Cinta Itu Memang Harus Memilih

Cinta itu memang harus memilih. Dan memilih itu mestilah faham ada konsekuensi. Ada lebih dan kurang. Ada baik dan buruk. Ada senang dan ada kecewa. Ini hukum alam. Dunia memang tak sesempurna harapan kita, tak juga apapun pilihan kita.

Dan dalam perkara “cinta harus memilih” ini, sungguh benar nyanyian Pance yang berjudul “Di Saat Kau Harus Memilih“, yang mengakhiri sebuah postinganku tiga hari yang lalu. Pance begitu bijak melagukan lirik menyentuh kalbu itu…

Malam ini coba kau renungkan
Di saat cinta harus memilih dalam hatimu.
Jangan kau coba membagi kasih sayangmu.

Suatu hari akan ada tangis
Bila kau masih mendua hati
Membagi kemesraan.

Dan semalam pun, kurenungkan kembali sosok yang sudah setia menemaniku selama ini, sambil memandangi sosok lain di layar monitor komputerku. Sosok yang beberapa hari ini sempat menggeser sosok yang sudah lama setia itu. Sosok setia yang pernah berkata penuh manja…

Ah. Kesetiaan ituh...

Sungguh pilu dan berdosa rasa hatiku. Betapa bertahun waktu berlalu, dalam susah senang kami selalu bersama. Berlembar halaman di alam maya ini sudah kami singgahi berdua. Berlusin file bajakan sudah pernah kami copet bersama, laksana masa kanak-kanak bergelak-ria mencuri mangga di kebun warga desa. Tak peduli dosa, riang bahagia. Semalam, rasa berdosa aku meninggalkannya. Mempoligamikannya dengan sosok lain yang kukira akan begitu peduli padaku, akan menjaga rahasiaku tapi rupanya tidak. Aduhai. Hingga sempat kucurhatkan dia dengan sobatku, Salman Al Farisi Al Java Debian Begitulah kala rembulan telah lewat separuh malam, melalui sebuah layanan pergunjingan bermerek Yahoo! Messenger.

Lama kurenung-renungkan juga apa yang sudah kulakukan, apa yang sudah kupostingkan agak 3 hari yang silam. Sementara sebuah lagu Aceh bertema serupa terputarkan pula di kamarku, melengkapi sesalku. Sebuah lagu Aceh era 90-an berjudul “Di Antara Dua Pilehan“, yang liriknya tak kalah menghunjam kalbu bak lagu Pance yang kusebut-sebut di atas itu. Lirik yang kira-kira terjemahannya begini:

Di antara dua pilihan
Bisikan hati jingga
Aku hendak memilih setangkai bunga
Dalam karangan dua

Bunga melur putih berkarang
Sama cantik dengan bunga melati

Bukan salah mata memandang
Bukan salah bunga berwarna
Cinta terbelah dua
Hati cuma satu
Jodoh tak ada dua

Aduhai. Dalam nian kena di hati. Betapa silap diri hendak menduakan hati. Hendak menyandingkan dua pillihan dalam satu hati. Sungguh sebuah kenaifan, cuma karena terfana akan fatamorgana yang fana. Terbuai dengan segala bujuk-bujuk muluk akan betapa lincah sosok baru yang lama merayu-mengajuk, akan begitu enak melenggang membawa diri melanglang jagad mayapada ini. Begitu cepat, begitu halus, begitu oh yess lah pokoknya.

Padahal, sosok lama sudah terbukti lekat di hati. Meski kadang, jika dia sedang menyebalkan, tergerus rasa memori. Hingga, seperti kataku di postingan nan lalu, bahkan hilang nikmat mendengarkan lagu. Sengsara Rihanna dibuatnya, bersebab memori nyaris putus untuk melantunkan nyanyian bagus. Rasa-rasa suara Rihanna begitu memprihatinkan, seakan rusak pita suaranya diterjang komplikasi TBC, Asma dan kelelahan berpuasa tiga purnama. Tapi, dengan tingkah polahnya seperti itu, dialah pilihanku sejak dulu. Yang baiknya, tak bisa lekang segampang kemarau setahun pupus dihapus hujan sehari. Yang buruknya, mestilah dimaklumi, dan kalau sudah rusak, mestilah diperbaiki.

