Hikayat Para Berandal Dan Para Pembuli

Beberapa hari lalu, seorang teman yang tidak menjalani profesi tak berguna sebagai bloher™ (baca: blogger, -red), mengaku bahwa beliau membaca satu komentarku di sebuah postingan milik Gentole. Usut punya usut, si teman rupanya mendapatkan bacaan komentar aibku itu setelah aku membagi postingan tersebut di layanan yang sukses memperkaya Mark Zuckerberg. Itu sebab maka tersenter olehnya komentarku yang memang sudah macam ngeblog seenaknya di sana.

Reaksinya kira-kira begini:

“Kau komen masih macam berandal saja, wak. Tak ilang2 sipat acem premanmu. Sudah tua, sudah boleh tobat awak.”

Begitu hujatnya sambil terkekeh di sore itu, di sebuah warung kopi tak jauh dari kompleks rumahku. Lalu, dia tanya-tanyalah apa pasal muncul komentarku yang sok-preman sedemikian. Cerita-bercerita soal celotehku di sana, kujelaskan lah kenapa aku berceloteh sepanjang itu memuntahkan apa isi kepala. Lalu jadi merembet kemana-mana. Merembet ke rasa alergi pada sikap orang-orang yang gemar nge-bully, baik di dunia nyata atau di dunia maya. Merembet ke perulangan kisah lama, kisah-kisah kala masih bocah atau masih jadi remaja yang gemar beradu otak dan beradu otot, gemar menantang bahaya (cari masalah, -red), dan gemar untuk ngebully orang-orang yang ngebully.

Dia tergelak. Bak negarawan baru siap melobi hutang untuk memperkaya diri atas nama negeri, dia pun mengajakku bersulang. Meski beda minuman (aku teh dan dia kopi), serta cuma pakai gelas murahan, tapi lagak kami seakan sedang minum sake pakai sloki, macam perangai bangsawan dalam pesta kekaisaran. Bersulang untuk mengenang masa bocah, masa remaja, masa muda yang bodoh, labil dan berdarah-darah. *hiperbola*

Aku dan temanku itu adalah generasi yang tumbuh besar di akhir 80-an dan awal 90-an. Kami menjalani masa yang sama yang bikin kami pernah hidup macam anak berandal. Bahkan memang difitnah berandal di masa bocah dan masa remaja, meski -tentu saja- kami begitu percaya diri selalu merasa bahwa kami ini adalah anak baik-baik yang cuma menyalurkan energi berlebih di dalam raga agar tak sia-sia terpendam begitu saja. Kalau tak disalurkan, bisa merugikan bakat-bakat kami yang pasti akan berguna bagi nusa, bangsa dan agama di satu hari kelak…

*mendengar suara muntah-muntah massal*

Jadi begini salah satu cerita lama itu…

Pada suatu hari yang terlupakan tanggalnya, di saat aku masih kelas 6 SD, beberapa anak sebayaku datang menarikku dari kantin sekolah. Salah satu diantara mereka adalah murid kelas 5 dari SDN 2, SD-ku sendiri. Satu orang anak kelas 5 SDN 1, yang sekolahnya bersebelahan dengan sekolahku. Yang lainnya tak pakai seragam sama sekali, entah memang tak sekolah atau anak putus sekolah.

SDN 1 dan SDN 2 Blangpidie, sekolah kami itu, memang berdekatan. Sementara SDN 1 merupakan sekolah yang terbilang elit di masa itu (karena ramai anak orang berada, anak orang berpangkat dan anak-anak Toke Cina sekolah di sana), SDN 2 dimana aku bersekolah adalah “sekolah rakyat” dengan rata-rata siswanya anak PNS eselon beras catu, anak nelayan, anak petani, anak tukang becak, anak supir truk dan anak kuli panggul. Jadi, SD-ku yang bersebelahan agak ke dalam dari SDN 1 itu, seperti pelengkap penderita sebuah kompleks pendidikan dimana dua sekolah sedekat jari tengah dan jari telunjuk. Pelengkap penderita kubilang, karena memang nampak timpang dibelah perbedaan, seperti parit besar membelah kedua sekolah kami. Boleh dibilang sekolahku saat itu seperti sekolah pelarian saja untuk anak-anak tak mampu, baik secara materi atau secara akademik*.

Nah, apa sebab aku diculik di hari itu?

Oh. Sepele sekali masalahnya!

Sebelum penculikan itu terjadi, di saat jam pertama “keluar main-main” (istilah kami untuk menyebut jam istirahat di masa itu), aku menepis tangan adik kelasku, si anak kelas 5 itu, yang rupanya hendak memeras anak Cina yang sedang membeli kue di salah satu lapak kue dalam kompleks dua SD kami. Sebagai abang kelasnya, tak suka aku dengan sikapnya, meski dengan munafiknya aku juga kadang-kadang mengolok-olok anak Cina di masa itu. Olokan seperti (maaf): Cina loleng, makan babi satu kaleng. Tapi perkara olok-olok itu, dengan sedikit dalih egois, kuanggap masih wajar pada sesama anak laki (meski kemudian aku tahu bahwa anak Cina yang laki-laki pun tak suka dan cuma bisa diam saja). Namun memeras anak perempuan, biar pun anak Cina, aku tak suka. Meski pernah aku tertawa melihat temanku yang gagal menodong salah satu anak Cina perempuan (yang kemudian hari kelak menjadi pendampingku sebagai bendahara kelas di SMP, dan mengingatkanku pada kezaliman di hari itu). Dengan alasan-alasan egosentris itulah, walau pun beda sekolah, walau pun tak kenal-mengenal aku dengan anak perempuan Cina itu, kutegur si adik kelasku.

Si adik kelas tak senang. Ucapannya kasar sekali saat itu. Kira-kira, “Apa urusanmu?! Sudah dikasih roti babi sama dia?!”

Tak suka ucapannya, kudorong dia dan kuhalau anak Cina perempuan itu pergi cepat-cepat. Namun, rupanya anak kelas lima SD-ku itu tak terima aksi pemerasannya gagal, dan lebih tak terima kudorong bahunya. Digebuknya punggungku pakai tinjunya. Cukup keras, punggungku sampai bersuara macam tilam dihantam pemukul kasti. Naik pitamku, kubayar lunas gebukannya dengan tonjokan ke lambungnya. Terduduk dia. Meringis-ringis macam kena diare. Beberapa siswa lain melerai, termasuk Kak Sar, pemilik lapak kue saat itu. Lonceng berbunyi pertanda masuk. Bubarlah semua. Masuk kandang kelas masing-masing. Kukira masalah sudah selesai. Ternyata tidak demikian.

