Catatan (Untuk Kawan) Dari Sebuah Pesta Kenduri Pernikahan

Kemarin, sekitar pukul dua belas siang, bersama dengan Yopi dan Tama, kawan satu SMA dan satu kontrakan di masa kuliah, aku berangkat ke pesta pernikahan seorang kawan, berdasarkan undangan yang kuterima beberapa hari lalu. Sebuah pesta di ibukota kabupaten sebelah. Jaraknya dari kabupatenku sekitar 1/2 jam perjalanan.

Sedari pagi, saat bangun sekitar pukul 9 selepas tidur siap shalat subuh, ada kebimbangan dalam diriku: pergi ataukah tidak. Namun janji adalah janji, dan dua kawanku pun sudah menelpon, menanyakan apakah jadi pergi atau tidak. Aku memilih untuk pergi bukan sekedar untuk membalas kunjungannya yang datang dari jauh saat pesta pernikahanku tahun lalu, namun karena kupikir ini pesta pernikahan. Pesta yang (semoga) cuma sekali seumur hidupnya, seperti yang kuharap pada diriku juga.

Setelah menunggu Yopi meminta izin ke kantor dimana dia bekerja, aku pun menjemputnya dan berangkat dari kota kecil ini menjelang siang. TOA mesjid sudah mengumandangkan suara ngaji dan azan akan segera berbunyi. Melewati perbatasan kabupaten, kami berhenti di satu kecamatan untuk menjemput Tama, dan meneruskan perjalanan ke ibukota kabupaten tersebut, ke tempat dimana kawan baikku sedang melangsungkan resepsi pernikahannya.

Aku mengenal kawanku itu sejak memasuki kampus Unsyiah sebagai mahasiswa. Bertahun-tahun kami berteman akrab. Bukan cuma sekedar mahasiswa satu jurusan, satu fakultas, satu universitas, tapi lebih dari itu: dia menjadi sahabat dekat. Hingga kemudian iseng membentuk band asal-asalan, dimana aku menjadi vokalis dan dia menjadi gitaris. Walau berganti formasi band urakan kami, namun dia tetap menjadi gitaris andalan. Aku tak suka ngeband dengan gitaris lain selain dia. Bukan saja karena selera musik kami sama, tapi juga karena kami sama-sama tak segan memainkan musik beraliran keras atau lagu-lagu pop mellow dari tahun lawas.

Ketika tahun-tahun konflik di Aceh kian meruncing, kami menjalani susah-pahit kehidupan yang sama. Dibariskan dan dipopor aparat di pinggir aspal. Sama-sama minggat ke kampus ketika penggeledahan di rumah-rumah kontrakan mahasiswa menjadi rutinitas serdadu dan intelijen pasca Cessation of Hostilities Agreement menuai kegagalan dalam perundingan damai di Tokyo.

Saat itu, cuma segelintir saja kawan-kawannya yang tahu bahwa dia adalah anak seorang tokoh GAM di kabupaten asalnya. Di angkatan kami sendiri, cuma aku yang tahu statusnya itu. Dia menutupi soal itu demi keamanan pribadinya. Hal yang juga kulakukan saat menutupi jejak beberapa rekan yang sama-sama simpati, menjadi petempur, komandan sagoe, atau setidaknya terlibat dalam pergerakan mahasiswa pro-kemerdekaan di kampus.

Kontrakan kami terpisah tak seberapa jauh. Sama-sama dalam kawasan Kopelma (kota pelajar dan mahasiswa) Darussalam, Banda Aceh. Kawasan dimana 3 kampus berdiri: Universitas Syiah Kuala, IAIN Ar-Raniry, dan Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Teungku Chik Pante Kulu. Kontrakanku berada di sektor selatan, tepat di seberang depan mesjid Fathun Qarib IAIN, dan kontrakannya berada di sektor utara, tak jauh dari asrama mahasiswa Unsyiah.

Jika kubandingkan saat itu rumah kontrakan kami, maka bisa kubilang rumah kontrakanku lebih mewah: bangunan semi-permanen dengan 7 kamar berisikan 14 orang penghuni yang berasal dari SMA yang sama. 3 kamar di bawah, 4 kamar di atas. Memiliki ruang tamu, dapur dan 1 kamar mandi dengan 2 toilet. Ada pula garasi, sehingga sesiapa dari kami bawa mobil, bisa meletakkan gerobak modern beroda empat di sana.

Sementara kontrakannya adalah rumah-rumah sederhana, sedikit lebih rendah dari rumah bertipe RSS. Keseluruhan bangunan dibuat dari kayu. Atapnya seng dan kusen jendelanya kayu ringkih. Kamarnya? Lebih mewah kamarku. Aku memililki kamar berventilasi bagus. Ada dua jendela dengan kaca nako. Udara segar di lantai dua. Ada kipas angin di langit-langit kamar. Poster-poster dari Anna Kournikova, Steve McManaman, Kurt Cobain dan lainnya menghiasi dinding. Ada tape-deck cap Akari dengan suara syahdu merayu kalbu. Ada TV kecil yang bisa ditenteng seperti tas jinjing. Ada pula sebuah tempat tidur yang bagus dan sudah teruji ketahanannya sejak aku masih SD. Karpet bermotif kotak-kotak catur menambah kesan elegan di lantai kamar. Ada mesin ketik (kemudan berganti komputer Pentium III ber-Windows ME bajakan), koleksi kaset dalam kotak khusus serta bertumpuk buku bacaan.

