Gera’an Post A Day/A Week 2012

Saat singgah di postingan blog eksperimental™ WordPress, postingan dua hari lalu, aku mencengir juga melihat tombol-tombol yang disebut badges ini:

Mencengir? Ya. Kira-kira begini –>:mrgreen:

Tentu saja, gera’an untuk menggalakkan aktivitas ngeblog semacam ini boleh-boleh saja dipuji. Baguslah. Kalau ada yang berminat ikut, atau malah cuma ikut-ikutan seperti trend bikin resolusi menjelang tahun baru, itu juga tidak jadi masalah. Hak siapa saja. Hak para blogger yang bersangkutan.

Aku mencengir bukan pula hendak meremehkan benar semangat begini. Namun karena ada beberapa perkara terlintas di dalam benakku. Salah satunya adalah postingan Donny Verdian menjelang akhir Desember tahun lalu. Postingan yang sebenarnya membahas soal dunia social media di Indonesia di tahun 2012 (dalam bentuk opini dan prediksinya saat itu), namun juga menyinggung tentang blog. Meski postingan itu, sebuah analisa yang mungkin tidak mengenakkan, bisa saja diperdebatkan, namun terasa ada benarnya.

Di sana, Donny telak-telak mengutarakan pendapatnya begini,

Tahun 2012 adalah tahun yang sudah tak tepat lagi bicara tentang blog meski masih akan ada begitu banyak orang mengaku dirinya blogger :)

 *njleebb*

Dia jelas tidak sedang menentang atau meremehkan keberadaan blog dan para blogger. Sebab di bagian akhir tulisannya, Donny sendiri terang-benderang mengatakan “diluar perkara trend atau bukan, blog dan aku adalah satu!”

Perkembangan social media memang tidak-bisa-tidak sudah menggeser peranan blog yang dulu sempat berjaya. Sempat mengorbitkan sejumlah orang yang dulu bukan siapa-siapa, mungkin cuma kroco-kroco tak penting di republik ini, mahasiswa atau pekerja yang belum atau malah tak mau ‘ngurus NPWP tapi mahir berkotek soal korupsi dan teori pajak, atau kuli IT yang di kantornya menye-menye dizalimi soal gaji, menjadi pesohor-pesohor blog yang kondang di bawah langit republik ini. Karena mereka bisa bikin blog, bisa menulis di blog. Demam ngeblog terjadi. Massa di republik latah ini -seperti biasa- kepincut mencoba ikutan. Ada yang memang cuma karena mau menulis, dan ada pula yang cuma mau seperti fanboys mengantri gadget Apple agar tampak tidak ketinggalan zaman. Trend berulang. Kehadiran social media pun tiba dan diklaim sudah merubuhkan “menara gading” blog menjadi puing-puing rumah butut dan para bloggernya menjadi makhluk jadul, persis seperti blog dan para blogger dulu berkoar-koar bahwa mereka adalah media baru yang konon bisa merubuhkan media lama, media konvensional seperti koran dan majalah. Dan dengan ngeblog, seakan semua masalah paling pelik dan rumit di negara ini bisa diselesaikan, bisa dibahas habis-habisan.

singsingkan lengan bajumu, ngeblog lah menuju kemenangan! (bacrit di masa jaya blog)

Memang tak bisa dipungkiri, terutama di Indonesia, social media sangat populer selama kurun waktu belakangan ini. Salah satu yang berjaya diantara semua layanan socmed adalah Facebook. Di kolong langit republik ini, layanan satu ini sudah menyebar bahkan sampai ke pelosok desa yang cuma memiliki akses internet GPRS belaka. Ditambah dengan kehadiran sederet layanan social media lainnya, blog pun tak lagi jadi mayoritas tunggal dalam soal pertukaran dan kebebasan informasi di negeri ini. Kehadiran berbagai layanan socmed ini seakan tak memberi pilihan: ikut atau ditinggalkan. Bahkan para pundit blog yang dulu eksis di ranah blogsfer akhirnya hijrah juga -meski setengah-setengah- ke ranah socmed.

fuck you, blog! ini era socmed! you with us or against us!

Namun, meski kehadiran social media seperti Facebook, Twitter dan ragam layanan microblogging memiliki peran pada lesunya blogsfer, blog sendiri belum tumbang nian di Indonesia. Meski konon mengalami pergeseran. Sama macam kenyataan pada hari ini bahwa media massa seperti koran, walaupun mengalami penurunan oplah, tetap menjadi salah satu media yang diperhitungkan. Semudah apapun kini berita bisa diakses lewat internet, di warung-warung kopi pelosok negeri, koran serupa Kompas dan Republika masih memiliki peranan membentuk opini massa. Bukan blogger, baik individu maupun berkelompok, bahkan yang paling tersohor sekali pun. Para blogger boleh dengan congkak berkata bahwa hal demikian terjadi karena umat belum tercerahkan, belum secerdas mereka. Namun adalah kebodohan tersendiri pula dengan mengira bahwa blog mesti menjadi panutan dan akan abadi sebagai sumber informasi yang valid. Ada ragam pendapat di blog, sama seperti di media massa. Masyarakat, seperti para netter yang suka hal-hal instant, juga memiliki kecenderungan sederhana: baca berita, analisa dengan secangkir kopi, obrolkan, sudah. Mereka tak mau menambah pusing dengan segala debat-kusir di ranah blog yang sering tak berujung-pangkal, terutama di masa jayanya blog dulu.

