Ngeblog Sejak 1984

Sebagaimana komentar dari Paman Goop, di salah satu postinganku kemarin itu, memang aku ini pernah dicap blogger nomaden. Blogger yang gemar berpindah-pindah alamat blog. Tak terhitung berapa blog sudah kubikin lalu kubunuh di ranah blogsfer ini, terutama di layanan gratisan milik WordPress.com. Beberapa dari blog isdet itu, yang kuingat, adalah ini, itu, ini, itu, serta ini dan itu. Mungkin ada selusin lebih pernah kubangun dan kurubuhkan. Selalu begitu ketika trafik blog sudah naik, dan perasaan sebagai sosok anonymous sudah terusik. Hehe.

Ya. Itu merupakan tindakan bodoh dan tercela. Sebuah perangai tak bermanfaat dahulu kala. Mungkin kalau rajin dan konsisten aku menulis di satu blog saja, maka arsip postinganku boleh jadi sepanjang arsip Mas Zawa Sang Kepala Sekolah. Tapi apa hendak dikata, semua sudah terlanjur. Nasi sudah jadi kerak. Jadi beberapa rekan blogger ngomel-ngomel pun tak adalah daya-upayaku mengembalikan semua bacritan masa silam itu…

salah satu blogger yang ngomel-ngomel sehabis repot mengedit blogroll-nya:mrgreen:

Setelah ngeblog sejak tahun 1984, dan berusaha menutupi tahun awal ngeblog yang penuh marabahaya itu, di akhir tahun 2009 aku pun tersadar (bah! macam sinetron saja!) dan memutuskan akan konsisten bertahan satu ce-i-en-te-a blog saja. Kalau umpama-andaikata-dan-misalkan terhasud untuk pindah blog baru (misalnya saja untuk kembali ber-self-hosted blog), setidaknya akan melakukan tindakan yang sama dengan apa yang diperbuat oleh Bapak Guru yang mengarsipkan blog lamanya yang tercela itu.

Tunggu… tunggu… 1984? Ente ngeblog sejak 1984?

Lho? Tiada percaya? Ini sebenarnya rahasia abadi yang selama bertahun-tahun kututupi. Aku tidak mau didaulat jadi Mbah-nya Presiden Blog, Bapak Blog, Ndoro Blog, Sultan Blog atau apalah itu. Oh tidak. Tampang awet mudaku bisa terusik dengan diketahuinya usiaku berdasarkan berapa lama sudah ngeblog. Itu tidak bisa dibiarkan. Merusak pencitraan seperti yang biasa kita -para blogger dan kawanan onliners di social media– lakukan selama ini. Sebagaimana sejumlah blogger berlomba menutup usia, tahun kelahiran demi mengesankan betapa lebih muda mereka daripada tutur dan wajahnya, terutama untuk tebar pesona pada lawan jenis, baik cewek yang lebih muda dari usia sang blogger yang sebenar-benarnya tua bangka, atau pada cowok lebih muda bagi para blogger wanita yang membayangkan anu mereka seperti brondong jagung yang enak dihisap dan digigit-gigit kecil.

Tapi bagaimana pula hendak kututupi. Sebagaimana ada kecenderungan manusia berlomba untuk dihormati, bersaing meletakkan pantat di strata tertinggi dalam apa saja, berlomba jadi yang pertama memiliki sesuatu sehingga bertahun kemudian bisa membacrit “Aku sudah lama pakai itu, aku sudah lama punya ini… ah, basi! Dasar newbie!” dan berharap orang akan menghormati dia karena “ketua-bangkaannya” dalam jadi yang pertama dan terhormat karena sudah menua itu.  Meski perangai mungkin tetap saja kayak bocah SD yang suka mengagungkan mainan baru. Menimbang itu semua, maka aku pun terpaksa pula menghadirkan sebuah bukti nyata bahwa aku merasa lebih tua dari mereka.

