2 Tahun Usia Razakami: 2 Tahun Makna Seorang Bocah Harapan Renungan Diri

Hari ini, di hari Jumat bertanggal 4 April, adalah hari dimana aku sudah dua tahun menjadi seorang ayah dari seorang putra.

Alexandar Razakami Hidayat, putra harapan kami, hari ini genap sudah berusia 2 tahun. Dua tahun… Bukan waktu yang sebentar, sejak postingan kelahirannya kutulis dua tahun lalu, dan postingan ulang tahunnya pertamanya kubikin setahun silam. Namun, melihat dia sudah tumbuh besar seperti poret-potret di bawah ini, rasanya cepat sekali waktu berlalu…

139640761391413964076347541396087897980 1396087890312

Serasa cepat benar dari bayi dia tumbuh menjadi balita. Baru di bulan Februari tahun lalu dia masih belum bisa berjalan, belum bisa dilepas untuk bermain pasir dan merasakan air laut, sehingga harus kupapah dan kutuntun, di bulan Februari kemarin dia pulang kembali ke Aceh, sudah lincah bermain pasir dan berlarian di pesisir…

Februari 2013

Kali pertama memberitahu-kenal akan rasa pasir dan buih ombak air lautan, di bulan Februari 2013

Di bulan Februari lalu, tak sampai setahun dari saat potret di atas diambil, ketika dia pulang kembali kemari; dia sudah lepas berjalan dan bermain pasir begini:

IMG_20140205_175159IMG_20140205_175229IMG_20140205_175228

Begitu cepat dia rasanya tumbuh besar. Badan sehat, dengan jiwa dan sikap yang sehat (setidaknya kami mencoba mendidiknya sebaik yang kami bisa untuk sesuai sifat dan sikapnya dengan nama yang kami sematkan, dengan jiwa yang kami harapkan).

Sejujurnya, aku bahkan terkadang merasa “ketakutan” bahwa dia akan begitu lekas tumbuh besar. Ada rasa cemas sebagai seorang orang tua, bahwa dia tak akan selamanya menjadi anak-anak, menjadi bocah lucu begitu. Kegelisahan yang mungkin juga dirasakan oleh ayahku dulu. Atau juga mungkin olehmu yang sedang membaca ini. Bahkan agaknya juga dirasakan oleh tokoh fiktif bernama Gru dalam film Despicable Me, kala dia mengecup kening Agnes, anak angkatnya, dan berkata “Never get older” begini:

Tapi sunatullah adalah sunatullah. Dia akan tumbuh besar dan (jika Allah memberinya usia yang panjang, yang semoga berisikan banyak kebaikan daripada keburukan, banyak manfaat daripada mudharat) akan dewasa satu hari kelak. Tak tahu apakah aku dan bundanya masih ada di sisinya atau tidak. Rasa kasih seorang tua mungkin tak akan lekang digerus zaman. Tapi sepertinya tak akan sama lagi perlakuan seperti kala dia masih bayi seperti setahunan lalu, atau jadi kanak-kanak seperti saat ini.

Aku memang tidak memanjakannya berlebihan. Aku mengajarkannya bahkan “keras” kalau menurut pandangan orang-orang -terutama kaum ibu- di kampungku. Jika dia jatuh kala berlari, aku dan bundanya tak tergopoh berlari kepadanya dengan penuh kecemasan. Kami akan menyuruhnya bangun, mendorongnya untuk tidak menangisi jatuhnya, jika ada sedikit lecet kami akan menunjukkan itu untuk diusapnya sendiri, lalu mengalihkan perhatiannya agar tak terus kaget dan memikirkan “kemalangannya”. Kami juga tak mendidiknya untuk terbiasa menyalahkan “yang lain” jika dia terjatuh atau terantuk. Aku sejak dulu tak suka melihat anak-anak, terutama di kampungku, di sekitarku, ibu-bapaknya atau kerabatnya, saat dia terjatuh lalu mengajarkan secara tak langsung untuk menyalahkan yang lain. Jika si anak terantuk meja, maka “dengan penuh kasih sayang” orang-orang tua di sekitarnya akan memukul meja tersebut sambil berkata semacam “Jahat sekali meja ini ya?”. Ini, sejak aku masih remaja, kupandang sebagai salah satu bentuk dari sikap “cengeng” manusia kala dewasa. Sikap dan sifat untuk terbiasa menyalahkan orang lain, benda lain, atau bahkan Tuhan, jika ada sesuatu kemalangan menimpa dirinya. Sesuatu yang almarhumah ibuku sendiri tak suka ajarkan.

