Up: Sebuah Film Tentang Kesendirian Seorang Tua

Kemarin itu aku meminjam hard disk eksternal temanku. Niatan awal cuma pengen mengopi beberapa lagu dan perangkat lunak, pasca PC kena virus sehingga beberapa installer rusak; namun kemudian jadi iseng melihat-lihat koleksi film di hard disk kawanku tersebut. Terlihat lah olehku satu film animasi menarik. Tak butuh waktu lama untuk segera ku-copy-kan ke komputerku, walau biasanya aku tak suka mengopi film-film karena selain ukuran film biasanya besar-besar dan bikin hard disk cepat penuh, kebanyakan film-film kini sudah gampang ditemui baik dengan cara mengunduh dari internet (jika koneksi bagus) atau membeli DVD (bajakan atau original).

Walau pun film yang ku-copy ini sudah bisa disebut film lama (dirilis 29 Mei 2009, sehingga sudah telat dan basbang untuk diulas di tahun 2012), namun film satu ini memang *menurutku* menarik. Judul filmnya pendek saja : Up.

Meski berjudul pendek, namun kisah di film ini tak sependek judul tersebut. Dengan durasi sekitar 1½ jam, film ini mengulas kehidupan seorang tua sejak masa kanak-kanak hingga rambut putih menua. Kalau diringkas kira-kira begini:

Alkisah… hiduplah seorang bocah bernama Carl Fredricksen yang pendiam dan pemalu, namun sangat suka dengan cerita-cerita petualangan. Bocah ini mengidolakan seorang penjelajah tersohor bernama Charles Muntz. Suatu hari, ketika dia sedang berimajinasi melakukan petualangan, dengan berlari memegang sebuah balon gas, dia dikagetkan oleh teriakan seorang bocah dari sebuah rumah tua. Penasaran, dia pun masuk dan menemukan seorang bocah perempuan bernama Ellie sedang bermain petualangan. Sendirian saja, berdua jika dihitung dengan seekor tikus (atau marmut?) di sana. Dengan rasa takut-takut sesudah dibentak-bentak oleh anak perempuan itu, yang ternyata juga mengidolakan Charles Muntz, mereka lalu berteman. Sebuah pertemanan yang ditandai dengan terjatuhnya Carl dari bagian atas loteng saat didorong untuk mengambil balonnya yang terlepas. Pertemanan mereka digambarkan begitu akrab, dengan dua karakter berbeda: Carl yang pemalu dan pendiam, serta Ellie yang tomboy dan lasak.

Tahun-tahun berlalu. Dan mereka pun menikah. Berbulan madu dan berbahagia untuk sejenak, mempersiapkan diri untuk kedatangan seorang anak. Namun kebahagiaan itu terputus, ketika dokter kemudian mengatakan bahwa Ellie tak bisa hamil. Film menjadi murung, dimana Carl digambarkan tertegun-tegun dari balik jendela, melihat istrinya bermenung penuh kesedihan. Tetapi Carl tidak putus asa. Dia mendorong Ellie untuk bersemangat hidup kembali. Mengingatkan Ellie pada cita-cita masa kecil mereka untuk suatu hari bisa berpetualang ke Paradise Falls, sebuah lokasi berair-terjun indah yang pernah diceritakan oleh Charles Muntz sebagai tempat petualangannya. Ellie kembali ceria. Dan mereka pun mulai menabung sedikit demi sedikit untuk bisa mewujudkan mimpi mereka.

Namun, mimpi itu terkendala terus-menerus. Uang yang mereka tabung, berkali-kali harus mereka buka untuk hal-hal lain yang lebih perlu dan lebih mendesak. Tahun-tahun berlalu, dan mereka hidup berdua tanpa anak sampai beranjak tua dan memutih rambut di kepala. Suatu hari, Carl kembali teringat pada mimpi-mimpi mereka. Diam-diam Carl membeli tiket ke Amerika Selatan, tempat dimana air terjun idaman Ellie berada, dan berencana memberi kejutan pada Ellie. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak: Ellie jatuh sakit dan meninggal dunia. Meninggalkan Carl hidup sendirian di hari tua. Carl yang menjadi lebih pendiam dan lebih tertutup. Carl yang bertahan untuk tak meninggalkan rumah kenangan mereka, ketika di sekelilingnya pembangunan kota sudah mendesak keberadaan rumahnya. Carl yang kesepian dan sendirian di usia senja…. . .