Sementara kamarnya: satu tape-deck seken tak bermerek (seingatku punya temannya), sebuah loudspeaker yang mereknya sudah tak jelas lagi, sebuah gitar kopong yang diberi spul sehingga bisa dimainkan laksana gitar listrik, setrika, lemari praktis bongkar pasang, meja yang dibuat dari tripleks dan ban bekas, serta satu tempat tidur yang memprihatinkan. Selain lantai semen yang retak-retak dan bolong di beberapa bagian, yang ditutupi karpet ala kadar, cuma itu saja yang ada di kamarnya.

Dia, di masa itu, adalah seorang mahasiswa kere yang terjepit di Banda Aceh. Aku memiliki sepeda motor, dan sesekali nekat membawa mobil Kijang-ku ke Banda Aceh, dia tidak. Dan jika aku dan yang lain bisa sering pulang kampung, meski berhadapan dengan sekian barikade sweeping aparat atau GAM, dia tidak segampang itu. Jarang dia pulang. Karena kampung kelahirannya, di kabupaten sebelah kabupatenku (tapi sampai tahun 2002 kami masih satu kabupaten, sebelum dimekarkan) memang terkenal sangat mencekam saat itu. Umpama kami pulang bersama, melintasi gunung Geureutee dan kota Meulaboh, dan kena sweeping aparat BKO, lalu aku mengaku dari Blangpidie dan dia mengaku dari Kluet; maka jika aku dapat bogem di perut sekali, dia akan dipijak-pijak karena berasal dari daerah dimana sejumlah aparat sering mati kena tembak. Hal ini yang menyebabkan dia jarang pulang, selain dari kenyataan yang ditutupinya: status bapaknya sebagai tokoh GAM.

Di antara sekian kecocokan kami, sekian pikiran kami yang mirip-mirip, dari selera musik, hobi pada dunia komputer, minat pada seni-budaya, ketidak-setujuan dengan politisasi agama, dan ketidak-sukaan pada pemerintah, ada satu yang membedakan: politik.

Sementara dia tak suka bicara soal politik, tak suka terlibat organisasi politik, dan tak berminat dengan apa saja yang berbau politik, aku adalah kebalikan dari dirinya. Namun jika aku bicara soal politik, mencarut-marut pemerintah, dia mendengar dan sering setuju dengan pendapatku, meski mengaku tak faham-faham benar soal carut-marut dunia politik. Aku pun tak mendesaknya untuk mengikuti alur kesukaanku. Bagiku, dia adalah seorang mahasiswa eksakta yang berjiwa seni. Seorang musisi yang menekuni dunia fisika. Dan itu pilihan yang kuhormati.

Perbedaan itu tak menjadi halangan benar untuk kami bersahabat. Saat angin damai berhembus, apalagi pasca tsunami, aku sering datang ke kontrakannya. Sekedar bergitar atau tidur-tiduran karena bosan dengan kontrakanku atau dengan suasana kampus. Masih di kontrakan yang sama: kontrakan murah-meriah namun ramai penghuninya. Di sana, meski rata-rata boleh dikatakan mahasiswa menengah ke bawah, namun mahasiswa mapan pun sering juga datang kumpul-kumpul. Antara mereka yang dapat kiriman cuma 200 ribu sebulan dan yang dapat satu juta sebulan, tak akan jauh bedanya. Salah satu sebab aku suka berkumpul dengan rekan-rekan di kompleks tersebut.

Hal demikian berlangsung bertahun-tahun. Sampai kemudian di satu hari di tahun 2008, setelah lama tak singgah, lama keluyuran dan terancam drop-out dari kampus; aku mampir ke rumahnya. Namun rupanya dia tak tinggal di rumah yang sama lagi, melainkan di rumah yang sudah lebih baik. Tak pula dengan teman-temannya, namun dengan adik perempuannya. Rumah itu bisa dibilang permanen. Sebuah rumah yang tak seberapa besar, namun untuk ukuran mahasiswa memiliki sebuah rumah yang nyaman (meski cuma kontrakan) tanpa harus berbagi kamar dengan mahasiswa lain, dengan atap yang kokoh, lantai keramik, dapur resik, adalah sebuah kemewahan. Apalagi dengan adanya kulkas, televisi dan … sebuah sepeda motor Ninja terbaru di tahun itu…

Aku terpana. Namun naluriku mencium sesuatu yang lain. Kawanku juga terlihat kikuk saat aku datang, kala mempersilakan aku masuk, dan aku berkata sambil berkelakar berapa angka dia tembus togel maka semewah itu hidupnya. Di dinding depan rumah, aku melihat ada stiker dua orang manusia yang hendak maju dalam pilkada di kabupatennya. Aku menemukan kalender yang sama di dalam rumah kontrakan barunya itu. Aku tak begitu mempedulikan dua benda dengan wajah sepasang kandidat peserta pilkada itu, meski ada sesuatu mengganggu dalam pikiranku. Aku merasa deja vu dengan dua jenis alat peraga kampanye itu, namun tak tahu apa sebabnya.

