5

TENTARA punya istilah khas berburu GAM di hutan-hutan Aceh: masuk kolam mencari ikan. Sekiranya diizinkan ikut, saya diminta menyiapkan perlengkapan standar masuk kolam seperti matras, ransel serbu, shebo, kaos tangan. Paling tidak, saya harus punya baju dan celana berwarna gelap.

Tapi dari semua itu, demi keselamatan, saya disarankan meminjam barang yang namanya rompi anti peluru. Tentara biasanya punya cadangan. Memakainya akan membuat orang merasa aman. Ini juga bagus dipakai supaya kita tak terlihat seperti bondo nekat masuk hutan.

Ada dua lempengan baja di rompi itu. Satu letaknya di depan dada dan satu di punggung. Masing-masing beratnya 10 kilogram. Saya selalu mencopot lempengan baja di punggung. Terlalu berat. Kalau matahari menyengat, lempengan-lepengan itu akan berubah menjadi setrika. Saat hujan, ia berubah bentuk menjadi balok-balok es. Dingin, menusuk sampai tulang.

Pertama kali mencobanya, perut saya sakit. Serasa mau kencing tiap menit. Pasalnya, lempengan baja di dada itu menekan-nekan perut. Saya terlalu tegang untuk memeriksa kalau lempengan baja di rompi itu bisa disetel-setel posisinya. Posisi yang benar adalah mesejajarkan bagian atas lempengan baja dengan tulang dada.

Banyak serdadu yang juga mencopot plat baja belakang. Beban mereka sudah berat. Jika masuk kolam selama 15 hari, di punggung mereka menggantung ransel 25 kilogram — untuk mudahnya, bayangkan Anda menggendong segalon air selama dua minggu. Itu ditambah SS-1 yang beratnya sekitar lima kilogram. Yang membawa Minimi lebih siksa lagi. Senapan otomatis itu beratnya sampai 15 kilogram.

Sekali waktu saya sempat kheki karena urusan rompi itu. Ceritanya, kami lagi mengendap di pinggir hutan karet. Saya gerah dan ingin melonggarkan rompi yang melilit badan. Perekatnya saya lepas pelan-pelan. Kraakkkkkkkkkkk … Kraakkkkkkkkkkk … Kraakkkkkkkkkkk …. Semua mata tertuju ke saya hingga rompi tanggal dari badan. Dengan isyarat dari jauh, seorang letnan dua mengajari saya cara melonggarkannya tanpa harus membangunkan seisi hutan.

Soal makanan selama masuk kolam, saya diminta tak khawatir. Tentara punya aneka ransum. Saya paling suka dengan TB-1. Satu bungkus isinya 12 keping biskuit kering. Ini makanan perang bintang tiga kendati ada serdadu dari Makassar yang menyamakannya dengan kanre kongkong (makanan anjing). Rasanya memang anyep. Tapi makan pagi sebiji saja, perut sudah bisa terganjal sampai sore.

Biskuit ini pas dengan teh panas. Praktis dibawa kemana-mana. Sekali jalan ke hutan, saya sanggup menghabiskan sekotak. Medio September silam, saya terkejut membaca informasi yang tertera di kemasannya. Biskuit yang saya makan dan dibagikan ke seluruh serdadu di Aceh Barat ternyata “Produksi Bulan Juli 2001. Berlaku sampai Juni 2002 … Jangan dimakan bila terdapat kelainan warna, bau, rasa, dan berjamur.”

Serdadu-serdadu itu banyak yang tak memperhatikan kalau itu sudah kadaluwarsa. Atau mungkin tahu tapi acuh. Mau apalagi kalau perut lapar dan sudah tak ada yang bisa dimakan?

Saya juga suka dengan ransum yang namanya T2FD. “Nasi bantal” istilah sebagian serdadu. Kalau nasi di dalam plastik kemasan itu—ada rasa soto ayam, ada rasa gule—disiram air panas dan dibiarkan tertutup hingga 15 menit, plastiknya akan menggelembung seperti bantal bayi. Enak dimakan panas-panas. Tapi jaga-jaga saja. Soalnya kalau (maaf) kentut, baunya sengit. Entah kenapa.

