Sebuah Poligami Di Kala Cinta Harus Memilih

Poligami memang sebuah dilema tersendiri. Salah satu topik kontroversial favorit dalam forum-forum mereka yang suka berpolemik. Ada bermacam alasan mendukung atau menolak perkara satu ini, baik alasan-alasan tersebut benar-benar datang dari lubuk hati paling dalam, atau dari lubuk selangkangan celana dalam.

Tapi, ini jelas bukan postingan soal poligami yang berkaitan dengan urusan cinta-nafsu pria dan wanita, meski sama-sama  bernafaskan keresahan dilematis, seperti yang pernah dinyanyikan Pance dalam lagu dahsyatnya, “Di Saat Kau Harus Memilih”, bertahun silam. Bukan sama sekali. Meski aku ini pria beristri dan seorang pengagum P. Ramlee, belum terlintas di kepalaku hendak menuruti kisah dalam lagu poligaminya yang berjudul “Madu Tiga“. Sebengal-bengal diriku, ada juga aku dididik untuk setia berkawan, apalagi beristri. Sudahlah dapat istri yang disukai almarhumah ibuku, akan pula kukhianati sumpah-janji di mesjid dulu? Belum sampai akalku ke sana, kalau sampai, tahu aku sedih almarhumah ibuku nanti.

Aku ini, sidang pembaca, boleh dikatakan tipe lelaki setia. Sungguh. Mohon jangan tertawa. Jangan “CTRL+W”-kan dulu postingan ini, karena hendak muntah. Baik. Biarlah  kuganti kata “lelaki” dengan kata “manusia”, agar selain tak mual orang membaca, jangan pula nanti disangka postingan ini hendak menebar pesona pada lain wanita.

Jadi begini…

Perkara setia, meskipun nanti bisa berubah jadi tak setia, sampai detik ini sudahlah cukup teruji. Umpama kata: masih setia kusimpan barang-barang tua, perangkat lama, benda-benda dahulu kala, bahkan masih kupakai pula apa-apa yang masih layak pakai. Di rumahku (semoga ini bukan dianggap pamer harta, harta orang tua pulak), ada dua mobil di garasi. Satu mobil Kijang Innova, dibeli orang tuaku di tahun 2009 nan silam, dan satu lagi mobil Kijang LSX  Commando, Kijang generasi ketiga dalam silsilah keluarga besar Toyota; produk akhir 1987, dibeli tahun 1988.  Begini wujud mobilku itu:

kijang merah tua kesayangan

Begitu tua usia mobil satu itu, bahkan lebih tua dari usia perempuanku dan dua orang adik kandungku. Namun sudah banyak kisah ditorehkannya dalam hidupku yang tak seberapamana ini. Pernah ayahku berniat hendak menjualnya di waktu aku masih SMP dulu, lekas-lekas aku mengadu dengan berlinang air mata kesedihan pada almarhumah nenekku yang (segera sesudah menerima pengaduan tersebut) langsung mengeluarkan ultimatum ke seantero keluarga besar, ahli famili, sanak-kerabat dan handai-tolan: bahwa demi pengaduanku, demi segala alasan masa laluku, demi cucunya, jangan pernah siapapun berani menghasut untuk menjual pedati beroda kesukaan cucu kesayangannya itu. Menghasut saja diharamkan, apalagi menjual.

Dan seperti biasa: ultimatum dari perempuan tua paling dihormati dalam keluarga ayahku itu, tak ada siapa bantah. Pamanku yang paling muda sempat maju selangkah, memberikan dalih membela ayahku bak pengacara, bahwa dari hasil penjualan mobil itu dapatlah nanti digunakan membeli mobil baru lagi. Tapi, ibarat Raja catur kena skak, dia pun terpaksa mundur, sebab nenekku tak peduli. Macam mana beliau ludahkan air bakung suginya, macam itulah isyarat dia ludahi alasan itu. Nekad pamanku maju selangkah lagi, alamat dia yang kena embargo: jangankan datang ke rumah beliau di hari lebaran, lewat pun dia tak usah, ibarat pesawat kena zona larangan terbang. Ayahku pun diam, tak mau pada ibu kandungnya beliau membantah. Maka, selamatlah Kijang Tua itu, sehat wal afiat bertengger hingga kini di garasiku. Menjadi milikku setelah dihibahkan beberapa tahun kemudian.