Beberapa saat aku pun terlupa. Kami ngobrol soal pengalaman setelah lama terpisah pasca tsunami, bermain gitar, dan lalu aku pulang sesudah meminjam uang padanya seratus ribu (saat itu aku sedang kere, sebuah kondisi yang pernah kukisahkan dalam postingan lalu), untuk sekedar pengganjal perut dan pembeli rokok, sembari menunggu honor dari artikel kacanganku terbit.

Aku lalu kembali ke kontrakan lamaku yang sudah lama kutinggalkan, menjumpai Tama, kawanku yang kusebut di awal postingan ini. Berbeda dengan kawanku yang sebelumnya, Tama ini besar sejak SMA denganku, meski dia berasal dari kabupaten yang sama dengan kawanku itu. Dia sekelas denganku selama 3 tahun, dan meski kuliah di Teknik Elekto Unsyiah, dia memiliki minat yang sama soal politik. Salah satu elit Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di tahun itu. Maka obrolan kami pun sempat meluas ke pembicaraan soal politik. Dia lalu menyebut satu nama yang terlibat dalam pilkada di kabupatennya, dan telingaku pun bergerak. Gagasan dalam kepalaku berputar, dan aku berniat untuk menguji gagasanku. Aku mengajaknya kembali ke tempat kawanku itu, yang dikenal baik juga olehnya. Kami pun ngopi di kompleks mahasiswa sektor utara itu, di rumah kawanku sang gitaris andalan. Selain aku, Tama dan dia, ada beberapa lagi dari mahasiswa Teknik Elektro Unsyiah yang juga menjadi kawan baik seangkatan Tama. Aku memancing pembicaraan soal pilkada di kabupaten, dan Tama pun dengan ceplas-ceplos berkelakar bahwa sesekali berilah kesempatan orang dari daerah sebelahnya untuk memimpin, jangan dari daerah sebelah kawanku saja. Mereka tertawa-tawa, menyebut nama-nama kandidat di daerah mereka, seperti biasa obrolan politik ala warkop mahasiswa. Atau tampaknya seperti biasa, karena mataku yang sudah dipaksa waspada dalam konflik, tak luput membaca gejala dari sekerut-dua gerak kening kawanku itu. Dan aku tahu ada yang tak biasa.

Aku bisa katakan, meski aku memandang lurus ke depan, tapi aku bisa jeli melihat gerakan di samping kiri dan kanan. Bisa dengan sudut mata menangkap gerak tubuh, sebuah bahasa paling tua dari umat manusia. Dan kawanku tak tahu bahwa aku saat aku mengaduk kopi, batas pandang bawah dari tangkapan mataku, menangkap kakinya menendang kaki kawan Tama di sebelahnya. Ingatanku pulih.

Kami bubar menjelang petang. Namun aku mengirim pesan dari ponselku ke ponsel kawanku, dan bilang kalau aku hendak bicara dengannya. Dia berjanji akan menjemputku ke rumah di sore nanti. Dan dia menepati janji itu. Selepas ashar, dia menjemputku dengan sepeda motor Ninja yang masih plat putih, dan membawaku ke sebuah warung kopi di sudut lain kawasan kampus, tepat di seberang depan gedung milik FKIP Unsyiah, bertuliskan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Saat turun dari boncengannya, dia berjalan di depanku dan memesan kopi lalu duduk di kursi santai, di satu meja sudut warung. Aku masih berdiri, menyulut rokok dan memandang sepeda motor Ninja itu dan wajahnya silih berganti. Tak kutahan senyumanku. Dia memandangku gelisah dengan mulut seperti orang mau tertawa tapi getir. Dia tahu maksudku senyum-senyum memandang kuda besinya dan dirinya silih berganti.

Dia memintaku duduk dulu. Dan bilang bahwa dia tahu apa maksudku. Dia tahu kenapa aku senyum-senyum begitu. Dia tahu bahwa aku tahu sesuatu yang dia sembunyikan. Aku duduk di sebelahnya, dan sambil mengaduk kopi, langsung bertanya pada intinya: siapa nama yang disebut Tama sebagai salah satu kandidat dalam pilkada di kampungnya, yang wajahnya ada di stiker dan di kalender rumahnya? Aku serasa kenal wajah itu, kataku dan memandangnya tajam-tajam.

Kawanku menghembus-hembuskan asap rokoknya. Gundah. Dia bilang bahwa dia sepertinya tak perlu memberitahu lagi bahwa orang yang kumaksud, nama yang kusebut, sang kandidat calon bupati itu adalah ayahnya. Pertanyaanku retoris baginya.

Lengang. Aku ingat benar hari itu. Dia diam mengaduk kopi. Aku memandang sepeda motor barunya. Dan ditambah satu lagi di atas meja: ponsel Nokia seri terbaru.

Asap rokok menghembus-hembus. Kami tak perlu mengatakan bahwa biarlah habis sebatang rokok dulu, baru akan bicara. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku tak tahu pasti apa yang dipikirkannya, kecuali mungkin dia sedang menyusun pleidoi akan “kehidupannya yang membaik” dan segala hal tentang ayahnya yang sedang berjuang naik menjadi bupati di kabupaten asalnya.