Tapi selapar apapun di dalam kolam, saya tak pernah tertarik menyentuh yang namanya TB-2. Ini nasi kalengnya tentara. Macam-macam jenisnya. Ada rasa gudeg, ada rasa kari ayam pedas. Masing-masing dikemas dalam kaleng seukuran mie instan. Sebelum dimakan, sebaiknya direbus atau dibakar dulu. Biar enak lewat di tenggorokan.

Biar begitu, rasanya tetap … yakkkk. Ada serdadu yang baru mencium baunya sudah muntah. Saya hanya tahan dua suap. Sudah itu, rasanya di tenggorokan baru bisa hilang setelah disiram kopi seharian.

Hanya segelintir serdadu yang senang makan TB-2. Saya mengenal seorang serdadu Rajawali yang sanggup menghabiskan ransum itu sekali duduk dengan air minum hanya beberapa teguk.

Mungkin dia sudah terbiasa. Dia dua kali ditugaskan di Timor Timor dan dua kali di Papua. Pangkatnya masih kopral satu. Umurnya 34 tahun. “Mungkin saya yang paling tua di tamtama,” katanya, “Tapi semangat boleh lawan. Saya ndak mau kalah. (Junior) harus malu kalau koptu bisa naik gunung sementara prada loyo-loyo. Saya kasih malu mereka itu kalau sudah di atas.”

Suatu malam, saya ikut gerak bersamanya ke pelosok Patek, sekitar 130 kilometer dari Banda Aceh. Gerakannya lincah, tapi senyap. Sepertinya dia punya mata cadangan di kegelapan malam. Dia tak pernah tersandung. Dia pemburu yang lihai.

Ada keresek sedikit saja, langsung didekatinya. Malam itu, saat melintas di dekat rawa, dia buru-buru membuka kunci senapannya. Saya kira sudah ada GAM yang menunggu kami di situ. Uh, untungnya hanya babi hutan.

Sampai siang keesokan harinya, gerak pasukan nihil. Tak ada GAM yang dijumpai. Dia kesal bukan main.

Kopral itu sanggup tidur di medan apapun. Di atas rawa basah, di bebatuan hanya dengan menggelar rompi baja sebagai alas tidur dan sekaligus bantal. Di situ saya mengajaknya berdiskusi soal penyekolahan tawanan. Saya anggap dia dengan segudang pengalamannya akan lebih memberikan gambaran yang lebih jelas.

“Kenapa tidak diserahkan ke polisi saja? Polisi membuat BAP (Berita Acara Pemeriksaan), diserahkan ke pengadilan dan pengadilan memberi hukuman yang setimpal (kalau memang bersalah)?”

“Kalau diserahkan ke polisi,” katanya dingin, “Ya sama saja (nasibnya).”

Dua-tiga hari sebelum kami berkenalan, dia baru menghantamkan balok 8×12 sentimeter ke kepala seorang tawanan. Setelahnya, dia menawarkan ke beberapa juniornya untuk menyekolahkan tawanan yang “nyawanya tinggal sedikit” itu.

Tak ada yang menyambut.

“Ada yang sampai pergi sembahyang,” katanya.

Dan itu membuatnya heran. Menurutnya, “Tuhan Mahatahu … Dia (tawanan) itu sudah mengancam nyawa puluhan orang. Membuat anak-anak tidak bisa sekolah. Dia ikut menghadang konvoi 432 di Geurutee. Ada serdadu yang korban. Sekarang masih di rumah sakit pusat Gatot Subroto.”

Tawanan yang kami bicarakan itu namanya Maimun. Dia ditangkap setelah ada bapak yang melapor ke SGI (Satuan Gabungan Intelejen) karena diancam akan dibunuh jika tak menyerahkan dana perjuangan GAM. Belakangan, Ayah Lian ditemukan mati terbunuh. Nama Maimun disebut-sebut.

