Menantu Saya Petani

Mukaddimah:

Sebagai seorang blogger, mendapatkan para blogger yang bisa dan rajin menulis, yang memiliki pemikiran menarik, bukan lah hal aneh. Namun di luar ranah blogsfer, dan di luar lingkaran pertemanan dengan sesama mereka yang suka dan rajin menulis, ada juga beberapa kenalan, teman, saudara atau sahabat yang sebenarnya bisa menulis dan memiliki pemikiran sendiri, meski pun pemikiran itu mungkin bukan hal baru. Hanya saja mereka tak memiliki waktu atau mungkin tak memiliki minat untuk menuliskannya dalam bentuk postingan blog. 

Di blog ini, baru sekali pemilik blog memuat tulisan yang bukan merupakan tulisan dari pemilik blog ini sendiri. Dan ini merupakan kali kedua tulisan seorang sahabat (tanpa menyebutkan namanya) dimunculkan di sini. Tulisan yang dikirimkan via email, dan urung dimuat di sebuah harian lokal di Aceh. Tulisan yang sebenarnya sudah agak telat dan tidak berkaitan nian dengan isu terkini di republik ini, di planet ini dan di dalam dimensi kini. Tulisan yang cuma mengungkapkan kegelisahan beliau tentang profesi petani, salah satu profesi purba yang masih ada di kampung halaman kami, dan mulai terkikis dengan gengsi akan profesi yang lebih baik serupa PNS, pegawai swasta, atau kontraktor (yang konon -di daerah kami- seumpama gerombolan pemalas di warkop yang mahir merancang plot anggaran untuk tender) dan profesi yang dianggap lebih mapan lainnya.  Pertanyaan getir akan seberapa bangga kini orang bermenantukan petani, padahal dengan segala lumpur di badan mereka, petani juga tak lebih miskin dari pegawai negeri yang (seperti halnya petani berhutang di KUD) juga hidup dalam hutang-piutang untuk bayar cicilan. Petani juga tak kalah penting dibandingkan menjadi pegawai bank yang mendistribusikan perputaran uang melalui mekanisme perbankan mereka.

Memang ini bukan tulisan yang benar-benar barus sama sekali. Mungkin anda sudah pernah menemukan tulisan semacam ini di mana pun. Namun bagaimanapun, tulisan adalah tulisan, semua (secara subjektif) layak catat, layak dapat tempat. Baik atau pun buruk. 

PS: Soal “menumpang nulis” di sini, silakan kontak pemilik blog jika anda memiliki rekan yang ingin mempublikasikan tulisan mereka dan tidak memiliki minat untuk nge-blog, mungkin akan dipertimbangkan untuk muncul di blog ini. Tidak ada honor tentunya, selain apresiasi yang memang tak bisa dipakai untuk membeli barang-barang luks. Paling mungkin, jika cukup beruntung atau malah cukup naas bertemu dengan pemilik blog, cuma akan ditraktir ngopi-ngopi di warkop.

Silaken dibaca.

MENANTU SAYA PETANI

Mengawali tulisan ini saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk para petani di Indonesia yang ke-39 (Peringatan HUT Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) walaupun saya sedikit yakin mereka tidak tahu tentang ini, tapi setidaknya diskusi beberapa hari ini baik di media cetak maupun media elektronik justru membahas ini secara intens.

