Sebuah SMS Teman: Lamunan Tentang Zaman Edan, Ronggowarsito Dan Kenaifan

Hidup di jaman edan, serba salah dalam bertindak. Ikutan edan, tidak tahan. Kalau tak ikutan edan, bisa tak kebagian. Akhirnya bisa jadi kelaparan. Namun dengan kehendak Allah, seberuntung apapun orang yang lupa, masih lebih bahagia orang yang waspada.

Begitulah yang melintas dalam benakku beberapa malam lalu, ketika sebuah SMS dari teman lama masuk ke inbox ponselku. Bukan SMS biasa, namun SMS minta pertolongan sekaligus menawarkan pertolongan. Seketika itu aku merasa berhadapan dengan rasa tak enak, sekaligus prihatin: baik pada diri sendiri, terlebih pada temanku itu. Prihatin karena aku tahu bahwa aku tak akan pernah bisa membantunya seperti apa yang diminta dalam SMS itu. Prihatin padanya, karena aku tak menyangka bahwa dia akan mengirimkan SMS begitu. Dia yang cukup mengenal karakterku sejak masa kuliah kami dulu. Karakter yang sok-sok-an idealis, kalau kata beberapa kenalan dengan nada sinis.

Aku mendiamkan SMS itu, dengan pikiran entah kemana-mana. Banyak hal melintas dalam kepalaku. Masa lalu, masa kini, masa depan, kebimbangan, rasa kecut pada dunia, kesaktian sesuatu bernama mata uang, dan segala kemapanan yang selalu menjadi perburuan manusia setiap hari, sehingga setiap orang seperti sawan mengejarnya. Sebuah kegelisahan yang akhirnya kubagikan -dengan mengirim SMS di pagi buta- kepada Moerz, seorang blogger di satu sudut Jakarta. Dia pun berbagi kegusaran yang sama denganku, sekaligus kekeras-kepalaannya untuk tetap bertahan hidup sebagai seorang pencari nafkah jalanan, mencari rezeki dengan melapak di emperan. Meski ada juga sejumlah godaan datang, melambaikan berlembar rupiah, rayuan akan masa depan yang lebih indah. Bertahan menjadi satu dari ribuan umat republik ini yang cuma dilirik oleh para Calon Legislatif, Calon Kepala Daerah dan Calon Kepala Negara, dalam rentang waktu 5 tahun sekali. Dilirik untuk dibujuk datang ke kotak candu bernama Pemilu.

SMS yang tiba malam itu (pukul 21:44, tanggal 12 Februari 2012) bertuliskan kalimat begini:

Alex,pa kabar ni? Ada ga temen2 Alex yg mau ambil s1 kilat?
Aq bisa ngasih jalan tuk 3 universitas di medan.
(rahasia kita saja ya?)
Ada fee kok..🙂

Aku beristighfar. Secara harfiah dan secara literal. Kalau saja teman lamaku itu, sang pengirim SMS, adalah seorang laki-laki yang sudah mengenalku selama bertahun kuliah di kampus yang sama, dan cara bertanyanya lebih lugas dan enteng, mungkin sekali aku akan membalas SMS itu dengan ucapan kasar. Sekasar yang aku bisa. Dengan enteng pula.

Namun aku mendiamkan SMS itu selama seharian. Salah satu sebabnya adalah karena si pengirim adalah seorang perempuan, seorang ibu dari anak-anak yang masih kecil dan membuatku tak tega jika terbayang bahwa anaknya akan sedih melihat wajah ibunya murung karena kusemprot. Terbawa gundahku hingga di pagi hari. Bahkan ketika aku menyeduh secangkir susu di pagi itu, masih juga aku teringat-ingat SMS dari teman lamaku tersebut. Teman perempuan dari masa kampus dulu. Teman yang kukira cukup tahu perangaiku saat masih jadi mahasiswa. Cukup tahu macam mana aku pernah begitu fasih melakonkan apa yang disebut anak-anak front mahasiswa demonstran -seperti parte bawah pohon– sebagai “bunuh diri karakter”: sebuah lakon mempersulit diri, sedapat mungkin menolak kemudahan dari kemapanan orang tua, menutupi latar belakang diri, untuk hidup sama rata-sama rasa. Berbagi sebatang rokok sebungkus nasi dengan teman-teman, tak peduli miskin-kaya. Makan bersama dengan nasi bungkus dari uang patungan beramai-ramai di daun pisang laksana anak-anak tiada berumah. Dan kukira dia pun cukup faham alasanku untuk meninggalkan kampus, memilih bergelar drop-out di jidat sepanjang zaman, ketika sekian mahasiswa yang sudah terkencing-kencing dibayangi ancaman tak akan dapat ijazah sarjana lebih menempuh jalan pintas dengan bertekuk lutut mengemis hiba para dosen dan kemudian “bersalam amplop” di kolong-kolong meja birokrasi kampus. Agar ibu-bapak mereka dapat berfoto-ria dalam wisuda. Dapat terharu melihat sepotong tali mirip tali kerbau dipindahkan para elit rektorat di atas peci empat persegi di atas kepala mereka, dalam acara wisuda yang sukses mengantarkan ratusan sarjana, siap mengabdi pada negeri. Meski TOEFL  pas-pasan atau pakai joki. Meski skripsi mereka jual-beli seperti roti.

Aku ingin sekali bertanya kepadanya… Kenapa mesti padaku kau kirimkan SMS itu?

Tapi mood-ku tak mengizinkan. Aku memilih tak menanggapi dulu SMS teman lamaku itu. Apa yang kulakukan adalah menenangkan diri. Melamunkan apa-apa yang bisa dilamunkan. Melamunkan pilihannya untuk menjalani “profesi” begitu. Melamunkan kenaifanku sendiri untuk masih menolak hal-hal serupa itu. Sampai pada akhirnya, sesudah sehari berlalu, di malam esoknya aku baru membalas SMS tersebut. Tak panjang-panjang, cuma berkata bahwa kemarin itu aku sedang sikit sibuk, dan bahwa nanti kalau ada temanku bertanya mungkin akan kukabari kembali.

Dan balasan SMS yang tiba darinya pun kemudian menunjukkan bahwa dia, teman lamaku itu, sudah mengira bahwa aku tak akan membalas SMS-nya, karena ini bukan pekerjaan (yang) benar. Aku tersenyum kecut. Antara mau tertawa dan iba, entah pada siapa. Mungkin padanya, mungkin pada diriku sendiri, mungkin juga pada kehidupan ini. Ada juga rasa senang, bahwa setidaknya dia masih mengenalku, sehingga memaklumi jika SMS itu tak akan pernah kubalas.

