WordPress Retired Theme

Jadi… beberapa hari belakangan ada rasa jenuh dengan tampilan blog ini. Setelah berbulan-bulan, sejak tahun 2009, menggunakan tema Freshy (dengan header pertama dihadiahkan oleh Doni untuk blog lama yang sudah mati, lalu dipermak kembali oleh Aris untuk blog ini), jadi kepikiran juga untuk mengganti tampilan. Namun, entah kenapa, sejak kembali aktif ngeblog, sepertinya jadi lebih tertarik dengan tema yang minimalis, simpel, bersih, sedapat mungkin tidak perlu menggunakan header, dan juga tidak terlalu banyak pernak-pernik. Sing penting enak dibaca dengan huruf, dan latar belakang postingan/halaman nyaman di mata, serta ada sekedar tempat untuk meletakkan widget sebagai pelengkap penderita.

Maka untuk menindak-lanjuti keinginan tersebut, jadilah selama beberapa hari belakangan tampilan di blog ini bergonta-ganti, dengan alasan yang mirip hasrat Tuan Warm. Yang membedakan cumalah perbedaan dunia: beliau di blog hostingan sendiri dan blog ini di hostingan gratisan milik WordPress. Sehingga jika beliau bisa saja mengganti tema sekehendak hati, dan kemudian memoles kembali, tidak demikian halnya tema di blog ini. Terkadang ini jadi perkara yang cukup merepotkan juga, karena saat mencari tema yang kira-kira cocok, tak bisa ditambal apa-apa yang tak enak dengan utak-atik CSS, kecuali jika melakukan upgrade ke layanan premium (sesuatu yang belum jadi skala prioritas sampai saat ini).

Opsi yang tersedia cuma bisa menguji-coba sejumlah tema gratisan yang disediakan oleh WordPress. Bermacam tema dengan deskripsi “minimal”, “minimalistic”, “minimalist”, “magazine”, “simple”, dan “clean” sudahlah kucoba; mulai dari tema yang masih terhitung baru seperti Suburbia dan Splendio, lalu berganti Fresh & Clean dan Imbalance 2, sampai mencoba Inuit Types dan DePo Masthead serta The Morning After yang juga dipakai oleh blog unofficial Dahlan Iskan. Namun belum ada yang cocok-cocok benar kurasa. Sampai kemudian iseng pula aku menengok tema-tema lawas.

Nah, barulah aku tahu ada perkembangan soal per-tema-an di WordPress ini.

Rupanya… kini di WordPress ada tema-tema yang berkategori retired, alias “pensiun”. Sejumlah tema-tema yang masuk kategori “purnawirawan” itu adalah sebagai berikut:

Banana Smoothie.

Masih ingat dengan tema bergambar jus pisang ini?

Bagi wordpresser generasi lawas, tentu pernah melihat tema ini. Tema yang kiranya cocok untuk mereka yang hobi ngeblog soal resep masakan, kesehatan atau mungkin buah-buahan. Pokoknya dunia yang disenangi oleh oknum-oknum urusan perut dan lidah seperti Tuanku Datuk Bondan Winarno dan Puan Besar Sri Farah Quinn.

Namun rupanya tema jus pisang ini sudah dianggap pensiun, dan digantikan dengan tema Fruit Shake yang sama-sama bertemakan pisang juga. Perkara itu pisang kepok atau pisang Ambon, mungkin tukang pisang dan Almascatie lebih tahu:mrgreen:

Dusk.

Nah, tema satu ini, di saat postingan ini dibuat, sedang dijadikan tema blog ini. Aku tak pernah memakai tema ini dalam waktu yang lama di blog-blogku dahulu. Seingatku, terakhir aku memakai tema ini di tahun 2009, itu pun saat membantu kawanku bikin blog yang kemudian menjadikan tema ini sebagai tema blognya.

Tema ini cukup sederhana dengan tampilan yang cukup menarik. Didominasi warna hitam dan biru, serta tampilan artistik dan abstrak di bagian jidatnya. Selain dari itu, tema ini juga memiliki tipe huruf yang cukup enak untuk dibaca. Salah satu kelemahan tema ini adalah tidak tersedianya fitur halaman di bagian header dimana biasanya halaman-halaman dari sebuah blog bertengger, seperti kebanyakan tema lainnya. Untuk mengakali ini, mesti menggunakan widget halaman atau widget teks.

