Life’s Just a Little Unsatisfying: Filmnya Woody Allen dan Mengapa Kita Bakal Selamanya Butuh Agama, Kesenian, Nostalgia dan Fantasi

 “That’s what the present is. It’s a little unsatisfying because life is unsatisfying,” katanya Gil Pender dalam Midnight in Paris.

Saya bukan film snob dan ini bukan review dari filmnya Woody Allen. Saya tidak punya kualifikasi apalagi pretensi jadi pengamat film. Asli, bung. Anda tidak akan melihat tulisan saya di berbagai webzine terhormat para pecinta film yang sudah menonton semua film yang pastinya belum pernah Anda tonton, semua film yang sebilanya saja Anda itu punya selera bagus, Anda pastinya setuju bahwa film-film itu bagus banget dan dalem banget, dan bahwasanya Anda itu cuma bagian tidak berarti dari arus utama yang kagak ngarti film, yang mungkin masih menunggu seri film Twilight dengan hati yang berdebar-debar. Tidak. Saya hanya ingin menguraikan di sini apa yang saya pikirkan tentang hidup ini, yang diuraikan secara apik oleh Woody Allen dalam film-filmnya, terutama Annie Hall (1977), The Purple Rose from Cairo (1985) dan Midnight in Paris (2011).

 

Anhedonia dalam film Annie Hall

Kalau Albert Camus bilang hidup itu absurd yang karenanya kita disarankan untuk membangun sebuah sistem nilai sendiri agar hidup — yang dimengerti sebagai ada begitu aja, tanpa ada manual dan apalagi kartu garansi — bisa dijalani, Allen hanya berpikir kalo hidup itu ‘a little unsatisfying‘. Itu sebabnya ada orang yang begitu doyan mengeluh: hidup itu memang sering kali tidak seperti apa yang kita inginkan, meskipun sebetulnya kita tidak tahu: kita ini maunya opo sih? Dalam terminologi psikologi, ini disebut anhedonia: the inability to feel pleasure. Dan Allen menelusuri tema ini dalam film klasik dari tahun 1970-an: Annie Hall.

Alvy Singer dalam Annie Hall

Ini film yang luar biasa. Di sini Allen ngemeng terus. Ini bukan film laga, langka gelute. Dan semua orang sepertinya tidak keberatan — ini Woody Allen, bung! Protagonis dalam film tersebut, Alvy Singer, adalah pelawak yang bawel, sinis dan suka sekali mengeluh (does this character sound familiar to you, guys?). Dia merasa dia itu pecundang, seorang Yahudi yang merasa insecure akan ke-Yahudi-an dia. Dia juga socially awkward, selalu merasa out of place dalam keramaian. Hidup buat Alvy Singer itu serba galat, serba tidak sempurna — dan semuanya terpusat pada kegagalan hubungan dia dengan Annie Hall (yang dimainkan dengan sebegitu alaminya oleh Diane Keaton, pacarnya Woody Allen waktu itu, yang juga bernama Diane Hall). Ini film tentang orang yang marah atas hidup yang tidak memuaskan — hidup yang meskipun dia sadar sebetulnya tidak semengerikan hidup mereka yang dilahirkan cacat, tapi masih dia anggap miserable: penuh dengan rasa sakit dan kesepian. Ini karena Alvy ditinggal oleh Annie dan dia bingung mau menyalahkan siapa atas kemalangan itu: yang mungkin adalah dirinya sendiri, karena dia bilang sendiri dalam pembukaan film itu: ‘I would never want to belong to any club that would have someone like me for a member. That’s the key joke of my adult life, in terms of my relationships with women.’ Ini film tidak berakhir bahagia, tidak ada happy ending. Dalam beberapa adegan, Alvy gagal menikmati apa yang dulu dia nikmati bersama dengan kekasihnya. Alvy bahkan sempat berupaya untuk merekonstruksi ulang segala kenangan dia dengan Annie bersama wanita lain, dan dia gagal total. Awalnya adegan-adegan itu terasa beitu lucu, tapi lama-lama bikin sedih juga: tragis. OK, ini kan cuma film, kenapa harus ditanggapi begitu serius?

 

Oh, Saya Jatuh Hati Pada Fantasi? Kenapa Kita Semua Ingat AADC!