Bukannya selalu demikian aku mendidiknya. Tentu saja, jika dia sudah menangis, aku dan bundanya mencoba menenteramkannya. Alexander Razakami Hidayat lah, anakku, yang menjadi tempat dimana aku menerapkan segala kasih sayang yang pernah kudapat dan pernah kupelajari, segala cara pernah kulihat dari ibuku meninabobokan adik-adikku dulu, dari cara bapakku mengalihkan rasa takut atau kecemasan kala aku masih kecil dulu. Dari buku. Dari kehidupanku sendiri dan kehidupan keluarga lain yang pernah kukenal. Di dirinya lah, senandungku bukan lagi senandung tanpa arah tanpa makna, petikan gitarku bukan lagi sekedar laguan pelepas suara, melainkan menyisipkan pesan dan juga kesan pada nada dan pada kehalusan jiwa. Aku mendidiknya untuk teguh berdiri kala terjatuh, namun bukan tanpa kepekaan rasa menyentuh. Jika dia rewel di malam hari menjelang tidur, dan bundanya sudah sangat berat mengantuk, aku membawanya ke balkon, mengajaknya menikmati malam jika belum begitu larut dan tak angin berhembus dingin, melihat bintang, melihat langit, melihat jalanan pelan-pelan mulai lengang. Sambil menyenandungkan lagu Langgolek atau laguan Aceh atau laguan Doaku dan Al I’tiraaf-nya Haddad Alwi, sambil menepuk-nepuk pantat dan punggungnya sampai dia lelap sendiri di bahuku.

Hal-hal demikian, baik rasa memiliki seorang bocah dan masa mendidiknya di saat jiwanya masih mentah; tak akan datang kali kedua pada anak yang sama. Mungkin itu sebabnya, meski aku sadar benar soal sunatullah, terkadang ada rasa sedih dan ibaku jika mengenangkan kelak dia akan tumbuh besar. Dia tak akan lagi jadi anak yang kugendong sampai lelap di bahuku, atau yang berlarian kukejar di pekarangan, di pasir pantai. Atau yang duduk di pangkuanku kala mengenalkannya pada gitar dan komputer. Waktu merayap seperti uban, pelan-pelan mencabut kemuda-beliaan tiap manusia.

Aku ingat sekali waktu, di kala masih awal-awal kuliah, saat merasa sudah lepas-bebas dari kungkungan pagar status “anak-anak sekolah” aku membantah ayahku (saat masih bengal-bengalnya) dan berkata bahwa “Aku merasa tak disayangi olehnya” cuma karena ada permintaanku tak dipenuhi, almarhumah ibuku marah benar, dan berkata, “Kelak kau akan mengerti saat punya anak, menjadi seorang ayah itu tak mudah. Kau akan mengerti saat punya anak, bagaimana cinta kasih orang tua melebihi sebuah sepeda motor balapmu itu!”

Meski kemudiannya aku meminta maaf pada ayahku, setelah terharu-haru mengenangkan masa-masa kecil, sadar karena tahu bagaimana aku salah, namun baru lah kini aku tahu karena mengerti tentang rasa bagaimana beliau menjadi seorang ayah. Tahu dan merasakan sendiri, memang memiliki tapal batas yang berbeda. Mungkin tak tebal, tipis saja. Tapi setiap aku menggendong anakku, setiap aku menidurkannya, tak bisa tidak, aku teringat juga dengan ayahku (terutama jika sedang di Bogor dan beliau nun jauh di Aceh).

Dua tahun menjadi seorang ayah dari seorang putra, berkahnya bukan sekedar “mendapatkan pewaris keturunan” yang sering jadi alasan orang menikah dan beranak-pinak. Tapi berkahnya melebihi itu: ada kasih sayang disusupkan lagi dalam jiwa yang keras diperkeras oleh kehidupan. Ada kesadaran dan tepukan “Bagaimana, anak manusia? Sudah kau rasa?” seolah dari langit yang begitu lembut mendewasakan diri. Di sini lah, Alexander Razakami Hidayat, memiliki makna lebih dari seonggok daging bernyawa bagiku secara pribadi. Aku memberinya nama yang bermakna “ruh harapan kami yang diberi petunjuk-Nya untuk menolong/menyelamatkan (ke)manusia(an)”, meski tidak lah semuluk menjadi messiah dia kuimpikan; namun kurasa sudah lah dia sesuai namanya: menyelamatkan diriku sendiri, dari kejumudan dan kehampaan jiwa, dari kesombongan seorang dewasa untuk menakar diri-sendiri, untuk membandingkan masa lalu dengan masa kini sebagai suatu bentuk renungan ke dalam diri. Bercermin pada dirinya, sebagai wujud belahan dari diriku sendiri.

Selamat milad ke 2 tahun, Al.

Panjang lah umurmu dan diberkahi Allah selalu hidupmu.

7 thoughts on “2 Tahun Usia Razakami: 2 Tahun Makna Seorang Bocah Harapan Renungan Diri

  1. Alexander Razakami Hidayat, selamat ulang tahun. Semoga usiamu selalu dipenuhi keberkahan dari Allah. Amin.

  2. Secara tidak langsung aku seperti mengikuti episode kehidupan yang nyata, meskipun waktu ku belum tiba, selamat ulang tahun Al

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s