Potret Arogansi Aparat Kita Kala Kendaraan Mereka Enak Menerobos Lampu Merah Dan Melanggar Hak Pengguna Jalan

Kemarin mendapatkan sebuah kiriman foto dari seorang kawan di Banda Aceh, tentang sebuah insiden tabrakan di salah satu persimpangan utama kota. Tepatnya di kawasan Jambo Tape, depan Mako Brimob, Banda Aceh.

Insiden tabrakan ini, dikisahkan kawan, bermula dari sebuah truk polisi menerobos lalu-lintas. Menerobos lampu merah kala semua orang sudah berhenti, dan di jalur lain yang sudah menyala lampu hijau, para pengguna kendaraan sudah bergerak. Walhasil, tabrakan tak bisa dihindari. Kemaha-pentingan aparat keamanan di truk tersebut, menumbalkan warga sipil. Masih untung tak mati dilindas. Dan masih bagus ada juga aparat yang mau menolong, serta truk keparat itu tak kabur seperti pernah kulihat beberapa kali.

Jepretan insiden tersebut. Potret basi sebuah arogansi.

Cerita seperti ini bukan cerita istimewa, setidaknya bagiku. Salah satu sebab aku tak suka dengan aparat, adalah arogansi mereka di jalanan.  Meski aku tahu masih ada yang baik dan sopan, dan tak pantas membenci semua, karena bahkan beberapa teman dan sepupuku juga menjadi polisi/tentara dan sikap mereka tak seperti kebanyakan aparat yang pernah kulihat. Setidaknya belum pernah di depan mataku. Entah di belakang pantatku.

Namun soal arogansi aparat di jalanan, memang menyebalkan. Mereka sering enak menerobos lalu-lintas. Dan kalau sudah di truk atau reo, dengan angin rem berbunyi keras-keras dan klakson sekeras TOA terbaru; seolah bagi mereka semua pengguna jalan adalah kambing belaka, yang mesti minggir karena prajurit para dewa sedang buru-buru seperti orang kebelet mau mencret kena diare. Aku pernah melihat, dalam perjalanan ke Aceh Utara sekitar setahun lalu, sepasang suami-istri yang sudah tua terjungkal ke parit, karena truk aparat lewat dengan kecepatan tinggi dan membunyikan klakson keras-keras. Meski orang-orang sudah pada minggir, meski suami-istri itu sudah berada di ujung pinggiran aspal, tetap saja jalur mereka terancam akan diserobot oleh truk yang seakan disetir oleh robot. Bukan oleh manusia yang punya hati dan otak.

Jangan tanya di zaman konflik. Dalam sebuah liputan Alfian Hamzah, berjudul “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan“, sang jurnalis melukiskan sikap arogan para aparat di kendaraan mereka dalam satu halaman tersendiri, dengan kalimat begini :

Dan kalau truk sudah jalan, rasanya tak ada lagi kendaraan di jalan. Setiap kendaraan yang bergerak dari arah berlawanan akan menepi di bahu jalan. Tidak peduli apa jenisnya: truk Fuso, L-300, kereta (istilah orang Aceh untuk sepeda motor), motor (kendaraan roda empat), becak motor, dan lain-lain. Semua menepi. Mempersilahkan truk bergerak dulu.

Truk tentara kita biasanya melaju kecang. Di tikungan, kendaraan yang bergerak dari arah berlawanan, kadang panik dan buru-buru menepi hingga hampir nyungsep.

Seringkali saya geli melihat adegan-adegan itu. “Jangan ditulis mereka takut sama kita,” kata seorang supir berpangkat prajurit kepala memperingatkan, “Mereka itu melihat kepentingan kita lebih besar sehingga pantas didahulukan.”

Tentu di mata sang prajurit, seperti supir berpangkat praka dalam kisah di atas, semua hal itu remeh-temeh belaka. Semua kepanikan warga sipil di jalanan adalah wajar karena “melihat kepentingan yang lebih besar pantas didahulukan”, menurut mereka. Menurut para aparat, tentu saja.

Lalu, untuk apa warga sipil membayar pajak kendaraan, membayar pengurusan BPKB dan segala SIM, jika hak mereka di jalanan dikebiri oleh para aparat yang notabene gajinya diambil dari pajak warga sipil?

