4

SAAT bergabung dengan pasukan Rajawali awal Oktober silam, seorang sersan satu dari Kopassus Group I Serang mendekati saya. Dia tahu saya belum punya kawan hari itu. Di sela-sela obrolan, saya bertanya bagaimana rasanya tujuh bulan tugas di Aceh. Saya sebenarnya ingin menggali fenomena “mata kuning” di kalangan serdadu yang telah enam bulan lebih di medan tugas. Dengar-dengar, kalau kena penyakit itu, sapi pun akan terlihat cantik. Tapi jawaban yang saya dapatkan lain. “Biasa saja,” katanya, “Di sini itu perangnya (seperti) perang-perangan. Tapi kalau mati, mati beneran.”

Soal perang-perangan itu ada benarnya. Saya pernah mendatangi sebuah rumah yang menjadi saksi bisu perang TNI dan GAM. Rumah itu rumah seorang transmigran Jawa yang tak lagi berpenghuni di Sarana Pemukiman I, Alue Peunyareng, Meurebo.

Di dindingnya ada banyak tulisan. Isinya tantangan dan sumpah serapah TNI untuk GAM. Di tempat yang sama, GAM juga menorehkan tantangan dan cemoohannya.

Saya tak tahu siapa yang memulai. Tapi saya kira, kemarahan serdadu Indonesia dipicu tulisan arang di dapur rumah itu:

“I PAIE Alias Anjing Jalanan. I PAIE Sulid orang. (Orang)nya mati dibilang tidak mati … mati 20 orang dibilang lecet … TNI Cumak Ngomong yg bisa. Rakyat dia tahu yang salah dgn benar! TNI takut pada GAM. Kalau TNI Tidak takut pd GAM tidak perlu pi gi ramai2. GAM tak takut … TNI Cari Uang ke Aceh. Honda orang diambi. Punya sendiri tak ada. TNI Budak orang.”

Balasannya … oh mak, sampai memenuhi tembok di rumah itu, luar dan dalam.

Ini sebagiannya: “GAM. Gerakan Anak Murtad. Juragan Babi Tgk. Syafei. Linud 700/Kombet … Yonif 521 siap menumpas GAM (Gerakan Anak Murtad) … Kalau memang GAM jangan nembak dari jauh, tho!!! … GAM … !!! Cantoi, jelas kamu hanya pengisap keringat rakyat dan kamu tak ada bedanya dgn pacet … Bacalah ini wahai GAM. Semoga kamu sadar … GAM pengecup!!! Habis nembak lari. Pemerkosa, perampok, anjing, babi, monyet!!!”

Tapi ada juga yang nadanya kalem. Ada yang menuliskan beberapa penggalan ayat al-Quran yang intinya menyerukan perlunya semua Muslim saling menyayangi. Saya kira yang menulis itu berharap ada GAM yang tergerak hatinya dan bertobat setelah membaca tulisannya.

Perang-perangan juga berlangsung di udara. Di radio frekuensi umum, GAM dan serdadu Indonesia seolah berlomba memasukkan beberapa hewan penghuni kebun binatang ke situ.

“Jangan begitulah, Bang. Kita perang, tapi tidak usah di radio,” kata suara di seberang sana.

“Memang kau GAM, anjing, babi!”

Kadang GAM juga yang memulai: “Danki (komandan kompi) apa kamu ini. Tadi saya minum kopi di kedai depan posmu. Sama anak buahmu! … Kamu tidak tahu, yah? Makanya kalau ada orang lihat-lihat.”

Balasannya: “Kamu ke sini aja, Anjing. Saya tunggu sekarang kalau berani.”

Tapi sepertinya belum pernah ada yang mengalahkan rekor perang-perangan pasukan Rajawali dari Kostrad 432 Makassar di Bukit Tengkorak medio Mei silam.

Awalnya, saat berkenalan, seorang serdadu Kostrad dari Batalion 432 seperti menyesalkan kenapa saya tak datang meliput pasukan lebih awal.

“Dulu waktu di Bukit Tengkorak … oh mak …,” prajurit itu tak menyelesaikan kalimatnya. Dia hanya memeragakan memiting leher dengan tangan kanan seolah sedang menggoroknya leher seseorang.

“Sayang Abang terlambat. Sekarang ini sudah sepi,” sambungnya.

Saya jadi tertarik menggali adegan mirip-mirip Mel Gibson menggorok leher musuhnya dalam film Brave Heart itu. Suatu hari sebelum ikut penyerangan bersama Pasukan Rajawali ke wilayah Patek, saya menyempatkan mewawancari belasan serdadu yang ikut operasi di Bukit Tengkorak. Ada banyak versi cerita dari beberapa kali wawancara dengan orang-orang yang sama. Tapi garis besarnya sama:

10 Mei 2002—Sekitar 60 orang serdadu yang terbagi ke dalam tiga tim berangkat dengan berjalan kaki dari Lhoksari menuju Bukit Tengkorak. Sebelum berangkat, prajurit Linud 700 sudah memperingatkan bahaya yang akan menghadang. Di puncak bukit, kabarnya, GAM telah memasang senapan mesin berat 12,7 mm.

