Yang Pernah Gembira Berseru Kini Membisik Bisu, Dalam Diam Terindukan Juga Masa Orba Dulu

Dua hari yang lalu, aku bertandang ke kantor seorang kawan lama di Jakarta Selatan, seseorang yang sudah kuanggap saudara juga, meski cuma dua kali kami pernah ketemu berhadap-hadapan. Sekali di Jakarta, saat marak Pesta Blogger 2010, dan sekali lagi di Medan, saat dia singgah di kota itu kala mudik ke kampungnya di Nias sana.

Keakraban kami, anak-anak Sumatra ini, sudah bertahun berjalan. Bermula dari milis-milis. Mulai dari yang sok-sok-an serius macam ApaKabar di Yahoo Groups jauh sebelum adanya Gmail, sampai cekakak-cekikik di era di mana Facebook & Twitter berduet sebagai penampung kebisingan internet saat ini. Entah itu berolok-olok hal-hal ringan seperti pengalaman masa kecil, atau hal-hal agak berat soal agama dan filsafat. Yang jelas, kami acap berlelucon satu sama lain, terutama soal perbedaan di antara kami.

Meski sama-sama orang dari pulau Sumatra, kami memang beda.

Dia orang Nias. Aku orang Aceh.

Dia kristiani, dari keluarga bermazhab Protestan, lahir dan besar di daerah di mana Kristen adalah mayoritas. Aku muslim, dari keluarga bermazhab sunni, lahir dan besar di daerah di mana jumlah penganut Islam adalah yang tertinggi di Indonesia: mencapai 98,5%.

Latar-belakang yang berbeda itu lah kadang-kadang acap kami obrol-obrolkan. Terkadang agak serius, tapi lebih sering berkelakar. Terutama, jika bicara soal masa-masa kanak dan remaja kami masing-masing, saat berhadapan dengan pergaulan yang berbeda. Dia dengan teman-teman non-Kristen di Pulau Nias sana, dan aku dengan teman-teman non-muslim di tempatku. Dengan lintas suku bangsa yang pernah hadir dalam masa silam kami di tempat yang berbeda. Cerita-cerita macam itu yang acap kami pertukarkan.

Seperti juga dua malam yang lalu. Dari Bogor turun di Pasar Minggu, dan lalu berhenti di kantornya di mana pohonan masih ada, segar dan rindang, di kawasan Jakarta Selatan. Ngobrol-ngobrol lah kami begadang, habis rokok habis kopi, sulut lagi seduh kembali. Silih-berganti cerita, tentang masa silam dan masa kini. Tentang pandangan kami masing-masing, tentang kehidupan daerah dan kehidupan agama di daerah kami. Tentu tak lewat pula fenomena macam heboh pilpres dan kemelut politik yang berekor sesudah itu. Tentang sosok-sosok kontroversial yang menebar sentimen agama atau ras di media sosial, yang tak lain adalah buntut dari fanatisme politik dalam pilpres yang lalu. Tentang kasus-kasus shariah di Aceh dan sikap konyol birokrat di sana dalam memanfaatkan isu tersebut, dan tentang cerita di balik semangat natalan di Nias yang pernah dimanfaatkan oleh rezim setempat pula. Tentang teman-teman yang masih sama atau sudah berubah dari yang pernah kami kenal-kenal dulu.

Hingga kemudian, ketika agak-agak letih juga muncung kami bergelak-gelak ketawa, mungkin sudah membara bibir dihajar rokok pengawan cerita, agak senyap juga kami. Lalu, tercetus juga kata-kataku, tentang Orde Baru. Tentang “enak jamanku” itu.

Kukatakan padanya: pernah sekali terlintas, dan lalu terucap olehku pada istriku, kala melihat gambar semacam gambar di bawah ini, bahwa jika ada hal yang diam-diam kurindukan dari masa Orde Baru, adalah penghargaan terhadap keberagaman.

85bc9b2176

Aku bisa mengenal orang-orang berbeda agama dan suku bangsa, bahkan di daerahku sendiri yang mayoritas bersuku bangsa Aceh dan muslim. Aku bisa memandang mereka, yang minoritas, bukan sebagai ancaman, tapi sebagai bagian dari kami. Begitu juga dengan mereka. Tak ada rasa takut-takut macam pasca reformasi, untuk menampakkan siapa diri mereka, apa identitas mereka. Bagaimana budaya mereka. Karena mereka, seperti kami, seperti aku dan dia, macam ada jaminan dari langit untuk jangan takut menunjukkan apa suku bangsamu, apa agamamu, apa kulturmu, siapa engkau, darimana leluhurmu. Ada kesadaran dan penerimaan satu sama lain bahwa setiap dari kami adalah kepingan-kepingan sejarah yang membentuk zaman kami, yang membentuk siapa kami kini dan nanti.