Mainum ditangkap saat main bola volley. Awalnya, tak ada serdadu yang tahu wajahnya. Warga di situ tak ada yang mau buka mulut. Serdadu jengkel. Setelah direntet tembakan ke arah kaki, barulah mereka menunjuk hidung Mainum.

Mainum digiring ke pos. Seorang pemuda datang melihatnya. Dia bercerita kalau betul Maimun yang membunuh ayahnya. Mainum berkilah. Katanya, dia memang ada di tempat saat pembunuhan terjadi, tapi bukan dia yang melakukannya.

“Itu lagu lamanya GAM. Kalau ditangkap jadi suci sekali.”

Saat ditahan di sebuah pos, saya melihat Mainum dikerumuni sejumlah serdadu. Saya menyesal tak berani turun dari truk dan melihat langsung wajah pemuda jerawatan itu. Dua tiga hari setelahnya, seorang serdadu bercerita ke saya kalau Mainum sudah disekolahkan. Mayatnya dibuang ke daerah Lageun.

DI Aceh, tugas utama mencari ikan di kolam-kolam tanggung jawab Pasukan Pemburu Rajawali. Ini tentaranya tentara dengan kualitas fisik prima yang memang khusus dilatih untuk mengejar GAM. Mereka didoktrin untuk rajin jalan, waspada, dan jeli.

Ada yang menyebutnya Pasukan Sayap Lebar. Isinya gabungan serdadu Kostrad dan Kopassus. Saat ini, sekitar 2.000 orang Rajawali di Aceh disebar dalam lima datasemen tempur dari hanya dua datasemen pada 1999.

Naluri tempur mereka di atas rata-rata. Mereka dibekali latihan militer yang sebelumnya hanya dinikmati serdadu Komando Pasukan Khusus (Kopassus) seperti mengesan jejak (pelatihnya antara lain orang Dayak), sermujam (serangan amunisi tajam), mobud (mobil udara), dan perang rawasuntai (rawa laut sungai dan pantai).

Rajawali terbiasa bergerak dengan jumlah kecil. Satu regu, 8 sampai 12 orang. Jika ada pasukan yang jalan di hutan-hutan Aceh membawa ransel besar, bisa dipastikan itu Rajawali. Jika Anda melihat tentara yang berbelanja di pasar-pasar Aceh dengan dompet terbungkus plastik atau tidur dengan sarung sambung (dua sarung dijahit jadi satu), itu pasti Rajawali.

Mau tahu isi ranselnya? Jika hendak masuk kolam lebih dari seminggu, biasanya di setiap ransel itu ada satu stel pakaian loreng cadangan, kaos kaki 2 sampai 3 pasang, celana dalam sebanyak-banyaknya, kelambu kepala, matras kedap air, dan sarung sambung.

Untuk logistik, mereka menyiapkan 2 kilogram beras per orang, ikan kering ½ kg, supermie 30 bungkus, kecap botol kecil, saos botol kecil, minyak goreng botol kecil, bawang, terasi, sendok, piring dan gelas plastik, garam, gula, kopi atau teh.

Selain itu, masing-masing serdadu membawa tali perorangan 10 meter dan tali tubuh 5 meter. Tali itu diperlukan kalau misalnya pasukan harus berenang di sungai deras atau meluncur dari ketinggian tebing. Bintara pembawa radio biasanya menambahkan 20 biji baterai cadangan ke ranselnya.

Jika ditotal-total, beratnya ransel bisa mencapai 25 kilogram. Berat, cukup membuat bahu keple dan kulit terkelupas. Bila beban berat, jarak yang mereka tempuh relatif dekat. Untuk 10 hari, mereka ditargetkan memeriksa sasaran duga yang total jaraknya 10 km. Praktis dalam sehari, pasukan hanya jalan 1 km. Demi kehati-hatian, seringkali jarak 100 meter ditempuh hingga satu jam.