Masalahnya kita selalu menganggap serius film yang kita tonton. Kenapa? Karena hidup itu, lagi dalam istilah Allen, a little unsatisfying. Dalam film The Purple Rose from Cairo, Cecilia ketagihan nonton film di bioskop agar bisa lari dari hidupnya yang berantakan: kerjaannya menyebalkan, suaminya pemabuk dan ringan tangan alias suka mukul. Tidak ada orang yang mencintainya seperti karakter fiksi yang dia puja dalam film-film yang dia tonton, terutama film The Purple Rose from Cairo. Nah, satu ketika, karakter dalam film itu sadar bahwa Cesilia rajin nonton filmnya dan dengan segala tiba memutuskan untuk keluar dari layar bioskop dan pergi jalan-jalan sama perempuan malang itu. Yang terjadi berikutnya adalah dua orang yang saling jatuh hati — yang satu kepincut karena pujaannya adalah karakter fiksi yang sempurna, sementara yang lainnya terpesona pada gagasan menjadi nyata, bukan sekedar karakter rekaan dalam segala kegalatannya. Sekali lagi saya tertohok. Dunia nyata memang serba tidak sempurna, dan kita sering kali mencari yang sempurna dalam dunia rekaan, dalam fantasi, dalam film! Itu sebabnya orang rajin nonton film semacam Sex and the City atau film hipster seperti Say Anything atau Ada Apa Dengan Cinta karena banyak orang yang butuh karakter seperti Rangga, tipe cowok keren par excellence, yang bukan hanya luar biasa ganteng tapi juga jago bikin puisi. Singkat kata, bagi banyak orang, nonton film itu eskapis! Dunia imajinasi menjadi semacam pelarian dari dunia kita yang biasa-biasa saja, yang begitu-begitu aja, yang biar diapain juga segalanya bakal berulang-ulang saja — kerja, libur, sekolah, libur, kerja. Kecuali bila kita jatuh cinta, tapi itu biasanya tidak bertahan lama. Eskapisme semacam ini tentu saja tidak apa-apa. Saya yakin Ibnu Taymiyah tidak akan menganggapnya sebagai dosa besar.

Cesilia dalam Purple Rose from Cairo

Film ini tidak berakhir bahagia, tetapi tidak bisa disebut tragis juga. Allen hanya ingin mengatakan bagaimana sebetulnya hidup itu: Cesilia dipaksa untuk milih antara karakter fiksi dan aktor yang memerankan karakter itu, jadi antara kenyataan dan fantasi. Dia memilih fantasi hanya untuk dibohongi dan berakhir menjadi orang yang kesepian di bioskop, mencoba untuk melupakan hidupnya yang berantakan dalam kesempurnaan di layar perak.

 

The Golden Age Thinking dan Setan-Setan di Youtube

Ada yang disebut dengan the golden age thinking — yakni mereka yang berpikir bahwa segalanya lebih baik di masa lampau. Saya orang seperti itu. Dan matilah saya, karena nostalgia sejatinya adalah sebuah pengelakan atas kekinian yang membosankan. Karena, kini adalah kenyataan: kenyataan yang hendak dihindari oleh Cesilia dalam film The Purple of the Rose, kenyataan yang serba tidak sempurna dan penuh rasa sakit dalam film Annie Hall. Kenyataan itu, sekali lagi kata Allen, a little unsatisfying. Gagasan ini dia sampaikan dalam film Midnight in Paris, dalam mana Owen Wilson bermain sebagai Gil Pender, seorang penulis yang begitu terpesona pada kota Paris di kala hujan pada 1920-an, ketika sastrawan raksasa seperti Eliot, Hemingway dan Fitzgerald memilih untuk kongkow di situ. Nah, entah gimana Gil bisa kembali ke masa lalu Paris dan bertemu dengan mereka yang selama ini jadi idola dia, yang menjadi alasan kenapa masa itu disebut ‘zaman keemasan’. Perasaan Gil saya kira kurang lebih sama dengan para komentator di Youtube yang berfikir bahwa lagu zaman sekarang jelek semua, dan bahwa pada 1990-an, apalagi 1980-an, apalagi 1970-an, apalagi 1960-an, segalanya jauh lebih baik. Ini saya memang bingung, Karena saya juga berpikir begitu, entah kenapa saya begitu suka dengan Ernie Djohan pada 1960-an ketika dia melantunkan lagu Teluk Bayur. Dari segi aransemen, sampul album, semuanya bagus banget, semuanya lebih bagus! Saya meringis melihat Ernie zaman sekarang menyanyikan kembali lagunya sendiri. Disebut parodi pun masih bagus, 😐 Dalam hal kesusastraan pun tidak berbeda. Saya benci sekali dengan sastra kontemporer, dan merasa dilahirkan terlambat karena saya tidak bisa sezaman dengan Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono atau Rendra. Kadang saya terbayang hidup sebagai pemuda pada 1970-an dan menonton film Merpati Putih. Saya pasti sudah review film itu di blog saya koran-koran atau di mana saja. Saya akan utarakan kekaguman saya pada Christine Hakim, yang menurut saya aktris yang jauh lebih baik dari Dian Sastrowardoyo dan aktris zaman kini lainnya. Tapi itu, sekali lagi, sebuah pengelakan. Seperti yang dikatakan nemesis Gil, Paul: “Nostalgia is denial – denial of the painful present… the name for this denial is golden age thinking – the erroneous notion that a different time period is better than the one ones living in – its a flaw in the romantic imagination of those people who find it difficult to cope with the present.” Mungkin pada akhirnya kita tidak bisa coping dengan masa kini dan merindukan yang lampau.

