Hari Kelahiran Ibu Dan Sejumput Ingatan Masa Lalu

Hari ini, 13 Maret, adalah hari ulang tahun almarhumah ibuku. Bukan tanggal penting benar bagi segenap makhluk di planet ini. Setiap orang memiliki ibu, dan setiap ibu memiliki tanggal lahir sendiri-sendiri. Namun tentu saja bukan soal tanggal berapa, tapi arti dari hari kelahiran itu sendiri bagi setiap ibu dan bagi setiap anak-anak mereka.

Di ponselku, bahkan sejak pertama aku memiliki ponsel Nokia 3310 yang sudah memasang fitur pengingat ±10 tahun silam, hingga berganti Siemens C-45 dan aneka ragam ponsel lainnya, tanggal kelahiran orang tua adalah salah satu dari pengingat utama yang selalu kupasang. Meski itu cuma bermakna untuk menelepon sekejap dari koordinatku di Banda Aceh ke rumah di Blangpidie sana, sekedar ngobrol beberapa saat dan mengingatkan mereka bahwa aku masih ingat dengan ulang tahun mereka. Terkadang tidak selalu sempat begitu, namun diganti dengan menitipkan hadiah kecil, biasanya patungan bersama tiga adik perempuan. Tergantung kondisi keuangan.

Sekali waktu di ulang tahun ayahku, aku membelikan beliau sebuah alat pendeteksi uang palsu yang tak dijual di kota kecil kami. Saat itu keuanganku sedang cukup baik. Senang rasa hatiku. Namun di tahun depan, di hari ulang tahun ibuku dan aku berada di kampung halaman, dengan uang pas-pasan, aku cuma mampu membelikan beliau mie putih kesukaan beliau saja. Meski rasa tak enak di hatiku, namun rasa itu pupus juga melihat beliau menikmati mie putih tersebut.

Ada satu janji pada diriku yang tak pernah lunas soal kado ulang tahun ini.

Dulu, ada temanku mengajakku kerja di salah satu lembaga internasional dan aku pun menerima tawaran tersebut. Kubilangkan pada temanku, aku tak perlu gaji besar-besar nian, karena pengenku sederhana saja: dengan tambahan penghasikan free lance (selain dari honor di sebuah lembaga palang merah asing), aku bisa membelikan beliau selendang dan bahan pakaian yang bagus di sebuah toko pakaian yang cukup elit di Banda Aceh. Aku pernah melewati toko tersebut, dimana ibu-ibu dan wanita-wanita dewasa keluar-masuk berbelanja. Semacam butik, namun ada bahan kain juga. Melihat harganya saat itu, sebelum petaka Desember 2004 tiba, tak sepadan dengan kantongku yang cuma mahasiswa tukang ketik terjemahan dan penulis artikel kacangan. Aku sangat ingin membelikan belanjaan para wanita itu dengan uangku sendiri, untuk ibuku.

Namun niat seorang anak sering niat belaka. Kekeras-kepalaanku untuk berdamai dengan sikon kala bekerja di bawah para bule Anglo Saxon, menjadi faktor aku keluar dari lembaga asing itu belakangan. Uang yang kuharapkan tak pernah terkumpulkan. Pemujaan kelewat tinggi pada harga diri sendiri, melupakan ingatan pada sebuah janji. Lupa bertahun-tahun. Sampai kemudian ibuku masuk rumah sakit dan beliau meninggal dunia. Apa yang lebih menusuk lagi, ibuku di penghujung hayat masih meninggalkan segenggam gelang emas mungil, dengan menitipkannya pada adik perempuanku. Gelang itu adalah gelang emasku saat masih balita, bertuliskan nama tengahku sendiri. Dibeli beliau dengan gaji sebagai seorang guru, kala harga emas satu manyam cuma beberapa puluh ribu di pertengahan tahun 1980-an. Melihatku membawa calon istri di minggu-minggu terakhir beliau akan berpulang ke haribaan Illahi, beliau sempat teringat pada janji untuk memberikan gelang itu padaku. Gelang untuk anakku nanti.

