Balada Kantor Pos

Waktu masih sekolah dulu, terutama saat duduk di SMA, dan sedang melakonkan peran anak baik-baik yang menganggap bahwa tidak sepatutnya anak sekolah keluar dari pekarangan sekolah dengan cara memanjat pagar, maka hal yang kulakukan adalah mendatangi guru piket dan meminta izin untuk keluar sebentar. Biasanya ini memang untuk urusan-urusan yang masih bisa ditolerir pihak sekolah, terutama sang guru piket. Alasan untuk pergi ke Bank, misalnya. Atau menjenguk kawan sakit (biasanya beberapa orang atas nama kelas, lengkap dengan sumbangan dari seisi kelas). Pokoknya urusan-urusan yang menjadi alasan untuk membuat sang guru piket yakin bahwa sang siswa akan kembali ke sekolah lagi, sehat wal afiat tak kurang suatu apa pun juga.

semacam ini kira-kira penampakan guru piket di SMA-ku dulu

Di antara sekian alasanku dulu, salah satu diantaranya adalah pergi ke kantor pos. Dan ini termasuk alasan yang gampang diterima. Karena cukup menunjukkan ada surat hendak dikirimkan, atau ada wesel hendak diurus, biasanya buku besar bak buku akutansi di meja piket itu akan segera dibuka untuk menuliskan siapa nama sang siswa, dan kelas berapa dia bercokol. Lengkap dengan dicantumkan apa urusan si siswa hendak keluar dari gerbang penjara pendidikan itu, yang menurut kebijaksanaan sang guru tidaklah layak dihalangi atas nama kemanusiaan dan keadilan sosial di Republik Indonesia. Apalagi mungkin menimbang, bertahun-tahun sekolah, sudah terlalu jenuh terpenjara sejak masih SD begini.

contoh anak-anak SD terpenjara, sorot mata penuh rindu akan kebebasan semu

Kenapa “ke kantor pos” jadi alasan mudah?

Karena zaman itu masih lazim orang ke kantor pos. Dan surat-menyurat di kalangan siswa juga bukan hal yang aneh dan langka. Dari surat cinta monyet sampai cinta kingkong, dari surat dalam negeri sampai dari negeri Hongkong. Meski tak semua siswa di masaku itu hobi surat-menyurat, namun setidaknya satu hari dalam satu minggu, ada saja surat tiba ke sekolah untuk para siswa. Biasanya, karena sekolah kami tak ada kotak surat, dititipkan ke ruang Tata Usaha sekolah oleh pak pos yang baik hati, sederhana dan bersahaja di atas sepeda motor warna jingga. Kalau siswa penerima surat itu ruangan kelasnya agak di pelosok sekolah, maka TOA sekolah akan berkumandang, mengabarkan ke sekalian penjuru alam bahwasanya seorang siswa di sekolah kami itu sudah mendapatkan sepucuk surat dari seseorang di negeri nan jauh di mata dekat di hati. Ini bahasa tidak mengada-ada. Salah satu guruku yang iseng dan suka berkelakar begini ada di masa SMA-ku dulu. Namanya Pak Alimi. Guru Ilmu Sosiologi. Orangnya berkumis sangar, tapi suka bercanda. Ibarat durian: berduri di luar, berdaging di dalam. Wakil kepala sekolah. Kalau tegas, tegas juga. Makanya disegani sekaligus disukai.

Nah, coba anak sekolah jaman sekarang bilang ke kantor pos sebagai alasan. Mungkin akan jadi hal yang aneh terdengar. Aku pernah bertanya pada adik sepupuku yang masih SMA, apakah dia pernah minta izin jam sekolah untuk ke kantor pos. Jidatnya mengerut dan malah balik bertanya, “Ke kantor pos? Ngapain?”

Tentu aku tak berani nian menghakimi pasti apakah benar begitu anak sekolah zaman kini. Ini cuma asumsi belaka, bersebab di zaman teknologi begini, jangankan generasi kini, bahkan generasi kami pun sudah pikun soal layanan surat-menyurat yang satu ini. Misalkan saja, agak siang tadi. Selepas dzuhur, saat aku hendak pergi ke kantor pos, untuk menuntaskan rasa penasaranku bersebab suratku belumlah sampai-sampai di pangkuan istri terkasih di pulau seberang sana.

Di gerbang pagar, saat aku sedang mengeluarkan sepeda motor, seorang kawanku lewat. Satu angkatan. Selisih satu tahun lah. Nah, dia pun berhenti. Agak lama tak bersua. Bincang-bincang. Basa-basi soal rencana kapan akan menunaikan ibadah ngopi-ngopi. Dia pun bertanya aku ini hendak kemana. Kujawab “ke kantor pos”, reaksi dia sama persis dengan adik sepupu dulu: Ngapain?