Pasukan bergerak jam dua malam dan baru sampai di sasaran saat terang-terang tanah. Letnan Dua Daulat Marpaung memimpin tim terdepan.

Di depannya kini berdiri dua bukit kecil setinggi 15 meter. Ada jalan beraspal yang memisah kedua bukit itu. Satu relatif gundul, sana sini ditembuhi semak-semak. Satunya lagi ditumbuhi lumayan banyak pohon karet muda.

Marpaung tak melihat ada tanda-tanda aneh di bukit itu. Burung-burung silih berganti datang dan pergi.

“Majuuu.” Sekitar 20 orang serdadunya menyelaber kedua bukit. Kosong tak ada apa-apa. Ternyata cuma onggokan dua bukit kecil saja!

Sekitar pukul tujuh pagi, komandan Kompi 432 Kapten Tumito Susanto memerintahkan Marpaung membawa serdadu masuk untuk memeriksa keadaan di Seumara, sekalian menggali informasi intelejen yang menyatakan banyak simpatisan GAM di situ.

Seumara jaraknya kurang 100 meter dari tempat pasukan berdiri. Sekitar 10 meter dari jalan yang membelah bukit, ada jembatan sepanjang empat meter yang mengantar ke perkampungan di sana.

Marpaung berangkat. Semuanya 13 orang. Begitu masuk desa, dia melihat anak-anak muda dan ibu-ibu berkumpul di depan-depan rumah. Bukankah ini jam bertani?

Marpaung meneruskan langkahnya ke rumah keuchik. Begitu sampai, dia memperhatikan seorang pemuda – Zulkarnain? –gelisah, mondar-mandir depan rumah keuchik. Ada serdadu yang iseng menyuruhnya mengambil kelapa. Dia menolak. “Saya tidak bisa manjat,” katanya.

Di rumah keuchik, Marpaung mulai gelisah. Terutama setelah melihat sekelompok anak muda sibuk membabat rumput dekat rumah keuchik. Seorang serdadu juga merasakan hal serupa. Dia tak tahan lagi.

“Kau Pak Keuchik,” katanya setengah menghardik, “Sempat ada tembakan sebentar kau yang pertama saya babat.”

Eh, Kapten Tumito turun ke kampung juga. Dia ingin bertemu langsung dengan keuchik di situ.

“Kamu lapar?” Tumito bertanya ke Marpaung yang memang sedari pagi belum sarapan. Tumito mengusulkan merebus mie di rumah keuchik yang sudah menawarkan kopi.

“Nggak usah. Nggak usah,” jawab Marpaung cepat, sembari menatap wajah komandannya dalam-dalam. Dia ingin mengisyaratkan kegelisahannya. Komandan itu akhirnya paham.

Pasukan kembali ke bukit dengan langkah terburu-buru. Beberapa di antaranya berjalan dengan sesekali melihat ke belakang. Seolah akan ada sesuatu.

Sesampai di bukit, pasukan makan siang. Sembari beristirahat, mereka membicarakan sejumlah keanehan di desa tadi. Menjelang pukul empat sore, ada serdadu yang menyeduh kopi. Marpaung memperingatkan serdadu yang istirahat di bukit. “Eh hati-hati. Kampung sepi sekali. Nggak ada orang.”

Rencananya, pasukan akan bermalam dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Pante Ceuremeun. Tahu akan bermalam, Prajurit Satu Bakri dan beberapa serdadu lainnya mulai melepas sepatu. Tiba-tiba datang tembakan dari desa.

“Dududung-dudung-dudung-dududung.” Rentetan senapan AK-47 ke arah bukit mengagetkan seluruh pasukan.

Peluru berterbangan di atas kepala.

Dalam hitungan menit, semua serdadu di bukit tiarap sambil berusaha melindungi kepala, khawatir dijatuhi ranting-ranting kayu yang patah dihantam peluru.

Tembakan setidaknya dari tiga penjuru: dari rumah-rumah penduduk sekitar 70 meter di bawah sana; dari tanggul persawahan sekitar satu kilometer di depan bukit pertama; dan dari rawa-rawa di depan bukit kedua.

“Dududung-dudung-dudung-dududung.” AK terus menyalak.

Selama dua bulan di Aceh, baru kali ini Rajawali 432 mendengar desing amunisi GAM. Prajurit Kepala Hamka yang berada di balik bukit pertama langsung menyembunyikan kepalanya. Dia baru berani mengintip setelah ada jeda tembakan. Mungkin mereka lagi mengisi magazen.