Ternyata tema ini juga sudah dikategorikan “uzur”, sehingga diganti dengan tema Dusk to Dawn, yang diklaim lebih unggul, terutama dengan adanya dukungan untuk format-format postingan yang meliputi galeri, gambar, kuotasi, tautan, chat dan audio.

Duster.

Tema ini merupakan tema yang hampir tidak pernah kupakai, selain untuk ujicoba belaka. Padahal secara kesuluruhan tema ini cukup menawan. Memiliki latar yang simpel dan didominasi warna putih, serta tampilan huruf yang nyaman dibaca. Terbukti ketika kemudian tema ini dikategorikan “manula” dan di-upgrade menjadi Twenty Eleven, tema ini memiliki cukup banyak peminat. Dalam jumlah pengguna di WordPress.com, tema ini menempati rangking empat.

Flower Power.

Kalau tema yang satu ini memang tak pernah kupakai. Hehe. Ini menurutku salah satu tema yang nggak banget, apalagi untuk seorang blogger pria. Jika pun segala ornamen bunga nan indah rupawan di tampilan tema ini dihilangkan, namun layout dari blog ini juga termasuk jelek dan terlalu banyak ruang kosong di salah satu sisinya. Meski, tentu saja, ini penilaian yang subjektif, sebab seingatku pernah ada teman-teman blogger (terutama dari kaum hawa) memakai tema ini dulu.

Ternyata, saudara-saudari, tema ini sudah dipensiunkan dan diganti dengan tema Bouquet yang masih menawarkan keharuman bunga dalam dominasi warna pink. Cocok bagi para blogger wanita atau blogger pria yang memiliki kecenderungan untuk mengikuti jejak Dedi Yuliardi Ashadi alias Bunda Dorce Gamalama🙂

The Journalist v.1.3.

Aku sudah mencoba mencari screenshot dari tema satu ini, namun agaknya di Theme Showcase-nya WordPress, screenshot dari tema ini tidak tersedia. Maka gambar di samping ini merupakan screenshot dari preview di blogku sendiri. Kalau diklik tautan ke tema ini, cuma memunculkan keterangan bahwa tema satu ini sudah di-upgrade ke versi selanjutnya, The Journalist v.1.9, tanpa gambar screenshot.

Tema ini sebetulnya termasuk tema yang menarik jika mempertimbangkan faktor minimalitas, simpel dan bersih. Namun tema ini juga tak pernah terpakai olehku. Baik versi dahulu atau versi kemudian. Entah untuk nanti, agaknya tema ini masuk sebagai salah satu pertimbangan juga jika menurutkan kriteria yang kuterangkan di awal postingan ini.

Monotone.

Tema yang cocok bagi para blogger yang hobi dengan dunia fotografi ini sebenarnya juga merupakan tema yang bagus dan pernah jaya di masa mudanya dahulu. Untuk blog yang khusus photoblogging bisa, untuk blog dengan postingan biasa juga bisa. Namun kekurangannya (atau malah kelebihannya?) adalah karena memang didesain untuk photoblogging sehingga akan terasa janggal -saat itu- jika melihat postingan muncul dalam modus seperti slide gambar. Hal ini tidak jauh berubah ketika tema ini dinyatakan sudah layak masuk panti jompo dan dikudeta oleh Duotone.

Prologue.

Sama seperti kejadian dengan tema The Journalist v.1.3 di atas, dalam theme showcase WordPress tema ini juga tidak memberikan screenshot, sehingga (lagi-lagi) aku meng-screenshot gambar tema ini dari tampilan preview di blog sendiri.