Dan cerita pun mengalir begini:

Pasca GAM menyerahkan senjata sebagai pelengkap perundingan damai di Aceh, maka semua GAM turun gunung. Sementara tahun 2007 mantan kombatan GAM dan aktivis SIRA sudah menaikkan Irwandi Yusuf, salah satu elit GAM, sebagai Gubernur Aceh; maka tahun 2008 target dari GAM untuk menguasai kabupaten juga tak berhenti. Ayahnya sebagai salah satu tokoh GAM di daerahnya, dinaikkan menjadi kandidat di kabupaten. Dia pun sudah menduga bahwa aku akan tahu hal itu, cepat-atau lambat. Salah satunya karena dia tahu di akhir tahun 2006, aku pernah terjun ke daerahnya untuk membuat pemetaan politik pilkada Aceh, serta membantu kawan menggarap film dokumenter Aceh pasca damai. Dia tak heran jika aku akan lupa-lupa ingat dengan wajah ayahnya, karena aku pernah bilang datang ke rumahnya di kampungnya di akhir tahun 2006 itu. Sangat besar kemungkinan aku pernah bertemu dengan orang tuanya.

Dan soal apa yang terlihat mewah olehku, bukanlah kehendaknya. Orang tuanya memiliki satu harapan: dia menyelesaikan kuliah yang terbengkalai. Di luar kehendaknya rumah kontrakan dicarikan, di luar maunya juga dia dibelikan sepeda motor yang kusenyum-senyumi itu. Semua itu adalah “sogokan” ayahnya kepadanya agar dia mau menyelesaikan kuliah. Jika dia tak menerima itu, maka -karena ayahnya tahu sifatnya yang akan menolak- semua “sogokan” itu akan disogokkan ke kampus. Dia memilih menerima dan berjanji akan menyelesaikan kuliah di tahun depan.

Satu hal yang tak dikatakan, tapi dia anggukkan, adalah pendapatku bahwa ayahnya sepertinya hendak menebus semua kemiskinannya dulu dengan melimpahkan kemewahan di kala sudah turun gunung dan kembali jadi salah satu tokoh masyarakat. Pilihan ayahnya bergabung dengan GAM, sudah menyengsarakannya bertahun-tahun, sehingga uang kirimannya cukup-cukupan, dan tinggal di kompleks yang tak mapan. Satu sisi dalam pikiranku, menerima “penebusan” ini. Aku bilangkan, bahwa jika aku pun jadi orang tua, dan berada di posisi ayahnya, aku mungkin juga akan menebus semua “derita” anak akibat pilihan sikapku. Pemberian orang tua tak boleh ditolak.

Namun… sebagai kawan, sebagai sahabat, demi Allah dan jiwaku sendiri, di hari itu aku bilangkan padanya: jika semua yang dia terima hari ini dan nanti terbukti bukan dengan uang halal, maka aku minta maaf bahwa aku akan berseberangan dengan ayahnya, dan jika perlu dengan dirinya serta. Kami bersahabat, tapi aku tak menemukan alasan untuk membenarkan apa yang salah cuma karena persahabatan.

Kawanku memahami itu. Dia kenal sikapku bertahun-tahun. Dia juga mengangguk kala aku bilang padanya: berdasar pemetaan politik yang pernah kubikin dengan kawan-kawan, ayahnya sangat mungkin akan menang. Karena euforia massa saat itu sangat berpihak pada kandidat yang diusung oleh GAM, sehingga dalam bahasa kasarnya: monyet pun naik asal berbaju adat Aceh dan ada stempel dukungan GAM, maka monyet pun akan menang. Terlepas apakah ayahnya memang pantas atau tidak, namun sangat mungkin dia akan jadi anak dari seorang bupati. Dan sebab kemungkinan itu sangat besar, kataku, dia harus ingat bahwa dia anak laki-laki. Baik-buruk nama orang tuanya di pundaknya juga. Jika kelak ayahnya melenceng, maka dia yang harus pertama mengingatkan, sebelum orang-orang sok kritis bermulut cabe macamku bicara macam-macam. Jika kelak ayahnya benar, maka dia tak perlu repot habis-habisan membela. Karena sejarah akan memihak ayahnya suatu hari nanti.

Di atas itu semua, aku sangat berharap agar dia tak berubah. Aku tak mau persahabatan bertahun-tahun pecah karena dia tahu benar: aku tak suka dengan keluarga dari orang-orang yang berkuasa, yang lupa bahwa kemewahan mereka adalah milik negara, milik umat, bukan milik nenek-moyan dan kaum-kerabat.

Aku tahu, kataku, bahwa jika ayahnya menang, tak bisa tidak dia akan kecipratan rezeki. Namun aku meminta hal-hal kecil saja padanya, tak perlu terlalu idealis aku menuntut: 1. Jika berminat jadi PNS, jangan masuk dengan jalur kongkalingkong. Pakailah otak sendiri, karena aku menghargainya sebagai orang yang sadar di kepalanya ada cairan otak, bukan cairan kotoran sapi. 2. Jika pun ada rezeki dari kemapanan keluarganya, tidak bisa tidak pasti ada, sepanjang tahu itu masih jalur yang legal dan halal, yang tak akan mengirim ayahnya ke penjara atau neraka kelak, ambil lah, tapi jangan pernah jadi sombong. Karena kekuasaan itu cuma sebentar. Jika aku mendengar bahwa dia berubah suatu hari nanti, aku akan menganggapnya sebagai bagian dari masa lalu yang sudah mati.