Orang di bukit mulai membalas. Kapten Tumito memperingatkan pasukannya agar tetap merunduk. Dia tak ingin satupun anak buahnya celaka.

“Tunduk kamu…Tunduk! Heeeeee…. Tunduk kamu! Tunduk!”

Peringatan itu tak banyak berbekas. Beberapa serdadu yang telah mengatasi kekagetannya mulai membalas tembakan.

Tembakan kian menjadi, dari bawah dan dari atas bukit.

Kapten Tumito tak henti-hentinya menyuruh serdadu yang berada di bukit kedua untuk merunduk dan menghitung amunisi yang keluar.

“Hitung amunisi. Hitung amunisi.” Perintahnya setengah berteriak.

Baku tembak itu berlanjut hingga pukul tujuh malam. Malam itu semua orang di bukit siaga. Pasukan dibagi. Satu tim di bukit pertama, satu tim di bukit kedua. Di bukit pertama, dipasang tiga Minimi, satu GLM, dan dua SS-1. Satu tim lagi bertahan di bukit kedua yang lebih luas. Tim ketiga dipasang di pebukitan yang sesisi dengan bukit pertama.

Menjelang pukul 10 malam, Kopral Satu Irfan mengusulkan ke rekan-rekannya untuk mendirikan tenda. Langit mendung. Usulnya tak digubris. “Rajawali tak perlu tenda,” kata seorang rekannya. Irfan mulai mempersiapkan ponconya. Siapa tahu hujan. Eh, hujan betul. Sekitar pukul 10 malam hujan keras diiringi kilat mengguyur seluruh pasukan. Beberapa serdadu di bukit pertama merapat-rapatkan badannya ke ponco Irfan. “Katanya Rajawali tak perlu tenda,” kata Irfan menyindir.

Tak ada tembakan hingga pagi harinya.

Begitu terjaga, Marpaung menyuruh bawahannya untuk bergegas sarapan. Dia tak ingin dikagetkan dengan tembakan lagi saat makan. Beberapa serdadu mulai merebus kopi. Tapi belum sempat dicicipi, AK sudah menyalak dari desa.

Awalnya pelan. Lalu, “Dududung-dudung-dudung-dududung.”

Seorang serdadu yang jengkel belum sempat menghirup kopinya berteriak kesal: “Ooii, belum sarapan!”

Ajaib. Tembakan berhenti. GAM sepertinya sarapan juga.

Berselang sebentar, baku tembak kembali berlangsung. Dari desa pagi itu, sebuah teriakan terdengar hingga ke bukit: “Paiiii, lonte kamu! Turun kamu kalau berani. Mana Rajawalimu!?”

Mendengar itu, seorang serdadu berbisik ke temannya. “Itu pasti mantan tentara. Pasti pernah melonte.”

Baku tembak berlanjut.

Tapi pagi itu, orang-orang di bukit banyak yang penasaran dengan pria setengah baya yang berdiri telanjang dada mengenakan ikat kepala putih menenteng AK dan jalan mondar-mandir di persawahan sekitar 70 meter di bawah sana. Mungkin ada sepuluh laras di bukit mengarah ke sana.

Koptu Irfan termasuk yang menyasar lelaki itu. “Tang-tang.” Lelaki berbadan bongsor itu masih berdiri di sana. Entah kemana proyektilnya lari.

“Tang-tang. Tang-tang. Tang-tang.” Tak kena juga. Lelaki itu malah berjongkok di persawahan, merokok, dan memperhatikan orang yang sibuk menembakinya di bukit.

Irfan dongkol luar biasa. Apa salah senjata? Dia mencoba membidik sebuah batang pinang di dekat pria itu. “Tang-tang”. Kena. Senjata yang sudah 14 tahun disandangnya itu, sejak pangkatnya masih Prajurit Dua, kembali diarahkannya ke lelaki itu.

Sasaran sudah selurus pisir dan pijera. Pasti kena.

“Tang-tang.” Tetap tak kena. Tak sedikit pun lelaki itu bergeming. Bagaimana bisa? Padahal saat latihan, tak satu pun pelurunya yang melenceng dari lesan jarak 300 meter.

Irfan penasaran habis. Dia kembali membidik, menembak, membidik, menembak … hingga 30 butir peluru di magazen habis. Pria itu masih sehat berdiri di situ.

Apa yang salah? Irfan tak habis pikir. Prajurit Satu Asri lebih penasaran lagi. Dia salah satu penembak runduk (sniper) terbaik di batalionnya. Tapi, sama saja, tak satupun bidikannya yang kena.

“Memang monyet itu orang. Seumur hidup saya ndak akan lupa,” kata Irfan mengingat kejadian itu pada saya.