Dan kukira ini trend yang sama di kala social media dianggap segala-galanya. Kita masih ingat ketika dulu Gerakan Sejuta Facebooker muncul untuk kasus Century. Lalu ada lagi Gerakan Koin Untuk Prita. Satu-dua kali, gerakan yang berpangkal di social-media ini cukup praktis. Mampu menyedot simpati publik. Tapi cobalah hari ini bikin Gerakan Sejuta Facebooker, kecenderungan tersebut menurun. Kenapa? Sepele: karena banal. Trend adalah sebuah trend, akan selalu ada titik jenuh. Dulu blog, nanti socmed. Itu sudah macam hukum alam. Entah apa pula pengganti trend socmed itu nanti, memanglah belum pasti.

Hukum alam? Ya. Perputaran trend demikian, kalau meminjam istilah Bapak Guru yang juga meminjam dari Dawkins, adalah sebuah meme belaka. Sebuah perulangan abadi, kata Nietzsche. Dunia blog dan para blogger dulu sempat merasa bahwa diri mereka adalah yang paling keren, paling adiluhung di bumi ini. Sebuah peradaban. Sebuah kebudayaan yang menjadi puncak tangga evolusi. Tapi ke-adiluhung-an ini dirubuhkan oleh sebuah trend baru bernama social media ala Facebook dan Twitter, yang kecil-kecil tapi macam virus menyebar. Blog pun lalu, seperti kata Donny, tersudutkan.

cuma ada 2 pilihan, kata pundit socmed. ngetwitlah agar tampak modern.

Benar, memang (sempat) ada kegelisahan mencuat di antara para blogger yang sempat mencicipi pahit-manis blogsfer sebelum social media menjadi trend. Dalam hal ini termasuk aku sendiri sempat berpikir demikian. Kegelisahan bahwa blog terasa sunyi. Terasa suntuk. Buntu dan jenuh. Kukira Donny merasakan hal yang sama. Juga aku, dan sejumlah blogger lain yang kukenal seperti Gentole, Moerjanto Ali, Haziran dan Almascatie. Meski pun dalam kegelisahan dan kebuntuan itu, terkadang menulis juga, namun tidak sebergairah dulu. Para (mantan) blogger WordPress generasi lama -generasi 2007 kalau kata Antobilang, Joe, Sora, Mansup, Amed, Ira dan Jensen– sudah lama gelisah soal begini. Bahkan sampai menjurus pada nostalgia. Mengenang masa-masa BOTD dihiasi dengan postingan-postingan bagus, postingan menarik untuk berdiskusi. Atau malah cuma untuk dibaca karena ada aneka ragam topik tersaji, bukan seperti hari ini yang cuma dipenuhi topik dari agen motor dan agen togel.

Kegelisahan ini bukan cuma mewujud dalam bentuk individu, tapi juga dalam bentuk kelompok. Komunitas. Kelesuan itu konon sudah memprihatinkan, sehingga sebuah situs Ayo ngeBlog pun kini tampak vakum. Postingan terakhir di sana tertanggal 30 Juni 2010. Hampir 2 tahun yang lalu. Macam kehilangan semangat dari seruan “Ayo ngeBlog!” itu sendiri. Bahkan, kalau melihat perdebatan soal fitur reblogging yang lalu, yang juga pernah dikritik oleh TimeThief (seorang WordPresser yang cukup dikenal aktif di Forum WordPress.com); terbaca bahwa layanan WordPress sendiri memiliki kegelisahan akan trend socmed juga, sehingga tampak gamang apakah tetap menjadi sebuah layanan blog dengan konsep awal, ataukah menjadi semi-microblogging seperti layanan socmed serupa Facebook, Twitter, dan Tumblr, sampai  “mencuri” konsep like dan reblog untuk diterapkan di layanan mereka. Dalam postingannya, TimeThief telak-telak mendakwa fitur reblogging dan like di WordPress adalah fitur copy-cat dari Tumblr, hal senada yang digugat dalam postingan seorang blogger lain berjudul “Is WordPress.com now a Social-Networking/Micro-Blogging Platform?

Ya. WordPress pun terbawa arus social media, sehingga tampak gamang apakah tetap menjadi sebuah layanan blog dengan konsep awal, ataukah menjadi semi-microblogging seperti layanan socmed serupa Facebook, Twitter, dan Tumblr, sehingga “mencuri” konsep like dan reblog untuk diterapkan di layanan mereka.

Mungkin kegelisahan yang sama pula yang menjadi salah satu alasan di balik Gera’an Post A Day/A Week 2012 seperti yang ditampilkan di awal postingan ini. Ini adalah niat yang bagus, seperti aku katakan di awal postingan ini juga. Tapi, kukira daripada mengembalikan semangat dan segala macam ajakan untuk kembali ngeblog biarkan saja “seleksi alam” menentukan. Aku sendiri adalah bagian yang kesal sekaligus (sempat) menikmati dunia socmed. Enak berceloteh dalam 140 huruf. Atau bikin status dan komen-komenan di Facebook. Tapi menyalahkan socmed sebagai biang keladi segalanya dan memproklamasikan bahwa blogsfer sudah mati, adalah sebuah kesalahan lain pula. Terlalu dini dan terlalu egosentris. Kukira ini kritikan terhadap gagasanku sendiri dulu dan juga gagasan Donny Verdian.

Kenapa?