gelang emas yang dititipkan itu

Keluar juga airmataku, kala menerima gelang itu dari adikku. Aku pernah berjanji pada diri sendiri untuk membelikan beliau kain dan selendang dengan gajiku sendiri, namun teringkari karena sok penting dengan harga diri. Meski beliau memaafkan, kala kemudian aku pulang dan sempat berkisah bahwa aku berhenti kerja karena masalah dengan bule keparat berjiwa kompeni, sukar juga rasanya berdamai dengan kata “maaf” pada diri sendiri. Aku masih muda, masih ingatan kuat membenam di kepala. Beliau sudah tua, sudah beruban rambutnya, dan ingatan sering lupa. Namun dalam soal berjanji, apalagi dengan latar belakang rasa kasih-sayang, memang lah janji seorang ibu tak perlu diuji. Sementara aku enteng melupakan itu semua, beliau tidak. Di saat bersabung nyawa dengan Ajal yang gentayangan di koridor rumah sakit, mungkin dengan sabit tua pembabat kehidupan manusia seperti dalam komik-komik dan legenda, beliau tak lupa pada janjinya. Walau pun itu tak kuharapkan benar. Walau pun janji itu cuma pernah disampaikan pada adik-adikku saja. Kalah si anak dengan si ibu dalam soal berteguh hati pada janji. Beliau meninggal dunia dengan menepati janjinya. Betapa benar ujar-ujar dahulu kala: Kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang masa.

Tentu rasa sesal itu tiada berguna kini. Dan se-menyesal apa pun aku pada perangaiku dulu, cukup puas dan bahagia juga kenang-kenanganku pernah memiliki seorang ibu yang lahir di tanggal yang sama seperti hari ini, sekitar 54 tahun silam. Beliau telah mengajariku, anak laki-laki pertama dan tunggal dalam keluarga, cucu laki-laki tertua dari dua pihak keluarga, untuk belajar bagaimana bertoleransi pada perbedaan, belajar bertanggung-jawab pada diri sendiri, untuk menikmati hidup sepahit apa saja, untuk bersabar hati dan meredam sikap lekas emosiku (yang kata segala nujum internasional dan lokal memang sudah digariskan konstelasi, sebuah alasan pembenarku yang sangat naif sekali), dan untuk selalu ikhlas jika ikhtiar sudah dikerahkan.

Beliau pernah menampakkan foto-foto saat beliau dan ayahku berwisata ke pulau Samosir di Danau Toba. Dalam foto itu, beliau merangkul seorang anak Cina dan ayahku menggendong anak Cina yang lebih kecil. Kedua anak Cina itu dekat dengan mereka berdua. Anak dari kawan ayahku di Medan sana. Mereka bawa serta berjalan-jalan. Seolah kedua anak perempuan Cina itu anak sendiri. Ada foto-foto makan jagung atau berdiri di puncak bukit.

Beliau menampakkan itu setelah beliau melihat aku mengolok-olok anak Cina di kota kecilku, di kala perangaiku masih ikut-ikutan perangai anak-anak sebayaku yang mengira bapak moyang kami adalah pribumi asli negeri ini sejak zaman Adam dan Hawa landing ke planet fana bernama Bumi. Aku “dihukum” dengan perasaan bersalah, bahwa manusia sama belaka. Salah satu sebab kenapa belakangan aku makin tak suka mengganggu anak-anak Cina di kala masih SD, seperti pernah kuceritakan di sana dan di sini.

Soal emosi begitu pula.

Pernah di kala SMA, aku dapat kabar ibuku kena serempet dan si penyerempet itu, seorang tukang becak motor, malah kabur dan meninggalkan beliau jatuh di aspal. Lebih panas hatiku adalah kata para saksi mata, guru-guru wanita yang sama-sama berbelanja sepulang mengajar di sekolah di siang itu, bahwa si penyerempet mengeluarkan ucapan kira-kira: “Dasar wanita! Bawa motor pelan macam ini jalanmu saja!”.

Mendidih darahku. Apalagi menimbang fakta bahwa sepeda motor ibuku jatuh di sisi jalan, bermakna beliau berada pada jalur yang sah dan halal untuk berkendaraan. Astrea Prima tercintaku, yang saat itu dibawa ibuku untuk mengajar ke sekolah, lecet-lecet sudah. Cabut aku dari sekolah pagi-sore di hari itu, sudah lah mendapati kabar ibuku dibawa ke Puskesmas karena diserempet orang; dapat pula flashnews seperti itu. Motor Astrea Prima yang diantarkan ke rumah, kuambil dan segera kupacu ke arah pasar. Beberapa kawan sekampung dan kawan sekolah ikut serta sukarela.

