Catatan Untuk Mizah

Aku mengenalnya belum cukup lama. Malah tak sampai separuh usiaku sendiri.

Samar-samar sejauh yang kuingat, mungkin kali pertama aku melihatnya cumalah seorang gadis kecil yang rumahnya tak jauh dari rumah pamanku, di satu bagian kawasan pasar kota kecilku. Bertahun silam. Saat aku masih remaja tanggung. Aku bahkan lebih familiar dengan wajah kedua orang tuanya daripada dirinya sendiri. Terutama karena beberapa kali datang ke usaha dagang ayahnya untuk berurusan jual-beli, sebagai utusan -tepatnya atase kegudangan- dari usaha dagang ayahku sendiri, di tahun 1990-an.

Ketika aku beranjak dewasa, aku tak pernah melihatnya tumbuh sebagai seorang gadis remaja. Kami tak pernah bertemu bertahun-tahun. Bahkan lebih dari itu, kami tak kenal-mengenal. Dia cuma menjadi satu kepingan dari sebuah keluarga yang cuma kukenal orang-orang tuanya saja. Menjadi satu dari beribu gadis remaja di planet ini, seperti diriku sendiri yang cuma menjadi satu dari sekian pria remaja di masanya sendiri. Kami terasing. Tumbuh besar di dua pulau besar republik ini. Dia di Jawa dan aku di Sumatra.

Seperti lazim kehidupan remaja, mengenal segala cinta monyet-cinta kera, aku pun pernah menjalin hubungan dengan beberapa gadis remaja yang sebaya atau setahun-dua lebih muda dariku. Dari masa SMP hingga masa kuliah. Pernah merasakan cinta begitu menggebu, sehingga jika diimajinasikan, seolah aku lah pangeran dengan sebatang mawar tergigit di bibir, dan sang wanita adalah Putih Salju yang harus dicium agar bangun dari tidur lelap akibat apel beracun sang penyihi; atau Rapunzel yang tersekap dalam menara tinggi yang harus diselamatkan dari penjara yang tak kenal cinta. Lalu semua akan berakhir dengan siluet sepasang insan di atas kuda putih menuju cakrawala kebahagiaan, dan di langit memancar senyuman pendongeng tentang akhir yang begitu hangat di dada. Impian (mungkin hampir) setiap anak manusia. Kisah cinta seindah bayangan sorga. Begitu menawan. Begitu manis.

Dan dia, saat itu belum hadir. Belum ada, bahkan terlintas dalam benakku tentang dirinya pun tidak.

Hingga sekitar tiga tahun silam, aku melihatnya kembali. Melihatnya sepenuh-penuhnya, di kali pertama aku datang ke rumahnya yang dulu, tepat di samping rumah pamanku. Jarak kami masih berkisah sekitar dua puluh meter, dia tegak di pintu rumahnya, dan aku mendekat setelah memarkir sepeda motor. Bau parfum tercium lembut. Aku tak begitu kenal banyak merek parfum, tapi hidungku menyukai harum yang halus tersebut.  Tak terlawan mata melihat gadis tersebut. Melihat busana dengan rok panjang dan baju lengan panjang yang dominan berwarna gelap. Dan, tentu saja, melihat wajahnya yang dihiasi lesung pipi yang menawan. Cahaya lampu, kutahu bisa begitu menipu. Seperti rembulan yang dipuja di malam, meski bukan apa-apa jika bukan karena pancaran cahaya matahari menerpa. Aku sering dengan kawan-kawan ngopi di tempat sejenis kafe-kafe di masa remaja dan masa kuliah, cukup tahu mana perempuan cantik karena lampu malam atau karena cantik sedari dulu. Apalagi di Banda Aceh dimana kafe bagai cendawan di musim hujan. Melihat wanita-wanita hilir mudik adalah hal biasa. Sebiasa tertawa karena melihat rekan tertipu setelah mencoba merayu. Sebiasa lelucon “malam Rani, siang Mpok Nori” yang dulu jadi olokan lucu.

Tapi tidak baginya malam itu. Dia bukan saja tampak cantik. Tapi juga manis. Bahkan jika pun di bawah lampu petromaks, aku bisa memastikan hal itu. Memastikan bahwa wajah itu bukan wajah yang membosankan penuh polesan. Tidak ada make-up ber-celepong di wajahnya. Begitu sederhana dan biasa saja. Namun begitu menarik diri. Aku melihat wajah yang kurekam seumur hidupku. Hingga hari ini. Wajah yang mendegupkan perasaan aneh. Hangat tapi juga menggelisahkan, dan kucoba tentramkan dengan menipu diri berkonsentrasi pada rokok di jemari. Seperti gairah hendak menantang bahaya yang menggetarkan, tapi juga membujuk. Ada rasa hati melompat-lompat, antara takut dan riang, hal yang sudah bertahun tak pernah kualami, sejak terakhir kali di masa awal SMP aku melompat dari jembatan irigasi yang tinggi ke sungai yang mengalir membelah kabupaten kami.

Dia pun nampak kikuk. Agak canggung mempersilakan aku masuk ke rumahnya yang untuk sementara itu didiami oleh keluarga pamannya, selama keluarganya hijrah ke pulau Jawa.

Dan di sana lah, dekat televisi yang membacrit sendiri, kami duduk, tak jauh dari abang dan bibinya yang berada di dapur. Apel pertama dan terakhir dalam hubungan kami. Karena, di malam itu, nasib kami dituangkan dalam cangkir-cangkir hidup kami yang belum penuh: Dia menjadi istriku di tahun kemudian, tak lama setelah aku mengenalkannya pada almarhumah ibuku di rumah.