Si anak kelas lima ini, rupanya bukannya masuk kelas. Dia cabut dari kelas dan mengadu pada anak SD sebelah, pada temannya dari satu kampung. Kampung Rawa, salah satu bagian dari kawasan tengah kota kecil kami, tersohor (di masa itu) sebagai salah satu kantong para bandit, para preman, dari kelas teri sampai kelas kakap. Dari tukang berantam, tukang mabuk, tukang curi mangga sampai tukang gondol kambing orang. Kiranya mereka sekalian cabut dari sekolah, mengontak teman-teman sekampungnya. Dan teman-teman satu kampungnya itu pun, para bocah calon preman di masa depan, menindaklanjuti pengaduan tersebut pada jam istirahat kedua. Laksana adegan penculikan ala intelijen, mereka menyeretku ke kawasan belakang kompleks dua sekolah itu. Ke tengah sebuah kebun milik warga sekitar.

Kira-kira begini denah di masa itu:

Denah asal-asalan. Silakan diklik kalau kurang kerjaan.

Di sana, di tengah kebun nan lapang milik warga, tertegun-tegunlah aku dikepung beberapa bocah-bocah sebaya. Sang panglima dari kelompok pembela anak seasal-kampung itu, mulailah menggertak-gertak, mendorong-dorong bahuku dengan bahunya, sambil menanyai apa aku ini merasa jagoan, apa aku ini sudah dikasih sogokan uang keamanan sama anak Cina, apa aku ini ‘nantang anak kampung Rawa. Segala jawabanku tak masuk lagi ke telinganya yang ganjil sebelah itu (pernah kudengar-dengar daun telinga bercodet nyaris putus itu tanda heroiknya dia menjalankan darma bakti sebagai preman yang sudah malang-melintang dalam kangouw kelas kambing, pasca disambit pemilik kambing yang memergokinya hendak melarikan seekor anak kambing).

Sejauh tanya-jawab berlangsung, tak satu pun kepalan tangan melayang. Dan memang lazim demikian di zaman itu. Ada semacam kode etik tak tertulis kalau hendak bertarung: biar lawan memukul dahulu, jadi kalau nanti ada kenapa-napa, bisa berdalih dipukul duluan. Ini terutama berlaku jika lawan ditaksir imbang-imbang untuk ditantang. Jadi cara untuk memancing emosi lawan adalah dengan mengata-ngatai atau menggertak. Kalau itu tak mempan, biasanya ada pihak ketiga yang girang hatinya melihat orang berkelahi bak ayam aduan, datang menyodorkan hasutan. Metode provokator itu biasanya begini: dia ambil sebatang ranting atau batu, lalu diletakkan dekat kaki kedua pihak sambil mengklaim bahwa yang di kaki si A adalah ayah si B, dan yang di kaki si B adalah ayah si A. Dipancinglah keduanya siapa cukup bernyali untuk memijak benda-benda itu duluan.

Dalam perkaraku hari itu, metode itu pula akhirnya sukses meletuskan pergumulan. Tak mempan mendorong-dorong bahuku, tak mempan memancingku memukul duluan (sebab aku sendiri saat itu merasa jiper juga: satu lawan satu masih tak masalah, tapi dikeroyok lain cerita!), Si Panglima akhirnya mengambil sebuah labu yang sudah busuk, agaknya jatuh dari pohon dipatuk kelelawar, lalu dengan sadisnya menginjak labu itu dengan kakinya sembari memproklamasikan bahwa labu itu adalah kepala ayahku. Pecahlah “kelapa ayahku” dibikinnya.

Di Aceh, di kalangan bocah-bocah sepertiku, kepala adalah hal yang mulia. Setiap anak lahir, kepala akan diazankan (bagi laki-laki) atau diqamatkan (bagi perempuan), lalu dicuci dan didoakan seperti acara pembaptisan dalam agama Kristen. Maka itu paling pantang bercanda dengan memainkan kepala di kalangan kami. Apalagi kepala orang tua diolok-olok.

Naik pitamku. Kuterkam Si Panglima Telinga Codet itu. Meski tak jago-jago benar bertinju, namun berbekal bacaan biologi, tahu aku bahwa dagu adalah salah satu titik keseimbangan manusia. Di situlah kudaratkan hantaman tinjuku. Sempoyongan dia terjatuh, kuterkam sekalian. Mengamuk sejadi-jadinya.

Gerombolannya, seperti perkiraanku, tak tega melihat panglima mereka meronta-ronta, langsung ikut terjun serta. Agaknya mereka tak menduga kalau anak yang agak kerempeng dan dipandang remeh, senekad itu memaksimalkan siku lutut dan lengan menghunjam-hunjam lambung dan rusuk sang Panglima. Gedebak-gedebuk punggung dan betisku disepak-sepak, dipukuli beramai-ramai.

Namun tak lama, seorang teman sekelas lewat. Ternyata beliau hendak kencing di semak-semak, terlihat olehnya aku dipukuli. Teriak-teriak dia mencegah, tak dihiraukan, terjun jugalah dia serta menolong. Lawanku berkurang. Tapi siksaan tetap masih melayang-layang di raga. Sudah nyeri-nyeri badanku digebuk 3 orang sekaligus, termasuk adik kelasku. Tapi tak kulepaskan juga cekikanku di leher Si Panglima. Sampai kemudian Sang Panglima sukses mengayunkan bogemnya ke pelipisku. Gelap mataku, tangan meraba-raba. Terpegang batu segenggaman, kuregam erat-erat, dan dengan sepenuh kuasa kuhantamkan ke sisi jidatnya. Terbit bunga api. Memercik darah. Meraung dia.

Perkelahian mereda. Tertegun-tegun semua melihat darah mengalir. Lonceng tanda masuk berbunyi dan -mungkin seperti aku sendiri gentar melihat darahnya itu- mereka berhamburan lari, apalagi seorang warga lewat dan berteriak-teriak ada perkelahian. Aku dan temanku pun lintang-pukang menyelamatkan diri dari bapak-bapak itu, yang mengancam akan melempari batu pada kami. Sayup-sayup masih kudengar teriakan geng preman kampung itu meneriakkan ancaman “Tunggu pembalasan kami” laksana pilem-pilem balas dendam era Suzanna.

Hari itu, kami bertiga dipanggil ke kantor kepala sekolah. Namun, betapa pun dipaksa, tak ada diantara kami mengaku bahwa ada pengeroyokan. Cuma aku dan adik kelasku berkelahi dan teman sekelasku lewat hendak melerai tapi terpukul tak sengaja, sehingga jatuh dan kotor bajunya. Pasal perkelahian tetap diterangkan seperti awal mula perkara: ada pemerasan terhadap anak Cina SD sebelah. Anak Cina itu dipanggil serta. Dan kami diharuskan bersalam-salaman. Kantor kepala sekolah untuk sejenak jadi ajang halal-bi-halal macam lebaran.

Selesai?