Menjadi menarik membahas petani dan pertanian adalah ketika kita tersadar bahwa ada aib didepan mata, sebagai negara agraris kita justru menjadi pengimpor komoditas hasil pertanian seperti halnya kita menjadi negara pengimpor minyak walaupun konon katanya negara ini kaya akan sumber daya migas namun pada akhirnya sumber daya yang menjadi kebanggaan itu habis dan harus didatangkan dari negara lain. Mengutip Peter Drucker, “tidak ada negara miskin yang ada adalah negara salah kelola”. Dalam kasus impor migas bisa jadi apa yang disampaikan Peter Drucker ini ada benarnya, bagaimana mungkin negara yang kaya akan sumberdaya alam berupa migas justru akhirnya menjadi negara pengimpor. Mungkin sejak awal ada yang salah dengan pengelolaan Kontrak Karya berkenaan dengan sumberdaya migas sehingga sumberdaya alam berupa migas itu habis dikuasai asing sementara kita sebagai pemilik justru tidak berdaulat atas kekayaan alam kita sendiri. Seiring waktu berjalan keterbatasan ketersediaan dan kenyataan bahwa sumberdaya alam migas sebagai sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui menjadikannya sebagai bukti nyata ada yang salah dengan pengelolaannya, tentu saja tidak bisa memperbaiki pengelolaannya dan menjadikan negara ini kembali sebagai eksportir atau setidaknya bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri, namun migas adalah hal yang bertolak belakang dengan pertanian. Pertanian berada dalam ranah sumberdaya alam organik dan tentu saja dapat diperbaharui hingga “tongkat kayu dan batu (tak lagi) jadi tanaman” selama kita mau untuk mengelolanya. Oleh karenanya adalah hal yang mencengangkan namun nyata ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa sebagai negara yang agraris dan subur, ternyata adalah pengimpor beras dan beberapa produk pertanian lainnya.

Dahulu kala, diantara beberapa alasan utama kedatangan penjajah ke-Asia terutama Indonesia adalah karena rempah-rempah yang dimilikinya. Atas nama lada, cengkeh dan rempah-rempah lainnya, selama lebih dari 350 tahun Belanda dengan serikat dagangnya VOC mengenalkan peradaban Eropa di Indonesia. Ketika ini mayoritas penduduk Indonesia hidup dari mengelola hasil alam berupa pertania, perkebunan atau perikanan. Lazimnya dapat dikatakan bahwa mata pencaharian selain berdagang adalah bertani,berkebun atau melaut. Seiring akulturasi budaya, perlahan mulai dikenalnya pendidikan formal yaitu sekolah. Banyak dari kalangan bangsawan dan orang berada yang sekolah tidak saja di Indonesia bahkan hingga ke Eropa. Dari sinilah cikal bakal munculnya pergerakan kebangsaan yang moder. Pada fase ini, pertanian, perkebunan dan pengelolaan hasil laut masih menjadi pekerjaan mayoritas penduduk Indonesia selain berdagang. Memasuki awal abad ke-20 bersamaan dengan politik “Etis” (balas budi) yang diterapkan penjajah terhadap negara jajahannya semakin memperbanyak jumlah rakyat Indonesia yang mengenyam pendidikan. Secara perlahan pergeseran terjadi, pertaniang, perkebunan dan pengelolaan hasil laut mulai ditinggal sebagai sebuah profesi ketika itu. Mereka-mereka yang telah mendapatkan pendidikan beralih ke profesi lain yang sesuai dengan latar belakang pendidikan walau terbatas dan tentu saja perkembangannya tidak maju seperti sekarang.

Peralihan dari jaman penjajahan ke jaman kemerdekaan menjadikan pendidikan semakin diutamakan. Bahkan kemudian muncul kebijakan disektor pendidikan yaitu kewajiban belajar 6 tahun pada pemerintahan PELITA III dan kewajiban belajar 9 tahun yang mulai diterapkan pada tahun 1960. Saya tentu saja tidak ingin membenturkan antara pendidikan dan pertanian, namun ini adalah sudut pandang dari aspek ilmu sosial sebagai ilmu yang melihat dinamika masyarakat. Bahwa terdapat perbandingan terbalik antara tingkat pendidikan dengan keinginan masyarakat untuk tetap menjalani profesi tertentu. Seperti sebuah paradoks, ingin terus mempertahankan pertanian sebagai mata pencaharian namun disisi lain ada perkembangan jaman yang harus diikuti. Kecenderungan yang terjadi adalah bahwa setelah berada pada tataran kesadaran intelektualitas, orang kemudian enggan bergelut langsung dengan apa yang menurutnya merupakan bukan pekerjaan yang layak baginya. Bayangkan saja, bagaimana mungkin seorang sarjana pertanian lulusan universitas ternama di kota sana lalu pulang kembali ke kampung halaman setelah menyelesaikan pendidikan dan mengaplikasikan keilmuannya dibidang pendidikan yang telah dipelajarinya. Konon lagi apabila sarjana tadi telah menjadi magister atau bahkan doktor dibidang pertanian. Dia akan fasih sekali bicara hulu dan hilir pertanian, dari mulai harga pupuk hingga pemasaran hasil pertanian, tapi bisa jadi dia akan sangat enggan untuk mem-bau-i lumpur sawah atau sekedar bercengkerama dengan bibit padi yang telah disemai.