Sekalipun rutenya pendek, tapi medan di Aceh Barat seringkali tidak mendukung. Untuk sampai ke sasaran, mereka kadang harus menggergaji beberapa bukit, berenang di sungai lebar, dan masuk rawa.

Dan kalau sudah rawa atau sungai, alamak … siksanya luar biasa.

Saya pertama kali masuk rawa di Peulanteu, Kecamatan Kaway XVI. Rawa itu baru bisa ditembus setelah jalan dua jam. Namanya jalan di rawa yang tak ada hembusan angin dan ada plat baja 10 kilogram di dada, badan jadi keringatan. Peluh menetes dari setiap pori, di kepala, di belakang telinga …. Bila itu berlanjut, tetesannya akan membuat mata perih. Jalan makin jauh, keringat sudah tidak asin lagi. Badan ini sudah kekurangan cairan.

Para serdadu seperti tak mempedulikan lagi badan yang tenggelam hingga dada di rawa. Mereka berkonsentrasi menjaga agar SS-1 tidak masuk lumpur. Senjata mereka akan macet kalau kena lumpur atau terendam air.

Gerak mereka jadi lebih lambat. Hanya Tuhan yang tahu apa jadinya kami jika ada gerilyawan GAM yang menghadang di rawa itu. Soalnya, mau sembunyi di mana? Tidak ada perlindungan yang aman di tengah rawa.

Soal lintah tak usah ditanya. Lintah ada di sela-sela jari kaki, di betis, di paha, di perut, di selangkangan, dan bahkan menempel di penis. Kalau sudah mengisap darah, dia baru jatuh kalau sudah menggelumbung sebesar jempol kaki dari hanya seukuran satu ruas kelingking.

Tapi siapa sangka, di tengah hutan rawa itu ada markas pembuatan senjata rakitan GAM. Di situ ditemukan puluhan senapan rakitan setengah jadi, ratusan bendera dan kartu anggota GAM. Di antara empat gubuk pembuatan senjata itu, tentara menemukan seperangkat komputer, printer dan genset. Saya tak habis pikir bagaimana GAM mengangkat genset raksasa itu melewati rawa.

Mereka tinggal di empat gubuk yang letaknya berdekatan. Gubuknya memang memprihatinkan. Saya kira orang yang tinggal disitu termasuk di antara mereka yang meyakini kalau Aceh merdeka tinggal sebatang rokok lagi. Tiang-tiangnya dari batang-batang kayu seukuran betis anak kecil. Atapnya dari daun rumbia. Nyamuknya tak usah ditanya. Markas itu punya sistem pengamanan berlapis. Ada tiga pos tinjau yang masing-masingnya memiliki pemancar radio.

Melihat barang-barang yang berceceran di gubuk itu saya kira ada beberapa remaja yang tinggal di situ dan melarikan diri begitu tahu ada tentara. Saya menemukan banyak bungkus rokok Marlboro, botol splash cologne, minyak rambut, dan lain-lain. Saya juga menemukan selembar kartu nama John Aglionby, koresponden harian The Guardian untuk wilayah Asia Pasifik.

Selesai masuk rawa, telapak kaki jadi pucat. Kerutan itu baru bisa hilang setelah dua hari. Saat itu saya memakai sepatu lars. Larsnya kesempitan. Untuk ukuran kaki 42 mestinya lars nomor 7 sementara lars yang saya pakai nomor 6. Jadinya, kaki terkungkung. Tumit lecet dua-duanya. Lecetnya bersusun-susun. Luka di atas luka.

“Ah, itu belum biasa saja,” kata seorang serdadu menertawakan.

Masak dan makan bersama adalah hiburan satu-satunya bagi Rajawali selama masuk kolam. Serdadu biasanya masak dengan misting. Satu misting – seukuran dua batu bata ditumpuk – untuk empat orang. Apinya lebih sering pakai kayu bakar (mereka jarang dapat pembagian parafin). Masaknya hanya pagi dan sore. Supaya asapnya tak mencolok, di atas misting ditutupi dahan biar asapnya menyebar.