Belum. Temanku yang ikut berkelahi mengingatkanku akan kemungkinan ditunggu oleh anak-anak yang tadi memukuliku. Karena jumlah kekuatan kami berkurang, dan barusan saja melakukan perdamaian, maka elok pulang dengan cara menghindar dari jalan raya, jalan utama. Sebagai langkah penyelamatan, kami pulang lewat jalan setapak belakang sekolah, melintasi lapangan sepak bola kota kecil kami, hingga berpisah di kawasan simpang pertokoan dan pulang ke rumah masing-masing.**

Demi penyelamatan diri pula, aku pun masuk rumah bukan lewat depan toko (saat itu masih tinggal di ruko), namun lewat jalan belakang. Cepat-cepat mencuci baju seragam dan menjemurnya, sebelum ibuku yang jadi guru di SD lain, pulang dan menemukan bekas-bekas tanah yang mencurigakan. Kalau sampai ketahuan, bisa berabe. Sementara ayahku memiliki sebuah lidi berpilin tiga, ibuku memiliki jurus andalan: membelai mesra rambut halus di sisi telinga. Rasa kedua hukuman itu, apalagi kalau digabungkan jadi satu, hmm… boleh coba. Insya Allah sesiapa kena segera berjanji akan taubatan nasuha. Itu sebab sedapat mungkin kuelakkan semua kemungkinan ketahuan. Selesai menghilangkan barang bukti, lekas-lekas aku terbang menghilang ke rumah teman-teman. Tak pulang sampai petang. Kepentingan apalagi jika bukan menggalang kekuatan.

Nah, di kota kecilku itu, di awal tahun 90-an, sudah ada geng-geng terbentuk, warisan dari geng-geng lama era Koes Plus dan Rinto Harahap. Sebagai anak laki satu-satunya yang tak betah di rumah, aku kenal belaka dengan kelompok-kelompok bocah di sekitaran kota kecilku. Salah satunya anak-anak di Simpang Diamond: sebuah simpang yang dinamai demikian karena ada toko mas Diamond di situ. Letaknya tak jauh dari toko keluargaku. Masuk agak ke dalam, maka akan ditemui kawasan tongkrongan anak-anak Laskar dan sub-divisinya: bocah-bocah sebayaku yang abang atau pamannya jadi anggota Laskar.

Laskar ini adalah geng besar yang kemudian hari aku sendiri masuk ke dalamnya sebagai generasi pertengahan 90-an, seperti pernah kusinggung di sini dan terutama di sana. Rata-rata anak di kampung Blang Plawet, di belakang kawasan pecinan kotaku, adalah kawanku bermain. Di sanalah kukisahkan bahwa aku dipukuli. Teman-teman dan para senior geng (saat itu masih SMP dan SMA), panas mendengar soal itu. Apalagi anak Kampung Rawa. Apalagi yang memukuli itu anak buah Enny, seorang preman tersohor dan sering cari masalah di kawasan kota yang masuk jajahan anak-anak Laskar.

Perkara bahwa anak Kampung Rawa memang sering bentrok dengan anak-anak simpang kota, itu biasa. Tapi kalau itu pengikutnya Enny, itu ibarat menyiramkan bensin ke api unggun. Umpama darah tersiram yang mengobarkan api revolusi.

Enny ini memang sosok fenomenal. Biar pun nama panggilan mirip perempuan, tapi perangai sungguh preman. Usianya lebih tua sekitar 2-3 tahun dariku. Rambut ikal dan mata tajam seperti mata copet ngintai mangsa. Konon sudah drop-out sejak masih TK. Namanya tersohor di Blangpidie sepanjang masa. Preman yang sering mangkal di Simpang Ceurana, salah satu landmark kota kecil ini, dan pengganggu ketertiban umum paling setia. Terkadang anak-anak pulang mengaji, dia hadang juga. Yang lewat pakai sepeda, dia sambit. Satu-dua kali menghilang, setelah dibogem jagoan-jagoan Laskar karena sudah menjajah daerah jajahan geng Laskar. Lalu kambuh lagi.

Hasil rapat liar di petang itu: besok anak-anak Laskar, terutama sub-divisi SMP dan SD, demi solidaritas pada seorang teman (itu aku), dan solidaritas pada anak-anak Cina (ini cuma pelengkap dalih saja), serta demi membasmi kemaksiatan yang merajalela sehingga sekelompok preman tak sekolah begitu kurang ajar sampai menyerbu sekolah untuk membela yang salah, maka besok anak-anak geng Simpang Diamond, di bawah bendera Laskar, mesti juga menyerbu sekolah (ini sungguh retorika yang cuma dalih belaka, dan sama kurang ajarnya!).

Diantara anak-anak Simpang Diamond belakang pecinan itu, rata-rata sekolah di SDN 1 dan SDN 3 (sekolah pinggir lapangan sepakbola kota yang dikenal dengan sebutan SD bertingkat, karena berbentuk gedung 2 tingkat). Termasuk 1-2 anak Cina yang jadi teman bermain kami. Namun, gembong-gembong jagoan masa itu memang bercokol di SDN 1. Salah satu diantaranya adalah teman dekatku Topan, dan Pedro, ketua geng anak-anak.

Topan ini anak blasteran Aceh-Jawa. Badan kekar, tegap, hitam. Kepalan tangannya cukup keras. Pernah belajar silat, lalu berhenti karena mengaku anti-kekerasan padahal sering juga bertinju. Orangnya bergaya santai dan matanya sayu, kiranya sesuai bakatnya yang masih kelas 6 SD tapi sudah mahir berprakarya melinting piper menggulung ganja. Penggemar lagu Mister Gelek-nya Iwan Fals, Bang Bang Tut-nya Slank, dan Buffalo Soldier-nya Bob Marley yang diklaimnya lagu para petani di masa perjuangan (sebab dia tak pernah tahu arti liriknya dalam bahasa Inggris).

Pedro sendiri adik dari Abit, salah satu boss dalam kelompok Laskar senior. Badannya juga tak kalah tegap. Tersohor pernah mematahkan 1/2 lusin batu bata dengan sikunya, pernah belajar kuntao pada pendekar Cina (padahal cuma seorang pedagang barang elektronik yang terkenal karena pernah mematahkan hidung seorang kleptomania). Dia ini kalau dalam film laga ibarat Ong Bak, jagoan kickboxing untuk kelas bulu ayam bagi kami.

Singkatnya, besok pagi jelang jam istirahat, sesuai amanah dalam rapat kemarin petang, menyusup-nyusuplah anak-anak Simpang Diamond yang tidak/putus sekolah ke kompleks SDN 1 dan SDN 2. Saat jam istirahat tiba, Pedro dan Topan sudah memberiku isyarat suruh tunggu di tempat kejadian perkara terlebih dulu. Cuma beberapa menit saja mereka sudah membekuk dua anak kelas 5 yang kemarin bersekongkol untuk menggebukku. Seperti yang mereka lakukan padaku, demikian pula yang mereka rasakan. Mereka bawa kedua bocah itu ke belakang sekolah. Di sana, dua kali lipat dari geng yang mereka bawa, teman-temanku sudah melingkari kami bertiga. Pucat pasi muka kedua berandalan itu.