Sementara ada blogger-blogger yang 1-2-3 tahun ngeblog sudah merasa dirinya itu sesepuh, dan mungkin diam-diam bangga dianggap sesepuh oleh blogger-blogger baru seperti homo sapiens yang satu itu, yang kemarin curhat dalam postingan ini dan itu soal generasi-generasi blogger dengan mengklaim dirinya sudah lama ngeblog seperti generasi sekaumnya (yang kini sudah macam kakek-kakek berjalan dalam hal mengapdet blog), maka aku pun merasa harus menegaskan bahwa elitisme demikian mesti diberangus dengan menunjukkan bahwa aku di atas blogger-blogger yang sok sepuh semacam beliau itu. Aku persembahkan kepada hadirat sekalian sebuah kenyataan bahwa di layanan WordPress.com ini sendiri, postingan Hello world-ku justru terbit di tanggal yang sama seperti hari ini, 16 Februari 1984. Sudah 28 tahun nan silam! Bayangkan saudara-saudara sebangsa, setanah air, seplanet bumi selangit angkasa. Haha.

Ah... Saat-saat pencerahan itu... Saat pertama sekali membaca postingan "Hello world!" dari WordPress.com🙄

Bukan enak ngeblog di masa itu. Masa 1984 adalah sebuah masa suram. Masa dimana mata-mata rezim dunia ada dimana-mana. Jauh lebih mengerikan daripada era Stalin yang pernah membuat foto Nikolai Yezhov di-photoshop sesudah sang commisar dieksekusi mati (meski pernah begitu mesra bak dua sejoli di foto ini), sehingga foto mereka di bawah ini:

foto stalin dan nikolai lagi mesra

Jadi begini:

ketika cinta stalin sudah berpaling pasca membunuh nikolai

Masa suram itu ditandai pulak dengan lahirnya Apple yang kelak akan menjadi salah satu rezim ala USSR baru dalam dunia teknologi, komitmen yang mereka buktikan dengan memaksa semua produk di luar perusahaan mereka diseleksi dan dipajaki di gerbang iTunes nan totaliter. Kapitalis yang meraup untung dengan merakit barang di negeri Komunis Cina. Pertanda pelacuran dua ideologi demi laba. Juga ditandai dengan munculnya Bill Gates cengengesan di sampul majalah Time sambil menunjukkan disket segede mangkok bakso sehingga disket itu bisa dipakai untuk berkipas-kipas.

dua maling program orang lain di masa lalu yang kemudian jadi orang terhormat di masa depan

Maka demi mengenang masa-masa yang sampai diabadikan oleh George Orwell dalam ramalannya di kitab Al-Sembilan Belas wal Lapan Ampat jauh sebelum tahun 1984 tiba, aku memutuskan untuk memposting tulisan pertama di WordPress.com pada bulan Februari 1984. Setelah sebelumnya menghabiskan waktu sebagai bocah yang sibuk merancang bom rakitan untuk membom dunia ini dengan ledakan esmosi. Kutimbang-timbang, daripada kubom orang dengan ledakan pembunuh, elok kubom dengan ledakan kata-kata. Orang tak cedera badan, dan segala bacritan dapat dinikmati yang lain pula. Kalau pun orang sakit hati, bisa diargumenkan dalam berbagai postingan, atau komentar, meski mungkin si pesakitan akan kena bully massal seperti kecenderungan di dunia nyata dan dunia maya selama ini. Perkara bully-mem-bully, memang sudah perilaku umum, apalagi kalau sudah berkelompok dan berkomunitas. Macam komentarku di postingan Republik Twitter-nya Gentole. Omong kosong itu segala toleransi dan “hargai perbedaan” di ranah blogsfer. Aku sudah kenyang tengok klaim semacam itu, tapi ramai cuma membual saja. Meski ada, bisa dibilang cuma minoritas kecil yang betul-betul “sepakat untuk tak sepakat”.