Tema ini termasuk salah satu tema yang unik di WordPress, karena menggunakan konsep seperti trend socal media, sehingga bisa meng-update postingan seperti meng-update status di Facebook atau Twitter. Aku pernah pakai tema ini beberapa lama, sampai kemudian mencopotnya, karena akhirnya merasa ribet sendiri untuk membenahi permalink dari tiap postingan yang bergaya update status yang pernah kubikin. Hal yang agaknya sudah dibenahi oleh tema P2 yang menggantikannya. Tema ini, baik versi lawas maupun modern, menarik untuk dipakai, terutama jika blog yang menggunakannya adalah blog organisasi atau bisnis, atau blog untuk update perkembangan pemrograman seperti WordPress Development Updates.

Quentin.

Ini merupakan salah satu tema bergaya klasik diantara tema-tema lawas di WordPress. Dan juga merupakan salah satu tema yang kurang kusukai, karena tampilan yang terasa kurang nyaman untuk dibaca, meski sebenarnya hurufnya itu cukup ramah dengan mata. Seingatku diantara blogger-blogger lama yang pernah betah memakai tema ini adalah Budi Rahardjo.

Namun versi berikutnya dari tema yang dipensiunkan ini, yaitu tema Quintus, agaknya sudah memperbaiki kelemahan dari tema Quentin ini. Terakhir kutengok kemarin itu, huruf dan tampilan blog sudah lebih elegan, lebih enak dibaca.

Rubric.

Salah satu tema yang tidak kusukai dari dulu. Tema ini salah kaprah menurutku. Mau bergaya seperti majalah atau koran, tapi tampilan terlalu lebar dengan banyak kehampaan dalam tampilannya. Mau dibilang tema untuk ngeblog harian, tampilan juga ada rasa-rasa koran nan lebar.

Ini tema juga sudah dibangkupanjangkan, dan diganti oleh eselon yang lebih muda: tema Reddle. Menurutku memang layak diganti. Kalau saja di WordPress ada opsi untuk menyingkirkan tema dari tiap blog, seperti kemampuan yang dimiliki oleh Blogger, tema ini memang sudah dari dulu akan kusepak😈

Solipsus.

Tema dengan gaya yang mirip-mirip tema Dusk ini, dulu sempat menjadi tema kesukaanku. Karena tanpa repot-repot memermak segala header, tampilan dari tema ini sudah cukup menarik. Selain itu juga enak dibaca, serta kolom komentar terasa lega dengan ukuran gravatar para komentator yang datang menghujat terasa cukup. Besar nian tidak, kecil benar tidak.

Dan seperti tema Dusk pula, tema ini pun akhirnya masuk kategori veteran, dan digantikan oleh Dusk to Dawn juga. Cukup sedih juga, namun apa daya. Semoga amal ibadah Solipsus diterima di sisi desainernya.

Sweet Blossoms.

Seperti halnya tema Flower Power, tema ini tidak pernah kupakai di semua blog-blogku yang pernah menjajah ranah WordPress. Tak pernah sekalipun di sepanjang hayatku nan (alhamdulillah) cukup gemilang ini. Sehingga, dengan sukacita dan tanpa perasaan kubilangkan pada sekalian alam, bahwasanya tak ada rasa kehilangan bagiku soal terpensiunkannya tema yang satu ini. Bahkan tidak juga jika tema penggantinya, Bouquet, dihilangkan serta dari jagad raya ini.😈

Nah, demikianlah sejumlah tema yang sudah masuk kategori retired alias pensiun.

Apa maksud “retired” di sini berarti tak bisa dipakai lagi?

Ya dan tidak. Kalau merujuk pada beberapa bacaanku perkara tema-tema ini, seperti di sini, tema-tema ini tidak ditampilkan lagi di theme showcase-nya WordPress, dan tidak diperkenankan untuk dipakai oleh blog-blog yang baru dibuat di tahun 2011. Namun, demi menimbang blog-blog uzur, tua bangka, yang mungkin bloggernya alhamdulillah masih hidup dan sehat pula, maka tema-tema ini masih tersedia. Berbeda dengan tema PressRow yang di-upgrade menjadi Pilcrow, dan tema Cutline yang di-upgrade menjadi Coraline, kedua tema lawas itu “dipermak” menjadi lebih modern tanpa memberi opsi untuk beralih ke tema baru. Salah satu blogger jadul pengguna setia tema jadul itu adalah Small Duck. Dan kutengok beliau cukup setia sampai hari ini. Subhanallah.