Aku menyayangi Kijang Tua ini. Bahkan ketika sebuah mobil lain hadir di rumahku, saudaranya seinduk Toyota dari negeri Nobita, aku lebih suka mengendarai Si Kijang Tua. Sudah terlanjur sayang kurasa, seperti senandung mesra Memes dahulu kala. Kenangan demi kenangan menghiasi hidup keluarga kami dalam putaran rodanya. Mungkin, kalau silap benakku nanti untuk mau bikin tulisan yang sedikit memberhalakan produk buatan korporat, akan kucolokkan pengalaman dan sejarah hidup Si Kijang Tua itu, yang sudah bertahun dihiasi tawa, linangan air mata, tetesan hujan dan tumpahan muntah dari penumpangnya yang lupa minum antimo; seperti tulisan “Pengalaman Keluargaku Bersama Toyota” di situs Toyota Astra.

Ada satu lagi kendaraan tua yang belum kulepaskan: Honda Astrea Prima 1989. Ini sepeda motor bertahun pula sudah usianya. Dengan sepeda motor inilah dulu almarhumah ibuku menunaikan profesi beliau sebagai guru SD. Dan bersama sepeda motor ini pula aku menikmati masa bocah, apalagi masa remaja. Dari masa cinta monyet, balap-balapan, sampai masa taubatan nasuha, sesudah capek tertungging mencium aspal atau terjun bebas ke sawah orang karena cukup dungu beratraksi Batman terbang dengan mengangkat kaki lurus ke belakang dan tangan kiri ganti kaki di pedal gigi. Salah satu faktor kecintaanku pada sepeda motor ini adalah bersebab Astrea Prima itu bukan motor biasa. Honda Super Cub 700 dan 800 yang pernah merajai pasar, sampai meninggal dunia dilibasnya, putus riwayat hidup mereka akibat kehadirannya. Bahkan di tahun kemarin, motor bebek legendaris itu masih bisa ditemui terjun dalam perlombaan Motoprix Region 2 Tasikmalaya.

Kendaraanku satu itu, tersohor di kota kecilku: ramai umat tahu belaka siapa empunya Astrea Prima Merah ’80-an berknalpot garang dan prima terawat. Dari sepuluh penduduk kota kecamatanku, cuma dua jenis penduduk yang tak tahu: 1. Pendatang. 2. Orang tuli. Sebab knalpot garangnya pernah kondang jadi gunjingan. Garang karena ngebass suaranya. Kalau di masa remaja sudah terdengar suara knalpotnya, kawan-kawan, umat manusia, dan terutama para orang tua yang benci pembalap tak berarena, akan langsung tahu motor si kampret mana yang akan melintas terbang di depan mata mereka. Sempat dikira orang knalpot ngebass itu rakitan khusus macam knalpot racing, padahal ngebass suaranya karena di bawah knalpot ada lubang pecah unofficial. Pecahan akibat retakan karat yang sengaja kubiarkan. Kendaraan ini pensiun sebagai sarana transportasi harian dua tahun lalu, tapi masih hidup sampai hari ini di gudang toko  keluargaku. Menjadi sarana transportasi pekerja toko dan gudang, untuk mengambil-pindahkan barang-barang dagangan yang kira-kira masih bisa dibawa tanpa butuh mobil angkutan.

Sejumlah manusia pernah mendatangi ayahku, meminta beli sepeda motor itu. Beliau, karena tahu kesetiaanku pada perangkat tua dalam keluarga, tak mau ikut campur. Para pemohon disarankan untuk langsung berhadapan denganku. Ada selusin lebih orang pernah datang, membawa permintaan dan hamparan pengharapan, agar mau kuceraikan sepeda motor itu dari kehidupanku. Dan aku tak mau. Diantara pemohon pernah ada yang hendak menukar sepeda motor bebeknya yang berharga 2x lipat lebih mahal dari sepeda motorku. Aku tetap menolak. Bahkan salah seorang calon pembeli, seorang makelar sepeda motor yang punya bengkel dan bengkelnya itu sangat bermanfaat memoles motor-motor yang dibelinya untuk dijual kembali dengan harga lintah darat pada orang lain, sampai mengiming-imingi akan memberi servis gratis untuk sepeda motor lain di rumahku selama setahun. Aku tak sudi merubah pendirianku. Ditambah bonus akan dibelikan aksesoris berupa stiker mantap untuk motor Astrea Supra ’97-ku, aku bergeming. Bahkan jika ada yang membelikan bintang, matahari dan rembulan kepadaku, tak sudi kuserahkan kesetiaanku.😎

