Koleksi Foto Jadul: Aceh Tempo Doeloe

Sebagaimana kubilangkan dalam postingan 2 hari nan silam, perkara menuliskan sedikit-banyak soal sejarah untuk memperkaya wawasan sejarah anak negeri, meski mungkin kecil dan nyaris tak berarti; maka beginilah kehendakku dalam postingan kali ini: menampakkan sejumlah foto-foto dari sejarah Aceh di masa silam.

Ada cukup banyak foto-foto sejarah berbentuk foto digital, dalam album koleksi di harddisk PC, laptop maupun harddisk eksternal. Baik foto-foto sejarah Aceh dari zaman kesultanan, pasca ditemukannya perangkat untuk merekam wajah manusia dan alam semesta oleh Joseph Nicéphore Niépce, sampai di masa 80-an ketika pemberontakan GAM gelombang pertama tidak menuai sukses.

Sejumlah dari foto-foto tersebut memiliki deskripsi masing-masing, namun kebanyakan tidak memiliki deskripsi sama sekali, sehingga mesti meraba-raba untuk mencari tahu itu foto kapan, dimana, tentang apa dan siapa-siapa saja orangnya. Ini cukup merepotkan. Bahkan jika foto-foto tersebut masih berkisar di sekitar sejarah kampungku di pesisir selatan Aceh, atau malah ada leluhur sendiri terlibat di dalam foto-foto tersebut, tidak gampang untuk mengorek informasi tentang peristiwa apa di balik sebuah foto. Sehingga menyulitkan untuk memberikannya deskripsi yang jelas dan bisa jadi acuan sejarah. Sebagai misal adalah foto-foto yang masih berbentuk hitam-putih dalam album lama, bukan digital, milik salah satu kaum famili, tentang pembentukan milisi perang kemerdekaan di masa Teuku Nyak Arif, atau foto-foto dari zaman gerilya Teungku Peukan yang tewas tanggal 11 September 1926 kala menyerang tangsi Belanda di Blangpidie.

Menimbang itulah, maka kukira untuk langkah pertama elok kuunggahkan saja foto-foto berdeskripsi begini. Ada hasrat hendak membuat deskripsi tambahan, sependek wawasan yang kumiliki, untuk menerangkan apa-apa di balik sebuah foto. Namun kukira, akan terlalu panjang dan memberatkan jika kuatur semua foto-foto di sini berurutan satu per satu dengan deskripsi dan ulasan masing-masing. Terlalu panjang untuk diulas dan dibaca, juga akan memberatkan loading dari postingan ini.

Maka dari sebab itu kukira pilihan terbaik adalah mengabadikan foto-foto ini dalam bentuk galeri saja. Hitung-hitung melengkapi apa yang sudah dikerjakan oleh seorang rekan sesama Aceh di blog sebelah.

Namun, hendaklah difahami bahwasanya foto-foto yang kumunculkan kali ini, bukanlah foto hak milikku sendiri. Selain itu, tak ada niatan mengomersilkan barang sikitpun foto-foto ini. Aku mendapatkan foto ini beberapa tahun silam, ketika masih menjadi seorang mahasiswa yang nguli (jadi admin, istilah kerennya) di laboratorium Fisika Komputasi, Fakultas MIPA Unsyiah. Jika tak silap ingatanku, aku mendapatkan ini dari harddisk milik Aweng, seorang senior angkatan 1998 yang berasal dari Sabang, Pulau Weh, yang memang cukup banyak mengoleksi foto-foto sejarah begini.

Nah, demikianlah. Silakan dinikmati galeri foto ini.

Catatan: Foto-foto ini aslinya berukuran rata-rata 1856 x 2758 pixel. Cukup memberatkan dengan koneksi internet di sini untuk diunggah banyak-banyak sekaligus. Maka foto-foto di sini adalah foto-foto yang sudah dikompres dibawah 1000 pixel.

Iklan

28 thoughts on “Koleksi Foto Jadul: Aceh Tempo Doeloe

  1. Setidaknya dengan dokumentasi foto-foto tempoe doeloe macam di atas, kita jadi tahu wajah Aceh zaman silam itu seperti apa, demikian juga daerah-daerah lainnya.

    postingan di atas juga mengingatkan saya pada sebuah film dokumenter zaman penjajahan di Indonesia (yang menurut saya bagus) yang berjudul Moeder Dao.

  2. Benar. Menjenguk masa silam itu sebuah hal bagus juga, kita jadi tahu rupa-rupa kehidupan dulu di berbagai daerah, berbagai anak bangsa.

    Film Moeder Dao? Film seperti apa itu? Googling ah :mrgreen:

  3. Syukurlah kita masih bisa melihat gambaran masa lampau, agar generasi ini dan yang akan datang tidak melupakan sejarah yang saat ini semakin ter”kikis”.

  4. buat blog baru aja untuk topik yang ini. buat dengan sistem terbuka jadi banyak yang bisa nyumbang. mirip na9a gitulah, tapi ini khususon tentang foto sedjarah aceh.