Tempat kejadian perkara tak seberapa jauh dari toko keluarga istriku di masa depan. Tak jauh pula dari toko pamanku. Kuletakkan motor pada sepupu di toko paman, dan menanyai orang sekitar, becak motor mana yang tadi menabrak seorang ibu-ibu. Tak sulit membuka mulut beberapa orang diantara mereka. Mereka tunjuk arah pasar ikan, memberi identifikasi sebuah becak motor dengan rumbai-rumbai merah-putih dan tulisan di bak belakang becak: Cobra.

Aku berjalan kaki masuk pasar, belok ke arah pasar ikan. Tak jauh, tak sampai seratus meter saja jaraknya. Di sana memang kulihat ada becak motor dengan pantat bertuliskan Cobra sedang parkir di perbatasan pasar sayur dan pasar ikan. Becak dengan stiker Stallone berkacamata memegang senapan semi-otomatis. Sebuah pose fenomenal dari film Cobra di tahun 1986.

Aku dekati becak motor itu dan bertanya siapa pemiliknya. Tak lain tak bukan si lelaki yang sedang menaikkan sebelah kaki di setang becak itu lah pemiliknya. Awalnya aku membayangkan si tukang becak motor penyerempet itu sudah berumur sekitar 40-an. Rupanya belum begitu tua. Ada sekitar 30-an saja. Jelas lebih tua dariku yang masih belasan, tapi perkara postur badan sama tinggi.

Lalu kutanya elok-elok, apa tadi dia ada menyerempet ibu-ibu. Dia tergelak-gelak. Tercium olehku bau tuak. Dalam gelaknya dia berkata bahwa “rupanya jadi juga jatuh ibu-ibu lamban itu?”  dan meski dia tak melihat, namun memang sudah diduganya “akan jatuh macam karung beras wanita yang tak becus bawa motor itu.”

Kata-katanya itu bikin aku gelap mata.

Kutarik kaki yang sedang selonjor macam tuan besar di meja kantor. Sekeras yang aku bisa. Sebelah kakiku menginjak tangki becaknya untuk memperkuat tarikan. Tak siap dia terima serangan, apalagi biji pelernya terantuk setang, meraunglah dia jatuh setelah kepalanya ikut membentur tangki, setang dan bagian bawah motor becaknya. Di depan mataku, sudah bukan orang lagi kutengok. Tapi sansak tinju. Kakiku yang bersepatu kupijak-pijakkan pada badannya, pada wajahnya, seakan tubuhnya tanah liat yang waktu bocah kupijak-pijak kala bermain hujan. Kepalanya kuguncang-guncang macam memeriksa isi kelapa, apakah sudah masak untuk dibikin santan ataukah masih muda. Lalu kuciumkan “kelapa berambut” itu ke knalpot becaknya. Bertubi-tubi.

Orang-orang berteriak di dalam pasar. Ibu-ibu menjerit. Seseorang menarikku dari belakang, ada juga yang memukulku. Mengamuklah aku di situ. Kawan-kawan yang ikut di sana selain membantu memukul kawan si tukang becak, juga ada yang melerai. Suasana tambah panas karena si tukang becak mencoba berdiri. Sudah murka juga dia rupanya. Diambilnya batu dilemparnya ke arahku. Kena tulang igaku. Sakit bukan kepalang. Tapi rasa sakit itu seperti bensin menyiram api. Di satu lapak penjual tembakau di dekatku, tertengok olehku ada tongkat panjang. Tongkat itu biasa untuk penggulung tembakau di bagian tengahnya. Kutarik dan kuhantamkan ke badannya. Pasar kian heboh. Seingatku malah ada ibu-ibu yang sedang belanja dekat kami menangis-nangis memintaku berhenti memukulnya. Beberapa orang memegangku, mencoba melerai. Termasuk teman-temanku. Juga pamanku sendiri, yang di gudang tokonya kutitipkan motorku tadi. Rupanya sudah curiga melihat aku bergerombol ke pasar itu, dia mengikuti dari belakang.