Untuk spoiler cerita selanjutnya silakan lihat video di sini dan di sana, atau dibaca di sini atau di sana. Selain tak ingin spoiler berkepanjangan, aku melihat bahwa dua cuplikan cerita di atas merupakan cerita terbagus dan menjadi inti dari keseluruhan cerita di film ini. Cerita di masa kehidupan Carl dan Ellie adalah cerita paling humanis dan paling manis dalam film ini. Untaian cerita yang membuatku merenung-renung juga hingga pengen menuliskan sesuatu di sini.

Sedikit-banyak, kisah Carl dan Ellie ini mengingatkanku pada sebuah cerita lama: Love Story, sebuah novel karya Erich Segal yang diterbitkan pada tahun 1970. Novel cinta paling manis yang pernah kubaca di masa SMA. Sosok Carl seperti Oliver Barrett IV, seorang mahasiswa Harvard dan pewaris kekayaan keluarga Barrett. Sementara Ellie seperti Jennifer Cavilleri, seorang mahasiswi yang nyambi jadi penjaga pustaka dan putri dari seorang pembuat roti. Tentu saja tak persis sama, namun sempat membuatku curiga bahwa mungkin ada pengaruh novel tersebut dalam naskah film Up ini. Terutama sisipan tragedi kematian Ellie yang sama seperti kematian Jennifer dalam Love Story.

Namun, selain dari keteringatan pada novel lawas itu, kisah Carl dan Ellie ini -terutama kisah kesendirian Carl- mengingatkanku pada ayahku sendiri. Pada orang-orang yang sudah ditinggal mati oleh pasangan hidupnya. Mungkin juga cerminan seperti apa aku dan istriku nanti jika salah satu dari kami berpendek usia.

Setahun lalu ibuku meninggal. Dan aku masih ingat bagaimana di hari-hari dan bulan-bulan di tahun lalu, aku melihat wajah murung ayahku. Jika kukatakan di saat itu aku patah semangat, seperti kuocehkan di postingan ini, mungkin lebih patah lagi semangat beliau. Yang membedakan cuma ekspresi, antara aku yang mellow-mellow menampakkan kesedihanku, dan beliau yang mendiamkannya seperti karakter beliau yang memang cenderung pendiam.

Aku masih ingat di hari beliau pulang ke rumah di suatu siang, ketika sudah sebulan ibuku meninggal, dan termangu memandang potret ibuku di dinding. Lalu menurunkannya dan membawanya pergi. Tak mengatakan apa-apa. Hingga kemudian aku melihat bahwa potret itu beliau letakkan di dinding dekat meja kerja beliau di toko. Beliau berkata, bahwa umpama pun beliau terpikirkan untuk menikah kembali, jika saja lebih muda dari hari ini, istri beliau itu tak akan tergantikan di hati. Hal yang membuat beliau masih tak menikah lagi hingga hari ini, meski ada beberapa orang yang suka ikut campur urusan rumah tangga orang lain, menghasud beliau untuk menikah kembali dengan alasan agar ada yang mengurus. Namun beliau masih sendirian, tak seperti perangai beberapa orang yang pernah kulihat: belum setahun istri meninggal dunia, sudah lekas berganti lain wanita.

Betapa tidak? Jika usiaku mendekati 30-an, maka mereka sudah kenal-mengenal 30 tahun lebih. Bukan waktu yang singkat untuk menjalani kehidupan rumah tangga sebagai suami-istri. Bersetia susah-senang berdua. Dari masih tinggal di ruko dengan atap seng bocor dan ember menjalankan fungsinya sebagai penampung air hujan, sampai membangun rumah sendiri yang jauh di atas kategori RSSS sebagai ujian harta dari Tuhan. Melalui bersama masa-masa jaya dan sengsara usaha dagang keluarga. Melewati tahun-tahun bahagia dan tahun-tahun suram dalam kehidupan mereka.

Di hari ibuku meninggal, setelah ibuku dimakamkan, ayahku tersandar di dinding garasi, di atas karpet yang dibentangkan untuk orang-orang datang bertakziah. Sebelah tangan mengurut-urut keningnya sendiri, berpejam mata, dan raut wajah nampak berduka. Seumur hidup usiaku, cuma dua kali aku melihat beliau begitu murung dan pendiam: saat nenekku (ibu beliau) meninggal, dan saat ibuku meninggal.

