Masalah Komentar Berulir Yang Disarangkan Dan Kewajiban Login Fardhu ‘Ain

Menjelang siang tadi, saat membaca-baca beberapa blog kawan-kawan blogger, istri sempat berkomentar bahwa dia suka dengan sistem komentar berulir seperti yang dipakai oleh sejumlah blogger di WordPress. Dan beliau bertanya kenapa aku tak menggunakan fitur itu saja.

Aku jadi menimbang-nimbang jawaban dan segudang alasan.

Jadi begini…

Aku sendiri bukan tak suka benar dengan sistem komentar berulir (atau dalam bahasa bulenya disebut threaded (nested) comments itu), cuma tak merasa nyaman saja menggunakannya. Di satu sisi, ini memang memudahkan orang-orang yang berkomentar di blog ini atau blog lainnya untuk mendapatkan notifikasi bahwa komentar mereka ditanggapi secara langsung, baik oleh penulis/pengelola blog maupun orang lain; terutama sejak adanya fitur notifikasi komentar yang membuat WorPress belakangan seperti menjadi kloningan Facebook. Namun di sisi lain, membalas satu-satu terkadang agak cukup merepotkan juga, apalagi dengan sikonku (dulu) yang fakir bandwith, yang cuma nge-net secara mobile dengan kecepatan GPRS di ponsel (sebelum akhirnya pasang Speedy kembali di kamar). Selain itu, tampilan kolom komentar jadi tak sinkron tampak di mata, dengan kotak-kotak memiring ke satu sisi, mengikuti alur percakapan. 3 tingkat saja batasan balas-berbalas komentar, sudah semak terasa, apalagi kalau sampai 10-an. Tentu saja ini pandangan subjektif belaka. Bagi pengguna WordPress yang memilih mengaktifkan fitur ini, tentu pula ada alasan tersendiri.

Sejauh ini aku merasa cukup nyaman dengan menggunakan cara berkomentar konvensional. Membalas dengan menyisipkan tanda @user-anu di komentarku sendiri. Jika ada 3 orang ingin kutanggapi, maka sekali balas komen menanggapi ketiga-tiganya sekalian. Tidak saja di blog sendiri, namun juga dalam debat kusir diskusi di blog-blog lain.

Satu-satunya cara membalas komentar (sebagai penulis/admin blog) yang lebih kusukai daripada sistem komentar berulir agaknya -sejauh ini- cuma cara Falzart membalas komentar di blognya, dengan mengedit komentar dan menyisipkan komentar balasan; ditambahi sedikit kustomisasi pada komentarnya sendiri untuk membedakan tampilan komentar. Tentu saja cara seperti ini tak menghasilkan notifikasi kepada komentator yang ditanggapi, namun cukup memberi sentuhan personal juga. Cuma kurang praktis.

Sepertinya cara membalas komentar seperti yang selama ini kupakai akan bertahan lama. Di blog ini setidaknya. 😕

Nah, soal komentar-berkomentar ini, ada sedikit masalah dalam sistem komentar di WordPress selama 1-2 hari belakangan…

Setiap yang mengisikan komentar dengan email yang pernah terdaftar di WordPress atau di Gravatar akan dipaksa untuk login sebelum mengirimkan komentar. Dipaksa, dalam artian wajib alias fardhu ‘ain untuk login ke akun WordPress/Gravatar dimana email tersebut pernah terdaftar.

Jika melihat pada sticky-thread di forum, teorinya demikian. Namun pada beberapa kasus di beberapa blog, komentar anonimus dengan email tak terdaftar pun mendapatkan error message serupa, berbunyi: You must be logged in to comment with that email address.

Agaknya Paduka Matt dan para insinyur ceria di WordPress.com sedang menggarap sesuatu yang maha-dahsyat untuk ditanamkan ke para pengguna layanan mereka yang berfungsi sebagai happy unpaid-testers ini: para pengguna yang menjadi kelinci percobaan untuk berbagai fitur yang bisa mereka “jual” untuk keuntungan Paduka Matt and the gank.

I tidak know. Maybe mereka on liburan? 😛

Ada pendapat, seperti dari Kawan Dnial dan Suluh saat membahas ini pagi tadi di Facebook, bahwa ini mungkin berfokus pada keamanan dari para pengguna WordPress, mengingat ada kasus berkeliarannya komentator palesu seperti di blognya Mohamad Wahyudi. Dan agak jelang siang tadi, membaca-baca forum kembali, sepertinya memang demikian motif Paduka Matt, dengan sabda dalam twitternya berbunyi: as of 3 PM today deployed a stop for anon comments using registered emails, v1 but functional.