Karena, berdasarkan pengalamanku sendiri blogwalking, menjelajah sampai masuk ke forum WordPress Indonesia, aku justru melihat bahwa ada banyak blogger yang dulu tak pernah kukenal. Aku menemukan cukup banyak blogger yang masih konsisten menulis, walaupun sedikit dari mereka itu blogger-blogger lama yang pernah kukenal atau pernah terkenal beberapa tahun lalu. Mereka, seperti tak peduli apakah social media itu ada atau tidak. Mereka juga macam tak peduli soal debatan apakah blog bagian dari social media atau sebuah rezim dari sebuah zaman dengan Blogger dan WordPress menjadi USSR dan USA-nya, yang kemudian digantikan oleh zaman baru dari rezim socmed yang konon lebih demokratis, lebih merakyat dan lebih praktis. Mereka memiliki akun-akun socmed dan juga memiliki blog. Ada diantara mereka rajin berkicau di ranah socmed tapi juga rajin menulis di ranah blog. Bagi mereka ada tak ada social media, bukan jadi masalah besar. Mereka ngeblog terus saja. Peduli apakah para pesohor blog dahulu masih ‘nulis atau tidak. Bahkan boleh jadi mereka tak kenal atau tak peduli lagi siapa Bapak Blog di Indonesia, siapa Presiden Blog, siapa Seleb Blog, siapa Nenek Blog. Dan memang tak perlu. Mereka ngeblog. Itu saja.

begitulah bagi mereka

Dua malam lalu aku membahas soal beginian, dengan Hoek, seseorang yang mengaku pensiunan blogger yang pernah membacrit begini di tahun 2009 silam,

Ternyata benar..seperti apa yang telah disabdakan oleh sang mahadewa telematika, dulu lama berselang saat dunia blogosphere menggila, menggejolak dan penuh dengan penghuni yang luar biasa autis dan hiferaktif..
bahwa sebenarnya blog itu cuma trend sesaat……
*melirik bloger-bloger lain yang sudah kolleps…*
.
.
*ngaca*
*berlalu*

Waktu itu awalnya sepele: aku membagi sebuah postingan dari Zulfikar Akbar, seorang penulis blog dan jurnalis di Aceh Kita, yang berjudul “Asap Ganja Di Langit Aceh“. Di statusku, aku memberi komentar sendiri,

Blog bagus memang tak mesti banyak komentar sampai belasan atau ribuan. Blog ini salah satu blog bagus yang kumaksud. Serius. Rekomended ini, terutama untuk blogger-blogger Aceh😀

Lalu Hoek menimpali,

tulisannya keren-keren.
saya suka :
“Menulis bukan untuk perlihatkan pada orang-orang bahwa kita lebih banyak tahu. Tapi, menulis adalah cara untuk perlihatkan pada diri sendiri atas banyak hal yang belum kita tahu | Zulfikar Akbar”

Dan aku membalas dengan sengit,

Benar. Tulisannya itu jauh lebih bagus dari tulisanku (lha iya, tulisanmu itu panjang-panjang banyak katarsis, Lex!). Hehe. Bahkan jauh lebih bernas dibanding beberapa seleb blog yang kesohor di dunia maya ini.

Aku jadi ingat kapan hari chat dengan beberapa blogger lama. Aku tak setuju dengan pendapat bahwa blog memang sudah mati, cuma karena blogger-blogger gaek, veteran lah, seleb lah, sudah pada sibuk. Selalu akan ada regenerasi. Selalu akan ada tulisan baru, penulis baru, mungkin menuliskan tema lama tapi dengan gaya lebih segar. Tak ada patron di dunia blog ini. Tak ada itu segala presiden blog, bapak blog, nenek blog, seleb blog, menentukan hidup mati blogsper dari ada atau tidak adanya mereka. Tidak juga blogger yang konon sudah lama, sudah malang melintang di BOTD wordpress. Ada atau tidak Hoek Soegirang, Difo Aldiaz, Alex Hidayat, Nicholas Mario Wardhana, JenSen Yermi, Harry Heller, Haris Fadhillah Rahmad Hidayat Suryo Wahono atau Aris Susanto tak jadi masalah. Blogsper baik-baik saja.

Meski aku sendiri jarang ngeblog, tapi aku suka membaca blog-blog yang dulu tak pernah ada. Blog dari blogger baru, yang terkadang masih bertanya di id.forums.wordpress.com bagaimana cara membuat blogroll tertampung di sidebar, atau membuat halaman bersambung. Mereka tidak jago secara teknis, tapi mereka segar dan jago dalam menuliskan opini mereka. Aku sudah eneg dengan parade-maha-tahu segala dari blogger-blogger tua yang lupa bahwa mereka itu adalah Koes Plus di era Artic Monkeys. Mungkin itu termasuk kau dan aku sendiri😀

Lalu Hoek menyiramkan bensin,

bhuahuahua…antum berkatarsis; lebih baik daripada saya yang bernarsis ria dan menggunakan gaya bahasa parlente-bertele-tele.😛

blog / blogosphere memang masih ada, hanya kita yang sok ‘tua’ dan sok ‘bijak’ ini) yang karena sudah (merasa) mencapai puncak multi-orgasmik, lalu terbuai euphoria sesaat pembawa nikmat sesat : lupa kita bahwasanya menulis di blog itu bukan untuk dikomentari atau untuk dibaca; tetapi lebih kepada membuka, ber-aktualisasi, menemukan diri, dan seperti yang tertulis ditagline (?) blog Protagoni itu “Tapi, menulis adalah cara untuk perlihatkan pada diri sendiri atas banyak hal yang belum kita tahu”.

Jujur saja, saya masih sering bernostalgik-romantik juga, membuka gudang arsip milik kawan blogger yang antum sebut itu, hanya untuk memenuhi rasa haus akan tulisan-tulisan yang mencerahkan karena kebingungan dimana lagi bisa ditemukan tulisan macem begitu.

