Tentang Waktu, Masa Silam Yang Jauh Di Jendela Kala Hujan Dan Kenapa Kita Bisa Melarikan Diri Pada Nostalgia Tanpa Mesti Berjarak Dengan Kekinian

Pagi ini, saat turun ke lantai satu rumah untuk menyeduh segelas susu, dan melewati buku-buku komik lama yang dibereskan oleh adikku ke dalam kotak-kotak bekas di dekat kamarku; aku melihat lagi satu komik yang cukup dengan melihat sampulnya saja, masih terbayang adegan-adegan di dalamnya. Masih hafal isi dan sejumlah dialognya.

Komik itu adalah komik Dorameon Petualangan 1: Petualangan Nobita dengan Dinosaurus, versi bahasa Indonesia. Kisah tentang petualangan mereka saat berada di zaman kapur, sekitar 65 juta tahun yang silam, demi sebuah misi untuk menjenguk Pisuke: seekor futabasaurus peliharan Nobita yang sebelumnya sudah dikembalikan Dorameon dan Nobita ke zaman tersebut. Sebuah misi yang menjadi masalah, disebabkan mesin waktu yang rusak, dan segerombolan penjahat dari masa depan memburu mereka untuk merebut dinosaurus peliharaan Nobita. Dan salah satu adegan yang kuingat di dalam komik itu adalah adegan dimana Nobita dan teman-temannya kebingungan dengan berapa lama dan berapa jauh hitungan waktu jutaan tahun itu, dan lalu Doraemon berkata kepada mereka: Masa lalu itu seperti sebuah tempat yang jauh. Jauh sekali.

Melihat komik yang dulu sering kubaca waktu SD itu, aku jadi teringat dengan tulisan temanku yang dititipkan di blog ini kemarin. Tulisan yang di dalamnya ada menyinggung soal kebutuhan manusia akan masa lalu, kebutuhan akan nostalgia.

Dan soal waktu ini, menarik juga jika dikaji: bahwa orang-orang segenerasiku, seperti aku dan temanku itu, sangat mungkin akan merasa bahwa gambaran kehidupan awal abad 20 adalah klasik. Karya-karya nan epik. Meski kami tak pernah merasakan kemurungan dunia akibat ratusan juta jiwa mati sia-sia dalam dua Perang Dunia di abad dua puluh. Kami yang tak hidup di zaman Charlie Chaplin, namun merasa ada sensasi nostalgia yang celakanya bukan hak milik kami, tak pernah dinikmati oleh jiwa dan raga kami hidup-hidup dulunya, saat melihat kelucuannya, saat menikmati segala seni dan segala apa yang datang dari masa dimana dia sudah bernyawa dan kami belum berbentuk apa-apa.

Kadang-kadang memang rasanya aneh. Sensasinya seperti deja vu, merasakan sesuatu yang sewaras-waras diri tak pernah dirasakan, tapi seakan sudah terasakan sebelumnya. Seakan sudah biasa, sudah dari dulu begitu.

Sehingga sosok artis-artis glamour semacam ini pun serasa tak asing di mata. Tidak sekarang, tidak pula dulu, ketika mesin pencarian bernama Google belum ada untuk memberikan tangkapan wajah mereka.

Kukira, hal-hal seperti inilah yang membuat masa lalu jadi begitu menggoda kalbu. Masa depan kita sama-sama tahu: dia adalah setumpuk kartu misteri yang belum tentu. Namun masa lalu adalah seperti sesuatu yang terasa-rasa pernah kita miliki, tapi tak bisa dijangkau semudah menjangkau sebatang sendok di pagi ini. Makin silam masa lalu, mungkin terasa makin dalam. Dan benar pula, masa lalu itu memang seperti sebuah negeri jauh yang pernah kita kunjungi bertahun silam. Mungkin bersama Pak Janggut dan buntelan ajaibnya, yang menggandeng tangan kita yang lincah bahagia menggenggam majalah Bobo baru seharga 700 rupiah saja.

Manusia memang eskapis. Namun eskapis ke masa lalu, mungkin masih lebih baik. Masa lalu seperti jendela yang bisa kita pandangi dalam kesepian, kala hujan turun mengembuni sudut-sudut kacanya, dan kita melihat keluar, mungkin dengan sebatang rokok atau segelas kopi, meresapi suara hujan meratapi bumi; dan di antara yang terlihat di balik jendela, samar terlihat pula wajah kita sendiri. Dan hal-hal semacam ini, masih lebih romantis dan lebih logis daripada melarikan diri ke masa depan. Bagaimana hendak melarikan diri ke tempat yang tiada bernama, tempat yang kita belum tahu-kenal apa dan dimana nantinya? Masa depan adalah tempat yang di saat ini cuma berupa bayangan ketidakpastian yang kita kenang kala kita menggantang asap menggantung angan, dan berjudi antara kecewa dan harap pada keabadian segala kemungkinan.

Entahlah. Meski masa lalu tak selalu baik, dan memang ada derita dan sakit kita masing-masing, tapi kukira, masih lebih baik dikenang daripada dilupakan begitu saja. Karena keberadaan kita hari ini pun dibentuk oleh masa silam. Bukan oleh masa depan. Kepastian masa depan, adalah kebohongan belaka. Siapa pun manusia mengatakan tahu pasti dengan masa depan, dia adalah pendusta.

