Setahun Usia Razakami, Bertahun Harapan Kami (Catatan Ulang Tahun Untuk Raza)

Besok, sekitar setengah jam lagi dari saat postingan ini mulai kuketik, adalah hari ulang tahun anakku: Alexander Razakami Hidayat. Anak yang terlahir di tanggal 4 April tahun lalu. Di sebuah klinik bersalin di kota Bogor. Kota yang jauh dari tanah kelahiran ayah dan ibunya.

Waktu, seperti kataku berulang-ulang baik pada diri sendiri atau pada orang yang sedang naas mendengar khotbahku, memang seperti bayang-bayang badan di hari siang. Kita tak pernah peduli benar pada keberadaannya. Paling sesekali melihatnya seperti melihat jarum jam di dinding. Sekedar penanda bahwa kita masih ada, jantung masih berdetak, atau matahari masih panas benderang di atas kepala.

Begitu juga kala menyadari akan kenyataan bahwa besok setahun sudah usia anakku. Rasa baru kemarin petang dia begitu merah kali pertama kugendong di kamar bersalin, diserah-terimakan sekejap oleh seorang suster di klinik bersalin yang terletak di jalan Sawo Jajar di Kota Bogor. Hari pertama aku merasa dikutuki berkah oleh nasib menjadi seorang pria dewasa yang seutuhnya. Memiliki istri dan kemudian memiliki anak pula.

Itu hari dimana aku menertawakan penertawaanku sendiri pada seorang teman bertahun silam. Teman di kampung halaman yang panik menelponku, minta dipinjamkan mobil kalau bisa sekalian kukawankan, untuk membawa istrinya bersalin. Belum ada rumah sakit umum daerah saat itu di daerahku. Cuma ada Puskesmas-puskesmas kecamatan yang sudah seperti Rumah Sakit, dan sejumlah bidan-bidan saja. Kuantarkan mereka ke salah satu Puskesmas di kecamatan sebelah, karena “bidan sedang tak ada di tempat” kata perawat di Puskesmas kecamatanku. Di sana, aku tertawa-tawa kecil melihatnya begitu gugup. Berlagak sudah matang-berpengalaman, padahal beristri pun belum, aku menenangkannya.

Sungguh begitu gugup dia. Sesekali merepet, karena ibu-ibu tak mengizinkannya masuk ke dalam bilik bersalin (di daerah kami kala itu -mungkin juga masih tersisa kini- suami berada dekat istri kala istri sedang melahirkan agak sedikit janggal). Yang membuatku tertawa, adalah lagaknya hilir-mudik seperti orang linglung. Sesekali melihat jam di dinding. Ditambah satu kenyataan: dia sudah lama berhenti merokok. Tapi hari itu, dia lupa pada konsistensinya berhenti mengisap tembakau, dengan tak pikir panjang dia ambil rokokku. Sebatang. Dua batang. Hingga bungkus rokokku dipegangnya. Lalu kembali hilir mudik di koridor puskesmas depan bilik bersalin, macam hansip patroli.

Hingga masam bibirku sendiri. Bangkit berdiri dan permisi padanya untuk sekejap. Hendak beli rokok, kataku. Dia malah dengan tak merasa bersalah, di tengah kegalauan hatinya, memberikan rokokku yang dipegangnya sambil berkata bahwa kalau aku kehabisan rokok, pakai lah rokoknya dulu. Begitu gelisah dia, sampai lupa bahwa dia sudah berhenti merokok, dan rokok yang diserahkannya adalah rokokku sendiri. Aku tertawa saat itu. Dan masih menertawakannya kala berjumpa di kemudian hari. Menertawakan bersama, sampai terpingkal dia kuolok, kutirukan gayanya mondar-mandir bagai komandan hansip memeriksa barisan kehormatan.

Hingga kemudian penertawaan pada kegalauan teman lamaku itu menjadi karma. Aku mengulang kisah yang sama, dengan narasi yang berbeda.

