Kendi Kecil

Periode 2007-2009, ranah blogsfer sempat ramai, terutama di WordPress. Mungkin kalau dibanding-bandingkan, seramai keriuhan berkicau di Twitter selama ini. Hampir setiap waktu ada saja postingan baru muncul dari teman-teman di tahun itu. Dan rata-rata postingan mereka bukan sekedar update untuk menebar iklan, atau gosip soal kemben artis dangdut melorot, atau soal gonjang-ganjing politik dengan bahasa ala infotainment demi menuai komentar belaka. Tapi boleh dikatakan memang postingan yang ditulis dan dipikirkan secara matang, dengan rujukan kian-kemari, melempar trackback/pingback sana-sini, serta tautan ke bermacam ensiklopedia. Ada gagasan apapun, disampaikan dengan blog.

bahkan kalau tak bisa ngeblog apa-apa, mereka blogkan ke-takbisa-an itu

Meski, tentu saja, tak seserius itu benar, namun bolehlah dikatakan saat itu memang muncul trend berdiskusi. Terkadang berbeda pendapat sampai komentar-komentar bisa nampak panas, macam para calon wakil rakyat saling berdebat dalam kampanye demi hasrat masuk zona parlementariat. Namun saat itu ada sebuah kesepakatan bersama meski tak tertulis: sepakat untuk tak sepakat. Jadi, umpama pun dalam berbagai diskusi itu tak ada kesepakatan, tak ada bentrok-bentrok berkepanjangan. Para blogger tetap saling bertukar komentar, tetap saling sapa baik di Friendster (saat itu masih hebat layanan satu ini), di Facebook, dan juga di online messenger serupa Yahoo! Messenger atau MSN.

Namun masa yang dikenang generasi tua bangka™ sebagai golden age itu, perlahan meredup. WordPress seakan jadi tak menarik lagi. Bukan karena postingan-postingan mereka tak menarik. Sesekali, sejumlah postingan dari kaum tua bangka™ itu masih muncul di BOTD, namun sudah makin jarang. Bersaing dengan blog-blog yang menebar konten berupa crack software bajakan, isu terbaru soal nampaknya kemaluan seorang selebritis, motor keluaran terbaru yang dipropagandakan blogger yang merangkap agen motor, atau berapa angka colok bebas yang muncul dalam Togel Singapore semalam beserta prediksi blog-blog para dukun Togel untuk besok. Imbas dari munculnya trend mencari uang di WordPress juga merusak keyword, membiasakan penggunaan tag secara serampangan, dan menyesatkan orang-orang yang terkadang menjelajah blog-blog untuk menemukan konten menarik, cuma untuk mendapati blog-blog yang menjerumuskan mereka ke blog lain di hostingan lain, demi meraup uang dari iklan.

contoh wordpresser cari uang di tahun itu

Lha? Apa salahnya mencari uang dari ngeblog?

Ya, nggak ada. Kukira teman-teman di generasi itu pun tidak pernah menggugat sesiapa saja yang mencari uang, baik dengan cara kasar atau cara halus, baik dengan membuat konten ngawur atau konten bagus. Tidak juga aku. Meski, mungkin ramai di antara kami agak malas berurusan dengan “cari uang di blog” itu, seingatku tidak ada di antara kami pernah mendatangi blog-blog demikian lalu mencarut kian-kemari. Mungkin yang pernah bermasalah cuma sebatas mereka yang postingannya dibajak, diplagiat oleh oknum yang rupanya sudah kelewat mendewakan uang sampai mencuri postingan orang. Cuma sebatas itu. Mencari rezeki dan penghidupan, sepanjang tidak melanggar aturan negara dan agama, seperti mencuri, merampok dan mencopet, tentu sah-sah saja. Mencari makan mana boleh dilarang, bisa-bisa orang kelaparan.

blogger kelaparan

Cuma efek tak langsung dari fenomena demikian, memang ramai yang ngacir atau malah terkaramkan. Ini pun sebenarnya juga bukan mutlak kesalahan blogger-blogger yang datang belakangan, baik dengan postingan orisinal atau cuma mencari uang belaka. Tapi juga faktor bertambahnya usia para blogger lama yang jadi tua bangka™ itu, serta kehadiran berbagai sosial media lainnya. Seperti yang pernah kubincangkan dalam postingan terdahulu. Ada beberapa faktor utama: faktor para blogger tua bangka™ itu sendiri, serta faktor waktu dan pergantian zaman.

Aku sendiri sempat lama juga vakum menulis, dengan keyakinan luar-biasa bahwa tak ada orang-orang yang akan kehilangan tulisanku, merindukan update terbaru atau kehadiranku untuk sekedar blogwalking kian kemari. Lagipula, sama seperti rekan-rekan tua bangka™ itu, terkadang kupikir-pikir, apalah lagi hendak dituliskan? Kata perihbahasa dari negeri Mick Jagger, there’s nothing new under the sun. Perihbahasa, terasa perih tapi benar juga.

