Siapa Menulis Untuk Keabadian?

Aku tak menulis untuk keabadian. Bagiku sudah tak masalah lagi apakah tulisanku akan membuatku abadi dikenang atau hilang terlupakan. Bagaimana kau akan peduli pada keabadian, jika kelak kau akan mati dan tak akan sempat menjawab-baca tiap komentar di blogmu lagi? Jangan percaya “menulis untuk keabadian” kata Pramoedya Ananta Toer, kala dia sendiri sudah mati terbujur. Satu-satunya yang paling rajin mengenang adalah penerbit buku, karena tahu bahwa uang bisa mengalir dari tetralogi Pulau Buru. Jangan percaya keabadian para pundit blogsfer, ketika mereka sendiri tidak bisa menjamin akan lebih abadi daripada hostingan Blogger.

Menulislah untuk diri sendiri. Abadi atau pun tidak sama sekali. Tak perlu dikira, apakah kelak akan datang orang berduyun-duyun ke blogmu untuk mengenangmu dan meletakkan beribu testimoni, ataukah cuma membuka sekali lewat dan tak meninggalkan sebait pun kalimat. Itu sudah bukan persoalan mendasar lagi.

Persoalan bersisa cuma satu saja: apakah kau akan menulis kembali? Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk dirimu sendiri. Untuk belahan hidupmu sendiri: sesuatu yang terasing dan tak terucapkan, diam dalam dirimu, bungkam dalam hatimu. Yang tak bisa mudah lepas hilang dibakar siang bermatahari panas atau dihembus malam berangin keras.

Itu saja

.

.

.

*coretan lama untuk diri sendiri, lama jadi draft mati suri, dimuntahkan kala memutuskan ngeblog kembali*

Iklan

13 thoughts on “Siapa Menulis Untuk Keabadian?

  1. sangat suka. . .

    bahasanya ampuun deh kak alex. . . 😉
    baru belajar sastra atau memang suka sastra? 🙂

    menulis untuk diri sendiri dan semoga bermanfaat untuk yang mau membacanya? 😀

  2. 😆
    Alamakjang ketusuk-tusuk ini hatiku. 😆

    Dulu memutuskan merantau demi sebuah cita-cita bahwa namaku akan dikenang dan masuk Wikipedia. Sampai di seberang eh kena tempeleng realita, bahwa jurang yang tampaknya tak dalam ternyata dalam sekali. Akhirnya pun menulis hanya untuk bertahan hidup hari demi hari bertahan dari , hahahahaha 😆

    Yah demi passion musti bangkit kembali 😎 *halah*

  3. Saya juga menulis untuk diri sendiri bang. blog ibarat rumah kedua saya, teman bercerita untuk diri sendiri. mengenang masa yang sudah sudah.
    Masalah dikomentari atau tidak, bukan soal. tapi secara pribadi saya senang bila mendapat teman baru untuk bersilaturahim. bertukar pikiran lewat tulisan.
    “Menulis untuk keabadian” rangkaian kalimat yang bisa kita baca saat membaca tetralogi buru. Sejauh ini yang paling rajin mengenang hanya penerbit mungkin. Tapi kalau bukan karena kenangan dari penerbit itu, tak bisa juga aku membaca keempat tetralogi itu. hehehe

  4. Aku pernah menulis kalau aku ngeblog untuk diriku sendiri. Blog tempatku belajar nulis, mengeluarkan uneg2, dll. Tapi, ada temanku yang tak sepakat. Katanya kalau ngeblog untuk diri sendiri buat apa ngeblog? Nulis aja sana di buku harian. 😆

  5. @ Idah Ceris

    sangat suka. . .

    Terimakasih… 😳

    bahasanya ampuun deh kak alex. . . 😉

    He? Kenafa? Kenafa? :mrgreen:

    baru belajar sastra atau memang suka sastra? 🙂

    Baru belajar. Hehehe. Suka sastra secara amatiran saja ini :mrgreen:

    menulis untuk diri sendiri dan semoga bermanfaat untuk yang mau membacanya? 😀

    Semoga saja. Kalau bisa bermanfaat, ya syukur juga 😀

    @ lambrtz

    😆
    Alamakjang ketusuk-tusuk ini hatiku. 😆

    Maapkeun… 😎

    Dulu memutuskan merantau demi sebuah cita-cita bahwa namaku akan dikenang dan masuk Wikipedia.