Aku katakan pada kawanku itu: di masa kecil dan remajaku dulu, prosesi kematian orang Cina adalah hal biasa bagi kami. Prosesi dimana anak-anak keturunan Tiongkok itu mengenalkan pada kami topi runcing putih ala Ku Klux Klan, jauh sebelum kami melihat topi serupa itu dalam film Bad Boys-nya Will Smith. Kami lalu akan melihat sebuah kebudayaan lain, yang berbeda dari kami, di depan mata kami digelar. Tanpa rasa was-was bahwa kebudayaan itu adalah seperti VOC yang akan menginjak-injak surau Melayu di depan toko bapakku di kota Blangpidie. Bahkan, acap pula jika yang meninggal adalah kenalan bapakku, beliau ajak juga aku untuk sekedar bertamu. Meski tak harus bertunduk-tunduk kami di depan foto orang meninggal yang harum beraroma hio.

Kalau ada kenduri orang Cina, di masa remajaku, sudah acap pula aku dan kawan-kawanku hadir. Singgah ke rumah kawan yang keluarganya kenduri itu. Kami ramaikan juga. Malam kami meriahkan dengan main batu domino di meja-meja kecil yang sudah disulap menjadi lapak permainan. Megah bangga kami berlomba menghantam balak di lapak-lapak tersebut.

Di masa itu, kami, orang tua kami, penduduk kami, sadar bahwa orang-orang minoritas demikian, terutama dominan orang Cina, berbeda dari kami. Bahkan jika pun ada yang masuk Islam, dia tetap kami anggap sebagai orang Cina. Secara ras. Secara kultur. Namun tanpa rasa memusuhi atau menganggap mereka orang asing sama sekali yang harus dipandang dengan penuh syak-wasangka. Demikian juga dengan mereka. Bahwa ada satu-dua yang menjaga jarak, biasanya itu tak lama. Itu keluarga Cina baru datang, entah dari Medan atau dari Batam. Namun, hampir semua kehidupan kami di masa dulu, adalah kehidupan yang benar-benar menghargai perbedaan itu. Di saat mungkin daerah lain seperti di Jawa, nama-nama Cina tak umum, hampir semua berganti dengan “Susanto”, “Budianto”, dan sejenisnya, di kampung kami, nama Cina dan sapaannya tetap lah nama dan sapaan Cina. Kawanku ada yang bernama A Lek, A Kong, dan A Cui. Penjual roti bakar paling mahsyur di kota kami sejak remajaku adalah seorang Cina gendut bernama A Kiong. Temanku ada anak Cina yang masuk Islam, sementara bapaknya buka bengkel dan tersohor dingin tangan soal mesin. Tak ada di Blangpidie, di kota dimana aku tumbuh besar, orang tak kenal dengan Cu Ming, yang biasa ditulis orang “Cuming” saja. Bergaul dia dengan warga sudah macam dia itu leluhurnya dari situ. Begitu akrab, hingga anak-anaknya diangkat anak oleh Haji Asrul, tokoh masyarakat di daerahku, bapak salah satu kawan dekatku sejak SD. Hingga kemudian anak-anaknya masuk Islam, disunatkan oleh Pak Haji, sementara dia tetap memeluk agama lama, tak ada konflik apa-apa sama sekali. Mereka sudah macam saudara, baik sebelum atau sesudah kulup di penis anaknya dipenggal oleh pisau pak mantri.

Namun, seperti juga kerisauan temanku anak Nias itu, pasca reformasi, ada yang terasa diam-diam hilang soal penerimaan dan penghargaan pada keberagaman tersebut. Yang mencuat justru sikap xenofobia, dan sayangnya, sikap ini seakan sudah lumrah, jika malah bukan dicari-cari justifikasinya pada dalih agama atau dalih sejarah yang justru melenceng jauh.