Di klinik tempat aku menunggu Raza, anak pertamaku itu, lahir, aku pun gelisah sendiri. Selama istri hamil beberapa kali bolak-balik memeriksakan kandungan ke klinik tersebut, sudah hafal tempat dimana boleh merokok mana tidak. Sudah kenal dengan bapak-bapak tua, veteran perang yang bertugas jadi sekuriti paruh waktu di gerbang depan klinik. Ke sana lah sebentar-bentar aku hilir-mudik. Merokok. Ngobrol tanpa perhatian penuh, dengan benak teringat istri dan calon anak di dalam sana. Lalu kembali lagi ke dalam. Menajam-najamkan telinga, adakah suara tangis seorang bocah sudah pecah? Sebab kata para suster, cuma istriku saja yang bersalin di hari itu.

Oh bukan main gelisah hati. Hingga, seperti kataku tadi, karma datang menagih dosa di masa silam. Karena sibuk dengan kegalauan hati sendiri, kala sudah kembali ke gerbang depan dimana ada bapak penjaga dan aku kembali merokok, aku mengulang hal yang sama yang dilakukan kawanku dulu. Si Bapak minta api rokok. Lalu dengan percaya diri, aku berkata ambil saja geretan itu untuknya. Si Bapak itu tertawa saja. Belum bilang apa-apa, sampai kemudian rokok disulutnya. Baru lah dia berkata, bahwa itu geretannya yang sedari tadi kubawa hilir-mudik.

Di tengah kegelisahan menanti benih masa depan mewujud jadi insan, aku tertawa. Tawa melepas keresahan. Tawa untuk menertawakan diri sendiri. Allah memang tidak buta dan memiliki cara, waktu dan tempat tersendiri untuk mengembalikan neraca keadilan bagi tiap amal perbuatan.

Dengan malu-malu, aku serahkan kembali geretan itu. Si Bapak, orang Sunda yang sudah kenyang dimakan uban kehidupan itu, tak marah. Dia sangat mengerti, apalagi ini kelahiran anak pertama, katanya.

Lalu kembali lah aku masuk ke dalam. Hingga tak lama berselang, di pukul empat suara tangis memecah petang. Keras sekali tangisnya. Hingga lantang menembus jendela kayu di klinik yang bergaya rumah feodal Belanda itu. Ibu mertuaku yang sedari tadi duduk, dan tak kuasa juga menyembunyikan gelisahnya: berdiri sumringah. Langsung ke depan pintu tengah yang menuju ke ruang bersalin, menanti kabar apa gerangan akan keluar dari balik pintu itu. Aku pun menyusul pula. Hingga kepala seorang suster menyembul dari pintu yang terbuka, dan menyuruh kami masuk. Wajah suster itu jadi terlihat seperti wajah seorang suci bestari olehku, kala dia menghaturkan ucapan selamat sambil tersenyum-senyum, atas kelahiran putra pertama kami.

Di sana, di hari itu, aku melihat istriku terbaring dengan keringat mencucur di kening. Masih juga dia tersenyum meski ada kerut kesakitan masih tersisa di wajahnya. Di sana, di hari itu, seorang anak diserahkan ke tanganku. Seorang manusia dari benihku sendiri, yang dengan izin Tuhan kami keluarkan dari tulang sulbi kami, dengan rasa cinta dan kasih sayang yang melampaui segala rangkai kata.