    *cengar-cengir sambil ngaca*
    .
    .
    .

    *lirik entry wikipedia bikinin sendiri yang pernah dibuat untuk memastikan eksistensi*

    Sampai di seberang eh kena tempeleng realita, bahwa jurang yang tampaknya tak dalam ternyata dalam sekali.

    Sekarang kau pulak menusuk relung hatiku! 😈
    :mrgreen:

    Akhirnya pun menulis hanya untuk bertahan hidup hari demi hari bertahan dari , hahahahaha 😆

    Bertahan dari kegilaan karena kelamaan nahan pikiran? :mrgreen:

    Yah demi passion musti bangkit kembali 😎 *halah*

    Bangkitlah, anak muda. Tak bisa menulis di blog, tulis di kertas. Tak bisa di kertas, tulis di tembok. Tak bisa di tembok, tulis di dimana saja arang bisa menorehkan kalimatmu! Merdeka!
    *berkobar-kobar mabuk tape*

    @ Citra Taslim

    Saya juga menulis untuk diri sendiri bang. blog ibarat rumah kedua saya, teman bercerita untuk diri sendiri. mengenang masa yang sudah sudah.

    Sama. Meski terkadang kita bisa merasa berbagi dengan orang lain, seperti apa yang sedang kita lakukan di kolom komentar ini, inti dari menulis adalah meluahkan rasa: tetap hakikat utama adalah diri sendiri. Ini seperti kanak-kanak wanita bercerita pada boneka, yang dia tahu bukan benda hidup, tapi mesti dia berceloteh, meski cuma perkara remeh 😀

    Masalah dikomentari atau tidak, bukan soal. tapi secara pribadi saya senang bila mendapat teman baru untuk bersilaturahim. bertukar pikiran lewat tulisan.

    Itu pasti. Aku pun, meski bikin postingan begini, tak bisa mengelakkan hasratku untuk ditanggapi, untuk mendapatkan rekan-rekan dan bertukar pikiran. Mungkin bertukar gagasan untuk sehari-dua, lalu terlupakan dan besok cerita berganti, tapi itu tak jadi soal. Yang terpenting adalah seperti tiap orang menuliskan, bahkan hal-hal teremeh dalam hidupnya: keinginan untuk bicara, seperti manusia primitif bicara pada batu, pada pohon, pada kayu pada segala benda yang diam membisu.

    “Menulis untuk keabadian” rangkaian kalimat yang bisa kita baca saat membaca tetralogi buru.

    Benar. Aku juga membaca di situ, dan sering menemukan kuotasi atau tagline demikian di blog/situs di internet. Bahkan pernah kupakai juga dulu di Tumblr-ku 🙂

    Sejauh ini yang paling rajin mengenang hanya penerbit mungkin. Tapi kalau bukan karena kenangan dari penerbit itu, tak bisa juga aku membaca keempat tetralogi itu. hehehe

    😆
    Benar sekali.
    Soal penerbit, itu ada sikit sarkasme dan sinisme belaka. Meski sepertinya faktor uang memang berbicara. Karya-karya Chairil Anwar, umpamanya: jika dihujat oleh publik dan dianggap picisan, adakah penerbit akan berulangkali mencetak Deru Campur Debu, dan dia akan dikenang hingga kini? Sepertinya tidak. Kita mungkin tak akan pernah tahu siapa dia dahulu 🙂

    @ Kimi

    Aku pernah menulis kalau aku ngeblog untuk diriku sendiri. Blog tempatku belajar nulis, mengeluarkan uneg2, dll. Tapi, ada temanku yang tak sepakat. Katanya kalau ngeblog untuk diri sendiri buat apa ngeblog? Nulis aja sana di buku harian. 😆

    😆
    Pasti ada komentar begitu. Dan dia ada benarnya juga. Aku sendiri tak yakin bahwa aku 100% menulis untuk diriku sendiri. Postingan ini adalah sebuah ironi tersendiri, apalagi jika mengingat di beberapa postingan lain, aku sempat resah dengan hilangnya blogger segenerasi, dan berbicara soal menulis untuk berbagi, sampai mengajak adikku dan sepupuku untuk ngeblog juga.

