Si Bob Napi Badung: Penjara Inzepoket Dan Dompet in the Pocket

Semalam, dalam keisengan menjelajahi internet, mendadak jadi timbul rasa kangen pada komik-komik dari masa kanak-kanak dahulu. Beberapa nama komik lawas itu melintas, seperti Deni Manusia Ikan, Trigan, Tiger Wong, Pukulan Geledek, Nina, Anton dan Si Drakula Cilik, Petualangan Arad dan Maya, Tapak Sakti dan banyak komik-komik lawas lainnya.

Sisa-sisa kejayaan komik masa lalu

Maka tadi pagi, seusai sarapan kucobalah melihat-lihat kembali kamar tua yang dijadikan pustaka. Kamar di lantai dua yang disulap menjadi pustaka saat SMA, tempat dimana mahakarya-mahakarya gemilang dari masa dahulukala sudah bertumpuk-tumpuk, suci dalam debu [jadi ingat lagu Malaysia lawas :lol:]. Ternyata internet dan rutinitas harian sudah begitu menyita kedewasaan, juga meninggalkan kamar tersebut sendirian. Debu, buku-buku, majalah-majalah dan komik-komik menyambut dengan sampul Panji Masyarakat edisi ’70-an menampilkan seulas senyum semasa hidupnya Adam Malik.

Ada banyak yang tersisa, menumpuk di bawah lemari, butuh kerja rodi untuk membongkar dan bikin rapi susunannya kembali. Namun, ada lebih banyak lagi yang hilang entah kemana. Merantau hilang tujuh tahun dari kampung halaman dan pulang sesekali, merantau hilang pula banyak mahakarya-mahakarya bacaan kanak-kanakku dulu itu. Celakanya: tak seperti Empunya, itu barang merantau tak pulang-pulang. *terkutuklah sesiapa peminjam yang tak mengembalikan* Banyak edisi dari komik-komik itu hilang sehingga nomor-nomornya semrawut berceceran.

Salah satu dari edisi komik yang paling banyak hilang itu adalah sebuah komik karya Paul Deliège dan Maurice Rosy. Di Eropa sana komik ini dikenal dengan nama Bobo, di Indonesia komik tersebut dikenal dengan judul Si Bob Napi Badung, dan diterbitkan oleh Penerbit Misurind.

Komik ini merupakan salah satu komik dari Belgia yang sangat kusuka dulunya. Mungkin seperti 117 fansnya di Facebook. Kisah tentang seorang narapidana yang cerdik tapi juga sering sial dalam penjara bernama Inzepoket (atau “in the pocket” dalam aksen Perancis), dengan partner in crime yang lugu dan goblok bernama Jo Suci. Selama dalam penjara tersebut, Bob beberapa kali mencoba kabur namun semuanya berujung pada kegagalan. Cara kaburnya pun beraneka macam. Mulai dari menyamar jadi koki dapur, pengirim kentang, masuk ke dalam karung pos, sampai mengebor lantai penjara.

Karakter komik dari Belgia itu sendiri bukanlah seorang kriminal kelas kakap. Dia menjadi narapidana di penjara tersebut justru karena hal yang konyol dan tidak adil sama sekali: dijatuhi hukuman penjara 20 tahun karena mencuri sebuah sepeda. Sialnya, sepeda itu adalah milik hakim yang menjatuhkan hukuman kepadanya😆

Si Bob Napi Badung edisi yang hilang

Nah, ini edisi yang sudah lama hilang dari koleksiku dulu. Aku menemukannya dalam pencarian gambar di Google semalam. Dalam edisi ini, salah satu cerita yang kuingat adalah bagaimana Bob memasukkan sebuah cello ke dalam sel penjaranya. Alat musik gesek mirip biola berukuran besar itu diakuinya dikirim oleh temannya untuk apresiasi pada citarasa seninya yang luar biasa. Ia sedang terobsesi menjadi musisi, demikian lagaknya pada sipir penjara yang sudah su’ujon duluan, ketika Bob melintas dengan menyeret-nyeret kotak berisi alat musik tersebut di depannya. Si Sipir Penjara memaksa untuk memeriksa isi kotak cello, namun Bob bersikukuh bahwa benda itu semata-mata alat musik saja. Si Sipir baru percaya ketika Bob membuka kotak cello dan memperlihatkan sebuah cello, lalu meminta bantuan untuk mengangkatnya ke sel. Beratnya cello tersebut membuat pinggangnya Si Sipir terasa mau patah, yang menambah manjur bualan Bob bahwa cello itu adalah mahakarya terakhir dari salah satu seniman musik ternama yang mengerahkan usaha habis-habisan dalam menciptakan cello terbaik dalam hidupnya.