Irfan masih tak puas. Dia ingin melihat reaksi pria itu ditembaki TP. Kebetulan, dia membawa TP Anti Tank. Sudut elevasinya sudah diatur tepat. “Siiiiiuuutttttt … blanggggggg.”

Dari tempatnya berdiri, Irfan dapat merasakan tanah di kakinya bergetar.

Tujuh puluh meter di depan sana, lelaki itu masih berdiri menenteng AK di tempatnya semula. TP yang ditembakkan Irfan mengenai pohon pinang sekitar satu meter dari tempat pria bercelana hitam itu berdiri.

TP meledak di atas kepalanya tapi dia tidak lari!? Kurang apa lagi? Sudah pisir pijera … Kenapa? Apa sholat tahajud malamnya?

Dia perlahan mundur dan berlindung di balik tumpukan batang kelapa.

Hamka menyasar perlindungan itu dengan GLM.

“Ciiiuuuu … blang.” Hamka menikmati suara granat yang lepas dari moncong senapannya dan menggelegar begitu menyentuh tanah.

“Makan itu GAM,” teriaknya dari atas bukit.

Dia terus menghantamkan granat ke beberapa titik asal tembakan. Satu kali dia mendengar ada yang berteriak “Allahu Akbar.” Hamka yakin ada yang kena.

Tiga pucuk Minimi di atas bukit tak mau ketinggalan. Mereka yang tiarap di balik bukit kedua juga terus memberi tembakan balasan.

Baku tembak berlanjut hingga sore harinya.

Malam harinya, halilintar dan hujan menyambar-nyambar. Banyak serdadu yang basah kuyup karena tak membawa ponco. “Memang jadi ilmunya GAM,” kata seorang serdadu yang percaya hujan dua malam itu “kiriman” GAM.

Menjelang subuh hari ketiga, Daulat Marpaung memimpin 25 orang serdadu masuk ke desa. Dia ingin memenuhi tantangan GAM.

Ketegangan tampak di wajah mereka yang ditunjuk. Bagaimana jika GAM telah menanti?

Dua orang prajurit ditunjuk jadi force speed. Pasukan jalan sangat lambat. Nyaris merayap. Selangkah berhenti. Selangkah berhenti. Mereka bergerak rapat. Setiap kali akan melangkah, orang yang di depan menepuk pundak orang di belakangnya.

Saat mendekati jembatan, seorang prajurit satu sudah tahu apa yang harus dilakukannya sebagai force speed. Dia harus mengecek kemungkinan GAM telah menanam bom di situ. Tangannya meraba-raba aspal jembatan hingga menyentuh sebuah benda. Panas. Tapi kok … “Pukimae.” Dia bersungut-sungut menyumpahi tahi sapi yang dipegangnya.

Begitu terang tanah, mereka sudah di desa tanpa diketahui siapapun.

Seisi kampung sudah mengungsi. Pasukan leluasa menggeledah rumah-rumah yang mereka curigai.

Di sisi kanan jalan, Hamka melihat seseorang menenteng AK.

“Batiiiiii,” bisiknya memanggil seorang bintara pelatih di dekatnya, “GAM. GAM!” Hamka menunjuk-nunjuk orang yang berdiri sekitar 70 meter di depan sana.

“Bagaimana? Saya tembak?” Hamka memain-mainkan telunjuknya di picu. Izin tak keluar. Komandannya ingin tangkapan banyak.

Sayang, tim yang bertugas menggeledah rumah di sebelah kiri berisik. Bunyi pintu rumah keuchik ditendang sampai ke telinga orang itu. Dia baru sadar kalau pasukan sudah masuk ke desa.

Baku tembak dari jarak dekat tak terhindarkan. Pemisahnya hanya halaman rumah dan sedikit persawahan. Dari pagi hingga sore.

Pasukan bertahan di desa hingga hari keempat. GAM sudah mundur. Kabarnya berkekuatan 70 orang. Sebagian yang mereka lihat menggunakan seragam loreng dan hitam-hitam. Ada yang meyakini kalau yang berpakaian loreng itu dari Pidie sementara yang hitam didikan Libya dari wilayah Jeuram.

Di hari keempat, logistik habis. Tak ada lagi yang punya biskuit atau nasi kaleng. Terpaksa, TB-3 dimainkan. TB-3 adalah istilah serdadu untuk kelapa milik penduduk. Pasukan akhirnya kembali ke Lhoksari pada 14 Mei 2002.

Sehari setelahnya, mereka membaca di Serambi Indonesia keterangan seorang juru bicara GAM kalau ada sembilan orang tentara yang tewas dalam pertempuran di Bukit Tengkorak.

ke halaman –> 3

lanjut ke halaman -> 5

Iklan