Di matanya yang berbinar jernih kala sesekali terbuka itu, ada bayanganku memantul. Di sana bayang-bayang kehidupanku menyembul. Berliku jalan kulalui untuk tiba pada hari itu. Hari dimana aku menimangnya: menimang dia yang belum pernah ada ketika kali pertama aku melihat wajah ibunya dengan kasih mesra dua tahun lalu. Dia yang belum pernah ada, kala aku sudah menjadi seorang remaja bandel di SMA yang sudah mencium bau ganja dan ibunya masih seorang murid MIN yang baru tahu beli es krim dan Chiki. Dia yang belum pernah ada, ketika aku dan kakeknya sempat beradu-argumen tanpa ada terpikir diantara kami berdua kelak akan menjadi mertua dan menantu, bertahun silam, pada salah satu siang menjelang bulan ramadhan seperti kututurkan di catatan pernikahan dulu. Dia yang belum pernah ada, kala ibu mertuaku masih mengenalku sebagai remaja bengal yang beberapa kali berkelahi di simpang pasar atau ngebut di jalanan pasar dengan kaki mengangkang di udara, di saat ibunya -istriku itu- masih seorang bocah kanak-kanak.

Tapi hari itu dia ada. Sudah mewujud. Sudah lepas nafas di muka bumi, setelah terlepas dari tali ari-ari yang menjadi pipa oksigennya dalam proses keberadaannya di semesta rahim ibunya.

Ketermanguan pada hidup, putus sejenak itu. Untuk kembali menjadi buhul yang mengikat lamunan di kemudian waktu. Setelah hari berlalu, dan kala menunggui kesembuhan istriku hingga kami boleh pulang dari klinik itu, aku teringat juga pada ayah dan ibuku sendiri. Begitulah kukira mereka dulu, dari gambaran yang dikisahkan orang-orang dekat mereka padaku. Mungkin begitu lah gelisah ayahku sendiri, yang menanti kelahiranku di suatu malam jumat, lebih dari dua dekade silam. Meski terkadang ada selisih paham kami soal cara memandang kehidupan, soal pilihan menjalani kehidupan, namun mengingat kelahiran dan merasakan sendiri kegelisahan seorang orang tua kala menanti anak lahir, adalah sebuah perekat penghormatan pada orang tua sendiri. Dan sejujurnya kuharap anakku pun kelak akan begitu. Meski mungkin akan jauh dariku, karena biasanya anak laki-laki cenderung dekat dengan ibunya, seperti aku dengan almarhumah ibuku, itu tak jadi soal. Setidaknya, dia akan menghargai momen jika kelak dia menjadi seorang bapak untuk kali pertama, dan setidak-tidaknya dia akan lebih memuliakan ibunya 3x lipat. Karena melahirkan adalah dera kesakitan, pergulatan antara hidup dan mati untuk mengeluarkan sebuah kehidupan lain pula. Aku cuma seorang laki-laki, yang mengantarkan benih ke rahim ibunya. Tidak kutentang hadist Nabi yang menganjurkan seorang anak memuliakan ibunya melebihi ayahnya. Aku menyadari kebenaran itu. Seperti ayahku sendiri yang mengakui sekali waktu, bahwa memang wajar aku lebih dekat dengan almarhumah ibuku dulu. Karena memang sepatutnya begitu anak memuliakan seorang ibu.

Dan hari-hari berlalu. Kami membawa balita itu pulang. Dan dia menjadi bagian baru dari kehidupan kami yang baru menikah seumur jagung. Belum terlalu kenyang asam-garam menahkodai bahtera perkawinan di lautan kehidupan. Sebuah pekerjaan berat, seperti kata Nahkoda Terus Mata pada Siti Syarifah dalam Hikayat Musang Berjanggut yang kututurkan dulu.

Di Bogor dan di Aceh, dalam usia belia dia sudah hilir mudik menjalani usia. Di rumah keluarga kami di sini dan keluarga kami di sana, dia menjadi kami yang baru. Kami yang bermakna “ruh” dalam bahasa Jepang, sebagaimana makna kuberikan pada namanya yang sedikit panjang itu. Ruh kehidupan yang dihembuskan Tuhan sebagai titipan, sebagai kemuliaan, sebagai berkah, sebagai harapan dan juga sebagai cobaan. Seperti kata Quran sendiri dalam surah Al-Anfaal ayat ke 8: Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Dengan kehadiran kami yang baru itu, benarlah dia menjadi cobaan. Cobaan untuk melatih diri bersabar menghadapi kerewelan hidup. Cobaan berupa tangisan tengah malam untuk mengingatkan begitu lah dirimu dulu membuat orang tua terbangun di tengah malam buta. Cobaan untuk menanamkan kasih sayang dalam kehidupan. Cobaan untuk menjadi guru. Semua cobaan dan uji yang sekilas mungkin tak perlu kedengarannya, tapi itulah yang dulu membentuk diri dari setiap individu hingga jadi diri mereka masing-masing kini.