Aku sudah pernah tengok orang yang membela Roy Suryo dihujat seakan dia sudah berdosa tujuh turunan, meski yang dibelanya bukan Roy Suryo-nya tapi perasaan keluarganya Roy Suryo yang dibawa-bawa dalam pertikaian antara blogger sepertiku (yang juga tak suka dengan self-acclaimed pakar telematika tersebut) dengan Sang Pakar yang bercokol di Partai Demokrat tersebut. Bahwa Si Pakar itu begitu perangainya, lalu ada yang balas membawa-bawa anggota keluarganya, itu sikap kelewat bijaksana dari mereka yang konon netter mulia dan berwawasan luas tapi rupanya pendendam tulen, atau sikap massa yang seperti sapi dicucuk hidung, mau-mau saja terbawa dendam orang lain (meski terkadang tak tahu masalah, asal disebut public enemy para seleb, ikut saja sudah).

Atau saat ada seorang blogger baru, beberapa tahun lalu, masih remaja belia pulak, meng-copy-paste postingan orang lalu di-bully massal oleh para blogger dan komentator dengan berbagai postingan dan komentar. Konon postingan cewek remaja belia itu memenangkan sebuah lomba ngeblog. Meski si blogger plagiator itu minta maaf, tapi tak cukup rupanya bagi para blogger dan komentator yang sudah kelewat arif-bijaksana-lagi-mulia-dan-waskita, sehingga remaja putri yang masih belia itu akhirnya menutup blognya. Konon tak tahan dengan caci-maki yang sudah menjurus kemana-mana. Sudah menghinanya seakan dia cewek sundal cuma karena meng-copy-paste tulisan orang, yang hakikatnya sama macam perangai para blogger mencuri gambar orang seenaknya di internet dengan berbagai dalih dan alasan untuk melengkapi postingan mereka. Seperti perangaiku juga. Sebagai blogger, bagian dari apa yang dibacotkan sebagai era keterbukaan-teknologi-informasi yang liberte-egalite-freternite bak slogan Revolusi Perancis, betapa mudah kita nge-bully siapa saja yang berbeda pandangan atau memiliki satu-dua kesalahan seakan kita makhsum dan jauh dari sifat tercela. Baik sebagai blogger-blogger bereputasi, blogger intelek atau inTELEK, atau cuma sebagai komentator fanboy/fangirl yang hobi mengaminkan setiap sabda dari sosok yang mereka kagumi lalu ikut-ikutan menghakimi siapa yang bersalah di mata idolanya.

Saat itu, ada keinginanku untuk membom itu segala apa saja yang berkaitan dengan internet, biar punah semua sekalian.

saat jadi bocah yang emosi dan mencoba merakit bom nuklir

Eh? Ini serius? Beneran 1984? Mana ada WordPress di jaman itu. Orang ngeblog saja belum ada!!

Siapa bilang? Bah! Blogger sudah ada sejak zaman dulu kala. Sejak zaman Ibnu Sina dan para pendeta menuliskan kitab-kitab mereka. Ini contohnya!😈

rahib ngeblog. dicurigai kertas yang digunakan ber-platform blogger atau wordpress

Ah… lelucon saja ini…😡

Tentu saja😆

Jadi begini…

Tadi sempat iseng menjenguk blog Mas Zawa, lalu terlihat kembali postingannya yang bertanggal 1 Januari 1970. Timbul niat iseng untuk bikin hal serupa di blog ini, namun dengan meng-copy-paste-kan kembali postingan “Hello world!” yang biasanya muncul otomatis jika seseorang bikin blog baru di layananan WordPress.com.