 

Gil Pender di Paris pada tengah malam

Kenapa Kita Manusia Yang Konon Sudah Tercerahkan Ini Bakal Selamanya Butuh Agama, Kesenian, Nostalgia dan Fantasi

Apa yang membuat Anda percaya pada takdir, pada Allah dan keabadian? Kelak kita semua tiada, dan segalanya, semuanya bakal terasa begitu percuma. Apa bedanya bila tuhan atau Tuhan itu ada atau tidak ada, waktu yang sudah lewat tidak bisa diambil lagi — tidak ada gunanya merindu masa silam, apa gunanya bersusah-hati dengan kekinian? Setiap orang punya cerita dan deritanya masing-masing — sakit kita tidak sama, tapi kita semua merasa sakit. Dan setiap orang berhak untuk mengeluh. Kita semua hidup dalam kesunyian yang berbeda, tapi kita semua pasti pernah merasa sendiri dan kesepian: pelacur, polisi, petugas satpol PP, anggota DPR, supir bajaj, tukang becak, mahasiswa, blogger seleb, jagoan twitter, semuanya pasti merasa sepi; dan kita semua yang kesepian ini mencari teman dalam agama (tuhan), kesenian (keindahan), nostalgia (masa lalu yang serba lebih baik) dan fantasi (kenyataan yang lain). Tragisnya, mungkin, eskapisme ini hanya membuat kita berjarak dari kenyataan dan kekinian dan kemudian hidup menjadi lebih sepi, lebih sunyi.

*

 *

*

Dari pemilik blog : Tulisan ini bukanlah tulisan si pemilik blog, melainkan tulisan dari seorang kawan yang dengan pertimbangan tertentu dititipkan untuk dipublikasikan di sini. Segala pertanggung-jawaban dan juga dosa dari tulisan ini, adalah hak milik si penulis. Sementara pahala bagi dua. Demikian untuk dimaklumi. Terimakasih sudah membaca.

Iklan

17 thoughts on “Life’s Just a Little Unsatisfying: Filmnya Woody Allen dan Mengapa Kita Bakal Selamanya Butuh Agama, Kesenian, Nostalgia dan Fantasi

  1. ya… mungkin kurang lebih saya demikian, lari dari kehidupan dengan menonton film seperti LOTR, ERAGON dan semacamnya. Ditambah dengan membaca novel-novel yang demikian. 😀

  2. Tak jarang pada setiap dialog didalam cerita terselip fisolsofi hidup, pesan sosial, pertarungan hidup, dan sebagainya. Ketika cerita telah usai aku selalu merenungkan atau setidaknya mereplay ulang apa yang telah ku tonton contoh nya seperti film Last Samurai yang di aktorkan oleh Tom Cruise kalau tidak salah.

    Ketika aku sedang menonton sebuah film apa saja itu, orang di sekelilingku sering bilang jangan terlalu serius menonton, padahal yg kulakukan hanya, menyerap pesan – pesan dalam cerita tersebut.

  3. Adalah hal yang manusia ketika manusia itu merasa kesepian, kesunyian, mungkin benar apa yang dikatakan Paul Tillich dalam eternal now-nya, bahwa Man is alone because he is a man.

    tipikal film-film Woody Allen yang memang banyak mengusung tema filsafat, keresahan, pergulatan hidup, yang diramu menjadi dialog-dialog khas Allen, Hmm… tentang Annie Hall (IMO) itu memang film bagus, namun secara pribadi saya kurang suka sama tokoh Alvie, terlalu banyak bicara, terlalu berisik… 🙂

    And… yeah
    … It would be nice walking in the rain, its beautiful” –Gil, Midnight in Paris–