Dia hari itu berjanji padaku. Kala matahari karam, kami berpisah. Dan itu terakhir aku bertemu dengannya sebagai mahasiswa sebelum kemudian tahun berganti, aku kembali ke kota kecil kelahiran sendiri, dan dia kembali ke kabupatennya. Ada beberapa kali bertemu, termasuk saat pesta pernikahanku di tahun lalu, namun dengan status berbeda: aku sebagai semi-pengangguran di usaha dagang orang tua dengan titel mantan calon sarjana terakreditasi, dan dia sebagai pegawai negeri dengan titel sarjana dan anak seorang bupati.

* * *

Meski aku sudah membayangkan akan seperti apa pesta itu, namun tetap saja ada rasa kecut dalam diriku saat sampai di tujuan, saat turun dari mobil Kijang LSX Commando 1987-ku di depan bangunan megah tempat perhelatan pesta kawanku itu. Mungkin jika bukan lebih dari sekedar kawan, jika dia bukan sahabat yang sudah macam saudara, aku tak akan datang ke sana, ke tempat pesta pernikahannya.

Aku sempat memandang ke deretan mobil-mobil yang diparkir. Di antara semua mobil yang berjejer di depan kantor pemerintah di seberang gedung tempat acara, baik mobil plat hitam atau plat merah, cuma mobilku yang paling uzur dan paling ringkih. Aku sempat melihat sebuah mobil plat merah dengan nomor kecil, perlambang mobil orang penting, kutaksir bisa membeli 10 biji mobil Kijang seperti milikku, yang kuparkir memantati bempernya yang mengkilap.

Tama dan Yopi, kedua temanku itu pun, nampak canggung. Di antara kami bertiga, cuma Yopi yang mengenakan sepatu dengan celana kain khas pegawai honor serta baju kaos oblong. Kawanku Tama mengenakan sandal kulit yang pernah diiklankan Rano Karno dan baju kemeja motif teratai Aceh serta celana jins biru. Dan aku mengenakan celana jins, baju oblong dengan kancing kemeja terbuka semua, serta sendal paling mewah dari semua penutup kaki yang ada di hari itu: sandal cap swallow, yang di tokoku dijual cuma seharga ±Rp. 68.000 per lusin

Bersebab di antara kami bertiga aku yang paling dekat dengan si empunya hajatan, maka aku pun berjalan di depan. Memasuki gerbang setinggi batang pepaya di belakang rumahku, dan menjumpai pekarangan luas dengan teratak-teratak sekitar selusin, bangku-bangku yang cukup menampung kenduri anak yatim dari 6 dusun di desaku, dan dentum musik keyboard dari panggung nun jauh di depan dimana wanita dan pria berdendang dan berjoget dalam busana batik Jawa.

Kami melewati sekelompok wanita penerima tamu, serta bapak-bapak yang kutahu memandang kami, dan terutama memandangku dari atas ke bawah. Sorot-sorot mata yang sudah pernah kutemui berkali-kali sepanjang hidupku. Sorot mata mereka yang kentara menaksir, bahkan ketika kami mengambil piring di meja prasmanan dan bersiap untuk makan selayaknya undangan: gembel darimana bersandal jepit hadir dalam pesta pernikahan anak seorang bupati?

Aku tak ambil pusing, meski sempat mendesis pada kawanku, bahwa aku tak suka bau kemunafikan di sekitar kami. Aku tak suka melihat para wanita dan pria dalam batik pegawai negeri berdendang-joget di panggung kenduri sana. Aku tak suka wajah-wajah sumringah yang biasa ditemui, biarpun berganti penguasa. Hari ini mereka akan tertawa mesra pada penguasa A, besok berganti pemimpin B, mereka pun akan berlomba menjilat pantat yang berbeda.

Selesai memamah-biak nasi ala kadar, aku mengirimkan pesan ke nomor ponsel kawanku dan bilang aku sudah di depan. Di pekarangan depan pendopo bupati dimana pesta meriah sedang digelar itu. Aku tak peduli dia anak bupati atau anak siapa, tapi kami tamu dari jauh, kami diundang dan kami datang. Oleh sebab itu, sudah patut dia keluar sebagai seorang kawan.

Kawanku keluar. Berdiri di pintu. Matanya mencari-cari. Aku melambaikan tangan, dan dia berseru girang memanggil. Kubilangkan pada kawanku Yopi, kalau bukan dia yang memanggil, aku tak akan mau masuk pendopo itu. Kami bangun dan melewati orang-orang tua yang memandang keji sandal jepitku tadi. Mereka sedang mengekor sang bupati mereka, ayah kawanku. Berdekatan dengan kami, sama-sama berjalan menuju pendopo. Di depan pintu pendopo, sementara mereka berlomba cari perhatian dengan sang bupati, ayah kawanku memandang kami. Aku sudah mencengir. Tak bisa tidak, beliau akan kenal juga. Bersalamanlah kami, namun tetap kujaga satu hal: tak membungkuk. Apapun dia seorang bupati, dan kami berada di pendopo bupati. Meski aku bisa membungkuk sebagai tanda menghormati orang tua kawan, tapi aku tak mau membungkuk di depan seseorang yang berpangkat yang sedang berada di kandangnya. Beliau menyuruh kami masuk, dan aku beserta dua kawanku lalu bersalam dan berpeluk dengan sahabatku yang menikah itu. Sandal jepit mewahku kuletakkan di antara sepatu-sepatu mengkilap depan pintu pendopo dan masuk memijak karpet empuk dengan sebatang rokok tetap di tangan.