Ini pula aneh satu lagi dari memiliki seorang anak: hidup jadi serasa memijak diri untuk lebih terpekur merenungi bumi, mencoba menjadi lebih bijak. Bukan untuk orang lain, paling tidak untuk diri sendiri. Mungkin setiap orang tua ada merasakan kehilangan hal yang sama: kebebasan untuk berbuat dan bersikap sebagaimana ketika belum ada tanggung-jawab berwujud seorang anak yang masih mentah, masih belum kenal mana batu kerikil mana batu api. Bebas kemana-mana, paling cuma bilang pada istri akan kembali hari ini atau jam sekian. Tapi tidak lagi. Ada belenggu keterikatan yang tidak membelenggu secara keji, tapi merantai jiwa seperti rantai menjinakkan elang liar. Kepak sayapnya tidak lagi mencari rezeki untuk dimakan sendiri. Tapi untuk membawa pulang ke sarang, meski perut sendiri belum berisi, cuma demi memastikan ada perpanjangan remah di mulut anaknya. Halus dan sejuk sekali rantaian jiwa begitu rupa. Patut lah kata kasih sayang diberi tambahan kata “ikat” menjadi “ikatan kasih sayang”. Nafsu manusia paling dasar adalah liar, dan menolak segala keterikatan, terhadap nilai-nilai jumud, bahkan mungkin terhadap Tuhan yang mana penolakan itu lebih murtad membangkang daripada penolakan Azazil untuk tunduk kepada Adam. Tapi kasih sayang lah yang menundukkan. Dua sifat utama yang disebut-sebut dalam lafaz Bismillahirrahmanirrahim: Pengasih dan Penyayang.

Begitu lah Alexander Razakami Hidayat, anakku yang masih diberi izin-Nya untuk bertubuh sehat itu, memiliki makna tersendiri dalam kehidupanku. Mengikat batin antara orang tua dan anak. Hingga dari cuma saat duduk dalam KRL Bogor-Jakarta, sampai saat ini terpisah samudra (dengan posisiku sementara ini di Aceh): tak lekang juga aku merindukan anak yang lucu jenaka itu. Jauh jarak tak jadi perkara, ketika satu ikatan sudah mengikat jiwa. Dia lah yang kugendong-gendong setahunan ini menelusuri jalan-jalan pasar, membagi-tahu pada mata bocahnya betapa kehidupan nanti mungkin tak akan seriang gelak kini. Memperlihatkan kayuhan para tukang becak di simpang jalan yang menjadi kuda berkaki dua, beda tipis dengan kereta kencana membawa para raja, dengan raja baru adalah uang dan mata pencaharian.

Ah, sudah lewat pukul 12 malam. Sudah 4 April. Meski harus menunggu sampai pukul empat petang nanti, tapi sudah masuk lah ini hari kelahirannya. Hari ulang tahunnya. Genap setahun usianya di petang nanti. Sudah lincah berceloteh, sudah lincah menapakkan kaki. Sudah bisa pula duduk bak orang dewasa menikmati video lagu kanak-kanak di perangkat portabel begini rupa:

100APPLE_IMG_0026 100APPLE_IMG_0031

Dan aku hendak meneleponnya lagi di pagi atau petang nanti, sambil membayangkan dia berdiri untuk berlagak menerima telpon begini:

Bergaya menerima telepon

“Hallooo…? Halloooo…?”

