Tagged with sastra

Nocturno

Nocturno

…………………………………….. Aku menyeru – tapi tidak satu suara membalas, hanya mati di beku udara. Dalam diriku terbujur keinginan, juga tidak bernyawa. Mimpi yang penghabisan minta tenaga, Patah kapak, sia-sia berdaya, Dalam cekikan hatiku. Terdampar… Mengenyam abu dan debu. Dari tinggalannya suatu lagu. Ingatan pada Ajal yang menghantu. Dan dendam yang nanti membikin kaku… …………………………………… Pena … Baca lebih lanjut

Yang Dikenang Dan Yang Dilupakan

Yang Dikenang Dan Yang Dilupakan

Aku tak pandai lagi memasang luku. Ketika Ibu meninggal kutulis sajak tentang derita — Dunia melupakannya. Kemudian kutulis cerita bagaimana ia naik ke sorga. Dunia terharu — Tentang duka tak sepatah. Pedang dan tombak kini terbalut debu. Tinggal aku mencatat: Penyair selamat menyeberang danau perahunya di pantai tinggal kerangka. . . . . . Update … Baca lebih lanjut

Jika Kelak Umur Beranjak Dan Di Bumi Kita Masih Bersama Menjejak

Jika Kelak Umur Beranjak Dan Di Bumi Kita Masih Bersama Menjejak

Jika kelak umur beranjak dan di bumi kita masih bersama menjejak, aku harap Tuhan mengingatkan istriku, Mizah -perempuan yang telah kupilih dari yang banyak, dan telah memilihku pula dari yang banyak- untuk membacakannya ini sajak: Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu Sementara kau kenangkan encokmu kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang Dan juga … Baca lebih lanjut

Demikianlah, Chril!

Demikianlah, Chril!

Hidup cuma menunda kekalahan. Tambah jauh dari cinta sekolah rendah. Demikianlah katamu. Demikianlah makna kata menemu. Itu kata mengucur luka. Mengucur duka. Aku dan dia yang sama berkaca dalam kata, sama bertanya, bisa jadi sama ‘nerima. Setelah sama tiba di satu langkah, seperti di Karawang kau melangkah di kerlingan Hafsah. Bertemu orang sebelah. Sepadan pakat … Baca lebih lanjut

Intuisi Dua Nyawa

Intuisi Dua Nyawa

Ketika senja turun dan kepak-kepak kelelawar terlihat terbang untuk pulang ke rimba di akhir bulan ke delapan, apa yang kulakukan cuma hal biasa: menatap senja dari bagian puncak rumah. Ritual dimana kata sering kehilangan makna untuk memberitahu apa yang terasa jika melihat langit menjadi jingga, atau matahari tenggelam di cakrawala. Dimana kata sering tak bisa … Baca lebih lanjut

Hikayat Musang Berjanggut

Hikayat Musang Berjanggut

Gambar di samping ini adalah sampul dari sebuah komik lawas yang sudah menghilang dari koleksiku. Sudah lebih duluan menghilang daripada Bob Napi Badung edisi Penjara Mewah yang kupostingkan kemarin itu. Sebuah komik yang pernah dimuat sebagai cergam bersambung di Harian Waspada, salah satu harian terbesar di kawasan Sumbagut yang dilanggani keluarga jauh sebelum munculnya Harian … Baca lebih lanjut

Matinya Seraut Kupu-kupu

Matinya Seraut Kupu-kupu

Malam itu seraut kupu-kupu meregang ajal di kamarku tubuhnya terancam kaku Sayapnya gemetar sewarna kelabu. Napas sehela sedetik waktu lirih ia mendesis sesepi bisu, “Jangan bilang ibu aku di sini denganmu…” Oh, hidup yang semu Dengan cah’ya bulan dia menyeruak dari jendela Menghantar diri untuk dicinta “Aku tahu hidup sesaat saja, berilah aku sentuhan mesra…” … Baca lebih lanjut

Etika Meja Makan

Etika Meja Makan

Jika di meja makan siang itu tiap tetamu punya pistol dan belati pengganti sendok dan garpu, segala pangkat akan melenyap, Kawanku. Dan para tuan ambtenaar eselon sekian-sekian di rumah wabup itu akan sama sopan dan sama rakusnya dengan para pencuci pinggan yang sudah lelah seharian. Kita tak akan mendengar omong-kosong tentang tamu VVIP, tamu VIP … Baca lebih lanjut