    Tapi inti postingan ini, dan iktikad dirimu dan diriku ngeblog untuk diri sendiri, juga tak salah. Di sini aku mempertanyakan tentang klaim “keabadian dengan menulis” yang sering kutemui. Ini postingan awalnya dari kontemplasi di bulan Desember tahun lalu, saat memutuskan untuk mencoba kembali ngeblog. Kukira niat mesti disederhanakan, diperkecil, ketika internet sudah makin lebar dan luas. Tema yang kita pilih dengan menganggapnya sebagai hal baru, tak selalu baru di saat penetrasi internet sudah merambah hingga pelosok negeri. Tak ada tulisan yang sebenarnya begitu istimewa dan baru di bawah matahari planet ini. Semua cuma perulangan abadi, dengan sosok-sosok yang berganti. Umpama: cerita Kimi soal ayahnya yang sakit hari ini, mungkin sebentuk perulangan kisah dari saat aku menjagai ibuku yang sakit. Bagiku bukan hal baru, tapi bukan tak perlu. Orang yang sudah tahu sepertiku akan berbagi ceritaku di faseku dulu, dan melihat cerminan apa yang pernah kualami, dari apa yang kini Kimi alami. Dan ini perlu: untuk bercermin diri sendiri.

    Di situlah akhirnya segala kembali: ke diri masing-masing.
    Tulisan kita tak akan abadi. Aku, Kimi, ibuku, ayah Kimi, dan semua orang di sekitar kita, sudah dan akan meninggal suatu hari nanti. Tarohlah kita berdua: misalnya aku mati besok pagi, mungkin aku akan abadi bagi kalian yang membaca ini. Tulisanku akan abadi di sini. Tapi berapa lama keabadian itu? Saat kalian mati menyusulku, siapa atau apa yang abadi? Eksistensi kita pada tulisan yang kita tinggalkan? Itu bukan keabadian kita lagi, tapi keabadian persepsi dari tiap orang yang membacanya, keabadian temporer, sampai mereka kemudian juga mati.

    Orang-orang yang datang kemudian, sebenarnya tak menjadikan kita abadi. Seperti kita menjenguk prasasti para raja-raja dahulu kala, dengan tulisan di sana abadi hingga kini, tapi mereka? Kita tak kenal mereka secara pribadi. Mereka tak abadi.

    Ah, ini cuma renungan filsafat di akhir tahun lalu saja. aku menolak percaya pada keabadian. Satu-satunya keabadian, adalah ketidak-abadian. Satu-satunya kepastian adalah ketidak-pastian.

    Tapi, ya.. menulislah terus. Berguna atau tidak, memperkaya konten atau tidak, itu urusan nomor belakangan, meski bukan tak penting. Setidaknya kau akan abadi meski sejenak, selama ada orang-orang sepertiku dan mereka yang membaca blogmu, mengingatmu dan bercakap denganmu meski sama-sama lewat tulisan saja. Seperti aku mengabadikan hari-hari bersama ibuku dulu, dan saat dia meninggal, di blog ini dulu. 😀

  6. ^ komen di atas contoh orang yang menulis untuk dirinya sendiri. Menulis panjang-panjang pula itu. Komen sejengkal, dibalas berbal-bal. Maafkanlah dia.

    TTD: Alter Ego Pemilik Blog

    *telan antasid*

  7. @ ness

    Terimakasih atas tanggapannya 😛

    @ Pak Guru

    1. Empunya blog labil.

    2. Empunya blog galau.

    3, Empunya blog tidak pakai tema untuk keabadian.

