Rima Ababil

Karena memang mesti ada yang turun dan mengatakan pada mereka, pada para penguasa, pada Cikeas, pada besanan Rajasa, pada istana, pada gedung parlemen, pada koalisi partai berdagang sapi di ruang lobi: bahwa di atas langit masih berlapis-lapis lapisan langit, dan di bawah tanah masih berlapis–lapis kerak neraka, sehingga siapa pun mereka yang merasa dirinya tuhan-tuhan di negeri ini adalah pendusta; pasca satu dasawarsa rubuhnya dua menara, pasca pertanda akhir zaman membawa pancaroba tanah dan angkasa, tentang rakyat yang bernazar hidup tanpa hamba dan paduka. Rakyat yang bersenyawa dalam hembusan nafas Garuda Pancasila, yang tak pernah memiliki apa pun, tak juga surga tak juga neraka.

Karena memang mesti ada para muda-muda turun ke jalanan, mendobrak pagar bangunan sarang para pengklaim kebenaran. Mendobrak gerbang dimana kebusukan berjamaat merasa jumawa meminta patuh semua nyawa, dimana tuhan jejadian di bawah kubah Senayan memainkan drama negara tentang heroisme yang berganti nama menjadi subsidi berpagar konstitusi. Hingga hilang makna segala angka yang menjadi maka dan maka, dalam suguhan statistik dengan kawalan moncong senjata dan belasan unit SSK, untuk menjaga stabilitas dari mereka yang menolak membuang Pancasila sebagai panduan kebenaran, kala janji akumulasi nilai lebih, bursa saham diperdagangkan dengan semantik-semantik kekuasaan yang cuma berarti di periode berkala para representatif di gedung parlemen memulai tawar-menawar jatah kursi dan fraksi.

Untuk mereka dan kalian yang telah keluar dari sarang-sarang kehidupan. Dari pintu-pintu pabrik. Dari pesisir lautan. Dari pinggiran sawah. Dari jendela simpan-pinjam koperasi. Untuk kalian dan mereka yang sudah, sedang dan akan mendatangi gedung-gedung parlemen, gerbang-gerbang istana dan pintu-pintu puri para menteri: biarlah sejenak kita mainkan rima ababil untuk dentuman pengiring senjakala semu derita anak negeri yang tak pernah bisa diganti seribu kali subsidi!

Untuk para demonstran muda, nikmati aspal di bawah sepatumu meski nanti kau akan meragu dan lupa pada panas rasa dada dan semangatmu!

Iklan

7 thoughts on “Rima Ababil

  1. saya suka tulisan ini, mas
    indah sekali, sungguh 🙂

    semoga mereka yg termaktub di tulisan di atas, membacanya entah kapan dan dimana

  2. @ Warm

    Semoga saja. Dari baik dan buruk, panas-dingin rasa dada dan aspal di hari-hari mereka turun ke jalan, mereka akan memiliki sebuah penilaian tersendiri di masa depan sebagai bagian dari proses kesadaran mereka menentukan kesadaran diri mereka sendiri.

    @ Aulia

    😆

    Komunitas Ababil tak demo lewat jalanan, tapi lewat tulisan :mrgreen:

  3. Saya masih inget beberapa tahun silam, waktu ada studium generale di kampus yang mendatangkan Anas Urbaningrum, saat itu Anas masih belum aktif di partai, Anas menceritakan bagaimana aktivitas di organisasi (HMI) dan kehidupan kampusnya yang sering turun ke jalan, memrotes pemerintahan saat itu, dan Anas menganjurkan pada mahasiswa agar minimal satu kali dalam sejarahnya sebagai mahasiswa untuk ikut demo, turun ke jalan, menyuarakan “keadilan / ketidakadilan”.

    dan kini, pada kehidupan generasi-generasi setelah Anas, mahasiswa turun ke jalan memrotes ketidakadilan (atas nama rakyat), memrotes Anas dkk, dan mereka-mereka yang dulu idealis, pernah “membela rakyat”. dan kemungkinan jika beberapa tahun ke depan generasi mahasiswa sekarang itu menggantikan orang orang-orang yang sekarang berada di Senayan, apakah mereka juga akan berbuat hal yang sama seperti para elit politik sekarang? atau mereka “masih” akan idealis membela rakyat? Hmmm.. mungkin ini yang dinamakan protesiklik, siklus protes yang terjadi di tiap generasi (terutama dalam sistem pemerintahan, A diprotes B, B diprotes C, C diprotes D dst.) atau mungkin juga ini memang perwujudan dari apa yang dinamakan demokrasi. Entahlah…

    Hmm….. kenapa saya bisa komen panjang begini? sudah mulai “meng-alex-kah” saya? 🙄 😎

  4. 😆

    Memang akan selalu begitu, seperti nabi-nabi datang dan pergi, kaum-kaum tobat dan murtad kembali. Demonstran itu seperti para Don Kisut yang mencari identitas masing-masing, mencari mata air segala obat manusia, mungkin akan menemukan mata air kesembuhan dan terpikir untuk membagikan demi kemanusiaan atau menjualnya demi kekayaan. Namun sejarah akan selalu menjadi perulangan abadi. Yang membedakan cuma regenerasi yang akan selalu berganti. Apakah beda hari ini menentang pemerintahan sendiri dan mereka yang dulu menentang penguasaan ladang tebu oleh kompeni? Cuma beda warna bendera dan nama negara saja.

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s