*menatap lautan dengan baju berkibar gagah dihembus angin samudra*

Tentu ada banyak lain cerita bisa kutumpahkan untuk membualkan betapa setia diriku ini. Mungkin untuk meyakin-yakinkan diriku sendiri, atau mungkin berguna pula untuk pencitraan pada istriku yang -sekali lagi mungkin- sudah terpingkal-pingkal membaca usaha gombal yang gagal untuk meyakinkannya agar khilaf selamanya menjadi istriku.

Tapi, cukuplah dua kendaraan beroda di atas itu menjadi contoh, pelengkap penderita, dalam pencitraanku ini. Sebab, berpanjang-panjang aku membual, postingan dengan membawa-bawa kata “poligami”, “cinta”, dan “setia” ini tak lain tak bukan cuma soal poligami browser saja, sebagaimana ditampilkan dengan pose begitu aduhai oleh gambar dua wanita di awal mukadimah postingan ini.

Kawan, kesetiaanku pada sebuah browser selama bertahun-tahun telah kupersembahkan dengan penuh ikhlas pada sebuah perangkat halus yang berkhasiat untuk menjelajahi alam maya yang fana ini: Mozilla Firefox. Sejak dirilis pertama sekali di tahun 2004, aku sudah menyematkan pujaaan dan kesetiaan, sehingga aku pernah begitu bahagia mengenangkan dengan pe-de yang tak berguna bahwa diriku adalah salah satu manusia yang terlibat sebagai pelaku 6 juta unduhan antara tanggal 9 November sampai 24 November di tahun itu. Penindasan keji selama bertahun-tahun oleh Internet Explorer yang disuap-paksa oleh Microsoft Windows ’98, ME, dan juga XP di PC Pentium III-ku, sudah begitu keterlaluan membuat monitor komputerku penuh bersemak, karena satu halaman situs bermakna satu jendela Internet Explorer mesti terkuak. Mozilla Firefox hadir untuk menghibur dukaku, dengan membawa seikat kemampuan tabbed document interface, dimana aku bisa membuka berlusin halaman dalam satu jendela menawan. Hatiku langsung tertawan. Hingga bertahun kemudian.

Begitu suka aku dengan rubah api itu, bahkan meski dalam beragam distro Linux yang pernah kupakai ada browser alternatif lain yang free dan open source juga, namun hatiku tak berpaling dari kehangatan Si Rubah Api😳

*tersipu*😳

Tahun-tahun berlalu. PC bertukar baru. Laptop datang dan pergi. Sistem operasi silih berganti. Namun Mozilla Firefox juga idaman hati. Ketidaksukaanku pada Opera versi desktop (meski masih suka dengan versi ponsel), pada Internet Explorer, apalagi pada Safari, sebagai tiga browser besar lainnya di internet, membuat hubungan mesra dengan Firefox tidak goyah. Demi browser pujaan, aku setia merepotkan diri untuk mengikuti setiap update yang diluncurkan, meski sudah suka dengan versi 3.6 yang menurutku paling stabil dan masih di-support sampai April 2012. Bahkan ketika rilis update terbaru terasa kelewat cepat, seiring program rapid release development cycle diluncurkan pertengahan tahun lalu, aku setia bagaikan kerbau dicucuk hidung untuk memperbarui Firefox terkasihku. Tidak cuma memperbarui saja, bahkan rela mengunduh setiap rilis terbaru, menjadikannya koleksi di hard disk eksternalku. Dari versi pertama sampai versi terbaru yang terbit 31 Januari lalu.

Namun, diantara bermacam browser lain yang mencoba merayuku, sebuah browser perlahan-lahan mengusik kesetiaanku. Benda itu bernama Google Chrome. Padahal, sejak dirilis di tahun 2008, tak pernah tertarik aku dengan browser rakitan Google itu. Entah kenapa, tak sedap saja terasa olehku. Tak sehangat dekapan Firefox selama ini kurasa. 2 tahun lebih waktu telah berlalu sejak dia diluncurkan, pernah beberapa kali iseng kurelakan dia mendekatiku, tapi tak lama, kutinggalkan dia membisu jadi installer belaka di PC-ku.