    😮

    *dikepruk*

    Ya, tema Fresh & Clean kemarin itu memang sudah bagus sih benarnya. Cuma dia ada sikit kurang juga: kalau dibuka postingan atau laman, itu sidebar di samping tak hilang dan terasa agak mengganggu. Yang lain sudah oke, sudah mantap lah. Font juga enak. Tapi nantilah dipakai, kalau sudah bosan sama yang ini :mrgreen:

  8. Menulislah untuk diri sendiri. Abadi atau pun tidak sama sekali. Tak perlu dikira, apakah kelak akan datang orang berduyun-duyun ke blogmu untuk mengenangmu dan meletakkan beribu testimoni, ataukah cuma membuka sekali lewat dan tak meninggalkan sebait pun kalimat. Itu sudah bukan persoalan mendasar lagi.

    Setuju dengan yang ini, Bang, walaupun saya malas dalam menulis, tapi sepenggal kalimat di atas saya benarkan. Tidak peduli abadi atau tidak, tapi setiap tulisan pasti membuat penulis menjadi abadi, abadi dalam arti yang sangat tidak abadi, seperti kata mu di atas, yang abadi cuma ketidakabadian itu sendiri. Satu generasi hilang, diganti oleh yang lain, satu hilang mungkin seratus berganti, tapi menulis, itu abadi. Terlepas bagaimana orang lain mengartikan abadi.

    Mungkin Pram menulis untuk mengeluarkan isi kepalanya yang kalau tidak dimuntahkan bisa saja membuat dia gila, boleh jadi Pram menulis karena ketidaksukaannya terhadap kenyataan yang dipersaksikannya. Ah kenyataan, apa lagi ini.

    Tapi menulis, IMO, boleh menjadi pengganti ketiadaan kita di suatu hari nanti. Katakanalah kita menulis untuk diri sendiri, katakanlah kita tidak menulis untuk satu penerbit tertentu yang mendulang untung lewat tulisan kita, tapi ada satu tempat di sana ketika tulisan yang kita tulis akan menggantikan keberadaan kita untuk anak cucu kita nantinya, berselang generasi ke depan.

    Seperti Ibu yang satu ini, menderita penyakit Paru-paru langka bernama Pulmonary Hypertension, pemilik blog In Case I’m Gone ini seperti sedang menulis surat untuk anaknya yang masih kecil. Saya melihat, Ibu yang satu ini seperti sedang mengumpulkan beberapa nasehat untuk anaknya jika seandainya dia pergi, dan dia pasti akan pergi, semua kita pasti pergi, tak ada yang tahu pasti kapan kita akan pergi. Ini yang kadang membuat saya iri, Bang. Belum lagi dengan tulisan-tulisan mu yang kian aktif beberapa waktu ini. Ada dugaan, apa gerangan yang sedang terjadi? Baik-baik sajakah yang empunya blog ini di sana? Tapi, siapa yang tahu? Dia yang sehat bisa pergi tanpa memberi tanda, dia yang sekarat kadang bertahan lebih lama.

    Sebagai penutup komentar, ingin saya katakan, aku menulis maka aku ada, aku menulis untuk diri sendiri dan aku menulis untuk keabadian.

    *Harusnya saya menulis di blog sendiri, tapi malah komentar panjang lebar di sini :(*

  9. Menulis itu, mencerahkan. Bukan, bukan mencerahkan ummat seperti yang digembor-gemborkan para penulis idealis-narsis dalam kitab mereka yang maha suci; dengan istilah-istilah maha tinggi; yang sama sekali tidak bisa dimengerti.
    Menulis itu mencerahkan bagi saya sendiri, benar-benar saya jadikan ajang rekreasi, pun prokrastinasi saat seharusnya saya menghadapi setumpuk pekerjaan yang harus dilembur hingga dini hari.
    Ah sudah bersajaknya. Intinya sekarang saya menulis kembali. Karena tak mampu otak ala kadarnya macam begini menampung begitu banyak informasi yang serba cepat seperti sekarang ini, namun tidak diimbangi dengan media untuk mengaktualisasi, atau yang dulu biasa saya sebut; melepas birahi dan mencapai blorgasme tingkat tinggi.
    Bukannya bisa lewat Facebook saja, eh? lebih baik dibandingkan Twitter. Yang hanya bisa mengakomodir sesiulan sekenanya-seadanya hanya sebanyak 140 karakter (spasi dihitung pula, bah…mana cocok saya yang menulis parlente bertele-tele macem begini berbacot ria disana…terlepas dari ummat Twitter yang beralibi, katanya sih untuk melatih-diri berkreasi dengan ruang kata berbatas, dan TL yang terus menghamburkan tweet tanpa henti)