Seperti aku ditantang-tantang kemarin, begitu pula mereka kuperlakukan. Capek memancing, tak juga mereka memulai. Seperti “kepala ayahku” dipecahkan kemarin itu, kuambil pula sebutir kelapa tua dan sisa labu busuk kemarin yang rupanya masih ada di situ, lalu kubilang pada mereka bahwa itu adalah kepala ayah mereka. Satu kusepak, satu kupijak. Yang satu mental jauh ke balik pohon-pohon kelapa dan mangga, satu lagi binasa kuremukkan.

Tak juga ada respon. Geram hatiku. Sampai kucaci betapa tak berharga jika berkelahi dengan pengecut-pengecut yang cuma merasa jago kalau bawa-bawa teman, tapi begitu pengecut sampai tak berani melawan saat “kepala ayah” mereka kusepak dan kupijak. Geram bercampur perasaan sedang di atas angin, maka segera saja kuberi satu-satu di perut. Tak ada lagi kode etik tak tertulis “siapa mukul lebih dulu” macam kemarin, bersebab -sesuai kode etik darurat yang tak tertulis pula- aku sudah dipukul duluan kemarin itu, maka sah mereka kupukul pula.

Meringis-ringis minta ampun dua begundal kecil yang kemarin begitu jago. Berjanji tak akan memeras anak Cina lagi. Berjanji tak akan main keroyok lagi. Berjanji tak akan ngadu-ngadu pada geng Enny. Teman-temanku hendak memukuli, namun mereka urungkan sendiri. Mengeroyok dua pengecut yang sudah hampir terkencing-kencing bukan perkara mulia. Sudah mengeroyok, yang dipukuli pun pengecut pula. Akhirnya cuma kepala mereka ditowel-towel dan disandarkan ke batang kelapa dengan ancaman: jangan coba-coba memperpanjang masalah.

Hari-hari esoknya, memang tak ada lagi masalah muncul. Kedua bocah yang sekampung itu mati kutu tiap bertemu. Meski di kemudian hari, bentrokan-bentrokan masih terjadi dengan beberapa anak Kampung Rawa, namun perkaranya sudah bukan perkara itu lagi. Biasanya karena mereka datang membakar petasan saat orang tarawih, dan anak-anak simpang kota yang merasa sudah cukuplah meraih pahala dengan menjaga ketentraman orang tarawih, terpikat meraup pahala tambahan dengan mengejar mereka dan berantam yang akhirnya merusak ketenteraman ramadhan itu sendiri.

Tahun-tahun berlalu. Semenjak memiliki kelompok sendiri, bersanding dan bersaing dengan beberapa kelompok lain dimana kawan-kawan lain bercokol, beberapa kali pula aku memanfaatkan kelompokku untuk nge-bully anak-anak yang nge-bully orang lain. Salah satunya, saat temanku yang pernah kukisahkan dalam postingan Debus Penebus, di-bully di masa SMA.

Temanku itu orangnya ada sikit istimewa. Seperti anak autis bawaannya, meskipun dia bukan autis. Dan sekali waktu, dia kupergoki sedang di-bully oleh anak kelas lain, saat dia sedang lewat di depan satu kelas, kala kami kelas 2. Mungkin karena merasa ramai dan di depan kelas sendiri, maka mereka iseng mengolok-olok gaya berjalannya, raut mukanya yang penuh kesedihan, sampai ditirukan oleh seorang anak kelas itu seperti topeng monyet. Dari kantin aku melihat itu. Tak senang hatiku. Biarpun temanku itu berbeda kelas. Biarpun dia tak masuk dalam kelompokku. Mencelat aku dari kantin, setengah berlari dengan beberapa teman dari kelas lain, mendatangi kelas tersebut. Bertanya pada temanku ada apa, dan dia menjawab bahwa tak ada masalah apa-apa. Jangan dihiraukan. Tapi aku tak puas. Kutanyakan pada anak-anak di depan kelas itu, mau mereka apa dan apa salahnya diolok begitu. Berdirilah kami berhadap-hadapan. Namun diselamatkan bel sekolah.

Selesai?

Tidak. Aku tak pernah merasa tenang kalau sudah melihat teman, bahkan orang yang bukan temanku, di-bully tanpa kesalahan pasti. Seperti di masa SD dan SMP, aku mengulangi apa yang pernah kulakukan: mendatangi kembali kelas tersebut saat jam istirahat tiba. Mencari anak-anak tukang nge-bully. Persis ormas masuk ke dalam kafe-kafe yang mereka anggap maksiat, begitulah kami dulu. Tanpa assalamualaikum, begitu guru yang mengajar mereka keluar, kami menyelinap masuk, dan tanpa banyak cakap menariknya dari kursi dan menghantamkannya ke dinding dan ke meja kelas. Tak ada yang berani angkat bicara, sebab biarpun aku berasal dari kelas unggulan yang dianggap anak baik-baik dan pandai-pandai, teman-temanku kebanyakan anak-anak yang dianggap bengal dan jagoan di masa itu. Terutama anak-anak dari kelas IPS 3, senior kami, yang rata-rata ditakuti. Ketua Kelas mereka pun tak berkutik, karena anak kelas 3 mengancam yang lain tak ikut campur selagi siswa yang sudah kutandai dari pagi tadi kupermak di bangkunya sendiri. Mukanya kujadikan macam penghapus papan tulis di dinding kelas. Adegan yang mungkin kini biasa ditemukan di segala video-video bullying di Youtube. Cuma tak pernah ada pengeroyokan, karena aku dan teman-temanku kala itu memang tak suka dengan pengeroyokan. Selalu setiap ada kejadian demikian, kami memilih untuk satu lawan satu.

Termasuk ketika aku menyelinap masuk ke dalam kelas 1 Unggul, saat kami sudah naik kelas 2, demi menghajar seorang adik kelas unggulan yang meremas pantat teman perempuan sekelasku. Berdasarkan aduan dari korban dan melihat Al Amin, ketua kelasku beradu mulut dengan si adik kelas, yang mengaku-ngaku anak Kampung Belakang, kampung dimana rumahku berada; naiklah darahku. Pertama, dia sudah meremas pantat anak perempuan dari kelasku. Kedua, dia berani menunjuk-nunjuk jidat Al Amin dan menantang ketua kelasku dengan klaim bahwa dia anak Kampung Belakang. Ketiga, dia cuma anak pindahan di kampungku. Kampung Belakang, kala itu, merupakan salah satu kawasan yang disegani. Di samping rumahku dulu ada gubuk (semacam warung gorengan terbengkalai) dimana anak-anak muda bebas melinting ganja biar pun polisi lewat di depan mata. Bandel-bandel tapi tak pernah mengganggu wanita.