Aku mencengir. Dimana-mana orang ke kantor pos itu urusannya ya sekitar surat-menyurat, wesel, giro, kirim-kiriman. Tak mungkin untuk ngecek  tensi darah, kataku. Dia malah ketawa. Heran dia. Masih ada orang mau bersurat di zaman begini, katanya. Aku cuma tergelak dan menyepak pantat sepeda motornya, mengusirnya lekas-lekas dari pagar rumahku.

Begitu sampai di kantor pos Blangpidie, yang tak seberapa jauh dari rumahku, terpikirkan juga lagi gelak tawa kawanku itu. Masuk ke pekarangannya, dan menemukan pintu bertutup, dan di loket dimana bisanya orang berurusan ada palang sedang diturunkan tanda tiada pegawai di balik palang itu, aku jadi maklum sekaligus tercenung dengan ucapan kawanku itu. Suasana di kantor pos itu kira-kira mirip dengan apa yang dijepret Paman Tyo dalam salah satu postingannya.

Awal perkara kenapa aku bertandang ke kantor pos adalah bersebab seminggu nan silam, aku berkehendak mengirimkan surat pada istriku di pulau seberang. Bersebab di pagi itu mataku terasa mengabur karena kantuk sebab begadang malamnya, dan adik angkatanku pas nian datang ke rumah hendak mengambil flash disk-nya yang tertinggal, serta berkisah bahwa dia hendak ke kantor pos untuk menunaikan misi yang diembannya sebagai pegawai KUA (entah berkirim surat kantor atau mengirimkan surat putusan cerai, tidaklah kutahu); maka kutitipkanlah sepucuk surat cinta-penuh-rindu-berkabar-pada-istriku ke dalam tangannya. Bersama dengan itu juga kuselipkan lembaran rupiah untuk pembeli perangko, dengan pesan: kalau ada perangko kilat, bahkan kalau perlu neneknya kilat, kau hajarkan saja. Dia mengangguk. Dan aku pun menyerah pada kantuk.

Dua-tiga hari berlalu. Aku dan istriku sudah sama-sama maklum, bahwa surat tak akan sampai secepat kilat. Namun, seminggu berlalu, dan surat belum juga tiba di sana. Sampai istriku bertanya, mengira ada salah-salah kode pos kutuliskan. Kurenung-renungkan pula, sempat khawatir bahwa bukan kode pos kutuliskan, tapi kode pemrograman PHP. Tapi, akal sehatku menolak kekhawatiran ini, bersebab dalam salah satu memo di ponselku, jelas-jelas tertulis kode pos di sana, dan aku belum lupa menuliskannya dengan deretan angka serupa: 16124.

Kekhawatiranku mencuat kemarin lagi. Teringat bahwa beberapa hari nan silam, sebelum istriku bertanya perihal surat belum sampai kepadanya, aku ada bertemu anak kampungku yang mengabdi di kantor pos sebagai tukang antar surat. Di siang itu, aku pulang dari toko dan melewati kantor pos tersebut. Dia memanggilku dan aku pun mampir. Bicara soal rencana kegiatan acara di kampung, mulai dari sepak bola sampai ronda jelang pilkada. Iseng aku bertanya, apa yang sedang diperbuatnya pada bis surat yang diletakkan di depan kantor pos itu. Oh. Rupanya dia sedang mencoba membuka bis surat itu. Hendak memeriksa, adakah insan-insan di daerah kami yang masih silap mempercayai kantor pos sebagai media bertukar kabar. Sebab, jarang-jarang sudah orang berkirim surat. Lebih jarang lagi mencolokkan surat ke dalam bis surat. Sehingga, terkadang bisa seminggu sekali baru dia buka, karena pesimis dengan isinya. Seperti siang itu. Namun rupa-rupanya, kunci gembok di siang itu sedang tak elok. Susah dia buka. Mungkin salah anak kunci. Mungkin sudah kelewat berkarat, kelakarku. Dan aku pun berhembus dari situ. Sama sekali tak ingat bahwa -jika adik angkatanku yang kutitipi surat itu memilih mencolokkannya ke dalam benda yang sama- mungkin ada pula suratku masih bersemayan di sana. Di dalam bis surat itu.

semacam ini bis surat itu. tua bangka sudah.

