Satu Tahun Pernikahan

Hari ini, genaplah sudah setahun usia pernikahan. Rasa-rasa baru kemarin membuat sebuah postingan panjang, sebuah catatan pernikahan di bulan Juni 2011, dan kini setahun berlalu tanpa terasa. Dengan ragam cerita menunjang raga menua usia.

Tentu dalam setahun ini tak semua hari terlewati penuh harum bunga dan manis madu. Seperti juga perjalanan tiap langkah kaki, ada juga kerikil terselip di sandal atau rasa lelah minta henti sejenak. Tapi perjalanan tetap mesti terus saja, karena hidup harus bergerak, dan cinta masih jadi api mengobari dada. Seperti perahu kaleng di masa kanak-kanak, dengan kapas, minyak dan sumbu, sedikit teknologi ala mesin uap-nya James Watt: dia akan berputar di dalam ember permainan para bocah sampai api padam, terbentur atau karam.

Aku tahu benar, juga dia sang istri tercinta, seperti juga segala asmara pernah terasa sejak remaja hingga menikah begini rupa: hidup bukan puisi penuh sanjung dan puji, bukan kisah romantis 24 jam x 7 hari. Kami tak melalui setiap pagi seperti kisah dalam komik atau sajak-sajak mendayu ala Soe Hok Gie: tentang meminum susu, tidur yang lelap dan dia merapikan kerah kemejaku. Aku masih sama seperti kala kesendirian menjadi pilihan juga: masih juga sesekali duduk di teras rumah sendirian, melihat lintasan rel kereta dini hari yang sudah sepi, menghirup segelas kopi dan menghisap berbatang rokok, melamunkan hidup-kehidupan-dan-penghidupan yang tak satu iblis pun tahu pasti. Sebuah hal yang tak berguna lagi kata mereka yang sudah mapan dan merasa dewasa, cuma membuat esok pagi mata nampak merah dan keruh gelisah, kala dibawa berjalan ke pasar-pasar dimana para pelapak emperan bersaing siapa dagangan bermutu tapi harga murah.

Setahun pernikahan, aku dan dia masih juga manusia. Kami cuma menikmati rasa yang ada, sesekali berjalan bergandengan di pagi hari, dengan bocah kini jadi pengawan dalam gendongan, merangak ke langit tinggi yang biru bersih, namun tanpa melupakan bahwa kaki masih memijak tanah di bumi, entah itu di satu sudut kota Bogor atau pinggiran kota Blangpidie.

Dan salah satu bagian terbaik dalam pernikahan berusia muda ini: kehadiran bocah kecil yang lucu ini:

Bagian terbaik… karena, seperti kataku pada istri: kelak jika ada prahara tiba, ada sengketa biar sekelip nyala, hendaklah dia jadi perekat harapan untuk mewujudkan niatan lahir sekali, hidup sekali, menikah sekali, dan mati sekali.

Amen.

Iklan

16 thoughts on “Satu Tahun Pernikahan

  1. Semoga tetap menjadi kluarga sakinah amin (motivasi untuk kami yg masih lajang)

    si bocah mirip kakeknya bos πŸ˜€

  2. Happy Anniversary Bang Alex.. Semoga pernikahannya langgeng sampai maut memisahkan. πŸ™‚

  3. Raza diapain kok bisa tenang dan ga rewel kayak gituh pas di rekam? sudah familiar dengan kamera rupanya. πŸ™‚

    Happy Anniversary Bang….

  4. hendaklah dia jadi perekat harapan untuk mewujudkan niatan lahir sekali, hidup sekali, menikah sekali, dan mati sekali.

    setuju, btw selamat πŸ™‚

  5. Saya turut bahagia buat sobat karena udah mampu melewati usia 1 tahun pernikahannya.Semoga keluarga ini menjadi keluarga yang teladan.AMIN

  6. kelak jika ada prahara tiba, ada sengketa biar sekelip nyala, hendaklah dia jadi perekat harapan untuk mewujudkan niatan lahir sekali, hidup sekali, menikah sekali, dan mati sekali.

    MANTEPP!!! πŸ™‚

  7. sungguh menakjubkan sampai-sampai meringis hati ini betapa senangnya jika itu terdapat kita semua

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s