Mungkin dia ingat betapa dulu aku pernah merepet di kantin kampus kami di Unsyiah, sekitar tahun 2002-2003, mengisahkan tentang para elit kabupaten kami yang tiba-tiba sudah bergelar S2. Mengisahkan tentang wajah-wajah mereka (para elit pemkab yang saat kami berangkat kuliah, sejumlah dari mereka cuma lulusan SMA atau DII/DIII) yang tiba-tiba saja sudah terpampang di salah satu halaman koran lokal, dalam sebuah iklan ucapan selamat dari pemerintah kabupaten kami (beserta segenap jajaran) akan kelulusan para S2 tersebut di sebuah universitas di Pulau Jawa. S2 kilat! Bahkan aku dan angkatanku belum lulus S1. Aku mengamuk dan mencarut-marut ketika itu. Hingga kemudian mengonsepkan petisi, surat pembaca dan opini untuk dikirimkan ke media massa lokal, sebagai salah satu ketua divisi dalam paguyuban pelajar dan mahasiswa kabupaten kami, untuk memprotes dan mengeritik darimana gelar tersebut datang tiba-tiba. Baru 2 tahun waktu berlalu, dan tiba-tiba saja sejumlah orang yang tak pernah kuliah, yang dulunya cuma bergelar diploma, melompat jadi S2.

Kritikan-kritikan kami di kala itu sukses membuat iklan “ucapan selamat” tersebut surut dari halaman koran lokal. Dan mencuat jadi isu di kabupaten kami. Deras kritik tersebut, sehingga “hanyut” lah embel-embel S2 yang sudah bangga mereka klaim di halaman koran bergengsi propinsi ini, sehingga tak muncul lagi di depan publik. Cuma sesaat mereka menikmati status “S2 nan terhormat”, hingga malu mencantumkan gelar tersebut di undangan yang mampir ke rumah, ke kantor paguyuban, baik undangan kenduri sunatan atau perkawinan.

Lalu… Betapa pula aku tak akan merasa sikit tersinggung ketika kini, bertahun sesudah masa-masa jadi mahasiswa berlalu, diminta bantuan untuk mencari agak 3 orang calon “sarjana roti” yang akan berbakti bagi negeri ini? Ada ramai orang yang mungkin akan menerima begitu saja tawaran tersebut. Ada juga kemungkinan bahwa ramai orang sering berubah dari prinsipnya dahulu. Tapi, sampai saat ini apa yang mungkin bagi orang lain cuma prinsip sesaat, sudah terasa bagiku jadi tabiat.

Aku memang bukan orang baik benar. Ibadahku sering tak tepat waktu. Tapi, aku masih shalat. Masih mengucap “ihdinish shiratal mustaqim”, masih memohon kepada Tuhan “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.” setiap kali ini jasad mendirikan shalat. Bagaimana aku akan mengingkari bacritku sendiri di masa lalu, yang menyumpahi para magister gadungan di kampung halamanku, yang mencemooh para sarjana dadakan (padahal kejar paket C pun tidak tamat) setiap musim pemilu tiba?! Dan lebih dari itu: bagaimana aku harus mengingkari rengekanku sendiri pada Tuhan, ketika aku masih sadar bahwa permintaan tolong itu salah dan aku menurutinya? Demi apa? Demi teman? Demi fee?

Aku sadar benar, bahwa dalam kondisiku cukup mapan keuangan saat ini, cukup untuk berfoya-foya membakar rokok sebungkus-dua setiap hari, aku bisa bersombong begitu, menolak tawaran itu, karena belum terjepit. Tapi, sepanjang hidupku, banyak hal yang sudah kutolak, bahkan lebih besar daripada sekedar fee saja, justru ketika perutku kelaparan di masa kampus, ketika harapan cuma berhutang pada teman, meski mungkin cuma demi gengsi untuk tak mau menjilat ludah sendiri sesudah terlanjur meminta orang tua mengurangi nominal kiriman. Aku pernah makan cuma pakai nasi, tempe mentah, dan minyak goreng bekas di piring kaleng, yang jika saja almarhumah ibuku tahu, mungkin beliau akan tersedu, ketika teman-temanku makmur gemah-ripah-loh-jinawi di berbagai NGO asing dan BRR. Di saat aku menganggur setelah memutuskan mundur dan tak sudi bekerja lagi di satu kantor,  setelah melempar sendok dan bungkusan nasi pada seorang bule yang mengira rambut pirang dan warna kulitnya menjadikannya ras superior untuk memerintah seorang sawo matang seenak jidatnya, dengan telunjuk kiri pula, pada satu jam makan siang. Aku pernah terpaksa “menyekolahkan” mesin ketik kesayangan demi menambal isi perut dan kebutuhan, ketika jalan termudah adalah pergi ke wartel dan meminta kepada ayahanda tercinta agar sudi mengirimkan sejumlah uang supaya si buah hati si biran tulang tak pernah bersalaman dengan seorang asing di balik kaca pegadaian.

Bahkan dalam masa-masa paling paceklik dalam hidupku, ketika teman-temanku bisa bermewah membeli rokok bermerek, dengan funding asing atau dana dari proposal gadungan, aku dan beberapa rekan yang bertahan seperti Tama dan Diyus, memilih untuk membeli kertas sigaret merek Mars Brand seperti jepretan Paman Tyo, bukannya untuk melinting ganja, melainkan melinting kembali tembakau dari puntung-puntung rokok dalam asbak untuk dihisap beramai-ramai seperti lakon para Indian, sesudah sukses menggasakkan sekepal dua kepal nasi atau segenggam roti pengganjal perut.

Aku juga pernah menolak tawaran untuk naik di Pemilu 2009, dengan kemungkinan besar akan menang cukup dengan mengandalkan kaum kerabat di dua kecamatan saja, serta menyuap ratusan muncung untuk membeli suara dengan uang tersedia sebagai donasi dari ahli famili. Jika hari itu aku menerima tawaran tersebut, maka hari ini mungkin sudah duduk pantatku jadi pengangguran terhormat di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten. Justru, daripada masuk ke partai nasional, dimana orang-orang tua dalam keluargaku berada, aku bertahan di partai lokal yang kemudian jadi pecundang di propinsi ini. Namun dengan kepuasan tersendiri, setidaknya aku dan teman-temanku berhasil mengajari penduduk untuk lebih cerdas menipu para penipu: menerima uang mereka sepanjang tidak disumpah-dibaiat untuk memilih mereka, sepanjang cuma dibilang pemberian saja, namun jangan memilih mereka yang mencoba menyuap untuk meraup suara.

Kata beberapa temanku, salah satu kekuatan sekaligus kelemahanku, adalah ketidakmampuanku untuk mencoba jadi oportunis hingga saat ini. Sesuatu yang sudah lumrah dilakonkan di zaman ini…

Oh. Oke. Go ahead.