Namun, penerapannya ini prematur dan kotor. Setidaknya begitu pendapat kami-kami di forum sana. Juga Nando yang tampak kesal di forum dan juga menuliskan postingan soal ini, seperti halnya ChenZhen yang menganggap “gagal” pemutakhiran sistem komentar tersebut. Selain merepotkan dan justru mengebiri kebebasan untuk beranonimus (sepanjang pemilik blog tidak keberatan), menanamkan secara sepihak hal seperti ini menampakkan sisi lain dari elit WordPress (Matt?) yang tampak arogan belakangan.

Sebab… Selama vakum nge-blog dan belakangan aktif kembali, aku melihat ada sesuatu yang berubah pada layanan WordPress. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, ketika ramai yang hijrah dari layanan jahiliyah bernama Blogspot ke WordPress, seakan para pencari kebebasan dari kekangan berhala hijrah ke Yastrib, memimpikan dapat kebebasan indah laksana Piagam Madinah; layanan ini memiliki banyak hal yang membebaskan dan benar-benar untuk nge-blog (sementara lapak di sana lebih dikenal sebagai surga blog gratisan untuk meraup laba iklan, di masa itu). Sistem berkomentarnya ringan dan tidak berbelit, serta enak dilihat. Ramah bandwith serta tidak berat loading-nya. Meski ada pembatasan di sana-sini, namun masih ditoleransi sebatas cuma bertujuan nge-blog untuk menuliskan gagasan dalam benak semata.

Namun, seperti disorot oleh Panos dalam postingannya, sejak menerapkan secara sepihak sejumlah fitur, seperti reblogging yang menuai protes; ada arogansi tersendiri dari sikap seorang Matt terhadap para user di layanannya yang sebenar adalah para penguji-tanpa-bayaran dari sejumlah fitur yang menghasilkan uang baginya. WordPress belakangan seperti lebih bertujuan pada profit belaka. Meski tak salah nian, karena kita pun -para pengguna layanan gratisan ini- faham bahwa tak ada yang gratis benar di muka bumi selain udara, dan mereka butuh uang untuk memberikan layanan gratisan bagi orang sepertiku dan mereka yang lainnya di WordPress.

Cuma saja… ini ada sikit meresahkan juga. Konon sejak masuk Microsoft memigrasikan layanan Windows Live Spaces mereka dengan WordPress, ada kecenderungan profit-oriented ditunjukkan dengan sikap memaksa Paduka Matt and the kawanan. Kecurigaan seperti ini berkembang di komentar-komentar di forum maupun di postingan-postingan blog yang membahas perkara ini.

Apakah benar demikian? Aku cenderung memiliki kecurigaan yang sama. WordPress, bagaimana pun, adalah sebuah bisnis. Sebuah layanan nge-blog yang sudah tumbuh besar sejak diluncurkan di tahun 2005. Dengan ranking ke 18 di Alexa saat ini, mereka akan terlalu buta jika tak melihat itu sebagai peluang bisnis dan memperkaya diri. Cuma cara mereka bermain saja (misalnya, dengan melarang iklan bagi para pengguna gratisan di WordPress.com tapi diam-diam memasang iklan di blog-blog dengan postingan populer) menentukan seberapa picik mereka memperalat para penggunanya.

Kadang-kadang.... Kadang-kadang mereka kidding-kidding... 🙄

Jadi… apakah ada niat pindah?

Belum. Meski memiliki blog cadangan di lapak sebelah, terima nasib sajalah sementara komplen masih berlanjut di forum, sebagai pengguna gratisan di sini. Pengguna yang banyak komplain dan tak tahu bersyukur. Haha.

Update 13:30, 29 Maret 2012 :

Akhirnya, setelah sekian lama komplen mengucur di forum, WordPress.com menerapkan juga gaya otoriter mereka: menutup thread dengan kata-kata yang menunjukkan mereka pura-pura tidak memiliki kepentingan soal uang dan periklanan, serta tidak peduli dengan komplen dan protes atas fitur ini, namun lebih peduli dengan BUG untuk membuat implementasi kebijakan ini sesuai dengan kemauan Matt.