Sebut lah dulu di Aceh sempat ada salah satu birokrat menyoal rencana mau diadakannya pertunjukan Barongsai dan seni-budaya Cina lainnya, di awal-awal Syariat Islam ditetapkan di Aceh. Konon, ada ketakutan bahwa barongsai akan memengaruhi kultur-budaya Aceh. Dan berdampak pada nilai-nilai syariat Islam. Kejadian di saat aku masih kuliah itu, membuat aku melongo dan heran, betapa ada birokrat-birokrat buta sejarah macam itu bisa diletakkan pantatnya di kursi pemerintahan. Tidakkah dia tahu, bahwa jauh sebelum Amien Rais jadi pahlawan di siang bolong mahasiswa menduduki gedung dengan atap model belah pantat di Jakarta sana, jauh sebelum Megawati menjadikan Syariat Islam sebagai bumbu negosiasi dalam mengatasi konflik Aceh, bahkan jauh sebelum Soekarno datang merengek modal beli pesawat terbang ke pangkuan Daud Bereueh, kebudayaan Cina sudah ada di Aceh? Dia kira asal mula nama Peunayong, salah satu nama pecinan di Banda Aceh itu datang dari mana? Timur Tengah? Samudra Pasai? Pemberian Turki Ottoman?

Hal-hal begitu yang membuat aku merasa bahwa ada yang dihembus hilang dari era reformasi yang konon katanya lebih bebas ini. Di masa dimana Aceh menjadi daerah operasi Jaring Merah, bahkan di masa akhir abad 20, ketika konflik GAM jilid II berkecamuk, orang-orang minoritas bisa hidup dalam perbedaan dengan kami. Dengan kebudayaan mereka. Dengan seni mereka. Guruku di bangku sekolah yang Batak Kristen, masih pakai rok selutut dan tak memakai jilbab atau bahkan kerudung. Temanku Ucok Tohang, kalau lagi kami ajak buka puasa bersama, depan kami dia berdoa dengan cara berbeda. Dengan cara penganut Katolik. Tak ada ketakutan menunjukkan diri mereka siapa, baik ketakutan dari mereka sendiri atau ditakut-takuti oleh orang-orang di luar mereka. Bahkan selama konflik bersenjata, tak ada sebutir peluru pun ditembakkan pada orang-orang minoritas karena ketakutan akan perbedaan demikian. Tak ada wihara pernah dirubuhkan. Tak ada gereja pernah digranat runtuh.

Aku dan temanku anak Nias itu, merasakan kegundahan yang sama. Malam dimana kami begadang ngobrol-ngobrol itu, kami memang macam merasakan desir-desir rindu pada masa Orde Baru. Bukan pada hadirnya rezim begitu lagi, atau pada kuatnya akar beringin mencengkram hingga ke baju Korpri-nya PGRI. Bukan pada retorika “lepas landas” dan jargon-jargon repelita. Tapi pada hal sederhana dan sepele saja: pada kehidupan dimana temanku yang Kristen di Medan minta tolong kupinjamkan mobil pamanku untuk keluarganya ke gereja. Atau bermain video game di rumah temanku Ucok Tohang di ruang di mana ada Yesus disalibkan di dinding rumah mereka, tanpa aku merasa bahwa rumah itu haram kupijak atau bapakku datang dan menyuruhku pulang sebab takut akidah anaknya tersesat.

Kami, memang melihat masa di mana gerakan yang konon mereformasi segalanya telah hadir di tahun 1998, di zaman di mana pers begitu bebas, di mana sosial media begitu riuh, di mana FPI bisa bikin gubernur tandingan dan orang-orang di parlemen tak lagi “koor setuju” macam sindiran Iwan Fals, melainkan berseteru bikin dua kubu; merasakan ada yang dulu kami sikapi dengan gembira berseru, seperti temanku menikmati meriam bambu anak-anak muslim di Nias kala lebaran atau aku mendengar lagu-lagu rohani dibawakan temanku kala liburan ke Medan di hari dimana dia baru pulang Natalan tanpa merasa dia sedang ber-misionaris-ria padaku, kini seperti bisik-bisik yang makin pelan membisu. Yang mayoritas ketakutan sendiri dengan perbedaan yang dibawa oleh minoritas, sementara yang minoritas, kikuk dan seperti merasa diancam oleh para koboi tak bernama yang siap menggantung mereka jika mereka menunjukkan bahwa mereka adalah seorang muslim, seorang kristen, seorang Cina, seorang Dayak, seorang Jawa atau Papua, di tanah yang berbeda. Aku bahkan sudah lama tak pernah melihat lagi ada pagelaran wayang kulit atau wayang golek di wilayah perkebunan Nagan Raya di kabupaten sebelahku. Mungkin dilakukan diantara mereka saja, entah. Hanya saja, dulu aku acap ikut kawanku, abang sepupu dari wanita yang kelak jadi istriku, ke kawasan tersebut setiap ada hari pasar. Sementara dia berjualan baju, aku keliling jalan-jalan melihat ada benda Jawa apa saja dijual di situ. Pernah kubeli blangkon di situ, lalu kupajang di atas meja belajar kamarku. Walau bukan karena mengingat itu khas Jawa semata, melainkan lebih karena kesan ulama yang kukagumi dari tanah Jawa sana: Sunan Kalijaga. Sunan berblangkon. Satu dari ulama-ulama Wali Songo yang tetap menjaga identitasnya sebagai seorang Jawa.