Kekuatan? Ya. Karena, dengan segala keburukan dalam diriku, dengan badan kerempeng yang sebenarnya sukar untuk ditakuti, dihembus angin bahorok saja bisa jatuh, ramai kenalan sungkan untuk mencoba mengajak-ajak hal serupa kasus ini. Atau umpama bertekak, adu argumen soal birokrasi, soal oportunisme, mereka tak menemukan celah untuk menjatuhkanku seperti biasa terjadi dalam berbagai debat ad hominem ala organisasi. Di sisi lain, kekeraskepalaan ini juga seakan menjelma jadi “pencitraan” sehingga ramai adik angkatan atau sepupu-sepupu generasi di bawah jadi berpihak padaku. Meski aku tak peduli benar soal itu. Namun begitu pula adanya. Seorang pengurus paguyuban angkatan di bawahku, pernah mendakwaku sebagai bagian dari pengurus lama yang tak becus soal keuangan, berpihak pada bupati dan bermain proposal. Bukan aku yang emosi, melainkan hampir semua yang hadir, termasuk angkatannya sendiri. Sebab, justru karena ketak-sudian untuk tunduk pada bupati di masa kepengurusan angkatanku lah maka organisasi jadi miskin dan mesti mandiri dengan membikin kegiatan sendiri. Berjualan air kelapa, berjualan buku bekas, apapun. Tak merengek minta dana pada kabupaten, dan mesti ikhlas membuka semua pintu kamar kost dan kontrakan rumah kami untuk menampung adik-adik calon mahasiswa yang tak memiliki tempat tinggal di Banda Aceh, agar mereka bisa tinggal sebelum dan sesudah  UMPTN. Tanpa dikutip biaya. Sesuatu yang pada banyak organisasi paguyuban justru adalah hal biasa merengek pada pemkab dengan berbagai mark up proposal. Tak sepeserpun kami memakan uang dari kabupaten, jika malah bukan uang saku sendiri keluar. Aku cuma bilang padanya, kalau saja setahun lebih cepat dia menuduhku demikian, kupastikan hidungnya akan mencium meja dimana dia berada. 1000 kali lebih baik dibui barang seminggu karena dakwaan penganiayaan daripada dituduh makan uang paguyuban.

Dan kelemahan?

Selain sering menuai permusuhan dengan mereka yang memilih jadi oportunis, aku pun jadi rentan berseberangan dengan sejumlah pihak. Ini cukup menguras energi dan emosi juga sebenarnya…

Ketika zaman bergulir dan kemapanan jadi tolok ukuran, berapa ramaikah orang masih menerima sikap untuk keras kepala dan menolak berdamai dengan kemunafikan seperti di masa kini? Seorang saudara jauh pihak istri, seperti beberapa kenalan dan kerabat orang tuaku juga, pernah agak sinis bertanya padaku belum lama ini, kenapa tak mau menyelesaikan kuliah dan mencari karir di pemerintahan. Bagi beliau, setidaknya menjadi PNS jauh lebih mulia, bermartabat dan ber-masa depan, daripada cuma jadi seorang “pengangguran” tanpa seragam. Ketidakmampuannya untuk faham pada pilihanku yang lebih suka di bagian gudang usaha dagang keluarga, hidup dengan penampilan biasa, tidak mampu parlente seperti lazim di sini tampilan anak-anak toke, menyetir Kijang Tua tahun 1987 ketika anak-anak yang bahkan bapaknya cuma kepala dinas level kecamatan sudah menyetir Honda Jazz atau Toyota Yaris; membuat tampilanku di matanya seperti “pengangguran” saja.

Aku cuma tersenyum sinis dan menjawab, kala itu: Pekerjaan? Apa pekerjaan rata-rata PNS di Aceh sini -terutama PNS pria di  tahun-tahun terakhir ini- selain duduk di warung kopi sampai 5x sehari semalam, yang sudah macam ibadah shalat itu?

Beliau berkata, setidaknya mereka memiliki gaji tetap dan bisa ambil kredit seperti si anu dan si anu.

Dan aku kembali membantah: Berapa gaji PNS? 1.300.000 untuk PNS baru jadi? Dengan jumlah begitu, untuk tiket pesawat bolak-balik Medan-Jakarta saja, sudah mencret mereka tutupi. Dan Si Anu dan Si Anu yang beliau tunjuk itu, rokok saja sering ketengan. Kalau tak mark up atau mengandalkan fee dalam proyek-proyek birokrasi, minimal sudi mengebiri gaji sendiri untuk ambil kredit demi perlombaan gengsi (beli mobil, beli gadget terkini); para PNS -maaf- tak lebih dari kuli. Abdi masyarakat belaka, seperti polisi dan tentara. Abdi bagi orang sipil sepertiku yang bayar pajak untuk gaji mereka. Seorang kenalan PNS pernah menyalak dengan ucapanku serupa itu, sampai kubanting kartu NPWP-ku di depan batang hidungnya. Dengan NPWP itulah PNS digaji, kataku. Dan aku berhak untuk protes atas kehadiran mereka di warung kopi saat jam kerja, sebab aku membayar pajak di republik ini.

Ini memang terdengar tendensius dan menyakitkan. Tapi aku tak bermaksud menghina semua PNS. Almarhumah ibuku sendiri PNS. 30 tahun lebih menjadi guru di sebuah SD negeri, di satu sudut kampung di luar kota kecilku. Aku pernah merasakan masa paceklik keluargaku waktu bocah dulu, sehingga kami juga pernah makan beras catu, beras campur batu; perlambang murah hatinya pemerintah yang elit-elitnya rajin bersemboyan cintai beras dalam negeri, di saat keluarga mereka sendiri makan beras impor.

Jika aku sinis dibanding-bandingkan dengan PNS, bukan pula karena aku pernah gagal untuk tes CPNS. Justru aku tak pernah ikut tes CPNS sama sekali. Belum pernah sampai saat ini. Bahkan ketika kerabat orang tua menduduki posisi-posisi strategis di sini, termasuk ketika seseorang yang masih terhitung nenek sendiri, menjadi orang nomor 2 di kabupaten ini, sehingga jalan untuk masuk lewat “pintu belakang” sebagai PNS lebih cepat daripada menunggu sepatu usangku kering di atas genteng; aku tak pernah tertarik untuk masuk dan meletakkan pantatku di dalam kantor dengan memakai seragam bertuliskan LINMAS di pundak itu.