Disisi lain ada pandangan masyarakat yang mengkategorikan profesi tertentu yang pantas dan profesi lainnya yang tidak pantas. Menjadi petani, dalam struktur masyarakat kita adalah pekerjaan yang sering digolongkan dalam kelompok yang kedua. Hingga kemudian alasan utama kenapa anak-anak dimasukkan kedalam pendidikan formal adalah agar suatu saat mereka bisa menjalani profesi yang pantas. Bahkan petani sendiri rela menggadaikan atau bahkan menjual sawahnya agar anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan yang layak hingga anak-anaknya tidak harus bekerja seperti mereka. Bahkan dalam masyarakat yang sama, akan sangat terdengar aneh ketika ada mertua yang membanggakan dirinya dan bersuara lantang “Menantu Saya Petani

Ini yang sedari awal saya sebut sebagai sesuatu yang salah kelola. Menjadi petani adalah pilihan terakhir ketika sesorang tidak punya pendidikan yang layak, tidak memiliki modal atau tidak memiliki akses birokrasi yang memadai. Petani tidak mendapat insentif, dan perlindungan yang memadai. Bahkan harga pupuk sering kali tidak terjangkau, hingga kemudian bisa jadi modal yang dikeluarkan diawal masa tanam tidak akan kembali diakhir masa panen. Saya tidak dalam kapasitas pemangku kepentingan yang dapat menentukan kebijakan apa yang harus diambil untuk memperbaiki nasib petani sehingga kita tidak harus mengimpor beras lagi. Saya juga bukan sarjana pertanian yang tahu persis bagaimana caranya agar produksi beras meningkat. Namun sebagai sarjana sosial, saya berharap agar para pemangku kepentingan lebih fokus mencari solusi yang tepat untuk menjawab persoalan ini dan sarjana pertanian tidak lalu ramai-ramai melupakan disiplin ilmunya dan lebih tertarik untuk mengurusi politik. Akhirnya, kita semua tentu berharap kesejahteraan petani semakin meningkat sehingga orang tidak segan meregenerasikan profesi ini kepada penerusnya atau semakin banyak yang beralih ke profesi ini sehingga kita tidak perlu lagi mengimpor beras dan khususnya, Aceh tidak harus bergantung pada komoditas pertanian dari Medan. Semoga.

7 thoughts on “Menantu Saya Petani

  1. Petani ya ? aku juga petani kok:mrgreen: aku tau cara nanam padi, tanam jagung, tanam ubi, tanam kangkung, tanah bayam, tanah pohon mangga, tau juga cara nanam diatas meja ahahahahaha:mrgreen:

  2. Jadi inget ada joke tebak-tebakan lawas, yang kurang lebih begini :

    “kalau dokter jadi petani, guru jadi petani, artis jadi petani, PNS jadi petani, pejabat jadi petani, presiden pun jadi petani. Petani jadi apa?”

    Kalau mau sok-sokan mendalami *halah, itu joke sebenernya maknanya dalem. Patut masuk kedalam daftar joke cerdas, entah yang bikin joke itu sengaja atau tidak, menyampaikan pesan dengan cara yang terbalik (entah istilahnya apa), bahwa sekarang ini – macem tertulis di postingan ini – petani semakin berkurang.