Aku pernah ngomel-ngomel begini pada temanku yang menjadi tentara dan polisi. Mereka juga ada yang kesal dengan sikap arogan begini. Setidaknya mereka tahu diri bahwa anggota keluarga mereka juga sipil seperti orang-orang sipil lainnya. Ada yang pernah bilang, terkadang supirnya itu memang yang arogan dan brutal. Pernah ada seorang supir, seorang Brimob, turun dari reonya dan menendang bemper mobil yang dianggapnya lelet berjalan, padahal aspal jalanan masih cukup lebar untuk disalip oleh sang supir yang sangat mendewakan simbol aparat di bahunya itu.

Jika warga sipil menerobos lalu-lintas, ugal-ugalan di jalan, membalapkan kendaraan dan membunyikan klakson seakan semua orang di jalanan adalah ternak belaka, maka orang akan memandang wajar dia ditilang, didenda, dihukum. Bahkan jika ada aparat di jalanan terganggu dengan sikap warga sipil begitu, malah pernah ada yang mengejar dan menghadang si sipil yang ugal-ugalan dan menempelengnya karena sang aparat merasa terganggu. Lalu kalau aparat ugal-ugalan di kendaraan aparat begini, tak apa-apa? Kata temanku kemarin, insiden tabrakan itu selesai begitu saja. Tak ada denda, tak ada hukuman. Truk meluncur kembali, tanpa ada kompensasi apa-apa pada sipil yang kena tabrak.

Tak heran, di negara ini kemerdekaan cuma jargon basi dalam seremoni 17 Agustus-an saja. Kemerdekaan negara ini, bahkan sekedar kemerdekaan menikmati jalanan pun, sepertinya memang cuma milik cukong, birokrat, preman dan aparat.

Update:

Menurut Ando-kun, satu lagi yang perlu dimasukkan dalam empat besar pemilik kemerdekaan, selain cukong, birokrat, preman dan aparat, adalah suporter sepak bola. Dan aku setuju untuk menambahkan suporter sepak bola ke dalam kelompok penjajah jalan yang terdiri dari spesies-spesies belum sempurna akalnya itu.

Iklan

15 thoughts on “Potret Arogansi Aparat Kita Kala Kendaraan Mereka Enak Menerobos Lampu Merah Dan Melanggar Hak Pengguna Jalan

  1. saya termasuk yang sering ngomel2 tentang kondisi ini. tapi lebih ngomel lagi kalo melihat pengguna motor besar dikawal vojriders dengan sirine meraung2 meminta jalan.

    Kalo pengguna jalan yang lain gak ngasih jalan, orang2 kaya dengan motor besar ini jadi beringas dan maen kasar. Coba kalo satu lawan satu… beraninya keroyokan dengan backup aparat keamanan….

  2. Itu juga yang jadi omelan Mas Stein di satu postingan terbarunya. Voorijders itu memang menyebalkan. Sirine meraung-raung, seakan ada bencana besar sekali. Rupanya cuma orang-orang kerdil yang merasa diri mereka besar karena bisa jadi pejabat yang ditanggung uang rakyat, sehingga menganggap pengguna jalan lain kambing semua, sehingga boleh dihalau dari jalanan demi kenyamanan mereka lewat.

    Dulu kan pernah masuk berita soal pengguna jalanan dipukul aparat seperti paspampres cuma karena telat minggir. Betapa brengsek sekali memang. Negara merdeka, tapi aparatnya masih seperti Kenpeitai zaman Jepang.

  3. Ini sebenarnya cerita lama, yang terus berulang – ulang, emang kalau kekerdilan jiwa yah, apa yang bisa kita lakukan ?

  4. Entahlah. Bikin tulisan begini? Memangnya akan dibaca sama mereka? Protes ke kotak surat di situs Polri? Halah. Mending juga rajin dilirik. Aku malah pengen nabur biji paku untuk mereka. Pernah kepikiran begitu. Atau kayak masih kuliah, pakai ketapel, dari bagian paling atas gedung RKU jepret ke arah bak truk aparat. Sama kawan-kawan. Habis itu tiarap di genteng. Sempat mencekam juga itu. Sampai mutar-mutar mereka razia. Habis gimana tak kesal. Kawasan kampus harusnya mereka nggak boleh masuk, apalagi pakai reo. Ini reo malah meraung-raung kayak balapan. Reu Hino lama, yang kalau di kampung sering dipakai agen sapi untuk ngangkut ternak tiap lebaran haji. Mungkin karena sama fungsi bak itu mentalnya juga sama kayak yang diangkut ke pasar daging…

  5. Kalo di Jakarta, penjajah jalanan itu boleh lah ditambah dengan para massa kelompok agama yang mengendarai bawa-bawa bendera besar dan cuma memakai kopiah, sorban, atau apalah itu namanya. Sebagian besar juga mengendarai motor dengan sarung dan sandal jepit. Tanpa helm.