Pengakuannya sudah mencemarkan nama kampungku. Tiga sebab itu cukup jadi alasan menarik Amin ke kelasnya, biar pun lonceng masuk sudah berbunyi, untuk menjadi saksi mata saat aku menghampirinya yang duduk dengan menaikkan kaki di meja dan menggoyang-goyangkan kursinya seperti raja besar. Kaki kursi kusepak, dan tanpa membuang waktu menendang lambungnya seperti tendangan 12 pas. Kusuruh dia bawa orang Kampung Belakang sekalian jika tak puas, kalau benar dia anak Kampung Belakang. Sesuatu yang kutahu tak akan pernah bisa dia lakukan, berdasarkan cerita anak kampungku esoknya bahwa dia memang ada mengadu ke anak-anak di kampungku tapi justru diketok kepalanya karena cari masalah dengan orang kampung sendiri.

Hal ini juga yang kulakukan kala anak kelasku sendiri, beserta diriku pula, saat kelas 3 disoraki beramai-ramai oleh anak kelas IPA2, tetangga kelasku. Penyebabnya sepele: hari hujan dan jam pulang sekolah sudah tiba. Namun hujan yang turun deras, memaksa para siswa terkurung hujan. Beberapa yang nekad, melompat dalam hujan dan berlari. Salah satu anak kelasku, perempuan, melihat ada jemputan untuknya, melompat menerobos hujan. Di depan kelas IPA2, dia kepleset. Kecebur masuk parit depan kelas. Aku yang juga sudah masam mulut hendak segera merokok di luar sekolah, tepat di belakangnya. Bukannya menolong orang jatuh tercebur parit, malah beberapa anak kelas IPA2 menertawakannya. Dan tawa itu makin membahana diiringi oleh tepuk tangan kala aku membantunya berdiri. Seisi sekolah, di bagian pekarangan depan sekolah, melihat adegan itu dan beberapa ikut-ikut tertawa.

Panas hatiku. Kutunjuk muka mereka satu-satu. Kubilang aku akan menunggu siapa saja yang ada biji zakar di luar sekolah. Terutama salah satu yang bernama Fauzan, siswa yang berdiri paling dekat dengan parit dimana anak kelasku jatuh. Dia yang paling keras tawanya, paling keras tepuk tangannya dan memang provokator dari humor slapstick salah tempat itu.

Tawa mereda. Apalagi Irwan, Ketua Kelas mereka menggelengkan kepala padaku tanda untuk jangan naik pitam, sambil terjun juga membantu sekaligus menenangkan. Tapi panas hatiku tak reda. Di gerbang sekolah aku masih memberikan isyarat bahwa aku akan menunggu di simpang sekolah. Teman-teman dari kelas lain yang melihat akan ada kerusuhan, dengan girang terjun dalam hujan dan berlari-lari mendekati. Namun melihat guru masih ada di arah kantor Dewan Guru, kami berhembus dari situ dan berteduh di bawah warung gorengan yang tutup. Rute untuk pulang sekolah cuma dua: ke arah sisi kanan sekolah, mengarah ke kawasan irigasi, dan ke arah sisi kiri, mengarah ke kota dan ke arah rumahku sendiri, mesti lewat jalan dimana aku dan kawan-kawanku berada.

Tertahanlah beberapa anak kelas itu dalam hujan. Mereka tahu, bahwa kalau menurutkan cari masalah, masalah akan memanjang. SMA kami terletak di kemukiman Kuta Tinggi, dimana kawan-kawan di luar sekolahku juga ramai. Arah pulang, melintasi kemukiman Meudang Ara, dimana kampungku berada. Tak ada jalan aman bagi mereka, terutama bagi Fauzan yang berasal dari kecamatan sebelah. Apalagi kelas IPA2 seperti anak kelasku sendiri, dasarnya dianggap anak baik-baik dan bersih dari segala perangai berandalan. Bukan tipe anak-anak yang suka berantam.

Hingga Irwan, si Ketua Kelas mereka datang berdiplomasi, barulah kami bubar. Bersebab Irwan ini temanku sejak kecil, pernah sama-sama di pesantren, maka permintaan maaf yang dititipkan melalui diplomasinya kami terima. Embargo kami cabut seketika.

Ada beberapa kasus lain, termasuk ketika Jivi, anak kelasku yang berdarah Aceh-Sunda dan merangkap jadi kiper kelas, dipukuli di depan mataku di Simpang Diamond ketika pulang sekolah. Ekses dari pertandingan sepakbola antara kelas kami, IPA1 melawan kelas 2-1, berbuntut ketidakpuasan ketika kami menang perjudian berlabel pertandingan persahabatan. Heri, anak kelas itu, membawa serta seorang supir angkot dari kecamatannya dan menggebuk Jivi di depan mataku yang saat itu sedang hendak singgah sepulang sekolah ke tempat teman. Sampai kami dilerai oleh almarhum Wak Pitung, seorang mantan jagoan masa lalu yang berkuasa di simpang itu. Namun perkara tak selesai. Yudi, anak kelas kami dari kecamatan Labuhan Haji, siswa yang merantau dan jadi gelandang serang kelas kami, dikeroyok oleh Heri dan temannya karena terjun melerai. Teman sekelas yang kulibatkan dalam kelompokku agar dia aman dari gangguan sebagai perantau di kota kecil kami itu, babak belur mukanya.

Tak senang dengan caranya mengeroyok, kami datangi kelasnya dan menantang duel. Berduel lah dia dengan Yudi di pinggir sungai. Sementara Heri membawa kelompoknya dari kecamatan sebelah, aku pun membawa kelompokku untuk memastikan amannya perduelan. Sampai duel itu gagal bersebab seorang wanita desa teriak-teriak mengusir. Berita tiba ke sekolah, dan kami semua didamprat di kantor Bimpen.

* * *

Apa maksudku bercerita sepanjang-panjang ini? Hendak mengesankan heroisme, jagoanisme, premanisme?

Tidak. Pada kenyataannya, aku malah bukan seorang jagoan. Kalah-menang berantam lebih karena faktor kebetulan. Badanku sendiri bukan tipe badan petarung. SD dan SMP lumayan sehat, namun kurus kerempeng sejak SMA. Gaya doang jagoan, dihembus angin, juga terbang.