Ekspresi kesedihan Carl yang termenung di gereja, dengan menggenggam balon di tangannya, adalah ekspresi yang pernah kulihat di depan mataku sendiri. Ekspresi seorang tua berupa wajah ayahku, juga wajah ayah beberapa sahabatku. Yang membedakan mungkin cuma cara mereka menjalani hari-hari setelah ketiadaan istri mereka lagi.

Dan jelas berbeda dengan Carl adalah: ketiadaan anak di hari tua. Mungkin ayahku dan beberapa lainnya termasuk diantara yang beruntung, karena memiliki anak-anak yang menjagai mereka ketika istri mereka sudah tiada. Tapi ini juga bukan sebuah perkara pasti, bersebab kenyataan seperti yang bisa kita temui pula. Kenyataan berupa ada anak-anak yang tak mempedulikan orang tua mereka. Kenyataan berupa panti jompo para manula.

Meski aku tahu dan sering mendengar bahwa panti jompo tak sehina yang dikira orang, tapi sampai hari ini aku masih merasa tak nyaman dengan sesuatu bernama panti jompo. Aku pernah datang ke panti jompo, mengawani kawan cari bahan tulisan. Tak tahan lama aku di sana, keluar ke pekarangan dengan perut mual. Bukan bersebab ada nenek-nenek muntah seperti balita. Bukan pula karena bau tak menyenangkan di dalam sana. Tapi rasa iba yang menggumpal di dalam dadaku.

Sebahagia apapun katanya mereka di situ, aku masih sukar menerima betapa tega seorang anak, dengan alasan kesibukan mereka, melemparkan orang tua kandung sendiri ke sebuah bangunan dimana orang-orang tua diletakkan seperti rongsokan menunggu karatan. Aku pernah ceritakan ini pada istriku, di kala kami belum menikah. Mungkin benar bahwa terkadang ada orang tua yang ikhlas meminta dipindahkan ke panti jompo. Tapi perasaanku tak pernah mengizinkan diri untuk menolerir hal seperti ini. Sungguh betapa tengik menjadi anak, sesudah dilahirkan dan dibesarkan, dengan berak dan kencing kita mengotori baju dan tangan orang tua kita, dan demi kebutuhan si anak memamah-biak mereka rela berpeluh-keringat mencari rezeki; lalu di hari tua mereka enak kita sepak ke sebuah tempat asing, kita buang dari rumah mereka sendiri, dari rumah anak kandung mereka sendiri: cuma karena alasan sibuk dan tak sempat mengurusi?

Ini sikap biadab menurutku. Memualkan. Dan lebih memualkan karena kenyataan bahwa mereka, anak-anak yang mengoperkan orang tuanya seperti bola ke panti para manula, adalah orang yang beragama. Satu suku bangsa dan satu agama pula denganku. Meski aku bukan seorang alim-religius-sangat, terang-benderang di telingaku masih mengiang ajaran Quran: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Q.S Al Israa’, 17:23).

Aku berkisah pada istriku, bahwa keenggananku untuk meninggalkan Aceh dahulu, setelah liar keluyuran kemana-mana sampai meninggalkan bangku kuliah, adalah karena ibuku sakit. Dan bahwa, sesudah kami menikah, aku berkehendak untuk tinggal di sini, adalah karena ayahku adalah satu-satunya orang tuaku yang tersisa. Sudah menjulang tinggi usia. Seperti kini, di sela-sela kepulanganku ke daerah kelahiran ini, karena kurasa walau sejenak, sebelum nanti lahir anak, dapat aku berdekat-dekat dengan ayahku.

Siklus hidup memang terkadang kejam dan menginjak perasaan. Tapi jika sedapat mungkin dielakkan, maka aku berkehendak mengelakkan apa yang mungkin bagi orang lain adalah biasa. Ambil misal: ayahku dan ibuku dulu pun mesti lah meninggalkan kedua orang tua mereka, dan mengasihi anak-anak mereka, seperti mereka dikasihi pula. Hal yang mungkin akan sama kulakukan dengan istriku, jika Tuhan memberi kami anak dalam pernikahan kami.

