Sebuah Lagu Lawas Dan Lirik Cinta Yang Mungkin Kelak Akan Banal

Sekitar semingguan lalu, aku mempostingkan sebuah video musik dari satu band legendaris Indonesia, untuk istriku. Video lawas dengan musik lawas, dan personil yang pastinya juga lawas.

Tak ada yang kelewat istimewa dengan video dari situs berbagi video itu. Liriknya juga tipikal lirik-lirik biasa dalam tema percintaan. Namun, ketika kurenung-renung mereka, para musisi dalam video tersebut, serta lirik lagunya yang penuh dengan sanjungan pada cinta-kasih antara dua anak manusia, terpikirkan juga olehku untuk bikin postingan yang akhirnya cuma jadi draft saja. Postingan yang berawal dari ngobrol via layanan Yahoo! Messenger dengan istri, setelah menandai namanya dalam postingan video tersebut di Facebook.

Pertama, mari lihat seperti apa video kumaksudkan itu…

Video Koes Plus?

Ya. Video Koes Plus, membawakan lagu Hatimu Dan Hatiku. Salah satu lagu favorit dalam koleksi album-album Koes Plus yang pernah kumiliki (dalam bentuk kaset, sebelum era MP3 tiba), sebagai salah satu penggemar Koes Plus di negeri ini.

Saat aku menandai video tersebut pada istriku beberapa malam yang lalu, aku bilangkan padanya, lihatlah video ini. Video di masa-masa seorang Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo dan Murry masih muda remaja. Para personel Koes Plus itu masih segar belia. Usia belum menua. Dan kepercayaan pada cinta masih membuncah dalam dada, yang bisa ditemui pada sekian lagu-lagu mereka, seperti dalam lagu “Sendiri Dan Rahasia“.

Tahun-tahun berlalu, dan usia mereka menua sejak mereka menyanyikan lagu-lagu tersebut. Dengan silih-berganti suka dan duka datang dalam kehidupan mereka. Dari masa dimana seorang Tonny Koeswoyo harus menjual radio miliknya untuk membeli becak demi mencari rezeki, setelah mendekam kurang-lebih 3 bulan dalam bui, di masa Soekarno menjadi seorang megalomaniak yang berbacrit soal revolusi Indonesia yang anti budaya ngak-ngik-ngok sementara dia hidup mewah dengan istri-istri bak selir paduka raja di istana; sampai masa meninggalnya Maria, istri Yok Koeswoyo, dalam kecelakaan, dan meninggalnya Tonny Koeswoyo di tahun 1987.

Koes Plus dalam salah satu konser di masa jaya mereka

Dalam kehidupan mereka, mereka sama saja seperti orang lain. Terutama dalam hal cinta dan hubungan dengan lawan jenis. Mereka juga memiliki masa-masa dimana rasa cinta itu begitu berkobar dan menyala. Masa-masa dimana seakan derita dan sempit kehidupan belum tahu kenal, dan cinta belum terasa banal. Segala rasa yang kemudian mereka olah menjadi lirik-lirik lagu yang terkenal. Rasa yang sebenarnya biasa saja. Sebiasa semua anak manusia rasakan di planet rapuh ini.

Mungkin satu saja yang membedakan mereka dengan yang lain, mungkin dengan diriku atau anda yang sedang membaca ini: mereka menikmatinya, tanpa perlu merasa gengsi untuk dicap lebay atau sok romantis. Sebuah hujatan biasa dari kalangan manusia yang sering merasa diri mereka paling waras, paling logis dan paling intelek untuk menakar persoalan rasa begini dengan ukuran kemodernan hidup masa kini, dengan kerasnya kehidupan (meski bisa diragukan bahwa hidup orang-orang sinis begini adalah sekeras bacrit mereka) yang bisa menenggelamkan segala rasa kasmaran.

Seperti kubilangkan pada istriku, dan kawanku Diyus bilangkan juga pada istrinya bertahun lalu, hubungan antar dua lawan jenis tidak akan selalu seperti gerak matahari yang harmonis. Aku ingat dengan rekanku itu, kala kami sekali waktu duduk di atas loteng rumah kontrakanku, di masa kuliah dulu. Dia bertutur tentang keterbukaan untuk berbagi cerita dan pendapat dengan istrinya. Untuk berkomunikasi tentang segala kemungkinan yang akan tiba di masa depan. Mereka yang pernah mengalami masa-masa pahit dalam percintaan, ditolak berbagai pihak, dicemooh para kenalan karena nekad untuk  menikah meski mendapat restu setelah para orang tua mereka menerima cucu. Mereka yang sadar, bahkan dalam kobar rasa cinta begitu menggebu, kehidupan nanti akan bisa begitu menderu dan semua gairah di masa lalu bisa jadi menyusut seperti debu.

Ini sama seperti bacritanku soal idealisme dahulu. Soal sesuatu yang mungkin kelak akan terdesak dan cuma bisa banyak berkabar. Tentang apa-apa nilai hari ini yang dianggap istimewa dan begitu kental, namun di suatu hari nanti bisa terasa begitu banal.

Di atas kepala kami, malam itu, bulan terang dan langit berbintang. Satu barusan menikah dan satu lajang. Melinting ganja dua batang, bergitar lagu Belum Ada Judul-nya Iwan Fals, untuk sesekali bisu lengang jika ada reo aparat lewat sebagai fenomena biasa kala dentum senjata adalah kerik jengkerik bagi malam-malam kami. Dan bisu lengang seperti itu mungkin akan kembali tiba, dalam bentuk lain pula. Bukan lagi sengketa atas nama negara, tapi mungkin atas nama dua dunia: pria dan wanita.