Cuma perkara cerita-cerita ini adalah asal-muasal kenapa aku tak suka dengan segala perangai bully-membully, seperti pernah kututurkan pada Gentole dan Geddoe. Baik itu di dunia maya atau dunia nyata. Taroh misal di internet ini, aku sudah sering melihat orang kena bully, entah karena berbeda pendapat atau ada sedikit kesalahan saja, seperti pernah kusentilkan di postingan sana. Biasa kalau sudah begitu, terpancing juga aku maju, terutama dulu: era 2007-2009, saat sedang candu-candunya nge-blog dan nge-net. Baik di blogsfer atau di forum-forum. Demikian pula pernah di Twitter. Meski massa di timeline ketawa-tawa nge-bully seorang menteri yang sebenarnya aku juga tak suka, namun melihat bahwa bully-an itu menjurus fitnah dengan memanipulasi tweet sang menteri, aku tak senang. Salah satu dari (insan yang mungkin merasa dirinya) seleb twitter, “kukepruk” juga. Panjang berantam, sampai insan twitter itu keluar jurus pamungkas ala para seleb karbitan di dunia maya: membandingkan jumlah follower sebagai tolok ukur kebenaran, seperti pernah kukisahkan pada Bapak Guru dalam satu cetingan. Tak peduli jika satu arus massa menganggapku terlalu serius, ortodok, atau malah fanatikus yang berpihak pada sang menteri (yang sebenarnya bagiku sendiri salah tempat untuk menunaikan hobinya berustad-ustad itu). Aku tak suka dengan si menteri, itu jelas. Tapi satu hal lebih jelas: aku tak suka orang di-bully, peduli setan walau satu dunia akan menjadi lawan.

Kultur pergaulanku, memang dibesarkan dalam kalangan berandal, meski cuma level kampungan. Selain ayahku yang rajin mencari rezeki sejak masih bocah, anak baik-baik kata tetangga beliau bertahun-tahun kemudian, paman-pamanku dulu juga berandal di masanya. Berantam sudah macam latihan fisik bagi mereka, sampai kemudian tobat dan kini beberapa malah bergelar haji dan aktif di pengurusan mesjid Jami’ kota kami. Generasiku juga mengikuti jejak yang sama. Dibesarkan dalam pergaulan yang mengenalkan fungsi otak dan otot sekalian. Namun sebandel apapun kami dulu, kami juga memiliki nilai-nilai luhur tersendiri. Kode etik tanpa prasasti.

Kami tak pernah, sejak jadi remaja, mengganggu orang yang tak bermasalah dengan kami. Kehidupan berandal dulu, meski seperti anak nakal, tidak mau mencari masalah dengan sesiapa yang berseberangan. Terkadang memang ada kebandelan tersendiri: mencuri mangga orang, atau cabut dari sekolah. Atau kebandelan kolektif seperti balapan liar. Itu pun dilakukan biasanya di jalan lurus di luar kota. Hal-hal yang sebatas “merusak diri”, bukan menyakiti orang tanpa alasan, atau cuma karena dia berbeda.

Sudah merasa keren nian dulu kalau begini

Malah di masa remajaku, dengan meluaskan pertemanan, bentrok antar-gang yang sudah lama ada, jadi terminimalisir. Anak Laskar dan anak Sindicat 31 di daerah pinggir kota, bisa kemping bersama. Malam-malam terkadang nongkrong ramai-ramai di jembatan Simpang Ceurana. Bahkan dengan komunitas anak Kampung Rawa yang jadi seteru pun, kebekuan hubungan mencair. Kalau ada yang bermasalah di antara kelompok-kelompok kami, jalur penyelesaiannya biasanya:

  1. elit-elit geng ketemu.
  2. elit-elit geng menahan anggota untuk tak ribut.
  3. jika tak mempan, suruh duel mereka. Apapun hasil akhir, tak ada urusan dengan kelompok masing-masing.

Meski kami dimusuhi masyarakat dulu, meski kami dicap anak-anak tak berpendidikan, tapi kami dididik dalam pergaulan kami untuk jujur dan ksatria: jujur kalau kalah, jujur untuk mengakui siapa yang salah, dan ksatria untuk membela siapapun yang terlihat dianiaya, meski itu bukan kelompok kami.

Sebab, tak seperti hujatan yang kami terima, kami mengaji juga. Banyak diantara kami masuk pesantren. Beberapa diantara kami juga bukan tak baik secara kurikulum pendidikan. Tanpa bermaksud sombong (sebab apalah guna sombong dengan kualitas pendidikan di daerah yang tak sebanding di kota-kota), aku sendiri ranking 1 dari kelas 1 SD sampai SMA. Tapi bukan nilai-nilai PMP atau PPKn yang mengajari kami untuk membela sesiapa yang kami anggap lemah, tapi pengaruh dari kebudayaan kami. Termasuk bacaan dan tontonan yang bagi orang-orang tua adalah sepele.

Misalnya: Pernah tahu film Young And Dangerous?

Film besutan tahun 1996 yang sudah memopulerkan nama Ekin Cheng dan Jordan Chan itu, kalau kutilik lagi zaman itu, sangat mempengaruhi kehidupan kami, para remaja yang konon krisis identitas. Ucok Bintang Dua, seorang penjaga pintu masuk bioskop Bintang Dua, dan mendapatkan tambahan nama Bintang Dua sebagai bukti dedikasinya jadi penjaga pintu bioskop bertahun-tahun, adalah salah satu yang berjasa mengenalkan kami pada film tersebut. Dengan sogokan rokok, dia pura-pura lupa palang besar bertulis “17thn ke atas” tepat di atas kepalanya, dan mengizinkan kami masuk untuk mengambil hikmah dari adegan para geng-geng yang bersaing merebut pengaruh dan kawasan di Hongkong. Salah satu adegan memikat, yang membuat kami merasa sama dengan mereka, begitu menusuk relung sanubari, adalah adegan ini:

Persis beginilah awal mula aku dan teman-teman sebaya resmi bergabung dengan salah satu geng terbesar di daerah kami, saat SMP. Berkali-kali sejak masih SD sampai SMP merasakan di-bully oleh mereka yang merasa kuat dan kuasa karena memiliki massa, membuatku tergerak bikin geng sendiri. Geng pertama dulu bernama Klends, dengan anggota rata-rata anak sekelasku. Termasuk Mohammad Ali: seorang anak Batak Mandailing yang dekat sejak kelas 1 SMP, dan namanya akrab di TOA sekolah untuk dibujuk datang ke kantor Bimpen demi digampar guru karena bengal. Boss kelompok bernama Syahrul, preman kakap dari kemukiman Kuta Tinggi, kelak akan menjadi salah satu momok andalan untuk menggertak tukang bully di SMA, sebab SMA termasuk kawasannya, seperti kukisahkan di atas. Namun geng ini lalu melebur dengan Laskar. Seperti Chan Ho Nam meminta bergabung dengan Uncle Bee dalam petikan film di atas, seperti itu pula aku dan teman-temanku babak belur dikeroyok di kebun Nek Abu di simpang terminal, dan ditolong salah satu gembong Laskar yang lewat menghalau anak-anak terminal Kuta Tuha yang dikenalnya (yang kelak kubalas perlakuan mereka di tempat yang sama, dengan menginjak-injak si ketua berandalan dalam duel satu lawan satu secara massal, setelah mereka mem-bully anak SMP adik kelas kami, saat kami kelas tiga).