Itulah sebab, tadi siang aku bertandang ke kantor pos. Demi suratku. Sekalian pula hendak mengeposkan surat satu lagi. Tapi yang kudapati memang suasana lengang. Sudah lama memang begitu. Dalam beberapa kali aku ke kantor pos selama ini, seperti pernah kusinggung di postinganku dahulu, kantor pos memang sudah macam kantor jasa pengiriman barang. Jarang orang berkirim surat. Di dindingnya, di dalam kantor pos itu, sebuah poster iklan tentang majalah Sahabat Pena, sudah usang dipermak usia. Wajah gadis remaja yang jadi sampul di majalah yang diiklankan itu, mungkin kini sudah tua dan sudah beranak dua. Pegawainya? Bisa dihitung jari jumlahnya. Tak sampai sepuluh orang nampak dalam ruangan itu. Ada lima orang saja sudah tampak banyak. Berbeda jauh dengan kantor bank, bahkan BRI unit desa sekali pun, yang jauh lebih ramai.

Anak kampungku yang jadi tukang pos itu, sekali waktu dalam pesta kenduri di kampung kami, memang pernah bercerita soal sepinya kantor pos itu. Juga soal gengsi pekerjaan. Dulu, pekerjaan sebagai Tukang Pos, cukup dihormati. Berguna bagi umat, dan gaji pun cukup bermanfaat. Bahkan, di era 90-an, sampai ada lagu dangdut dibuat, untuk dipersembahkan kepada para Tukang Pos yang sudah menyukseskan hubungan kasih-mesra anak manusia di zaman itu, melalui pengabdiannya menyampaikan surat-surat. Surat adalah media yang pernah begitu mulia, di kala SMS dan Email, dan segala sosial media tidak bikin sial dunia persurat-suratan. Begitu sakti dan berliku perjalanan sebuah surat demi menyampaikan curahan hati sang penulisnya. Baik antar kota, antar propinsi, atau malah antar negara. Tukang Pos laksana Dewa Hermes dalam mitologi Yunani, surat dari kota besar ke desa kecil di pelosok nun jauh di balik gunung dan lembah bersungai dalam, siap mereka antarkan.

Dewa Hermes sedang mengantarkan pesan

Dulu, musuh dalam pengabdian para tukang pos ini, adalah musuh-musuh berwujud fisik. Jarak tempuh yang sulit. Atau penerima surat yang pelit, menerima surat tak berperangko atau paket yang kelebihan beban dan bersitegang tak mau membayar tapi mau terima surat atau titipannya. Belum lagi dengan cuaca, dan binatang piaraan manusia yang terkadang makanannya lebih mahal daripada makanan manusia biasa ini:

Tapi kini tidak lagi. Aku sendiri sudah jarang melihat tukang pos berkeliaran di depan mataku. Di jalan-jalan di kota kecilku. Para pekerja dengan seragam warna jingga oranye bak seragam timnas Belanda itu, menjadi sosok yang asing dan begitu mengibakan hati karena masih bertahan di zaman internet ini. Mereka menjadi seperti legenda-legenda tentang sosok pembawa pesan dalam medan peperangan, ketika zaman teknologi seakan sudah menjadi Skynet dalam film-film Terminator, yang kemajuaannya menggerus kemanusiaan, memudahkan kehidupan sekaligus mempercepat kebosanan, dan pelan-pelan membunuh keberadaan mereka yang pernah jaya. Rotasi perabadan. Satu kebudayaan muncul akan menggilas kebudayaan yang lain. Satu zaman berputar, zaman yang lampau pun memudar. Sudah sunatullah, alias hukum alam, kata orang bijak.

Kukira juga memang sudah begitu. Mau protes apa? Arah gerak zaman diluar kehendak kita. Setidaknya, kantor pos masih bertahan, ketika orang sepertiku ingin mencicipi sedikit bumbu masa lalu, di kala rekan sezamannya sudah karam seperti nasib jasa telegram.

Apapunlah. Besok aku mesti kembali ke kantor pos. Memastikan suratku itu. Kalau tidak bisa berabe. Aku bisa jadi sosok langka di sini: ketika KUA kecamatan dipenuhi sengketa soal isu selingkuh bersebab ada sms mencurigakan dan kecemburuan tak berujung bentuk karena membaca status fesbuk, aku bisa nampak mengharukan sendiri nanti: digugat istri karena surat dianggap tak terkirim, padahal mungkin sudah sesat ke Timbuktu atau malah masih dalam bis surat yang sudah uzur itu. 😆

Iklan

13 thoughts on “Balada Kantor Pos

  1. ada pembahasan soal majalah pena juga dalam tulisan ini, dulu majalah itu sering saya baca, bahkan berlangganan saat SD, menganggap punya sahabat pena itu keren, sama kerennya saat mengirim atau mendapatkan surat.
    3 minggu yang lalu saat saya ke kantor pos, sepi sekali rasanya. hanya ada 4 orang petugas. 2 orang pengunjung termasuk saya.
    tapi inilah jaman kita dengan segala kemajuan, pesan bisa sampai dalam hitungan detik, sudah tidak se-keren dulu pak pos kita.