Beberapa orang marah, rekan-rekan si tukang becak tentu saja. Namun siang itu massa memang agak berpihak padaku. Apalagi setelah tahu duduk perkara, dari caci-makiku yang keluar, dari penjelasan kawanku, juga beberapa saksi mata yang sempat melihat insiden ibuku kena serempet. Ada yang hendak garang-garang maju memukulku, karena melihat kawan mereka sudah macam kambing kena gebuk, tapi nyaliku belum surut juga. Sebuah pisau kutarik dari lapak sayur dan kukejar dia macam hendak kutikam. Namun ditarik oleh seseorang dan aku meronta-ronta minta lepas dari pegangan orang-orang. Panas melihat pembela si tukang serempet itu menantang. Meski badan si penantang dua kali lipat badanku, tak ada kutakutkan di pasar itu. Sebab itu pasar tempat bermainku sejak kecil, sejak pasar itu masih berupa pasar tradisional dengan bangunan kayu belaka. Aku merasa ditantang di kandang sendiri, mengingat para pihak si tukang becak bukanlah orang pasar Blangpidie, tempat dimana aku tinggal saat kecil, dan bukan juga orang Meudang Ara, kampung dimana rumah nenekku berada dan menjadi tempat keluargaku berumah kembali; kampung yang merupakan penguasa dominan kawasan pasar tersebut.

Kata teman, aku seperti kesurupan di hari itu. Belum pernah seganas itu aku memukul orang sepanjang umurku. Ketika emosi mereda dan kami dibawa ke satu warung, dengan keuchik (lurah) pasar turut serta, untuk mencari akar perkara dan lalu disuruh berdamai di situ juga (atau semua yang terlibat akan dilaporkan ke polisi), iba juga hatiku melihat si penyerempet itu bengkak-bengkak. Masalah dianggap selesai jika mau berdamai, atau konsekuensi akan panjang, terutama bagi mereka yang mencari rezeki di pasar itu. Pun, kesalahan pertama kata hasil keputusan, adalah kesalahan si tukang becak belaka. Dihitung impas, karena ibuku luka dan dia pun sudah kubikin luka. Meski tentu saja aku disalahkan juga karena brutal menurutkan emosi di kepala, mengacau kedamaian pasar milik umat.

Pulang dari sana, barulah aku ke puskesmas, namun rupanya ibuku sudah dibawa pulang. Melihat muka lembam dan wajah lecet-lecet, serta mendengar bahwa aku berkelahi karena tak terima beliau kena serempet, bukannya senang hati beliau. Rasa gagah diriku pulang sebagai jagoan, luntur seketika. Beliau benar tak suka, dan lebih tak suka mendengarku memukuli orang. Alasan bahwa beliau dihina dan diperolokkan, tak masuk akal bagi ibuku. Tak ada guna berkelahi, tak ada guna memukul orang menurutkan emosi hati.

Meski aku berpikir, dari dulu hingga kini, setiap anak mesti akan berpihak padaku jika berada di posisiku dalam kasus begini, namun aku diam tak membantah. Tidak juga ketika ayahku marah mendengar kabar bahwa anak beliau bikin onar di pasar. Seminggu aku tak diberi jajan. Seminggu tak boleh bermotor. Dan seminggu tak boleh keluar malam.

Apa yang paling kuingat bukanlah perkelahian itu sebenarnya. Namun pada wajah susah ibuku. Beliau tak pernah tenang kalau sudah dapat kabar aku berkasus sepanjang masa sekolah. Bagi beliau, percuma berangking tinggi jika perangai seperti orang tak rendah hati. Gemar mencari perkara, mencari bala sampai nyaris hanyut di sungai cuma menurutkan harga diri ditantang berenang di kala sungai sedang banjir. Bagi ibuku, tak ada guna semua itu. Dan kalau beliau sudah berkata-kata demikian, barulah ingat aku ada kata “sabar” dalam kamus bahasa Indonesia.