Di Bogor lah, di rumah istriku di sana, aku mulai “membuka hati” pada browser ini. Istriku adalah penggemar browser ini, browser yang pernah membuat Google kena kick dalam karikatur begini:

cuma a new tiny itsy bitsy browser war...

Sepulang dari Bogor sana dan kembali ke kota kecilku, aku pun kembali bercumbu dengan Firefox versi 9. Awalnya biasa saja. Namun, entah karena sudah tersugesti browser favorit sang istri, mulailah lamban terasa Firefox di komputerku. Perkara lamban, okelah, tak jadi masalah benar. Tinggal di daerah begini, akses internet sudah biasa lelet, membuat browser dan secanggih apapun jua cepatnya gadget, tak terasa benar bedanya.  Tetapi terasa-rasa olehku bahwa Si Rubah Api yang baru dirilis 20 Desember itu sudah rakus nian makan memori. Kalau sudah lama Firefox versi 9 itu berjalan, berat rasa komputerku. Di laptop apalagi. Kalau di PC-ku tak jadi masalah benar, sebab kusumpal RAM 2 GB. Tapi laptop cuma 1 GB. Maka, kalau sudah lapar Si Rubah Api makan memori, suara di laptop pun putus-putus. Tak enak lagi mendengar lagu. Suara merdu Rihanna jadi macam suara orang kena TBC komplikasi asma.

Seperti kisah perang browser, mulailah benakku berperang pula…

kira-kira begini lah berantam firefox dan chrome dalam benakku. sementara IE di pojok komputer diam membisu

Sebab, selama update bertubi-tubi dari Firefox kuterima dengan pasrah, aku menahan-nahan juga sabarku. Persis macam curhatan seorang netter tentang beralihnya beliau ke Chrome, macam itulah pula kurasakan. Mulai dari masalah kompatibilitas plugin FDM yang merepotkan dalam beberapa kali upgrade, sampai soal memori makin berat itu. Mencoba bertahan satu ce-i-en-te-a bak lagu legenda karya Armada, aku bersabar sampai akhirnya rilis teranyar tiba: Firefox 10.0 mendarat di pangkuanku 31 Januari lalu.

Ada perubahan?

Ada. Aku mesti mengunduh versi terbaru dari FDM, versi release candidate pula itu, agar bisa jalan di Firefox 10.0, sebab plugin lama tak kompatibel. Aku juga mesti rela kehilangan sejumlah add-ons favorit lagi. Aku pun mesti memainkan “about:config” untuk membuat suara Rihanna tak makin parah. Dulu butuh waktu agak lama baru Si Rihanna bersuara putus-putus macam orang kena TBC komplikasi asma di laptop, tapi sejak install versi terbaru, Firefox 10.0 sukses mempercepat penderitaan Rihanna. Lebih dari itu, memori dimakan lebih rakus, sehingga sound card ber-driver Realtek pun ngadat lebih parah lebih cepat: suara Rihanna tak lagi seperti orang kena TBC campur asma, tapi bertambah lemah bagai menderita puasa tiga purnama.

Aku tak tahan lagi. Meski tak kusingkirkan Firefox yang sudah setia menemaniku selama ini, dan aku pun sudah mencoba setia padanya bertahun-tahun lamanya: aku pun membuka pintu hati untuk Google Chrome. Tiada lain pilihan, selain berpoligami. Meski berat terasa di relung sanubari. Di saat rasa suka harus memilih dalam hati, aku terpaksa membuat pilihan begini, Meski lagu Pance begitu syahdu mengingatkan untuk tidak membagi hati, apalah dayaku… T__T

18 thoughts on “Sebuah Poligami Di Kala Cinta Harus Memilih

  1. Hahaha, mungkinkah ini cuma flirting bang? sesaat? apa udah di ijab-kabul-in? mana tau nanti rubah api kembali seksi dengan suntik botox dan operasi plastik?