Jadi… setelah ngemeng panjang x lebar x tinggi perkara tema ini: mana kira-kira tema enak dipakai? Atau memang tema jadul kali ini sudah cukup maknyuss menurut mata?

*asking the layar monitor*

21 thoughts on “WordPress Retired Theme

  1. hehe, saya malah terpesona dengan misty look yang saya pakai dalam waktu yang sangat lama, hehe

  2. Misty Look itu memang salah satu tema yang bagus. Sampai sekarang juga masih dipertahankan di WordPress.com. Ada beberapa rekan blogger lain yang seingatku penggemar tema yang satu ini😀

  3. Sebagian besar tema-tema lawas ini banyak yang terlalu ramping.
    Untuk tampil optimal, seharusnya semua tema harus bisa memanfaatkan lebar lapangan, sehingga pemain sayap bisa memberikan umpan crossing kepada penyerang (ini template atau bola?!?!?!).

  4. ini bagian yang menyenangkan dari sampeyan
    sampe ganti theme aja dipikirin sampe detil sekali
    etapi iya ini keren jg pilihannya
    baiklah, saya browsing theme juga ah, mau ganti lagi *labil*😆

  5. @ nandobase

    Sebagian besar tema-tema lawas ini banyak yang terlalu ramping.

    Benar. Banyak yang bikin postingan yang malah lebih pendek dari postingan ini jadi seakan-akan sepanjang 2 halaman dabel-folio😆

    Untuk tampil optimal, seharusnya semua tema harus bisa memanfaatkan lebar lapangan, sehingga pemain sayap bisa memberikan umpan crossing kepada penyerang (ini template atau bola?!?!?!).

    😆

    Mau bagaimana pula, keputusan Paduka Matt dan segenap jajaran Happy Enginer di WordPress laksana keputusan FIFA soal lebar lapangan bola dalam kancah sepak bola😆

    @ warm

    sampe ganti theme aja dipikirin sampe detil sekali

    Lagi iseng tadi pagi itu, maka jadi postingan ini:mrgreen:

    etapi iya ini keren jg pilihannya

    Sejauh ini keren lah masih. Nanti kalau jenuh juga ganti lagi:mrgreen:
    *labil*

    baiklah, saya browsing theme juga ah, mau ganti lagi *labil*😆

    Hidup labil! \m/😎

    @ Idah Ceris

    walaupun belum pernah memakainya, sepertinya tema Rubric lebih maknyuus id matoooo. . .😆

    Sebenarnya enak sih tampilannya itu. Bersih dan sederhana. Tapi terlalu lebar pula kolom halaman dan postingan, dan sayangnya di kolom komentar malah kekecilan, baik ukuran atau pun avatarnya:mrgreen:

    @ megitristisan

    bagus mas tema barunya.

    Iya, sejauh ini masih bagus. Cuma agak mengganggu pakai tema ini, kalau login ke dashboard wordpress muncul tulisan:

    Howdy! Your current theme, Dusk, has seen an update in the form of a brand new theme, Dusk To Dawn. For more information, check out our blog post introducing Dusk To Dawn to the world.

    Tetap saja dihasud untuk segera bertukar tema oleh WordPress:mrgreen:

  6. Ganti theme berarti ganti tampilan hmm, kalo saya sih lebih suka mendownload nya dan menyimpan di sesuatu tempat, dan jika ada kesempatan mungkin bisa jadi rupiah hahahahahahaha😀😀

  7. @ Fendy

    Ganti theme berarti ganti tampilan hmm,

    Iya. Gonta-ganti saja lah dulu belakangan ini :mrgreen:

    kalo saya sih lebih suka mendownload nya dan menyimpan di sesuatu tempat, dan jika ada kesempatan mungkin bisa jadi rupiah hahahahahahaha😀😀

    😆
    Bagaimana pula itu caranya, sementara blog ini di hostingan WordPress:mrgreen:

  8. saya juga baru tau klo beberapa tema sudah pensiun😯
    dan salah satunya adalah s-sweet blossoms !😥

    itu padahal tema kesukaan sejak dulu pertama ngeblog di wepe (lah saya cuma pernah ngeblog aktif di wepe sih:mrgreen: )
    Theme ini lama-lama bikin bosan. tapi agak males juga ngotak ngatik karena jarangnya ngeblog😀

  9. Gak terlalu peduli dengan tampilan Tema blog.
    Soalnya saya ndak ngerti desain.. hwakakakak,, yg penting kita ngeblog ae om..