  5. @ Fendy

    Syukurlah kita masih bisa melihat gambaran masa lampau, agar generasi ini dan yang akan datang tidak melupakan sejarah yang saat ini semakin ter”kikis”.

    Benar. Tujuannya memang demikian, Syukur juga masih ada pertinggal foto-foto begini. 🙂

    @ syahmins

    buat blog baru aja untuk topik yang ini. buat dengan sistem terbuka jadi banyak yang bisa nyumbang.

    Kan sudah ada AcehPedia yang dikelola Fadli dan kawan-kawan kalau yang sistem begitu 😀

    mirip na9a gitulah, tapi ini khususon tentang foto sedjarah aceh.

    na9a? Apa itu? 😕

    @ Idah Ceris

    sumpah kreatif bangeet kak alex inii. . .

    Waduh. Itu karena lagi iseng saja dan kebetulan bahan ada :mrgreen:

    itu bapak2 jaman dulu kumisnya panjang2 ya kak. . . 😀

    Iya. Jadi ingat film Cut Nja’ Dhien atau Si Pitung 😆

  6. Ping-balik: Muntilan dalam bingkai Foto masa lalu | Moentilan Tempo Doeloe « Suluh Numpang Nulis

  7. Aceh punya rekaman sejarah yang cukup lengkap. kisah patriotisme yang digambarkan dalam berbagai buku. terkenal sejak dulu, selalu aku kagum dengan itu. Belanda pun kesulitan menghadapi perlawanan rakyat Aceh. beda dengan tempatku. minim jejak sejarahnya. syukur2 kalau masih ada anak muda yang mau mengingatnya. Apalagi kalau habis baca buku sejarah, miris rasanya tak ada yang membahas soal daerahku. Ada keinginan kalau pulang kesana mencari tau soal itu. membuat kisahnya.

  8. @ Citra Taslim

    Meski rekam-jejak sejarah Aceh cukup lengkap, namun sebenarnya banyak juga yang tercecer. Terutama di museum-museum luar negeri, seperti Museum Leiden di Belanda. Ada juga yang tertarik mengumpulkan, seperti sosok Tarmizi A. Hamid yang mengumpulan sukarela manuskrip-manuskrip lama, tanpa bantuan pemerintah.

    Ini memang ironis. Pemerintah republik ini berkoar-koar soal bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawannya, atau bahwa tidak boleh melupakan sejarah, tapi kurang perhatian dengan sejarah negeri sendiri. Aku malah menemukan di situs negeri lain petikan berita The New York Times tanggal 3 Mei 1873, soal laporan perang di Aceh ini:

    “A sanguinary battle has taken place in Aceh, a native Kingdom occupying the Northern portion of the island of Sumatra. The Dutch delivered a general assault and now we have details of the result. The attack was repulsed with great slaughter. The Dutch general was killed, and his army put to disastrous flight. It appears, indeed, to have been literally decimated.”

    Padahal berita seperti ini penting juga untuk melengkapi referensi sejarah.

    Tak ada jalan, selain individu-invidu macam kita juga yang harus mengumpulkannya. Berharap orang lain atau pemerintah akan mengumpulkan, kiranya susah, kalau bukan diri sendiri yang memulai. Jadi nanti kalau pulang ke daerahmu, tulislah barang sedikit juga soal sejarah di sana. Niat bagus itu 🙂

    @ elfarizi

    Aku juga baru tahu kalau di WordPress bisa bikin galeri. Kukira masih seperti dulu, mesti diatur satu-satu :mrgreen:

  9. Sip!

    Nyoe balek u Aceh rencana keumeung lon scan foto-foto dilee cit, sigoe tamita koleksi bak internet, bak milis-milis jameun dilee 😀

  10. sudah saatnya bangsa indonesia dari sabang sampai merauke bersatu…perbedaan adalah kekuatan yang luar biasa….dari pejabat sampai rakyat hilangkan sifat ke”aku”an….sudah saatnya indonesia menjadi negara bagi bangsanya…

  11. Sepakat bagi komentar yang mengajak menghilangkan sifat ke”aku”an.

    Silakan yang mau sedot gambar ini 🙂

  12. wisss…. keren,, ane liatin satu per satu… jadi kepengen balik ke masa belanda dulu.. andai saja bisa pake mesin waktu yahh!! 😀

  13. Wah, kalau ada mesin waktu siapa juga tak mau mencicipi. Tapi hati-hati kita balik ke sana. Nanti kena tangkap kompeni disuruh kerja rodi 😆

  14. Ho oh. Untung zaman digital ini. Bisa lah dikoleksi begini. Kalau sempat masih zaman kamera Kodak, habis lah kita. Haha.

  15. Hehe. Nggak selalu, Gan. Haha. Malah ada cerita kocak bahwa dulu orang Aceh perang pakai pantat. Tak ada meriam, ditipunya Belanda yang masih di laut: diatur barisan dengan pantat menghadap ke laut. Dikira Belanda itu meriam. Wakakakaka.

  16. bereh kali, meuheut teuh taneuk gisa bak masa nyan…? hudep bahgia mate syahid. ken lage jameun jinoe.. hudep lage meuayang…
    bagai mimpi… hidup di negeri boneka.

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s