Catatan Di Senin Pagi

Sudah dua mingguan berada di Kota Bogor, dan lama-lama memang sudah terasa biasa di kota ini. Mungkin beberapa tahun lalu, atau kala masih remaja, akan susah lekas beradaptasi dengan lingkungan baru. Tapi mungkin karena pengalaman berkeluyuran di masa kuliah pula maka segala tempat kini lekas biasa, lekas lekat seperti bangku-bangku kereta jadi biasa untuk meletakkan pantat dan menikmati kehidupan yang lebih keras, lebih kumuh, lebih berjibaku dibandingkan kesantaian di kolong langit kota kecilku.

Aku merasa familiar sudah dengan kota ini. Namun beberapa hal yang menjadi biasa, jadi familiar di mata dan telinga justru bukanlah hujan di kota berjuluk Kota Hujan ini. Bukan sama sekali. Berkali-kali bolak-balik kemari, aku malah jarang menjumpai hujan di sini. Mungkin aku tak beruntung atau mungkin membawa aura cuaca anak pesisir Sumatra, aku tak tahu pasti. Hanya saja, imajinasiku soal kota ini yang sudah dibentuk sejak masa Berita Cuaca dinyanyikan Gombloh dan prakiraan cuaca dilaporkan TVRI: binasa sudah kini. Tak ada lagi bayangan Bogor sebagai kota dengan mendung setebal kulit muka politisi Senayan dan sehitam pantat wajan penggorengan. Hujan turun sesekali-dua. Tapi tanpa petir dan gemuruh yang dulu kubayangkan kala kanak-kanak lebih dahsyat dari suara bazoka tentara, lebih meriah dari bombardir Operasi Jaring Merah.

Aku malah lebih terbiasa dengan suara lengking kereta, raungan sirine tanda raja jalanan mau lewat, deru gerbong di atas rel, dan suara mesin pabrik tahu dan pabrik tempe di kawasan pasar yang menjadi alarm pukul 3 pagi: tanda ada manusia siap bertempur demi periuk nasi di pagi nanti.

Namun diam-diam…. Aku merindukan ketenangan di kampungku. Sungai yang masih jernih. Bentangan sawah. Lautan mendebur. Perahu nelayan di dermaga. Parade kelelawar pulang senja ke rimba. Camar pulang petang di cakrawala. Angin sejuk dari bebukitan Barisan. Dan kerik jengkerik di malam kelam…

5 thoughts on “Catatan Di Senin Pagi

  1. berarti kejadianya tidak begitu berbeda antara bogor-jogja, seandainya masih hujan pun semoga bukan hujan yang berlebihan dan berangin🙂

  2. Namun diam-diam…. Aku merindukan ketenangan di kampungku. Sungai yang masih jernih. Bentangan sawah. Lautan mendebur. Perahu nelayan di dermaga. Parade kelelawar pulang senja ke rimba. Camar pulang petang di cakrawala. Angin sejuk dari bebukitan Barisan. Dan kerik jengkerik di malam kelam…

    Ketenangan seperti inilah yang menjadi salah satu alasan yang membuat saya suka berpetualang, menjadi penikmat alam.🙂

  3. @ jarwadi

    Belakangan ini memang cerah dan bagus cuaca. Berbanding terbalik dengan iklim politik jelang kenaikan BBM😀

    @ Chic

    Kapan? Kapan?:mrgreen:

    BTW, komentarnya kok masuk spam ya? Aku baru lihat pagi ini😐

    WordPress.com sejak mengenalkan cara berkomentar baru dengan kewajiban untuk login, belakangan jadi sering komentar yang bukan spam malah dianggap spam😦

    @ farisi

    Di Jakarta jarang ya, Man?😀

    @ Zukko

    Sama. Itu juga yang dulu membuatku suka meninggalkan kampus dan keluyuran ke sudut-sudut negeri:mrgreen:

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s