Berdasarkan pertimbangan sana dan sini, teringat pula dengan buku 1984-nya Orwell, maka dipilihlah tahun 1984 sebagai tahun untuk postingan pertama. Jadilah postingan “Hello world” 28 tahun nan silam.😆

Begitulah. Postingan ini hakikatnya cuma iseng belaka. Jika ada sentilan sana dan sini, cuma jadi pesan yang mungkin cuma pepesan saja: banyak hal yang tak perlu dianggap serius lah di ranah blogsfer ini. Tak perlu itu segala strata blogger sepuh atau blogger newbie yang bisa membuat orang congkak karena dipuji atau kerdil karena terus merasa menjadi/dijadikan newbie. Blog adalah sebuah proses belaka. Semua blogger mengalaminya. Menua itu pasti, tapi “menjadi tua” itu pilihan. Banyak orang yang merasa diri mereka dewasa, baik dari umur dan pengalaman, terkadang bisa tak begitu dewasa, jika malah bukan seperti bocah kemarin sore. Perilaku para pundit socmed kata Gentole. Seperti dalam hal nge-bully mereka yang dianggap berbeda dengan dirinya atau kelompoknya di dunia maya, atau adu-aduan siapa paling lama dan paling tua. Mungkin itu termasuk aku dan termasuk juga anda. Ini cuma postingan untuk menertawakan diri sendiri. Kukira, mengolok dan menertawakan perangai sendiri adalah tanda kewarasan agar tak congkak memamah-biak pujian, dan tak congkak karena merasa besar padahal setiap hari kita pelan-pelan dilindas roda zaman.

Yuk. Mari.

29 thoughts on “Ngeblog Sejak 1984

  1. sekalian hetrix saja lah
    biar kaaffah😛

    *gila, sudah lama tidak mengetik “razz”*😛

  2. sekedar saran nih, blognya semuanya dikumpulin jadi satu aja di sini… kan di wp ada fasilitas ekspor/importnya… mumpung gratis ga kena pajak bea cukai hehe…

    btw dulu waktu edit tanggal postingan, pertama saya edit ke tahun 1901 eh malah error… ternyata batasan tahun paling kuno ada di 1970an… *ga tahu kalo sekarang dah dibenahi sama developer wp-nya*🙂

  3. @ hairandehhairan

    Itu ku-copy dari berbagai sumber di internet seperti kau copy kata copy itu sendiri😎

    @ Calon Gubernur

    Anda siapa?
    Bukan bloher kan? Kenapa mesti “*gila, sudah lama tidak mengetik “razz”*😛 ” begitu?😕

    Dan mohon dimaafkan untuk pertamax yang terjegal itu. Yang boleh pertamax itu cuma orang yang memiliki blog dimana orang lain bisa pertamax juga😛

    @ Zawa

    sekedar saran nih, blognya semuanya dikumpulin jadi satu aja di sini… kan di wp ada fasilitas ekspor/importnya… mumpung gratis ga kena pajak bea cukai hehe…

    Apanya yang mau diimpor. Udah pada almarhum semua😆

    btw dulu waktu edit tanggal postingan, pertama saya edit ke tahun 1901 eh malah error… ternyata batasan tahun paling kuno ada di 1970an… *ga tahu kalo sekarang dah dibenahi sama developer wp-nya*🙂

    Wah, ada batasan tahun segitu rupanya? Kalau dibenahi kira-kira apa jadi lebih purba lagi ya?:mrgreen:

    @ Idah

    Silaken😎

    @ Iwan

    Njrit! Tidak setua itu benar. Ini kan cuma postingan ulok-ulok😆

  4. banyak kali itu blog yang sudah diwafatkan… seringnya mematikan dan kemudian mereinkarnasikan blog itu apa terkait dengan kelabilan tempo dulu? berharap ini sudah yang terakhir… ingat Bang… bentar lagi kau jadi ayah… #GaNyambung.🙄

  5. @ Zukko

    Satu sisi iya labil. Satu sisi lagi, waktu itu kan memang bisa dibilang anonimus lah. Haha. Jadi ya begitu. Lahir dan mati lah blog-blog itu. Sebenarnya waktu dulu beli hostingan, di tahun 2008, sudah niat berhenti tabiat begitu. Tapi apa daya, hostingannya nggak jelas. Mati, mati begitu saja. Tak sempat kuimpor-ekspor tulisanku. Koneksi pun sering gagal, kalau ngapdet blog, sudah ngetik panjang-panjang secara online, eh… pas di-submit, gagal. Tahu sendiri kan kalau WordPress dulu bisa rusak postingan kita, hilang atau tinggal setengah kalau gagal ke-submit. Makanya pindahlah ke blog ini. Dan niatku memang ini yang terakhir lah. Sudah capek. Sudah mau jadi ayah. Haha. Benar juga itu😆