Kalau pagi, supermie jadi sayurnya. Kalau ada bayam yang ditemui di kebun orang kampung, pakai bayam. Kalau ada tewel (nangka muda) dan kelapa, menu sedikit membaik. Kepala diparut untuk diperah santannya dan dimasak dengan nangka muda. Parutnya pakai kaleng sarden yang dilobang-lobangi dengan paku. Ikan keringnya digoreng di atas wajan kecil. Untuk mengulek sambel, terasi bakar dan cabe dimasukkan ke kaleng sarden dan digerus dengan kayu.

Makan saat begitu sedap, bisa sampai keringatan. Semua memang enak kalau perut sudah keroncongan.

Serdadu Indonesia kalau tak merokok sehabis makan mukanya sumpek. Kalau rokok sudah habis, akal mereka jadi panjang. Serbuk teh digulung dengan kertas apa saja sebagai pengganti rokok. Mengepul juga.

Urusan minum, biasanya 2 sampai 3 gelas dipakai untuk semua mulut. Mereka sudah biasa dan itu urusan kecil.

Kalau ada teman sakit parah di kolam, semuanya merawat. Ransel si sakit dicopot dan isinya dibagi rata ke yang sehat. Sakitnya Rajawali tak jauh-jauh dari tipus, turun bero, bahu keple, dan gatal-gatal.

Jika BOD (Basis Operasi Depan) pindah, Anda sukar menemukan jejak Rajawali. Semua sampah ditanam. Bekas galiannya ditutupi dedaunan sehingga tanah di situ seperti tak pernah diinjak laras saja.

Kalau di tengah hutan Aceh Anda mendengar SS-1 menyalak dua-dua kali, itu tembakan khas Rajawali. Kalau ada “Purpa” (Pertemuan Perjumpaan), setiap serdadu akan mengejar sasaran seperti orang kesurupan.

“Ciiiiihuuuyyyy- Ciiiiihuuuyyyy- Ciiiiihuuuyyyy- Ciiiiihuuuyyyy- Ciiiiihuuuyyyy- Ciiiiihuuuyyyy ….” Sambil berteriak, mereka akan berlari zig-zag, mendekat ke arah sasaran. Tapi larinya hanya sebentar-sebentar. Tiga detik tiga detik. Mereka mengantisipasi musuh yang bisa membidik sasaran hanya dalam tempo tiga detik.

Sekali masuk kolam, Rajawali kadang tahan sampai 15 hari. Selama itu mereka diharamkan jalan di jalan setapak apalagi beraspal. Mereka dilarang bertemu penduduk. Selama itu, mereka akan mengecek setiap sasaran-duga yang sudah digariskan dalam perintah operasi. Kadang, mereka akan mengendap di tempat-tempat tertentu yang berdasarkan informasi intelejen sering dilewati GAM.

Sebelum pengendapan, separuh regu sudah masuk melakukan pengintaian medan, sore harinya. Separuh kekuatan masuk. Menjelang malam, separuh dari serdadu yang berangkat mengintai medan kembali menjemput sisa pasukan.

Di tempat pengendapan, biasanya di pinggir desa, mereka akan membuat formasi bersaf. Ujung empat orang, tengah empat orang, ujung satu lagi empat orang. Ujung ke ujung disambung dengan tali. Tali itu jadi sarana komunikasi utama selama pengendapan yang wajib hukumnya senyap dan tak boleh ada cahaya.

Anda jeli kalau lewat di depan tempat pengendapan dan tahu kalau tiga-empat meter dari tempat Anda berdiri ada serdadu yang tengah membidikkan larasnya ke wajah Anda. Mereka memang dibekali cat wajah untuk penyamaran. Warnanya ada yang hitam, cokelat, abu-abu, dan hijau.