Itu pula yang tak kulakukan. Malah, dengan tak tahu diri, kuduakan hati, kubikin kamar baru untuk sosok lain, berdampingan dengan dirinya laksana film “Sepondok Dua Cinta“, yang pernah diperankan Didi Petet, Marissa Haque dan Eva Arnaz, di bawah garapan M.T. Risyaf. Betapa kejam, demi sebuah berahi agar imajinasi melanglang cepat dan kencang sampai menggelinjang, sosok lama kutinggalkan pergi melenggang. Kalau kukenang, kulihat lagi dirinya, rasa-rasa tertusuk dalam hati…

Bukan, Bro... Ini bukan soal sate, Bro...

Kisah “cinta harus memilih” ini bukan soal cinta betulan, bukan pula perkara sate  meski ada kata “tusuk” dalam postingan ini. Ini soal yang kemarin juga: soal browser.  Ini soal menduakan Mozilla Firefox dengan Google Chrome.

Sudah tiga hari berlalu sejak postingan itu kumuncratkan panjang-lebar macam para bapak-bapak menyajikan segudang dalih pada masyarakat dan bini tuanya, kenapa dia harus berbini dua, tiga atau empat. Begitu pula aku: sudah tampak jelek Mozilla Firefox di mataku, persis laki-laki di usia puber kedua, lalu mata binal melirik kian-kemari. Dan, umpama lelaki sudah membentengi diri dengan segudang dalih, pakai ayat pakai hadist pakai alasan, kalau perlu pakai pidato soal PP 10 tahun 1983 jo PP 45 tahun 1990; aku pun memberikan segudang dalih kenapa berpaling mata ke Google Chrome beberapa hari yang lalu. Segudang dalih demi pembenaran niatku hendak mencicipi seperti apa rasa kencang-mulus-menggelinjang Google Chrome akan memuaskan berahiku untuk menjelajahi tiap relung-relung kenikmatan di internet ini.

Namun, ibarat orang beristri dua, sudahlah mengkhianati rasa hati istri pertama (bahkan kalau perlu istri tua didesak ridha di bawah dalih agama dan budaya), dapat pula istri muda tak elok perangainya. Istri muda yang biasa mengintip kemana saja kau pergi, lalu mengumpulkan data-data dimana dirimu berada, dan menjualnya jadi informasi kepada siapa yang butuh, laksana kisah double agent dalam dunia intelijen. Sementara istri tua sudah menandatangani perjanjian untuk memberikanmu kebebasan, tidak akan menguntit-nguntit, si istri muda malah menolak menandatangani perjanjian tersebut. Dia cuma memberikanmu sebuah anak kunci “Keep My Opt-Outs“, sebuah anak kunci canggih dimana kau bisa mengunci pintu pagar agar dia tak keluar membuntutimu. Dia bahkan berikan kau semacam pernyataan pribadinya untuk membuatmu percaya, namun tak menjamin dia tak akan mengintaimu dari balik pagar. Bersebab gembok ada di tangannya.

Semacam itulah kira-kira merana aku dalam tiga hari berlalu sejak kuelu-elukan dia, meski sudah terlambat tiga tahun dari pengguna fanatiknya yang lain. Laksana orang yang dulu anti-Apple kena dakwah Apple Evangelist, lalu merasa bahwa menjadi pengguna produknya, tercerahkan, update, lalu pasrah dicopot kebebasan demi dianggap modern di dalam sekte Apple, begitulah aku beberapa hari ini.

Siapa peduli kebebasanmu di dalam kuil iTunes? Stay silly, stay foolish.