  2. Mau flirtting apa, bisa protes warga sekampung nanti, digebuk aku sama anak-anak muda kampungku: sudah repot-repot mereka menjadikan kenduriku lancar tahun kemarin😆 Yang ada mukaku bontok bak disuntik berlusin botox😆😆

  3. Mungkin kau salah satunya,tipe pria setia lex(menurut kriteria lu).
    Tapi,tolong buka matamu lebar-lebar,kecenderungan untuk tengok kanan-kiri adalah suatu kenyataan.
    Berapa perbandingannya,antara yang setia dan tidak di DUNIA ini.
    yang tidak setia,tidak boleh menikah lebih dari satu,lalu siapa pula yang melarang untuk berselingkuh.
    Jadi, antara setia dan poligami tolong di tinjau lagi.
    Memangnya yang berpoligami gak setia,mereka lebih setia, dengan tidak boleh lebih dari empat.

  4. 😆😆

    Memang benar pendapatmu itu. Karena kutengok melalui mataku di cermin, maka kubilang ini pencitraanku sendiri😆

    Memangnya yang berpoligami gak setia,mereka lebih setia, dengan tidak boleh lebih dari empat.

    😆
    *ngekeh*

  5. Aku suka gaya mu menulis lex,lama tidak mencoba mencurahkan isi kepala,tidak terbayangkan sebelumnya untuk menulis lewat postingan begini.dulunya menulis diratusan halaman diary tll sibuk dgn anak,kerjaan dirumah disekolah yg menyita bnyk wkt.aku plg suka tulisanmu yg ini “Tentu ada banyak lain cerita bisa kutumpahkan untuk membualkan betapa setia diriku ini. Mungkin untuk meyakin-yakinkan diriku sendiri, atau mungkin berguna pula untuk pencitraan pada istriku yang -sekali lagi mungkin- sudah
    h terpingkal-pingkal membaca usaha gombal yang gagal untuk m
    eyakinkannya agar khilaf selamanya menjadi istriku”… Capek aku mengingat siapa yg menulis dgn gaya bgt jujur, apa adanya…capek kugesek trackball bbku untuk tau “poligami” dlm postinganmu tp itu sepadan dgn nilai cerita yg kubaca.oya aku ngajar TIK disekolah sumpah!terpaksa krn stlh diseleksi berdasarkan guru yg tersedia termasuk aku yg dianggap bs!mslhnya aku sll klh cepat dgn updatenya apapun info yg ada hubnya dgn TIK.jd,menurut pendapatku banyak sekali waktu yg ko habiskan untuk berselancar di dunia maya ini sudilah kiranya lex untuk mengirim ke emailku apapun yg ko anggap perlu utuk kutau.plezz (cutwilda@yahoo.com) karna stll kuterima gajiku perbulan dr mengajar kimia dtmbh TIK itu tktlah aq kalau2 materi yg kuajarkan kurang bermamfaat dikarnakan inforemasinya sudah expired.thanks atas perhatiannya membaca comenku.oya aku suka tulisannya.jd tau all about u lex, tak tau aku btp setianya kau (wkwkwkwk)…upppssss sori lex

  6. Aku masih penasaran untuk mengatakan; mereka yang tidak berpoligami,bukan berarti mereka setia.
    Berapa banyak pria yang beristri satu,tapi selingkuhannya banyak,di tambah lagi dengan jajanan di luar sana atau cuma sekedar main mata (mata khianat).
    si Alex, si gen ,si Ali , ,si dul dan si kampret,mereka adalah lima orang pria yang setia kepada Bapak President SBY sampe mampus.
    *kampret*

  7. hahaha, jadi akhirnya ndak tahan godaan juga alih ke Crome.😆

    Tapi memang iya sih, sejak nyobain Crome saya udah jarang bersentuhan dengan Fox. Terasa banget leletnya di Fox dibanding Crome.

  8. Aku sudah lama berhenti pake firefox. sejak chrome lahir aku langsung beralih ke chrome dan meninggalkan firefox. Dan aku tidak berniat utk kembali ke firefox. pernah aku coba browsing pke firefox, dia jadi suka sekali ngehang dan crash. Sejak saat itu aku tak lagi melirik firefox. yah, mungkin pula karena aku sudah merasa nyaman pake chrome.

  9. @ cutwilda

    Aku suka gaya mu menulis lex,

    Terimakasih…😳

    lama tidak mencoba mencurahkan isi kepala,tidak terbayangkan sebelumnya untuk menulis lewat postingan begini.

    Kenapa tidak bikin blog saja😀

    dulunya menulis diratusan halaman diary tll sibuk dgn anak,kerjaan dirumah disekolah yg menyita bnyk wkt.