Kawanku Yopi mengingatkan soal rokok, dan aku bilang pada kawanku anak bupati itu bahwa kami tamu dan berhak merokok, dan berhak minta AC pendopo dimatikan. Kawanku mencengir mematikan AC yang kunilai merupakan tipe AC mahal di sudut ruangan. Mencari asbak dan meletakkannya di depan kami yang sudah meletakkan pantat di karpet, bersandar pada dinding pendopo.

Meski dalam kepalaku berkecamuk banyak hal, namun aku memilih untuk tak merusak pesta kawanku. Selain itu, aku bisa menduga bahwa dia tahu apa yang kupikirkan. Sikapnya tetap agak kikuk, meski aku membawa ketawa dengan kelakar soal malam pertama dan faedah pahala “berbuat nikmat” di malam jumat. Tama sudah memandang-mandang wajahku dan menggeleng. Aku mengangguk tanda maklum. Dia pun tahu apa yang kupikirkan. Apalagi di saat ada serombongan bapak-bapak yang merasa diri mereka itu sangat penting masuk ke dalam, gagah duduk di dekat kami, ketika kawanku pamit hendak berkemas karena akan ada acara adat berikutnya sebentar lagi. Aku lalu mengajak kawan-kawanku keluar, kembali ke halaman pendopo. Memutuskan duduk sejenak di kursi-kursi tamu depan pendopo, menonton para aparatur pemerintah memeriahkan pesta anak Big Boss mereka, dan melihat segerombolan tentara yang diundang sedang antri di meja prasmanan. Aku mencengir dan tertawa kecil. Tama pun tersenyum-senyum, tahu makna tawaku.

Karena lama menanti kawanku berkemas, kami memutuskan kembali. Aku pun berkata pada Tama bahwa aku tak merasa nyaman lama di sana. Kami beranjak pergi, dan aku mengirimkan pesan ke nomor ponsel kawanku untuk menyatakan pamit. Tidak jadi masalah bahwa dia tak bisa mengantar kami. Aku tahu nian betapa repot adat kenduri di Aceh.

Lepas dari gerbang, kami beriring menuju ke mobilku. Dengan senyum sinis di bibirku sendiri, mengingat ada yang bertanya tadi dengan lagak sok akrab, bagaimana aku kenal dengan bupati dan anaknya, yang tak kujawab karena sikapnya yang tiba-tiba manis. Aku tak lupa bahwa dia adalah salah satu di antara mereka yang memandangku seperti anjing gembel saat masuk pekarangan pendopo tadi. Aku sudah sering melihat muka seperti itu. Sudah sering melihat tipe demikian. Tipe bunglon: pintar berganti kulit cepat-cepat, dari seorang penghina jadi pemuji.

Mereka adalah tipe yang sama yang akan mengirimkan karangan bunga berderet macam foto kujepret di bawah ini, sehingga jalanan seakan jadi lintasan parade bunga di Pasadena, tak peduli siapapun pemimpin hari ini atau esok lusa.

ini foto cuma seperempat bagian sisi jalan, tapi sudah panjang begini

* * *

Ada beberapa catatan sebenarnya hendak kubuatkan pada kawanku dari kehadiranku kemarin ke pestanya. Namun, nanti malam aku harus berangkat ke Medan dan esok terbang ke Bogor. Aku mungkin dalam waktu yang lama tak akan berjumpa lagi dengannya, itu pun jika umurku cukup panjang. Jadi kukira, elok kutuliskan begini saja, biar sekalian jadi catatan tambahan di blog ini.

Aku tahu bahwa kawanku belum berubah nian. Dia memang berubah dalam hal kemapanan. Mungkin dulu aku akan mengeritiknya habis-habisan. Namun dunia tak hitam-putih, tidak selalu seidealis yang kita kira. Meski aku risih dengan apa yang kusebut “kemapanan yang membaik”, namun jelas dia masih memiliki nilai-nilai baik di mataku: dia tak berpolitik, dia juga tak ambisius, dan tak sombong, tak seperti anak-anak orang berpangkat yang kukenal, anak-anak kere yang dulu bapaknya mesti cari tambahan dengan jadi makelar motor lalu tiba-tiba naik pangkat. Aku masih melihat bahwa kawan-kawan lama di sekitarnya kemarin, adalah kawan-kawan yang dulu (dan juga sekarang) tak termasuk mapan. Kawan-kawan biasa. Mungkin satu-dua di antara mereka ada kawan yang (suka tak suka) menjadi oportunis, mengira dengan mendekatinya akan mendapatkan kemudahan akses, padahal tak segampang itu. Tapi rata-rata kukenal baik. Belum termasuk di antara mereka yang biasa kucaci.