Tawaran untuk masuk, juga dorongan, bukan sekali-dua datang juga. Tapi aku menolak. Bahkan mengultimatum adik kandungku sendiri yang sekarang menjadi PNS honorer di salah satu instansi pemkab sini: jangan pernah minta bantuanku, apapun itu, kalau kau masuk PNS dengan cara tidak terpuji, apakah itu sogok atau dibantu dosanak di dalam birokrasi. Dari yang “selazimnya” dia sudah naik golongan kini, mengingat jalur kongkalingkong tersedia, seperti teman-teman seangkatannya pandai memanfaatkan guna amplop dan surat rekomendasi bapak itu di dinas ini, dia pun cuma kuberi pilihan untuk ikut tes sejujur-jujurnya, atau menjadi pegawai bakti, lalu naik jadi pegawai honor (sampai menunggu pemutihan saat ini), atau tidak usah jadi PNS sama sekali.

Semiskin-miskin keluarga ini, kataku, aku tak sudi keponakanku nanti makan uang haram dari gaji yang didapat melalui jalur haram. Bahkan ayahku sendiri -yang bimbang dengan tawaran “bantuan kekeluargaan” soal PNS adikku- kubantah pula. Aku mengingatkan beliau kembali, bahwa harga diri keluarga kami di mata Tuhan adalah kesadaran bahwa usaha keluarga selama ini dirintis dengan cucuran peluh, dengan air mata, dengan ketekunan beliau berjualan kacang goreng sejak masih kanak-kanak: semuanya secara halal. Dan lalu semua itu mau dikhianati dengan mengizinkan saudara kandungku sendiri memanfaatkan sejumlah sogokan, sejumlah bantuan “orang dalam” untuk kemudian membiarkan keponakanku yang saat itu belum lahir, calon cucu beliau di masa depan, mengalir rezeki haram jadi darah di dalam badannya?

Seumur hidup, Ayahku jarang minta maaf padaku. Bahkan saat pernah iba hatiku karena beliau menolak membelikanku sepeda motor impian di masa SMA dulu, ketika aku masih jadi anak manja. Tapi di hari itu, hari ketika aku mengingatkan kembali padanya bahwa aku mengagumi kemandiriannya, bahwa karena aku membanggakan darahku, dagingku yang tumbuh dari rezeki yang bukan berasal dari proyek pemerintah, maka aku membantah; di hari petang, beliau meminta maaf. Beliau merenungkan juga bacritku, bahwa aku tak ingin suatu hari nanti anakku bertanya soal kakeknya, lalu tabiat jujurku untuk bicara blak-blakan akan membuka aib bahwa kakeknya dulu, seorang haji pula, pernah menyogok para monyet di dalam birokrasi pemerintahan seperti orang yang tak percaya Tuhan, takut akan masa depan anaknya kalau tak segera dijadikan “orang” dengan NRP sekian-sekian sebagai kuli pemerintah yang seolah hidup-mati mereka ditentukan para Firaun-Firaun pemerintahan.

Aku tahu nian, menjadi PNS -juga menjadi aparat negara- masih perlambang kemapanan. Setidaknya di sini, di daerahku.

Di sini, orang yang dianggap bukan pengangguran itu garis besarnya cuma 2 jenis: 1. Ada toko. 2. Ada seragam dan ada kantor.

Selain dari itu, kecuali memang dia sudah kaya-raya, ada mobil, ada rumah, ada usaha yang jelas bertempat, ada ber-Surat Ijin Usaha; adalah pengangguran belaka. Tapi demikianlah tolok ukur hidup di masyarakat. Masyarakat yang sama yang menjerit soal ketidak-adilan, tapi secara diam-diam merakit sendiri ketidak-adilan yang terjadi, dengan kompromi pada situasi. Masyarakat yang sama yang mencaci-maki para polisi ketika memeras mereka, namun berbangga hati ketika ada anak atau saudaranya menjadi polisi, bahkan meski itu ditempuh dengan jalur sogok-menyogok. Sebuah lingkaran setan dari perburuan kemapanan.

Aku teringat pada rekanku, Jiwa, kawan lama dari masa kampus juga. Dia, sebagai salah satu dari angkatanku yang masuk dengan jalur murni (sepanjang pengetahuanku dan keyakinanku pada kejujurannya), yang menjadi PNS di pemkab ini, pernah bercerita soal susahnya bertahan antara jadi oportunis atau idealis di dalam birokrasi kini. Dari segala lelang segala tender, sampai pengadaan ATK pun, ada bagi-bagi komisi. Terkadang, jika dia menilai komisi itu sudah di luar akal sehat, bukan lagi sekedar uang gaji lembur di luar gaji pokok, dia pura-pura keluar dan tak kembali lagi di ajang bagi-bagi fee. Temanku yang lain di kabupaten sebelah, menerima fee illegal tersebut, namun memberikannya pada adik-adik letingnya, anak-anak honor yang gaji mereka tak sepadan dengan kerja mereka: kerja berat di kala PNS senior ongkang-ongkang kaki terima beres, namun gaji mereka -para honorer itu- mesti terima rapel 3 atau 4 bulan sekali.

Berbagai cara mencari uang, mulai dari menipu orang, me-mark up pengadaan dari dana umat, membikin proposal kegiatan omong-kosong dengan rincian dinaikkan 2-3 lipat dari sepantasnya, termasuk dengan menyuplai sejumlah calon sarjana roti untuk masuk universitas-universitas tertentu dan lulus lebih cepat daripada kelulusan anak TK; terkadang kumaklumi sebagai sebuah pilihan yang mungkin terpaksa dalam keadaan terjepit sekali. Kurenung-renung beberapa hari ini, mungkin tak adil pula aku menilai temanku yang mengirim SMS itu, jika melihat dari “kacamata zaman” yang agaknya sudah terpasang di hampir semua mata umat. Meski demikian, tak terelakkan rasa iba hatiku. Aku yang mengenalnya sebagai mahasiswi yang dulu bersih, tak pernah korupsi uang jurnal di kampus, beres catatan keuangan untuk himpunan, tak pernah makan uang teman, hari ini bisa begitu berubah.

Mungkin, semua memang ada ambang batasnya. Aku sendiri tak tahu akan berapa lama bertahan. Bertahan untuk menolak ajakan masuk partai nasional, partai besar dengan donasi besar. Bertahan untuk tidak menjadi bagian dari birokrasi pemerintahan. Bertahan untuk tidak memasang adsense dan ber-black SEO demi dollar. Bertahan untuk menolak komunitas menulisku diajak 1-2 kenalan untuk memanfaatkan dana PNPM  Mandiri asal nampak ada kegiatan saja seperti yang terjadi di tahun lalu di sini, meski komunitas menulisku krisis keuangan dan kami tutupi secara mandiri.

