Pesan Dalam Sebuah Iklan

Aku bukan penggemar iklan, dan tak pernah tertarik untuk bekerja di dunia periklanan. Salah satu alasan kenapa agak malas menonton TV, adalah karena sering merasa terganggu dengan iklan. Apalagi iklan yang durasinya cukup panjang namun membosankan. Cuma mengganggu jalannya siaran (namun -aku faham- kalau tak dijalankan, pendapatan stasiun TV bersangkutan pula bisa terganggu). Walau pun, terkadang ada juga sejumlah iklan cukup menarik. Misal saja iklan sebuah minuman yang mereknya mirip-mirip lapisan ozon. Aku suka dengan aransemen jingle iklan tersebut. Juga gerakan flashmob rame-rame dalam salah satu iklannya. Meski iklan tersebut tak bisa juga membuatku jadi pengonsumsi minuman isotonic mereka yang katanya bernutrisi.

Diantara sekian iklan, selain ada yang cuma menyampaikan eksistensi produk mereka, ada juga iklan yang coba-coba bicara soal moral. Gagal tersampaikan atau tidak, itu urusan belakangan. Masih ingat dengan iklan-iklan ala rokok A Mild yang coba menyentil budaya “kalau bisa dipersulit ngapain dipermudah?” dalam birokrat? Atau iklan produk rokok lain tentang jin berblangkon yang mempopulekarkan istilah “wani piro?” dalam masyarakat? Itu termasuk sejumlah iklan menarik. Menurutku, tentu saja. Subjektif.

Nah, kemarin waktu iseng mengintip Youtube, aku mendapatkan sebuah iklan dari luar yang belum pernah kulihat muncul di TV swasta Indonesia. Sebuah iklan bagus dan kocak lainnya. Kukira, kalau iklan ini dipoles untuk Indonesia -dengan asumsi ada produknya beredar di negara yang mengaku berpancasila ini- mungkin akan tampil dalam bentuk adegan-adegan lain yang lebih kental dengan unsur Indonesia. Dengan budaya menghakimi, baik secara individu atau pun massal yang kadangkala jadi sumber kerusuhan di republik ini. Iklannya begini:

Lucu? Menurutku, mungkin tidak menurut yang lain. Tapi aku juga merasa tersepak dengan iklan luar ini. Cukup mengganggu juga mengingat diri kadang-kadang terbawa tipuan mata, untuk bisa menghakimi orang lain karena melihat dari luar, dari tangkapan pandang yang bisa sering menipu, walau mungkin vonis penghakiman itu cuma berkelebat dalam pikiran saja. Ini iklan cukup bagus untuk membuat senyum ketawa, baik karena mengetawakan adegan iklannya atau mengetawakan diri sendiri. Hehe.

Iklan

2 thoughts on “Pesan Dalam Sebuah Iklan

  1. Hahaha. Lucu sih lucu. Tapi kita yang ngalamin jadi korban salah sangka kadang lucunya terasa setelah berlalu. Ibaratnya kita nolong perempuan yang sempoyongan lalu semaput tapi yang terpotret adalah seorang lelaki sedang memeluk seorang wanita dan memegang payudaranya. Di Amerika pernah ada seorang senator yang dikabarkan menangis saat berkamapnye, dengan bukti foto segala. Padahal yang terjadi matanya terkena butiran salju.

    Sitcom ketika meyangkut orang lain jadi lucu, tapi kalo kita jadi korban jadi ngeselin 😀

    BTW, Penggiringan visual pernah dilakukan sebuah TVC kita tentang Idul Kurban. Lelaki berhamburan dari rumah membawa senjata tajam. Misalnya kemasan videonya dibuat berefek amatir pasti dikira berita kerusuhan 😀

  2. 😆

    Nah itu. Lucu saat melihat, dan sinis saat menghakimi. Posisi antara pelaku dan penonton memang subjektif benar. Kawanku pernah ngeluh, dia beli rolling paper alias kertas sigaret, untuk jaga-jaga kalau rokok ketengannya patah (maklum, biasanya naroh rokok dalam saku kemeja atau saku di bagian lutut celana panjangnya. Tapi malah dikira mau beli kertas itu untuk nyimeng. Padahal, tak pernah seumur hidupnya dia hisap ganja. WH dan Satpol PP di Banda Aceh dulu pernah juga ceritanya salah ciduk. Ada perempuan yang kerja di mall pulang telat, angkutan tak ada. Kawannya lewat satu kuliahan lewat, laki-laki, dan menawari untuk diantar. Malah disangka sedang transaksi di jembatan, karena kebetulan mall Pante Perak itu dekat jembatan panjang di seberang depan Baiturrahman. Wah, ngamuk kabarnya si lelaki waktu itu. Sampai dilerai sama prajurit AU yang messnya dekat situ.

    Ah iya, iklan dengan orang-orang ngasah golok dan bermuka garang itu memang menggiring penonton juga untuk salah berasumsi 😆

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s