Sesekali kubuka juga blog untuk menulis. Terkadang panjang bukan kepalang, untuk memuntahkan apa-apa yang lama tertunda dalam kepala. Jika ditengok arsip bulanan di blog ini, ada bulan-bulan terlewatkan tanpa postingan, ada juga bulan-bulan yang cuma memiliki satu postingan saja. Di tahun lalu, lebih rajin aku bersiul di Twitterku daripada berlagu di blogku ini. Ya, Twitter, tempat dimana segala arus berita, gosip, pertengkaran, hujatan, unjuk kepintaran, puisi, bacrit kerinduan, bualan anggota dewan, pameran jalan-jalan, mengalir deras dan jauh bak sungai Bengawan Solo. Segala hal yang bisa diulas panjang di blog, namun dengan sukarela dibatasi 140 karakter saja. Terkadang, karena masih terbawa perangai di habitat blogsfer, diakali pula dengan ragam layanan tambahan agar bisa membobol batasan 140 batasan itu, supaya bisa bersiul merdu.

potret insan-insan twitter

Begitu jugalah aku. Sampai kejenuhan melanda. Dan aku memutuskan untuk ngeblog kembali. Tak tahu akan berapa lama. Tak tahu juga apa akan kembali menjumpai wajah-wajah lama di blogsfer ini. Itu sudah tak penting lagi. Tak juga penting atau tidak upayaku untuk memancing rekan-rekan lama kembali ngeblog. Bisa dimaklumi, bahwa kedewasaan dan usia menua, sering menjadi candu sekaligus tuba baru. Yang terpenting, aku puas melihat bahwa blogsfer baik-baik saja, seperti celotehku dalam postingan-postingan terdahulu, dengan atau tanpa generasi tua bangka™ di ranah blogsfer ini. Regenerasi terus berlanjut. Seperti sunatullah dalam hidup.

Dan bicara soal regenerasi ini…

Sekitar dua bulan lalu, menjelang akhir tahun 2011, aku membuat sebuah blog baru. Bukan untukku. Bukan juga untuk istriku yang masih enggan (repot-repot) ngungsi dari Blogspot, meski aku juga membuatkan dia sebuah blog di WordPress saat itu.

Aku membuat sebuah blog untuk adikku. Adik bungsu dari empat bersaudara dalam keluarga kami. Sesuatu yang sempat lama dimintanya bantuan, namun baru di bulan itu terwujudkan. Aku membuatkan dia, adik bungsuku yang masih duduk di SMP itu, sebuah blog beralamatkan ceritaiky.wp.com. Di sana, aku memindahkan beberapa catatan-catatan lamanya di Facebook, lalu menyerahkan blog ke tangannya.

Harapanku sederhana: dia akan rajin menulis. Dia lalu sempat membuat postingan beberapa kali. Dan sore tadi, dengan wajah mendesak, meminta dipindahkan ke sebuah blog yang baru dia bikin. Blog lama dia vakumkan. Alasan sederhana: pengen belajar dulu menulis ala kadar dan utak-atik tampilan. Meski aku tahu bahwa WordPress tak seperti Blogspot yang mengizinkan banyak kustomisasi, namun aku turuti. Biar tak patah semangatnya. Biar rajin menulisnya. Maka kubantulah dia mempercantik dan mengajarinya bagaimana memasang widget, bagaimana mengganti header, bagaimana menautkan gambar, bagaimana menautkan tulisan, bagaimana mengoprek ala kadar blog barunya di kendikecil.wp.com agar lebih enak dilihat meski dengan tema terbatas di Worpdress.

Aku turuti, karena aku tak suka mematahkan semangat orang muda. Sejak dulu. Aku tahu nian rasa tak enak dipatahkan semangat. Hal yang sama jadi alasanku meluangkan waktu mengajari adik bungsuku, dan menuruti maunya untuk pindah alamat ke blog baru. Kukira, biarpun buruk-buruk postingannya muncul, biar sajalah dulu. Akan ada proses dalam kegiatannya ngeblog nanti. Akan ada waktu berjalan seiring proses kedewasaannya kelak. Seperti lirik dalam lagu Seperti Matahari-nya Iwan Fals: “Tujuan bukan utama. Yang utama adalah prosesnya.

Sebab, dalam keluarga kami, tak ramai yang menggeluti dunia tulis-menulis begini rupa. Di generasi tua, generasi orang tua kami dan orang tua dari orang tua kami, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Salah satunya, cuma adik nenek sebelah ibu, Drs. Hasan Basri, yang sempat menjadi Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi UGM bertahun lalu. Beliau yang rajin menulis buku-buku (kebanyakan bertema psikologi dan agama), bisa dibilang salah satu motivator generasiku dan generasi yang lebih muda dalam keluargaku untuk menulis. Iky, adik bungsuku, cuma salah satu dari generasi di bawahku yang kukompori semangat menulis selama ini, selain adik-adik sepupuku seperti Nova, Arif, dan Ira, serta adik iparku, Innah.

