Di Bogor Kembali

Semalam berangkat meninggalkan Blangpidie, pukul tujuh lewat sedikit, dengan menumpang mobil rental milik kawan. Melewati jalanan Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan melintasi perbatasan Aceh-Sumatra Utara; sampailah di kota Medan sekitar pukul tujuh pagi.

Tidur lelap agak dua jam di kamar kawan, di loket pengangkutan milik beliau; terbangun sedikit panik mengira waktu check-in di bandara akan sangat sempit. Untung kawan suruh salah satu sopir lansir beliau untuk mengantarkan ke bandara. Uda, panggilan sang sopir lansir. Berdarah Medan-Padang. Kumis garang macam jagoan Betawi, usia ada empat puluhan. Meski muka garang, tutur tenang. Wajah Barry Prima hati Rhoma Irama. Tapi biar pun begitu, perkara ngebut kukira Jason Statham pun akan malu padanya karena pernah bangga dengan peran ngebut di pelem The Transporter. Lekas dan lincah dia setir mobil Kijang Krista, seakan benda beroda empat itu kotak korek api saja di tangannya. Selip sana, potong sini. Dengan sisa waktu 15 menit untuk check-in, seperti tertera di bookingan tiket, dapatlah juga sampai tepat waktu. Itu pun sempat berhenti membeli oleh-oleh Bika Ambon di salah satu usaha Bika Ambon paling mashyur di kota Medan. Bukan main! Mungkin Samy Naceri akan berguru padanya untuk sekuel lain pelem Taxi di tahun depan, atau malah Gérard Pirès sendiri akan mengontraknya, umpama mereka melihat gaya menyetirnya sedemikian :mrgreen:

Dari bandara, pesawat lepas landas sekitar pukul 11. Cuaca di angkasa tadi agak sikit berkabut, biar pun langit terang. Penerbangan jadi terasa sikit lama, apalagi saat hendak landing di Bandara Soetta sekitar pukul satu lewat sedikit. Sudah terbayang-bayang pelem Final Destination di kepalaku, karena pesawat oleng-oleng kian kemari dan angin tadi ada kencang serta kabut menebal di tingkap. Macam luar tingkap bulat itu sedang diasapi saja, sehingga tak nampak apa-apa lagi.

Namun Tuhan masih mengizinkan aku menulis postingan ini. Pesawat pun mendarat mulus. Ambil bagasi, keluar terminal, ambil tiket Damri, lalu meluncurlah ke Bogor. Kukira akan lekas tiba di haribaan istri tercinta di satu sudut kota Bogor. Ternyata ada pula cerita macet menyesak di jalan tol. Oh, rupanya ada tuan-tuan besar sedang berlagak menjadi orang-orang feodal. Meraung-raung sirine dari satpam negara yang diberi bedil itu, yang di jidat helm mereka ada bertulis Prov ada juga bertulis PM, mengusir kendaraan-kendaraan di jalan untuk minggir, seakan cuma tuan-tuan mereka saja yang berhak jadi manusia berkendaraan, yang lain kambing semua.

Akhirnya sampailah di Bogor sekitar pukul empat petang. Dari terminal Damri di Botani Square, dengan satu ransel, satu koper dan satu paket oleh-oleh, kupilihlah sarana transportasi murah-meriah bernama “ojek” untuk mengantar ke rumah istri. Rupanya, sang tukang ojek juga mengeluh dengan banyaknya satpam negara tadi di jalanan. Kubilang saja, “Sudah perangai orang besar di negeri ini, kehadiran mereka itu banyak mudharat daripada manfaat. Kalau mereka sedang lewat, orang kecil itu kerikil semua, Kang.”

Ngobrol-ngobrol begitu, sampailah di kediaman istri. Aku berpisah dengan sang tukang ojek yang lekas akrab itu, mungkin akan ketemu kembali di lain hari.

Buka pintu pagar, buka pintu rumah, seorang perempuan keluar dan berseru bahagia.

Di pintu istriku berdiri. Dan dia tak pernah kulihat lebih cantik berseri dari tadi.

The End.

Iklan

11 thoughts on “Di Bogor Kembali

  1. indah nian ceritanya, bang
    sudut Bogor manakah rupanya, ingat waktu kita ketemu di PB 2010 ? Saya dan bang Amed sehabis acara menginap di rumah kerabat di Bogor, aih lama nian tak menaiki KRL nan padat itu

    dan selamat berbulan madu, bermanis-manis lah kalian :mrgreen:

  2. @ Gentole

    Iya, istri mau lahiran di sini ini 😀

    @ Fendy

    Boleh. Kau di Bogor juga? Dimananya? 😀

    @ Warm

    Di sudut bernama Pasar Anyar :mrgreen:

    Eh, sehabis PB 2010 itu sempat ke Bogor? Wah, itu aku belum ada silaturrahmi dengan kota Bogor 😀

    Berbulan madu? Sudah hamil delapan bulan sih istri. Tapi iya sih… Tiap bulan adalah bulan madu selama setahunan ini… 😳

  3. Sekarang di Jawabarat, waktu dekat mungkin jika rezeki ada, insyaallah akan ke bogor juga aku belum puas nian tentang hikayat para pembuli 😀 jika ada Ym kasih tau lah kepada awak ….

    2010 – 2011 hidupku nomaden Bandung – Bogor – Depok – Tangerang – Tasik 😀
    Tak ada temanku disini, mereka di aceh semua 😦

  4. @ Fendy

    Ha, nanti kalau sudah di Bogor kau kabarkan lah ke aku. Y!M sama macam ID Live Messenger di Gravatar 😀

    Eh, hikayat para pembuli? Ah, agaknya akan berkenang-kenang perkelahian masa kanak-kanak di Aceh ini nanti 😆

    Nikmatilah hidup nomaden itu kalau ada waktu. Hehe. Cemburu juga aku :mrgreen:

  5. @ Zukko

    Ho oh. Harus dinikmati memang detik-detik jelang kelahiran begini 😳

    @ Aulia

    Ha? Masih dihitung sebagai linto dan dara baroe kah kami? 😳

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s