Saya juga masih sering menulis, sekedar bermasturbasi di ms office word dan menyimpannya, walau terkadang kelepasan menulis di status facebook, dengan risiko dihujat seorang teman dan membuat keluarga resah gelisah melihat saudaranya menjadi aneh begini😛
Walau sudah saya pinang sebuah domain dibelantara maya, hanya saja masih belum ada kesempatan untuk menguploadnya; masih saja saya terlalu ingin sempurna -_-“

Dan untuk mengapresiasi blog Protagoni; mengikuti gaya 9gag, saya bisa bilang
“some faith in blogosphere restored”🙂

Aku kepanasan,

Benar sekali. Di blog Bung Zulfikar Akbar itu ada satu postingan bagus soal ini.
http://protagoni.blogspot.com/2010/04/tenar-bukan-benar.html

Tenar, bukan benar. Tidak ada jaminan blog tenar isi selalu benar, penyajian benar, atau benar-benar berguna, bermanfaat. Ada alasan memang, kita juga bisa setuju, memang menulis blog itu mesti bermanfaat. Tapi sebaik-baik menulis memang menulis yang bermanfaat. Tentu aku juga suka dengan blog-blog sepele, serupa sekedar update sederhana Ira Hairida untuk berjalan kaki dan tabah menderita agar berat badan kembali proporsional *digebuk Ira* atau sekedar sajak dari seorang Moerjanto Ali atau oknum bernama Haziran Nata di atas itu. Namun, jika mengukur pada ada atau tidak kehadiran blogger lama, blogger seleb, blogger yang seakan sudah ngeblog sejak jaman dinosaurus, itu sungguh menggelikan.

Tidak semua orang peduli apakah kau sedang bikin curhat soal meninggalnya orang yang kau sayangi, atau tentang kekecewaanmu bahwa teori evolusi ditolak di pesantren dan sekolah agama, atau tentang engkau akan ketemu Katy Perry, atau bahwa kemarin kau menggalang dukungan 1000 cepe’an untuk meruntuhkan sinetron yang kau anggap kampungan. Atau tentang nostalgiamu untuk menulis surat pada binimu. Sehingga naiflah jika merasa seleb, merasa tenar, lalu beranggapan: BLOGSFER SUDAH ISDET KARENA AKU SUDAH TAK MENULIS HAL BERMUTU LAGI. Dungu. Ada tak ada dirimu atau diriku, ada lain manusia akan tetap berkembang-biak, lahir, hidup dan mati.

Hoek menyulut korek,

ya, saya baca itu tulisan “Tenar, bukan Benar”. Pemanjat pohon jambu itu yang mencerminkan kita saat di’puncak’ dulu; merasa banyak yang melihat, banyak yang berkomentar, sehingga habis pikiran kita membuat tulisan ‘TENAR’, dan kehilangan gairah birahi saat para fans serta pemuja kita lari dan berpindah kelain hati😛
memang lebih baik memanjat pohon pala, sehingga kita bisa lebih menikmati rasa ‘memanjat’ bukan untuk dilihat, dan untuk itu kita tak akan mudah jatuh dan tersesat. *halah

Lalu sama-sama terbakar tawa. Dengan simbol dan huruf, tentu saja. Kami menertawakan diri sendiri. Menertawakan spesies sendiri: spesies blogger. Lebih spesifiknya: blogger yang dulu sama berpikiran tak lurus macam kami. Blogger yang merasa seleb macam kami. Blogger yang dulu -kalau meminjam tagline Paman Tyo di blog dagdigdugnya– mengaku berbagi padahal membual™.

Ranah blog, kawan, baik-baik saja. Baik dengan ada kau dan aku atau tidak ada sama sekali. Kehadiran socmed boleh jadi mencuri perhatian, dan ada yang lari, selain berbagai alasan lainnya (kesibukan, sudah menua, atau entah apa lagi) sehingga para blogger lama menghilang dari ranah yang dulu pernah membesarkan nama mereka.

Jadi, jika mau ngeblog, ngeblog lah. Baik dengan bikin rencana sehari satu post atau seminggu satu post atau sebulan satu pos, seperti ajakan di postingan para gembong Wordpres itu. Atau malah tidak sama sekali, dan memilih untuk ngeblog sesuka hati. Toh, selama ada blog, seperti kata Donny Verdian, siapapun berhak dan bisa menyebut dirinya blogger.

Tapi… tapi… socmed… bagaimana?

Ah.

segerobak pun layanan socmed datang, diri sendiri juga menentukan.

24 thoughts on “Gera’an Post A Day/A Week 2012

  1. Hehehe, kuungkapkan sekarang dan di sini ya, sebenarnya apa yang saya tuliskan di tulisan akhir taon lalu itu adalah sindiran ke kaum blogger🙂
    Thanks sudah menyertakan saya dan tulisan saya di sini, mari terus ngeblog!

    Soc med? Jangan takut, karena blog adalah salah satu di dalamnya🙂

  2. @ DV

    Hehe. Aku juga nangkapnya begitu. Sindiran. Ketika ramai sudah alih profesi jadi semacam buzzer dan jualan brand. Lha, pada akhir postingan kau sendiri tetap bilang bahwa kau dan blogmu satu, Don:mrgreen:

    Benar. Aku sendiri memandang bahwa blog ini socmed juga, meski jelas lebih lapang dan lega dibanding batasan karakter di socmed yang berbasis microblogging. Kukira untung (dan kelemahannya dari sudut pragmatis) di situ. Tapi kalau melihat Paman Tyo ngeblog, aku merasa itu tak jauh beda. Cerdas juga itu. Meng-socmed-kan blog dengan gaya sendiri, seperti postingan 69 kata😆

  3. Astaga, panjang banget.😀

    Soal nge-post yang ideal, setidaknya sekitar dua atau tiga hari sekali.

    Soal SocMed, saya belom pernah menggunakan akun twitter saya.😦

  4. lex ini tulisan panjang bener. komentar itu dulu. penting.

    ya ngeblog ya ngeblog aja kan. bagaimana pun blog itu ya hanya alat saja, seperti pisau atau buku tulis. dan saya kira banyak orang yang masih mau menulis di blog karena mereka mau menulis, karena menulis itu penting buat mereka. seperti halnya radio bukan pengganti buku, dan tv bukan pengganti radio, dan internet bukan pengganti TV, fesbuk dan twitter juga bukan pengganti blog. ini mungkin masalah kecenderungan saja, siapa mau apa. meskipun saya senang ada twitter dan fesbuk, jadi blog lebih sepi. mereka yang berisik berisik di sana aja.😛

  5. eh lex ini aku kepikiran aja. menurut aku sih blog bagus itu blog yang tidak menulis tentang apa yang ditulis di koran dan media masa. karena itu buat aku cuma jadi noise aja, reaksioner, riak dari ombak di tempat lain. aku suka blog yang menulis tentang hal-hal kecil yang aku anggap universal: dari sarapan pagi sampai patah hati, blog tentang manusia dengan segala dimensinya.