  6. menurutku wajar aja kok pindah2 blog, temen2ku juga banyak yang kayak gitu… terutama kalo ada layanan free blog hosting baru untuk coba2… asal jangan berakhir ke twitter dan facebook aja yang terbukti kebanyakan dari mereka rajin update tapi malah ga ngeblog lagi…😀

  7. @ Fendy

    Njrit! Blogger senior. Haha. Masih banyak itu yang lebih senior dari aku. Hehehe. Lagian apalah beda senior tak senior di ranah blogsfer ini😆

    @ Zawa

    Benar memang. Aku juga sudah kenyang coba berbagai layanan blog. Meski akhirnya tetap saja lebih suka dengan 2 platform yang utama: Blogger dan WordPress. Yang di blogsome itu terakhir aku ngeblog sebelum beli domain dan hosting sendiri, lalu pindah kemari😀

    asal jangan berakhir ke twitter dan facebook aja yang terbukti kebanyakan dari mereka rajin update tapi malah ga ngeblog lagi…

    Ini memang jadi maslaah juga sih kalau sudah kecanduan:mrgreen:

    @ a.bang,tam.pan

    Percaya saja deh, Joe… Daripada benjol….:mrgreen:

  8. Dahsyat, ini posting-an menurut saya dalem bangeeeet😀😀
    Saya ngebayangin, kalo bener2 tahun 1984, itu artinya ngeblog masih via buku atau via mading kali ya…😆

  9. @ Asop

    Kalau benar ngeblog tahun 1984 itu, pakai papan tulis hitam dengan kapur, Sop😆

    @ Takodok!

    Njrit! Bintang toedjoe poelak! Soenggoeh toea nian itoe poejer poenja merek!

    *pentoeng-pentoeng*😈

  10. @ Abed

    Silakan, Bed😎

    @ Asop

    Pakai metode petugas penyuluh pertanian dari kelurahan: kumpulin massa pake TOA
    😆😆😆

  11. @ rianaadzkya

    Xixixixixi…😀😀
    Saking telminyaa.. Saya sempat percayaa loh…😀

    :mrgreen:

    Berartii sekarang usia pemilik user 28 kan :p

    Sebenarnya bukan 28. Tapi… ikhlas sajalah😎

    Salaam

    Salam juga😎

    @ warm

    saya harus belajar banyak ttg posting panjang2 dan runut macam ini ama sampeyan😀 /

    Wah. Mendingan jangan. Diamuk Amed dan Mansup aku nanti😆

    @ giewahyudi

    Masih kalah sama Nyonya Meneer dong,🙂

    Ya kalah jauh lah, Gie. Wakakaka. Kalau sebaya Nyonya Menir aku ngeblog, itu artinya sudah bercucu aku sekarang😆

    @ nandobase

    Hahh… tulisan panjang plus gambar, ternyata cuman hoax. Tapedeee…😛

    Ampun, Bro. Sorry:mrgreen:

    @ nana

    udah mbaca tulisannya panjang2 ngikik liat gambarnya..
    eh ternyata.😐

    Ya. Ternyata… hoax saja… Aku ini aslinya blogger newbie😎

    @ Aulia

    semoga nyonya menir membaca tulisan ini, jamu mbo e jamu (kalah jamu sama ngeblog)😀

    Aku nulisnya juga sampai mesti minum jamu tolak angin itu. Serius.😆

    @ for all

    Maaf kalau komennya baru dibalas sekarang. Baru sadar aku ada komen di postingan ini:mrgreen:

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s