48 thoughts on “Masalah Komentar Berulir Yang Disarangkan Dan Kewajiban Login Fardhu ‘Ain

  1. Untungnya, gravatar tidak membatasi domain yang boleh ditaroh di link hanya yg wordpress saja. Jadi meski saya terpaksa harus tetap login untuk ngomen ini, link yang dipakai masih boleh mengarah ke blog baru di blogspot, hohoho…
    *tapi masih belum sempat pakai profpic deh sementara ini…*

  2. @ Amd

    Memang tidak dibatasi. Tapi tautan di namamu itu masih disetel ke blog lama :mrgreen:

    Tunggu saja apa nanti WordPress akan memaksa semua pengguna gravatar untuk sign-up di WordPress.com atau tidak. Ada juga pengguna gravatar lama yang tidak pernah bikin akun di WordPress.com juga tidak bisa berkomentar dan terpaksa bikin akun baru di WordPress.com.
    Ada kecurigaan ini soal statistik dan pagerank juga 😕

  3. beberapa kali teman saya enggabisa komen, padahal topiknya menurut saya itu agus untuk diskusi,,…

  4. Hhee… komentar saya masih keliatan seperti orang kesal, ya? Padahal saya udah berusaha supaya keliatan kalem lho.. Wkwkwkwkw…..

  5. nah, akhirnya ada juga yg posting soal hal yg beberapa waktu ini membuat bingung

    1. saya baru sadar kalo suka theme yg sampeyan pake ini
    2. saya jg membiasakan diri membalas komen spt halnya sdr. fazart entah sejak kapan, lalu kadang membalas komen macam sampeyan punya kadang2
    3. ya saya terpaksa pake email lawas demi bisa komen pake blog saya, ga tau habis ini kayaknya dipaksa sign up juga deh, piye iki 😐
    4. mungkin selanjutkan komen pake akun twitter aja biar aman deh 😐
    5. inimasih di bogor apa sudah di aceh ? 😀

  6. @Alex:
    Nah, ini yang luput dari pengamatan. Ya sudah Kalo gitu blog yg lama itu saya kasih pengumuman lagi sajalah….

  7. @ Tina Latief

    beberapa kali teman saya enggabisa komen, padahal topiknya menurut saya itu agus untuk diskusi,,…

    Ini yang menyebalkan. Bukan saja di blog kita, tapi juga di blog-blog tetangga. Terkadang aku pakai browser cuma untuk sekedar blogwalking dan tak niat login ke WordPress.com. Apalagi dengan adanya 2 email di gravatar, satu dipakai untuk di sini dan satu lagi untuk keluyuran kasih komentar. Repot benar mesti login segala.

    @ nandobase

    Hhee… komentar saya masih keliatan seperti orang kesal, ya? Padahal saya udah berusaha supaya keliatan kalem lho.. Wkwkwkwkw…..

    Masih nampak juga kesalnya. Apalagi di forum. Haha. WordPress sedang menguntit Facebook 😆

    @ warm

    nah, akhirnya ada juga yg posting soal hal yg beberapa waktu ini membuat bingung

    Sempat kena juga perkara kewajiban fardhu ‘ain ini? :mrgreen:

    1. saya baru sadar kalo suka theme yg sampeyan pake ini
    2. saya jg membiasakan diri membalas komen spt halnya sdr. fazart entah sejak kapan, lalu kadang membalas komen macam sampeyan punya kadang2
    3. ya saya terpaksa pake email lawas demi bisa komen pake blog saya, ga tau habis ini kayaknya dipaksa sign up juga deh, piye iki 😐
    4. mungkin selanjutkan komen pake akun twitter aja biar aman deh 😐
    5. inimasih di bogor apa sudah di aceh ? 😀

    1. Aku pun lama-lama sudah betah dengan tema satu ini. Belum minat gonta-ganti lagi seperti kemarin-kemarin itu :mrgreen:

    2. Memang 2 cara itu paling enak dan tak terlalu bikin semak sidebar dengan avatar kita melulu 😳

    3. Sepertinya memang akan dipaksa, selama email itu pernah digunakan untuk mendaftar WordPress.com dan/atau Gravatar.com 😕

    4. Pakai twitter bisa saja jika di postingan/blog tersebut mengizinkan. Aku sendiri kurang suka, karena menganggap Twitter dan Facebook agak sedikit lebih personal daripada sebuah URL blog sendiri 😕

    5. Masih di Bogor 😀

    @ Amd

    Nah, ini yang luput dari pengamatan. Ya sudah Kalo gitu blog yg lama itu saya kasih pengumuman lagi sajalah….