Kucoba serahkan kepercayaan pada Google Chrome, cuma untuk menyadari bahwa dia tak sesempurna bacritan para fanatikusnya.

Misalkan saja, kala aku hendak melakukan ritual unduh-mengunduh (mumpung PIPA sangkakala SOPA belum jadi ditiup membawa kiamat dunia maya), adalah hal merepotkan untuk berurusan pula dengan segala download manager dengan menggunakan Chrome. Dari Free Download Manager, Orbit Downloader, Download Accelerator Manager, dan juga FlashGet, tak ada yang berjalan dengan baik di jalan yang benar lagi lurus. Dan di OS BlankOn-ku, yang berbasis Ubuntu pun, Chrome dalam bentuk Chromium, tak berjalan dengan elok. Binasa karena adblock setitik, persis kasus di sini. Bengong karena Youtube sebelanga, macam kasus di sini pula.

Oke. Chrome memang berjalan cepat. Memori hemat. Kalau buka situs, meski pun terkutuk jadi fakir benwith, tak terasa begitu sulit. Tampilan sederhana, kecepatan jaya. Oke. Berbagai ekstensyen di Chrome menarik. Tapi itu belum cukup menarik untuk membuatku berpaling hati habis-habisan. Dan yang paling penting, salah satu hal yang membuatku betah untuk memakai Firefox dengan segala sikap ngambek, boros dan egoisnya, adalah kesediaannya untuk melindungi privasiku. Benar, di internet tak ada privasi mutlak. Tapi setidaknya, aku jadi faham alasan kenapa Tor dan Jondo menggunakan Firefox sebagai browser oprekan mereka, bukan Google Chrome: karena privasi. Aku tak mau menukar segala informasi yang kukirimkan via browser dengan iming-iming kecepatan dan kelembutan belaka. Ini salah satu alasan yang mungkin terdengar idiot diantara kelakar 5 alasan kenapa awak mesti hati-hati soal Google, tapi aku cukup peduli soal ini. 😎

We are no evil don't fear. We have the ads you must see. We've created your world. Like in tales you have heard.

^Lagu Celesty Dreams dalam nada Orwellian^

Tapi… Google itu memiliki moto “Don’t be evil“. Mereka tak mungkin ja-at… 😦

Ha? Begitukah?

Eric Schmidt, sang CEO Google pernah bersabda, “If you have something that you don’t want anyone to know, maybe you shouldn’t be doing it in the first place.” Dan makna sabda itu bagi sebuah korporasi yang mencari rezeki dengan menggunakan data para netter, tersirat terang-benderang di dalam Terms of Service mereka:

11.1 You retain copyright and any other rights you already hold in Content which you submit, post or display on or through, the Services. By submitting, posting or displaying the content you give Google a perpetual, irrevocable, worldwide, royalty-free, and non-exclusive license to reproduce, adapt, modify, translate, publish, publicly perform, publicly display and distribute any Content which you submit, post or display on or through, the Services. This license is for the sole purpose of enabling Google to display, distribute and promote the Services and may be revoked for certain Services as defined in the Additional Terms of those Services.

Google tetap saja sebuah korporasi. Mereka -seperti korporasi global lainnya- tetap saja berkehendak meraup sebanyak mungkin uang di bumi ini. Dari bisnis mesin pencari? Bukan. Tepatnya dari iklan. Di tahun 2009 saja, 97% pendapatan mereka berasal dari iklan yang disuapkan kepada para netter. Ini sebab kenapa plugin atau ekstensyen untuk memblokir iklan, serta kenapa perjanjian untuk menerapkan fitur Do Not Track (yang ada dalam berbagai browser seperti Firefox, Internet Explorer dan Safari), justru sulit mereka terapkan di browser rancangan mereka.