Namun bagaimanapun, aku risih dengan acara kemarin itu. Meski aku sendiri menilai sorot mata kawanku tak tenang, dan sisi lain dalam diriku mencoba kompromi dengan gagasan bahwa pernikahan adalah acara keluarga dan mungkin orang tuanya berkehendak melangsungkan acara itu di masa akhir jabatan sebagai kenang-kenangan penghormatan, yang mana dia tak bisa menolak segampang aku menolak konsep kenduri besar-besaran saat pernikahanku di tahun lalu. Aku bisa berdamai dengan kemungkinan itu, karena aku selama ini cukup menghormati kawanku tersebut, yang lebih sering pulang ke rumah asalnya di luar ibukota kabupaten mereka, daripada tinggal di pendopo bupati yang megah. Aku tahu dia tak betah di ibukota kabupatennya itu. Jika aku datang ke sana, ada sekali-dua kami ngopi, pasti dia mengajakku keluar pendop, ke warung kecil simpang terminal, dimana tak ramai orang-orang yang tahu dia anak bupati.

Aku juga tak nyaman dengan rasa mau ketawaku betapa ajaibnya dunia, sesuatu yang Tama tahu dari kilatan mataku: dulu ayahnya diburu tentara, dan kemarin segerombolan tentara dari satu kompi yang dikenal ganas di masa konflik, datang ke acara kenduri pernikahannya. Dunia memang benar-benar tak sehitam-putih yang dikira. Dunia politik adalah dunia sandiwara. Hari ini diburu habis-habisan, esok lusa datang untuk pesta makan-makan.

Aku juga mencengir sinis dengan mereka-mereka yang hadir kemarin. Mereka yang (seperti kataku pada Tama dalam perjalanan pulang) bukan tak mungkin akan enggan datang memeriahkan pesta kenduri orang biasa. Saat kami pulang, di depan kantor bupati sana, sebuah rumah warga sedang hajatan. Tapi tak ada mobil-mobil plat merah, bahkan plat merah murahan, berjejer di tepi jalan.

Diam-diam, dalam hatiku ada rasa iba tersendiri. Mungkin pada kawanku, mungkin pada keluarga dan sanak-kerabatnya. Tahun depan, pilkada akan bergulir di kabupaten mereka. Dan prediksiku, karena kondisi politik belakangan ini dengan GAM terpecah-belah, serta ada kejenuhan masyarakat pada elit-elit yang dulu mereka kagumi karena pernah mengaku berjuang untuk marwah rakyat Aceh lalu memperkaya diri; sangat mungkin ayahnya yang mau naik lagi tak akan menang tahun depan. Ibaku adalah: jika kelak ayahnya bukan siapa-siapa lagi di kabupaten itu, adakah rasa ditinggalkan bagi keluarganya setelah lima tahun orang-orang datang bermanis muka, orang-orang serupa tua bangka yang awalnya meremehkan sandal jepitku lalu jadi berbaik-baik karena melihatku disambut bupati mereka di depan pendopo dan berpeluk erat dengan anak bupati, sahabatku sendiri?

Aku sudah pernah melihat efek post power syndrome dari kerabatku sendiri. Kerabat yang pernah mengira bahwa kekuasaan, kekayaan, dan penghormatan orang akan selama matahari bersinar di atas kepala. Ada kerabatku yang dulu sempat congkak dan berubah: biasanya masuk ke rumah penduduk -saat masih jadi orang sipil- tak pakai sandal, namun saat beliau sudah jadi nyonya penting karena suaminya di posisi penting, ha! Sudah pintar dia memakai sandal khusus dalam rumah. Seakan rumah penduduk itu lantainya ada ludah babi.

Lalu, di penghujung kekuasaan suaminya dia pun ditinggalkan orang. Seperti orang yang dianggap barang bekas. Dulu disambut di acara-acara penting dengan protokoler, bahkan pakai tarian, kini cuma seperti tamu second hand : cuma bekas orang penting. Datang syukur, tak datang pun air minum tak akan kering.

Aku mungkin salah menilai kawanku. Mungkin dia lebih brengsek dari yang kukira. Mungkin di belakangku, tanpa sepengetahuanku, dia juga memperkaya diri, bermain curang, mengandalkan orang tuanya untuk bermain segala fee dalam segala proyek pemerintahan. Mungkin juga dia masuk lewat jalur belakang sebagai pegawai negeri, meski aku percaya dengan kejujurannya dari dulu. Mungkin dia lebih hitam dari seputih atau seabu-abu husnudzan-ku padanya.

Tapi, umpama pun benar demikian, meski dengan rasa kecewa tersendiri, aku masih berharap bahwa satu sikap baiknya: tak menjadi sombong dan lupa dengan kawan-kawan lama, tak menjauhkan diri dari pergaulan dengan anak-anak biasa seperti dirinya yang dulu di masa mahasiswa, akan membantunya untuk kembali belajar jadi manusia biasa. Bukan anak seorang bupati di sebuah kabupaten dengan kekayaan tambang dan penghasil pala yang besar.

Aku berharap, seperti dia dulu lebih memilih ayahnya kalah (mungkin dulu bersungguh-sungguh atau cuma hendak mengesankan sikapnya padaku), tahun depan ayahnya tak menang lagi. Biarlah orang lain yang lebih buruk, lebih rakus, lebih busuk, atau tentu saja yang lebih bagus dan lebih baik dari ayahnya, menang dan memimpin kabupaten mereka.