    Ya, namanya juga bertambah usia bertambah kerja. Haha. Tapi… aku tak pernah terbayang kalau bisa akan/pernah menulis diari ratusan halaman. Hehe.

    aku plg suka tulisanmu yg ini “Tentu ada banyak lain cerita bisa kutumpahkan untuk membualkan betapa setia diriku ini. Mungkin untuk meyakin-yakinkan diriku sendiri, atau mungkin berguna pula untuk pencitraan pada istriku yang -sekali lagi mungkin- sudah
    h terpingkal-pingkal membaca usaha gombal yang gagal untuk m
    eyakinkannya agar khilaf selamanya menjadi istriku”…

    😆

    Habis bagaimana pula? Aku ini lelaki yang hidup di dunia penuh godaan begini rupa. Kecuali sudah mati rasa, itu lain cerita. Hehe. Lagipula, mungkin benar berguna begitu untuk meyakinkan istriku. Aku memang sering menggombalinya sambil menertawai diri sendiri. Sebab manusia sering begitu naif mengira bahwa cintanya adalah cinta habis-habisan. Menertawai diri adalah cara menjaga kewarasan kata kawan lamaku dulu:mrgreen:

    Capek aku mengingat siapa yg menulis dgn gaya bgt jujur, apa adanya…

    Hehehe… tapi gaya yang katamu jujur dan apa adanya itu, tak pernah akan masuk ke buletin sekolah dulu. Kau tahu sendiri, dari masa sekolah aku tak suka dengan sekolah. Sekolah adalah sebuah tempat dimana kita diajar untuk munafik dengan diri sendiri. Aku pernah menyadur (membajak) lirik Rage Against The Machine waktu kelas 2 SMA, lirik dari lagu Know Your Enemy. Lalu disuruh baca di depan kelas, depan Bu Tini, di satu pelajaran seni. Dan hasilnya cukup berseni: Aku disuruh duduk kembali sesudah membacakannya, karena dianggap menghasud dan menghina sekolah. Menghina para petinggi sekolah. Terutama lirik dari bait ini:


    Yes I know my enemies
    They’re the teachers who taught me to fight me
    Compromise, conformity, assimilation, submission
    Ignorance, hypocrisy, brutality, the elite

    Yang kusadur jadi begini:


    Aku tahu musuhku, di ruang mana kini aku membaca.
    Mewujud durna guru-guru, mengajarku memusuhi kata hatiku.
    Ruang dimana kami diajar berkompromi. Diajar mencocokkkan tiap diri.
    Diajar manis berpadu cari sekutu. Diajar simpuh menyerah.
    Diajar kesopanan untuk tak peduli. Bermunafik dengan nurani.
    Dalam brutalitas norma Pancasila. Dalam nama elit petinggi sekolah.
    Segala yang diajarkan jadi candu mimpi siswa unggulan.

    Aku masih ingat kemudian itu aku dipanggil Pak Rani, Pak Alimi, Pak Sanusi dan Pak Husni. Ke ruang wakil kepala sekolah. Dikasih ingat untuk “jadilah siswa yang fokus pada masa depan dunia eksakta, jangan baca sastra, apalagi yang provokatif, jangan coba-coba mikir pindah ke IPS dan ambil jurusan bahasa. Karena Kepala Sekolah berkehendak laksana Tuhan, bahwa kelas kami, kelas siswa unggulan, mesti jadi kelinci percobaan yang bisa jadi boneka-boneka sukses lagi mapan di masa depan.” Kau tentu ingat mereka: empat dewa penjaga wibawa Sang Kepala Sekolah itu. Aku sengaja cari perkara, sepele, sehabis demo SPP kala itu: karena aku tak suka kelas unggul dimana aku berada, Cut. Dan aku tak suka dengan guru-guru yang selalu mengharap tiap siswa harus manis, menurut bak anak-anak OSIS, Organisasi Siswa Manis dimana kau jadi ketuanya kala itu. Haha. Maaf. Aku menghargai OSIS di masamu, tapi tetap tak suka dengan OSIS. Kau tahu maksudku. Tak selalu jujur dan apa adanya itu dapat tempat Tidak di sekolah, tidak di masyarakat. Satu-satunya guru yang apreasiasi tiap puisi atau tulisan bacritku cuma almarhum Pak Erlis dan istrinya, Bu Dar😀

    oya aku ngajar TIK disekolah sumpah!terpaksa krn stlh diseleksi berdasarkan guru yg tersedia termasuk aku yg dianggap bs!

