Catatan Tentang Sebuah Blog Sejarah

Hari ini, barusan saja, diantara sekian postingan yang bertengger di BOTD-nya WordPress, aku menemukan sebuah blog menarik. Blog pesholo, sebuah blog dengan tagline: Melihat Masa Lalu Memahami Masa Depan.

Meski sebenarnya ada juga blog-blog sejenis (beberapa ku-subscribe juga dalam RSS reader atau langsung follow via layanan WordPress.com), namun sependek pengetahuanku blog-blog semacam ini memang masih jarang, jika bukannya langka. Sampai hari ini, ketertarikan (masyarakat) kita, terutama para netter yang mendiami ranah blogosphere, terhadap catatan sejarah memang masih kecil. Sejarah nasional sendiri, seperti yang bisa kita temui dalam buku 30 Tahun Indonesia Merdeka (pernah menjadi salah satu bacaan anak-anak sekolah di era 80-an dan 90-an), lebih sering mencatat hal-hal besar dan orang-orang besar daripada hal-hal kecil dan orang-orang kecil.

Memang benar, bahwa tak semua hal-hal “kecil” di negeri ini harus dicatat. Kalau pun ada kehendak begitu, akan sangat kewalahan satu buku atau satu lembaga menyatukan itu semua. Namun di sisi lain, melupakan kenyataan bahwa sejarah besar beranjak dari hal-hal kecil, juga merupakan sebuah kekeliruan. Apalagi melupakan sejarah kehidupan negeri ini di masa lalu: bagaimana kebudayaan mereka, bagaimana kemiskinan pada masa itu, bagaimana kehidupan para Tionghoa yang juga merupakan bagian dari negeri ini. Dan untuk itulah aku menaruh respek pada blog semacam blog phesolo itu. Karena, dengan adanya seorang blogger membuka serpihan-serpihan sejarah negeri ini, aku jadi tahu hal-hal yang mungkin sepele, tapi menarik dan berpengaruh pada perjalanan nasib negeri ini di kemudian hari.

Misalkan saja, potret begini:

bocah kecil penjual bunga di Garut, tahun 1926

Meski lazim mendengar soal kemiskinan di masa itu, yang biasanya menyertai kisah-kisah pemberontakan terhadap penjajahan dari era Sarekat Islam Merah (sebutan untuk kelompok SI Semarang) di bawah Semaun (seperti dikisahkan Soe Hok Gie dalam buku Di Bawah Lentera Merah), hingga pemberontakan PKI di tahun tersebut; namun jarang hal-hal kecil begini, potret kemiskinan zaman dahulu kala, muncul menyertai. Mereka, orang-orang seperti bocah kecil penjual bunga di atas itu, cuma pelengkap penderita dari perjalanan sejarah yang mengorbitkan sejumlah bintang, sejumlah tokoh, sejumlah negarawan. Mereka tak ubahnya anak tangga yang seakan cuma berfungsi untuk dipijak, untuk menaikkan sejumlah manusia ke jajaran tokoh penting sejarah, untuk kemudian dilupakan.

Ini memang hal yang lazim di mana pun. Baik di negara ini atau negara lain. Ambil contoh Amerika Serikat: sejarah negara itu sudah kadung mengenalkan hingga ke penjuru dunia sosok Abraham Lincoln sebagai pelopor pertama anti-perbudakan, padahal jauh sebelum dia maju sebagai presiden dengan gagasan anti-perbudakannya, seorang Harriet Beecher Stowe sudah menuliskan novel Uncle Tom’s Cabin yang menentang perbudakan. Di masa sekolahku pun sosok Abraham Lincoln diperkenalkan demikian, namun tidak dengan sosok Harriet Beecher Stowe yang cuma seorang novelis. Padahal pengaruh dari novelnya itu cukup besar di masanya, cuma tak didukung oleh kekuatan politik seperti yang dimiliki oleh seorang calon presiden saat itu.

Hal ini jadi sebab kenapa aku suka dengan blog sejarah seperti yang kubahaskan dalam postingan ini. Sejarah-sejarah kecil, sejarah ringan, sejarah tentang bagaimana kehidupan di masa dahulu, adalah sejarah tentang kebudayaan yang melengkapi identitas sebuah negeri. Benua Amerika tanpa sejarah para Indian, bukanlah Amerika sama sekali. Dia cuma akan jadi benua pelarian anak-anak Anglo Saxon dari Eropa. Demikian pula, Surakarta tanpa sejarah pemukiman Tionghoa di masa lampau, bukanlah Surakarta hari ini.

Persis seperti kuotasi “A country without a memory is a country of madmen” dari George Santayana, yang diletakkan si empunya blog di sana, seperti itu pula pendapatku. Tanpa sejarah, tanpa kenangan dan ingatan, kita cuma seperti orang gila yang tak punya masa lalu. Ketika aku membaca tentang hilangnya suara alu dan lesung, ingatanku melayang ke masa SD dahulu. Masa-masa ketika nenekku masih hidup dan menggunakan alat penumbuk padi yang di Aceh disebut jeungki. Bentuknya begini:

alat penumbuk padi di Aceh

Begitu terbiasa telingaku dengan suara alat penumbuk padi itu. Dari rumah nenekku, sudut-sudut kampung bahkan di belakang sekolahku pun penduduk memiliki alat seperti itu. Gedebak-gedebuk suara penumbuk, jadi irama biasa di musim panen, masuk dalam kelas kami, memberitahu kami bahwa ada padi sedang dipermak menjadi beras.