Namun pada kenyataannya, semua itu cuma akal bulus Si Bob saja. Cello itu menjadi berat bukan kepalang karena di dalamnya berisikan… sebuah bor raksasa. Bor yang bisa menembus tembok penjara seperti menembus keju, kekehnya sendiri setelah sipir penjara yang tertipu meninggalkan sel. Malangnya, ketika Bob hendak meninggalkan sel untuk sesaat, Jo Suci –partner in crime yang lugu- masuk dan menemukan Bob dengan bor besar di tangannya. Bob buru-buru memasukkan kembali alat pelariannya ke dalam rongga di dalam cello tersebut dan menjawab singkat ketika Jo Suci bertanya, “Untuk apa itu?” dengan jawaban, “Untuk bercukur.”

Sementara Bob sedang berada di dalam ruangan Kepala Penjara yang memanggilnya, terdengarlah teriakan menyayat hati dari arah selnya. Ternyata… Jo Suci yang goblok dan sedang tumbuh janggut di dagunya, benar-benar menggunakan bor mutakhir itu untuk bercukur. Walhasil Jo Suci harus diopname dan rencana pelarian Bob pun kandas dalam sehari😆

Kisah-kisah demikianlah yang dihadirkan di dalam serial Si Bob Napi Badung [dulu sempat keliru kubaca menjadi Si Bob Napi Bandung:mrgreen: ]. Usaha-usaha kocak untuk kabur dari penjara yang sebenarnya sudah seperti rumah sendiri baginya, meski tentu tak selevel dengan penjara mewah Puan Artalyta yang mulia di Indonesia. Upaya pelariannya pun jelas tak serinci dan sedetil para narapidana dalam serial TV Prison Break yang menegangkan. Ini cuma cerita komik kocak, konyol, tolol dan terkadang mengharukan juga mengingat Bob -dengan segala licik-cerdiknya- setia pada Jo Suci yang goblok.

Dalam usia dewasa melewati 1/4 abad begini, membaca komik-komik kocak dari masa lalu begitu, bisa menjadi hiburan tersendiri di tengah hiruk-pikuk negeri yang pernah (dan akan kembali pernah) bercerita soal penjara laknat yang menjadi neraka panopticon bagi orang biasa, dimana praktek homo homini lupus adalah tontonan gratis pengawas penjara; dan penjara yang menjadi surga Elysian bagi narapidana VVIP, dimana kenyamanan bisa dibeli, sel berisi musik-musik elegan mahakarya para komponis mengalun manis, dipercantik warna cat dinding merona seperti senja di ladang-ladang para dewa pagan, dan pintu selnya tak menahan narapidana istimewa mondar-mandir pelesir macam orang kampung pergi  ke jamban.

Yang dibutuhkan adalah senyum gelak dan tawa kocak di era pancaroba yang kata agamawan sedang menuju akhir zaman. Kewarasan pembenaran bahwa “memang dunia sudah begitu” mesti sesekali dilawan, dicengiri dengan ketidakwarasan tawa pada segala argumentasi yang mewaras-waraskan diri soal ketimpangan tengik dalam peri-kehidupan di muka bumi, soal keoknya  ide melawan materi.