Moto “not be evil” tak membuat mereka lebih suci daripada Coca-cola yang berslogan “open happines” atau “buka semangat baru” yang maknanya tak lebih dari bujukan agar kita membuka dompet kita untuk mereka. Ini sebenarnya poin awal yang kusebut di postingan terdahulu, pernah membuatku tak nyaman memakai Chrome. Aku yang pernah membuat postingan soal Permen Konten, aku yang mengapresiasi keberadaan Tor dan Jondo, dengan alasan untuk mencicipi sedikit kebebasan tersisa di internet yang tak bisa tidak macam Lembaga Pemasyarakatan Panopticon ini, lalu hendak menyerahkan segala informasi melalui browser dari korporasi yang di bulan Mei tahun lalu baru saja merilis data mining engine-nya? Oh, tidak. 😛

Baiklah. Jadi kau sudah menyuguhkan sekian alasan soal Google Chrome. Lalu kenapa kemarin kau pakai? Lalu apa?

“There is no such thing as a moral or immoral browser; browsers are well coded, or poorly coded. That is all.”
~ Oscar Wilde on Mozilla Firefox

Ya, tak ada istilah browser yang immoral dan yang tidak. Dengan menggunakan Firefox pun, layanan seperti Bing dan eBay bisa merekam-curi juga aktivitas internet kita. Aku juga faham benar itu. Gagasan begini pula sempat jadi alasan pembenar kenapa kemarin sudi meminang Chrome di komputerku. Aku mencoba berpoligami dengan Chrome, dan sudah terang-benderang alasannya di postingan terdahulu. Namun, semalam sudah insyaf lah aku, betapa perkara begini bermakna kesetiaan sedang diuji. Entah macam mana setega itu aku meninggalkan Firefox yang sudah bertahun setia menjalani hari-hari bersama. Bahwa memorinya rakus, dan menjadi gemuk laksana pacar lama menua memberat badan di kemudian hari, mestilah diterima dengan apa adanya, dan dibawa berdiet agar kembali memesona. Sehingga bisa tampak cantik kembali untuk melihat betapa cantik 10 pesona yang membuatnya masih lebih baik dari Chrome.

Ya. Aku kembali ke Firefox! 😎

coming back to you. oh.

Semalam aku memutuskan hubungan dengan Chrome dan kembali menggunakan Firefox. Meski harus sedikit repot untuk ber-“about:config”-ria, mengutak-atik value pada beragam filter di sana, dan memasang Memory Fox demi memastikan suara Rihanna di laptop tak terganggu lagi. Aku menghapus instalasi Chrome, bahkan lebih dari itu: untuk memastikan jangan ada godaan kembali -setidaknya dalam tempo dekat ini- aku membuang installer-nya sekalian. 😈

Pada akhirnya, memang tak ada browser yang terbaik atau tidak. Tapi, secara komunitas, aku masih lebih menaruh kepercayaan pada Komunitas Mozilla. Dan seperti kutipan mengada-ada dari Oscar Wilde di atas sana, pada akhirnya bukan perkara evil tak evil sebuah browser, namun perkara elok atau tidak dikodekan. Firefox memang busuk sejak menggelar program update cepat mereka. Tapi setidaknya masih bisa dioprek para end-user baik dengan kemampuan sendiri atau menggunakan add ons yang sudah tersaji.

Jadi demikianlah. Aku kembali pada Firefox. Kesetiaanku memang diuji, tapi terbukti memang cuma Firefox di dalam hati. Cinta memang harus memilih. 😳

*halah*

Iklan

15 thoughts on “Cinta Itu Memang Harus Memilih

  1. Tulisan panjang khas Bang Alex….. *elap keringat di kening*

    Kalau saya memang lebih sering pake Firefox, Chrome hanya sesekali saja.. 🙂

  2. Udah berabad-abad ngga pake FF, bahkan sebelum ada Chrome. FF saya tinggal demi Opera, dan sekarang Opera saya tinggal demi Chrome. Alasan pindah cuma satu; SPEED……. 🙂