Aku ingin melihatnya sebagai sahabat lamaku yang tak pernah lupa tahun-tahun pahit dalam hidup kami dulu. Aku ingin melihatnya, saat tahun depan kembali ke tanah ini sebagai seorang ayah dan suami dari seorang istri, bukan sebagai anak bupati lagi. Mungkin ini harapan yang jahat, karena mengebiri kemapanan yang menjadi nikmat seorang kawan, walau pun sang kawan tampak risih dengan nikmatnya selama ini.

Tapi aku benar ingin melihatnya hidup seperti biasa. Tak mesti kekurangan seperti dulu, tapi juga tak berlebihan apalagi dengan payung kekuasaan orang tua. Aku ingin melihatnya sebagai orang yang mencari rezeki dengan gajinya sendiri, mungkin menabung dan mencari tambahan penghasilan dengan cara halal untuk masa depan yang gombal. Sebagai orang yang pernah teguh memegang janji, yang setia pada kawan baik susah maupun senang.

Aku ingin melihatnya nanti sebagai sahabatku yang pernah kukenal: seorang sahabat yang pintar bermain gitar, pandai mencari chord lagu, insting musiknya tinggi, selalu mencengir masam jika diajak ngobrol soal politik, hobi mengoprek komputer, suka pemrograman. Sebagai seorang musisi yang berseni meracik melodi dan berseni menikmati hari-hari dalam secangkir kopi.

Aku berharap dan aku berkehendak…

Tapi aku sadar, harap adalah milik manusia dan kehendak adalah milik Raja Semesta. Dengan segetir-getir jiwa, mungkin aku harus menerima bahwa kelak dia akan kembali menjadi anak dari salah satu raja-raja kecil, dan mungkin akan berubah jauh, karena semakin lama kekuasaan dan kemapanan, semakin rentan manusia lupa bahwa kaki masih memijak bumi dan tubuh kelak cuma butuh liang lahat yang tak selebar halaman pendopo bupati; sehingga aku mesti ikhlas menisankan nama kawanku sebagai sosok yang sudah mati dari masa lalu.

Semoga saja kemungkinan itu salah. Dan jika itu salah, setidaknya pada suatu ketika, pada suatu hari yang biasa: kami dapat bersama mengingat hari-hari kala donasi mie instan menjadi pahlawan di tengah bencana, kala tanah ini pernah menagih suara mereka yang hilang di ujung-ujung desa. Hari-hari dimana mulut pernah bernazar untuk membantu siapa saja tanpa pretensi akan surga dan neraka. Hari-hari dengan tangisan bayi mengajarkan rotasi sejarah berulang kembali, di kala nanti anak-anak beranjak remaja mengingatkan bagaimana dulu berkawan: bagaimana mengingat janji, bagaimana mengingat mati.

4 thoughts on “Catatan (Untuk Kawan) Dari Sebuah Pesta Kenduri Pernikahan

  1. semua orang itu punya karakter yang dibentuk dari kecil, pasti susah berubah tiba2 bein.

    klo emang bapaknya orang yang bagus dalam pemerintahan ya semoga terpilih lagi kedepannya, dan semoga dia tetap menjadi orang yang sama walaupun dengan status yang berbeda he he he he.

    ini anak angkatanmu yang berinisial H kan ?

  2. *menghela napas*

    dan ya semoga saja sampeyan salah, saya yakin kawanmu itu pada dasarnya tak berubah, smoga😀

  3. menghela nafas pula, ternyata sebegitu nya bagi yang mengalami sendiri konflik aceh, sampai masih membekas sampai sekarang dan mungkin tidak bisa lupa🙂

  4. @ SF

    Ya, Man. Gitaris satu itu. Kalau kudengar dari Tama dkk, bapaknya lumayan bagus. Cuma orang-orang di sekitarnya itu. Kau tahu sendirilah ‘gimana perangai beberapa dari kelompok yang mengaku “pejuang” tapi ternyata berjuang untuk proyek🙂

    Kalau kawan kita itu masih bagus. Kau tengok sendiri ‘gimana waktu kuajak gabung-gabung dulu ke mabes kita di Bitai dia malah nutup-nutupin status anak bupatinya itu. Suka aku. Tak jadi besar kepala dia. Dan kukira memang susah dia untuk berubah. Cuma ya itu… kadang-kadang dia dan aku sama-sama tak nyaman. Aku ada beberapa catatan jelek soal kabupatennya itu, termasuk kasus tambang yang kemarin itu sampai anak-anak sana gabung dengan rekan-rekan di Banda Aceh untuk demo soal AMDAL yang tidak valid dalam kasus tambang yang merugikan lingkungan. Jadi, kalau kadang-kadang terbahas soal beginian, susah kita memisahkan antara status sebagai orang tua kawan atau sebagai seorang pejabat pemerintahan. Makanya… kupikir elok tak usah saja. Tapi entahlah, kita lihat saja nanti🙂

    @ warm

    Tidak. Dia sendiri belum berubah sampai kini. Setidaknya dalam hal kerendah-hatiannya itu. Dan itu masih membuatku meletakkan statusnya sebagai sahabat, bukan sekedar kawan😀

    @ jarwadi

    Wah, susah memang. Membekas benar kejadian begitu. Tak lekang-lekang dari ingatan, kecuali amnesia. Meski memang harus berdamai dengan masa lalu, itu mesti😀

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s