Yang Dikenang Dan Yang Dilupakan

Aku tak pandai lagi
memasang luku.
Ketika Ibu meninggal
kutulis sajak
tentang derita —
Dunia melupakannya.
Kemudian kutulis cerita
bagaimana ia naik ke sorga.
Dunia terharu —
Tentang duka tak sepatah.

Pedang dan tombak
kini terbalut debu.
Tinggal aku mencatat:
Penyair selamat menyeberang danau
perahunya di pantai tinggal kerangka. . .

. . .

Update 12:12, 29 Maret 2012:

Sebelum menjadi terlalu jauh fitnahan terhadap pemilik blog ini, dan untuk tidak membuat karya Sitor Situmorang jadi tertimpakan dosa-pahala kepada blog tak seberapamana ini, maka hendaklah difahami bahwasanya sajak di sini bukanlah merupakan sajak dari Sutan Datuk Alex Hidayat adanya. Dua penggalan sajak ini tak lain Sitor Situmorang punya barang, dijadikan satu postingan begini untuk merakit semirip fragmen dalam sajak Nocturno-nya Chairil Anwar, dimana kedua penggalan sajak ini bermuasal dari dua sajak berbeda: satu (di atas) dari sajak berjudul “Ibu Pergi Ke Sorga” dan satu lagi (di bawah) dicomot dari dari sajak “Jenderal Dan Petani Purba”, sebagaimana termaktub dalam judul-judul tag di postingan ini.

Awalnya postingan ini dimaksudkan untuk mengajikan pemikiran tentang seorang Sitor Situmorang. Namun mengetik dengan aplikasi WordPress dari sebuah perangkat cap Apel Coak, tak terlalu enak. Selain dari itu, faktor mellow-sendu-dalam-kalbu, rupanya agak mengganggu rasa haru, menemukan penggalan sajak tentang sosok seorang ibu dan kesedihan penyair yang sudah menyeberang ke lain nusa, sehingga postingan putus, dan buntu rasa di benak. Bahkan terlupa pula untuk memberikan sebuah PDF tentang analisa karya-karya Sitor Situmorang, berjudul “Si Anak Hilang in The Poetry of Sitor Situmorang” yang kiranya boleh dicoba baca jika kurang kerjaan. 

Pemutakhiran postingan ini mesti dilakukan, menimbang sepertinya ada ramai sesat, seperti Teungku Moerjanto Ali, yang semalam sudah khilaf mendakwa melalui sms beliau bahwa ini sajak buatanku, bahkan dengan lancang menuduhku seorang petani. Oh tidak. Malu petani di kampungku kalau tahu aku mengaku-aku tak bisa memasang luku, petani macam apa itu?!! 😳

Demikian. Untuk dimaklumkan kepada hadirat sekalian.

Iklan

19 thoughts on “Yang Dikenang Dan Yang Dilupakan

  1. alex masih gak bisa lepas dari chairil. 🙂 sama saya juga kalo nulis sajak-sajak masih kerasa sapardinya. meskipun itu sajak yang sangat personal. diberkatilah para penyair yang udah kasih kita bahasa untuk menuliskan apapun itu yang tidak bisa dituliskan dan dituturkan dalam bahasa yang “biasa”.

  2. Aku sudah disini kawan perjalanan dari barat
    Langkah berat tersedat di kota kembang malam mengepak
    Hanya sedikit lagi kawan, yah sedikit lagi

    Tegal Rotan Sektor sembilan aku disni diantara hawa suasana nikmat surgawi
    sepenggal cerita malam dari setetes kepalsuan cinta.

    Aku akan datang seperti hal nya matahari esok hari …

  3. mantab gan ,jangan lupa mampir ya
    http://
    bmaster23.wordpress.com/2012/03/29/
    istilah-kata-dalam-system-android/

  4. @ Megi Tristisan

    keren

    Memang keren itu sajak-sajak Sitor :mrgreen:

    @ cK

    *berusaha memahami kalimat-kalimat di atas*

    😳

    @ Citra Taslim

    Yang dikenang kadang terlupakan
    Yang terlupakan kadang terkenang
    Begitulah hidup…

    Begitulah. Meski tak selalu benar bahwa “waktu adalah obat terbaik” tapi memang waktu bisa jadi pembuat-lupa-terbaik 😀

    @ Falzart Plain

    Hmmm… dapat feelnya (kecuali untuk kata luku),

    Bisa dirasakan ya?