  3. @ Zukko

    Tulisan panjang khas Bang Alex….. *elap keringat di kening*

    *njleeb*

    Ma… maafkan… 😳

    Kalau saya memang lebih sering pake Firefox, Chrome hanya sesekali saja.. 🙂

    @ Nando

    Udah berabad-abad ngga pake FF, bahkan sebelum ada Chrome. FF saya tinggal demi Opera, dan sekarang Opera saya tinggal demi Chrome

    Waduh, sampai “kawin-cerai” dua kali :mrgreen:

    Alasan pindah cuma satu; SPEED……. 🙂

    Kalau dibandingkan soal kecepatan ini, memang mesti diakui bahwa Firefox berada di bawah Opera dan Chrome. Urutannya Firefox -> Opera -> Chrome, kalau menurutku.

    Aku juga penggemar Opera, tapi lebih untuk versi mobile. Sementara untuk versi desktop agak sedikit menyebalkan karena. Opera itu caching-nya agresif banget, tidak peduli dengan standar HTTP. Dan dalam help manualnya dijelaskan bahwa “”When you revisit webpages, Opera normally asks for new versions even though most web content is not updated very often. Checking for changes less often may speed up browsing.”. Ini menurutku tidak baik, dengan membebani komputer untuk menyimpan cache begitu agresif.

    Chrome, sebaliknya. Cepat dan masih mempedulikan standar HTTP. Bagusnya lagi, dia membagi alokasi memori per tab, bukan per window. Sehingga kalau satu tab ngadat, tab lain masih jalan. Sejauh dipakai untuk nge-browsing, Chrome bolehlah jadi andalan. Tapi bagiku browser lebih dari sekedar ngebrowsing. Juga untuk iseng-iseng ngoprek php, untuk hobi lah. Subjektif sih memang :mrgreen:

  4. @ Aulia

    panjang sekali ini cerita seperti lapak di setiap hari ku lihat di pajak 😆

    Itulaaaahh.. entah kenapa bisa sepanjang itu. Padahal cuma membual soal browser saja 😆

  5. :melotot: kearah gambar terakhir…
    hwakakakk

    saya masih setia pakek si Rubah Api, lagi2 soal Speed dan user setting.. ohoho,,

    Semangat 😀

  6. hihihihhii. . .

    inti dari pilihan yaitu menyakitkan. . .
    milih yang lebih bagus yang entu tersakiti, tapi gak mungkin kita memilih yang lebih jelek kan kak?

    ditunggu backlinknya dan Salam Senyuum. . . ^_*

  7. @ Mas Bro

    :melotot: kearah gambar terakhir…
    hwakakakk

    :mrgreen:

    saya masih setia pakek si Rubah Api, lagi2 soal Speed dan user setting.. ohoho,,

    Ho oh. Lagi-lagi soal Speed juga itu :mrgreen:

    @ jarwadi + jarwadi MJ (@jarwadi)

    i ❤ chrome
    🙂

    i love firefox sajalah 🙂

    btw, satunya kok masuk akismet ya? 😕

    @ sianakdesa

    izin nyimak aja bang 😀

    Silaken 😎

    @ Irfan Handi

    Masih setia dengan si ekor api Bang. 🙂

    ekor api emang masih hot 😳

    @ Idah Ceris

    inti dari pilihan yaitu menyakitkan. . .

    Iya. Bisa hingga relung hati…
    *tsaaah*

    milih yang lebih bagus yang entu tersakiti, tapi gak mungkin kita memilih yang lebih jelek kan kak?

    Iya sih emang. Tapi kalau yang dulu bagus lalu jadi agak jelek, rasanya gak enak saja ditinggalin 😳

    ditunggu backlinknya dan Salam Senyuum. . . ^_*

    Salam senyum juga ^___^

  8. Ahahaha.. Mendua yang maha jahanam mendayu-dayu-nya.. wakakak..

    Kata mozilla: wellcome again tua bangka nan bijaksana.. Ahahaha.. 😛

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s