    Ya tho??
    ehehe

  10. @ syahmins

    eh ada theme yang ku pake😀

    The Journalist?:mrgreen:

    itu rubric bukannya pernah dipake ama ngkoh pahmi?

    Ya, di blogsome-nya beliau😀

    @ rosthiena

    temanya bagus koq…salam kenal y mas alex

    Bagus ya?😎

    Salam kenal kembali🙂

    @ Idah Ceris

    waaaaah. .
    kak alex udah pernah nyoba tema itu apa kak?

    Udah pernah. Dan seperti komentar Nando di atas, rasa-rasanya agak terlalu lebar😀

    @ eMina

    saya juga baru tau klo beberapa tema sudah pensiun😯

    Aku pun sempat shock. Naik tensi darahku….

    *berlebihan*

    dan salah satunya adalah s-sweet blossoms !😥

    Iya, Sweet Blossoms memang termasuk yang disingkirkan😀
    Dan tema itu memang sebaiknya disingkirkan!👿

    itu padahal tema kesukaan sejak dulu pertama ngeblog di wepe

    Ya wajar sih. Wanitah….🙄

    Theme ini lama-lama bikin bosan. tapi agak males juga ngotak ngatik karena jarangnya ngeblog😀

    Ngutak-atik tema kayaknya memang bukan skala prioritas lagi untuk blogger uzur kini:mrgreen:

    @ Mas Bro

    Gak terlalu peduli dengan tampilan Tema blog.

    :mrgreen:

    Soalnya saya ndak ngerti desain.. hwakakakak,, yg penting kita ngeblog ae om..

    Sama. Aku pun tak ngerti benar soal desain😆

    Ho oh. Yang penting sih ngeblognya itu😎

  11. OK. jadi kau anggap aku ini blogger uzur? *asah parang*
    sejujurnya kenapa saya tidak pernah ganti-ganti theme mungkin karena saya termasuk pemalas dan juga pencinta status quo. demikian.

  12. *pasang baju besi*
    =))
    *tinggal nunggu Kijink, Dekink and the genk datang*

    Aku itu malah kagum loh sama blogger-blogger yang nggak labil ganti-ganti theme. Seperti Aris Susanti Susanto yang lama setia pakai Black-Letterhead. Atau tema Neat di blog lama Jong Ambon itu. Juga Misty-Look di blog Sora. Jadi ciri khas masing-masing. Jadi kalau singgah tiba-tiba berganti, rasanya malah jadi asing.:mrgreen:

    Kalau blog begini ini memang blog ababil. Abang-abang sok labil.😳

  13. wakakak … saya pernah pake tema pisang itu hehe … berkali-kali ganti-ganti, saya nyaman pake tema yang minimalis kayak tema blog saya sekarang😀

  14. @ elfarizi

    Sepertinya belakangan ini memang lebih nyaman pakai tema minimalis. Kalau dilihat pun, WordPress.com belakangan lebih sering mengeluarkan tema minimalis juga😀

  15. Ah Bang, jangan pake theme ini, ini theme lama!😦
    Kenapa mesti theme ini ketika tersedia banyak sekali theme2 yang lebih modern?😐

  16. 😆

    Karena tema ini masih ada. Haha.

    Nggaklah, aku juga sudah merasa nggak akan lama pakai tema ini. Maka di postingan di atas kubilang “tema satu ini, di saat postingan ini dibuat, sedang dijadikan tema blog ini.”:mrgreen:

    Malam ini juga rencana mau kembali ganti ke tema minimalis, atau yang bergaya majalah😀

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s