Aku tak tahu sampai kapan kenaifan begini akan bertahan. Mungkin kelak, ketika anakku, Muhammad Alexander Bintang Hidayat, sudah lahir, dan tiba-tiba sebiji meteor jatuh meledak di tanah air, usaha keluarga bankrupt, kami kelaparan hingga sekarat, BBM naik lebih tinggi dari kerutan jidat, dan aku pun akan belajar untuk menerima kenyataan: kenyataan bahwa aku harus membunuh segala bacritan “bunuh diri karakter” di masa lalu, membunuh kekaguman pada sosok seperti Nabi Muhammad, Sidharta Gautama, dan Isa Kristus; pada tokoh-tokoh zuhud seperti Abu Dzar Al-Ghiffari, Salman al-Farisi, Ibrahim ibn Adham dan belasan para sufi masa lalu yang mengasingkan diri dari kilau kemapanan, bersyukur dalam tarian zikir di atas pasir; juga pada tokoh-tokoh yang berani memisahkan yang haq dan yang bathil seperti Umar bin Khattab. Mungkin kelak, dengan menutupi rasa malu pada masa lalu, aku juga akan belajar mengirimkan SMS atau menelpon temanku, menjilat ludah sendiri untuk merengek proyek plat merah, walaupun cuma untuk bikin website murah-meriah tapi bertender mewah, yang bayarannya bisa kasih makan anak-anak yatim-miskin di pelosok daerahku selama enam bulan sekalian.

Tapi, sampai hari ini -terutama untuk temanku yang mengirimi SMS itu, dan yang pernah mengajakku untuk mencari uang dengan cara yang “mungkin sudah lazim” di zaman ini, jika kalian baca postingan ini- aku masih bertahan sebisa diri. Seperti sejumlah rekan-rekan lama yang pernah kukenal. Masih cukup qanaah dengan apa yang kami miliki hari ini. Dengan kebun-kebun tak berapa luas yang dibuka oleh rekan-rekanku, dengan berbagi hasil bersama orang desa, ketika mereka bisa saja mengandalkan bapaknya yang jadi elit di BUMN semacam PTPN-PTPN republik ini untuk jadi “orang” yang terhormat di mata umat. Dengan sistem “berhonor”-ku selama ini, meski jarang-jarang kuambil, di usaha orang tua sendiri, sudah cukup pula bagiku jadi rezeki, ketika anak-anak para toke sepermainanku menuntut lebih dan lebih pada ibu-bapak mereka, demi bermewah dan lupa bahwa mereka besar karena berlindung di ketiak orang tuanya. Jika pun aku bekerja di luar urusan gudang, bukanlah hendak berloba-loba meraup laba. Lebih pada mencari pergaulan dan pengalaman semata. Serta pula, untuk berbagi kerja pada adik-adik angkatanku di sini, yang nasibnya tak beruntung untuk berderajat jadi mahasiswa dan sarjana terhormat, namun memiliki tekad dan kejujuran untuk bekerja, untuk digaji pantas setakat keringat. Entah semua itu berguna kini ataukah lusa, itu tak jadi persoalan bagiku. Setidaknya, aku merasa memiliki sebuah kekayaan: pengalaman hidup yang akan kubagi pada anakku, suatu saat kelak, seperti ayahku berbagi pengalaman hidupnya, yang sedikit-banyak membentuk sikapku di hari ini.

Begitulah sampai saat ini kenaifan sikapku bertahan di dalam benak, di dalam diri. Tak dusta kukatakan, bahwa aku sendiri merasa tak pasti sampai kapan. Ada jugalah gundahku walau sedikit. Mungkin seperti gundah penyair Jawa, Ronggowarsito,  dalam cuplikan tembang “Sinom” dari “Serat Kalatido”, yang kusadur untuk membuka postingan ini:

Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi.
Melu edan ora tahan.
Yen tan melu anglakoni boya kaduman melik.
Kaliren wekasanipun dillalah karsaning Allah.
Sakbeja-bejane wong kang lali, luwih beja kang eling lan waspada.

Dan pula, bukankah hidup cuma permainan belaka? Memburu kemapanan, memburu penghidupan terlalu berlebihan, sehingga mau berbuat curang, adalah sebuah hasrat untuk nafsu yang cuma fatamorgana saja. Dunia bisa seperti air lautan, makin direguk, makin haus kerongkongan. Dalam hidupku, aku sudah melihat sejumlah orang kaya lupa bahwa status sosial itu serupa roda becak. Mereka gagap ketika sudah tumbang di bawah, sudah jadi satu dari ribuan umat yang biasa terpijak. Rasa kemana-mana muka hendak ditutup pakai taplak. Sebab selama mapan kehidupan, sudah terlampau tinggi bersikap congkak. Mengira hidup akan selama matahari menyinari rekening simpanan. Lupa bahwa hidup berkecukupan bukanlah hidup menimbun-nimbun kemegahan, namun hidup cukup tanpa menadah-pinta, cukup untuk tak lupa memberi derma.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

(QS. Al-Hadid : 20)

Demikian, Teman. Kuharap kau baca ini postingan…

25 thoughts on “Sebuah SMS Teman: Lamunan Tentang Zaman Edan, Ronggowarsito Dan Kenaifan

  1. di daerah asal saya (kendari-sultra) kurang lebih fakta yang ditemui sama. orang yg bekerja itu PNS atau punya toko. diluar dari itu dianggap pengangguran.
    paling susah menolak uang panas dalam birokrasi. makanya ibu saya memilih jadi guru SD yang tidak ada lahan korupsinya. Alm. Ayah dl sempat ada jabatan, prinsip kedua orangtua saya tidak mau memberi makan anaknya hasil uang haram, tidak akan barokah&tidak akan ada kebaikan yang melekat bagi anaknya. sampai penghujung ajal pun salah satu penyebab kematian ayah saya karena mempertahankan kejujuran.
    beliau beberapa kali dipindah tugaskan karena dianggap tidak dapat bekerjasama untuk menghasilkan lebih banyak fee.
    saya menangis membaca tulisan ini mengingatkan saya untuk berbangga pada orangtua yang memiliki prinsip. saya anak yatim, kini harus berusaha memepertahankan prinsip ditengah keluarga yang menuntut ini itu, karena saya sakit2an ditawarkan jadi PNS lewat belakang oleh anggota keluarga yang lain.
    memang susah mempertahankan prinsip di jaman seperti ini, saya pernah dimarahi karena berucap tidak mau jadi PNS. susah menjaga diri dari godaan rezki yang tidak halal.
    entah nanti akan bagaimana nasib orang2 idealis, tapi paling tidak ada satu keyakinan bagi saya “idealis itu tidak terlihat baik diamata manusia, belum tentu dimata Tuhan. Paling tidak kita tahu apa yang dipertahankan”

  2. tabiat ‘ndablekmu’ ini yang membuat aku menggapmu seperti saudara dari negeri yang berbeda.😀
    anyway, di daerahku, dulu, ada seorang ulama sufi yang mendirikan mushalla (mushalla yang sampai sekarang dipergunakan), berjarak 2 blok rumah dari rumah bapakku.
    aku pernah bertanya, kenapa dinamakan Mambauzzahiddin? bapakku bercerita, bahwa orang-orang disekitar mushalla itu dibangun diharapkan bisa bersifat zuhud. Mushalla itu diharapkan sebagai pengingat seiring waktu, dan yang ingat entah siapa.😀

  3. Mungkin mahkhluk-makhluk yang mendapatkan gelas S2 itu memang benar melanjutkan S2 di luar negeri. Disana ‘kan cuma 1,5 tahun. *eh*

    Mari melanjutkan topik baru: Dilema pendidikan negeri ini.