Kita mesti jujur menerima bahwa hidup memang tak seindah kisah di komik, atau seindah lagu Obladi Oblada-nya The Beatles yang segurih jus lemon menyanyikan happy ever after cinta Molly dan Desmond. Sehingga, kelak jika ada hal-hal tak mengenakkan datang dalam kehidupan, jika ada rasa kecewa maka tak akan kecewa nian. Kita sudah sering melihat berbagai pasangan seperti selebriti di layar tipi, penuh mesra mengumbar cinta di layar kaca, untuk beberapa bulan kemudian melihat mereka bermusuhan seperti dua sosok yang tak kenal-mengenal, tak pernah berbagi bantal.

Namun dengan kejujuran untuk mengakui ketidak-pastian kelok-kelok hidup, tak juga jadi alasan untuk membuat segala rasa yang sedang menyala, segala hasrat yang sedang lekat, untuk menjadi redup. Sederhana saja, seperti kataku pada istriku: kesetiaan itu pada dasarnya adalah rekatan dari keping-keping kenangan. Kepingan-kepingan yang kita satukan setiap hari, bahkan sekecil apapun, hingga kita merasa memiliki masa lalu bersama. Sesuatu yang akan menjadi harta tak berbenda, di suatu ketika ada sengketa, untuk menengok ke masa silam dan bertanya pada diri: kemana sudah segala rasa yang pernah membuncah?

Bukankah kesetiaan memang pada dasarnya datang dari rasa memiliki? Kesetiaan pada negeri ini, adalah karena kita sudah didoktrin oleh rasa memiliki negeri ini, sebuah doktrin yang diam-diam mengendap dalam keping-keping kenangan akan tahun-tahun yang pernah kita lalui di tanah air, sebagai warga negara republik ini; sehingga akan janggal jika diri bersetia dengan lain benua yang tak pernah kita habiskan usia di sana. Begitu pula menurutku soal hubungan antara dua anak manusia. Sederhana tapi begitulah adanya.

Aku menulis begini pula, untuk jadi pengingat pada diri. Bahwa di suatu hari selasa di tahun 2012, aku pernah membacritkan sabda begini rupa. Sesuatu yang mungkin kelak akan dibaca oleh anak-anakku, atau mungkin akan diingatkan oleh kawanku. Mungkin ketika aku mabuk dan berjalan di sisian rel kereta sambil berkata pada kawan sesama seniman tak kesampaian dengan emosional: “Kau kira aku tak bisa jadi mapan? Kau kira aku tak bisa merebut anakku?” seperti pernah Chairil Anwar bilangkan pada Rivai Apin bertahun silam, sesudah dia diceraikan Hapsah kala usia anak mereka baru jalan 7 bulan.

Seorang temanku pernah agak-agak sinis  dengan sikapku bermesra dengan istri, terutama menautkan sejumlah lagu atau bikin puisi. Aku tertawa dan menjelaskan padanya, bahwa dalam sikap demikian pun, masih ada kewarasan dalam diri untuk menerima bahwa hidup adalah misteri tersendiri. Cinta hari ini, benci di esok pagi. Tapi, justru karena hidup adalah misteri tak pasti, dengan Ajal mengintai seperti ninja tak bernama, kenapa tak nikmati saja apa yang ada? Jika kelak hidup panjang, kita bisa mengenang. Jika kelak hidup pendek, kalau pun kita lupa dikenang, setidaknya kita pernah hidup dalam kasih sayang. Dan kukira, itu pun cukuplah jadi alasan untuk menikmati rasa-rasa hari ini, sebelum segala masalah datang menebal-kental, sebelum kata-kata “aku mencintaimu” menjadi banal. Sebelum nanti isi dompet sebagai pembeli bensin kehidupan jadi menipis, lalu cinta dan rindu jadi kembang-kempis, serta perut mesti puasa senin-kamis.

Setidaknya, mungkin seperti personil Koes Plus (serta band-band sezaman dengan mereka) yang tersisa hari ini melihat masa lalu mereka, aku juga berharap jika kelak usia menua, dengan lagu-lagu kenangan atau puisi-puisi kenangan hari ini, bisa berkata pada anak-anak yang tumbuh remaja: Lihat bekas-bekas kecantikan di wajah ibumu yang menua. Dia pernah begitu cantik dahulu. Begitu cantik untuk membuatku melagukan dengan gitar lagu-lagu cinta dahulu kala padanya. Untuknya.

Karena kehidupan memang serpihan kenangan. Selalu demikian.

Iklan

3 thoughts on “Sebuah Lagu Lawas Dan Lirik Cinta Yang Mungkin Kelak Akan Banal

  1. @ Mizzy

    Hihi.. sungguh pasangan yang romantis 😳

    Lagi mesra-mesranya kali… 😳

    Hehe.

    Nanti mesti ada badai-prahara-akan-tiba-menggoncang-bahtera juga *tssaahh… bahasaku* cuma ya dinikmati sajalah apa yang dirasa hari ini 😎

    @ ardiansyahpangodarwis

    saya suka mas lagu-lagu klasik
    apa lagi beatles
    hhehehe

    Wah, sama!
    Lagu-lagu lama itu evergreen loh. Nggak akan gampang hilang 😎

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s