Lalu zaman berganti. Generasi nenekku satu-satu meninggal dunia, seperti daun-daun jatuh gugur dibabat musim kehidupan. Seperti itu pula budaya dan tradisi zaman.

Mesin-mesin tiba, menggantikan segala: dari mesin penggiling kopi hingga penggiling padi. Alat dengan mekanisme sederhana untuk menumbuk padi seperti foto di atas, dengan cepat tergeser. Terpinggirkan. Tersudut antara jalan sejarah dan parit sejarah. Sekali  jatuh dalam parit sejarah, menjadi bagian dari air kehidupan yang mengalir ke kali, ke sungai, ke muara dan ke lautan, maka mereka pun terlupakan. Beberapa bertahan untuk tak jatuh, seperti sosok Nek Ti yang masih menumbuk padi dengan alat tradisional ini. Masih memegang tradisi dan budaya zaman dahulu, ketika di zaman ini padi bisa dibawa ke penggilingan dengan harga giling beberapa belas ribu. Ketika di warung-warung kopi, racikan kopi dibuat tak lagi dengan kesungguhan hati menumbuk kopi, namun dengan listrik dan suara mendengung dari mesin penggiling. Hingga kopi di kampung pun jadi seperti berubah rasa. Salah satu sebab kenapa aku lebih suka dengan kopi kampung yang tulen masih ditumbuk tradisional, dengan ampas yang tersisa di gelas kopi bisa dioleskan di rokok membara.

Tentu tak mungkin berkehendak agar kehidupan kembali seperti dulu. Namun, sejarah adalah sejarah. Meski kita sudah meninggalkannya, dia mesti dikenang dan dilestarikan dalam ingatan, dalam catatan. Sebuah budaya yang pernah ada di masa lalu, adalah salah satu fase dari budaya dan sejarah di saat ini. Saat dimana orang Aceh sepertiku mungkin akan begitu merindukan untuk melihat bentuk jeungki lagi dengan menjenguk museum atau memesan miniatur seharga delapan puluh ribu seperti diobral di situs pusaka tuha. Saat dimana orang Aceh sepertiku akan menonton tarian tradisional Top Pade: sebuah tarian Aceh yang mengisahkan tentang petani menumbuk padi; sambil mengingat-ingat apa nama dan bagaimana bentuk alat penumbuk padi dahulu kala.

Dan itulah kenapa kupikir, meski bercampur-balut fakta dan nostalgia, berjalin-kelindan sejarah dan kenangan; memang tiap diri mesti ada menorehkan agak sepatah-dua tulisan tentang sejarah di sekitarnya. Mungkin seperti Jensen menuliskan sejarah operation reckless di tanah Papuanya. Meskipun sejarah yang kita tulis itu mungkin cuma sejarah-sejarah kecil saja. Sejarah tentang kebiasaan warga mencari kutu di desa-desa, atau bagaimana potret penjaja tuak keliling di zaman dulu, di kala orang-orang fanatikus agama belum tiba menyiram orang yang mereka anggap berdosa. Setidaknya seperti pernah kubaca sabda Paman Tyo: demi mengisikan konten di ranah internet untuk memperkaya konten kita sendiri. Terlalu naif mungkin. Tapi sungguh hal yang ironis ketika kita rajin mencatat sejarah dari negeri lain, dan terasing dari sejarah di negeri sendiri.

Begitulah menurutku. Setidaknya, aku tak ingin generasi di bawahku nanti menonton tarian Aceh tentang ritual menumbuk padi sambil bertanya kebingungan, “Dulu numbuk padi pakai apa? Jeungki? Apa itu?” dan generasiku tak bisa menjawab apa-apa.

Sudah. Mari nikmati sekejap musik dan tarian Aceh yang kusebut-sebut itu.

17 thoughts on “Catatan Tentang Sebuah Blog Sejarah

  1. Thanks Mas Alex Atas Ulasannya mengenai blog saya…saya sangat menghargai sekali salam kenal…Oh ya untuk maslah RSS blog..saya kurang paham antara summary dan Full feed artinya apa ..Thanks..Maklum Newbie…:) salam kenal juga…:)

  2. Itu pilihan untuk umpan RSS di pengaturan admin blog. Ada di pengaturan-membaca. Kira-kira URL setingannya: alamatblogyangmaudiseting.wordpress.com/wp-admin/options-reading.php
    Di situ nanti, untuk tiap tulisan di dalam umpan, ditampilkan full saja. Ini memudahkan yang subscribe untuk membaca RSS-nya😀

  3. Sama-sama😀
    Ada minat bikin tulisan sejarah begitu? Ayolah. Kehidupan masa silam di Borneo sana kukira tak kalah menarik juga😎

  4. ah yg mutakhir cuma yg album itu memang beda dari dulu tp warna orange dan ijo udah gak ganti lagi😀

    tetap pakai gradasi buat yg😎

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s