  4. Ternyata,kau ada baiknya juga lex.

    @ Taslam

    Ternyata sama, di kampungkupun kemapanan masih di dominasi pegawai pemerintah.

    Demi masa.
    Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian,kecuali mereka yang”menggerutu” demi kebaikan.

  5. “termasuk ketika seseorang yang masih terhitung nenek sendiri, menjadi orang nomor 2 di kabupaten ini”

    Alex di Abdya kan? berarti masih saudaraan sama Pak Syamsurizal dong? Beliau mantan Bapak kos saya #apose😀

    Btw, tulisannya bagus.. agak miris memang kalau sudah membahas tentang pendidikan dan carut marutnya sistem di negeri kita ini. Salut lex dengan prinsip hidup kamu, andai saya bisa begitu. Tapi tak apa, masing-masing kita bisa berjuang dimana saja bukan? kalau saya, sementara ini menjadi public enemy dikantor sendiri sudah cukup membuat saya senang kok hehehe…

  6. @ Citra Taslim

    di daerah asal saya (kendari-sultra) kurang lebih fakta yang ditemui sama. orang yg bekerja itu PNS atau punya toko. diluar dari itu dianggap pengangguran.

    Memang sepertinya banyak yang sama. Di Jakarta pun, kata temanku, ada begitu juga🙂

    paling susah menolak uang panas dalam birokrasi. makanya ibu saya memilih jadi guru SD yang tidak ada lahan korupsinya.

    Di era 2000-an, lahan korupsi di SD sebenarnya makin besar peluangnya. Apalagi kalau jadi kepala sekolah. Ibuku dulu malah seharusnya sudah bukan guru lagi, ketika rekan-rekan beliau sudah naik golongan dan naik posisi. Beliau pernah ditawari jadi kepala sekolah, dan minta pendapatku. Aku tak setuju. Ditawari ke dinas pendidikan, juga tak setuju. Lebih baik mengajar saja, kataku. Dan beliau pun lebih cenderung ke situ. Daripada terbawa rapuhnya dinding-dinding korupsi di sini😐

    Alm. Ayah dl sempat ada jabatan, prinsip kedua orangtua saya tidak mau memberi makan anaknya hasil uang haram, tidak akan barokah&tidak akan ada kebaikan yang melekat bagi anaknya. sampai penghujung ajal pun salah satu penyebab kematian ayah saya karena mempertahankan kejujuran.

    Sama seperti bapak temanku di depdikbud sini. Beliau itu orang jujur. Nggak mau terima segala tender pengadaan untuk sekolah, melalui segala fee dan komisi di luar prosedur. Akhirnya meninggal. Waktu meninggal, keluar pisau silet dan paku dari badannya. Diguna-guna kata orang, oleh yang sakit hati dengan beliau karena menolak disuap. Orang yang guna-guna itu sendiri akhirnya, setelah bertahun-tahun, ngaku juga, saat sudah bangkrut melarat nian🙂

    beliau beberapa kali dipindah tugaskan karena dianggap tidak dapat bekerjasama untuk menghasilkan lebih banyak fee.

    Ini sama macam ancaman yang diterima kawanku Jiwa dan mereka yang “kelewat idealis” di pemkab: akan dipindahkan ke pelosok dimana untuk beli odol gigi pun sulit😀

    memang susah mempertahankan prinsip di jaman seperti ini, saya pernah dimarahi karena berucap tidak mau jadi PNS

    Aku dimusuhi dalam keluarga besar sendiri karena membongkar aib-aib mereka yang jadi elit PNS dalam keluarga kami. Dari pengadaan boat nelayan bantuan Jerman, sampai dengan honor para perawat honorer yang didepositokan demi makan bunga riba. Maka kubilang, terkadang ini menguras emosi dan tenaga juga. Tapi mau bagaimana? Ketika kita berhadapan dengan manusia-manusia cap monyet tiga, maka kita setidaknya sesekali jadi manusia cap monyet satu depan mereka: pura2 tuli agak sekali dua.😀

    entah nanti akan bagaimana nasib orang2 idealis,

    Tidak tahu akan bagaimana. Dan terkadang aku sendiri merasa bahwa aku ini bukan idealis, sudah menjadi realis tapi masih naif melihat dunia. Naif untuk percaya bahwa harga diri manusia ada pada prinsip soal nilai-nilai kebajikan yang dipegangnya, ketika harga-harga produk kebutuhan justru lebih utama🙂

    tapi paling tidak ada satu keyakinan bagi saya “idealis itu tidak terlihat baik diamata manusia, belum tentu dimata Tuhan. Paling tidak kita tahu apa yang dipertahankan”

    Amin. Semacam itu juga sering kubilangkan pada diri sendiri, pada istriku, dan pada adik-adikku, Terkadang orang sinis dengan ini, dan lebih menyakitkan (atau menggelikan?) itu, yang sinis adalah mereka yang jungkir-balik shalat, mengaku-aku beragama, mengaku percaya Tuhan, tapi mengejek sikap begini. Kadang kubilang: jika pakcik/bapak/kau/anda/siapapun itu benci dengan sikap begini, maka orang pertama harus kalian benci itu adalah Muhammad dan para Nabi, karena mereka yang mengajari orang sepertiku dengan ajaran “seseorang yang mencari kayu bakar, memikul dan menjualnya, adalah lebih baik daripada seorang yang meminta-minta”.

    Terkadang caraku kasar: aku pernah bilang depan keluarga besarku, kala mereka marah kukata-katai oknum keluarga kami yang lupa diri dengan pangkat hari ini: Mestinya semua Quran dan segala kitab hadist di rumah ini kita campak ke tong sampah. Bakar semua sajadah. Dan anak-anak yang pergi mengaji kita tempeleng dan larang. Untuk apa? Kala orang-orang tua mereka sendiri berbangga makan harta dengan cara haram. Orang tuanya sendiri yang mengencingi Quran.