  2. Kantor Pos ditempat saya malah semakin ramai apalagi tanggal muda. 🙂
    btw,Kasihan bapak yang bergelantungan itu Bang.
    Sungguh perjuangan yang tidak pernah maati.
    Salut buat Bapk Pos.

  3. @ Citra Taslim

    Memang keren dulu majalah Sahabat Pena itu. Isi juga lumayan informatif. Hehe.

    Rupanya banyak kantor pos bernasib sama ya? 😕

    @ S™J

    Hidup! :mrgreen:

    @ Irfan Handi

    Kalau untuk urusan gajian apalagi dana Taspen sih emang ramai. Fungsinya bukan untuk berkirim surat lagi 😀

    Iya, kasihan si tukang pos yang nyebrang pakai tali itu :mgreen:

  4. Artikel’a menarik gan..

    oiya ada yg bisa bantu saya ga???
    wordpress saya ga bisa posting, ada peringatan :

    “We have a concern about some of the content on your blog. Please click here to contact us as soon as possible to resolve the issue and re-enable posting.

    Ada yg tw solusi’a ga dan apakah akan trus bgini??
    tolong komen’a..

  5. kalau alasan idah dulu gak ke kantor pos, tapi tidur di UKS selimutan. . .
    ntar kalau udah agak keringetan terus mendatangi ruang piket dan minta pulang deeh dengan alasan sakit, pas dicek kan badannya panas.

    #karena baru slimutan. 🙂
    kak, anjingnya pinter ngomong itu ya? 😀
    maaf kak, linik Langkah Catatanku koq belum jadi sahabat kak alex ya? 🙄

  6. @ clickyudhaqirana

    Artikel’a menarik gan..

    Terimakasih 😳

    oiya ada yg bisa bantu saya ga???
    wordpress saya ga bisa posting, ada peringatan :

    “We have a concern about some of the content on your blog. Please click here to contact us as soon as possible to resolve the issue and re-enable posting.

    Ada yg tw solusi’a ga dan apakah akan trus bgini??

    Sepertinya ada konten yang melanggar TOS-nya WordPress itu 😕

    Sudah coba hubungi contact-support-nya WordPress? Kirim saja “surat”, tapi mesti pakai bahasa Inggris. Coba tanya yang kira-kira menurut mereka melanggar itu apa. Kalau nggak, akan selamanya begitu. Atau kalau kira-kira mereka mengkaji ulang kebijakan mereka, bisa saja dilepas lagi. Tapi kecil kemungkinan itu 😀

    @ Idah Ceris

    kalau alasan idah dulu gak ke kantor pos, tapi tidur di UKS selimutan. . .
    ntar kalau udah agak keringetan terus mendatangi ruang piket dan minta pulang deeh dengan alasan sakit, pas dicek kan badannya panas.

    Walah. Bandel juga ternyata 😆

    kak, anjingnya pinter ngomong itu ya? 😀

    Anjingnya itu bukan pintar ngomong saja kayaknya, tapi pintar ngejar tukang pos 😆

    maaf kak, linik Langkah Catatanku koq belum jadi sahabat kak alex ya? 🙄

    Siap! 😎

  7. Saya sudah mengirim pesan beberapa x ke pihak admin tapi blum ada konfirmasi..
    kmungkinan untuk mngembalikannya mmbutuhkan wkt slama 2 hari..
    itu menurut org” yg prnah mngalami..

    😦

  8. @ Idah Ceris

    Memang tak ada masa yang lebih maknyuss daripada masa SMA :mrgreen:

    @ clickyudhaqirana

    Kayaknya sih begiti. Kalau dulu, sering juga rekan-rekan wordpresser angkatanku kena suspen, tapi nggak lama. Mesti kirim surat ke mereka. Nanti dikasih tahu dimana melanggarnya. Kira-kira di bagian mana kamu melanggar TOS ya? Aku lihat blogmu ndak ada masalah 😕

  9. @ clickyudhaqirana

    Sesudah kulihat lagi… kayaknya karena halaman game itu deh. Tapi nggak tahu juga. Coba saja beberapa halaman dan postingan yang kira-kira melanggar TOS dihapus atau dijadikan draft saja dulu. Kali aja mereka akan kasih balik 😀

  10. Terima kasih gan atas info” anda..
    itu akan menjadi pelajaran bagi saya..

    kesalahan saya adalah yg membuat 102 post yg saya atur sbg “scheduled post” hal itu mrupakanvplanggaran krena shrusnya schduled post kurang dr 100).

    Salam Persahabatan..

  11. Memang susah di WordPress ini, Bung. Banyak kali aturannya, meski niat kita tak cari rezeki, cuma mau berbagi sedikit dari yang kita tahu. Semoga tak patah semangat 😀

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s