  6. @ Asop

    Hehe. Itu masih belum seberapa. Ada postingan-postingan lain lebih panjang. Rasanya dalam kepalaku, setiap nulis, ada yang meledak dan mengalir begitu saja, bagaikan Bengawan Solo *halah* 😆

    Ya, begitulah. Idealnya sih begitu. Kritikan terhadap gerakan Post A Day/Post A Week ini kan nyaris sama,

    I still am a bit worried about the Post a Day part. Not able to figure out how anyone can write quality stuff on a daily basis. If I tried that out, all that I would be able to do would be stuff like – ‘today i slept through the day’, ‘today I went to office’ … and so on.

    Soal socmed, aku sempat cukup aktif. Sekarang cuma satu paling aktif, ya fesbuk itu. Mungkin juga karena di sana ramai juga kenalan yang bukan blogger (meski kalau nyaman, aku selalu merasa lebih nyaman dengan sesama blogger/rekan online sih). Twitter dulu sempat aktif, tapi tak nyaman. Kau tengok saja postingan ini panjang nian. Itu salah satu alasan kenapa kemudian jadi jarang di sana. Hehe. Tak enak rasanya dibatasi 140 karakter:mrgreen:

    @ Gentole

    lex ini tulisan panjang bener. komentar itu dulu. penting.

    Macam baru kenal aku saja kau.😆

    Kau benar. Nulis ya nulis saja. Pretensi selain “cuma pengen nulis” itu urusan nomor 2 3 4 5 6 dst.

    Aku juga melihat ramai yang masih menulis blog (ini malah baru aku sadari beberapa bulan belakangan, sejak lebaran haji lah), karena mereka kepengen menulis. Peduli itu cuma sekedar review terhadap film atau software, atau cuma curhat colongan.

    Soal internet bukan pengganti TV, ada prediksi dan bahkan klaim -kalau boleh kusebut demikian- bahwa internet (akan jadi) pengganti segala-galanya. Ya media massa, ya buku, ya televisi dan juga radio. Ini klaim yang prematur menurutku. Meski harus diakui bahwa penetrasi internet itu bukan main, bahkan di desa di luar kabupatenku di sini pun facebook dikenal luas (thanks to hape cina merakyat). Aku sependapat denganmu. Justru itu di postingan ini sendiri aku “mengejek” keangkuhan dari era jayanya blog dulu yang merasa akan menggeser media konvensional. Sampai dulu ada istilah New Media vs Old Media di tahun 2005 yang kemudian melunak di tahun 2010, meski pun masih mengagungkan internet.

    Padahal, akan selalu ada orang yang merasa lebih nyaman membaca buku, menulis surat, membaca koran, memegang remote tipi sambil menyesap segelas kopi. Hari ini saja, dengan berbagai film bisa diunduh di internet, masih saja bioskop bisa membujuk kita untuk datang menonton film mereka. Kalau dibilang satu tiket di 21 = Rp. 25.000, dan satu jam nge-warnet 5000, berarti lima jam kita bisa nge-warnet dan mengunduh film sepuasnya. Tapi tidak. Rasa nikmat menonton di bioskop itu tak bisa dijual-beli oleh internet, bahkan oleh klaim kemudahan gadget overpriced serupa Apple😛

    meskipun saya senang ada twitter dan fesbuk, jadi blog lebih sepi. mereka yang berisik berisik di sana aja.😛

    😆

    Mungkin itu sisi positifnya ya?:mrgreen:

    eh lex ini aku kepikiran aja. menurut aku sih blog bagus itu blog yang tidak menulis tentang apa yang ditulis di koran dan media masa. karena itu buat aku cuma jadi noise aja, reaksioner, riak dari ombak di tempat lain.

    Kalau ditanya, apa sih yang tidak ditulis di koran dan media massa? Kebudayaan? Ada di kolom Kompas. Sastra? Ada Horison. Tak bisa dielakkan benar bahwa akan selalu ada reaksi terhadap apa yang ada di dalam media massa. Opini kita, bahkan yang personal pun, bisa terpengaruhi oleh media massa yang masih ada saat ini. Meski tidak selalu sehaluan.

    Kalau soal berita, ya benar juga sih. Aku lebih nyaman baca blog pribadi yang membahas apapun, tapi benar-benar pengalaman personal dia. Boleh jadi dia akan bicara soal Pram yang sudah capek menghias analisa dari berbagai self-acclaimed pakar sastra, tapi dengan sudut pandang dia yang peduli-tak-peduli dengan pendapat dan ulasan di media massa. Yang macam ini menarik.

    Hal-hal semacam kesukaanmu itu, dan kesukaanku juga membaca postingan-postingan personal, curcol, dari blogger lain yang kukira sama macam gagasan post-strukturalis-nya Lyotard. Percakapan atau renungan sambil ngopi atau minum teh. Atau malah sambil boker.😆

  7. @alex: Oh iya benar juga hahaha. Apa aja ditulis di koran.🙂 Mungkin karena saya wartawan jadinya ya jengah kalo membaca apa yang ada di koran di blog. Atau saya berfikir koran itu terlalu mainstream. Sekalipun bila ada kolom budaya di segala media, blog mestinya menawarkan alternatif lain yang lebih personal, yang lebih bebas, lebih beragam, lepas dari selera editor malas di media masa.