    ah, lost fokus 😛

    Intinya, di Facebook saya sih bukannya tidak pernah mencoba menulis disana, namun hati tak mampu dibohongi, dan nafsu justru semakin menjadi-jadi. Mencoba di notes; salah satu fitur Facebook yang amat-sangat dianak-tirikan dengan editor seadanya, malah membuat saya ejakulasi dini.
    Selain itu, faktor penting lainnya; di Facebook saya adalah seorang Personal dengan keterikatan status sebagai buruh, saudara, teman dan pesuruh antar-jemput (walau sekarang sedang LDR demi mengejar setoran untuk mendapat stempel HALAL DEPAG). Tidak lagi menjadi seorang anonim yang tak terbatas status sebagai seorang anak, seorang pecinta, seorang keponakan, seorang buruh, dan seorang teman.
    Tidak mungkin saya menulis tentang pemahaman keagamaan universal-sekuler-kejawen (walahdalah-apa-pula-itu) saya disana, berbacot merutuki ummat beragama tak Bertuhan, manakala sebagian besar keluarga saya yang Fundamental-Ortodok hampir berteriak “Allahuakbar” saat menonton liputan FPI menghalau iblis-iblis kafir barat di televisi.
    Terlebih lagi, tak berani-lah saya mengumbar pemikiran proletariat-laknat dengan kata-kata yang menghujat manakala ibu saya sewaktu-waktu bisa membaca atau mendengarnya dari adik-adiknya. Tak mungkin kan saya membuatnya khawatir ketakutan bahwa anak lelaki tampan nan rupawan-nya; sudah terjerat gerakan separatis karena menulis kata-kata bengis dan anarkis. Walaupun pada akhirnya tetap saja kelepasan berbacot di status Facebook dengan terciptanya collateral damage yang…yah, untungnya tidak terlalu serius 😛

    Dan disinilah saya akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya hanya mampu meng-kisruh-kan hati tanpa pernah melepaskan penatnya yang pekat, untuk ber-manunggal terhadap diri sendiri. Untuk menyelami jauh kedalam hati, memandang kedalam diri, mengoreksi diri, mungkin; tapi lebih tepatnya, dengan menulis macam begini; saya menjamah jauh kedalam pikiran pribadi, meresapi makna dengan berbagi kata, mengenal diri dan jiwa.
    Semoga mampu bertahan.

  10. Dan disinilah saya akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya >> maksud sebenarnya disini itu di blog sendiri, bukannya di kotak komentar postingan blog orang.

    maaf-maaf nih, karena tulisan ini draft lama yang saya buat, sebagai mahar untuk niatan saya kembali ngeblog, persis seperti postingan disini. Yang mana blog saya sendiri masih belum terbelai barang seujung jari pun. Jadi ya…daripada menunggu terlalu lama, saya numpang ngeblog disini saja 🙂

    ah, eniwei, ini ko akhirnya saya malah disini? kembali mengulang perbuatan tidak senonoh mengotori postingan orang. aduhlah… kebiasaan lama malah makin menjadi-jadi *kabur

  11. @ Tuan Adan

    Mungkin Pram menulis untuk mengeluarkan isi kepalanya yang kalau tidak dimuntahkan bisa saja membuat dia gila, boleh jadi Pram menulis karena ketidaksukaannya terhadap kenyataan yang dipersaksikannya.