Rajawali bukan barang asing bagi seisi hutan. Kalau lagi mengendap, burung pun kadang lupa kalau yang dihinggapinya itu punggung manusia. Rajawali dikenal dengan kesabaran dan keuletannya. Mau panas mau hujan, mereka akan tetap di tempat pengendapannya sampai ada perintah pemindahan BOD.

“Hujan kawan. Panas kawan,” kata seorang serdadu menirukan doktrin prajurit infanteri.

Rajawali telah dididik untuk menembak tepat: titik-bidik-titik-kena. Latihannya banyak. Ada tembak jarak, ada tembak reaksi. Tembak jarak, mereka dididik untuk menembak sasaran berdasarkan aba-aba pelatih. Saat pelatih meneriakkan “Dua 50” misalnya, serdadu mesti menembak sasaran 50 meter dari posisinya, arah jam 2. Ya, kurang lebih mirip lah dengan gaya jejaka kota membisiki rekannya kalau ada gadis cantik yang berdiri di sebuah tempat.

Tembak reaksi lain lagi. Di sini mereka dilatih menembak skip bergerak dan statis, muncul sesaat lalu tenggelam. Skipnya selalu tiga berdampingan: pak haji, pemuda berpakaian loreng dan perempuan berjilbab. Salah satu dari tiga orang itu bersenjata. Hanya mata yang awas yang bisa menembak tepat. Salah dihukum. Hukumannya, menembak lisan (pakai suara mulut) hingga amunisi dalam dua boks peluru habis. Satu boksnya sekitar 1.500 amunisi.

Seorang kopral kepala yang pernah ikut pendidikan Rajawali tahun 1995 bercerita kalau saat latihan dulu Prabowo Subianto menyediakan tiga truk amunisi tajam. Katanya, biaya latihan untuk 2.000 orang waktu itu sampai Rp 5 miliar. “Memang yang harus jadi pimpinan di militer itu orang kaya.”

Bagi pasukan Rajawali, orang Kopassus utamanya, menembak dengan peluru tajam bukan hal asing. Tiap hari di markas latihannya ya itu: menembak, menembak, dan menembak. Kalau tidak menembak sambil tiarap, ya menembak sambil duduk, atau menembak sambil berdiri, atau menembak sambil berlari. Seorang prajurit Kopassus sampai bilang ke saya, “Mas kalau ada keluarga yang mau dagang tembaga datang saja ke Serang. Selongsong di sana tinggal disekop.”

Sebenarnya, batalion kerangka yang diberangkatkan ke Aceh juga mendapat pelatihan menembak. Hanya saja mereka hanya diberi bekal beberapa lusin peluru hampa. Kalau itu habis, menembak kadang pakai mulut: “Dor-dor-dor.”

Ada yang latah. Seorang bintara bercerita ke saya kalau ada anak buahnya yang nyaris menembak GAM. Sasaran sudah segaris dengan pisir-pijera. Kunci senapan sudah dibuka. “Dorrrr” Yang ditembak tidak apa-apa. Dia hanya terkejut mendengar suara tembakan seperti saat latihan perang-perangan.

Bukan Rajawali kalau tidak hapal yel-yel dan mars Rajawali. Mereka biasanya meneriakkan yel-yel dan mars itu saat latihan atau sehabis mendapat pucuk. “Uh, gembiranya sukar dilukiskan,” kata seorang Sersan Satu yang bersama anak buahnya pernah mendapat sepucuk Gerund.

Marsnya singkat: “Majulah Satgas Rajawaliiii / Kembangkan sayap-sayapmu / Dideru angin / Diterpa badai / Diterjang peluru / Tak gentarrrrr jiwa kamiiii / Rajawaliiii … Rajawaliiii. Hei!”