Carilah komik dan beri hidup sedikit tawa. Kata Bugs Bunny, tak ada yang keluar dari permainan hidup dalam keadaan hidup-hidup. Manatahu, dari cerita-cerita kocak di balik tembok penjara Inzepoket, kau bisa belajar tertawa meski sumbang saat dompet sekarat in the pocket:mrgreen:

7 thoughts on “Si Bob Napi Badung: Penjara Inzepoket Dan Dompet in the Pocket

  1. Harusnya yang kau koleksi itu komik perang baratayuda-nya R.A Kosasi seperti saya, bukannya komik-komik asing dari negeri kapir itu.😀

    Carilah komik dan beri hidup sedikit tawa. Kata Bugs Bunny, tak ada yang keluar dari permainan hidup dalam keadaan hidup-hidup.

    Ameeen.. *tertunduk*

    Eh, bro, pernah kau baca novel Tom Sawyer Anak Amerika-nya Mark Twain atau Dataran Tortilla-nya John Steinbeck? Sebagai manusia uzur harusnya sudah. Seperti si Bob, kedua novel itu pun punya kecenderungan untuk mencengiri hidup.

  2. Harusnya yang kau koleksi itu komik perang baratayuda-nya R.A Kosasi seperti saya, bukannya komik-komik asing dari negeri kapir itu.😀

    Komik-komik macam Bharatayudha itu bagus. Juga Ramayana. Aku kagum sama Kumbakarna ya gara-gara komik begitu itu. Ksatria yang tahu Rahwana salah tapi tetap membela negaranya. Sampel nasionalis sejak zaman dahulu kala😆

    Eh, bro, pernah kau baca novel Tom Sawyer Anak Amerika-nya Mark Twain atau Dataran Tortilla-nya John Steinbeck?

    Tom Sawyer? Hahaha… itu bacaan favorit juga, sekalian dengan koleganya si Huckleberry Finn. Memang mengejek hidup duo rakitan Twain itu😆

    Kalau John Steinbeck yang itu aku tak punya. Adanya karya John Steinbeck yang sudah versi terjemahan Indonesia, “Kena Tembak”. Judul aslinya saja aku tak tahu.

    *googling ah*

  3. Ping-balik: Hikayat Musang Berjanggut « Lapak Aksara

  4. Ah, jaman itu meraja sekali komik2 perancis ini. Selalu terpingkal2 membaca Bob napi badung, Agen Polisi 212, Papa Nick & si janggut hitam, Spirou & Fantasio, Lucky Luke, Smurf, Tombal si penggali kubur, atau Iznogood. Tentu tak lupa Asterix!😀

    BTW, Inzepoket itu memang penjara terkuat di dunia! Sekali waktu, Julot membawa mobil derek tuk menarik lepas pintu gerbangnya, mobil derek itu langsung patah jadi dua dengan bagian tengah ke depannya saja yang melaju. Datang lagi Julot membawa tank, diikatkan kait ke gerbangnya, lalu digas maju tank tempur itu, Eh, bukan copot gerbangnyanya, malah seluruh Inzepoket ikut ketarik!! Sialnya, bergesernya penjara itu malah membuat lubang yang sudah susah payah digali Bob sekarang letaknya menjadi diluar tembok!😆 😆 😆

  5. saya terjebak di jaman yang mengartikan komik identik made in Jepun.
    dan rasa2nya (setelah membaca ulasan ini), komik jaman sekarang tidak semenarik komik2 lawas yang telah kau baca itu.

  6. @ JenSen
    😆

    Kita memang sezaman. Sudah macam dua sisi mata uang saja yang paradoks, eh? Ujung Barat dan Ujung Timur tapi sama zaman dicicipi, sama susah mimpi federasi…gyahahahaha..
    #federasihargamati

    *halaaah*😆

    Ah ya… episode membobol penjara itu. Masih familiar aku. Julot itu kebanyakan teori dan prakteknya payah memang. Narapidana teoritikus =))

    @ Faraziyya

    Kalau tinggalnya di Jakarta, sepertinya masih lebih mudah mencarinya lho. Biasanya dibundel dan dijual di toko buku atau daerah loakan😀

  7. Kalau tinggalnya di Jakarta, sepertinya masih lebih mudah mencarinya lho. Biasanya dibundel dan dijual di toko buku atau daerah loakan

    oo . .i see,
    i’ll have an eye for it.

Komenlah sebelum komen itu dilarang.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s