Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan

Untuk difahami! : Artikel ini adalah merupakan karya tulis dan hak cipta dari Alfian Hamzah, seorang jurnalis yang pernah bertugas di Aceh. Artikel ini pernah diterbitkan dalam Majalah Pantau Edisi Februari 2003, dan juga dalam buku Jurnalisme Sastrawi cetakan 2008 (terbitan pertama 2005). Apa yang kulakukan hanyalah menuliskan ulang dengan sedikit editing untuk merapikan teks, memiringkan kata yang tidak baku, dan meluruskan kata, istilah dan nama lokasi berbahasa Aceh di dalamnya. Dipajang di halaman blog ini adalah dengan maksud memperlihatkan apa yang pernah dilihat seorang jurnalis dari luar Aceh selama menjalankan profesi jurnalisnya di Aceh, terutama kepada Kawan-kawan yang belum sempat membaca liputan tersebut. Tidak ada keuntungan komersial pribadi yang kudapatkan dari memajang artikel tersebut di blog ini.

Demikian. Silakan dibaca.

*

*

*

Dua bulan hidup bersama dengan serdadu-serdadu Indonesia yang bertugas di Aceh.

Oleh: Alfian Hamzah.

MEREKA memulai perjalanannya dari pelabuhan Armada Laut Timur Ujung di Surabaya. Sekitar 700-an serdadu dari Batalion Infanteri 521/Dadaha Yodha menyemut di bibir dermaga, menunggu giliran naik ke kapal Teluk Bayur. Mereka akan berlayar ke Aceh, medan perang yang jaraknya 3.000 kilometer, dari asrama mereka di Kediri. Di dermaga, seorang gadis berambut kepang mencari-cari sesosok wajah. Saat kapal beringsut meninggalkan Surabaya, pipinya basah dengan air mata.

Suasana di atas kapal mirip pasar tumpah. Orang lalu lalang tapi ruang terbatas. Prajurit hanya diizinkan menggunakan geladak berjemur di anjungan. Ada terpal besar yang menutup seantero geladak. Para serdadu ini sukar tidur nyenyak. Matras tak dapat diandalkan melawan permukaan dek yang keras. Ruangan sempit. Tidur berdesak-desakan. Punggung yang semestinya rebah di matras terganjal ransel. Hanya kaki yang bisa diluruskan.

Bila mentari tepat di atas ubun-ubun, geladak itu berubah jadi oven berjalan di lautan. Sebagian serdadu memilih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Mereka juga mengeluh susahnya air bersih. Banyak serdadu tak mandi berhari-hari. Setiap pagi dan sore, orang kapal hanya mau mengalirkan air ke kamar mandi selama 10 menit. Prajurit berpostur tubuh kecil tak bisa mendekat ke kamar mandi itu. Hanya mereka yang berbadan besar bisa main sikut dan mandi.

Mereka juga tak dapat mengandalkan pembagian air minum yang jumlahnya kurang untuk membasahi seluruh kerongkongan. Saat-saat kritis, mereka merogoh air mineral di ransel. Air itu mereka beli sebelum berlayar. Di atas kapal, jika ingin minum kopi, seorang serdadu harus merogoh Rp 1.000 per cangkir. Semangkuk mie rebus harganya Rp 1.500. Air minum dalam kemasan Rp 3.000 per botol. Makin bertambah hari di atas laut, harganya merangkak naik, hingga Rp 4.000.

Mereka mengisi waktu luang dengan bercengkerama atau bermain kartu. Sesekali mereka menyumpahi nenek moyangnya saat melihat kapal perang mereka disalip kapal barang di laut lepas. Kedongkolan itu bertahan sehari, dua hari, lima hari, sepekan … hingga kapal Teluk Bayur merapat di Pelabuhan Malahayati, Banda Aceh, 18 Juni 2002. Untuk pelayaran yang biasa ditempuh tiga hari dengan kapal komersial, para serdadu Kediri ini perlu delapan hari.

Sehari sebelum merapat di Banda Aceh, Teluk Bayur membongkar sebagian muatannya di Lhokseumawe. Pertimbangannya, perairan Malahayati relatif dangkal. Sukar merapat jika muatan kapal penuh. Di Lhokseumawe, empat truk Mercedes Benz, satu ambulans dan satu jip komandan batalion diturunkan dan segera bergerak ke Banda Aceh, menyusul rekan mereka yang akan tiba di sana keesokan harinya.

Prajurit Kepala Muhamad Khusnur Rokhim ditunjuk sebagai pemandu jalan.