Tapi saya kira Anda akan tertawa kalau melihat melihat mereka meneriakkan yel-yel Rajawali. Ini perpaduan suara keras, kepalan tangan dan sedikit kelenturan jemari. Pertama, dengan tangan terkepal, mereka akan meninju langit dua kali diiringi teriakan: “Rajawali! Rajawali!” Lalu dengan tangan kiri mereka melakukan hal serupa sambil berteriak: “Pemburu. Pemburu.” Setelah itu, mereka akan mengayunkan tangan kanan dua kali dengan bergetar-getar, meniru kepak sayap burung Rajawali, dan diiringi teriakan: “Ciiiihuuyyy, Ciiiiihuuuyyy.” Sudah itu, tangan kanan yang sama disentak ke bawah disertai teriakan “Merah Putih, Yes!”

Untuk mengetahui apakah yel-yel itu sudah dilantunkan dengan benar, komandan biasanya hanya melihat urat leher serdadu. Kalau sudah menonjol, itu artinya teriakannya sudah pas. Kalau belum, ulangi sampai bisa.

Mereka yang pernah ikut pendidikan Rajawali akan menempelkan brifet Rajawali di seragamnya. Brifet itu bergambar burung Rajawali memegang sebilah pedang dengan mata merah. “Brifet ini pakainya saja yang gagah. Tapi tugasnya … Alamak ….”

Jadi prajurit Rajawali memang susah apalagi kalau komandannya gemar FC (full contact). Saya pernah bertemu seorang komandan pos Rajawali yang sikapnya membuat 30 orang anak buahnya tak pernah bisa istirahat tenang dalam seminggu. “Di pantatnya seperti ada paku. Maunya masuk kolam terus,” kata seorang serdadu.

Sayang, saya tak bisa akrab dengan komandan itu. Persoalannya sederhana. Dia alergi melihat di leher saya selalu tergantung kartu pers. “Tutup-tutup ini … Saya risih banyak pelanggaran HAM,” katanya saat saya duduk di dekatnya suatu waktu.

Entah pelanggaran hak asasi mana yang dimaksudkannya. Tapi dari seorang anak buahnya, saya mendengar cerita ini:

Suatu malam pasukannya mengendap di wilayah Babah Aweh, Kecamatan Jaya. Ada tiga orang yang melintas di tempat pengendapan. Mereka terkejut begitu tahu ada belasan tentara yang tiarap di pinggir jalan.

Saat disuruh berhenti dan angkat tangan, ketiga orang itu segan melakukannya. Pelan-pelan mereka mundur ke bahu jalan. Salah seorang di antaranya berusaha meraih sesuatu di kantong plastik yang dijinjingnya. Belum sempat, tembakan menggema.

Keadaan gelap. Yang tidak melihat dengan baik ketiga orang itu ikut menembak.

Tembakan berhenti. Begitu didekati, ternyata masih ada seorang yang hidup. Tak ada setitik pun badannya yang lecet akibat tembakan beruntun tadi. Rupanya, dia menenggelamkan badan di gundukan tanah di pinggir jalan.

“Sekolahkan saja. Siapa yang mau?” komandan peleton itu menawari anak buahnya. Dia yakin ketiga orang itu GAM. Di kantong plastik tadi anak buahnya menemukan sebuah pistol rakitan.

Dari belakang, seorang serdadu muda bergegas. “Danru … Danru … biar saya.”

Tawanan itu diminta berjongkok. Sebutir amunisi menembus kepalanya, dari dekat. “Crook … Crookk.” Darah muncrat dari kepala. Mengira masih hidup, serdadu muda itu mengarahkan larasnya ke punggung korban. “Tak-tak-tak.” Tiga amunisi 5,56 mm bersarang.

Setelahnya, komandan regu meminta serdadu muda itu untuk mencicipi darah orang yang ditembaknya. Ada kepercayaan di kalangan tentara (dari Makassar) bahwa mencicipi darah orang yang telah dibunuh akan menghilangkan bayang-bayang wajah korban yang bakal menghantui.

Saat pulang ke pos, serdadu muda itu mengeluh ke komandan regunya.

“Danru, perut saya mual.”

“Kau minum apa tadi?”

“Darah itu,” katanya seraya menunjukkan ukuran darah yang diminumnya: dua genggaman tangan.

ke halaman –> 4

lanjut ke halaman -> 6