    Kayak yang kalo kecelakaan bakal ngga luka-luka gitu. 😐

  6. Nah, kalau itu masuk ke dalam kelompok preman. Preman bertopeng agama. Mereka itu memang parah. Bangsanya yang teriak-teriak bahwa agamanya damai, tapi merusak kedamaian orang-orang pengguna jalan yang tak salah apa-apa sama mereka.

    Iya, kayak atribut agama yang dipakainya itu jadi jilbab saja. Mas Aji Prasetyo ada menyentil mereka ini dalam bukunya Hidup Itu Indah. Kena benar sentilannya :mrgreen:

  7. kalau aparat yg melanggar ga jadi malasah …
    giliran rakyat yg salah pasti diinjak-diinjak … 😦

  8. yah, di jogja pernah ada seorang mahasiswa yang hampir ditabrak seorang polisi yg bersepeda motor sambil mainan henpon, ketika polisi itu diingatkan, si mahasiswa malah dikeroyok dipukuli rame rame oleh kawanan polisi itu 😦

    untungnya media dan social media sudah bisa dimanfaatkan untuk memblow up peristiwa itu. walaupun tetep masuk rumah sakit juga sih dipukuli aparat 🙂

  9. @ onesetia82

    Nggak jadi masalah bagi mereka. Bagi yang dilanggar dan yang melihat, tetap saja jadi masalah kan, Bro? Sebab ya itu, kalau giliran rakyat yang salah, kena diinjak-injak 😦

    @ jarwadi

    Aku juga dapat cerita soal kejadian di Jogja itu dari Deking. Menyebalkan sekali tahu ada kejadian begitu. Kalau nggak di-blow up, pasti akan lewat begitu saja kejadian begitu. Cuma herannya, seperti orang tak berakal dan tak berhati, berulang-ulang kejadian begitu nggak pernah jadi cerminan. Kayaknya di setiap akademi polisi dan TNI mesti diajarkan cara melihat cermin bukan sekedar untuk bersolek deh 😛

  10. Maaf pikiran saya jadi ke mana-mana. Sebagai orang Jawa saya membayangkan kecongkakan korps tertentu (yang sebagian anggotanya orang Jawa) di sebuah daerah di luar Jawa adalah representasi kecongkakan “Jawa”, “pusat”, dan sejenisnya.
    Barangkali itu sebabnya saya pernah membayangkan kalau jadi orang Aceh akan ikut GAM dan kalau jadi orang Papua saya ikut OPM. 🙂
    Ah hanya lanturan…

  11. Waktu saya SMA pernah ngeliat tentara yang tidak berseragam menempeleng sopir bus gara-gara sang sopir tetap melaju saat si tentara ingin turun dari bus. Hhe… padahal dia juga ngga bayar.

  12. @ Paman Tyo

    Bahwa memang mayoritas serdadu TNI dan Polri adalah orang Jawa atau dominan dari Jawa, memang benar demikian adanya. Dari kelas tamtama, bintara sampai perwira, bukan hal sulit menemukan banyaknya dari mereka yang berasal dari Jawa (baik secara suku bangsa atau domisili). Dan boleh jadi ada tendensi demikian dalam sikap mereka yang dari Jawa.

    Tapi soal kecongkakan para serdadu ini, aku lebih melihatnya sebagai sebuah sikap warisan dari penjajahan di zaman Jepang. Kita sama-sama tahu akar dari serdadu di Indonesia sejak dari BKR, TKR, lalu jadi ABRI dan kini TNI, adalah dari milisi-milisi dan barisan-barisan didikan Jepang seperti Heiho dan PETA, Gakukotai (laskar pelajar), Seinendan (barisan pemuda), Fujinkai (barisan wanita), Putera (Pusat Tenaga Rakyat), Jawa Hokokai, dan Keibodan (barisan pembantu polisi).