Orang sepertiku, seperti pernah teman-temanku kugurui, juga sudah merasakan tak enak di-bully, dikerjai, digebuk tanpa bisa melawan. Dengan menjadi sekelompok berandalan lah kami diajarkan untuk bersolidaritas, untuk tahu rasa tak enak orang lain dikerjai, dianiaya. Kami tak mendapatkan itu di bangku sekolah. Remaja sepertiku mendapatkan itu dari pengalaman sendiri, dari film, dari pergaulan yang di mata orang-orang yang merasa keluarga mereka paling berpendidikan dianggap pergaulan anak-anak jahat.

Aku pun mendapatkan pelajaran demikian dari buku-buku yang tak pernah dikeluarkan oleh pelajaran budi-pekerti ala sekolah, seperti cerita dari buku Balada si Anak Liar-nya S.E. Hinton, buku milik salah satu pamanku yang kucuri dan menjadi bacaan favorit. Sampulnya begini:

Balada Si Anak Liar. Karya S.E. Hinton. Saduran alm. Agus Setiadi. Diterbitkan Gramedia pada tahun 1980

Imej sebagai salah satu dari anak-anak yang terjerumus ke dalam kelompok berandalan memang tak selalu enak. Terkadang, terbawa-bawa imej atau sikap di masa lalu di kala usia meninggi, meski semua itu bisa dilihat sambil tertawa dan mencengiri kenaifan masa lalu. Ibu mertuaku, termasuk diantara yang pernah tertawa mengingat diriku dulu, ketika aku baru-baru berkenalan dengan putri beliau. Beliau berkisah tentang “anak haji yang sering ngebut” di tahun 1990-an, di depan toko keluarga mereka. “Yang bawa motor kaki tak sampai (ke tanah) itu?” kata beliau dan tertawa, cerita istriku di tahun lalu. Aku mencengir masam.

Contoh yang dimaksud kaki tak sampai ke tanah. Sudah merasa bisa mengalahkan pembalap GP 500 kalau sudah terbang begini.

Aku tak mau menggurui panjang-panjang dalam postingan ini. Aku cuma berbagi cerita bagaimana masa lalu membentuk sikapku di hari ini. Termasuk terkadang sering terbawa sikap tanpa tedeng aling-aling, kelewat jujur dan sok jagoan. Bukan sebuah tabiat baik. Tapi juga bukan hal tak perlu. Aku memandang masih perlu untuk nge-bully para tukang bully, agar mereka sadar bahwa mereka bukan anak-anak dewa yang bebas bertingkah di dunia, seperti kisah mitologi dari Yunani dan Romawi. Para tukang bully mesti dibuka kacamata kudanya, bahwa di atas langit masih ada langit, dan di bawah kerak neraka masih ada berlapis kerak neraka. Masa laluku yang membentuk sikap fight fire with fire, ketika sudah gerah melihat orang diperlakukan tak adil. Siapapun itu. Aku tak pernah ambil pusing apa akan dianggap pahlawan atau dilupakan.

Seperti temanku Topan yang kini sudah hilang entah kemana. Berapa banyak yang ingat dengan dirinya, berapa banyak anak-anak Cina yang pernah ditolongnya? Mungkin juga sudah pada lupa, ketika dia sendiri -seperti kabar yang pernah kuterima- menjadi gila akibat ganja, renungan hidup dan masalah keluarga di tanah asal ibunya di Jawa sana. Atau seperti temanku Pedro yang meninggal dunia beberapa tahun lalu, akibat sakit kanker. Tak ramai dari mereka yang pernah dibelanya mungkin ingat dengannya, ketika raganya sudah melebur dengan tanah di salah satu pemakaman di kota kami. Tapi, selalu ada yang mengingat para berandalan, terutama kami yang pernah hidup bersama. Atau mungkin dikenang di kala mereka sukses “menjadi orang” menurut masyarakat, untuk dipuji; atau untuk dicela kala para mantan berandal terjebak dalam kemiskinan dan ketidak-mapanan, sebaik apapun mereka dulu menjunjung kode etik, menjunjung nilai-nilai kejujuran yang kini sudah makin semu. Pamanku yang sukses menjadi salah satu saudagar di kota ini, dielukan orang-orang akan masa pergaulan berandalnya dulu; tapi sejumlah mantan berandal dulu, dicemooh karena cuma jadi kuli angkut atau supir, padahal mereka sama segenerasi.

Geng motor-nya SBY kala dia masih remaja. Umpama hari ini dia jadi John Kei, apa orang masih akan mengenangnya dengan biografi santun tentang fase kesuksesannya kini?

Menjadi berandal adalah sebuah fase belaka. Tidak semua orang melaluinya, dan memang tak merupakan jalan wajib untuk dilalui setiap orang. Namun cela-tak-cela menjadi berandal di masa lalu, adalah subjektif belaka. Seperti halnya geng-geng masa remaja. Hakikatnya, geng motor di masaku, tak berbeda dengan geng motor di masa SBY. Yang membedakan adalah apresiasi masyarakat dan konotasi kata “geng” menurut siapa yang melakoninya. Ibu mertuaku tertawa mengenang masa laluku, tapi mereka yang merasa lebih berpendidikan di kota ini, lebih sering mencemooh apalagi -seperti pilihan sikap yang kujelaskan dahulu– ketika orang sepertiku masih sok-sok’an menolak kompromi pada nilai-nilai yang diagungkan dalam standar kemapanan masa kini. Standar kesuksesan menjadi “orang”, istilahnya.

The Story of a Rascal. Bisa diunduh PDF-nya di situs si penulis. Silakan diklik gambar ini jika hendak mengunduh.

Beginilah hikayat para berandal di masa remajaku. Menarik tak menarik, itu biarlah jadi penilaian sesiapa yang membaca. Aku pun tak merasa benar ini menarik, cuma hendak kutuliskan saja, untuk melepas uneg-uneg setelah beberapa lama ini terpendam menjadi draft belaka di dashboard WordPress. Mungkin, kisah berandal dari Glenn Nathaniel Kaonang di atas itu, lebih layak baca daripada postingan katarsis ini. Sebuah buku menarik juga menurutku.

Akhirulkalam… Mari dengarkan musik dari salah satu sontrek film yang pernah menginspirasi remaja generasiku dulu. Film yang, seperti kata salah satu top comments di sini, “…made many kids wanna become triads, gangsters, mafias… I was one of those.”, meski tanpa hasrat yang sama lagi. Meski cuma untuk mengingat semua fase masa lalu yang sudah membentuk masa kini. Seperti hari itu aku bersulang dengan rekan lamaku.

Silakan dinikmati permainan piano dari sontrek berjudul Those Were The Days ini.