  4. @ ahmadharis

    ya… mungkin kurang lebih saya demikian, lari dari kehidupan dengan menonton film seperti LOTR, ERAGON dan semacamnya. Ditambah dengan membaca novel-novel yang demikian. 😀

    Ah, samanya kita itu. Mau dibilang melarikan diri, tak apalah. Asal jangan melarikan barang dan anak orang saja, kalau itu ya bikin malu saja kita 😆

    @ Fendy

    Tak jarang pada setiap dialog didalam cerita terselip fisolsofi hidup, pesan sosial, pertarungan hidup, dan sebagainya. Ketika cerita telah usai aku selalu merenungkan atau setidaknya mereplay ulang apa yang telah ku tonton contoh nya seperti film Last Samurai yang di aktorkan oleh Tom Cruise kalau tidak salah.

    Itu… kalau umpama petuah agama, memang disuruh untuk merenungkan. Afala taqilun dan afala taqlamun. Memang disuruh agak sesekali berpikir dan melamun. 😀

    Ketika aku sedang menonton sebuah film apa saja itu, orang di sekelilingku sering bilang jangan terlalu serius menonton, padahal yg kulakukan hanya, menyerap pesan – pesan dalam cerita tersebut.

    Memang susah kalau dicegah tak serius, apalagi jika cerita sudah kena di hati. Ibarat kata pepatah: kucing mengeong, penonton terus berlalu :mrgreen:

    @ Zukko

    Adalah hal yang manusia ketika manusia itu merasa kesepian, kesunyian, mungkin benar apa yang dikatakan Paul Tillich dalam eternal now-nya, bahwa Man is alone because he is a man.

    Sangat sangat manusia sekali. Kukira malah dengan rasa kesepian dan kesunyian itu kita jadi manusia, bukan iblis bukan malaikat. Pun dalam kisah agama, Adam juga kesepian di surga, karena demikianlah dia diciptakan. Agaknya sudah sejak zaman bapak moyang kita yang dikisahkan dalam agama abrahamik itu, kesunyian masing-masing memang sudah digariskan jadi nasib manusia 😀

    tipikal film-film Woody Allen yang memang banyak mengusung tema filsafat, keresahan, pergulatan hidup, yang diramu menjadi dialog-dialog khas Allen,

    Aku waktu SMP sering nonton film Allen. Itu pun tak mengerti benar apa menariknya. Akal belum terlalu sampai ke sana, jadi cuma menikmati adegan saja dari gulungan pita NTSC di video :mrgreen:

    Waktu di kampus baru nonton lagi, tapi sudah keburu jenuh dengan filsafat, atau mungkin faktor sudah mau disepak oleh dekanat. Entahlah. Haha.

    Hmm… tentang Annie Hall (IMO) itu memang film bagus, namun secara pribadi saya kurang suka sama tokoh Alvie, terlalu banyak bicara, terlalu berisik… 🙂

    Tapi sosok Alvie itu agaknya cerminan Allen dalam keseharian. Dia itu juga kontroversial dan uring-uringan, seingatku dulu. Aku sering lihat dia masuk koran waktu aku masih bocah, koran daerah. Ada saja bacritnya dalam koran Swadesi dan Waspada waktu itu. Termasuk mengomentari Whoopy Goldberg, entah soal apa, sampai cekcok. Dari kecil aku sudah lekat imej Allen itu sebagai orang bawel. :mrgreen:

    And… yeah
    … It would be nice walking in the rain, its beautiful” –Gil, Midnight in Paris–

    Amen to that! 😎

  5. Bosan hidup di dunia nyata,entah karna gak kebagian peran penting atau apalah akhirnya bikin film bagi mereka yang lamunannya kreatif.
    Bagi mereka yang gak ada kreatifitasnya sama sekali di saat bengong,yang ada cuma kosong,film bisa di jadikan suguhan yang menarik untuk mengasah ocehan dalam hati yang sulit untuk di mengerti.