    Sejak dari pola baris-berbaris sampai pada pendidikan militer lainnya, tak bisa tidak mewarisi pula sikap khas militer Jepang yang keras, congkak dan arogan; sesuatu yang bisa kita lihat pada pangkal militer mereka di negerinya sana, dimana prajurit, kaum samurai, dan para petempur sejenisnya, adalah orang-orang yang dihormati dan minta dihormati sepanjang sejarah mereka, sejak zaman Oda Nubonaga sampai Restorasi Meiji.

    3,5 tahun dijajah Jepang, sudah cukup untuk membentuk anak-anak bangsa di zamrud khatulistiwa yang ramah dan lemah lembut, menjadi keras dan kasar. Dan sayangnya itu menyesap ke dalam indoktrinasi militer sampai hari ini (tak terkecuali Polri yang dulu merupakan bagian dari ABRI). Tak terkecuali pendidikan di STPDN (nama IPDN dulu) dan berbagai sikap di akademi lain seperti maritim dan penerbangan. Sepak-pukul-aniaya-terjang, sehingga mereka terdoktrin bersikap demikian terus-terusan kala sudah menjadi abdi negara.

    Aku berpandangan demikian -meski dengan ketidaksukaan tersendiri pada berbagai sikap arogan dan sentralistiknya Jawa sebagai pusat pemerintahan- karena melihat dari sisi lain pula: bahwa sikap arogan demikian tak melulu monopoli mereka yang dari Jawa. Ada juga serdadu-serdadu satpam negara ini yang berasal dari Aceh, Medan, Padang, Borneo, Celebes dan Papua.

    Jika Paman perhatikan, malah bahasa Indonesia yang khas serdadu itu, khas menggertak dan mengancam, sebenarnya bukan bahasa Indonesia dari Jawa: tapi dari Sumatra, seperti gertakan aparat: “Mau kau kusekolahkan?!”. Logat Indonesia Sumatra demikian yang justru menonjol, dan ini menunjukkan bahwa yang mayoritas Jawa, meski berpretensi mencerminkan arogansi kelompok (etnis) sebagai penguasa militer di Indonesia, tidak selalu mencerminkan bahwa mereka paling bertanggung-jawab soal kekerasan dan sikap arogan.

    Di kampungku dulu, ada dua orang danru SGI. Satu namanya Sandi, dari Solo, dan satu lagi namanya Wilson, dari Papua. Siapa yang lebih ganas dan lebih fasih untuk sedikit-sedikit bilang, “wis, pateni ae!”? Justru yang dari Papua itu. Sampai dikenal dengan sebutan Wilson Batat Tungang, karena regunya memiliki mobil Kijang kotak warna hitam bertuliskan Batat Tungang (Bandel Nakal, dalam bahasa Aceh), yang gemar menculik dan gemar memukul orang. Sandi, orang Jawa dari Solo itu, malah lebih dekat dengan penduduk dan pernah berantam dengan beberapa serdadu yang mencoba memeras atau arogan di pasar. Tentu aku tak bisa bilang bahwa orang Papua lebih kasar. Ini sebenarnya tergantung juga pada watak per individu, didikan dalam keluarga mereka, dan sejauh mana mereka pakai hati.

    Aku dulu pro-GAM dan sempat bergabung dengan grup-grup kecil di masa SMA dan kuliahan (klandestin), juga karena sempat berpandangan serupa. Tapi jangan khawatir: hari ini, mereka yang berkuasa di Aceh pun, dengan mayoritas pendukung kelompok yang dulu bilang merdeka demi rakyat, juga sudah memiliki sikap yang sama kala menjajah jalanan demi konvoi para mantan elit kombatan dulu. Serdadu Indonesia memiliki saudara dalam soal memakai kendaraan negara di jalanan, Paman. Pulau kita sama-sama dijajah Jepang. Jika di Jawa ada Jenderal Harada, maka di Aceh ada perwira bernama Fujiwara.

    Sekarang, bagaimana mengembalikan mental para satpam berbedil di negara ini agar sadar bahwa mereka hidup di negeri tanpa kelas sosial bernama samurai? 🙂

  13. @ nando

    😐

    Yang semacam itu aku juga pernah lihat di Youtube. Ada yang merekam diam-diam kejadian begitu. Memang sering juga kulihat mereka terlalu kere untuk membayar sekedar ongkos angkutan. Kasihan juga sih yang model begitu itu: menang seragam doang.

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s