    *ngakak*

    Jadi kau benar sudah kembali ke SMA kita itu?😆
    Sampaikanlah salamku pada guru-guru lama di sana😛

    Btw, soal…

    mslhnya aku sll klh cepat dgn updatenya apapun info yg ada hubnya dgn TIK.jd,menurut pendapatku banyak sekali waktu yg ko habiskan untuk berselancar di dunia maya ini

    sebenarnya itu masalah klasik di daerah kita. Almarhumah ibuku dulu, pernah bikin aku menyumpahi republik ini, dari para bupati, depdikbud, berikut segala presiden dari soekarno sampai soesilo bimbang yudontknow, Beliau keteteran waktu Negara Keplinplanan Republik Indonesiajayaselaludiudara ini menerapkan sistem KBK dan pengajaran TI untuk anak SD. Apa yang mau dikurikulumkan, sementara ibuku masih mengajar sambil menghirup kapur tulis di papan hitam yang kadang-kadang berfungsi jadi meja pingpong ala kadar anak SD kampung dimana beliau mengajar?! KBK saat itu seperti kecongkakan elit Depdikbud di Jakarta untuk memaksakan bahwa bagaimana anak SD di kota bisa pegang mouse dan keyboard, mestilah anak di kampung bisa pegang juga, meski dalam mimpi belaka, bersebab pengajaran cuma bisa diberikan dengan gambar, tak ada komputer, tak ada laboratorium.

    Sampai sekarang juga masih begitu. Aku pun juga tak update-update benar. Setahunan belakangan aku cuma pakai modem dengan akses mujarab: GPRS atau sesekali dapat EDGE. 3G? Masih mimpi. Fiber optic saja baru akhir tahun belakang terpasang.

    Soal apa yang kuanggap perlu kau tahu, wah susah juga itu. Aku tak tahu kurikulum SMA sekarang macam mana pula modelnya menipu?:mrgreen:

    oya aku suka tulisannya.jd tau all about u lex, tak tau aku btp setianya kau (wkwkwkwk)…upppssss sori lex

    Haha. Tak apa. Aku saja baru tahu diri kalau aku setia. Setia untuk sok-sok’an setia. Haha.:mrgreen:

  10. @ Iwan

    Aku masih penasaran untuk mengatakan; mereka yang tidak berpoligami,bukan berarti mereka setia.

    Katakan saja. Sepuasmu.😆

    Berapa banyak pria yang beristri satu,tapi selingkuhannya banyak,di tambah lagi dengan jajanan di luar sana atau cuma sekedar main mata (mata khianat).

    Ah, benar nian. Jadi memang kata “setia” itu sangat subjektif dan relatif. Misalnya begini:

    Di daerahku, itu ada kukenal sopir angkutan. Wah, di kampung, bukan main elok perangainya. Bininya satu, tak cantik sangat, tapi ukuran kalau dia bawa bininya ke tahlilan, tak akan lupa dia bawa pulang lagi. Lama berbini, tak ada dia poligami. Setia? Tidak.
    Asal dia naik ke Medan bawa angkutan, singgahlah dia di kompleks pelacuran Bandar Baru, dekat Berastagi -seperti beberapa supir-supir lain yang tak sanggup menahan “si buyung” meronta di balik selangkang- untuk melepaskan muncratan “kesetiaan tertahan” dalam desah wanita lain, entah anak-bini siapa, yang rela mengangkang untuk mereka demi rupiah.

    si Alex, si gen ,si Ali , ,si dul dan si kampret,mereka adalah lima orang pria yang setia kepada Bapak President SBY sampe mampus.
    *kampret*

    😆

    Kerabatku ada juga pengurus Demokrat di daerahku. Dan mereka itu, macam katamu, setia seolah sampai dibawa mati pada presiden SBY itu. Kalau kuceplas-ceplos mengeritik SBY, marah bukan kepalang. Haha.