    Berikanlah pengumuman sana 😎

    Meski aku masih heran, kok bisa kepikir hengkang ke Blogspot ‘gitu :mrgreen:

  8. kita ramai-ramai pondah ke self hosting aja bro …
    biar lebih leluasa bereksperimen … 😀

  9. @ tali

    kita ramai-ramai pondah ke self hosting aja bro …
    biar lebih leluasa bereksperimen … 😀

    😆

    Aku ada kepikiran juga sih beli domain sama space sendiri, ya itu: untuk eksperimen saja. Tapi kalau untuk serius ngeblog kayaknya nggak dulu deh. Blog self-hosted itu manajemennya merepotkan diri juga, dari update wordpress-nya sampai dengan backup database :mrgreen:

    @ onesetia82

    kesel … ribet … pusing … muntah … 😳

    Hehehe…
    sudah berapa bulan? :mrgreen:

    @ Yudha Qirana

    Haduuuuhh… Seribet inikah??? 😦

    Iya. Seribet itu dibikin sama Si Matt. Di forum, sampai saat ini belum ada tanggapan terhadap komplen para pengguna. Merepotkan benar perkara wajib login ini. Dan sialnya, itu cuma karena pengaduan seorang staff Google saja via Twitter.

  10. Asli, ini benar-benar kebijakan yang membuat saya nggak bisa berkutik make komputer sekolah. Biasanya selalu blogwalking tanpa log in soalnya.

  11. sistem yang mesti log in, sedikit, yeah..sedikit jadi ribet. tapi… kalau kata Gus Dur “Gitu aja kok repot ” 🙂

  12. berarti ini dia masalah beberapa hari kemarin banyak sekali yang gagal berkomentar di wordpresdotcom 🙂

  13. @ Ageng

    Kesulitan seperti itu yang nggak diperhitungkan oleh para elit di WordPress agaknya. Belum lagi yang blogwalking dengan menggunakan ponsel seperti aku membalas komentar ini. 😐

    Sepertinya berharap mereka mempertimbangkan ulang kebijakan ini akan susah, mengingat wordpress belakangan cenderung seperti Apple: otoriter.

    @ ihsantaufik

    Boleh gan :mrgreen:

    @ Aulia

    Hehe. Ada-ada saja 😆

  14. @ muhyasir

    Lha iya. Tetap happy blogging. Nggak mungkin pula mogok ngeblog karena perkara ini :mrgreen:

    @ Zukko

    Kalau dilihat sekilas sih memang bukan perkara besar benar ini. Seperti dikatakan dalam postingan di atas, mungkin saja niat awalnya ini baik, seperti keinginan untuk menekan pembajakan gravatar, cuma penerapannya “kasar” dan “kotor”. Ini jadi hal yang membuat WordPress jadi melangkah mundur, mengingat dulu ramai yang hijrah dari Blogger, Multiply atau Livejournal karena melihat WordPress lebih ramah dan mudah dalam hal berkomentar. Implementasi dari kebijakan ini membuat Gravatar yang bermakna “globally recognized avatar” menjadi mandul, sehingga yang memiliki akun gravatar dan tidak memiliki akun WordPress seakan dipaksakan untuk membuat/login ke WordPress juga 😐

    @ jarwadi

    Iya, Mas. Kebijakan ini yang membuat ramai kolom komentar jadi ribet 😐

  15. @ Tengku Muda

    Benar. Secara prinsip bisnis itu ada benarnya. Namun meski ini layanan gratisan, tetap saja ada kewajiban tersendiri bagi wordpress untuk mendengar masukan/komplen dari penggunanya. Dan lagi pula, secara teknis, pengguna wordpress itu tak mutlak gratis loh: kita membayar mereka dengan menjadi unpaid-testers. Segala fitur yang akan mereka jual, banyak diuji-cobakan di wordpress.com terlebih dulu, untuk kemudian dianalisa dan diperbaiki atau diterapkan dalam jualan mereka. Untuk sebab ini, komplen sah-sah saja, meski pada akhirnya konsumen -seperti biasa- tetap akan terpaksa mengikuti kewajiban kompeni: terima atau tinggalkan.

    @ Falzart Plain

    Ya cuma bisa protes, lain mau apa lagi kita, selain pindah blog yang tentu akan lebih merepotkan daripada sekedar soal komentar ini :mrgreen:

  16. hmpf… ternyata wordpress emang berubah setting ya? udah nyadar dari kemarin2 tapi kirain glitch aja. ini saya komen malah pake email yg semi-nonaktif jadinya

    iya jadi apa gunanya gravatar? hiks

  17. Memang berubah. Dan yang menyebalkan itu ya karena mereka menerapkan diam-diam, dan bungkam di forum. Coba saja cek ke forum ini: aku juga ikut-ikutan ngomel dengan grammar-nazi di sana 😕