    Kita ini bangsa yang selain munafik, juga pelupa dan sering khilaf. Terlalu dimanja oleh Tuhan yang kasih kita kekayaan SDA yang luar biasa, tapi memang Tuhan maha Adil, dia kasih kita satu kekurangan : minus otak yang layak pakai dan tepat guna. Kita heboh SMK kita bisa bikin mobil, kita ribut anak-anak muda kita bisanya cuma jadi user gadget-gadget terkini, padahal di Jepang anak SMP sudah bisa bikin gadget sendiri. Kita juga merasa bangga dan terharu saat Habibie bisa bikin pesawat, atau yang terbaru : Kita bangga, Pramuka bisa cari duit sendiri dengan buka Mall diatas lahan seluas 19 hektar.

    Kita baru ingat nasi saat perut kita minta diisi. Saya juga yakin, kita tidak peduli itu nasi dari beras import atau hasil panen para petani dari kampung kita. Intinya perut terisi. Titik. Kita baru akan heboh, saat harga beras menanjak naik, itupun tanpa sepersekian-detik kita ingat, bahwa cara berpikir kita, cara kita memandang profesi petani, yang menjadi salah satu dari sekian banyak faktor yang mengurangi populasi petani di Indonesia.
    (halah…macem guyonan ala kafe di luar negeri saja : satu dolar dari anda, akan membunuh penggemar justin bieber di dunia)

    Padahal, teknologi pertanian kita, tanpa perlu harus jadi sarjana, sudah hebat dari sananya. Semisal macem penanggalan Jawa yang sebenarnya didasarkan pada musim bercocok tanam, dan bisa dibilang sudah punya jobdesc dan SOP tersendiri dalam bertani.

    Bahkan, paman saya yang kebetulan juga seorang petani, sempat membuat bingung calon-calon sarjana pertanian yang sedang praktek ditempatnya. Pasalnya paman saya punya kebiasaan bersenandung tembang Jawa sembari memegangi masing-masing tanaman pepaya satu persatu diseluruh lahannya yang seluas 2 hektar. Hasilnya? luar biasa tidak nyambung dan tidak logis. Walaupun sekarang ini katanya sih memang ada hasil penelitian mengenai pengaruh ‘kontak fisik dan batin’ antara manusia dan tumbuhan. Ya wajar, karena tumbuhan sendiri termasuk makhluk hidup.😛

    Weh..malah melenceng ndak keruan. Ya intinya saya jadi bisa ikut peduli (walau cuma nulis ngelantur ndak jelas) dan ikut mendoakan, semoga petani kita lebih diperhatikan, tengkulak-tengkulak yang macem benalu bagi petani diadzab dengan adzab yang pedih dan musnah dari muka bumi, semoga kapal-kapal yang membawa beras import dari luar negeri mogok dan tidak jadi berangkat ke Indonesia. Biarken harga melambung, beras langka, sehingga fokus masyarakat kita bisa sedikit beralih dari gosip artis atau berita korupsi yang tidak akan selesai juga, dan demonya bisa dialihkan dan ditujukan bersama-sama ke departemen pertanian agar pejabat-pejabat itu bisa membuat kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan para petani. Atau, ekstremnya, lebih baik profesi petani di-PNS-kan saja, dan seluruh lahan pertanian di nasionalisasi, diakusisi Pemerintah, sehingga akan banyak masyarakat berbondong-bondong mendaftar jadi petani.🙂

    @Bang Alex
    Bang, ini sekarang anarkdiri nerima tulisan dari orang lain? huh…pinter ya, biar tidak terlalu kelihatan malas update, begitu? biar bisa disebut blogger kaffah yang rajin update, gitu? :-”
    *kabooorrrrr

  3. nice word, hmmmm sedikit referensi lah, saya ada buat tulisan, soal apa jadinya jika semua warga negara indonesia tertarik jadi PNS, tapi belum sempat di reblog, karena lagi malas…………… dan ya boleh lah dikit ambil referensi dari sini, maksud referensi setidaknya ada bahan buat memuntahkan kata kata karena ada bacaan yang merangsang otak untuk menulis ke arah sana, hahaha ngomong apa sih saya…hehe but its ok lah,

    here my page, mari saling berbagi…..http://lunaticmonster.wordpress.com/

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s