    Eh, malah dibilang aku liberal lah, tak ada adab lah, tak ada moral, tak menghargai agama. Rupanya, tak makan sarkasme begitu sama mereka😀

    @ ahmadharis

    tabiat ‘ndablekmu’ ini yang membuat aku menggapmu seperti saudara dari negeri yang berbeda.😀

    Sama. Aku sendiri sebenarnya dalam lingkungan pergaulan sejak di Banda Aceh itu, merasa banyak kawan tapi sedikit yang bisa dijadikan “saudara”. Bagaimana kau mau bersaudara dengan -kau tahulah saat itu- mereka yang memuji-muji para bule, mendadak pintar mengoleksi berbagai botol vodka sebagai lambang kemodernan, lambang bahwa beliau-beliau bergaul dengan peradaban, meremehkan bacritku soal adanya cuci uang para bule di sini, soal ada brengseknya para bule memijak-mijak kearifan lokal. Bagi mereka; bule kala itu adalah anak-anak dewa.

    Ya, kita sama tahu bahwa mereka ada baiknya. Tapi kebaikan itu jangan membutakan mata sehingga membabibuta mengkuduskan para bule. Di hari ketika aku melempar sendok dan bungkusan nasi, seperti kuceritakan padamu itu, orang-orang sawo matang yang menjilat pantat para bule, mengataiku bodoh dan menertawakan prinsipku. Bahwa aku melempar karena sang bule sudah berkata, “We are not here to pray like you did, to eat like a pig, we’re work here. We pay you, so shut your mouth and get your ass over here” yang menghina ibadahku karena pergi shalat jumat, karena memang jam kerja dimulai jam 2 sesuai jadwal kantor, dan selepas jumat aku makan siang, jarum jam belum di angka dua; itu bukan soal bagi mereka -kau tahu siapa- yang kumaksud. Bagi mereka, bayaran 100rb per setengah hari adalah takaran pantas untuk harga diriku, dan harga diri keyakinanku untuk pergi ke mesjid, yang justru kulaksanakan tanpa perlu mengorupsi waktu, sesuai toleransi beragama yang tertulis di dinding kantor.

    Aku memilih kelaparan, makan nasi, tempe mentah, garam dan minyak goreng bekas, ketika uangku bahkan untuk beli minyak tanah pun tak cukup.

    Lalu kau tengok hari ini. Mereka yang dulu merendahkan prinsipku, ketika bule-bule sudah hengkang, sudah tak bisa menyumpal mulut mereka lagi, berlagak idealis kembali. Ngemeng soal keadilan. Ngemeng soal imperialisme, kapitalisme, anjingisme, taikucingisme.

    Rasanya menyedihkan sekali. Anjing-anjing para tuan yang dulu kenyang, kini kelaparan dan menggonggong bersama kaum anjing pasar yang sudah biasa di bawah seperti kita.

    anyway, di daerahku, dulu, ada seorang ulama sufi yang mendirikan mushalla (mushalla yang sampai sekarang dipergunakan), berjarak 2 blok rumah dari rumah bapakku.
    aku pernah bertanya, kenapa dinamakan Mambauzzahiddin? bapakku bercerita, bahwa orang-orang disekitar mushalla itu dibangun diharapkan bisa bersifat zuhud. Mushalla itu diharapkan sebagai pengingat seiring waktu, dan yang ingat entah siapa.😀

    Yang ingat cuma orang yang eling lan waspada, Ris. Eling dengan syukur nikmat, dan waspada pada bahaya di balik nikmat berlebihan. Kukira begitu😀

    @ syahmins

    cih panjang….

    Tabiatku kalau menulis, Min. Meluncur begitu saja😳

    jadi berapa harga selembar iJajah s2?

    Tak tahu aku. S1 pun aku tak ada😆

    @ Mihael Ellinsworth

    Mungkin mahkhluk-makhluk yang mendapatkan gelas S2 itu memang benar melanjutkan S2 di luar negeri. Disana ‘kan cuma 1,5 tahun. *eh*

    😆

    Jangankan ke luar negeri, para kere munggah bale itu bahkan tidak pernah ambil S1 di Universitas Terbuka😀

    Mari melanjutkan topik baru: Dilema pendidikan negeri ini.

    Kalau soal pendidikan, coba summon Amed dan Mansup. Kukira 2 guru itu paling kompeten:mrgreen:

    @ Zukko

    Bang Alex keren….😎 #Eh

    Keren….😆

    Mungkin suatu saat nanti kata KEREN itu akan kehilangan huruf N dan cuma tersisa KERE, dengan makna benaran KERE atau KERE yang hidup di hutan, yang kalau diberi pisang, dua tangan dan dua kakinya siap menerima seperti orang serakah😀

    @ Warm

    senang berkenalan dan punya teman yg punya sikap seperti kau, lex🙂

    Terimakasih. Sejauh ini pun, aku senang pernah kenal denganmu, udah pernah ketemu juga di PB 2010 nan silam😀

    Tapi tunggulah sampai saat nanti aku melihat/mendengar keterlibatanmu dalam proyek pemerintah (jika ada) dan lalu sempat iseng mengeritikimu, apa kau akan bisa bilang kata yang sama. Karena dulu pernah ada yang bilang begitu padaku, lalu ketika kukritiki soal mark-up pembangunan jalan aspal-gorengnya, dia meletakkanku dalam daftar nama orang yang katanya “personal enemy”.😀
    Mungkin juga akan sebaliknya posisi itu😀

    @ faraziyya

    Terus bertahan ya bang😀

    Rasanya pesimis juga😆

    Konon, idealisme itu cuma di bawah usia 30. Di atas usia 30, terutama di atas usia 40, sangat rentan goyah, apalagi jika sudah berkeluarga. Sumber korupsi terbesar dalam masyarakat kita, bukanlah dari para lajang, tapi dari mereka yang sudah berkeluarga, baik karena pinta keluarga atau karena kasih yang kelewatan pada keluarga, jadi menghalalkan berbagai cara untuk melimpahi keluarga dengan dunia. Semoga saja tidaklah. Setidaknya selama masih ingat shalat, mungkin Fara. Selama masih menegakkan shalat, meski telat-telat. Terkadang rasanya seperti anak mengadu pada ibunya, shalat itu. Dan tentram kembali. Mungkin benar agama seperti candu, tapi setidaknya “candu” itu mewaraskan diri untuk menjengkal diri sendiri. Wallahualam.🙂

    @ Iwan

    Demi masa.
    Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian,kecuali mereka yang”menggerutu” demi kebaikan.