Hal-hal yang seperti inilah kadang-kadang kukenangkan. Semalam, ketika alarm di ponsel berbunyi, aku bercerita-cerita dengan istriku akan kenang-kenangan masa kecil dengan ibuku. Kenang-kenangan yang kata istriku dijadikan buku saja. Aku terkekeh saja. Meski aku suka dengan buku Pengalaman Masa Kecil-nya Nur St. Iskandar, belum sampai akalku untuk mengira bahwa akan ramai orang suka belaka dengan kisah-kisah personal begini. Kisah-kisah yang bukannya istimewa, sebab setiap orang sangat mungkin mengalaminya, cuma dalam ruang dan waktu yang berbeda-beda. Lagipula, memang ada satu ketika dimana sebuah kisah lebih enak dikisahkan karena tepat dengan momennya. Seperti tulisan ngalor-ngidul begini rupa. Sebuah catatan kenang-kenangan yang mungkin cuma pelarian tatapan mata ke masa silam, ketika sesekali ada terasa bosan pada kekinian.

Apapun, hari ini hari kelahiran ibuku. Dan aku berterimakasih pada Tuhan yang sudah melahirkan beliau dan sudah melahirkanku dari rahimnya bertahun silam. Dan aku berharap, agar kekinian yang sedang kujalani dan masa depan nanti tak akan mengaburkan ingatan pada sosok seorang perempuan yang pernah membuatku rela berlebam-lebam, demi menjunjung kecintaan pada beliau di atas kepala laksana menjunjung pualam bertalam.

Iklan

16 thoughts on “Hari Kelahiran Ibu Dan Sejumput Ingatan Masa Lalu

  1. Kalau abang memberikan kado saat ulang tahun Ibunda, kalau saya membelikan kado untuk Ibu saya saat ada simpanan seperak dua perak.
    Untuk hari spesial bagi Ibu Abang aku ikut mendoakan baginya.
    Semoga diberatkan pahalanya, diringankan dosanya.
    Doa yang sama yang selalu kupanjatkan untuk Ayahandaku tercinta.
    Kini saat Ibunda tiada, sudah ada istri Abang yang akan mengambilalih tanggung jawab sebagai Ibu, bukan menggantikannya.
    Setiap Ibu spesial.
    Membaca tulisan ini merasa seperti hari Ibu, tiap anak pasti punya hari untuk Ibundanya.
    Salam juga buat Istri Abang. 🙂

  2. Kalau saya tidak akan menyalahkan ente, Gan. Tukang becak itu memang perlu diingatkan bahwa, jika ia meremehkan seorang wanita yang lemah, berarti dia juga meremehkan semua orang yang mencintai wanita tersebut.

  3. @ warm

    🙂

    @ Fendy

    Kapan ada rencana pulang ke Aceh? 😀

    @ Citra Taslim

    Di luar kado-kado di hari spesial begitu, tentu ada juga lah kita memberi sekedar hadiah-hadiah kecil. Sesuatu seperti kue yang tidak perlu mahal atau menunggu uang berlimpah. Dan memang hadiah-hadiah kecil begitu itu yang menghibur diri juga 😀

    Ah, terimakasih untuk ucapan doanya. Juga untuk mengingatkan soal alih tanggung-jawab itu. 🙂

    Salam balik kata istri 🙂

    @ Iwan

    Benar, tak peduli ribuan tahun jarak atau waktu.

    @ nandobase

    Itu juga jadi pegangan egoisku dari dulu. Meski, ada benar juga ibuku dan mereka yang tak setuju: bahwa kadang-kadang emosi diri itu seperti api yang disirami bensin oleh nafsu amarah hembusan setan. Ada rasa iba dan sesal juga melihat dan mengingat betapa brutal orang bisa kita pukuli seakan dia bukan manusia lagi, karena menurutkan amarah di dalam hati. Walau aku pun memandang itu semacam naluri, semacam animal instinct dalam diri manusia juga. Binatang pun marah jika anak atau ibunya disakiti.

    Hari itu kalau mengingat bau tuak (kala itu di daerahku masih ada dijual bebas alkohol begitu), jadi termaklumi juga kenapa ugal-ugalan dia. Tapi ya… kukira beri pelajaran sajalah, mungkin cara saja agak kelewatan. Ya, lagi emosi benar memang saat itu 😀

    @ Zukko

    😀

  4. Lesson learned.

    Yang susah Lex, mungkin nanti bersikap ketika anak kamu ada di posisi yang sama ketika ia menarik belati dan menghunjamkannya ke tubuh manusia lain. Dan atas nama hukum, ia harus ada di balik terali demi membela nama orangtuanya. Apa yang akan kamu perbuat?