  8. suka dengan tulisan ini, mungkin seperti yang saya ungkapkan di blog saya mengenai blogger militan, mohon diberi masukan.

    kalau saya, memandang sosial media merupakan hal yang wajar-wajar saja, manfaatkan sosial media untuk menginformasikan apa yang sedang terjadi di blog pribadi, tulis apa yang ingin kita tulis, tetapi tetap RESPECT.

    semangat nge-blog.

  9. Bro,,soal 2 sidebar semalam,,itu themenya punya option untuk membagi sidebar menjadi 2 kolom.Thks

  10. Ehem…ehem….. Setelah membaca sebuah survey yang diadakan oleh blog Draft Corner per tanggal 14 Oktober 2011, saya bisa menyimpulkan bahwa rata-rata blogger menganggap bahwa blogging itu lebih menarik, lebih menantang dan lebih merangsang intelektual dibandingkan dengan facebook.🙂
    Dan tentunya kelebihan lainnya adalah; banyaknya lomba menulis berhadiah untuk para blogger. Lomba tersebut bisa diadakan oleh perusahaan, organisasi atau rekan blogger sendiri. Event semacam itu jelas akan menambah motivasi bagi para blogger untuk bertahan dengan identitasnya.
    Dan walaupun baru setahun ngeblog, saya sudah menyaksikan seorang blogger yang tumbuh menjadi penulis buku. Menakjubkan…
    Tapi tentunya saya tak akan menganggap bahwa FB dan Twitter itu tidak berguna. Mereka tetap berguna, untuk sharing posting kita. Hehehehe…….

  11. Aha! Pada akhirnya memang seleksi. Hanya mereka yang senang ngeblog yang akan tetap ngeblog. Termasuk untuk ngeblog buat diri sendiri.

    Bagi saya ada hal yang menarik. Sebagian orang meyakini bahwa media sosial adalah alternatif. Tetapi yang terjadi, salah satu bentuk media sosial yang ringkas, yaitu Twitter dan status di FB seringkali hanya menjadi penerus, pemberi afirmasi, dari konten media arus utama. Itulah salah satu manfaat peringkas URL.😀 Bahkan media arus utama pun beramai-ramai masuk ke media sosial. Lebih konyol lagi, jika menyangkut ponsel, maka tautan ke sumber asli kadang tak diklik followers. Sebagian dari mereka cukup membaca judul saja — suatu hal yang juga mengasah media utama untuk mencari cara mengemas informasi yang layak bagi.

    Seperti halnya pada BBM Groups, maka persoalannya tetap ini: yang namanya konten, di tangan para pemalas adalah sekadar meneruskan milik orang lain. Tumblr sudah mendahului, eh WordPress akhirnya juga terpancing. Reblog dan repost, karena lebih jujur dan lebih santun ketimbang plagiarisme, akhirnya menjadi proses dan hasil berkonten.😀

    Kelak saya rasa tak ada lagi istilah media sosial. Semuanya media, tapi pemaknaanya lebih luas. Bahwa itu pada awalnya membuat canggung bahkan bingung, yah itulah proses kebahasaan. Sama seperti awal blog dan CMS, “inserting media” menjadi istilah yang membingungkan.😀

  12. @ Gentole

    Atau saya berfikir koran itu terlalu mainstream.

    Lha iya, mainstream memang. Sama macam televisi juga. Media massa konvensional alias old media™ masih menguasai pangsa pasar sampai saat ini, belum seperti prediksi jitu dari para netter sebangsa kita yang bijaksana bersabda bahwa internet adalah new media yang akan masuk sampai ke dalam pelosok kampung. Belum. Haha.

    Sekalipun bila ada kolom budaya di segala media, blog mestinya menawarkan alternatif lain yang lebih personal, yang lebih bebas, lebih beragam, lepas dari selera editor malas di media masa.

    Blog memang media alternatif yang memang baik jika bisa menawarkan alternatif lain yang lebih personal. Ketika blog itu masih personal. Tapi juga ada kecenderungan mainstream di blogsfer, apalagi jika kau tengok kelompok-kelompok atau komunitas dalam blog. Fenomena nge-bully massal ala para blogger pernah ada, dan mungkin akan tetap ada. Ini tanda bahwa selera mainstream itu memainkan peran juga. Yang betul-betul independen memiliki peluang lebih besar untuk tersingkir dan dianggap nggak ada, kecuali dia punya orang-orang (baca: blogger, -red) yang berpengaruh untuk jadi bekingan. Haha. Ya, ini terlalu sarkatis sih pendapatku. Tapi namanya juga IMHO, Ini Memang Hanya Opini.:mrgreen:

    @ yisha

    wah, aku… no comment aja deh:mrgreen:

    Lha itu komen😆

    @ azizhadi

    Aku sudah baca itu soal blogger militan. Menarik😀

    Benar, Wajar-wajar saja menggunakan media sosial untuk informasi tahapan lebih lanjut. Tapi trend tidak begitu loh. Jadi kayak ada pengkotak-kotakkan dimana socmed (ini sebenarnya ambigu, karena blog sendiri bagian dari social media) dianggap lebih hebat dari blog, persis kayak dulu blog dianggap sebagai konsep citizen journalism yang akan menumbangkan media lama. Tak ada sebenarnya tumbang-menumbangkan itu, yang ada cuma berganti sarana belaka. Detik.com, sebagai media massa di internet, hakikatnya sama saja macam koran di warung kopi.