    Gravatar jadi nggak ada gunanya. Okelah, kalau misalnya diwajibkan login ke Gravatar saja, setidaknya itu bagus untuk mencegah OTK menggunakan email milik orang lain. Namun pada kenyataannya, tidak semua yang punya Gravatar itu punya akun WordPress, meski pun gravatar dan wordpress (katanya) satu akun yang sama. Ini menimbulkan masalah juga. Aku memiliki satu akun gravatar dan satu akun wordpress.com yang memang hakikatnya sama: masalahnya timbul jika aku login ke akun wordpress/gravatar, meski ada 3 email kuletakkan di sana, aku cuma bisa pakai satu saja, yaitu yang primer. Sialnya, ini jadi seperti bug dimana kadang-kadang komen pakai akun email lain mau kadang-kadang tak mau. Login dengan salah satu dari 3 akun email yang bukan email primer, malah tak bisa 😦

  18. Iya, harus. Setidaknya sejauh ini demikian kebijakan “bungkam” dari elit WordPress.com soal perubahan yang satu ini 😀

  19. tambah lagi sekarang komeng sy dianggap sampah lagi sama Aki Ismet …
    ini sudah yg kedua kalinya bro … 😳

  20. Pantasan akhir-akhir ini saya sulit berkomen di teman-teman wordpress,jadi kita harus punya akun WP baru bisa berkomentar.Waduh bikin ribet aja nih WP.

  21. Kalau menurut sabda mereka di sticky thread di forum sana, sesiapa yang emailnya pernah didaftarkan ke gravatar.com atau wordpress.com memang mesti login. Pada teorinya demikian, namun pada kenyataannya tidak segampang itu.

    Memang ribet juga WP ini dalam hal teknis mereka. Sudahlah terlalu dibatasi, mereka juga cukup otoriter. Blogmu saja berapa kali kena suspend sepihak. Aku pernah merasakan juga dulu. Mereka ini licik juga benarnya. Mereka boleh memasang iklan diam-diam di blog-blog yang memiliki klik tinggi, namun tidak bagi oleh si blogger itu sendiri. Matt juga belakangan ini sudah makin arogan, tak sedewasa umurnya yang bertambah. Saat fitur reblogging diperkenalkan sepihak, meski banyak komplen di forum, dia malah menutup thread dan mengucapkan firman keramat: Kalau suka pakai, kalau tak suka silakan pindah ke yang lain.

    Dia sendiri di postingannya pernah mengeluhkan layanan kustomer servis di Amazon dan media online lainnya, namun melihat ke forums dan support mereka sendiri, dia juga tak seperti yang dimintanya pada media online lainnya.

    Kalau tak mikir sudah terlanjur ngeblog di sini, dan memang masih lebih mudah untuk ngeblog di sini (kalau sebatas bikin postingan saja), mungkin sudah balik juga aku ke blogspot. Sebenarnya aku suka blogsome, namun di akhir tahun kemarin ada pengumuman kalau blogsome mau tutup, mungkin kekurangan dana atau apa.

  22. @ onesetia82

    tambah lagi sekarang komeng sy dianggap sampah lagi sama Aki Ismet …
    ini sudah yg kedua kalinya bro …

    Iya. Aku baru tahu malah kalau komenmu ini masuk ke spam 😐

  23. @ Mas Bro

    Hehehe. Silakan. Apalagi sementara ini kau hijrah dulu ke luar wordpress.com :mrgreen:

    BTW, Komentarmu sempat masuk spam loh, padahal tak ada ciri-ciri komentar spam. Ini salah satu yang aneh sejak fitur “must logged in” dikenalkan wordpress. Sejumlah komentar di sejumlah blog, yang merupakan komentar biasa, malah jadi dianggap spam 😦

    @ Megi Tristisan

    Aku juga risih. Dan ramai yang lain juga merasa risih. Keluhan sudah sebelas halaman di forum wordpress soal kebijakan ini. Sudah ada 200-an komplen, termasuk dari sejumlah volunteer wordpress yang sudah ngeblog sejak layanan ini muncul. Tak enak memang rasanya. Apalagi kalau pakai ponsel untuk balas komentar begini. Merepotkan.

    Sampai sekarang tak ada cara selain berkomentar dengan tidak memasukkan email atau memasukkan email gadungan/tak pernah terdaftar di gravatar.com atau wordpress.com 😐

  24. 😆

    Syukurlah kalau sudah bisa. Tapi mesti tetap login ya, Ndop, untuk komen? Sudah ada agak sebulan jarang-jarang berkeliaran aku di WordPress.com, mana tahu sudah kembali ke kebijakan awal :mrgreen:

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s