Tapi, ayah dan ibuku juga tak lupa mengajarkan satu hal, meski secara tak langsung: yaitu berbakti pada orang tua mereka, dan sedapat-dapatnya menyenangkan hati mereka, meski sudah membina keluarga sendiri. Almarhumah ibuku, misalnya: sewaktu beliau masih hidup, sering beliau menyuruhku mengantarkan satu sak beras dan sejumlah uang untuk orang tua beliau. Sejak ayah beliau masih hidup, sampai ibu beliau menyusul kakek kami ke alam barzah.

Sekali waktu aku menceletuk: apa perlu benar diantar-antar. Mereka toh tidak hidup kekurangan. Hampir semua anak mereka ada memberi. Tak akan mereka kelaparan. Ibuku marah. Marah nian. Bagi beliau bukan soal apakah akan dimakan, apakah akan dijual kembali beras itu, atau malah diberikan ke orang lain; itu tak jadi soal bagi beliau. Seperti apa beliau dulu diberi makan, seperti itu pula beliau hendak berbakti. Tak peduli bahkan meski suami beliau, ayahku sendiri, ada juga memberi. Beliau cuma hendak merasakan kepada orang tua beliau sedikit rezeki yang beliau terima sebagai gaji seorang guru, rezeki yang tak akan ibuku dapatkan tanpa jerih payah orang tua beliau melahirkan dan membesarkan beliau.

Aku tertegun-tegun dan meminta maaf. Sampai hari ini masih kuingat betapa iba hati ibuku hari itu. Ingatan yang meski pun kusyukuri sebagai pelajaran tersendiri, namun kusesalkan juga pernah berucap demikian. Lebih besar sesal lagi, adalah ketakmampuanku hendak mengikuti jejak ibuku berbuat yang sama pada beliau, karena beliau sudah duluan meninggalkan kehidupan ini.

Itu pula kenapa di hari ulang tahun ibu istriku, aku mengirimkan ucapan pada beliau betapa besar terimakasihku bahwa beliau mengizinkan aku menganggap beliau sebagai ibuku sendiri, meski jelas ibu kandung tak akan pernah berganti. Namun, seperti kubilang pada istriku, setidaknya Tuhan memberiku kesempatan lain untuk berbakti sekecil apapun pada ibunya, sebagai ganti dari apa yang belum selesai kubaktikan pada ibuku sendiri.

Ada satu kekeliruan yang sering kulihat dari mereka yang sudah menikah: menganggap bahwa mereka sudah mandiri dan mesti mengasingkan diri. Benar bahwa pernikahan adalah seperti membentuk koloni baru. Tapi, tak seperti koloni-koloni yang merdeka jadi negara, hubungan manusia tidaklah sama. Ada keterikatan tersendiri yang tak bisa lekang begitu saja. Seperti air yang tak putus dicencang pisau setajam mata.

Aku sering bercerita begini, baik sesudah atau sebelum menikah. Dan jauh sebelum aku menonton adegan Carl dan Ellie di film Up tersebut. Mungkin karena sering melihat dan merenung-renung kehidupan yang sudah kujalankan, yang belum terlalu tua dan tentu saja belum terlalu matang bijaksana. Umpama, soal mengasingkan diri itu. Aku bilang pada istriku, bahwa sebesar apapun rasa cinta antara kami, jangan membutakan hati hingga tak elok dengan saudara sendiri, apalagi menjauhkan diri dari orang tua sendiri.

Kami, seperti semua pasangan di bumi ini, kenal-mengenal dan berjalin-hubungan tak lebih lama daripada dengan keluarga sendiri, dengan orang tua sendiri. Sebelum kita mencintai satu sama lain, ada cinta orang tua yang sudah lebih dahulu membesarkan kita. Meski pun, dengan dalih agama, aku bisa berkata bahwa istriku selayaknya patuh dan taat padaku, bahkan di atas orangtuanya sendiri, sejak ayahnya mengijab-qabulkan putrinya kepadaku; namun tak ada minatku untuk mempraktekkan kesetiaan sebudak itu. Aku memberinya nafkah baru seumur jagung. Aku mengasihinya, belum sampai separuh usiaku. Tak masuk akal dan perasaanku bahwa dia boleh tak menghiraukan orang tuanya cuma demi seorang laki-laki yang menjadi suaminya, yang belum sepuluh tahun hitungan jari dikenalnya dalam hidupnya.