Selamat ulang tahun, Alexander Razakami Hidayat, anakku. Jika kelak kau membaca ini, jika postingan dan blog (serta pastinya layanan) WordPress ini masih ada, tak peduli aku masih ada atau tidak lagi: semoga kau mencatat satu hal saja dalam hidupmu bahwa aku adalah orang yang sangat mengasihimu sebagai belahan dari jiwaku sendiri. Panjang lah umurmu dan hidup lah diridhai Allah selalu. Hidup untuk menjadi berkah bagi orang lain. Bukan menjadi musibah. Hidup yang peduli pada kesusahan orang lain, adalah kebaikan tersendiri, seperti kata Bapak Shizuka pada anak perempuannya tentang Nobita yang nakal, bodoh, pemalas dan lamban, dalam serial komik Doraemon yang mungkin akan jadi komik jadul di masa depanmu kelak. Engkau tidak harus sempurna menjadi sosok jenius, atletis, atau siswa teladan berprestasi tinggi. Semua itu tiada makna jika hidup mementingkan diri sendiri. Karena, Raza, hidup yang cuma peduli pada dirinya sendiri, bukanlah hidup seorang manusia. Semoga kelak kau benar menjadi seperti makna nama yang kusematkan padamu: Ruh harapan kami yang diberi petunjuk-Nya untuk menolong sesama manusia. Mungkin berat terasa. Aku pernah di posisi yang sama. Berat memang. Kau berbuat untuk melupakan dan dilupakan, seperti membuang sampah yang tak usah kau tengok lagi. Allah Maha Melihat. Kau tak butuh persaksian siapa-siapa untuk menjadi penghibur bagi mereka yang lelah jiwanya, mereka yang sedih hatinya. Maafkan diriku atas harapan demikian rupa. Tapi aku percaya: Allah akan membimbingmu sepanjang usia. Jika kau tersesat, Allah tidak buta. Jika kau menutup telinga, Allah tidak tuli. Jika kau enggan atau tak bisa bicara atas ketidakadilan di depan mata, Allah tidak lah bisu. Dan jika kau menutup hati, mungkin lelah dan menyerah untuk peduli, Allah maha kuasa untuk membukakan kembali.

Amin. Amin. Ya Rabbal Alamin.

Iklan

7 thoughts on “Setahun Usia Razakami, Bertahun Harapan Kami (Catatan Ulang Tahun Untuk Raza)

  1. Amin..
    Selamat ulang tahun dik raza. 🙂
    semoga menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Dan diberkahi segala kemudahan agar lebih peka terhadap sesama, berguna begi bangsa dan agama.

  2. subhanallah, indahnya cinta kasih orangtua untuk anaknya.
    selamat ulang tahun dek raza.
    semoga harapan orangtua yang dilekatkan padamu hari ini dalam doa mereka di ijaba Allah. Amin

  3. kelak, saat Raza sudah bisa baca dan menyerap makna tulisan ini, pasti dia akan bangga punya ayah seperti Bang Alex. 🙂

    Selamat hari lahir Raza, Semoga Allah selalu meridhoi dan memberkahi langkahmu , Amiyn.

  4. Kalau sudah begini. ku rasa bukan hanya Tuhan, Asbak pun bisa terbahak melihat mataku berkaca, bang.

    Yaa… Selamat ulang tahun Raza 🙂
    Cukuplah namamu menjadi doa. Dan cukuplah Tuhan yang tau..

  5. baru kubaca yang ini,yang paling menarik nantinya mungkin ketika dia sudah bisa membaca dan bisa mencerna tulisan ini…:D

    yang pertama dia pasti bangga,yang kedua cukup bangga,yang ketiga sangat bangga..:D

  6. Lama ngga mampir ke blog anarkis ini. Mumpung lagi Ramadhan, semoga silaturrahim kita semakin kuat. Selamat ulang tahun pertama untuk si Raja Kecil. 🙂

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s