  5. @ galeshka

    Repot. Haha. Nulis blog saja angin-anginan 😆

    @ bangaip_topdeh

    Itu memang akan menyusahkan juga nanti. Susah karena harus memilih antara dua pilihan: 1. Mendukung, 2. Mengasihani masa depannya.

    Secara prinsip, sampai saat ini aku berkeyakinan bahwa kelak aku akan lebih suka melihat anakku menderita asal demi prinsip yang dijunjungnya. Masuk sel itu bukan perkara, aku pernah merasakan juga meski lebih karena demo dan kejebak dalam truk yang kernetnya bawa ganja. Tujuan setiap orang tua mesti tak jauh dari hasrat melindungi dan menyayangi anaknya, dan kukira setiap anak yang memiliki perasaan sama juga akan memiliki tujuan demikian. Dalam hal begini, tujuan tak harus selalu dengan wujud yang sama. Sementara orang tuaku tak setuju dengan apa yang kulakukan dulu, aku mungkin akan setuju jika rotasi sejarah berulang kembali. Meski aku tahu dan juga tak setuju bahwa nyawa manusia gampang dihilangkan, dan orang gampang ditikam. Aku sendiri sadar bahwa dulu itu, sudah bukan akal sehat untuk membela ibuku lagi, namun nafsu amarah diri sendiri. Ada kisah bahwa Ali bin Abi Thalib sendiri sudah enggan memukul musuh yang meludahinya dalam perang, bukan karena kasihan, tapi karena dia sadar bahwa jika dia memukul musuhnya, itu bukan demi tujuan perang, tapi demi nafsunya sendiri. Mungkin itu saja yang akan kuajarkan pada anakku. Bahwa dalam hidupnya kelak dia akan mendapat konsekuensi, kukira itu proses saja. Sama sepertiku dulu. Aku akan mendukung haknya untuk memperjuangkan prinsipnya, bahkan meski masuk penjara, tapi tidak mendukung haknya untuk menghilangkan nyawa orang, seperti nyaris kulakukan dulu.

    Susah memang. Mungkin beberapa tahun kelak, aku sendiri akan bergeser dari posisi ini, Bang 😕

  6. Oh Bunda! Oh Putra!
    Waktulah yang mematangkan kita.
    BTW, ibuku ulang tahun 15 Maret kemarin. Ultah ke-79.
    Ibunda adalah pelita kita, yang melahirkan dan melindungi kita, senakal apapun kita.

  7. @ jarwadi

    😀

    @ Antyo Rentjoko

    Waktu itu memang seperti timer oven bolu. Cepat atau lama, kita mesti matang juga.

    Wah, ultahnya berdekatan. Masih hidupkah di usia 79? Bahagia sekali, Paman, masih ada ibu di kala usia sudah tak lagi muda 😀

  8. hmm..ternyata dari aceh ya ban, uda sy panggil mas aj d comment sblumnya:D. jd ga enk .
    Saya setuju dan salut dengan prinsip yg abang pegang. setidaknya orang” yg mempunyai prinsip yg demikian mentalitas nya d atas rata”. jd iri euy.

  9. @ Athrun Zala

    Iya, dari Aceh. Tapi sekarang lagi di Bogor.

    Tak apa-apa. Apalah bedanya panggilan. Hehe. Panggilan “Bang” juga bukan cuma milik orang Aceh, tapi juga Medan dan rata-rata orang Sumatra, juga di Betawi. Tidak jadi problem. Di sini aku malah kadang-kadang dipanggil “Kang” :mrgreen:

    Eh, prinsip itu sampai saat ini loh. Manusia itu bisa dinamis dan bisa tidak konsekuen. Ada ujar-ujar lama, entah Thomas Hobbes and Huxley punya, yang bilang: Orang paling konsekuen cuma orang fanatik dan orang mati. Boleh jadi dalam perjalanan hidup ke depan sikap akan berubah 😀

  10. Ping-balik: secuil tentang perempuan « Me, Computer, Web Desain, Internet & Security

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s