    Benar. Boleh jadi demikian. Meski pada hakikatnya, yang dikenang orang adalah gagasan dia, bukan dianya. Dari sudut pandang eksistensi tiap diri, ini jelas bukan keabadian eksistensi per individu. Cuma keabadian sebuah ide, yang sering juga termutilasi atau berevolusi jadi ide lain 😀

    Tapi menulis, IMO, boleh menjadi pengganti ketiadaan kita di suatu hari nanti. Katakanalah kita menulis untuk diri sendiri, katakanlah kita tidak menulis untuk satu penerbit tertentu yang mendulang untung lewat tulisan kita, tapi ada satu tempat di sana ketika tulisan yang kita tulis akan menggantikan keberadaan kita untuk anak cucu kita nantinya, berselang generasi ke depan.

    Boleh jadi. Umpama tulisanku di blog ini: mungkin nanti akan dibaca oleh anakku atau mungkin akan hilang begitu saja, entah karena server WordPress meledak atau mereka bangkrut.

    Ada dugaan, apa gerangan yang sedang terjadi? Baik-baik sajakah yang empunya blog ini di sana? Tapi, siapa yang tahu? Dia yang sehat bisa pergi tanpa memberi tanda, dia yang sekarat kadang bertahan lebih lama.

    Sehat aku. Cuma kena asam lambung saja :mrgreen:

    *Harusnya saya menulis di blog sendiri, tapi malah komentar panjang lebar di sini 😦 *

    Tak apa-apa. Aku juga sering ngeblog di kolom komentar orang. Perangai lama tapi terkadang menyenangkan juga. 😆

    @ numpang ngeblog

    Menulis itu, mencerahkan. Bukan, bukan mencerahkan ummat seperti yang digembor-gemborkan para penulis idealis-narsis dalam kitab mereka yang maha suci; dengan istilah-istilah maha tinggi; yang sama sekali tidak bisa dimengerti.

    *manggut-manggut*

    Menulis itu mencerahkan bagi saya sendiri, benar-benar saya jadikan ajang rekreasi, pun prokrastinasi saat seharusnya saya menghadapi setumpuk pekerjaan yang harus dilembur hingga dini hari.

    Ah, baguslah itu :mrgreen:

    Ah sudah bersajaknya. Intinya sekarang saya menulis kembali. Karena tak mampu otak ala kadarnya macam begini menampung begitu banyak informasi yang serba cepat seperti sekarang ini, namun tidak diimbangi dengan media untuk mengaktualisasi, atau yang dulu biasa saya sebut; melepas birahi dan mencapai blorgasme tingkat tinggi.

    Blorgasme… Hmm… 😕
    :mrgreen:
    Kata yang familiar umpama sebuah sidik jari

    Bukannya bisa lewat Facebook saja, eh? lebih baik dibandingkan Twitter. Yang hanya bisa mengakomodir sesiulan sekenanya-seadanya hanya sebanyak 140 karakter (spasi dihitung pula, bah…mana cocok saya yang menulis parlente bertele-tele macem begini berbacot ria disana…terlepas dari ummat Twitter yang beralibi, katanya sih untuk melatih-diri berkreasi dengan ruang kata berbatas, dan TL yang terus menghamburkan tweet tanpa henti)

    *angguk-angguk*
    Lanjutkan saudara! Kejujuran yang mantap untuk mengakui hasrat keparlentean untuk bertele-tele. I like your style 😎

    Intinya, di Facebook saya sih bukannya tidak pernah mencoba menulis disana, namun hati tak mampu dibohongi, dan nafsu justru semakin menjadi-jadi. Mencoba di notes; salah satu fitur Facebook yang amat-sangat dianak-tirikan dengan editor seadanya, malah membuat saya ejakulasi dini.

    Ya. Ya. Bisa difahami itu. :mrgreen:

    Selain itu, faktor penting lainnya; di Facebook saya adalah seorang Personal dengan keterikatan status sebagai buruh, saudara, teman dan pesuruh antar-jemput (walau sekarang sedang LDR demi mengejar setoran untuk mendapat stempel HALAL DEPAG).

