Tagged with puisi

Nocturno

Nocturno

…………………………………….. Aku menyeru – tapi tidak satu suara membalas, hanya mati di beku udara. Dalam diriku terbujur keinginan, juga tidak bernyawa. Mimpi yang penghabisan minta tenaga, Patah kapak, sia-sia berdaya, Dalam cekikan hatiku. Terdampar… Mengenyam abu dan debu. Dari tinggalannya suatu lagu. Ingatan pada Ajal yang menghantu. Dan dendam yang nanti membikin kaku… …………………………………… Pena … Baca lebih lanjut

Yang Dikenang Dan Yang Dilupakan

Yang Dikenang Dan Yang Dilupakan

Aku tak pandai lagi memasang luku. Ketika Ibu meninggal kutulis sajak tentang derita — Dunia melupakannya. Kemudian kutulis cerita bagaimana ia naik ke sorga. Dunia terharu — Tentang duka tak sepatah. Pedang dan tombak kini terbalut debu. Tinggal aku mencatat: Penyair selamat menyeberang danau perahunya di pantai tinggal kerangka. . . . . . Update … Baca lebih lanjut

Jika Kelak Umur Beranjak Dan Di Bumi Kita Masih Bersama Menjejak

Jika Kelak Umur Beranjak Dan Di Bumi Kita Masih Bersama Menjejak

Jika kelak umur beranjak dan di bumi kita masih bersama menjejak, aku harap Tuhan mengingatkan istriku, Mizah -perempuan yang telah kupilih dari yang banyak, dan telah memilihku pula dari yang banyak- untuk membacakannya ini sajak: Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu Sementara kau kenangkan encokmu kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang Dan juga … Baca lebih lanjut

Isa

Isa

kepada nasrani sejati Itu Tubuh mengucur darah mengucur darah rubuh patah mendampar tanya: aku salah? kulihat Tubuh mengucur darah aku berkaca dalam darah terbayang terang di mata masa bertukar rupa ini segara mengatup luka aku bersuka Itu Tubuh mengucur darah mengucur darah {Chairil Anwar, 12 November 1943}

Selama Azazil Bukan Chairil

Selama Azazil Bukan Chairil

Aku ingin hidup selama Azazil. Bukan selama pinta Chairil. Mencicipi keabadian jadi petualangan. Biarpun tahu kecupan lekas tinggal kenangan. Aku tak ingin hidup seribu tahun lagi, tidak seperti Kawan lamaku berlagu Doa. Berlari habis-habisan mengobar api, lalu menyerah di bawah derai-derai cemara. Tuhanku, Tuhanku! Aku mau hidup selama Azazil. Biarpun di pundak memikul dosa. Biarpun … Baca lebih lanjut

Demikianlah, Chril!

Demikianlah, Chril!

Hidup cuma menunda kekalahan. Tambah jauh dari cinta sekolah rendah. Demikianlah katamu. Demikianlah makna kata menemu. Itu kata mengucur luka. Mengucur duka. Aku dan dia yang sama berkaca dalam kata, sama bertanya, bisa jadi sama ‘nerima. Setelah sama tiba di satu langkah, seperti di Karawang kau melangkah di kerlingan Hafsah. Bertemu orang sebelah. Sepadan pakat … Baca lebih lanjut

Sebuah Jika (Dalam Sebuah Saduran)

Sebuah Jika (Dalam Sebuah Saduran)

Jika saja kelak bisa kutinggalkan dunia ini hidup-hidup Kuterimakasihkan segala apa yang pernah kau lakukan dalam hidupku yang redup. Jika saja kelak bisa kutinggalkan dunia ini dengan bernyawa Aku akan turun kembali dan duduk di sisi kakimu di malam begini. Dimana juga ‘ku berada kau selalu saja lebih dari sekedar ingatan semata. Jika saja kelak … Baca lebih lanjut

Pelarian

Pelarian

(Cerita Buat Gadis N.A.) Pernah dia datang membawa setangkai bunga matahari. Tadah matanya rindu tenang minta diselami. Di bibirnya terselip madu Di jariku tersalib racun. Sebinar matanya merayu Membakar aku dicumbu lamun. Sebelum tulang tertenun jadi debu: Itu bibir minta kulum, minta kuracuni sekecup cium. Tapi ada suara dalam hatiku menggugat sendiri: Cintakah ini, ataukah … Baca lebih lanjut

Tango Pembunuh

Tango Pembunuh

Seirama kaki perlahan merentak. Serempak akordion mengalun bergerak. Senada gesek selo dan biola Sealun petikan gitar bersuara. Dan biola sedih melengking jauh Dalam irama dansa tango pembunuh Diredam gitar mendenting teduh Hilang secupak jemu, hilang secepuh jenuh. Oh, siapa bilang, “It takes two tango, my dea…r!”? Resapi ini musik dan teman berdansa akan hadir Dalam … Baca lebih lanjut