    @ Abed Saragih

    Oh, gitu tho? Kukira itu ada triknya juga. Kalau mesti ganti theme, agak malas. Hehe. Theme-nya kurang menarik, cuma tampilan sidebarnya itu saja asyik😀

    @ Nando

    Ehem…ehem….. Setelah membaca sebuah survey yang diadakan oleh blog Draft Corner per tanggal 14 Oktober 2011, saya bisa menyimpulkan bahwa rata-rata blogger menganggap bahwa blogging itu lebih menarik, lebih menantang dan lebih merangsang intelektual dibandingkan dengan facebook.🙂

    Aku pernah baca kajian juga soal ini di internet. Lupa dimananya. Memang yang pendek-pendek kayak facebook dan twitter itu praktis, tapi di sisi lain tidak merangsang otak untuk berpikir lebih. Hehe.

    Dan tentunya kelebihan lainnya adalah; banyaknya lomba menulis berhadiah untuk para blogger. Lomba tersebut bisa diadakan oleh perusahaan, organisasi atau rekan blogger sendiri. Event semacam itu jelas akan menambah motivasi bagi para blogger untuk bertahan dengan identitasnya.

    Kalau soal lomba menulis, secara pribadi aku tak suka dengan gagasan untuk mengiming-imingi orang hadiah cuma untuk menulis. Meski ada bagusnya juga sih. Ya bolehlah dianggap kayak guru SD memancing bakat anak-anak menulis dengan hadiah satu kotak pensil. Cuma kan kalau sempat bergeser motifnya jadi pemburu uang atau hadiah, bisa berabe juga. Dulu di masa jayanya adsense, ranah blog pernah rusak sampai dengan hasil pencarian di Google karena adanya blogger-blogger yang menghalalkan segala cara pakai black SEO untuk meraup dollar. Kasihan yang mencari sesuatu di google tapi nyasar kemana-mana karena permainan keyword😀

    Dan walaupun baru setahun ngeblog, saya sudah menyaksikan seorang blogger yang tumbuh menjadi penulis buku. Menakjubkan…

    Siapa itu?😕

    Tapi tentunya saya tak akan menganggap bahwa FB dan Twitter itu tidak berguna. Mereka tetap berguna, untuk sharing posting kita. Hehehehe……

    Ho oh. Masih berguna untuk itulah setidaknya:mrgreen:

  13. @ Paman Tyo

    Aha! Pada akhirnya memang seleksi. Hanya mereka yang senang ngeblog yang akan tetap ngeblog. Termasuk untuk ngeblog buat diri sendiri.

    Amen to that!:mrgreen:

    Sebagian orang meyakini bahwa media sosial adalah alternatif. Tetapi yang terjadi, salah satu bentuk media sosial yang ringkas, yaitu Twitter dan status di FB seringkali hanya menjadi penerus, pemberi afirmasi, dari konten media arus utama.

    Nah itu. Sama macam tanggapanku pada kawan di atas. Social media itu tak ubah macam kode asap-nya bangsa Indian atau tombol morse untuk ngirim telegram di jaman dulu. Mengabarkan berita tentang BERITA UTAMA di lain tempat. Dibilang alternatif, susah juga. Orang-orang secara umum nggak/belum akan mau untuk membaca #kultwit di Twitter dan menjadikan itu konsumsi mereka seperti mereka menyantap berita di koran sebangsa Kompas atau Republika. Cakupannya terbatas, walau memang ringkas. Lagipula, sering social media (layana microblogging sejenis Twitter, tentu) bisa bikin salah paham. Karena terlalu terbatas karakter di sana. Hasrat hati menyampaikan pesan A, tapi ditanggapi pesan B. Meski ada baiknya menyingkat kata, tapi ada juga hal-hal yang tak bisa dituliskan dalam batasan karakter. Apa jadinya kalau kita membaca berita di -katakanlah- Detik tapi gaya penyampaian serupa Twitter? Kacau juga.😀

    Itulah salah satu manfaat peringkas URL.😀 Bahkan media arus utama pun beramai-ramai masuk ke media sosial.

    Ya itu gunanya: menyampaikan ke para manusia di media sosial bahwa mereka ada berita di media mereka sendiri😆

    Lebih konyol lagi, jika menyangkut ponsel, maka tautan ke sumber asli kadang tak diklik followers. Sebagian dari mereka cukup membaca judul saja — suatu hal yang juga mengasah media utama untuk mencari cara mengemas informasi yang layak bagi.

    Mungkin di sini gunanya pembatasan karakter itu. Mengasah cara berbagi informasi dengan ringkas dan padat. Sayangnya, ini tidak akan selalu memuaskan. Pembaca, walau kepengen praktis, tapi ada kala akan memilih untuk sedikit ribet membaca lebih panjang asalkan hasratnya untuk mau tahu sesuatu terpenuhi. Alasan yang sama kenapa Wikipedia masih jadi penyedia konten informasi yang laris manis😀

    Seperti halnya pada BBM Groups, maka persoalannya tetap ini: yang namanya konten, di tangan para pemalas adalah sekadar meneruskan milik orang lain.

    Hehehe:mrgreen:

    Tumblr sudah mendahului, eh WordPress akhirnya juga terpancing.

    Cukup disayangkan juga terpancing begini. Tapi mau bagaimana? Mereka mungkin juga punya pertimbangan demi menjaga eksistensi😕

    Reblog dan repost, karena lebih jujur dan lebih santun ketimbang plagiarisme, akhirnya menjadi proses dan hasil berkonten.😀

    Benar. Cuma tetap saja seperti yang Paman bilang itu: membuat “kemalasan” untuk bikin konten sendiri itu jadi pemakluman😀

    Kelak saya rasa tak ada lagi istilah media sosial. Semuanya media, tapi pemaknaanya lebih luas.

    Kalau kulihat, istilah semacam citizen journalism adalah salah satu upaya untuk meluaskan pemaknaan media sosial ini. Tapi ini pun agaknya masih mencakup blog dan website saja, sementara pengotakan layanan lain masih dalam kotak media sosial. Ya kali aja prosesnya nanti memang bisa begitu, tentu lebih baik.