    😆
    Ada juga yang bilang: If you’re not part of the solution, you’re part of problem soal orang-orang yang menggerutu macam “kita” ini. Mungkin ada benarnya. Tapi… ya setidaknya dengan kegiatan-kegiatan kecil selama ini di kampung-kampung sini, tanpa bantuan dana birokrasi, kukira menggerutu sesekali tak apalah. Hehe. Toh tidak karena gerutuan ini besok pagi bupati di sini akan datang dan merangkul kakiku minta maaf dan taubatan nasuha, lalu memperbaiki birokrasi di sini.:mrgreen:

    @ Adhe

    Alex di Abdya kan? berarti masih saudaraan sama Pak Syamsurizal dong? Beliau mantan Bapak kos saya #apose😀

    Ya. Dia itu yang kumaksud. Aku memanggilnya “nenek”.
    Bapak kos-mu dulu? Sempit nian dunia ini. Hehe. Kepikir, sudah berapa rumah dia dirikan selama jadi wabup, untuk deposito anak-bininya di masa depan, seperti biasa laku para pejabat negeri ini?

    Tapi tak apa, masing-masing kita bisa berjuang dimana saja bukan?

    Benar🙂

    kalau saya, sementara ini menjadi public enemy dikantor sendiri sudah cukup membuat saya senang kok hehehe…

    😆

    Terkadang ada sisi menyenangkannya memang. Ini seperti permainan, lakon di pentas dunia. Memainkan peran sebagai Hamlet atau sebagai Ophelia, sebagai Brutus yang membunuh bapaknya atau sebagai Cleopatra yang memperbudak orang dengan pesonanya, justru itu yang membuat dunia menarik. Itu sebab, aku tak suka di-seragam-kan, didisiplinkan dalam satu barisan, laksana apel upacara😀

  7. Luar biasa, Sob.
    Cara ente menyampaikan pikiran sungguh mengagumkan. Biasanya saya ngga kuat baca postingan lebih dari 10 paragraf.
    Saya salut pada pendirian ente. Kalau saya mungkin meletakkan kebutuhan keluarga di atas idealisme.

  8. Aku bukan tak mungkin juga akan tiba di fase yang sama macam yang kukritiki, Bro. Mungkin dalam waktu dekat ini malah, kalau anakku jadi lahir selamat. Cuma kukira, sebelum terjeremus jadi seperti mereka yang kita kritiki, aku dan kawan-kawan juga siapin regenerasi. Generasi lebih muda yang sudah kami katakan: hari ini kami bicara A, jika esok lusa kami bicara B, maka kalian yang gantian memaki kami. Mungkin telinga kami akan tebal, tapi setidaknya, kalian bisa sadarkan orang lain betapa rusak perangai kami.

  9. Kita bisa saja menahan ‘diri’,hingga mati sekalipun.
    Kalau bicara anak-anak ,bisa lain cerita ya lex.

  10. Iya. Aku juga berpikir bukan tak mungkin kalau nanti tiba kesempatan dengan pendapatan lebih besar, aku akan lebih jahat dari mereka yang selama ini kucerca. Dengan alasan yang sama: demi keluarga. Mudah-mudahan tidak.😀

  11. ass bang alex, aku baru baca tulisan abang…semoga kelahiran anak abang malah jadi cambuk untuk tetap eksis, jangan jadikan anak berhala bang….kasian, apalagi kaya orang2 yg selalu abang tulis..anak dikasih makan dg uang ga jelas halal haramnya…apa ga malu..ato urat malunya udah putus kali ye…

  12. @ putu mualaf

    Wa alaikum salam.

    Terimakasih untuk harapan dan dukungannya. Kuharap juga tidak. Aku sampai kini masih berpegang pada ucapan Nabi bahwa adalah lebih baik mencari kayu bakar dan menjualnya jadi rezeki, daripada menadah. Mungkin, jika sudah kepepet nian, aku akan berhutang, tapi jangan sampailah jadi seperti yang kukritiki sendiri. Benar, anak tak semestinya jadi berhala, meski pun kita sayangi mereka. Quran sendiri sudah jelas menuliskan bahwa anak dan harta, serta istri, bisa jadi godaan untuk bermegah-megah.

    Terimakasih sudah mampir🙂

  13. Ya, ada yang begitu. Aku sendiri juga sering dikritik begitu. Ngomong tanpa tedeng aling-aling memang tak selalu baik. Makanya tak cocok katanya aku di bagian humas atau malah dagang. Di toko, dari urusan niaga melayani pembeli, ditendang ke urusan gudang karena sikap begitu. Kata boss: lari pelanggan karena sikapmu.

    Padahal itu sepele saja awalnya: karyawan ada 3 di toko. Biasa kalau sudah zuhur, mereka pulang makan siang. Dan hari itu pun, barang masuk banyak. Muka sudah pucat. Azan pula. Biasa memang jam istirahat. Kusuruh berhenti saja. Ada pembeli protes, ngotot mau belanja. Sampai keluar ucapan, “Apa tak mau uang? Kalau belanja di sana blablabla… kalau di toko sana bliblibli….”. Tak tahan juga mulut. Ini para karyawan sudah pucat muka nahan lapar. Kusuruh balikin faktur pembeliannya, sekalian uangnya, kusuruh makan uang itu sekalian. Konon sakit hati pembeli. Pun biar aku tak merasa salah, kukira ada benar juga teguran boss: terlalu blak-blakan dan temperamental. Degradasi lah sudah ke urusan gudang sampai kini. Susah memang merubah tabiat😕

  14. Ping-balik: Arah Hidup « lambrtz's Blog

  15. kala bendu wis minger
    genti wektu jejering kala mukti
    arep edan ora tekan
    melu edan sangsaya kelangan

    jaman edan (kala bendu) sudah ditutup pada puncak 1 abad kebangkitan ansional sebagai sumpah pemuda 28 Oktober 2008

    jika kita melihat hari-hari ini masih ada yang edan, itu adalah orang-orang yang ketinggalan jaman

    “Jangan Takut Kau tidak sendirian…Generasi Pencerahan sudah datang “

  16. kala bendu wis minger
    genti wektu jejering kala mukti
    arep edan ora tekan
    melu edan sangsaya kelangan

    Ini kalau terjemahan bebasnya kira-kira bagaimana kisanak? Maaf, aku bukan orang Jawa dan tidak begitu faham sebenarnya akan bahasa Jawa. Banyak membaca karya Ronggowarsito juga lebih berupa terjemahan saja😀

  17. Benar. Teman tetap kawan. Berseberangan pendapat dan cara mencari isi periuk nasi tak mesti membuat bermusuhan sepanjang zaman🙂

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s