    Jadi, Si Alex satu ini tak masuk dalam pencinta SBY. Dulu dukungnya JK. Haha

    Tapi aku sebut itu fanatik, bukan setia. Setia itu kalau menurutku sendiri: pilihan kau untuk bertahan dengan yang lama, meski kau terusik godaan oleh yang baru. Terpaksa atau tidak terpaksa, itu urusanmu. Kau sendiri tentukan. Kalau kau terpaksa, ya terimalah keterpaksaan itu kalau takut melepaskan. Macam akulah ini, menurutku masih setia juga pada Firefox, meski kemudian berbagi pula dengan Chrome. Tak mau juga kulepaskan Firefox yang menawan itu. Jadi logikamu soal kesetiaan dalam poligami itu kali aja benar😛

    Kalau fanatik, mau macam manapun orang jelekkan apa yang dia cintai, otaknya tak jalan lagi untuk menerima kekurangan, cuma ada kelebihan saja. Misalnya saja, tak mau dibilang presidennya kurang wibawa, tapi tak apa-apa kalau dibilang kelebihan pencitraan. *eh*

    Btw, ada cerita soal guru ngajiku di pesantren dulu. Dia pernah bilang, persis kata guru ngajinya Buya Hamka juga: hendaknya jangan kau nanti berbini dua. Kau bisa adil dalam apapun, tapi satu kau tak bisa adil. Hatimu.

    Kukira itu ada benarnya juga. Mata bisa mengerling kiri dan kanan. Tapi dalam hati, satu juga yang istimewa. Bahkan umpama Nabi pun, soal hati ini tak bisa juga adil. Apalagi awak, manusia tak seberapamana ini.😳

  11. @ Akiko

    hahaha, jadi akhirnya ndak tahan godaan juga alih ke Crome.😆

    Mau macam mana? Daripada pening kepalaku😆

    Tapi memang iya sih, sejak nyobain Crome saya udah jarang bersentuhan dengan Fox. Terasa banget leletnya di Fox dibanding Crome.

    Aku masih pakai Firefox. Ini saja kupakai Firefox untuk berbalas pantun, meski ini versi portabel yang sudah diedit juga about:config-nya. Kalau mau iseng-iseng bikin website, mau tak mau mesti pakai beberapa browser juga. Lagi pula, aku butuh Firefox karena add ons-nya masih lebih banyak daripada ekstensyen di Chrome😀

    @ giewahyudi

    Poligami di internet memang semakin bikin galau..🙂

    Ho oh. Mulai dari poligami OS di komputer, poligami blog, sampai poligami browser begini:mrgreen:

    @ Kimi

    Aku sudah lama berhenti pake firefox. sejak chrome lahir aku langsung beralih ke chrome dan meninggalkan firefox.

    Waduh. Langsung talak 3 rupanya:mrgreen:

    Dan aku tidak berniat utk kembali ke firefox.

    Tidakkah ada terbersit untuk membuka pintu hatimu padanya kembali…?😎

    pernah aku coba browsing pke firefox, dia jadi suka sekali ngehang dan crash.

    Memang parah sekali Firefox sejak rapid release-nya itu diumbar. Dulu versi 3.6 cukup stabil. Sejak 4.0, apalagi versi 7.0 sampai teranyar, makin parah.😕

    Sejak saat itu aku tak lagi melirik firefox. yah, mungkin pula karena aku sudah merasa nyaman pake chrome.

    Semoga berbahagia dengan “pernikahanmu” yang kedua. Semoga langgeng sentosa dengan Chrome:mrgreen:

  12. Salut untuk Alex yang pandai memilah-milih kata dalam sebuah postingan di blog yang cukup panjang tapi tidak membosankan. Terus terang kalo akang bleum bisa bikin postingan diatas 1000 kata ( rasanya ide diotak gampang menguap) he he he. Salam kenal!!!

  13. Ping-balik: Cinta Itu Memang Harus Memilih | Anarki Di:RI

  14. @ Ihsan Saidi

    Sudah dimasukkan, tadi agak bingung juga, sebab tautan di namanya ke facebook, mana blognya. Rupanya ada tercantum di facebooknya. Tengkiu sudah mampir:mrgreen:

    @ abi_gilang

    Itu mengalir begitu saja, Kang. Aku tak pintar juga memilah kata, malah kalau kubaca-baca ulang, banyak kata berulang di tiap tulisanku. Tapi macam mana pula, mungkin bawaan merepet dan nge-rap *halah*😆

    Salam kenal kembali, Kang. Orang Bogor rupanya? Wah, kapan aku balik ke Bogor, semoga bisa ngopi-ngopi lah kita😀

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s