Repos Dari Mukabuku

Sejak kelahiran Raza, bukan berarti semangat menulis (baca: ngeblog, -red) luntur atau malah hilang begitu saja. Ada banyak hal melintas-lintas dalam kepala, minta dituliskan. Namun rasa-rasa buntu mau menuliskan apa (atau lebih tepatnya “bagaimana”) semua itu. Apalagi dengan ritual baru sebagai orang tua muda: sedang menikmati saat-saat menimang bocah harapan masa depan, selagi nyawa masih melekat di badan.

Nah, untuk mengisi-isikan waktu luang, semalam isenglah aku melongok ke catatan-catatan lama di Facebook-ku. Terpikir juga untuk memindahkan catatan dari sana ke sini. Setelah menghabiskan waktu agak setengah jam, selesai juga perbuatanku. Namun bersebab si kecil menangis, maka tak jadilah terpublikasikan semua bacritan masa silam itu. Baru sekarang ini sempat kubuatkan tautan-tautan dari segala celoteh di catatan Facebook itu.

Dan inilah hasil dari beberapa catatan lama tersebut, dengan fitur komentar telah ditutup:

Sebenarnya, sebelum catatan-catatan seperti tertera di atas itu, ada juga catatan-catatan lain yang kemudian kuhapus karena alasan tertentu. Salah satunya, karena tak puas dengan apa yang tertuliskan. Ada yang kupermak dan kuubah lagi, baik untuk kemudian diposkan di Facebook atau di blog dahulu kala. Beberapa catatan setelah catatan terakhir di atas itu, setelah tulisan (sajak) “Mereka Tak Tanam Lagi Itu Ganja”, ada ku-repost-kan di blog ini, seperti: Yang Muda Yang Bercinta, Sebuah Jika (Dalam Sebuah Saduran), Kalau Kau Lupakan Aku, dan Sabda Sang Bijak Dan Yang Kelak Terdesak Banyak Berkabar.

Jadi… Apa guna me-repost ulang tulisan-tulisan dari catatan lama begini?

Ah. Facebook itu tak ada abadi. Setidaknya bagiku. Ada kala terasa jenuh dan kututup (walau cuma ditutup temporer) akun di sana. Selain itu, sudah jarang nian kutengok diriku dan rekan-rekan bersuka dengan bikin catatan di sana. Kegiatan di sana sudah sama saja seperti berbagai social media lainnya yang tak jauh dari urusan berbagi status, berbagi tautan, foto dan kelakar dan entah bacritan apa lagi yang sering karam ditelan deru timeline.

Lagipula, kupikir selain sebagai pengisi waktu dan backup dari celoteh masa lalu, ini juga seperti melongok-longok lagi tulisan dahulu, mungkin untuk direnung kembali atau sekedar untuk menertawakan betapa naif diri saat itu membuat catatan demikian. Setidaknya, jika nanti ada kesadaranku untuk pensiun dari segala social media serupa Facebook, aku masih bisa membaca-baca kembali bacritanku di blogku sendiri:mrgreen:

Demikianlah.

4 thoughts on “Repos Dari Mukabuku

  1. Sepertinya saya silap (lupa?) tidak mengucap selamat (walau telat) atas sempurnanya bang Alex menjadi seorang lelaki.
    Karena IMHO, mentok-mentoknya lelaki se-sukses apapun ya saat dia sudah punya keturunan; macem seorang Maharaja yang tinggal menata jalan untuk putra mahkotanya. Semoga jalan itu dilancarkan, bang.

    oke. OOT selesai.
    komentar sesuai topik :
    iya. macem saya pernah bilang, bagi blogger(tm), facebook itu macem tempat masturbasi, instan tapi kenikmatannya tidak lama bertahan. *halah

    as usual, OOT lebi panjang dari komentar fokusnya. /sry

  2. Semangat menulis luntur? Welcome to the club.
    Lebih parah lagi, semangat blogwalking juga lagi turun. Ya sudahlah, ngga usah dipaksakan.🙂

  3. @ hoek
    😆

    Tak tahu mau balas apa lagi aku ini, sudah agak telat begini nge-reply-nya. Tapi ya itu…. memang tak enak benarnya ngeblog di facebook:mrgreen:

    @ CItra

    Iya nih, lagi lucu-lucunya. Tantenya main-main dong kemari 😀

    @ nando

    Wah, dibilang luntur sih belum. Mungkin karena lagi menimang si bocah saja selama 1-2 bulan ini, Bro😳

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s