“Kami berangkat,” kata Rokhim, “(Dikawal) tim khusus satu peleton. Tiga puluh orang. Senjata lengkap. Saya bilang ke anak-anak, di sini sudah masuk Aceh, jangan kayak tugas di Ambon, Timor-Timur. Tidak ada apa-apanya. Di Aceh, sejengkal tanah tidak ada yang aman.”

“Keluar dari Lhokseumawe, kita menuju ke Bireuen. Bireuen ‘kan rawan? Perjalanan Lhokseumawe ke Bireuen aman. Lepas Bireuen ke Peudada. Saya kasih tahu ini titik rawan. Medan terbuka. Waspada!”

“Masuk ke Bandar Dua. Saya kasih tahu juga.”

“Ulee Glee, hati-hati!”

“Habis Trienggading masuk Luengputu. Nah di situ kelapa-kelapa kan banyak! Saya kasih tahu: Awasi ketinggian! Mobil jalan terus. Sampai Luengputu dua mobil yang mengawal sejak dari Lhokseumawe pulang. Alasannya sudah dekat kota. Sigli 100 persen aman. Saya tetap nggak yakin. Tidak ada di sini aman. Saya juga (pernah) di sini. Lama. Saya bilang ke kawan-kawan: hati-hati di depan, samping kanan-kiri.”

Sebelum bertolak ke Sigli, konvoi berhenti di kantor Komando Rayon Militer (Koramil) Geulumpang Minyeuk, Kecamatan Geulumpang Tiga, Kabupaten Pidie. Letnan Dua Ruben Rihi turun menanyakan kondisi perjalanan ke Sigli. “Saya jamin sini ke Kodim Pidie,” kata orang Koramil. Ruben Rihi lega. Konvoi kembali bergerak. Ruben ikut truk Rokhim, jalan paling depan. Sekitar 200 meter lepas Koramil, laju kendaraan yang semuanya telah dilapisi baja tiga milimeter itu terganggu. Ada segerombolan sapi melintas.

Perasaan Rokhim mendadak tak enak. Tapi dia tak ingin menurutinya. Medan di seputarnya berbicara lain: bukan medan kritis. Tak ada ketinggian. Di kiri jalan, ada pertigaan yang menghubungkan jalan besar dengan sekolah di sana. Dia melihat serombongan murid bergerak ke arah simpang itu. Tak jauh dari sekolah ada rimbunan pohon kelapa, sagu, dan nipah.

Sapi telah lewat. Jalan telah bersih. Konvoi kembali bergerak. Truk paling belakang telah melewati simpang tiga itu. Lewat jendela, Rokhim melihat ada mobil penumpang dan sepeda motor bergerak dari arah berlawanan. Ada pompa bensin tak jauh di depan sana. Ramai orang di situ.

Konvoi telah bergerak sekitar 500 meter meninggalkan Koramil.

Tiba-tiba … rrrreetttttttttttt-ret-rettttttttt … tang-tang-tang.

Ada AK-47 yang menyalak dari rimbunan kelapa tadi. Sekitar dua menit lamanya, menyasar bak truk paling depan. Baja pelindung tangki angin mobil Rokhim jebol. “Tang-tang-tang … tang-tang-tang.”

Di bak belakang, Ruben Rihi dan beberapa serdadu pengawal terperanjat. Belum sehari mereka di Aceh sudah disiram tembakan. Seisi bak sontak menyembunyikan kepala. “Peluru sejengkal di atas kepala,” kata Ruben.

Sersan Satu Handoko ada di jip komandan. Dia berjuang mengatasi kekagetannya. Untung, peluru sudah di kamarnya. Buru-buru dia membuka kunci. Senjata otomatis Minimi buatan Belgia di tangannya menyalak. Sayang, sentakan gas mobil membuat tembakannya tak terarah. Dia terpelanting. Jatuh.

“Kami,” kata Rokhim, “Mau turun (tapi) ngeri juga karena medan terbuka. Melarikan diri itu jalan satu-satunya.”

Konvoi meninggalkan tempat penghadangan selekas mungkin. Tak ada yang celaka siang itu. Tapi ketegangan di wajah mereka baru cair sejam kemudian. “Goreng jagung” di siang bolong itu, demikian beberapa prajurit menyebut dentingan proyektil menghantam plat baja mobil, membekas di benak banyak prajurit Indonesia yang ditugaskan di Aceh. “Sejak itu saya ndak percaya lagi sama orang Aceh. Ini menyangkut nyawa. Kalau ada (orang) Koramil waktu itu, sudah saya hantam. Orang Aceh itu (memang) tidak bisa dipercaya,” kata Letnan Dua Ruben Rihi.

lanjut ke halaman -> 1