

What happens when my posts get reblogged?

An excerpt of your post will be published on the reblogger’s site (with a link back to your original post), and you’ll receive a reblog notification in the post comments (you might need to approve it first).

Dan,

Do I get credit when someone else reblogs one of my posts?

Absolutely! All reblogs contain a link back to your original post, so the more people reblog your posts, the more likely it is that you’ll attract new visitors (and perhaps new followers, too!).

Serta,

What happens if I reblog a reblog?

If, for example, Stephane reblogs a WordPress.com announcement on his site and Lori reblogs Stephane’s reblog, Lori only re-publishes any comments Stephane made about the announcement. If Lori wants to share the original announcement, she should reblog the post from en.blog.wordpress.com, not from Stephane’s reblog. But if Stephane leaves a really clever comment, Lori might want to share it by reblogging his reblog on her site.

Semuanya tampak baik-baik saja. Oke. Tidak ada masalah. Aku, kamu, kita, kami, kalian, siapa saja, bisa me-reblog postingan siapapun di jazirah WordPress.com seenak jempolmu, bahkan tanpa perlu meminta izin pada pemilik postingan original. Jadi semacam prinsip, “Kalau di Tumblr boleh begitu, kenapa di WordPress.com tidak?”

Sekian ragam komentar-komentar di postingan tersebut pun tertawa, tersenyum, haha-hihi, setuju, mengaminkan, mendukung, bersyukur, bahkan mungkin ingin benar mengirimkan pecel lele atau singkong bakar untuk Erica Johnson Senyum Menawan dan Matt Mullenweg berpeci Santaklaus (biarpun natal sudah lewat), sebagai tanda terimakasih.

Namun tidak semuanya senang. Sejumlah kecil komentator, para pengguna layanan WordPress.com, ada yang tidak berkenan dengan fitur tersebut. Seminimalnya, ada diantara mereka berpikir “these are bloggers I know. If I was going to promote other bloggers posts I think I would write and ask their permission first.” Dan Teungku Matt, merespon dengan ucapan, “There’s nothing stopping you from reaching out to people, just like before.”

Ada juga Maureen yang berhujjah begini,

I include a lot of images and metatags in my posts…if someone does a google image search whose blog shows up in the search? mine or the reblogger’s blog?? I would rather my blog show up in the search but it doesn’t..I know this because I did a search and discovered that my meta tags were showing up with my blog name in the google search but when you click on the link/image it takes you to a blog that reblogs everyone else’s blogs…my blog-my meta tags-should link back to my blog and not some low-end, profiteering, robber blog…

Ada pula Gerry yang mengingatkan soal kebijakan WordPress.com sendiri soal pencurian konten. Lalu disusul oleh Tracy Lopez yang mengeluarkan hujjah begini pula,

I would appreciate a way to opt-out of re-blogging. I work very hard on my content – from the photos I take to the words that I write – and I don’t see it as a positive thing when people “re-blog” me. The fact that it’s “only” a paragraph and that there are automatic links back to my blog don’t make much difference to me. I like my content to be on my blog – no where else, unless someone has asked permission.

When people sign up for Tumblr, they know what type of service it is and what they’re getting into – but when people create a blog on WordPress they expect to be respected and protected as the TOS tells us we will be.

Sorry to come off negative here but after private conversations with others, I can tell you I’m not alone in what I’m expressing here. I love WordPress in so many ways but this feature disappoints me.

Namun Teungku Matt bersikeras bahwa fitur reblogging ini sudah menjadi fatwa, keputusan final, harga mati. Bahkan atas pertanyaan “Can I disable from others reblogging my blog posts?” dari Ayle Estelle Rambut Menyala, Teungku Matt menjawab singkat saja, “Nope.”

Tidak juga Teungku Matt mempertimbangkan keberatan dari seorang PiedType yang bertutur,

“I’m not crazy about this. The reblogs include so much text that with short posts, they could be exceeding fair use. Also, in the case of photoblogs, for example, the image could, in fact, be the entire post. At the very least, please give administrators an option to disable the reblogging of their posts. I want readers to come to my blog to read my posts.

