Cinta Gila Dan Mimpi-mimpi Nietzsche

Sejak menikah di bulan Juni tahun lalu, dan beberapa kali mondar-mandir sendiri antara Bogor – Medan – Blangpidie, mendapatkan pertanyaan tentang dimana posisi istri, dengan sorot mata heran, dan lalu memberi jawaban bahwa istri berada di pulau Jawa sana, dengan kembali mendapatkan tatapan heran; adalah hal yang seperti sudah biasa.

Termasuk ketika semalam seorang teman bertanya hal serupa. Dia keheranan, meski tidak terlalu berlebihan. Heran saja. Sebab, dia mengenalku dahulu sebagai sosok yang tidak memiliki ikatan apa-apa dengan perempuan mana pun, jika malah bukannya enggan untuk menjalin ikatan. Tidak seperti teman-teman yang lain, baik berikatan serius atau main-main belaka. Setidaknya sejak tamat SMA. Namun tiba-tiba kini sudah menikah, dan mau pula berhubungan jarak jauh, meski tak lama-lama. Beliau pesimis pada hubungan jarak jauh, sebab pernah melihat mereka yang berhubungan jarak jauh sering gagal, meski mengakui bahwa yang pernah gagal itu masih sebatas pacaran atau bertunangan. Bersebab komunikasi non-fisik, dengan cuma mengandalkan teknologi komunikasi, bagi beliau tidak jadi jaminan. Satu-satunya yang selalu berbahagia akan hubungan jarak jauh, cumalah operator telekomunikasi.

hubungan jarak jauh, menguntungkan operator telekomunikasi.

Aku terkekeh. Tidak membenarkan pendapatnya, tidak pula menyalahkan. Namanya opini, adalah sah-sah saja. Apalagi, beliau pun tidak menghakimiku. Cuma terheran-heran saja, macam mana orang yang -katanya- skeptis macamku, masih memamah-biak rasa percaya pada kata “cinta” atau setidaknya percaya pada sebuah hubungan jarak jauh begini rupa. Cinta? Dia terkekeh menyebutkan kata itu.

Aku pun tergelak pula.  “Ya karena itu…” kataku.

“Apa itu?”

“Ya, cinta itu.”

Begitulah. Cinta memang sebuah kegilaan, kataku. Dia bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Boleh jadi di satu waktu kita menolak untuk percaya. Dan di lain waktu bertekuk lutut pula. Dia seperti kepercayaan yang datang begitu saja. Baik dengan masih menyisakan kewarasan atau pun tidak. Aku lalu mencatut ucapan Nietzsche, seperti yang tertera di gambar pembuka postingan ini: Selalu ada kegilaan dalam cinta, namun selalu ada alasan dalam kegilaan. Bahkan meski alasan-alasan itu begitu subjektif dan tak masuk akal untuk menjelaskan kenapa seorang lelaki sepertiku mau menikah dengan seorang perempuan dan lalu berpisah berjauhan meski untuk sementara, meski belum setahun usia pernikahan kami.

Yoih bro!

Aku tak terlalu panjang-lebar menjelaskan soal “cinta gila” dan sabda sang filsuf sekaligus penyair yang sama-sama menjadi kesukaanku dan istriku itu (mungkin salah satu faktor kecocokan diantara ragam perbedaan diantara kami). Karena kopi sudah mau habis dan malam sudah mau larut. Pukul 10-an, aku berjanji akan menelepon istriku. Dan kami pun pulang.

Nah, ngemeng-ngemeng soal Nietzsche, aku jadi melirik kembali koleksi Nietzsche-ku, baik berbentuk buku bercetak atau buku digital. Diantara buku bertajuk Nietzsche itu, tertengok pula olehku satu ebook berjudul “Mimpi-mimpi Nietzsche”. Sebenarnya ini bukan buku karangan Nietzsche sendiri. Namun sebuah novel di internet yang pernah kutemukan, lalu kuubah dalam bentuk PDF. Aku lupa siapa yang menuliskan novel ini. Namun, saat kutelusuri mesin pencari, aku menemukan banyak rujukan soal novel ini. Salah satunya di postingan Epat. Di beberapa situs/blog yang kubaca, si penulisnya macam anonim. Cuma bertulis “novel Surgana” saja.

Ini salah satu ebook yang bagus. Sarkastis, sinis dan nihilis. Menunjukkan pengaruh Nietzsche pada si penulis yang agaknya merupakan seorang Nietzschean juga. Mungkin boleh dibilang novel ini menjadi cerminan buram dari kehidupan tatanan global dan nasional saat itu, saat dituliskan, dan mungkin juga saat ini. Yang pasti, masih layak baca. Jika tak sempat berselancar-ria di dunia maya untuk membacanya, boleh diunduh di sini saja.

10 thoughts on “Cinta Gila Dan Mimpi-mimpi Nietzsche

  1. Nietzsche? Sepertinya saya pernah dengar nama itu. Tapi di mana ya? Ah sudahlah, mungkin hanya deja vu..


    Via MebApp.com

  2. langsung meluncur ndonlot *nyungsep*
    Nietzsche ya, kehadiranya memang selalu meresahkan para pemilik bangunan-bangunan yang kokoh dan mapan😛

  3. @ Mizzy

    Nietzsche it rasulnya suamiku😆

    😆

    Kalau gimbal sih memang. Nietzschean dia itu😆

    Btw, memang konon kalau tidak gila maka tidak Cinta😛

    Amen to that😎

    @ rianadhivira

    langsung meluncur ndonlot *nyungsep*

    Silaken:mrgreen:

    Nietzsche ya, kehadiranya memang selalu meresahkan para pemilik bangunan-bangunan yang kokoh dan mapan😛

    Memang. Haha. Kalau tidak begitu, tak didaulat sebagai salah satu peletak gagasan anarkisme😀

  4. @ Iwan

    Kegilaan itu bisa temporer bisa permanen. Gila-gilaan itu seringnya temporer. The Changcuters pernah melagukan perangai gila-gilaan itu. Mungkin mereka lebih tahu maknanya.😆

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s