Aku tak tahu benar soal firasat, meski kadang-kadang aku bisa mengklaim bahwa aku merasakan firasat tertentu. Tapi aku tahu benar bahwa almarhumah ibuku sering memiliki naluri yang cukup tajam. Ketika aku membawanya ke rumah, ibuku nampak sumringah di tengah sakitnya. Aku melihat wajah beliau seperti memberi isyarat, yang kelak baru kutahu, bahwa tak lama sesudah mereka bertemu, ibuku menitipkan gelang emas masa balitaku dulu, pada adik perempuanku. Dengan pesan: berikan padaku kelak, dan aku harus memberikannya pada dia yang kubawa ke rumah untuk disematkan pada anak yang belum lahir. Boleh jadi itu cuma keyakinan beliau saja, tapi aku tahu benar karakter ibuku: beliau tak mudah untuk percaya pada apa-apa yang belum pasti, jika tanpa alasan tersendiri. Saat itu, bahkan hubungan kami baru seumur jagung. Belum ada planning pasti untuk melangkah lebih dari sekedar gejolak hati, untuk datang bertekuk lutut di hadapan tuanku nan gadang datuk kadi.

Namun demikian lah, seperti “firasat” ibuku sendiri, nasib kami tertuliskan.

Aku masih mengingat hari-hari itu. Apalagi di hari ini. Hari dimana perempuan yang kucintai itu dilahirkan bertahun silam. Hari kelahirannya. Hari ulang tahun seorang perempuan bernama Mizah.

Ketika alarm berbunyi lima menit sebelum tanggal 14 Mei berganti menjadi 15 Mei, aku melamunkan semua itu kembali. Sementara dua lagu -sebagaimana lazim perangai romantisme (yang mungkin semu) dari anak manusia- mengiringi lamunan dan juga ketikan ini: lagu Harmony-nya Padi dari album Tak Hanya Diam yang dirilis tahun 2007, dan lagu Ikrar-nya Iwan Fals, dari album Belum Ada Judul yang dirilis tahun 1992.

Keduanya bukan lagu-lagu yang amat istimewa. Sebagaimana banyak lagu diciptakan dan musik digubah di planet ini, lagu-lagu itu sesekali bisa terlupa. Liriknya pun mungkin kelak akan bikin diri pikun untuk mengingat. Tapi dalam dua lagu ini lah ada kenang-kenangan dimana telinga kami pernah sama mendengar, dan musik pernah dimainkan.

Kisah kasih kami pun bukan lah istimewa. Seperti kata Rendra dalam Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya:

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Namun setidak-istimewa apa pun, seperti orang bersajak dalam karya Rendra tersebut, begitu juga lah aku hendak mengenangkan tentang dirinya: seorang wanita yang sudah bersedia mengawani diri menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu dari seorang anak laki-laki. Seorang wanita dari masa silam, masa belum kenal cinta-rupiah-idealisme-segala dogma-dan-bualan-dongeng-dunia, dan hidup menjadi bagian diriku di masa ini.

Usia adalah kaisar kehidupan. Semua mesti tunduk di depan kuasanya yang tanpa ampun mencabut segala kemudaan. Dia, istriku, hari ini menjadi beranjak lebih tua dari hari kemarin, dan terlebih lagi dari hari-hari tiga tahun lalu. Sepertiku. Seperti orang tuaku. Sepertimu. Seperti istrimu. Seperti orang tuamu. Seperti mereka yang kini sudah bongkok dikepruk kehidupan, sudah keriput diukir oleh zaman. Meski hari demi hari, manusia selalu mencoba menipu diri, membangun mimpi dan kehidupan lebih tinggi dari menara Rapunzel dalam kisah dongeng Disney, atau lebih tinggi dari layang-layang paling perkasa, dan lupa bahwa benangnya semakin aus, dan sekali waktu akan putus.

Istriku, kelak tidak akan secantik-muda hari ini dan dulu. Aku sudah menekankan ini pada diriku sendiri, sejak kali pertama melihat senyumannya menghiasi bola mata, indah berlesung pipi. Suatu hari -jika kami hidup cukup lama untuk menua- dia akan keriput juga. Tapi aku -hingga kini- tidak melihat alasan untuk melupakan bahwa aku pernah begitu bersyukur karena dia ada, dilahirkan dan bertaut-kehidupan dengan kehidupanku, untuk kemudian mudah mencampakkan apa yang sudah kodrat dihisap oleh usia, oleh zaman yang terus berlalu. Baik itu dirinya secara fisik, atau kenang-kenangan yang bermusim kami lalui, bahkan meski ada 1001 alasan bertopeng sunnah Nabi untuk terus mencari bunga-bunga kehidupan yang lebih segar, dan melupakan yang sudah layu.

Sebab ada yang tidak akan bisa tergantikan dari kehidupan kami yang masih menolak menjadi koma, masih berjalan menuju titik penghabisan: masa-masa yang tak seorang pun kuasa untuk menghapuskan. Masa-masa dimana -jika usia cukup lama- bisa kukatakan pada anak-anak kami, bahwa “ibumu begitu menawan dulu, hingga kau masih bisa melihat ukiran masa lalu terpahat rupawan di kerutnya. Kami menua, tapi kenang-kenangan kami akan selalu lebih muda dan abadi. Di hati. Di hati…”

Dan kukira itu cukuplah menjadi alasan untuk mengatakan pada diriku sendiri ke sekian kali: hari kelahiran seorang istri adalah hari kelahiran anugerah terindah yang pernah diri miliki. Anugerah yang -bak laguan Stay The Same-nya Joey McIntyre– “nothing about her I would change…“. Karena aku mengasihinya seperti dulu, dan masih seperti dulu. Bukan karena dia bisa dan harus seperti yang kumau, tapi karena dia menjadi dirinya sendiri, menjadi kurang-lebih bagi satu sama lain.

Selamat ulang tahun istriku: Mizah