    Bahwa itu pada awalnya membuat canggung bahkan bingung, yah itulah proses kebahasaan. Sama seperti awal blog dan CMS, “inserting media” menjadi istilah yang membingungkan.😀

    Ho oh, Paman. Siklus yang sama berbeda gaya saja. Perulangan abadi😀

  14. Ping-balik: Pedoman Pemberitaan Media Siber? | Anarki Di:RI

  15. Ping-balik: Kendi Kecil « Anarki Di:RI

  16. Ternyata masih ngeblog kau Lex.😛

    Kalo aku sendiri sih, social media itu kuanggap sebagai alat bantu untuk menyebar posting terbaru. Makanya aku tidak terlalu aktif di socmed selain menyebar link.

  17. Masih, Dan. Masih. Meski jarang-jarang. Ini belakangan saja agak lancar karena udah fiber optic klaim speedy di sini, maka kupasang lagi. Kalau kuandalkan modem batangan lagi, haha.. azab aku. Hari ini nulis, tinggal jadi draft, seminggu kemudian sudah basi😆

    Socmed memang sebenarnya gunanya untuk medianya media, bukan media baru. Jadi semacam fitur sms dalam ponsel yang guna asli ponsel buat nelpon lah.😀

  18. Ping-balik: Disadarkan Alex « Payjo

  19. saat itu, dimasa itu mungkin eranya pertama kali saya singgah di republik maya yang bernama blogger. dan itu masih mengunakan hape jadul. sekarang memang semua itu berubah dengan sok sibuknya saya untuk mengurus blog di wordpress dengan curhatan dan lebih egois menjadi blogger matre di blog berdomain dot com saat ini.

    Tulisan ini seakan membuat saya menerawang kembali ke belakang di mana perasaan itu berbeda. seperti perasaan anak kecil menemukan mainan baru kala itu. sekarang entahlah….

  20. Gak bisa komen banyak… energinya sudah kekuras buat bacan tulisan plus sekaligus komen-komennya.😀

    Mudah-mudahan dengan tulisannya bisa menjadi HIDAYAH buat blogger-blogger supaya “TIDAK MURTAD” dari Aliran Ngeblog. Heuheuheuuuu….😀

  21. wehh, ternyata banyak to yang merasa sepi di readernya🙂
    kadang saya refresh berulang kali agar ada update dari teman-teman
    paling parah, saya masukkan blog saya sendiri ke reader hahaha

    kalau boleh sedikit permintaan, abang alex yang caem, halah
    kalau boleh janganlah kau berganti-ganti alamat blog terlalu sering😛
    saya pusing pun hahaha
    btw, krn ganti-ganti ini juga mungkin yang bikin reader sy ngga update-update

  22. @ andi sakab

    saat itu, dimasa itu mungkin eranya pertama kali saya singgah di republik maya yang bernama blogger. dan itu masih mengunakan hape jadul.

    Idem. Masih pakai hape jadul juga aku😆

    sekarang memang semua itu berubah dengan sok sibuknya saya untuk mengurus blog di wordpress dengan curhatan dan lebih egois menjadi blogger matre di blog berdomain dot com saat ini.

    Mengurus blog di wordpress dengan curhatan itu tak jadi masalah sih benarnya. Lha tiap blog itu benarnya curhatan masing-masing si bloggernya, cuma label kategori saja membedakan curhatan-curhatan tersebut: ada politik, ada IT, ada linux, ada opini. Intinya ya gagasan dari curhatan hati sang blogger:mrgreen:

    Soal jadi blogger “matre”, juga tidak jadi masalah besar. Aku nggak keberatan rekan-rekan blogger cari uang di internet, dengan blog mereka. Ini sama saja seperti orang bikin tulisan/artikel di media massa dan mereka dapat honor untuk itu. Yang jelek itu kan yang kontennya kosong tapi cuma copy-paste dan memainkan black-SEO saja. Ini loh yang merusak benarnya🙂

    seperti perasaan anak kecil menemukan mainan baru kala itu. sekarang entahlah….

    Nah kan? Tetap rasanya beda. Benar. Waktu pertama masuk ngeblog, kayak anak kecil menemukan mainan baru. Ikhlas dan penuh kesukaan memiliki sebuah blog🙂

    @ Rosid ETP

    energinya sudah kekuras buat bacan tulisan plus sekaligus komen-komennya.😀

    Waduh. Mohon dimaafkan😀

    Mudah-mudahan dengan tulisannya bisa menjadi HIDAYAH buat blogger-blogger supaya “TIDAK MURTAD” dari Aliran Ngeblog. Heuheuheuuuu….😀

    Mudah-mudahan saja. Amin.😀

    @ goop

    wehh, ternyata banyak to yang merasa sepi di readernya🙂

    Banyak juga itu. Sering beberapa blogger lama curhat begini🙂

    kadang saya refresh berulang kali agar ada update dari teman-teman
    paling parah, saya masukkan blog saya sendiri ke reader hahaha

    Sama😆

    kalau boleh sedikit permintaan, abang alex yang caem, halah
    kalau boleh janganlah kau berganti-ganti alamat blog terlalu sering😛
    saya pusing pun hahaha

    Aku juga sudah pusing sejak dua tahun lalu, terakhir ngeblog di hostingan sendiri. Habis itu kapok. Haha. Reputasi sebagai blogger nomaden sudah dicopot sejak 2009:mrgreen:

    btw, krn ganti-ganti ini juga mungkin yang bikin reader sy ngga update-update

    Waduh. Dimasukin reader? Terharu aku😳

  23. hehehe suka banget sama postingan ini.

    kadang saya dan haziran berduka waktu friendster udah ndak ada dan ludes bersama blog-blognya (yg isinya waktu kita pacaran dulu) mihikk..
    *lah malah curhat*

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s