Catatan Untuk Anak Kami: Tentang Kelahiran, Sebentuk Nama Dan Harapan

Seorang pujangga besar dahulu kala bilang: Apalah arti sebuah nama?

Mungkin dia benar. Berilah nama para Nabi pada anak baru jadi, tapi sudah kita lihat dalam kehidupan kita di sepanjang usia yang belum lagi terlalu tua ini, di negeri ini perampok, bajingan dan tukang peras uang negara ada juga lahir dan besar dengan nama para nabi suci dalam nama mereka.

Tapi dia juga salah: nama anak adalah harapan orang tua. Nama adalah doa.

Maka, ketika seorang bocah lahir: di tanggal 4 bulan ke 4, pada pukul 4 sore kemarin; kami pun sebagai orang tua baru jadi, terniat juga hasrat memberi nama penuh harapan dan doa dalam dirinya. Mungkin zaman dan generasinya nanti akan sesuai apa yang kami impikan, atau mungkin akan melenceng dari apa yang kami harapkan. Tapi setidaknya kami pernah menaruh harapan, kala pecah tangisan pertamanya dalam sebuah klinik tak jauh dari pasar, ketika belum lama berlalu azan ashar.

Kami corat-coret berbagai pilihan nama:

  • Genggam Bara Anarki
  • Gilang Nyala Anarki
  • Bintang Cakrawala
  • Muhammad Alexander Bintang Hidayat
  • Alexander Razakami Bintang Anarki Hidayat

dan beberapa pilihan nama lainnya yang kami coret dan kami simpan untuk dipertimbangkan nanti. Sejauh ini, cuma nama Alexander Razakami Bintang Anarki Hidayat yang sudah menjurus pasti akan kami baptiskan ke dalam kehidupannya.

Apa makna nama ini?

Alexander: pembela manusia, pelindung kemanusiaan. (Nama dari Eropa diturunkan dari bahasa Yunani). Dapat dilihat di sini.

Raza: Harapan (dari kata “raza” dari bahasa Arab/juga Hindustan). Dibahas di blog ini. Selain itu juga merupakan paduan nama tengah dari ayahnya dan nama ibunya.

Kami: dalam bahasa Indonesia dimaknai kami sebagai orang tua, dan dalam bahasa Jepang bermakna “ruh”, atau “kekuatan alam/kekuatan hidup”.

Bintang: benda langit yang berkilauan, memiliki makna sama dalam bahasa Aceh dan bahasa Melayu/Indonesia. Sering melambangkan cita-cita dan keindahan.

Anarki: penolakan untuk taat pada kekuasaan mutlak rakitan manusia. Lebih jauh soal ini bisa dirujuk ke postingan saudara asal Batak tapi berdomisili di Papua.

Hidayat: selain merupakan nama belakang ayahnya, juga menjadi doa agar dia diberi petunjuk, sesuai makna nama ini yang diambil dari bahasa Arab.

Perkaranya memang sebenarnya bukanlah deretan nama itu saja. Tapi apa yang kami harapkan akan meresap ke dalam jiwanya. Nama Muhammad bukanlah tak baik, sehingga kami simpan dari pilihan, namun berharap agar dia benar-benar seperti Rasulullah, adalah berat nian di senjakala zaman begini rupa. Kami sangat tak ingin, jika kelak anak kami tersesatkan kehidupan, nama semulia itu jadi tercela seperti buruk nama Nabi dibikin preman masa kecilku yang gemar sekali membobol kandang ayam warga kampung. Meski tentu saja kami berharap adalah agak sedikit akhlaq mulia dari manusia pilihan tersebut dalam dirinya. Mengambil nama sosok suci dalam agama itu jauh lebih berat daripada meletakkan nama dari kata-kata yang menjadi doa orang tuanya yang cuma orang biasa, orang kebanyakan seperti mereka yang ada di jalan dan lorong-lorong pasar. Orang-orang yang tak mendapat jaminan ke surga, tak juga pasti ke neraka. Kami sadar benar ini, sehingga sering kami merenungkan syair “Al-I’tiraf”-nya Abu Nawas sebagai doa pengakuan kerendahan diri, dengan harapan dan kegelisahan dalam hati:

Yang bermakna kira-kira:

Wahai Tuhanku, aku tidaklah pantas memasuki surga Firdaus-Mu. Tapi aku pun tidak kuat masuk ke dalam api neraka-Mu.
Maka berilah aku ampunan, ampunilah dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar.
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.
Dan umurku ini berkurang setiap hari, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya?
Wahai Tuhanku, Hamba-Mu yang berbuat dosa telah datang kepada-Mu. Mengakui atas segala dosa dan sebenar-benarnya telah memohon kepada-Mu
Maka jika Engkau mengampuni, maka Engkaulah Maha Pengampun. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