  6. @ Iwan

    😆
    Mungkin juga ada benar repetan Tyler Durden dalam film Fight Club begini:


    God damn it, an entire generation pumping gas, waiting tables – slaves with white collars. Advertising has us chasing cars and clothes, working jobs we hate so we can buy shit we don’t need. We’re the middle children of history, man. No purpose or place. We have no Great War. No Great Depression. Our great war is a spiritual war. Our great depression is our lives. We’ve all been raised on television to believe that one day we’d all be millionaires, and movie gods, and rock stars, but we won’t. We’re slowly learning that fact. And we’re very, very pissed off.

    yang bikin generasi pasca Perang Dunia ke 2 jadi pembosan dengan kenyataan :mrgreen:

  7. Menurutku di masa tenggang ini,yang dulunya di anggap cuma mimpi sekarang sebagiannya hampir terealisasi.
    Kenyataannya,semua mimpinya cuma di siang hari.
    *Apapun makanannya, minumnya tetap dimasa lalu*

  8. Menurutku di masa tenggang ini,yang dulunya di anggap cuma mimpi sekarang sebagiannya hampir terealisasi.

    Seperti apa itu misalnya? 😀

    *Apapun makanannya, minumnya tetap dimasa lalu*

    😆

    *njleebbenar*

  9. “Ingatlah,sesungguhnya iblis akan membangkitkan angan-anganmu yang kosong”.

    Di masa lalu,berada di bulan mungkin di anggap mimpi,di jaman ini manusia bisa melakukan tidak perlu bermimpi.
    kenyataannya bulan itu kosong,tidak bisa di isi oleh mahluk bumi walau sekecil bakteri.
    Pencapaian mimpi di alam fana ini adalah suatu kekosongan,apa yang bisa di lakukan manusia di bulan sana,melatapun tidak bisa.
    Tinggal satu hingga dua hari mungkin menyenangkan,apa jadinya kalau sampai hitungan bulan dan tahun ? bisa di bayangkan betapa menyebalkannya bukan.
    Bagi mereka yang tidak mengerti hakikat hidup di alam fana ini,sebagian mungkin menyenangkan, sisanya kalau tidak membosankan ya,gila-gilaan.

    *Apapun pencapaian di masa kini,selalu ada kerinduan di masa lalu,hutan yang hijau,aliran sungai yang jernih*

  10. AADC itu keren kakak, terutama adegan pas di toko buku Kwitang, saya suka ke kwitang dulu, tapi sekarang sayang udah digusur gara-gara pembangunan semacam bank deket situ katanya..
    😐

    dan tulisan ini dalam,
    dan endingnya bikin penasaran, titipan siapa ini ?
    😐

  11. @ Iwan

    “Ingatlah,sesungguhnya iblis akan membangkitkan angan-anganmu yang kosong”.

    Sabda yang mantap :mrgreen:

    Tinggal satu hingga dua hari mungkin menyenangkan,apa jadinya kalau sampai hitungan bulan dan tahun ? bisa di bayangkan betapa menyebalkannya bukan.

    Sangat. Mau ngapain di sana? Untuk boker saja agaknya repot, air kencing saja bisa jadi gumpalan kayak soda melayang-layang di ruang hampa 😆

    Bagi mereka yang tidak mengerti hakikat hidup di alam fana ini,sebagian mungkin menyenangkan, sisanya kalau tidak membosankan ya,gila-gilaan.

    Kayaknya banyakan yang gila-gilaan. Hehe. Gila-gilaan menikmati kesenangan yang membosankan 😆

    *Apapun pencapaian di masa kini,selalu ada kerinduan di masa lalu,hutan yang hijau,aliran sungai yang jernih*

    Akan selalu ada. Ini seperti keluhan yang pernah kudengar dari orang di kota besar, betapa mereka rindu dengan kerik jengkerik. Sesuatu yang dulu malah mungkin diacuhkan keberadaannya 😀

    @ warm

    AADC itu keren kakak, terutama adegan pas di toko buku Kwitang, saya suka ke kwitang dulu, tapi sekarang sayang udah digusur gara-gara pembangunan semacam bank deket situ katanya.. 😐

    Sudah digusur? Adegan dimana ada Gito Rollies itu bukan? 😀

    dan endingnya bikin penasaran, titipan siapa ini ? 😐

    Hehehe. Kalau pun tahu siapa, dipendam dalam diri saja :mrgreen:

  12. saya sendiri termasuk penggemar film film woody allen. memang woody mempunya pandangan yang tajam dalam mengkritisi banyak hal yang luput dari sikap kritis banyak orang 🙂

  13. @ jarwadi

    Aku tak banyak menonton film-filmnya. Tapi memang cukup tajam dia mengeritik banyak hal, menyentil hal-hal kecil yang seakan sudah jadi biasa dalam hidup ini. Jika tak diperhatikan dari sudut pandang filosofis, filmnya cukup menarik untuk jadi hiburan ringan. Ini kadang-kadang bikin aku malas nonton film dia, apalagi pasca usia 25. Hehe. Jadi bikin beban kepala saja :mrgreen:

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s