    Luku itu = bajak yang dipasang di belakang kerbau kalau membajak sawah. Semacam perangkat pertanian tradisional begitu 😀

    tapi gak ngerti maksudnya…

    Sajak memang tak selalu untuk dimengerti. Dia seperti lukisan, tiap kata umpama warna, kita cuma merasakan saja 😀

    @ warm

    sampeyan kenapa kah ?
    *khawatir*
    *hloh*

    😆

    Tak apa-apa. Cuma kemarin merasa sedikit mellow saja, dan terkena sajak begini rupa 😳

    @ supernopha

    huaaa :”(((

    😐

    @ Dewa si Anak Angin

    #berusahamemahami

    #silaken

    @ Iwan

    Hidup kini, tidak cukup selesai disini.

    Amen untuk itu!

    @ Gentole

    alex masih gak bisa lepas dari chairil.

    😆

    Ya, aku sendiri merasa susah lepas dari dia atau penyair angkatan ’45. Mereka punya bahasa lain rasa. Mungkin sebab hampir-hampir serupa ditempa situasi dengan cuaca panas dan angin perang, meski beda: 1 revolusi negara, 1 lagi pemberontakan di Aceh. Mungkin begitu, sehingga rasa-rasa kelewat semangat dan putus-lurus saja bikin kata-kata, pendek dan dipadatkan seperti peluru, yang kosong dibuang jadi selongsong. Aku masih menganggap gaya bahasa/sastra ’45 itu terbaik di semua era sastra di Indonesia, selain angkatan pujangga lama dan pujangga baru serupa Amir Hamzah dan gurindam Melayu purba. Tapi tentu seperti es kelapa muda: ada suka bersirup, ada suka biasa. Subjektif tentunya.

    sama saya juga kalo nulis sajak-sajak masih kerasa sapardinya. meskipun itu sajak yang sangat personal.

    Memang. Sapardi itu mellow dengan bahasa yang halus dan dan menyentuh sisi sendu manusia, sedikit saja dia agak keras bermain kata, seperti dalam sajak,

    Mata pisau itu tak berkejap menatapmu
    kau yang baru saja mengasahnya
    berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
    yang tersedia di atas meja
    sehabis makan malam;
    ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu…

    diberkatilah para penyair yang udah kasih kita bahasa untuk menuliskan apapun itu yang tidak bisa dituliskan dan dituturkan dalam bahasa yang “biasa”.

    Amin! Terpujilah mereka seperti “kritik” Asy-Syu’araa :mrgreen:

    @ Idah Ceris

    setiap baca tulisan disi. .
    akupun hanya bisa manggut-manggut. . .

    :mrgreen:

    @ abanxc

    Aku sudah disini kawan perjalanan dari barat
    Langkah berat tersedat di kota kembang malam mengepak
    Hanya sedikit lagi kawan, yah sedikit lagi

    Tegal Rotan Sektor sembilan aku disni diantara hawa suasana nikmat surgawi
    sepenggal cerita malam dari setetes kepalsuan cinta.

    Aku akan datang seperti hal nya matahari esok hari …

    Wah, mantap! Komen bersajak begini sesekali asyik juga 😎

    @ bmaster23

    Tengkiu, Gan. Oke, nanti akan coba singgah. Tengkiu 😎

    PS: tadi komentarnya sempat masuk spam 😦

  5. aku juga suka angkatan 45; aku gak suka pujangga baru, kecuali amir hamzah, itu pun dia disebut sebagai tokoh peralihan, seorang pembaharu di masanya. secara pribadi juga saya anggap chairil jauh lebih besar dari sapardi sebagai penyair. tapi keduanya memang tidak bisa dibandingkan yang satu mati muda yang satu lagi sudha lebih dari 70 tahun dan menghabiskan waktunya menulis puisi tentang kolam, pisau, bola lampu yang merasa tidak diperhatikan, dll. ada juga beberapa sajak saya yang memang terasa semangat chairilnya; tapi itu mungkin pengaruh brecht dan nietsche juga. ya memang kualitas sajak saya medioker pun alhamdulillah (tapi kan ya katarsis) tapi ada pengaruhnya. 😛

  6. @ Gentole

    Hehehe….

    Memang Amir Hamzah itu ada ciri berbeda dengan angkatan pujangga baru-nya sendiri. Dia termasuk yang memulai kebiasaan membuang kata-kata yang tak perlu untuk memadatkan makna bahasa.

    Soal Chairil dan Sapardi memangtak bisa dibandingkan. Bukan tak mungkin Chairil sendiri kalau sudah tua akan menjadi Sitor Situmorang yang melankolis :mrgreen:

    Kualitas sajak medioker? 😆

    Ada banyak penyair besar yang kualitas sajaknya juga tak selalu topcer 😆

    @ bmaster23

    Silakan.

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s