Adapun perkara memilih kata Anarki, adalah perlambang harapan bahwa dia tak akan menundukkan diri pada segala aturan rakitan manusia yang sering mempertuhankan aturan dan manusia itu sendiri, seperti keyakinan kami pada lafaz “Laa Ilahaillah”: tiada tuhan selain Tuhan, sehingga dalam kehidupannya nanti dia akan menolak menuhankan siapa pun dan apa pun di atas Tuhan Yang Maha Esa. Kami tidak lah ingin menjadi seperti media dan sesiapa yang salah mendeskripsikan “anarki” dengan kekacauan, dengan kerusuhan. Tapi dengan pembangkangan serupa para Nabi merubuhkan berhala-berhala rakitan manusia, segala materi dunia yang sebenarnya cuma seumpama bekal perjalanan saja, bukan untuk dibawa mati. Bagi kami orang tuanya, ini sejalan dengan keimanan kami pada ajaran agama, seperti kuterangkan dalam info salah satu akun sosial mediaku: I believe in some of the core principles of Islam, including a belief in God, the prophecy of Muhammad and the human soul; and I believe in the possibility that a muslim’s spiritual path might be achieved by refusing to compromise with institutional power in any form, be it judicial, religious, social, corporate or political.

Tapi tentu semua itu cuma harapan, cuma doa kami dalam bisikan. Zaman yang akan dilaluinya akan berbeda dengan kami. Dia bukanlah anak kandung kami secara mutlak: dia adalah anak kandung dari zamannya sendiri; zaman yang melahirkannya dan zaman yang akan membesarkannya. Kami cuma orang tua, seperti orang-orang tua kami juga, yang cuma berdoa, berusaha, berikhtiar untuk menuntunnya dalam kehidupannya nanti, sebelum pada akhirnya bertawakal kepada Tuhan juga akan kehidupannya di masa depan. Apakah dia akan jadi seorang seniman, seorang yang mengasihi kemanusiaan, atau malah seorang tiran: biarlah itu menjadi kodrat dan iradat kehidupannya kelak. Kami tak berniat memaksa. Seperti juga nama: mungkin dalam perkembangan masa remajanya, dalam kegalauannya yang mungkin dengan sombong akan kami katakan “pernah kami lalui” tapi mestilah berbeda dengan generasi zaman kami; dia akan memilih nama terbaik untuk dirinya sendiri, seperti dia akan memilih nasibnya sendiri. Di antara sekian doa dan harapan kami yang mungkin begitu muluk, begitu mengharap masa depan yang sejuk, harapan terbesar kami cuma satu: menjadi apapun dia nanti, dia tak akan menuhankan siapa pun dan apa pun kecuali Allah, Tuhan Yang Maha Satu. Karena dengan demikian dia akan sadar, bahwa dalam congkak kehidupan nanti, ada Maha Suci akan selalu mengawasi: lebih awas dari sinar mentari. Bahkan ketika kami sudah tiada lagi, dalam kehidupan dimana Ajal mengintai sesuka hati.

Pada akhirnya, apapun nama akan dibaptiskan oleh zaman ke jiwa-raganya kelak, seperti nyanyian seorang musisi besar negeri ini, aku pun menyiulkan harapan sama kepadanya: Cepatlah besar matahariku. Menangis yang keras janganlah ragu. Tinjulah congkaknya dunia, buah hatiku. Doa kami di nadimu.

update 6 April, ba’da jumat:

Semalam, pulang dari klinik dan tidur di rumah, bergantian dengan mertua dan adik ipar; selepas tengah malam beristikharah, maka kami putuskan untuk mempersingkat 3 kata saja dari nama bocah baru lahir ini:

Alexander Razakami Hidayat.

Nama ini, selain tidak akan mempersulit dia kelak untuk segala urusan nama di segala biodata, kami rasa sudah mencakupkan segala harapan kami, dengan kata “razakami” di dalam namanya. Harapan seperti doa-doa dari saudara-saudara, sanak-kerabat dan sahabat, seperti Doni Kristian Dachi, Pitoresmi Pujiningsih, dan belasan sahabat yang sudah mengirimkan ucapan selamat dan doa, baik via internet, telpon, maupun sms; agar dia menjadi anak yang merdeka. Tanpa kata Bintang Anarki dalam namanya pun, bagi kami dia akan tetap menjadi “bintang anarki”, bintang harapan yang akan menerangi kesadaran orang-orang di sekelilingnya untuk menolak menghamba pada kefanaan dunia yang cuma sementara. Bintang harapan yang mendapat petunjuk dari Tuhan: untuk bersikap kuat teguh menolak penzaliman pada manusia atas nama kuasa seperti sikap Musa, untuk bersifat kasih menyentuh pada sesama anak manusia seperti sifat Isa. Sehingga dengan petunjuk Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang, dia tak pernah lupa bahwa hidup penuh tipuan, dan sadar diri seperti lantunan kidung Ranggawarsita bahwa: seberuntung apapun orang yang lupa, masih lebih bahagia orang yang waspada.

Maka demikian kami tuliskan doa harapan: Semoga Allah memberkahi ruh harapan kami, kekuatan alam dan kekuatan hidup kami, sebagai pelindung manusia yang senantiasa diberi-Nya petunjuk. Amin Yaa Rabbal Alamin.