Jam weker... Berapa ramai dari kita masih pakai benda purba ini di tahun sekarang?

Cukuplah waktu saja sering berdusta. Mendustai bahwa dalam aliran waktu hidup itu akan begini-begini saja, ketika kokok ayam di pagi hari malah bikin hati iba: kokok binatang satu itu sudah lama dibunuh oleh keberadaan jam weker. Dan jam weker pun sudah sekarat digorok oleh jam digital, atau bahkan oleh alarm di ponsel yang kini seperti geretan saja di saku setiap orang. Tak ada lagi suara kring-kring mendering di pukul lima. Tidak di kota besar, tidak juga di kota kecil ini. Kasihan. Mungkin ayam berkokok setiap pagi cuma untuk rutinititas mengenang kejayaan kokok mereka di zaman purba, ketika kokok ayam masih jadi pertanda bahwa malam akan binasa, dan matahari akan kembali menginjak kepala manusia.

Sudahlah. Nikmati saja aliran waktu. Hari ini pun, bertahun kemudian, akan jadi sebuah hari di masa silam. Dan kita mungkin akan mengenang hari ini sambil tertawa. Atau (berpura-pura) lupa sama sekali.

Karena demikianlah rotasi waktu. Akan selalu demikian. Sampai kita mati.

*seruput kopi*

10 thoughts on “Tentang Waktu, Masa Silam Yang Jauh Di Jendela Kala Hujan Dan Kenapa Kita Bisa Melarikan Diri Pada Nostalgia Tanpa Mesti Berjarak Dengan Kekinian

  1. baca setengah postingan trus tiba-tiba sadar kalo ini adalah curhatan aki-aki😀

    sangat tidak cocok buat saya yang baru saja berulangtahun ketujuhbelas…

  2. @ syahmins

    baca setengah postingan trus tiba-tiba sadar kalo ini adalah curhatan aki-aki😀

    Aki-aki darimananya?😛

    sangat tidak cocok buat saya yang baru saja berulangtahun ketujuhbelas…

    Sebuah penipuan diri-sendiri yang sia-sia….🙄

    @ Idah Ceris

    ini benar-benarrrrrrrr. . .😉

    Benar-benar ini. Benar-benar sebuah postingan, belum tinggal jadi draft saja:mrgreen:

    termasuk yang suka meramal-ramal itu ya kak? tergolong pendusta kan?😛

    Itu sih memang pendusta habis. Haha. Aku tak suka peramal itu. Banyakan pintar cuci tangan. Kalau nggak kejadian seperti apa yang mereka ramal, dibilangnya, “Yaaah… namanya juga ramalan… Bisa tepat bisa nggak…”😆

  3. Spongebob dan kawan-kawannya juga pernah nyampe ke masa lalu dan masa depan.
    Lumayan menggelitik,hanya karna si gurita tidak ingin di usik kesendiriannya oleh spongebob dan Patrick yang konyol,hingga si gurita melarikan diri ke masa lalu sampai ke masa depan.
    Tidak ada yang dia kenal dan tidak ada yang mengenalnya, hingga terlempar ke dimensi yang benar-benar hampa,kekosongan,sunyi-sepi,sendiri,untuk matipun tidak mungkin bagi mereka yang sudah mengenal hidup ini.

  4. untuk matipun tidak mungkin bagi mereka yang sudah mengenal hidup in

    Itu… benar-benar mengerikan. Mati atau reinkarnasi itu mesti ada, biar sejarah dan waktu terus berputar😐

  5. Kalau hidup, ya… hidup saja,kalau mati ? ya..gak usah pakai rienkarnasi segala bah.

    * Karna hidup kita,pikiran kita,punya kita,akan selalu seperti apa yang kita pikirkan(maunya kita.) *

  6. 😆

    Ada kata “atau” di atas tadi. Ada penafsiran bahwa mati itu cuma proses transisi, mungkin semacam kepercayaan reinkarnasi dalam agama tertentu. Ada juga yang beranggapan mati adalah akhir segalanya, dan segala yang tercipta dan hidup kembali adalah yang baru.

    Yang mana pun, salah satu atau kedua hal itu harus ada, agar hidup terus berjalan. Kecuali Tuhan menghendaki diri-Nya manunggal dan tunggal dengan ke-Aku-an-Nya semata, sehingga tak ada semesta, tak ada Tuhan tak ada Hamba.

  7. Kalau hidup kembali seperti kita,kesadaran kita,bukan yang lain dengan sebuah jawaban di jaman kita,sebab dan untuk apa kita hidup.
    Aku setuju banget,soal meski hidupku 1000 tahun lagi di alam fana ini,tak ada jaminan untuk kebahagianku.

  8. 1000 tahun itu mengerikan sekali. Haha. Mending mati dan hilang sama sekali. Atau kalau memang mau hidup lama, aku mending menuntut abadi selamanya seperti tuhan😛

  9. Ping-balik: Tentang Waktu, Masa Silam Yang Jauh Di Jendela Kala Hujan Dan Kenapa Kita Bisa Melarikan Diri Pada Nostalgia Tanpa Mesti Berjarak Dengan Kekinian « ILMU ITU INDAH

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s