.

.

.

Catatan kaki:

* Aku pernah protes, dengan kesombongan elitisme, kenapa aku disekolahkan di sana, di SD ber-grade rendah dan tidak bergengsi sama sekali. Kenapa tak di sebelahnya saja? Alasan almarhumah ibuku saat itu kira-kira: karena saudara beliau ada beberapa jadi guru di situ, jadi biar bisa ditengok perangaiku. Sebuah alasan klasik, namun di kemudian hari aku bersyukur juga, karena alasan itu yang membentuk diriku kemudian hari. Jika dulu aku bersekolah di SDN 1, mungkin aku akan jauh berbeda di hari ini.

** Temanku itu memang cukup setia. Dan entah takdir entah bukan, di kemudian hari temanku itu menjadi abang iparku, bersebab aku menikah dengan adik sepupunya. Istriku pun sempat tertawa saat kuceritakan pertemanan kami dulu. Memang ini dunia yang sempit.

7 thoughts on “Hikayat Para Berandal Dan Para Pembuli

  1. hahahahaha masa silam yang menarik, lucu, ada bagian yg hampir sama, masalah menggambarkan kepala dengan labu, memukul dualuan #pengen rasanya kembali ke masa lalu

  2. Ceritamu mengingatkanku sama bapakku.:mrgreen:

    Dari dulu orang bilang bapakku waktu kecil nakal. Terlalu nakal malah, sampai2 aku yang polos lugu nan imut kiyut ini selalu dibilang “mbok ya kamu niru bapakmu dikit.”😆 Tapi ya belum lama ini beliau baru bilang tinggi panjang lebar soal itu. Tentang asal muasalnya mengapa beliau jadi seperti itu. Aku ndak bisa cerita kalau tanpa izin beliau kayanya ndak bakal juga tapi yang jelas itu karena kalau ndak begitu beliau ndak akan survive. Dan karena itu jugalah orang tuaku protektif sama aku. Apa-apa ga boleh ini ga boleh itu ga boleh, walaupun akhirnya ya sedikit-sedikit dikasih juga. Kadang terpikirnya, karena aku ndak mendapat pengalaman hidup keras macam yang ada ditulis di postinganmu ini, aku jadinya bermental krupuk. Tapi ya belum tentu juga. Bisa-bisa malah aku yang ndak karuan. Yah to every man his religion his life😛

    Jadi besok anakmu mau dididik macam gimana Banglex?:mrgreen:

  3. @ Fendy

    Menggambarkan kepala dengan labu, lidi, korek api, atau apapun benda remeh yang ada di situ, serta kode etik “siapa mukul duluan” memang kayaknya jadi semacam tipe perkelahian kanak-kanak:mrgreen:

    Kalau dilihat sekarang, lucu juga rasanya. Meski kalau diingat-ingat, masa itu sudah merasa diri Wang Fei Hung membasmi kejahatan, padahal membela ego sendiri-sendiri😆

    @ lambrtz

    Dari dulu orang bilang bapakku waktu kecil nakal. Terlalu nakal malah, sampai2 aku yang polos lugu nan imut kiyut ini selalu dibilang “mbok ya kamu niru bapakmu dikit.”😆

    Ayahku sebenarnya ada juga masa bandelnya, kalau kata saudara-saudara dan rekan-rekan beliau. Cuma lebih menonjol sikap kalemnya itu, cenderung serius, maklum susah cari rezeki jaman itu. Lagi pun, beliau banyak saudara laki-laki, jadi ya sudah cukuplah beberapa trouble-makers di sekitar ibu beliau:mrgreen:

    Soal disuruh niru itu, sama! Aku juga disuruh niru beliau, ya sikap agak pasifisnya, ya rajinnya. Generasi kami kelewat santai dan kelewat brutal, kata orang-orang tua.

    tapi yang jelas itu karena kalau ndak begitu beliau ndak akan survive.

    Terkadang memang mesti kalau di posisi untuk “survive”. Aku tak memiliki abang sepupu (sepupu langsung dari saudara kandung orang tua, kalau sepupu dari sepupu orang tua, lumayan), sebab aku cucu laki-laki tertua di kedua pihak. Mau tak mau mesti bergaul, sebab adik-adik perempuan baik kandung atau sepupu, juga sering diganggu dulu.

    Dan kukira itu alasan yang sama saudara-saudara ayahku mesti jadi “sangar” dulu. Hidup dulu sulit, usaha angkutan sering dicegat bajing loncat, kalau tak keras-keras pamanku, habis angkutan digondol mereka.

    Dan karena itu jugalah orang tuaku protektif sama aku. Apa-apa ga boleh ini ga boleh itu ga boleh, walaupun akhirnya ya sedikit-sedikit dikasih juga.

    😆
    Ayahku dulu awalnya begitu juga. Namun akhirnya angkat tangan. Nyerah. SMA sudah bebas merokok. Yang penting ranking stabil dan tidak membuat hal-hal yang memalukan benar. Ayah temanku malah saking putus asanya dengan hobi bergumul anaknya, sampai anaknya pulang ke rumah lembam dan nangis, dia seret anaknya ke pasar, suruh kelahi lagi sama lawannya tadi. Istilahnya, “kalau bandel jangan tanggung-tanggung, jangan pulang untuk ngadu.”😆

    Kadang terpikirnya, karena aku ndak mendapat pengalaman hidup keras macam yang ada ditulis di postinganmu ini, aku jadinya bermental krupuk.

    Ah, nggak mesti juga itu. Aku kenal beberapa kawanku yang pendiam, tidak masuk kelompok mana-mana, tapi jangan coba diganggu. Meski mereka lebih suka menghindari konfrontasi, kalau sekali terusik meletus juga. Amin mantan ketua kelasku itu, misalnya. Malah belakangan dikenal jadi ustad di sini. Pastilah ada garis tipis antara mental mengalah dan mental tak mau kalah😀

    Tapi ya belum tentu juga. Bisa-bisa malah aku yang ndak karuan. Yah to every man his religion his life😛

    Amen to that!😎

    Jadi besok anakmu mau dididik macam gimana Banglex?:mrgreen:

    Maunya juga merasakan hal-hal yang sama. Tapi ya biarlah jalan hidupnya sendiri pula nanti akan lain bercerita, karena memaksakan pandangan dan jalan hidup orang tua, cuma akan menjadikannya seperti boneka.😀

  4. Cerita ente lebih seru dari Laskar Pelangi, Lex. Ngga nyangka ada mantan berandal yang pintar menulis. Wekekekeke……….

  5. Wah, tak sebandinglah itu kukira. Kisah Laskar Pelangi itu sarat makna dan perenungan. Apa makna dari berantam-rantam bak anak tiada berakal macam kami dulu. Yang ada kena lidi berpilin tiga di kaki sama orang tua😆

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s