Pikiranku sederhana saja: ini soal rotasi hidup. Soal regenerasi. Perputaran jarum sejarah, perputaran zaman. Blogger-blogger lama pergi dan hilang, blogger-blogger baru kembali datang. Daripada kuributkan soal kehilangan mereka yang dulu, kukira jauh lebih baik kukompori saja generasi yang lebih muda. Mungkin satu hari nanti mereka juga akan merasa jenuh. Mungkin juga merasa bosan. Tapi setidaknya, dengan kekurangan mereka masing-masing, mereka sudah mencoba mengisi konten di ranah blogsfer ini. Menumpahkan gagasan mereka. Segala yang kita tahu belum tentu akan mengubah gerak sejarah.

Aku cuma tak ingin mematahkan semangat orang muda. Karena orang sepertiku, yang menjadi lebih tua dari 4-5 tahun yang lalu, pernah di posisi seperti mereka. Di zaman yang lebih susah, dan tak semudah kini mencari jawab pada segala kendala. Mungkin di saat generasiku sudah bungkam dan merasa sombong bahwa semua tanya sudah mereka coba jawab, yang lebih muda akan memberi tanya dan memberi jawaban lain pula atas segala ketidakpastian di muka bumi ini. Segala pengetahuan. Segala perasaan.

Aku cuma ingin melihat mereka terus menulis. Apakah adik-adikku, ataukah mereka yang lain dan lebih muda dariku. Dengan semangat yang sama atau malah mungkin lebih dari angkatanku dulu.

Itu saja.

12 thoughts on “Kendi Kecil

  1. Ping-balik: Blogger Award Kedua | Draft Corner

  2. @ tukangkopi

    *menerawang juga*
    🙄

    @ Dana

    Memang, Dan… Sudah menua😥

    @ Zukko

    Hehehe… dia itu lebih mampu dari aku loh. Aku tak pernah di SD juara lomba-lomba menulis. Tapi di blog memang berantakan tulisannya, kali aja dianggapnya itu macam diari saja😆

  3. 😆 tuh yang lagi googling nyari kemben melorot siapa yak?
    btw, ganti cat rumah ya Om? makin Adem ajah.🙂

  4. @ Irfan Handi

    Kembennya Dewi Persik Berisik. Kan sempat heboh dulu itu soal melorotnya penutup aurat beberapa selebriti Indonesia:mrgreen:

    Iya, ganti thema ini. Rasanya memang lebih adem begini. Nggak capek juga nge-load-nya😀

  5. saya bisa merasakan kegelisahanmu. udah sunatullah memang regenerasi itu. pada 2007 pun ya sekalipun ramai, topiknya saya kira masih itu-itu aja. maksud saya, di tempat lain orang yang jengan dengan isu-isu yang sedand dibahas. sekarang pun saya males baca blog tentang ateisme. entahlah, seolah saya sudah membahasa semuanya hahahaha. tapi generasi baru akan menulis dengan semangat yang berbeda. generasi tua bangka harusnya menulis hal lain, kalau memang benar dia tumbuh. kalo enggak ya, nasib. kayak saya misalnya.😛

  6. Memang udah sunatullah itu. Dan benar, dulu pun mesti ada juga yang jenuh. Aku pun sama macam kau, hari ini sudah malas bicara segala soal atheis, religius, agnostik, atau apalah itu. Haha. Maka pilihanku menulis ya soal-soal begini saja. Pengalaman hidup sehari-hari. Segala balada kantor pos lah.😆

  7. Aku termasuk blogger tua bangka atau blogger sixpack sexy bitchy lex?

    Btw, kadang mau nulis itu gak punya waktu lex. Cok lah kau fikir, kerjaan melilit pinggang, iyah tidak hanya hutang saja.🙂

  8. Aku termasuk blogger tua bangka atau blogger sixpack sexy bitchy lex?

    Tua bangka. Tak diragukan lagi!™ sebab kau sudah ngeblog sebelum blog populer. Jangan berkelit. Kau sudah ngeblog di ilmukomputer.com sejak kapan itu?😆😆

    Btw, kadang mau nulis itu gak punya waktu lex. Cok lah kau fikir, kerjaan melilit pinggang, iyah tidak hanya hutang saja.🙂

    Aku setuju. Dengan alasan sama seperti itulah maka aku tidak berani ikutan gerakan rajin ngeposnya wordpress:mrgreen:
    Dan itu pula sebabnya kupikir memang perlulah regenerasi. Usia blogger lama meningkat, kesibukan mereka juga tidak akan seperti yang lebih muda-remaja😀

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s