    Woh, jadi juga akan menikah ini? :mrgreen:

    Tidak lagi menjadi seorang anonim yang tak terbatas status sebagai seorang anak, seorang pecinta, seorang keponakan, seorang buruh, dan seorang teman.

    Benar sekali. Tidak nyaman untuk beranonim di facebook, apalagi kalau sudah ketahuan sebagai mantan blogger dan menahan gengsi untuk ngeblog kembali. Aku merasakan itu juga 😕

    Tidak mungkin saya menulis tentang pemahaman keagamaan universal-sekuler-kejawen (walahdalah-apa-pula-itu) saya disana, berbacot merutuki ummat beragama tak Bertuhan, manakala sebagian besar keluarga saya yang Fundamental-Ortodok hampir berteriak “Allahuakbar” saat menonton liputan FPI menghalau iblis-iblis kafir barat di televisi.

    Saya prihatin™

    Terlebih lagi, tak berani-lah saya mengumbar pemikiran proletariat-laknat dengan kata-kata yang menghujat manakala ibu saya sewaktu-waktu bisa membaca atau mendengarnya dari adik-adiknya. Tak mungkin kan saya membuatnya khawatir ketakutan bahwa anak lelaki tampan nan rupawan-nya; sudah terjerat gerakan separatis karena menulis kata-kata bengis dan anarkis. Walaupun pada akhirnya tetap saja kelepasan berbacot di status Facebook dengan terciptanya collateral damage yang…yah, untungnya tidak terlalu serius 😛

    Semoga ibumu tak sampai membaca status-status atau catatan begitu. :mrgreen:

    Dan disinilah saya akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya hanya mampu meng-kisruh-kan hati tanpa pernah melepaskan penatnya yang pekat, untuk ber-manunggal terhadap diri sendiri. Untuk menyelami jauh kedalam hati, memandang kedalam diri, mengoreksi diri, mungkin; tapi lebih tepatnya, dengan menulis macam begini; saya menjamah jauh kedalam pikiran pribadi, meresapi makna dengan berbagi kata, mengenal diri dan jiwa.

    Sebuah pencerahan yang bagus 😀

    Semoga mampu bertahan.

    Semoga saja. Dan semoga nanti kalau pun ketahuan anonimitasnya di facebook lagi, tetap tahan untuk menulis kembali 😀

    Dan disinilah saya akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya >> maksud sebenarnya disini itu di blog sendiri, bukannya di kotak komentar postingan blog orang.

    Tak apa-apa. Selama bukan spam dikirimkan, itu justru guna ada kolom komentar di blog. Mungkin kalau di facebook dan twitter, ramai orang kelewat sibuk dan menganggap mulia mengetikkan kata “tl;dr” sebagai tanda tangan bahwa dia sudah datang untuk sekedar teken absen, seakan dirindukan semua orang. Tak apa-apa. Santai saja :mrgreen:

    maaf-maaf nih, karena tulisan ini draft lama yang saya buat, sebagai mahar untuk niatan saya kembali ngeblog, persis seperti postingan disini. Yang mana blog saya sendiri masih belum terbelai barang seujung jari pun. Jadi ya…daripada menunggu terlalu lama, saya numpang ngeblog disini saja 🙂

    Silakan saja 🙂

    ah, eniwei, ini ko akhirnya saya malah disini? kembali mengulang perbuatan tidak senonoh mengotori postingan orang. aduhlah… kebiasaan lama malah makin menjadi-jadi *kabur

    😆
    Kalau aku merasa bahwa tidak sepantasnya berkomentar panjang-panjang di blog, atau risih dengan orang yang berkomentar panjang-panjang di tempatku, maka aku akan memberitahu pada yang bersangkutan dan aku akan menulis di mading dengan ukuran tertentu saja, tak perlu repot berpanjang-panjang pula untuk membuat yang bersangkutan berpikir, apalagi demi menahan gengsi hasratku sendiri yang sebenarnya suka juga menulis panjang-panjang 😆

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s