Aku tak menginginkan kecintaan buta seorang perempuan, seperti aku tak menginginkan diriku sendiri terbutakan oleh cinta pada perempuan. Kukira, meski usia menjulang tinggi dan orang sepertiku juga tak bisa mengelak dari tuntutan zaman, dari kesibukan harian, dari kedewasaan yang sering merenggangkan kita dengan masa lalu: aku masih boleh mencoba sekuasa diri, untuk tetap menjadi anak dari seorang ayah, orang tuaku yang tersisa kini.

Selama di sini, ada satu rutinitasku yang sempat membuat adikku bingung: berhujan di hari petang untuk mengantarkan mobil pada ayahku. Ini biasa jika hujan turun lebat, atau cuaca sudah tampak mendung dan kuduga ayahku lupa membawa mantel (jas hujan) beliau. Jika sedang di rumah, mobil kukeluarkan dari garasi dan langsung mengantar ke toko. Jika aku sedang di luar rumah, maka pulanglah aku segera, menembus hujan, lalu baju yang basah kuyup (jika tak mengenakan jas hujan) kumasukkan ke dalam plastik dan  kubawa serta dengan mobil ke toko. Di toko, aku mengganti kunci mobil dengan kunci motor, lalu berganti pakaian di gudang toko, dan kembali berhujan pulang ke rumah.

Ketika adikku bertanya, aku mencengir saja. Alasanku sederhana pada mereka: ayah sudah tua, dan baru sembuh demam, mana kuizinkan beliau pulang atau terkurung hujan begitu saja. Dan perkara aku sendiri berhujan-hujan, anggaplah sekedar masa kecil kurang bahagia, atau hendak mengenang-ngenang rasa girang saat masih bocah berbasah diri merasakan air hujan turun ke bumi.

Namun pada istriku aku bertutur lebih lanjut: biar pun ada temanku menganggapku aneh dan berlebihan, cuma karena perkara hujan saja, atau mentang-mentang ada mobil, lalu bertindak selebay itu, bagiku ini soal apa yang bisa kau lakukan pada orang tuamu. Benar memang, ada penemuan modern dan canggih bernama jas hujan. Tapi… Jas hujan manalah cukup untuk tubuh seorang tua? Tuhan sudah memberi kemudahan pada kehidupan, kenapa mesti kikir untuk memanfaatkan? Aku tak ingin jika kelak ayahku meninggal, atau aku mati, ada rasa sesalku di dalam hati bahwa cuma karena hujan saja aku enggan berbasah diri mengantarkan beliau mobil demi memastikan beliau pulang tanpa perlu khawatir kehujanan. Aku masih ingat di masa kecil dulu, ayahku membuka jaketnya dan melindungiku dari air hujan ketika masih bocah dibawa berjalan-jalan di sore hari. Aku masih ingat ketika ayahku, di masa sulit kehidupan kami, keluar dalam hujan saat demam badanku meninggi demi membeli obat dan makanan idamanku. Lalu, di hari-hari menjelang kelahiran anakku dalam bulan-bulan ini, tidakkah boleh aku mencicicipi sedikit rasa hendak menjadi seorang anak bagi beliau?

Tidakkah agama juga mengajarkan begini?

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S Al Israa’, 17:24)

Aku sungguh tak ambil pusing bahwa apa yang kutuliskan ini akan mengurangi pahala atau menjadi dosa karena mungkin dianggap riya. Dosa-pahala urusan Tuhan belaka. Aku tak terobsesi dengan pahala, tak tahu berapa nilai pahala untuk tiket ke surga. Dengan atau tanpa pahala, aku akan berbuat hal yang sama. Dengan atau tanpa pahala, aku berharap anakku kelak membaca tulisan ini, jika blog dan hostingan gratisan ini bertahan lama, baik saat aku masih hidup atau sudah mati, dan berharap dia memiliki perasaan sama. Baik padaku, terlebih pada ibunya.

Sehingga, aku dan anakku kelak masih akan sama-sama menghormati setiap orang tua. Mengasihi mereka, meski mungkin dia akan sama berandal sepertiku dulu. Aku tak menuntut anakku jadi orang sukses, jadi orang terhormat atau jadi orang mapan. Apa arti itu semua, jika hidup tanpa perasaan. Hidup tanpa perasaan, tanpa mencintai orang tua, adalah hidup yang lebih rendah dari binatang, hidup yang untuk makan-minum, berak dan memamah-biak.

