Nongkrong Di Pasar

Sebagai anak dagang yang besar di kawasan pertokoan pasar, bahkan meski kemudian pindah ke kampung dimana rumah keluarga orang tua berada, yang namanya nongkrong di pasar seperti sudah menjadi tabiat tersendiri. Sesuatu yang sepele dan dulu dilakoni karena memang menjadi kawasan bermain belaka, seperti kubacritkan dalam postingan nan silam; namun di kemudiannya menjadi sebuah kebiasaan tersendiri. Menjadi salah satu tempat kesukaan -selain warung kopi di kawasan terminal- untuk terkadang menghabiskan waktu secara profesional.

Kegiatan nongkrong di pasar itu tak mesti selalu di daerah sendiri. Kemana pun pergi dan dimana pun berada, jika ada waktu dan kesempatan, mesti aku menyempatkan diri agak sekejab-dua kejab membuang usia dengan menempatkan pantat atau telapak kaki di satu sudut pasar, melihat ragam kehidupan yang berlangsung di bawah langit yang sama biru atau terkadang sama mendung. Apakah itu di Pasar Peunayong di kawasan Pecinan dan Pasar Aceh di dekat mesjid Baiturrahman, Banda Aceh, ataukah Pasar Sambu di Medan, tak ada beda. Tetap saja ada ketertarikan tersendiri untuk mendatangi lokasi dimana manusia berjual-beli atau hilir-mudik mengintip peluang rezeki.

Tak terkecuali di Bogor ini.

Di sini, di kota dimana keluarga istri berdiam selama beberapa tahun ini, pasar menjadi sebuah titik koordinat yang sedekat ruko dimana aku tumbuh besar dulu di kota kecilku sana: dekat sekali. Kawasan dimana rumah istriku berada, sebuah kompleks yang cuma berjarak sekitar seratus meter saja dari gerbang demarkasi antara perumahan warga dan sebuah pasar: Pasar Anyar.

Sejak menikah dan hilir-mudik datang ke kota Bogor ini, Pasar Anyar ini menjadi sebuah pemandangan yang sudah terekam biasa di mataku. Saat istri belum mengambil cuti kuliah, biasa aku mengantarkannya ke kampus atau sebatas stasiun kereta api, dengan melewati kawasan pasar tersebut. Terkadang berhenti di satu kios dan menonton opera sabun para manusia yang mengais rezeki di tiap sudut-sudutnya, sambil menghabiskan sebatang-dua batang rokok.

Dan jika ada waktu di pagi hari, jika istri masih lelap tertidur atau sedang sibuk di dapur, terkadang sesekali iseng juga menyelinap keluar. Biasanya sekalian membeli rokok dan mengisapnya di luar rumah, sambil terkadang ngopi di satu warung kopi sudut pasar. Dibilang warung kopi juga tak tepat sebenarnya, namun lebih seperti sebuah lapak dimana cuma ada meja dan bangku panjang, dengan sebuah lemari kecil untuk meletakkan barang dagangan. Di sampingnya kios rokok, dan di depannya terbentang lapak penjual sayuran.

Terakhir aku melakukan kebiasaan ini di hari minggu pagi kemarin. Dan sempat terbawa ponsel untuk menjepret simpang tiga pasar tersebut.

Jepretan di minggu pagi itu, dari satu sudut persimpangan pasar.

Dari lapak kopi dimana aku duduk dan menikmati segelas kopi, kala jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, aku suka menikmati suasana pasar seperti di foto ini. Melihat orang hilir-mudik berbelanja atau sekedar lewat. Melihat orang-orang tanpa seragam mengatur lalu-lintas, dengan ketiadaan polantas. Melihat para kuli memanfaatkan pundak mereka untuk mengangkut barang-barang, atau bagi yang sedikit bermodal dan berakal dengan merakit papan beroda kecil yang membuat mereka seperti anak-anak kecil bermain gerobak buatan sendiri. Bedanya, mereka tak bermain-main, namun cari makan. Cari penghidupan.

Ada sejumlah orang-orang di pasar ini, kini kutahu-kenal. Aku bahkan jadi tahu bahwa “penguasa” di kawasan ini adalah orang Padang yang sudah lama menempati kawasan ini. Mereka ini seumpama preman setempat, meski tentu saja ada orang (berbahasa) Sunda di antara mereka. Kalau sudah turun orang-orang muda ini, pasar yang semrawut dengan kendaraan serupa angkot dan motor berebut  jalan siapa duluan; niscaya lekas tentram dan rapi kembali. Mereka cukup berdiri dan berkata-kata keras mengatur lalu-lintas, sehingga mobil boks yang memaksa masuk jalur pun akan mundur teratur. Sejauh ini aku belum pernah melihat ada kekerasan. Pasar ini cukup damai, cukup aman. Serupa dengan pasar dimana aku dulu bermain dan tumbuh-besar.

Ketika istriku (dan juga saudara-saudara atau pekerja di usaha dagang di kampungku sana pernah) bertanya, kenapa hobi duduk di sana; aku biasanya mencengir saja. Paling menjawab: mungkin karena namaku dan wajahku pasaran. Wajah orang-orang sehari-hari yang mungkin biasa terlihat kala ada reporter melaporkan Satpol PP mengobrak-abrik lapak pedagang kaki lima (seperti pernah dulu kulihat di Pasar Sambu), atau tentang banjir yang meluap dari selokan pasar. Wajah-wajah yang akan berdiri di belakang reporter sambil mengacungkan tanda “V” untuk menunjukkan eksistensinya sebagai insan Tuhan yang pernah tersorot kamera televisi. Wajah-wajah dari orang-orang yang hidup di bawah langit biru, bukan di bawah atap gedung mall dengan hembusan AC dan hiasan lampu.