Teungku Matt bergeming. Dan tetap bergeming atas protes serupa dari Komposer Dalam Kebun yang berkata,

“I cannot believe you are encouraging this practice after your blacking out of Freshly Pressed in protest of SOPA. The real issue is protection of intellectual property; SOPA may have been flawed in its implementation but the intent was to protect content creators. What ever happened to the small effort of a short quote and a link to someone’s blog instead of wholesale theft through reblogging? I agree with Tracy above – give those of us who work hard on creating original content an opt-out button on this instead of facilitating a practice that encourages misuse of blogging content and makes me work to prevent it.”

Matt tetap bersikukuh bahwa pendapat tentang reblogging dari Sang Komposer Dalam Kebun lah yang mesti dikaji ulang, bukan keputusannya dan para elit di WordPress.com yang tak bisa diganggu-gugat, ketika Sang Komposer Dalam Kebun kembali memprotes. Erica Johnson Senyum Menawan pun malah mengajukan sebuah tautan dari Wikipedia seperti kelakuan para wikitroll sebagai pelengkap dalih, ketika Si Kelinci Eggton menggugat,

“How can we opt out of the reblogging feature? It violates copyright even with the trackback and the attribution, because the reblogger is not asking permission to use copyrighted material first.

Just trying to register my concerns so you know that bloggers educated in legal issues are not happy with this.

Thanks!

Singkatnya, ada sekelompok minoritas di sana yang keberatan dan tidak setuju dengan adanya fitur reblogging ini, termasuk seorang pria tampan bersahaja yang mencoba menyentil dengan mengatakan bahwa dia merasa berada di Tumblr. Protes tetap bergulir, walaupun cuma sekelompok kecil, dan walaupun Erica Jonshon Senyum Menawan bilang,

“Being able to disable reblogging would not necessarily prevent others from copying material from your site and reproducing it elsewhere. Making your blog private is the only way to ensure that your content stays on your site.”

Jawaban macam ini menurutku adalah jawaban yang melarikan diri dari protes dan komplen para pengguna. Ini sama seperti berkata, “meski kau bisa mengunci pagar rumahmu, kau tidak pasti berhasil mencegah orang lain mencuri isi rumahmu. Jalan satu-satunya adalah membuat rumahmu tidak kelihatan sama sekali.” Analogi ini mungkin tak tepat benar, tapi kira-kira semacam itulah logika Erica Johnson Senyum Menawan.

Aku bisa paham dan mengerti dengan keberatan beberapa blogger yang ada di sana. Aku sendiri juga bisa merasa tak nyaman jika -dengan dipermudah oleh sebuah fitur di WordPress.com- postinganku, jepretanku, jadi lebih mudah nongol dimana-mana. Benar, bahwa postingan siapa saja bisa dicopot, dicuri kontennya, diplagiat, di-copy-paste oleh orang lain. Tapi reblog menurutku adalah pencurian terang-terangan yang justru menyalahi kodrat dari perangai curi-mencuri yang semestinya diam-diam. Jika di Tumblr, mungkin akan lain perkara, karena Tumblr memang dimaksudkan untuk melakukan aktivitas demikian. Aktivitas untuk memutar-ulang apa-apa yang sudah diterbitkan oleh pengguna Tumblr yang lain. Dan memang sudah begitu pula kodrat di alam Tumblr. Tapi di WordPress.com? Aku malah setuju dengan protes dua hari yang lalu dari Diana Tibert:

I’ve never heard of reblogging before, and I can’t understand why anyone would do this. If you’re too lazy to write a blog then don’t. Snipping a blog post by someone else isn’t cool. In fact, I might think it lazy or down right stealing. I can understand blogging about another blog and noting the link (I’ve done that), but actually taking someone else’s words and images and putting them on your blog sounds wrong. It’s double wrong if that’s the entire blog.

If a blogger only posts reblogs will they be shut down for abuse? If they do this you might wonder why the heck they have a blog in the first place.