Sungguh, orang tua sendirian di usia senja, tidaklah hal yang nyaman kukira. Aku memang belum menua seperti mereka. Seperti Carl atau ayahku pula. Tapi aku tak tega melihat orang-orang bersedih di usia kalasenja. Ini sebab di usia begini rupa, aku masih sudi nian menunaikan apa yang katanya bakat anak sungsang: mengoleskan balsem untuk memijat ayahku, seperti rasa senangku bisa mengoleskan balsem mengurut ibuku saat beliau hidup dulu. Bukan hal-hal spektakuler. Bukan sebuah kebanggaan bertrofi. Tapi aku bisa bersaksi kepada Tuhan di hari penghakiman kelak: sebangsat-sejahanam apapun hidupku, aku pernah mengasihi orang tuaku. Tidak meninggalkan dan melupakan mereka ketika dewasa, ketika usia orang tua sudah seperti matahari di ufuk senja.

Dan soal kemungkinan akan nasib kesendirian kelak?

Tentu selazim orang berpasangan, aku pun berharap sama seperti mereka: hidup dengan istriku sepanjang usia. Mendapatkan anak dan hidup berbahagia. Namun, hidup dengan nafsu gairah demikian, mestilah dimuliakan dengan bestari. Dalam tiap kilogram cinta yang memabukkan hari ini, mesti ditambahkan segram kesadaran diri. Sadar bahwa ada kuasa di luar kuasa manusia. Sadar bahwa kemungkinan terburuk bisa terjadi dalam kehidupan. Keterpurukan. Ketiadaan. Kesendirian. Sehingga jika ada apa-apa menimpa dalam perjalanan bersama, cuma keridhaan menerima segala tiba nanti mewaraskan jiwa untuk tetap jalani sisa usia. Untuk semangat hidup tak putus redup. Sehingga bisa mengingat tentang suatu ketika dalam kehidupan dahulu kala. Seperti orang tua mengajarkan bersetia hingga ujung usia. Seperti lagu begini rupa…

11 thoughts on “Up: Sebuah Film Tentang Kesendirian Seorang Tua

  1. membaca/merenung yang beginian sambil tidak sengaja ndengerin Tears of An Angel si Marty Friedman memang pas.🙂

  2. @ hoek
    😆

    Sama kayak yang komen di yutub itu juga. Hehe.

    Tontonlah. Film bagus ini menurutku🙂

    @ ahmadharis

    Eh, lagu macam apa pula itu?

    Cak kucari dulu:mrgreen:

  3. @ nandobase

    Wah, maaf, Bro😐

    Tiap anak akan selalu merasa berdosa dengan orangtua-nya😐

    @ cK

    Tak apa-apa. Nanti kalau blog ini kena suspend seperti seorang penggemar harry potter dulu:mrgreen: tinggal cari dia saja untuk berurusan dengan Paduka Matt😈

  4. Pertama nonton UP, nangis (terutama 10 menit awal).
    Kedua kali, mewek.
    Kesekian kali, dikatain cengeng.

    Rasanya ga akan ada habisnya penyesalan kenapa tidak begini-begitu kalo menyangkut keluarga, apalagi orangtua. Ah…
    *brb motong bawang*

  5. @ Takodok!

    😐

    Nangis-mewek-dikatain-cengeng, biarlah. Seperti kata Iwan Fals: air mata adalah air kehidupan. Tanpa itu, hidup ini akan kering terasa🙂

  6. Akhirnya menulis lagi juga kau lex..

    Sedih juga saat membayangkan ibuku.. Saat senja usianya tak bisa secara fikik berada senantiasa disisinya.

    Nanti kalau sudah lahir anakmu jangan lupa kabarin aku ya..

    Salam

  7. Bosan juga kalau tak menulis, Bang. Tak tahu mau dibawa kemana isi pikiran:mrgreen:

    Ah, kalau diingat-ingat yang semacam itu memang sedih juga. Cuma akhirnya memang mesti kayak kata Iwan Fals: Hadapi Saja😀

    Mesti nanti kalau sudah lahir akan kukabarkan🙂

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s