Pasar adalah bagian kehidupan, bahkan kehidupan mereka/kalian yang paling kaya sekali pun. Jika hendak menengok siapakah yang memutar roda ekonomi republik ini, bukalah mata dan sadarilah: uang-uang lecek harga ratusan ribuan rupiah di tangan bapak-bapak penjual sayur, emak-emak penjual BH pinggir jalan, kuli angkut dan tukang becak, serta para penjual ikan lah yang membuat kita/mereka/kalian masih bisa antri di POM Bensin untuk mengisi tangki kendaraan. Mereka lah yang membuat setiap lembaran kertas keluaran BI, cetakan Perum Peruri, berputar di negeri ini. Bukan plaza, bukan mall. Bukan bursa saham, bukan diskotik dunia malam. Aku sadari benar ini, sebagai anak seorang pedagang yang melihat sendiri, bahkan ketika resesi dan krisis melanda republik ini, para wanita pendugem kehabisan uang di dompet dan diskon besar-besaran di mall tak mampu memancing bapak-bapak lebih lunak untuk mengizinkan nafsu belanja anak-bininya; pasar-pasar tradisional lah yang masih berjaya, masih menunjukkan bahwa rupiah masih ada. Seperti kisah pertarungan antara gulden dan ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) di zaman kemerdekaan: orang-orang di sudut-sudut pasar lah yang menunjukkan republik masih berdiri, bukan mereka para kaum wedana dan bangsawan yang berbangga dengan kancing berlambang W-nya Wilhelmina di baju mereka yang rapi-necis.

Lepaskan sesekali baju kaum bergengsi, dan datangilah pasar agak sesekali. Mencampuri diri dengan ragam bau busuk dan sampah, dan mungkin keramahan mereka yang berkeringat menawarkan barang dengan harapan pengap, bukan keramahan dalam gedung polesan make up. Untuk mensyukuri hidup bahwa kau tidak harus bangun di pagi buta kala mesin pabrik tempe menderu dan orang-orang tak sebaik nasibmu berjibaku untuk hidup di bumi dimana keadilan sering cuma di dalam buku.

Iklan

12 thoughts on “Nongkrong Di Pasar

  1. @ Citra Taslim

    Wah, baguslah itu. Sekalian belanja bumbu dapur? BTW, mana enakan belanja di pasar tradisional atau pasar swalayan menurut Citra? 😀

    @ Iwan

    Yang kulihat dan kudengar begitu, Wan. Mungkin karena cukup dominan mereka di sini. Aku agak mudah dekat karena bisa bahasa Padang agak sedikit :mrgreen:

    Sekarang coba belajar bahasa Sunda pulak. Hehe.

  2. wah dekat dengan Pasar anyar toh, bang 😀
    saya pasti kalo ke Bogor nyari angkot di pertigaan itu kayaknya, abis turun dari stasiun, menuju rumah mertua, naik lyn 12 :mrgreen:

  3. hehe, jangan jangan Alex mau menggeser eksistensi “orang padang” di pasar itu? hehehe

  4. @ Aulia

    saya juga sering jalan2 ke pasar walaupun tidak nongkrong 😀

    Jalan-jalan pun sesekali boleh. Banyak hal bisa dilihat juga 😀

    @ warm

    wah dekat dengan Pasar anyar toh, bang 😀

    Iya, dekat. Tak jauh dari pertigaan ke arah stasiun balapan kereta itu 😎

    saya pasti kalo ke Bogor nyari angkot di pertigaan itu kayaknya, abis turun dari stasiun, menuju rumah mertua, naik lyn 12 :mrgreen:

    Wah! Tak jauh-jauh benar persimpangan nasib kita :mrgreen:

    @ Amd

    ah, bukan jalanan Bogor namanya kalau tak terjepret angkot… *lirik om Warm*

    Iya. Angkot di sini jadi kendaraan utama. Taxi susah di Bogor sini :mrgreen:

    @ jarwadi

    hehe, jangan jangan Alex mau menggeser eksistensi “orang padang” di pasar itu? hehehe

    😆
    Mana bisa. Sendirian aku. Berebut lahan preman begitu mesti ada geng cukup besar dan disegani :mrgreen:

  5. Lebih suka ke pasar Bang, harga bersahabat. 🙂
    Paling senang itu, kalau berhasil nawar. Turun 500-1000 perak pun sudah senang sekali.
    Soalnya sering gagal menawar harga ke penjual Bang.
    Dulu waktu belum terbiasa ke pasar, agak pusing. Lama-lama biasa juga.

  6. @ nandobase

    Leuwiliang? Aku pernah beberapa kali main ke daerah itu, ada markas paguyuban Aceh soalnya. Wah, masih seputaran Bogor juga rupanya. Kapan-kapan ada time, meeting-meeting lah kita sometime :mrgreen:

    @ Citra Taslim

    Nah, benar itu. Memang lebih enak di pasar tradisional. Harga lebih bersahabat dan juga lebih original daripada plastikan ber-barcode di pasar modern 😎

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s