Dan itu yang terpikir kembali saat tadi pagi iseng me-reblog postingan Memeth. Kupikir, reblogging-ku dua hari lalu cukuplah jadi satu-satunya penggunaan fitur reblog di sini. Di blog ini. Jika pun nanti aku berniat me-reblog postingan seseorang, maka aku memilih meminta izin si pemilik postingan. Dan men-disable kolom komentar untuk postingan reblog itu, agar sesiapa bertandang bisa langsung saja ke postingan yang bersangkutan untuk bercuap-cuap. Kukira itu cara yang adil. Sudahlah awak ini biasa jadi “pencopet” berbagai gambar dan ucapan, rasanya tak enak juga jadi pencopet itu dipermudah:mrgreen:

Sederhananya, seperti alasan Diana Tibert di atas itu: jika aku malas menulis, sangat tak pantas menghiasi blogku ini dengan tulisan orang. Apakah dengan melakuan copy-paste, plagiat, atau cuma sekedar me-reblog postingan orang lain, lalu eksis untuk cas-cis-cus di atas postingan orang lain, tapi di blog sendiri.

8 thoughts on “Tentang Fitur Reblogging

  1. Sejak awal Tumblr spt mengingatkan orang bahwa yang namanya konten itu tidak harus dihasilkan sendiri. Lantas Twitter dan FB memperkaya jalur itu. Konten adalah baru satu tahap, dan berbagi konten adalah tahap kedua, lantas tahap ketiganya adalah mekanisme sosial: orang lain yang membagikan.😀

  2. Aku memang ada rasa ambigu juga soal ini, Paman. Satu sisi, aku sendiri pelaku reblog di Tumblr. Tapi, setahuku memang Tumblr -sebagai bagian dari microblogging- memang begitu permainannya. Di WordPress ini rasanya agak tak nyaman saja. Dulu pernah ada fitur begini di WordPress, lalu dicabut. Kini dipasang kembali. Mungkin saja tujuannya baik. Tapi tujuan baik pun, mesti mempertimbangkan juga ada protes dari pengguna seperti di sini. Tujuan dari wordpress.com kan memang ngeblog, walau pun kita bisa setuju bahwa Tumblr juga bisa disebut ngeblog.

    Kita agak berbeda dalam pendapat bahwa konten tidak harus dihasilkan sendiri. Konten paman di blog-blog paman, adalah produk dari paman. Dan bukan aku yang menghasilkannya. Bukan juga pembaca. Boleh jadi ada konten yang dihasilkan bersama, seperti misalnya blog keroyokanku dan kawan-kawan di mulutpejabat.wordpress.com. Tapi itu lain cerita. Bahwa twitter dan fb memperkaya jalur itu, bolehlah kita sepakat. Mungkin itu juga gagasan di balik kembalinya fitur reblogging di wordpress.com ini. Tapi jelas bahwa twitter dan fb tidak bisa disebut ngeblog juga sebenarnya.

    Keberatan paling mendasar dari soal reblogging ini adalah ketidakmauan para elit wordpress untuk menyediakan opsi untuk tidak mengizinkan reblog. Kukira, sebebas apapun kebebasan informasi, ada buah pikir, tulisan, karya yang memang harus dihormati. Jika Paman, misalnya, lebih nyaman orang datang ke tempat Paman untuk berkomentar, berdiskusi tentang buah pikiran Paman, maka itu harus dihormati oleh siapapun.

    Ambigu banget memang. Meletakkan gambar di internet pun aku sendiri sering seenaknya juga. Jadi ya kukira, fair sajalah jika ada yang marah atau protes. Dan cukup fair juga sekiranya ada yang menolak postingannya direblog.😕

  3. Oke, Bed. Kutautkan alamat blogmu ya.😀

    Btw, semoga aman sajalah kau di Blogspot sana. Hehe. Memang susah kadang-kadang wp.com ini. Banyak aturan untuk user-nya dan cenderung otoriter:mrgreen:

  4. Ping-balik: Gera’an Post A Day/A Week 2012 | Anarki Di:RI

  5. Sama:mrgreen:

    Rasanya tak enak. Entah kalau di Tumblr, karena di sana juga modelnya ya melingkar-lingkar gitu berbaginya😀

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s