Namun, seperti daun-daun meranggas di musim pancaroba, seperti itu pula aku melihat hal-hal begitu gugur atau digugurkan oleh sentimen-sentimen keblinger.

Aku sudah lama tak menulis postingan blog di sini, sejak catatan milad anakku yang ke dua tahun. Namun kemarin, sepulang dari tempat kawanku anak Nias itu, saat tiba di Bogor, aku menemukan cuplikan tulisan JJ Rizal. Tulisan kritiknya atas pembelokan sejarah tentang keberagaman dan penerimaaan atas keberagaman itu, dalam sejarah orang Betawi. Baru dua malam lalu hal itu kuobrolkan dengan temanku, dan sepertinya, kami memang tak sendiri dalam menghadapi sikap-sikap xenofobia, ketakutan pada sesuatu yang asing, semacam itu. Sikap-sikap dari orang yang entah memang tak tahu sejarah kebudayaan, atau memang sengaja menepikan sejarah kebudayaan itu sendiri, cuma demi kepentingan kelompok atau individu semata. Atau cuma demi memuaskan kebencian dan rasa sentimen dalam diri mereka.

Aku tak tahu pasti, apa alasan paling pasti dalam hati orang-orang begitu. Mungkin JJ Rizal juga tak tahu (tapi dia tahu ada yang harus diluruskan. Dan dia luruskan kilah-kilah politik yang sesat sejarah begitu).

Aku cuma tahu bahwa, memang orang-orang macamku, yang tumbuh besar justru dalam kultur mayoritas namun bisa berdampingan dengan mereka yang minoritas-minoritas, diam-diam ada rasa rindu pada masa Orde Baru dulu. Pada penerimaan akan perbedaan di saat itu…

Dan aku berharap, anakku kelak tidak akan melenceng jauh dari itu. Sedapat mungkin aku ingin mendidik dia untuk hidup dengan penuh harga diri, menghargai siapa diri dia sendiri, suku bangsa apa dia, apa kultur yang membesarkannya, apa budaya yang sudah membentuk dia melalui ayah dan bundanya, dan di saat yang sama dia menghargai orang-orang yang berbeda dengannya, yang juga memiliki hak yang sama menjunjung harga diri mereka akan identitas mereka sendiri.

Sebab, mungkin cuma itu saja yang orang-orang macamku bisa lakukan. Setidaknya, kalau pun nanti tak semeriah gelak tawa kami dalam perbedaan dulu, tidak lah bisik-bisik bisu yang tersisa lalu bisu sama sekali, dan dunianya menjadi dunia yang hitam-putih: jika kau bukan dari kaumku, kau ada lah musuhku.

Semoga tidak. Jika pun hampir-hampir begitu, semoga masih ada orang-orang macam JJ Rizal dan para sejarahwan lain datang mengingatkan: bahwa sejarah tidak dibentuk oleh satu garisan darah belaka, atau satu warna tinta saja. Sejarah adalah mozaik di dinding-dinding peradaban manusia, dimana warna-warna berbeda, bentuk beraneka, membentuknya menjadi sesuatu yang beridentitas, berseni dan berbudaya. Hal-hal yang menjadi bagian keistimewaan manusia dibandingkan dengan lain mamalia.

One thought on “Yang Pernah Gembira Berseru Kini Membisik Bisu, Dalam Diam Terindukan Juga Masa Orba Dulu

  1. berat, kajian tulis kali ini….biasanya ringan, renyah dan mengenakkan….haha

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s